Shiori pun
balas memeluk pinggang Maya. Erat. Sejenak ruangan terasa sunyi, hanya suara
isakan-isakan kecil dari dua wanita serta alunan biola lembut dan syahdu
mengalir diruangan sebelah tempat mereka makan.
Pelan-pelan
Maya mengendurkan pelukannya. Dan menatap lekat ke wajah Shiori yang telah
lusuh oleh air mata.
Dengan
sedikit membungkukkan badannya, Maya tersenyum tipis “Nona Shiori, anda lebih
manis kalau sedang tersenyum.. Setelah hari ini, kumohon kembalikanlah
senyuman diwajahmu. Dan.. Jangan khawatirkan apapun.. karena
semua... akan baik-baik saja.”
“Maya? Apa kau bersungguh-sungguh? Kau akan meninggalkan perasaanmu pada
tunanganku? Dan kau akan merestui hubungan kami?” tanya Shiori hati-hati. Ada
sedikit, bahkan banyak letupan-letupan semangat telah tumbuh kembali di hati
wanita anggun itu.
“Akupun akan
datang dipernikahan anda, Nona Shiori.. ltupun kalau aku diundang, hehehehe...”
jawab Maya menghiburnya.
“Tentu kau diundang, Maya!!! Kau adalah orang pertama yang akan kukirimi
undangan pernikahanku. Aku.. Aku tak menyangka kau akan setulus itu kepadaku...
Terima kasih banyak, Maya Kitajima. Aku tak akan pernah melupakan malam ini
bersamamu” ucap Shiori berbinar. Dan tersenyum lebar.
“ Namun kaupun tahu sekarang, rencana pernikahanku ini masih belum akan terjadi.
Dari pihak keluargaku, bahkan diriku sudah sangat terpana akan sosok Masumi.
Kami sudah menganggap Masumi Hayami adalah bagian dari keluarga Takamiya.
Namun.. Masumi…….”
Maya pun tersenyum, dan kembali memeluk
Shiori “Tidak
apa-apa Nona, semua akan baik-baik saja…. “. Shiori terharu. Mengganggukkan kepalanya pelan dan membalas kembali
pelukan Maya kepadanya.
Pertama, Shiori sudah mengkronologiskan kejadian dimana akan
ada perseteruan kecil yang memanas diantara mereka. Dia pun telah mempersiapkan hati untuk
menghadapi perang dingin ini, bahkan dokter pribadinya sudah dihubungi sebelum
keberangkatannya ke restoran. Hanya untuk berjaga-jaga, mengingat fisik Shiori
yang sangat mudah goyah apabila psikisnya terluka. Namun
ternyata kejadian manislah yang tercipta. Sudah lama dia tak merasakan perasaan
damai dan teduh seperti ini.
Sangat nyaman ....
batin Shiori tenang. Aku tak menyangka ini yang akan terjadi. Tuhan sangat
baik kepadaku.. dan mengasihiku…
“Namun
Nona…. Saya…. Ada satu permintaan. Cuma satu… Dan aku mohon agar permohonanku
ini dikabulkan. Setelah ini, aku bersumpah aku takkan pernah ada diantara
kalian….” Pinta Maya hati-hati, namun dengan kesungguhan mutlak dimatanya
sembari meregangkan pelukannya.
“Apa itu, Maya… sebutkan saja..”
“Ng… Anu, Nona….” Tak kentara Maya melepaskan gigitan ringan dibibirnya sendiri
“Bolehkah saya diberi kesempatan untuk berada disisi Pak Masumi, sekali saja….
Bukan sebagai Artist dan Direktur….
Namun sebagai wanita….. Yang memandang seorang
pria…” Ucap Maya yang langsung disambut
rasa keterkejutan hebat dari lawan bicaranya.
“Saya sadar kalau tadi saya mengatakan bahwa saya akan menyerah atas perasaan
saya terhadap Pak Masumi, namun Nona…
Sayapun masih sangat mencintainya. Saya benar-benar mohon pengertian dari Nona
Shiori untuk perasaan saya yang tak masuk akal ini... Dan dari permintaan tak tahu diri ini. Saya
sendiripun tak bisa menahan luapan rasa bahagia ketika bertemu dengannya.
Karena itu, sebelum Bidadari Merah kembali melegenda, kumohon Nona…
Aku benar-memohon…. Ijinkanlah saya
untuk bisa memandangnya… dengan kedua mata yang jatuh cinta ini…. Kumohon….”
Ucap Maya dengan tetesan air mata yang tak mampu dibendungnya. Bukan dengan
wajah sayu yang lemah, namun dengan kebulatan tekad yang berkilat dari pupil
matanya.
Shiori terperangah. Dia tak menyangka Maya akan meminta hal ekstrim ini
padanya.. Untuk memberinya kesempatan berduaan dengan Masuminya? “Apa…”
“Nona Shiori tak perlu kuatir, kumohon
percayalah kepada saya. Saya hanya memandangnya sebagai wanita. Bukan
menyentuhnya. Saya tak akan bersikap amoral,
Nona… Saya sangat tahu akan garis merah yang membentang diantara saya dan Pak
Masumi. Saya cukup mahir menjaga diri saya, Tanpa bermaksud merendahkan Pak
Masumi, kita semua tahu bagaimana disiplin dan bermartabatnya dirinya. Saya berkata begini hanya untuk menjadi
pegangan Nona Shiori, bahwa saya…
Tidak akan…
Bisa
bersatu dengan Pak Masumi…”
Maya bersungguh-sungguh. Meskipun aliran air
matanya tetap mengalir, dia sama sekali tak goyah. Maya sangat menginginkan
ini. Seolah ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menjelma menjadi titisan
Bidadari Merah. Maya takkan menyia-nyiakan kesempatan 1%nya itu.
Shiori
terpana akan pancaran mata Maya yang runcing. Belum ia memprotes akan alasan-alasan
yang bisa terpampang, dia sudah langsung menemukan jawabannya.
Sunyi.
“Maaf Maya, aku.. barusan
benar-benar seperti … patung.
Maksudmu… Kau menginginkanku membiarkanmu
berkencan dengan Masumi?”
“Hanya sekali, Nona.. “ Sahut Maya cepat. “Dan takkan terjadi hal-hal yang
tidak melebihi garis merah itu,…
Aku mohon.. ijinkanlah aku…”
“Baiklah, Maya… Baiklah….” Shiori menganggukkan kepalanya lemah.
Dia tahu
ini berarti mengambil resiko tinggi. Satu sisi, Maya berjanji takkan
memperjuangkan perasaannya. Namun disisi lain, ia takut hal ini malah akan
membuatnya kehilangan Masumi seratus persen. Bayangan akan perbuatan jahatnya
kepada Maya dimasa lalu masih mengusik hatinya. Dan ia tak mau meneruskannya.
Cukup sampai disini. Ucapnya menyemangati hati rapuhnya agar mampu bangkit.
“Aku.. .. Mempercayaimu..
Aku tahu hal ini terdengar sangat ganjil.
Bahkan tak mustahil apabila orang2 diseluruh restoran ini akan menganggapku
wajar menetap di Rumah Sakit Jiwa. Tapi
aku mempercayaimu. Aku ingin membangun
hubungan yang benar-benar baru padamu, Maya. Aku lelah bersikap manja dan antagonis. Aku
harap, kita mampu menjadi teman yang baik…” Shiori menggenggam tangan mungil Maya
dan kembali memeluknya.
“Te.. Terima kasih ,Nona.. Aku.. Akan berusaha menjadi temanmu yang baik.
Terima kasih untuk mau mempercayaiku…” isak bahagia Maya menyeruak.
Shiori melepaskan pelukannya perlahan.
“Maya, aku harus pulang. Dokter membatasi jam
malamku supaya aku tidak terlalu lelah dan aku bisa cepat mengoptimalkan
kesehatanku. Apabila nanti
aku menjadi pengantin, aku tak ingin
diriku terlihat
konyol kalau aku sampai pingsan di
depan altar”
Maya terkikik ringan serasa melepaskan pelukannya. “Baiklah Nona, jagalah
kesehatanmu. Aku akan disini dulu sebentar. Aku tidak pernah berada
diketinggian seperti ini sebelumnya, dan aku ingin menikmati permadani bintang
yang terhampar ini” ucap Maya sambil menunjuk langit dengan dagunya.
“Baiklah Maya, aku akan menyuruh beberapa pelayan khusus untuk memenuhi
kebutuhanmu selama kamu disini. Aku sangat berterima kasih untuk hari ini” ucap
Shiori sambil berdiri dari permadani, dibantu Maya untuk menyeimbangkan tubuh lemahnya.
“Terima kasih Nona, tak usah repot-repot. Saya juga tak akan lama, kok. Hanya
saja, saya ingin benar-benar memahami sejuta bintang dilangit malam ini”
Sejuta bintang.....
Bahkan hamparan bintang diangkasa pun saling mengaitkan hati kalian…
batin
Shiori bergumam, mengingat malam pesta sewaktu Masumi melamunkan langit dan
mengacuhkan para tamu undangan.
“Maya, aku pamit dulu. Sekali lagi, aku sangat berterima kasih untuk malam ini.
Aku sangat tenang sekarang dan aku mampu melangkah dengan senyuman
termanis yang kupunya. Seperti yang kau
minta tadi kepadaku… Selamat Malam,
Kitajima… ”
“ Akulah yang seharusnya berterima kasih, Nona ... Selamat malam, Nona Shiori. Jaga diri anda…” ucap Maya melepaskan kepergian
Shiori dari ruangan super eksklusif itu.
Setelah dirasa Shiori sudah cukup jauh
dari restoran itu, Maya mulai tersadar. Tersadar dari semua emosi yang
berkecambuk di hatinya. Tersadar dari
kebahagiaan tabunya, air mata, bahkan akting yg barusan ia pertontonkan di
depan Shiori.
Maya berdiri cukup dekat dan kedua telapak tangannya menyapu
lembut dinding kaca yang membatasi dirinya dengan cakrawala.
Matanya menerawang jauh memandang jutaan bintang yang entah ikut sedih atau
menertawakan dirinya saat ini.
“Pak Masumi… Pak Masumi… Aku…..”
Maya tak
mampu lagi melihat gemerlapan langit. Matanya sudah
dibanjiri air mata yang
entah sudah berapa lama ia tahan. Buram.
Seburam pikirannya saat ini. Hatinya
yang sudah dipenuhi oleh
Masumi bertahun-tahun lalu, namun sekarang ia harus
mengosongkannya dengan cepat dan efisien. Entah bagaimana
caranya, namun ia
harus melakukannya.
“ Aku sangat mencintaimu… Terlalu dalam
aku
menginginkanmu… Maafkan aku, Pak Masumi…
Maafkan aku….”
Gumam Maya pelan dengan kepala tertunduk dan mengacuhkan
para
pelayan yang kebingungan menghidangan
sajian mewah yang
telah dipesankan Shiori.
***