Tuesday, 20 December 2011

Background Music of Paragraph 00, by Alanis Morissette



UNINVITED


Like anyone would be
I am flattered by your fascination with me
Like any hot-blooded woman
I have simply wanted an object to crave

But you, you're not allowed
You're uninvited
An unfortunate slight

Must be starngely exciting
To watch the stoic squirm
Must be somewhat heartening
To watch sherpard meet sherpard

But you, you're not allowed

You're uninvited

An unfortunate slight

Like any uncharted territory
I must seem greatly intriguing
You speak of my love like
You have experienced love like mine before
But this is not allowed
You're uninvited
An unfortunate slight

I don't think you unworthy
I need a moment to deliberate

Wednesday, 14 December 2011

YOU BELONG TO ME


PARAGRAPH 00 - uninvited


                                    


Wanita cantik itu melihat jam tangan Rolex yang melingkar indah di pergelangan tangan kirinya. Balutan gaun terusan malam semata kaki berwarna beige memperlihatkan lekukan ramping nan sempurna tubuh semampainya. Rambut hitam kelamnya ditata rapi, dengan hiasan jepit kupu-kupu perak kecil. Sembari menyesap anggur merah gelap di gelasnya, dia terus bergumam pelan.

Sebentar lagi...

Ada rasa cemas, khawatir, sedih dan marah bergumul hebat didada. Polesan make-up sempurna karya penata rias ternama dikotanya pun tak mampu menutupi wajah gelisahnya. Tak dipungkiri jikalau keanggunannya menambah nilai tersendiri diruangan VVIP super mewah pribadi yang telah dipersiapkan beberapa menit setelah dia menelpon sang manager.

Alunan biola yang mendayu-dayu , serta dekorasi bunga-bunga 
segar direstoran itu sangat sempurna terangkai di sudut-sudut 
ruangan bergaya Eropa Timur kuno. Cahaya lilin-lilin pun terpantul 
nan eksotik diantara lampu-lampu kristal mahal yang menggantung.
 Hingga tatanan serbet cantik tak tertinggal menghiasi meja-meja 
jamuan para tamu. Deretan pelayan yang hilir mudik membawa 
baki makanan serta anggur berkelas tinggi sudah berjejer rapi.


Hal ini karena restoran ini adalah restoran papan atas, yang hanya 
segelintir orang mampu untuk membayar pemandangan kota 360
 derajat di ketinggian 634,0 meter dan hanya dibatasi dinding kaca
 tebal.


Aku harus kuat.. Harus kuat...!!! lni untuk keluargaku, untuk calon suamiku, dan untuk hidupku.
Hal ini tak boleh berlanjut lebih jauh lagi. Harus berhenti disini. Kuatkan dirimu, Shiori Takamiya! Kau adalah seorang Takamiya...


Sejak rencana kedatangannya ke restoran ini muncul, kata-kata itu terus terpatri kuat dihatinya. Seakan-akan takut akan goyah. Takut akan jatuh kembali... Dia tak mau hal itu kembali merantai jiwanya. Tak lama setelah dia terus berusaha menguatkan tekadnya, sesosok wanita mungil pun muncul dihadapannya.

“Selamat malam, Nona Shiori...” sapa wanita mungil itu lembut.

“ Selamat malam,
Kitajima. Maaf kalau tiba-tiba aku mengundangmu kemari...” ucap Shiori dengan senyuman tipis dibibir magentanya.

“ Ah, anda tidak mengganggu waktuku kok , Nona Shiori. Kebetulan saya juga sudah selesai latihan drama Bidadari Merah untuk besok lusa...” ucap Maya ringan dan ramah.

“ Silahkan duduk dan pesan makanan apapun yang kau inginkan. Kau pasti belum makan kan setelah latihan? “ tanya Shiori, membalas keramahan Maya.

“ E..eh.. Terima kasih banyak Nona, tapi saya sudah makan hamburger tadi selepas latihan, dan perut saya sepertinya sudah cukup penuh untuk diisi kembali..” kata Maya canggung sembari mengambil kursi ukir antik yang berhadapan langsung dengan Shiori.

Meski tersenyum lembut, Shiori tak mampu menghilangkan air mukanya yang sangat muram. Dia bukanlah aktris berbakat yang sangat handal berakting. Shiori hanyalah seorang wanita anggun kebanggaan Takamiya.


Dipandangnya lekat gadis belia dihadapannya. Dia semakin menyadari, kenapa Masumi Hayami, tunangannya, sangat mencintai gadis polos yang usianya jauh 11 tahun dibawah calon pengantinnya. Meski terlihat lelah, ekspresi gadis ini tetap segar. Aura keramahan terpanjar jelas dari senyumannya. Turtleneck abu-abu lembut berlengan panjang, dengan cardigan apricot pucat, serta rok mini berpattern kotak-kotak diamon melekat indah ditubuh mungilnya. Tak ketinggalan sepatu boot sebatas betis membuat penampilannya terlihat muda dan modis.

Semakin cantik.... Ya... Maya Kitajima semakin hari semakin cantik dan enerjik. Siapapun pasti bersedia bertarung mati-matian untuk membuat gadis muda ini menduduki singasana Permaisuri di hidup pria yang akan menjadi Rajanya kelak... batin Shiori cemas.

Tak berbeda dengan Shori, Maya pun berpikiran sama. Alangkah hebatnya Shiori Takamiya. Selain mampu mendirikan restoran ternama di kota Tokyo, dia memiliki kesempurnaan seorang wanita. Limpahan materi, kecantikan, kepandaian, kedudukan, kekuasaan dan.... cinta.....
wanita elegan diseberang mejanya memiliki segalanya tanpa harus pergi dari rumah dan hampir mati kelaparan digunung.

Kira-kira apa yang Nona Shiori ingin sampaikan? Mengapa dia sampai repot-repot mengutus supir pribadinya untuk menjemputku, serta menyiapkan semua pelayanan nomor satu di restoran ini?

“Maya...” Shiori akhirnya memulai. “Sebelumnya aku meminta maaf atas semua kelakuanku selama ini kepadamu... 
Aku...sering menyakitimu... Aku... Sangat-sangat... rendah...” ucap Shiori terbata-bata.

“No.. Nona Shiori... apa maksud anda? Mengapa anda harus minta maaf? Saya tidak pernah merasa disakiti oleh Nona. Tolong jangan bersikap begini, saya jadi tidak enak , Nona...” ucap Maya spontan. Bingung tepatnya.

“ Maya... jujur saja, aku sangat menyukaimu. Aku sangat terpesona oleh bakatmu ketika menjadi Jean. Waktu itu aku pernah sedikit bingung dan cemburu padamu, karena Masumi selalu memperhatikanmu melebihi artis-artis lain. Namun semua dengan cepat sirna begitu aku melihatmu dipanggung. Kau sangat luar biasa, Maya...” Puji Shiori.

Te.. Terima kasih Nona, pujianmu terlalu berlebihan. Saya tidak sehebat itu..” ucap Maya merendah. “Eh.. Cemburu padaku? Karena Pak Masumi ... memperhatikanku?” batin Maya seketika.

“Tidak, aku bicara jujur. Nyatanya kau meraih penghargaan dari Persatuan Drama Nasional, bukan? Tak usah merendah begitu..” Shiori tersenyum.

“Terima kasih...” Maya tak urung menjadi tersipu. Namun hatinya tetap waspada. Maya tahu ini hanyalah pembukaan, dan bukan inilah klimaks dari pembicaraan pribadi mereka.

“Maya... “ Tiba-tiba wajah Shiori langsung berubah muram...


”Apa kau... mencintai tunanganku?” tanya Shiori lugas.



Maya membelalak.  Sedetik barusan jantungnya terasa berhenti berdetak. “Ke... Kenapa anda bertanya begitu, Nona? Saya.. Semakin tidak mengerti arah pembicaraan kita..” jawab Maya gugup. Tangannya mulai bergetar ringan.

“ Selepas dari Astoria, perlakuan Masumi padamu semakin lembut.  Aku tak tahu apa yang terjadi diantara kalian berdua, meski aku yakin .. tidak terjadi hal-hal yang diluar batas. Memang  di depan koleganya dan teman-temanmu dia bersikap biasa, namun aku tahu... perasaannya padamu....” Shiori menghirup nafasnya dalam-dalam “ Tunanganku.. Masumi Hayami.. dia mencintaimu, Maya...”

“Ap... Apa???” Maya kaget dan membatu. Tak disangkanya Shiori akan berkata langsung seperti ini kepadanya. Ini sangat diluar dugaannya. Maya sama sekali tak ada persiapan untuk mengetahui perasaan Masumi kepadanya, terlebih lagi hal ini disampaikan oleh Shiori Takamiya, wanita yang sangat mencintainya.
 

“lya..  Dia mencintaimu, Maya. Dan bukan aku...” air mata mulai menggenang dipelupuk mata Shiori “ Aku mulai menyakininya ketika dia ingin membatalkan pernikahan kami. Setelah upaya bunuh diriku gagal, dia akhirnya mau mempertimbangkan kembali rencana pernikahan. Namun aku tahu, hal itu dia lakukan semata-mata karena kasihan padaku dan untuk melindungi nyawaku dari... diriku sendiri...”


Maya tercengang. Pupil matanya melebar dan jantungnya seakan terasa berhenti memompa darah ke seluruh tubuhnya untuk yang kedua kalinya. “Pembatalan pernikahan? Pak Masumi membatalkan pernikahan dan... Nona Shiori... berupaya ... bunuh diri?? ” ucap Maya terbata-bata. Lidahnya terasa kelu dan kaku mengucapkan semua pertanyaan itu.


“ Mass media tak ada yang tahu. Takamiya mampu membungkam mulut narasumber dengan jaminan uang yang jauh lebih besar dari penjualan berita tentang kami. Dan mereka setuju. Takamiya sampai membeli Rumah Sakit tempatku dirawat. Hal itu semata-mata agar skandal keluarga kami tidak meluas. “ Terang Shiori.



Aku tak tahu kalau dampaknya akan seperti ini.. Seandainya saat itu aku tidak berakting menjadi Akoya. Seandainya saat itu... aku tidak mengungkapkan kebahagiaanku untuk bersamanya...  batin Maya seakan teriris- iris, menyesali akan masa lalu terlarangnya.




“ Aku minta maaf dulu aku pernah bersikap rendah kepadamu,
 Maya. Aku sampai mengirimkan cek untuk menjauhi Masumi.
 Hal itu semata-mata karena aku sangat mencintainya..  Aku.. Tak
 sanggup kehilangannya.. Kalau aku kehilangannya.. Lebih baik aku mati...” Buliran air mata pun bergulir dipipi putihnya. Hatinya
 sudah tak kuat lagi untuk berakting tegar dihadapan Maya.


“Nona.. kumohon.. jangan begini...” Maya pun ikut bersedih. Mau tak mau air matanya pun ikut menggenang.

“Tidak , Maya... aku tidak bisa menyerah akan perasaanku kepada Masumi. Aku terlalu mencintainya. Aku terlalu tergantung dan sangat tak ingin kehilangan dia. Bagiku... dialah belahan jiwaku yang hilang. Dia mampu menjadi kakiku untuk berlari mengelilingi bumi, mampu menjadi mataku untuk melihat indahnya dunia.. dan.. dia mampu menjadi sayapku untuk menggapai angkasa....
Apakah kau tahu, sebesar dan setinggi itulah aku memandang seorang Masumi Hayami, Maya?”

Ucap Shiori merebak. Buliran air matanya mengalir deras sudah. Tatapan matanya memelas. Jemari lentiknya berusaha menghapus aliran air matanya, namun terasa sia-sia, karena sepertinya sang mata hendak menumpahkan semua yang dimilikinya. Tanpa sisa.

Maya membeku. Saat ini hatinya seperti terhunus pedang Ares. Kakinya gemetar mendengar semua pernyataan Shiori yang baginya tiada ampun. Maya serasa tak mampu mendapatkan oksigen untuk dipompa keparu-parunya yang terasa terbakar. Sakitnya sekarang ini sangat jauh berbeda ketika Pak Kuronuma menyuruhnya berakting menjadi Jean yang keracunan sehingga harus menahan nafasnya kuat-kuat. Dan ucapan Shiori padanya tak ada dua menit.

“Nona Shiori... Kau ingin aku... Pergi dari sini? Agar Pak Masumi tak dapat menghubungiku ataupun menonton Bidadari Merahku?” ucap Maya terbata-bata.



“Maya..  kumohon jangan berbicara seperti itu… Aku tak masalah kau akan bertemu dengan tunanganku....
 Atau bahkan saling berbicara sebagai artis dan atasannya. Yang aku inginkan adalah... 
Hatimu lah yang pergi meninggalkannya” ucap Shiori tangkas “Dan Maya...  Seandainya nanti aku memiliki anak dengan Masumi, apa yang harus kukatakan kepada anakku tentang kalian? Apakah anakku nanti berhak melihat tingkah laku ayahnya yang tidak mencintai istrinya?”

Anak….   Batin Maya terkoyak  

Nona Shiori dan Pak Masumi??

 Shiori pun semakin terbawa perasaannya. Dia tak mampu  untuk menopang tubuhnya. Perlahan, Shiori merendahkan tubuhnya, sejajar dengan meja makan disampingnya. Berlutut. Memandang gadis mungil yang terduduk kaku di kursi ukir mewah.


“No.. Nona Shiori! Apa yang….”


“Maya..  apa yang harus kulakukan sekarang?” Putus Shiori cepat.

“Tolong aku, Maya…  Aku benar-benar membutuhkan pertolonganmu… Dia datang padaku dengan semua kharisma dan intelegensinya yang tinggi. Dia membawaku berkencan di teather-theater terkenal, mengajakku makan malam yang romantis, berdansa waltz bahkan mengatakan kalau penampilanku hampir tak bercela. Cantik. Itu kata-kata yang selalu dia ucapkan padaku, Maya…



Tolong  jangan menyalahkanku karena aku jatuh hati padanya….



 Aku tak mampu menolak semua perlakuan baik serta senyum tulusnya, dia bagaikan Dewa Terang yang menyinari hari-hari sepiku dimana aku tak memiliki teman satupun. Dengan cepat pula dia mampu mengisi penuh ruang hatiku yang telah lama kosong.


 Aku tak tahu lagi harus bagaimana dengan perasaanku ini. Aku terlalu mencintainya…
Terlalu menyayanginya..
Tak pernah aku merasa sebahagia ini.. Dan sesedih ini seumur hidupku…



Maafkan aku, Maya… aku tak tahu kalau tiba-tiba aku hadir di tengah-tengah kalian…
Aku benar-benar minta maaf….. “

Hati Maya hancur seketika. Dia sama sekali tak berpikir kearah sana. Maya semakin mengakui keegoisan dirinya untuk memenangkan belahan jiwanya sangatlah salah. Dia mencintai Masumi Hayami, hal itu bisa dibenarkan. Namun dia mencintai tunangan orang lain, dan hal itu tak mampu dijadikan hal yang lurus di otaknya saat ini.


“Nona Shiori...
Maafkan aku... Yang telah lancang mencintai tunanganmu” ucap Maya menguatkan hatinya.

Shiori tercengang. Dia tak menyangka Maya akan mengakui perasaannya secepat ini. Air matanya semakin mendesak keluar lebih deras lagi. Cepat-cepat dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Tiba-tiba dia merasa seperti dipeluk. Sangat erat.. Dan hangat...

Maya?























“ Aku...  Akan pergi, Nona Shiori. Aku... akan menyerah akan perasaanku.... Dan aku berjanji tak akan mengganggu rumah tanggamu kelak... bersama... Pak Masumi...” ucap Maya sendu. Terutama ketika Maya menyebutkan nama tunangannya. Terasa tetes air mata Maya jatuh di pundak Shiori yang sedikit terbuka.

Shiori pun balas memeluk pinggang Maya. Erat. Sejenak ruangan terasa sunyi, hanya suara isakan-isakan kecil dari dua wanita serta alunan biola lembut dan syahdu mengalir diruangan sebelah tempat mereka makan.

Pelan-pelan Maya mengendurkan pelukannya. Dan menatap lekat ke wajah Shiori yang telah lusuh oleh air mata.
Dengan sedikit membungkukkan badannya, Maya tersenyum tipis “Nona Shiori, anda lebih manis kalau sedang tersenyum..  Setelah hari ini, kumohon kembalikanlah senyuman diwajahmu.  Dan.. Jangan khawatirkan apapun.. karena semua... akan baik-baik saja.”

“Maya? Apa kau bersungguh-sungguh? Kau akan meninggalkan perasaanmu pada tunanganku? Dan kau akan merestui hubungan kami?”  tanya Shiori
hati-hati. Ada sedikit, bahkan banyak letupan-letupan semangat telah tumbuh kembali di hati wanita anggun itu.

“Akupun akan datang dipernikahan anda, Nona Shiori.. ltupun kalau aku diundang, hehehehe...” jawab Maya menghiburnya.

“Tentu kau diundang, Maya!!! Kau adalah orang pertama yang akan kukirimi undangan pernikahanku. Aku.. Aku tak menyangka kau akan setulus itu kepadaku... Terima kasih banyak, Maya Kitajima. Aku tak akan pernah melupakan malam ini bersamamu” ucap Shiori berbinar. Dan tersenyum lebar.
 

“ Namun kaupun tahu sekarang, rencana pernikahanku ini masih belum akan terjadi. Dari pihak keluargaku, bahkan diriku sudah sangat terpana akan sosok Masumi. Kami sudah menganggap Masumi Hayami adalah bagian dari keluarga Takamiya. Namun.. Masumi…….”

Maya pun tersenyum, dan
kembali memeluk Shiori “Tidak apa-apa Nona, semua akan baik-baik saja…. “. Shiori terharu. Mengganggukkan kepalanya pelan dan membalas kembali pelukan Maya kepadanya.

Pertama, Shiori sudah mengkronologiskan kejadian dimana akan ada perseteruan kecil yang memanas diantara mereka.  Dia pun telah mempersiapkan hati untuk menghadapi perang dingin ini, bahkan dokter pribadinya sudah dihubungi sebelum keberangkatannya ke restoran. Hanya untuk berjaga-jaga, mengingat fisik Shiori yang sangat mudah goyah apabila psikisnya terluka.  Namun ternyata kejadian manislah yang tercipta. Sudah lama dia tak merasakan perasaan damai dan teduh seperti ini.

Sangat nyaman  .... batin Shiori tenang. Aku tak menyangka ini yang akan terjadi. Tuhan sangat baik kepadaku.. dan mengasihiku…

“Namun Nona…. Saya…. Ada satu permintaan. Cuma satu… Dan aku mohon agar permohonanku ini dikabulkan. Setelah ini, aku bersumpah aku takkan pernah ada diantara kalian….” Pinta Maya hati-hati, namun dengan kesungguhan mutlak dimatanya sembari meregangkan pelukannya.

“Apa itu, Maya… sebutkan saja..”

“Ng… Anu, Nona….” Tak kentara Maya melepaskan gigitan ringan dibibirnya sendiri “Bolehkah saya diberi kesempatan untuk berada disisi Pak Masumi, sekali saja….

Bukan sebagai Artist dan Direktur….

 Namun sebagai wanita….. Yang memandang seorang pria…” Ucap Maya yang langsung disambut  rasa keterkejutan hebat dari lawan bicaranya.

“Saya sadar kalau tadi saya mengatakan bahwa saya akan menyerah atas perasaan saya terhadap Pak Masumi,  namun Nona… Sayapun masih sangat mencintainya. Saya benar-benar mohon pengertian dari Nona Shiori untuk perasaan saya yang tak masuk akal ini...  Dan dari permintaan tak tahu diri ini. Saya sendiripun tak bisa menahan luapan rasa bahagia ketika bertemu dengannya. Karena itu, sebelum Bidadari Merah kembali melegenda, kumohon Nona…

Aku benar-memohon….  Ijinkanlah saya untuk bisa memandangnya… dengan kedua mata yang jatuh cinta ini…. Kumohon….” Ucap Maya dengan tetesan air mata yang tak mampu dibendungnya. Bukan dengan wajah sayu yang lemah, namun dengan kebulatan tekad yang berkilat dari pupil matanya.

Shiori terperangah. Dia tak menyangka Maya akan meminta hal ekstrim ini padanya.. Untuk memberinya kesempatan berduaan dengan Masuminya? “Apa…”

“Nona  Shiori tak perlu kuatir, kumohon percayalah kepada saya. Saya hanya memandangnya sebagai wanita. Bukan menyentuhnya.  Saya tak akan bersikap amoral, Nona… Saya sangat tahu akan garis merah yang membentang diantara saya dan Pak Masumi. Saya cukup mahir menjaga diri saya, Tanpa bermaksud merendahkan Pak Masumi, kita semua tahu bagaimana disiplin dan bermartabatnya dirinya.  Saya berkata begini hanya untuk menjadi pegangan Nona Shiori, bahwa saya…

Tidak akan…

Bisa bersatu dengan Pak Masumi…”

 Maya bersungguh-sungguh. Meskipun aliran air matanya tetap mengalir, dia sama sekali tak goyah. Maya sangat menginginkan ini. Seolah ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menjelma menjadi titisan Bidadari Merah. Maya takkan menyia-nyiakan kesempatan 1%nya itu.
Shiori terpana akan pancaran mata Maya yang runcing. Belum ia memprotes akan alasan-alasan yang bisa terpampang, dia sudah langsung menemukan jawabannya.


Sunyi.


“Maaf Maya, aku.. barusan benar-benar seperti … patung.
Maksudmu…  Kau menginginkanku membiarkanmu berkencan dengan Masumi?”

“Hanya sekali, Nona.. “ Sahut Maya cepat. “Dan takkan terjadi hal-hal yang tidak melebihi garis merah itu,…
Aku mohon.. ijinkanlah aku…”

“Baiklah, Maya… Baiklah….” Shiori menganggukkan kepalanya lemah.
Dia tahu ini berarti mengambil resiko tinggi. Satu sisi, Maya berjanji takkan memperjuangkan perasaannya. Namun disisi lain, ia takut hal ini malah akan membuatnya kehilangan Masumi seratus persen. Bayangan akan perbuatan jahatnya kepada Maya dimasa lalu masih mengusik hatinya. Dan ia tak mau meneruskannya.

Cukup sampai disini. Ucapnya menyemangati hati rapuhnya agar mampu bangkit.

“Aku.. ..  Mempercayaimu..  
Aku tahu hal ini terdengar sangat ganjil. Bahkan tak mustahil apabila orang2 diseluruh restoran ini akan menganggapku wajar menetap di Rumah Sakit Jiwa.  Tapi aku  mempercayaimu. Aku ingin membangun hubungan yang benar-benar baru padamu, Maya.  Aku lelah bersikap manja dan antagonis. Aku harap, kita mampu menjadi teman yang baik…” Shiori menggenggam tangan mungil Maya dan kembali memeluknya.

“Te.. Terima kasih ,Nona.. Aku.. Akan berusaha menjadi temanmu yang baik. Terima kasih untuk mau mempercayaiku…” isak  bahagia Maya menyeruak.


Shiori melepaskan pelukannya perlahan.
“Maya, aku harus pulang. Dokter membatasi jam malamku supaya aku tidak terlalu lelah dan aku bisa cepat mengoptimalkan kesehatanku. Apabila nanti aku menjadi pengantin, aku tak ingin diriku terlihat konyol kalau aku sampai pingsan di depan altar”

Maya terkikik ringan serasa melepaskan pelukannya. “Baiklah Nona, jagalah kesehatanmu. Aku akan disini dulu sebentar. Aku tidak pernah berada diketinggian seperti ini sebelumnya, dan aku ingin menikmati permadani bintang yang terhampar ini” ucap Maya sambil menunjuk langit dengan dagunya.

“Baiklah Maya, aku akan menyuruh beberapa pelayan khusus untuk memenuhi kebutuhanmu selama kamu disini. Aku sangat berterima kasih untuk hari ini” ucap Shiori sambil berdiri dari
permadani, dibantu Maya untuk menyeimbangkan tubuh lemahnya.

“Terima kasih Nona, tak usah repot-repot. Saya juga tak akan lama, kok. Hanya saja, saya ingin benar-benar memahami sejuta bintang dilangit malam ini”

Sejuta bintang.....

Bahkan hamparan bintang diangkasa pun saling mengaitkan hati kalian…

batin Shiori bergumam, mengingat malam pesta sewaktu Masumi melamunkan langit dan mengacuhkan para tamu undangan.

“Maya, aku pamit dulu. Sekali lagi, aku sangat berterima kasih untuk malam ini. Aku sangat tenang sekarang dan aku mampu melangkah dengan senyuman termanis  yang kupunya. Seperti yang kau minta tadi kepadaku…  Selamat Malam, Kitajima… ”

“ Akulah yang seharusnya berterima kasih, Nona ... Selamat malam, Nona Shiori. Jaga diri anda…” ucap Maya melepaskan kepergian Shiori dari ruangan super eksklusif itu.

Setelah dirasa Shiori sudah cukup  jauh dari restoran itu, Maya mulai tersadar. Tersadar dari semua emosi yang berkecambuk di hatinya.  Tersadar dari kebahagiaan tabunya, air mata, bahkan akting yg barusan ia pertontonkan di depan Shiori. 

Maya berdiri cukup dekat dan kedua telapak tangannya menyapu lembut dinding kaca yang membatasi dirinya dengan cakrawala.  

Matanya menerawang jauh memandang jutaan bintang yang entah ikut sedih atau menertawakan dirinya saat ini.

“Pak Masumi…  Pak Masumi… Aku…..”

Maya tak mampu lagi melihat gemerlapan langit. Matanya sudah
 dibanjiri air mata yang entah sudah berapa lama ia tahan. Buram.
 Seburam pikirannya saat ini. Hatinya yang sudah dipenuhi oleh
 Masumi bertahun-tahun lalu, namun sekarang ia harus
 mengosongkannya dengan cepat dan efisien. Entah bagaimana
 caranya, namun ia harus melakukannya. 

“ Aku sangat mencintaimu…  Terlalu dalam aku
 menginginkanmu… Maafkan aku, Pak Masumi…
Maafkan aku….”
Gumam Maya pelan dengan kepala tertunduk dan mengacuhkan
 para pelayan yang  kebingungan menghidangan sajian mewah yang
 telah dipesankan Shiori.
  

                                                                                   ***








 
blogger template by arcane palette