Monday, 23 July 2012

Background Music of Paragraph 08 by Adelle



Someone Like You

I heard
That you're settled down
That you
Found a girl
And you're
Married now

I heard
That your dreams came true.
Guess she gave you things
I didn't give to you

Old friend
Why are you so shy?
Ain't like you to hold back
Or hide from the light

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over

Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead."
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead,
Yeah.

You know how the time flies
Only yesterday
It was the time of our lives
We were born and raised
In a summer haze
Bound by the surprise
Of our glory days

I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over.

Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead."

Nothing compares
No worries or cares
Regrets and mistakes
They are memories made.
Who would have known
How bittersweet this would taste?

Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead"

Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead"

Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead

Paragraph 08



                      Someone Like You


Ahirnya disinilah Maya kembali berada. Rumah Sakit! Ia didiagnosa oleh dokter yang ia percayakan kesehatannya sejak ia memegang kendali penuh akan hak Bidadari Merah. Maya divonis menderita keletihan dan anemia dan terpaksa di”penjara” oleh dokter Akagi untuk mengalami beberapa pemeriksaan dan injeksi selama beberapa hari di rumah sakit. Dan Masumi sama sekali tak pernah menjenguknya hingga hari ke-3. Hanya sahabat dari teather bawah tanah dan Sakurakoji yang setia mendampinginya. Bu Mayuko sesekali datang menjenguknya bersama Pak Genzo, bahkan Shiori Takamiya juga pernah bertandang sebentar namun sayangnya ia datang pada saat bukan jam menjenguk dan ia sendiri belum memiliki kesempatan untuk bertemu kembali dengan Maya.

Setelah Maya dinyatakan pulih, ia diijinkan pulang. Siang sebelum kepulangannya ke apartement, Maya dibantu Koji untuk mengemasi segala kebutuhannya yang bila dikumpulkan hanya sebesar tas koper kecil. Maya benar-benar dimanja oleh dokter Akagi yang mendeklarasikan diri sebagai fans nomer satu se-Jepang. Terserahlah... dokter tua tersebut benar-benar menjadi fans yang agak kehilangan kendalinya bila Maya datang mengunjunginya karena ingin sekedar check-up. Mungkin tidak seperti kebanyakan dokter, ia mengharap Maya bisa lebih lama tinggal dirumah sakit untuk menemani jam-jam dinasnya yang padat. Sepertinya, berita akan kesembuhan Maya sama sekali tak diharapkannya. Maya menanggapinya hanya dengan tertawa kecil namun disambut dengan dahi berkerut oleh Koji. Dan karena keberadaan pasien lain, dengan berat hati sang dokter meninggalkan mereka berdua.

Kamar VVIP tersebut terasa cukup membantu Maya melupakan segala kegundahannya. Melupakan ritual hariannya mulai dari bangun tidur hingga berangkat tidur, melupakan aktivitas aktingnya, melupakan segala tagihan, nonton bioskop, taman hiburan dan yang terpahit.... membuatnya belajar melupakan Masumi Hayami.

Koji masih dapat dengan jelas menangkap gurat-gurat kesedihan diwajah Maya yang agak pucat dan kelabu.

“ Bagaimana kondisimu, Maya? Kau yakin sudah lebih kuat untuk kembali ke apartementmu? “

Maya menoleh lemah dan kembali berakting ceria. “ Tentu saja, Koji! Aku sudah sangat sehat dan kuat! “

Aktingmu semakin buruk, Maya.

“ Apa kau akan sendirian disana? Maksudku... Akan lebih baik apabila kau ditemani seseorang atau mungkin beberapa orang untuk menjagamu? “

Maya kembali tersenyum dengan akting gagalnya yang usang. “ Rei bersikeras menjagaku dan Sayaka sepertinya juga ingin mencoba sofa yang baru kubeli seminggu lalu. Mereka berdua akan membuat suasana apartementku menjadi lebih ramai, Koji. Kau tak perlu mengkhawatirkan kondisiku, aku bukan anak kecil yang tak bisa apa-apa. Kau tak perlu takut aku akan terguling dari tangga atau aku akan menghanguskan masakanku. “ Maya berusaha keras meyakinkan Koji yang memandangnya dengan mata pesimis. “ Aku akan bersenang-senang dengan mereka. “

“ Kau mungkin akan tertawa bersama mereka, Maya. Kau takkan terguling dari tangga atau menghanguskan masakanmu karena mereka akan menjadi radar yang hebat dan setia mendampingimu. Namun mereka sama sekali tak tahu, apa yang terjadi... Bukan begitu? “

Tatapan mata Koji yang hangat malah menghunjam keras jantung Maya. Tak urung bola mata Maya membulat dan mengecilkan pupil matanya yang kaget dengan pertanyaan Koji secara tiba-tiba namun tepat sasaran.

Koji....

“ A... Apa maksudmu, Koji? “ Maya tersenyum simpul kecil .” Sudah kukatakan, aku bisa bersenang-senang dengan mereka. Apa kau tak percaya denganku? Kau boleh ikut bergabung dengan kami, tapi kau tidak bisa tidur bersama kami... “ Maya meringis jahil. “ aku lebih suka tidur dengan teman-teman yang sejenis denganku! “ dan ia melebarkan senyumnya, berharap Koji berhenti mengorek luka yang ingin ia pendam dalam-dalam.

“ Kira-kira.... Apa yang dipikirkan Masumi Hayami ketika ia mendengar Bidadari Merah kesayangannya terbaring di tempat tidur rumah sakit dan tak bebas bergerak karena jarum infus membatasi aktivitasnya? Atau tak ada seorang pun yang memberitahunya? Atau ia tak menonton televisi yang heboh mengumbar berita tentangmu sekarang ini? Dan ia sama sekali tak menjengukmu? Yang benar saja.... “ Koji menggelengkan kepalanya. Tak percaya. Tapi sedihnya itu nyata. “ Ada sesuatu yang ingin kau ceritakan padaku, Maya? Aku takkan lelah menjadi pendengarmu, aku siap menjadi teman terbaik yang belum pernah kau miliki. Aku disini... “ Koji meraih tangan Maya dan menggenggamnya erat. “ untuk menemanimu.”

Perlakuan hangat Koji membuat Maya meleleh. “ Ah, Koji... “ dan kini ia mulai tersentuh. “ aku sudah memutuskan kalau aku akan melupakan Pak Masumi....” air mata mulai menggenangi pelupuknya. “ sepertinya... tak semudah yang kukira.... “

Koji masih berdiri disisi ranjang dan menggenggam kedua tangan Maya yang masih terduduk ditempat tidur. Ia mengerti sekali kenapa Maya seakan segan pulih dan cenderung mengasiani dirinya belakangan ini. “ Kau masih mencintainya, Maya? Sebentar lagi ia akan menikahi Nona Shiori. “

“ Aku tahu itu! “ Maya sedikit gusar. Gelisah. “ Aku tahu.... tapi jalan nasib kami memang ditakdirkan begini! Ini realita, bukan drama percintaan dalam komik atau novel yang bisa menjadi indah sesuai imajinasi pengarangnya. Aku sempat berpikir ini adalah kutukan bagi pemegang hak akan Bidadari Merah...”

Koji tersentak kaget. “ Maya??? Sejak kapan kau jadi sedemikian pesimistis dan menyalahkan Bidadari Merah?! “ Koji menjadi sedikit tersinggung. “ Kau mati-matian bersaing dengan Ayumi bukan untuk menjadi seperti sekarang ini! Kau tak bisa terus-terusan terpuruk dan merasa paling menderita sedunia. Kau berhak bahagia dan Pak Masumi bukanlah satu-satunya sumber kebahagiaanmu! “

“ Aku tidak bisa melupakannya, Koji… Apa yang harus kulakukan sekarang? “ Maya tergugu sambil menumpahkan segala kegalauan yang menyiksanya. “ Hanya dialah yang kupikirkan! Segala akting yang kutampilkan selama ini kupersembahkan hanya untuknya. Cuma untuk mendapatkan pujian dan rasa bangganya kepadaku... “

“ Apa kau sudah mengatakan yang sebenarnya padanya, Maya? Bahwa kau juga mencintainya? “

Maya terkejut dengan pertanyaan Koji yang sepertinya tidak waras.

“ Kau sudah mengatakan padanya tentang perasaanmu padanya, Maya? “ kembali Koji mengulangi pertanyaannya. Dan sekarang terdengar lebih mendesak.

“ Koji! Mereka akan menikah! Pak Masumi dan Nona Shiori akan menjadi suami dan istri! Apa yang kau harapkan dari pengakuan cinta dalam waktu kurang dari 2 bulan ini ?!? “ teriak Maya frustasi.

“ Mungkin aku akan terdengar seperti pasien sakit jiwa yang baru saja melarikan diri, tapi tidak ada salahnya kau mengatakan perasaanmu padanya, Maya. Hal itu bisa mengurangi beban pikiranmu dan kau tak perlu terkekang oleh selang infus dan rutinitas minum obat yang membosankan ini. Meski terdengar ganjil, tapi kurasa tak ada salahnya kau mencoba. “

“ Itu tidak mungkin, Koji! “

Koji menaikkan kedua alisnya, berusaha tetap bersikap netral dan ingin menetralisir ketegangan diantara mereka. “ Apa… kau ingin aku yang melakukannya? Kau tahu itu sangat mustahil, Maya… aku takut kalau Pak Masumi salah sangka dan ia malah berpikir kalau aku yang mencintainya. “

Spontan ekspresi Maya yang tadi terkesan murung dan frustasi, kini menjadi tertawa tergelitik.

“ Koji… Kojiiiii….! “

Maya mulai tertawa kecil, dan Koji ikut tertawa bersamanya.

“ Maya, aku tahu kau mencintainya dan aku tidak bisa memaksamu untuk mengalihkan perasaanmu itu padaku. Aku sudah mengerti dengan sangat bagaimana posisi kita masing-masing. Pak Masumi pun mencintaimu dan kurasa dialah yang bodoh dengan melamar Nona Shiori sampai didepan Kaisar.” Koji menggerutu pelan. “ Kalau saja ia tahu perasaanmu kepadanya, aku yakin dia bisa sangat menyesal dan menjadi gila.”

Maya sedikit terkekeh dan kebali menjadi murung. “ Ia tak perlu tahu, Koji. Biarlah ini kupendam sendiri. Aku tak ingin ada kerancuan dan menjadi penghalang pernikahan mereka. Dulu rencana mereka ini sudah pernah tertunda, dan aku tak ingin menjadi sumber dari masalah mereka. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berakting. Tak lebih dari itu. “

“ Maya…”

“ Aku akan baik-baik saja, Koji. Jangan khawatirkan aku… “

Koji melihat bagaimana cara Maya menahan kesedihannya kuat-kuat. Meski tadi terlihat sangat rapuh, ia masih bisa merasakan bagaimana pedihnya hati Maya sekarang. Ia sangat ingin membantu Maya mengeyahkan perasaan yang menyiksa ini, ingin sekali ia mengembalikan senyum dan tawa untuk gadis mungil yang sudah lama ia cintai. Meski ia tahu, cintanya takkan berbalas, namun Koji akan tetap menjadi sahabat Maya yang terbaik.
Koji tersenyum. “ Aku percaya kau bisa bangkit lagi, Maya. Maya yang kukenal adalah gadis yang kuat, yang tegar, dan yang terbaik untuk menjadi Bidadari Merah. Kau memiliki teman-temanmu dan kau tetap memiliki aku. “

Maya mematung sesaat. Ia tahu ini seperti penggalan dari sebuah pernyataan cinta, namun hati kecilnya yang haus kasih sayang meronta hebat. Maya merentangkan kedua tangannya, meminta Koji memeluknya.

“ Maya? “

“ Koji… maaf… bolehkah aku memelukmu? “

Koji langsung terduduk disisi ranjang dan menyambar tubuh Maya didalam dekapannya. Ia tak ingin sedetikpun kehilangan rasa hangat ini, meski memang terlihat kalau ia sedang mengambil kesempatan, namun memang itulah yang sekarang ia lakukan. Koji pun seorang manusia biasa. Dan sekarang ini pun, ia membutuhkannya. Meski ia sadar, pelukan ini tak lebih dari pelukan seorang sahabat, bukan pelukan sejoli yang jatuh cinta. Seperti yang dahulu ia lihat di dermaga Astoria.

Maya tetap membenamkan wajahnya di dada Koji yang bidang. “ Terima kasih, Koji… kau adalah sahabat terbaik yang kumiliki. Entah apa jadinya kalau kau tak menyemangatiku…”

Koji mempererat pelukannya dan menghirup aroma ubun-ubun Maya yang khas. Ia menyandarkan dagunya dikepala Maya dan mengelus ringan rambut tebal Maya yang kusut. Maya sama sekali tak menolak perlakuan lembut Koji. Untuk kali ini, ia sangat menikmatinya.

Ia membutuhkannya.

Gemerisik dedaunan yang tertiup angin semilir menambah keindahan pemandangan di luar kamar rumah sakit. Sinar matahari yang mulai keemasan membias jendela dan menyebarkan warna hangat ke seluruh ruangan. Seperti efek Instagram.


                                              *


“ Makan siang anda, Pak Masumi? “

Masumi kembali mengerutkan dahi. Ia benar-benar tak ingin diganggu oleh makanan. Matanya yang dingin tetap menatap berkas-berkas penting dimeja kerjanya yang cukup besar. Bahkan bila tubuh Masumi dibaringkan diatasnya, ia masih bisa memiliki ruang untuk 2 orang lagi yang seukuran dengannya.

“ Mizuki….” mata Masumi menyipit, pertanda isyarat tertentu.

“ Saya mengerti, saya sudah menyiapkan makan siang anda, Pak Masumi. Saya akan menaruhnya di meja makan. “

Mizuki langsung berjalan menuju sisi ruangan yang terisi oleh 1 set meja makan dengan 2 kursi berdesain simple dan elegan serta berwarna hangat. Sangat kontras dengan kepribadian Masumi yang kelam.

“ Kali ini apa yang kau bawa untukku, Mizuki? Aku sedang tidak terlalu berselera untuk makan, aku harus menyelesaikan pekerjaanku sebelum jam 5. “

“ Apa anda yakin anda tak mau menjenguk Nona Maya, Pak Masumi?” Mizuki membalas pertanyaan Masumi dengan pertanyaan, yang sama sekali tak berhubungan dengan menu makan siang. Sambil menata makanan dimeja makan, ia tetap menatap semua peralatan makan guna dipakai oleh Masumi. Tak perduli akan lonjakan ringan tubuh Masumi yang menegang. Entah akan berguna atau tidak usaha kerasnya ini agar kesehatan dan asupan gizi bagi bosnya terjaga, namun ia tetap menjalankannya dengan sempurna.

“ Mizuki… “

“ Saya tetap akan menanyakannya setiap saya masuk ruangan ini, Pak Masumi. Anda boleh memecat saya kalau anda mulai jengah dengan saya. “ Mizuki menegakkan tubuhnya dan membelakangi meja makan yang sudah siap. Menatap langsung ke arah direkturnya.

Masumi menghela nafas berat. Ia tahu ia takkan mungkin memecat Mizuki, dan ia sangat yakin kalau Mizuki pun memiliki pemikiran yang sama dengan kerja otaknya.

“ Aku harus melupakannya dan tetap fokus pada tujuan awal pekerjaanku, Mizuki. Aku dan Maya bukanlah belahan jiwa seperti legenda Bidadari Merah. Kami ini adalah sepasang manusia yang takkan mungkin bisa bersama. Kau puas dengan jawabanku? Sekarang jawab, makanan apa yang kau bawa sekarang? “ balas Masumi seperti senapan serbu.

Sekarang ganti Mizuki mengerutkan dahinya, namun agak tertutup oleh kacamata serta poni hitamnya yang gelap. “ saya bawakan Yosenabe dan teh hijau. Porsi sedang. “ jawab Mizuki ketus.

“ Terima kasih, kau boleh keluar. “ Masumi menanggapinya dingin dan kali ini matanya sama sekali tak beranjak dari kertas putih didepannya dengan serius.

Mizuki yang agak kesal segera beranjak ke pintu keluar. Namun ia tak puas dengan hanya begini saja. Ia tahu bagaimana kondisi hati bosnya yang agak labil akhir-akhir ini dan resikonya adalah Mizuki kehilangan beberapa teman kerja yang berpotensi.

“ Maya pulang hari ini. Rumah sakit sudah menghubungi manager Maya dan mengatakan kalau kondisi Maya sudah stabil.”

Spontan Masumi langsung mendongak dan mencari sosok Mizuki yang sudah menghilang setelah terdengar suara pintu kayu tertutup sedikit kasar.

Maya….

Tanpa sadar ia hampir meremukkan berkas-berkas penting yang membutuhkan tanda tangannya siang ini. Semenjak ia mengetahui kabar kalau Maya jatuh sakit dan Rei sampai memanggil ambulans, hati Masumi sama sekali tak tenang. Ia gelisah luar biasa. Namun ia bersyukur telah dididik dengan tangan besi dari Eisuke, sehingga ia tetap bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Mati-matian ia berusaha tak memikirkan kondisi Maya. Ia kini menjadi pengecut yang berpura-pura memiliki tameng titanium dan mengira tak ada apapun yang dapat menembusnya. Namun ia salah besar. Perasaaan kuatir terus menghunjam jantungnya berkali-kali tiap ia mendengar secuil kabar tentang Maya baik dari media elektronik maupun gosip para karyawan.

Deretan angka dan huruf didepannya sekarang pun menjadi tak terbaca. Tulisannya terlihat seperti melarikan diri oleh mata nyalang Masumi sampai-sampai ia hampir menempelkan kertas itu ke wajahnya sendiri. Ia memejamkan mata sebentar, dan membukanya. Hasilnya sama saja.

Maya…..

Hanya 1 kata itu yang dapat ia baca. Bahkan berkas didepan hidungnya seperti terbaca “Maya” sebanyak 1 halaman penuh. Ia memejamkan matanya dan membukanya kembali. Berkali-kali sampai ia rasa sudah cukup bermain kedip-kedipan mata.
Berkas kerja ia lempar begitu saja dimeja. Ia segera menyambar jas kerja dan sedikit merapikan rambut yang sepertinya sudah setengah hari ini tidak disentuh sisir. Penyegar nafas juga ia semprotkan beberapa kali ke mulut, dan tak lupa ia menyemprotkan parfum wewangian pegunungan segar untuk menyamarkan bau tembakau yang menyengat. Setelah ia merasa cukup tampan, langkah kaki panjangnya membawanya ke pintu dengan tergesa.

“ Kosongkan jadwalku sampai besok pagi, aku ada keperluan mendadak. “ ucap Masumi menanggapi mulut Mizuki yang belum sempat menanyakan tujuan Masumi.

“ Baik, Pak Masumi. Di seberang Daito ada toko bunga yang baru namun cukup ramai oleh pengunjung akhir-akhir ini. Peminatnya sangat banyak karena mereka selalu menyediakan bunga yang segar. Nona Maya pasti menyukainya. “ Mizuki menyarankan dengan gayanya yang sok tahu dan yakin.

“ Dan oh, Pak Masumi, bawalah ini.” Mizuki mengeluarkan tas koper mini, seperti sebuah brankas uang berwarna hitam berpegangan perak mengkilat.

“ Mizuki, aku membawa semua kartu debit maupun kreditku. Kau tak perlu membawakanku setumpuk uang, apalagi seukuran tas itu. “ Masumi mengerutkan dahi dan hendak beranjak pergi dari sekretaris yang dirasa sudah membuang waktu 2 menitnya yang berharga. Namun Mizuki berkeras agar ia membawanya dan membukanya nanti di mobil. Mizuki juga sudah menyuruh supir Daito untuk mengantarkan Masumi ke rumah sakit.

“ Kenapa kau begitu keras kepala memberiku tas ini Mizuki, apa isinya? ”

“ Nanti anda akan berterima kasih pada saya begitu anda membukanya di kursi penumpang. Sebaiknya anda segera berangkat, Pak Masumi. Kalau tidak, bisa-bisa anda tak sempat memberikan karangan bunga yang akan saya pesankan sekarang. “ terlihat Mizuki mengangkat sebuah telepon dan mulai memencet beberapa tombolnya.

Masumi sangat takjub dengan efisiensi kerja Mizuki. Ia tak hanya bisa diandalkan dalam urusan pekerjaan, namun juga dalam bisnis percintaan. Diam-diam Masumi bersumpah bahwa ia akan memperkerjakan Mizuki seumur hidupnya, atau membuat surat kontrak bahwa nyawa Mizuki akan dimiliki Daito.

Ia segera turun ke lift dan keluar dari pintu utama Daito. Menunggu sebentar di luar mobil sambil beberapa kali melirik jam tangannya yang tercetak jelas tulisan kokoh Swiss Army. Sang supir sudah berjaga dibalik kemudi atas perintah singkat Masumi. Setelah muncul seorang kurir pria yang membawa karangan bunga Lily putih yang segar, Masumi langsung menyambarnya dan memberikan lima lembar uang yang sangat besar angkanya untuk seikat karangan bunga. Ia langsung masuk mobil, memerintah supir untuk bergegas. Meninggalkan kurir yang masih sibuk melongo ingin mengembalikan kelebihan lembaran uang. Ia berusaha menenangkan jantungnya yang sepertinya berdetak cukup cepat tak beraturan dan bulir-bulir kecil keringat agak sedikit nampak dipelipis. Grogi! Ia memang pernah bersumpah, namun dalam urusan Maya, sumpah untuk meninggalkan Maya, sepertinya sangat cepat berkarat.

Masumi menghembuskan perlahan nafas beratnya, dan membuka tas kecil yang sedari tadi hanya dipandanginya. Ia membuka tutupnya dan terkejut.

Bento?????

Masumi terkekeh kecil dan merasa sangat terbantu juga untuk urusan perutnya. Ia melupakan hidangan yang tadi disiapkan Mizuki dimeja makan kecil. Padahal aromanya tadi sangat menggugah selera, jauh lebih menggoda dibandingkan bento sederhana dipangkuannya. Namun Masumi sangat menghargainya. Segera ia membuka sumpit dan melahapnya menuju rumah sakit tempat Maya terbaring lemah.

30 menit kemudian, setelah berjuang sebentar melawan arus lalu lintas yang kebetulan padat, Masumi menginjakkan kaki di lobi rumah sakit. Ia tegang. Namun beruntung ia telah merapikan diri sebelum berangkat. Dan yang lebih baik lagi, ia dalam kondisi tidak lapar.

Ia tak perlu bertanya pada resepsionis yang sedari tadi memandang Masumi dengan mata berbinar, seperti Eve yang baru saja bertemu Adam di Taman Eden. Masumi telah mendapatkan informasi pasti dimana letak ruang perawatan Maya dan dengan tak sabar ia melangkahkan kakinya dengan kasar dan cepat.

Ruangan Maya dirawat adalah ruangan yang tak kalah mewah dari ruangan pribadi tunangannya, Shiori Takamiya. Terletak diujung lorong dilantai 2 dan memiliki jendela kamar yang cukup lebar dan luas. Serta anti peluru! Pemandangan yang tersaji sangat dibutuhkan oleh pasien yang cepat bosan oleh suasana rumah sakit. Mereka dapat melihat taman bunga buatan dan pepohonan yang daunnya sedang mudah terbawa angin awal musim gugur. Tak jarang suara kicauan burung yang bertengger dapat terdengar.
Masumi akhirnya sampai tepat didepan pintu Maya dirawat. Ia menyiapkan karangan bunga Lily putih berpita hijau muda yang ada digenggamannya. Nafasnya dibuat seteratur mungkin, karena ia tak ingin terlihat gugup dihadapan Maya. Irama detak jantung Masumi mulai melembut dan ia memberanikan diri untuk melihat Maya dari jendela kaca kecil yang memanjang kebawah dan bermaksud untuk mengetuk pintu.

Deg!

Apa ini?!

Masumi membelalakkan matanya. Tak percaya dengan apa yang tersaji didepannya.

Sakurakoji?????




Masumi mengetatkan genggamannya, dan sepertinya batang-batang bunganya telah remuk seketika. Ia mengurungkan jemarinya yang sudah hampir menyentuh pintu, melangkah mundur dan berbalik menuju lantai satu.

“ Ah, maaf, mencari siapa Pak, mungkin saya bisa bantu? “ sapa petugas resepsionis yang sepertinya masih terpesona pada Masumi.

Masumi memandang tajam gadis yang sepertinya masih berusia awal 20 tahunan itu.

“ Tak ada. Ini untukmu. “

Masumi menaruh karangan bunga Lily putih yang masih terlihat sangat manis di meja sang gadis dan langsung membalikkan tubuhnya, meninggalkan gadis muda itu yang masih kebingungan dan masih berusaha mencerna peristiwa barusan.

“ Sepertinya aku pernah melihat wajahnya, tapi dimana ya? “ gadis resepsionis tadi masih berusaha berpikir dan mengingat wajah-wajah idolanya yang sering muncul dilayar kaca. Ia menggaruk-garukkan rambutnya sambil memeluk Lily putih itu didada.

“ Yuna!!! Jangan melamun saja! “ tiga teman sang gadis resepsionis tadi menghampirinya. Sepertinya mereka sudah selesai menggunakan jam makan siang.

“ Waaah, Lily putih! Pasti sangat mahal, bunga dari siapa ini??? “ goda salah satu temannya yang berhasil memancing rasa penasaran dari temannya yang lain.

Gadis resepsionis bernama Yuna tadi langsung tersenyum hangat dan menampakkan rona wajahnya yang memerah.

“ I... Ini dari... penggemarku.” Jawabnya. Berbohong. “ Sepertinya ia menyukaiku. “

“ Kyaaa!!! “ sahut sorak sorai teman-temannya yang ikut kegirangan.

Ruangan lobi menjadi lebih ramai oleh mereka berempat. Tawa dan gosip sedikit meluncur dari mulut mereka dan dibumbui perasaan bahagia. Namun kegaduhan mereka menjadi terhenti setelah sosok Maya Kitajima dan Sakurakoji keluar dari lift.
Mereka berdua menuju ruangan dokter Akagi dan sepertinya mereka akan ke basement tempat dimana Koji memarkirkan mobilnya.

“ Pasangan Bidadari Merah, heuuuuu~~~~ kapan aku akan menjadi seperti mereka? ” keluh seorang teman yang memandang Maya dan Koji dengan rasa iri. “ Mereka sangat serasi. Kalian lihat kaus lengan panjang Maya yang berwarna coklat gelap itu? Dan sepatu low boots warna coklat tanah itu??? Aku sudah lama sekali menginginkannya... “

Keluhan teman itupun disambut derai tawa yang lain dan berhasil mempengaruhi mereka untuk berdoa bersama tentang gaji lebih awal atau terjadi diskon besar untuk kedua barang tersebut.


Jam menunjukkan pukul 18.35 di kota Tokyo. Padatnya arus lalu lintas masih merayapi jalanan. Namun tidak semacet yang diperkirakan sebagian penduduk. Beruntung hari ini tidak ada kecelakaan atau apapun yang mampu menghambat kelancaran harapan mereka untuk bisa pulang ke rumah tepat waktu. Gemerlap lampu neon seperti tak mau kalah dengan pijaran sejuta bintang di langit, dan mereka memancarkan seluruh watt yang mereka miliki untuk menerangi kegelapan malam. Inilah Tokyo. Bercahaya, padat, penuh kesibukan dan bertabur cinta. Mengimbangi akan biaya hidup yang cukup lumayan di ibukota Jepang tersebut.


Dan taburan cinta sepertinya telah berhasil memaksa hati Shiori untuk menemui Richard di apartementnya yang tak begitu jauh dari rumah sakit.



Ah, sampai juga aku disini. Bagaimana ini? Aku yang seorang Takamiya, sama sekali tidak pernah dididik untuk menemui pria bujangan yang hidup di apartement, dan datang sendirian.



Jantung Shiori berdetak tak karuan. Ia benar-benar tak percaya akan semua yang telah Richard lakukan pada perasaannya. Memang setelah kejadian manis tersebut, Richard masih menghubunginya, mengirimkan beberapa pesan singkat. Namun sudah berhari-hari pria itu tidak menghubunginya. Pasti karena kesibukan yang luar biasa dan kadang, mengatasi beberapa pasien yang berpura-pura sakit hanya untuk mencoba keberuntungannya mendapatkan status istri dokter pria asing yang bergaji besar—bukanlah hal yang sepele dan mudah.



Tak salah kalau Shiori mengalami sindrom tak ingin kehilangan.



Ia mengidap penyakit gelisah, sering melihat handphone ataupun jam, mondar mandir tak tentu arah, kehilangan nafsu makan, galau, kuatir dan perasaan cemburu, bersatu padu memporak porandakan keyakinannya akan seorang tunangan Hayami.

Ia telah menghubungi rumah sakit dan mendapatkan kepastian kalau Richard sudah selesai bertugas dan digantikan oleh dokter lain yang tak kalah profesional darinya. Entah keegoisan atau harga diri macam apa yang dimiliki Shiori. Ia memilih mencari tahu ke rumah sakit daripada bertanya langsung ke Richard. Padahal hanya dengan memencet beberapa tombol, ia pasti sudah bisa langsung mendengar suara atau menatap wajah Richard yang tersenyum mengembang di layar handphone-nya.

Dan sekarang ia telah berdiri tegak di depan pintu bercat putih gading dan bergaya konvesional. Shiori meyakinkan diri dan mulai memencet bel.

Terdengar lembut alunan nada dari bel pintu Richard, namun belum ada yang membuka pintu. Shiori mengulanginya lagi dan menunggu 2 menit. Tetap tak ada jawaban. Shiori mulai gelisah.

Bukankah Richard telah pulang ke apartementnya? Atau aku salah alamat? Tapi... Pak Takumi tak mungkin salah mengantarkanku. Ia telah hapal seluruh pelosok kota Jepang melebihi siapapun. Aku sangat mengenal supir pribadiku sejak 12 tahun yang lalu.

Shiori mencoba memencet tombolnya kembali dan kembali menunggu. Ia sekilas teringat pada Kaoru Daidouji, teman yang sekalangan dengannya, sangat terlihat kalau ia tertarik pada Richard. Ia pernah memergoki Kaoru yang bermanja pada Richard untuk memeriksanya, padahal ia sama sekali tidak mengidap penyakit apapun. Namun kekesalan Shiori meyakinkannya kalau ia mengidap penyakit jiwa!

Apakah... Richard tertarik pada wanita semacam itu, sampai ia lupa menghubungiku? Ia memang sangat bugar, sehat dan bersemangat, berbeda sekali dengan diriku yang mudah pingsan dan memiliki stamina tubuh yang buruk.

Hati Shiori sedikit terkoyak cemburu karena khayalan dan tuduhan aneh yang ia bayangkan. Ia memang pernah mengalami cemburu semacam ini dulu kepada Maya. Dulu. Sebelum ia menyadari akan sosok dokter Richard Jefferson yang mempesona.

Kalau dipikir, wanita mana yang takkan tertarik kepada Richard? Ia bertubuh tegap, tinggi dan kekar. Kemeja kerja yang biasa ia kenakan malah membalut tubuhnya menjadi lebih sempurna. Jas putih panjangnya terlihat menonjolkan auranya yang bersih serta menguatkan warna rambut Richard yang berbeda dari kebanyakan masyarakat Jepang. Ia sering memakai kacamata berbingkai tipis. Shiori pernah melihat ia tak menggunakannya, ketika Richard sedang mendekap tubuhnya yang gemetar. Karena takut, karena rindu, karena indah dan karena ternyata Shiori menginginkannya.

Akhirnya kesabarannya pun habis. Ia meraih handphone-nya dan memencet tombol dialling. Tiba-tiba pintu putih itu terbuka lebar, dan menampilkan sosok tinggi menjulang dihadapan Shiori yang hampir menangis.

“ Shiori? Apa yang kau lakukan disini? “

Shiori terkejut dengan penampilan Richard.

“ Kau.. Kau... ada apa dengan bajumu? “

Richard melihat dirinya yang memakai jubah mandi berwana biru dalam dan tidak terikat kencang di bagian pinggang, memamerkan otot kokoh tubuhnya yang kencang dan licin.




“ Aku sedang mandi. Maaf aku tidak segera membukakan pintu. Aku tadi sempat terpeleset dan sibuk mencari jubah mandiku yang lupa kutaruh dimana.“ Richard menjelaskan dengan wajah memelas, meminta pengertian. “ Silahkan masuk.”

“ Ah, ti... tidak usah... “ wajah Shiori menjadi memerah, malu karena pikirannya yang penuh prasangka buruk dan terutama, karena jubah mandi Richard yang malah menambah keseksian tubuh kaum Adam.

 “ Aku... hanya sekedar mampir sebentar karena kebetulan.... aku lewat didekat sini. “

“ Apa kau datang sendirian? Atau ada pendamping yang ikut denganmu?

“ Aku... sendirian.... “

Richard menangkap kegugupan Shiori yang selalu menundukkan kepalanya ketika ia menjawab. Tak pernah Richard melihat sosok Shiori yang terlihat manis seperti ini. Biasanya ia menghadapi Shiori sebagai wanita yang beraura kuat dan penuh percaya diri serta keanggunan kelas atas. Ia menjulurkan lehernya keluar pintu, menoleh kekiri dan kekanan. Setelah dipastikan “aman”, ia menarik tangan Shiori masuk apartementnya dan mengunci pintu dibelakang punggung lebarnya.

“ Ri... Richard! Aku.... hnggggh...... “ dan keterkejutan Shiori menjadi meledak ketika Richard menangkap tubuhnya dan memeluknya erat. Serta mendaratkan ciuman panas di bibirnya.

“ Aku merindukanmu, Shiori... “

Tubuh Shiori menjadi meleleh. Seperti lilin ulang tahun yang menyangga api besar diatasnya. Namun api yang ia sangga ternyata terlalu besar, dan ia meleleh lebih cepat dari seharusnya.

Mata Shiori meredup dan mulai bisa mengimbangi perasaan rindu yang ditawarkan Richard. Ia melingkarkan tangannya di leher pria bertubuh 191cm tersebut dan melengkungkan tubuhnya, agar bisa sepenuhnya merasakan kehangatannya.

Mereka berciuman cukup lama dan membisikkan mantera-mantera rindu serta luapan cinta yang mereka pendam beberapa hari belakangan ini.

“ Richard... maukah kau makan malam, denganku? “ bisik Shiori lemah.

Sekejap mata Richard membulat. Ia tak pernah menyangka kalau wanita sekelas Shiori, mengundangnya makan malam. Berdua! Ini terlalu hebat buat Richard. Seperti memenangkan jackpot saja.
Richard memang lapar. Sedari tadi ia melewatkan makan siangnya dan hanya berhasil memasukkan 2 lembar sandwich seukuran porsi wanita yang sedang diet, serta segelas jus jeruk. Namun rasa lapar yang ia butuhkan sekarang berbeda. Ia lapar akan Shiori.

“ Tentu saja aku bersedia menemanimu makan malam. Tapi, aku lebih membutuhkan menu yang istimewa malam ini. “ Richard meminta ijin Shiori dan tetap menjaga jarak kedua bibir mereka untuk tetap dekat. “ Aku menginginkanmu, Shiori... aku terlalu merindukanmu...”

Wajah Shiori bersemu merah. Ia tahu apa yang Richard minta. Tak pernah ia merasakan sebegini dibutuhkan oleh seorang pria. Ia benar-benar merasakan desakan kuat dari Richard yang terlalu menggebu-gebu. Dan ia kalah.

“ Akupun menginginkanmu, Richard. “ jawab Shiori tersipu dan menutupnya dengan mencium dan memeluk tubuh Richard lebih lekat.

Mereka berdua akhirnya terhanyut dipusaran cinta yang mereka buat dalam sekejap. Seperti candu, sepertinya mereka sudah terlalu terbius cukup parah. Kecupan-kecupan ringan menjadi terlalu sering dan terus membara. Mereka sudah sangat haus akan kebutuhan biologis masing-masing yang terlalu mendesak.

Jubah mandi Richard sudah berserakan tidak karuan dilantai kayu, tak jauh berbeda dengan pakaian resmi Shiori yang sudah lebih dulu teronggok dekat pintu apartement. Dan tak butuh waktu lama bagi mereka untuk saling melepaskan semua yang mereka pikirkan, semua yang mereka impikan dan yang sekarang mereka rasakan. Semuanya terlalu memabukkan. Dan terlalu nyaman bagi mereka untuk memisahkan kedua tubuh diatas ranjang empuk berukuran king size.

Mereka sudah melupakan norma-norma sekitar yang berlaku. Seharusnya Shiori tidak kesini, apalagi sendirian. Supir yang mengantarnya diminta menunggu dan terserah mau kemana selama sekitar 3 jam. Dan supir hanya menuruti perintah majikan, dan ia bersumpah tutup mulut, kalau ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya.

Seharusnya juga ia mengingat posisinya sebagai calon istri seorang direktur muda sukses, Masumi Hayami, dan pernikahan mereka pun sudah didukung oleh Kaisar secara langsung. Richard sama saja. Ia tak mau tahu kalau yang sekarang sedang ia manjakan ini adalah tunangan pria lain. Mungkin wanita ini pernah dipeluk oleh pria itu, dicium, atau dimajakan. Namun Richard tahu pasti, bahwa dialah yang pertama bagi Shiori. Dan itu membuat Richard tersanjung bahkan lupa diri. Namun ia tak terlalu ambil pusing. Ia mencintai Shiori. Titik!

Mereka saling memuji satu sama lain di balik tebalnya selimut Alpaca yang mewah. Warnanya yang segelap biji coklat matang, sangat kontras dengan kulit manusia yang berkeringat dan mengkilat. Shiori memeluk erat dan memekikkan nama Richard ketika ia seakan menyentuh pelangi dengan warna-warni yang berjuta jenis. Dan senyuman Richard menyambutnya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
Tiba-tiba alunan bel pintu Richard berbunyi lembut, mengembalikan akal sehat kedua insan yang barusan dimabuk cinta. Dengan segera Richard mencari jubah mandinya yang lagi-lagi ia lupakan letaknya. Shiori memandang Richard dengan perasaan takut dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Pakaiannya ada di pintu utama, dan ia terlalu takut untuk melangkah kesana.

“ Tak usah takut, sayang. Aku akan mengambilkan pakaianmu sebelum aku membuka pintuku. “ kata Richard tenang dan mengecup ringan kening Shiori dan segera beranjak ke pintu utama, membiarkan tamunya memencet tombol pintunya yang sudah ketiga kalinya.

Ia segera memungut baju Shiori dan memberikannya pada wanita yang masih gelisah ditempat tidur. Setelah Richard memastikan ia pantas menerima tamu yang tak ia duga, ia segera membuka pintunya.

“ Anda?! “ Richard yang biasanya tenang, menjadi kaget dan sedikit lepas kendali.

“ Selamat malam, Mr.Jefferson. saya mencari Nona Shiori Takamiya. Bisakah saya menemui beliau sekarang? “ ucap wanita tua berkacamata runcing dan memiliki bakat alami untuk tampil judes dan tak menyenangkan sama sekali.

Richard berdeham ringan dan tetap menghalangi pintu masuk. “ Anda pasti salah, nyonya. Saya tak bertemu Shiori beberapa hari ini.”

“ Lancang sekali kau memanggil nona muda tanpa menggunakan nama keluarganya, bahkan kau tak memanggilnya nona! Kau pikir kau siapa?! Kami bisa membelimu kapan pun kami mau dan membuangmu dengan sangat mudah! Sekarang, dimana nona Shiori???! ”

“ Untuk ukuran pengasuh yang menjaga nona Shiori sedari kecil, kau terlalu kasar. Tidakkah anda sadar akan hal itu, nyonya? “

Pengasuh Shiori tersulut emosinya. Tak pernah ia bertemu pria yang berani kurang ajar padanya, bahkan ketika Masumi berniat membatalkan pernikahannya, pria itu masih lebih sopan dan dapat mengendalikan ucapannya dengan baik melebihi dokter pribadi Shiori.

“ Kau!!!! Aku akan merekomendasikan kepada keluarga Takaymiya untuk memecatmu! Kami tak butuh dokter lancang yang tak tahu sopan santun untuk merawat nona kami yang berharga! “

Richard tersenyum sinis. Shiori sudah menceritakan betapa protektifnya sang pengasuh ketika dirasa ia dalam bahaya, dan hal itu tidak juga membuat kenyamanan dalam diri Shiori. Entah sudah berapa pria yang berhasil ditendangnya. Namun Richard tak mau kalah oleh wanita yang tingginya hanya sebatas perutnya dan menyemburkan kata-kata kasar dalam hanya dalam tempo 7 menit.

“ Lalu apa yang anda lakukan disini? Apakah jauh-jauh niat anda hanya ingin memecat saya? Anda bisa menggunakan telepon, atau media elektronik lainnya. Saya sangat mudah dihubungi. Namun saya takkan mundur dari pekerjaan saya. Saya adalah dokter yang paling pantas merawat Shiori, ah, maaf—nona Shiori. Takkan ada dokter lain yang mampu berbuat lebih jauh lagi dalam penanganan kesehatan fisiknya dan juga jiwanya. Saya sangat percaya diri akan keputusan saya dan maaf… saya hendak berpakaian kalau anda tak keberatan. “ Richard menjawab dengan tenang, meski ia khawatir, kalau percakapan ini akan didengar oleh orang lain yang tinggal disebelahnya.

Pengasuh itu bersikap lebih dingin dari 7 menit tadi. Ia balas tersenyum culas dan merendahkan. “ Aku sangat tahu kalau nona Shiori ada didalam, Mr. Jefferson. Saya mengikutinya sejak 1 jam yang lalu. Dan aneh sekali anda menyangkalnya. Kalau terjadi sesuatu yang tidak sepantasnya anda lakukan pada nona-ku, anda seharusnya mulai mengemasi pakaian anda dan kembali ke negara asal anda.” Ia mendongakkan kepalanya dengan angkuh. “ saya sangat serius dengan ucapan saya sendiri. Kembalikan nona Shiori dan menjauhlah darinya. Ini yang terbaik untuk anda. “

“ Dan apa anda yakin ini juga untuk Shiori? “ Richard kembali membalas kesombongan sang pengasuh dengan keyakinannya.

“ Anda tak tahu apapun tentang nona! Saya mengasuhnya sedari kecil!!!”

“ Dan saya mengobati serta merawatnya semenjak ia hancur lebur! Dan sekarang ia mampu bangkit dengan kedua kakinya sendiri! Ia wanita yang kuat dan kau hanya membuatnya melemah dengan caramu memanjakan serta menyalahkan sekitarnya!! Kau menyesatkannya dan aku takkan membiarkannya!!! “

“ KAU!!!! “

Pengasuh itu melayangkan tangannya, hendak menampar pipi Richard.

“ CUKUP! “

Keduanya terhenti. Baik pengasuh dan Richard.

“ Shiori… Kenapa kau keluar?!? “ desis Richard tak percaya.

“ Nona Shiori!!! Saya sangat mengkhawatirkanmu!!!! “ sang pengasuh menghambur masuk kamar, tak memperdulikan Richard yang masih melongo di pintu. “ Apa yang ia lakukan padamu, nona? Apa ia menyakitimu? “

Mata sang pengasuh itu terlihat panik, mengingat tubuh Shiori hanya terbalutkan oleh jubah mandi berwarna biru dalam yang jelas bukan milik Shiori, karena ukurannya yang terlalu besar. dan anehnya, sama persis dengan yang dipakai oleh Richard sekarang. “ Nona, kenapa kau berpakaian seperti ini? Jangan-jangan… oohh…!!!! “

Shiori menatap mata pengasuhnya yang menutup mulut dengan kedua telapak tangannya rapat-rapat. Ia melayangkan pandangan yang lembut dan dalam. “ Bibi… aku mencintainya. Bukan Masumi Hayami. Aku mencintai Richard Jefferson…”

Kedua rahang Richard dan sang pengasuh seperti seakan terjatuh ke lantai. Richard sama sekali tak menyangka kalau Shiori sudah seberani itu. Sekuat itu! Dan ia rasa, ia semakin jatuh cinta padanya.


“ Apa maksudmu kau mencintainya, nona!? Kau akan menikah sebentar lagi!! “

Air maya Shiori mendesak keluar, namun ia tetap pada posisinya. Ia tak lagi bersikap cengeng dan manja. “ Aku tahu… aku akan membicarakan kelanjutannya pada keluargaku dan keluarga Hayami. “

“ Itu tidak mungkin nona! “ pengasuh itu menjadi semakin frustasi. 
“ kau tak bisa membatalkan pernikahan yang pernah tertunda! Apa kata orang-orang nanti padamu? Mereka akan merendahkanmu! Sebaiknya kita segera pulang nona, aku akan meminta pada kakekmu untuk mengganti dokter pribadimu secepatnya! “

Wajah Shiori mengeras. “ Menggantinya? Kenapa?? Apa karena kami saling jatuh cinta dan kau ingin menggantinya??? ”

“ Nona..  saya mohon jangan bersikap begini. Apa nanti kata tuan dan nyonya besar tentang hal ini? Mereka sudah merencanakan semuanya dengan sangat rapid a detail, bahkan kakek nona sudah sangat mengharapkan ada penerus Takamiya lagi kelak. Saya mohon, pikirkan lagi baik-baik keputusan nona…”

“ Mereka harus mengerti keputusanku, bibi. Aku tak bisa hidup dengan pria yang tidak kucintai lagi. Aku mencintai dokter pribadiku, dan kurasa hal itu bukan hal yang tabu. Sudah banyak orang yang jatuh cinta pada orang yang telah merawatnya, dan aku salah satunya. Ia selalu ada pada saat kubutuhkan, dan Masumi terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Selalu seperti itu! Aku ingin menikahi pria yang selalu ada waktu untukku dan keluargaku kelak! “

“ Nona… tolong ingat akan kesehatan kakek nona. Beliau bisa mendapatkan serangan jantung bila ia mendengar hal ini! Bukan begitu, Tuan Jefferson? “ pengasuh itu menatap sang dokter dengan wajah kalut. Shiori sama sekali tak mengetahui akan hal ini dan mulai terlihat bingung.

“ Kakek… sakit? “ ia melemparkan pandangan panik ke arah Richard. “ Benarkah itu, Richard? Kakekku?? “

Richard diam seribu bahasa. Namun ia mengangguk.

“ Kenapa kau tidak memberitahhukanku, Richard!!!! Ini kakekku!!!! Dan aku sangat menyayanginya melebihi apapun!!!! “ suara Shiori meninggi.

“ Kakekmu berpesan kepada kami untuk merahasiakan ini, terutama darimu, Shiori. Beliau tak ingin kau menjadi seperti ini, panik dan khawatir.” Richard mendekati Shiori dan menatap tajam sang pengasuh disampingnya. “ Mohon maaf untuk sikapku, tapi aku sangat memegang teguh permintaan beliau. Tidak seperti orang kepercayaannya yang lain, yang dengan mudah membocorkan kepercayaan tuannya. “

“ Kau!!!!! Lancang sekali kau…!!!! “

“ Cukup, bibi.. aku akan pulang. Kumohon tunggu aku dibawah dan minta Takumi untuk menyiapkan mobil. Aku akan berpakaian sebentar. “

Mata sang pengasuh itu membulat tak percaya. “ Nona….  anda?  Apa maksudnya… berpakaian ???“

Shiori tersenyum lemah “ Sudah kukatakan, bibi.. Aku mencintainya. Dan aku tak menyesalinya. Sekarang, mohon biarkan aku berpakaian sebentar dan membicarakan hal ini sebentar pada Richard. Kumohon, mengertilah. “

Dan akhirnya pengasuh itupun takluk. Ia mengundurkan diri, menuju pintu lift dan segera menyuruh Takumi menyiapkan mobil. Sekitar 20 menit kemudian, Shiori pun menyusul. Dengan segera ia masuk ke mobil tanpa banyak bicara sepatah kata pun. Baik sang pengasuh maupun supir pribadi, sama sekali tak bernyali untuk bertanya kepada nona mudanya yang cantik.

Kenapa anda menangis, Nona ? 



Dua hari setelah kembalinya Maya ke apartement, banyak sekali karangan bunga silih berganti datang memenuhi kamarnya. Ucapan “ semoga lekas sembuh “, “ tetap semangat! “, bahkan yang terkonyol dengan nada undangan seperti “ aku mencintaimu “ dan “menikahlah denganku” pun ada. Para fans Maya sempat berkumpul di pintu masuk, hendak melihat kondisi Maya setelah di rumah sakit mereka tak berhasil menemuinya.

Mereka menghambur seperti kawanan lebah ketika melihat Maya turun dari Subaru biru milik Sakurakoji. Beberapa pihak keamanan telah membuat pagar betis guna melindungi idolanya yang akhir-akhir ini menjadi bahan gossip dipelosok kota. Tapi Maya tetap berbaik hati memberikan tanda tangan dan senyumnya yang menawan.

Maya masuk dengan tumpukan karangan bunga dan macam-macam hadiah dari para fansnya. Dibantu Koji, ia membawanya masuk ke kamar apartement. Rei dan Sayaka telah menyiapkan segala yang dibutuhkan temannya selama masa pemulihan. Baik itu kebersihan sampai urusan dapur. Karena tercium aroma teh melati yang lembut, menghangatkan ruangan Maya  yang manis.

Setelah selesai menata segalanya, Maya kembali beristirahat. Koji mohon pamit karena jadwal syuting memaksa dirinya untuk tetap mengais rejeki. Jaman sekarang, pekerjaan itu susah-susah gampang, hanya tingkat disiplin dan profesionalisme kerjalah yang dapat membuat mereka tetap eksis membayar tagihan tanpa perlu menumpuk utang.

Maya bergelung santai diranjang. Ditemani kedua sahabat terbaiknya, mereka bercerita segala hal yang mereka ingin bagi. Betapa mereka sangat merindukan Maya, dan begitu juga sebaliknya. Karena dasar akan kecintaan acting, percakapan mereka pun mayoritas hanya diseputaran film, audisi, pendatang baru dan tak lupa, tarif!

Dua hari setelahnya, Maya tetap dipaksa Pak Kuronuma untuk beristirahat. Ia bahkan memasang tulisan yang di print-out sebesar spanduk yang bertuliskan MAYA KITAJIMA / BIDADARI MERAH DILARANG MASUK!!!

Para pemain dan pekerja Daito sudah mengenal sekali watak sang sutradara. Karena itu, mereka sama sekali tak protes tentang spanduk itu. Hanya seorang Maya saja yang menyambutnya dengan bibir mengerucut dan pipi menggembung. Namun spanduk itu sangat sukses menggiring Maya untuk kembali keperaduannya sembari diiringi tawa tertahan dari para karyawan Daito selama perlajanan Maya menuju pintu keluar. Bahkan petugas keamanan pun berwajah sangat lucu melihat Maya keluar dari sana.
Di apartement, yang bisa Maya lakukan hanyalah berakting sendirian. Ia tak mau menjadi tumpul karena faktor kelelahan. Sepertinya, Maya perlu mengganti dokternya, karena dokter Akagi yang terkenal super galak tak mampu membuat Maya beristirahat melatih bakatnya hingga mencucurkan bulir-bulir keringat. Terdengar bunyi bel pintu. Maya segera merapikan penampilannya secepat mungkin dan menyambut tamunya didepan.

“ Bu Mayuko, Ayumi?!? “

“ Apa kabar, Maya. Kudengar kau sudah kembali ke apartement, makanya kami berdua datang kemari menjengukmu.” Sapa Bu Mayuko dengan lembut.

“ Mari.. silahkan masuk! “ Maya menyambut keduanya dengan sangat riang, seperti anak TK yang baru bertemu dengan Sinterklas di cerobong asap pada hari Natal. Maya menyilahkan mereka duduk dan segera menuju dapur. 6 menit kemudian, Maya sudah kembali dengan nampan berisi cangkir dan toples cantik berisi kue kering.

“ Apa kau sudah lebih baik? Kau tak perlu repot-repot menyuguhi kami secangkir teh dan kue kering buatanmu ini. Dan,oh Tuhan...” Ayumi mengunyah sebagian kue yang tergeletak bergerombol di toples cantik berbentuk kuncup bunga. “ aromanya sangat menggelitik dan kuenya langsung mencair dimulutku. Kau harus mengajariku membuatnya, Maya. Aku tak percaya kau bisa membuat kue senikmat ini! “ Dan Ayumi kembali mengambil kuenya yang kedua.

“ Tentu saja. Aku hanya membutuhkan tepung terigu, butter, gula palm, dan gula bubuk. Oh, kau tak boleh melewatkan white coffe untuk membuat aromanya yang kuat ini. “ Maya menjelaskan sebagian bahan dan menceritakan lebih lanjut tentang betapa sederhananya resep yang ia buat secara mendadak tadi malam. Rencana kedatangan Bu Mayuko dan Ayumi ke apartementnya didapatkan dari Rei dan Sayaka, dan mereka membantu Maya menyelesaikan misinya. Sayang mereka berdua sedang terikat dengan jam kerja, jadi hanya Maya seorang diri yang menyambut kedua tamunya.

Bu Mayuko pun menyesap sedikit teh melati dan ikut merasakan kue yang dipromosikan Ayumi dengan sungguh-sungguh.

“ Akhir-akhir ini, aku sering sekali melihatmu sakit di berbagai media. Apakah penyakitmu itu serius, Maya? “ ucap Bu Mayuko dengan getir kekhawatiran terhadap anak didiknya.

“ Itu betul, Maya. Kau menjadi sering sakit. Apakah Daito terlalu memeras tenagamu?” Ayumi menimpali.

Maya tersenyum semanis mungkin. Ia sangat senang dipikirkan oleh kedua orang terpenting dalam hidupnya. Namun ia juga tak enak karena telah membuat mereka ketakutan. “ Aku tidak apa-apa. Sungguh! Memang benar akhir-akhir ini, aku selalu banyak mendapatkan tawaran pekerjaan. Entah sudah berapa kesempatan emas yang kutolak. Namun aku masih bisa mengukur diri. Aku tak mau terlalu letih. Tapi ternyata stamina tubuhku sudah tidak seprima dulu.” Maya meletakkan nampan yang pertama ada dipangkuannya keatas meja. “ kurasa aku hanya keletihan. Diagnosa dari dokter selalu mengatakan aku kurang istirahat dan obat yang kutebus tak jauh dari vitamin. Aku tidah apa-apa. Sungguh! ”

Keduanya akhirnya terdiam mengiyakan. Mereka memang master di bidang seni peran, namun di bidang medis mereka angkat tangan. Lagipula, kondisi Maya memang sekarang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Rei dan Sayaka yang merangkap tugas selain menjadi teman dan babysitter Maya juga, meyakinkan semua pihak tentang hal ini.

“ Bu Mayuko, kalau boleh saya tahu...  Belahan jiwa antara ibu dan Pak Ichiren itu seperti apa? “

Maya?

Bu Mayuko memperbaiki posisi duduknya yang santai menjadi lebih anggun. “ Maya, ternyata akting memang sudah mendarah daging sedemikian kuat dijiwamu, ya? Kami datang kesini setengah mati mengkhawatirkan kesehatanmu dan yang kami dapatkan adalah pertanyaan yang tak jauh sama sekali dari akting? Menarik sekali... “

“ Kumohon, aku butuh sebuah pandangan dari ibu... “ Maya mencondongkan tubuhnya. “ Ini... sangat berarti untuk hidupku... “

Bu Mayuko dan Ayumi terkejut dengan pernyataan Maya yang sungguh-sungguh tercetak jelas di raut wajahnya.

“ Sa... Saya mohon juga petunjuk dari ibu tentang belahan jiwa ini, Bu Mayuko.. “ Ayumi ikut mengutarakan niat yang sama.

Ah... ternyata para bidadari yang jatuh cinta....

“ Sangat sederhana… kami saling mencintai. Dan kami akan selalu terikat, meski kami berada didunia yang berbeda. Tanpa cintanya, aku takkan mampu bertahan hidup sampai saat ini… “

Pernyataan Bu Mayuko yang menggelora membuat bulu kuduk keduanya merinding. Cinta macam apa itu? Bagaimana mungkin ada manusia yang memiliki kesetiaan setinggi itu? Pasangannya telah tiada dan tak ada seorangpun yang mampu menggeser tahtanya dihati sang wanita. Ini tak masuk akal, tapi ini nyata. Membuat kedua wanita amatir cinta ini menahan nafasnya beberapa detik. Membuat mereka berpikir keras, cinta seperti apakah yang ada dihadapan mereka sekarang.

“ Jikalau semisal… Pak Ichiren.. meninggalkan anda… maka…? “ Ayumi bertanya sungguh-sungguh. Ia sampai meremas ujung dress satinnya yang berwarna kelabu.

“ Aku akan mati. “

Pupil kedua pasang mata Ayumi dan Maya melebar.

“ Anda akan.. mati? “ kali ini Maya yang bertanya.

Bu Mayuko tersenyum. Ia sungguh terharu masih ada anak muda yang tertarik dengan kisah cinta masa lalu dari seorang wanita paruh baya yang keras dan membosankan.

“ Mati yang kumaksudkan disini adalah, jiwaku yang mati, anak-anak… aku kehilangan belahan jiwaku. Dan aku tak bisa lengkap karena ada separuh ruang kosong yang hampa merongrong nyawaku. Aku memang hidup secara fisik, tapi aku sekarat didalam. Serasa kau ingin bernafas dalam-dalam, tapi kau dapati ternyata kau sudah tenggelam didasar lautan. “ Bu Mayuko menaruh kedua telapak tangannya menghadap dada dan menaruhnya perlahan. “ Tapi hingga detik ini, Ichiren ada disini. Ia mendampingiku, menghangatkanku. Ia tak bosan menyalakan lentera jiwaku didalam. Karena aku yakin, ia mencintaiku. Karena itulah, aku masih bisa menikmati teh hangat ini dan sepotong kue kering buatanmu, Maya. “

Mereka tersenyum lega. Pembicaraan mereka pun berlanjut semakin dalam. Mereka benar-benar belajar dari seorang maestro seni dalam akting dan cinta. Begitu banyak bahan yang harus mereka resap dan pelajari. Berharap otak mereka masih seperti otak bayi yang seperti spons halus.

Kira-kira 1 jam pembicaraan mereka harus berakhir, karena Ayumi harus kembali ke tempat syuting dan Bu Mayuko harus menghadiri rencana persiapan gala dinner para pejabat elite yang tentunya tak jauh dari dunia hiburan. Maya menutup pintu setelah melepaskan keduanya ke lorong menuju pintu lift. Ia menatap kearah meja. Cangkir kosong dan sebagian besar kue keringnya tandas sudah. Kekosongan kembali menggerogoti naluri bertahannya yang sedari tadi ia pasang sebagai tameng, menutupi keropos batinnya yang terdalam. Ia membenamkan wajahnya kebantal. Membayangkan Pak Masumi yang kelak akan menikah dan bersanding bahagia disamping tuan putri yang anggun menawan. Hanya dengan bayangan itu, ia mulai paham dengan artian kata mati yang tadi ia bahas bersama gurunya satu jam yang lalu. Buliran air mata kembali menggelinding bersisian, seperti sedang berpacu cepat tertarik gravitasi bumi yang kuat. Setiap bayangan lelaki tampan itu hadir dalam otaknya, setiap itu juga ia merasakan semakin mati dan mati kembali.

Maya sedih. Dan ia tak tahu apakah ia dapat bangkit dan memberikan ucapan selamat yang tulus kepada pria gagah yang ia cintai, berada disamping istrinya kelak. Ia pikir ia takkan sanggup. Dan alasan keterpurukannya semakin diperkuat dengan bayangan melingkarnya cincin kawin di jari manis Masumi Hayami dan Shiori Takamiya.

Isakan tangis Maya teramat ringkih dan menyayat. Sangat kontras dengan suasana ceria dan hangat ruangan pastelnya yang lembut. Maya hanya mampu berdoa, memohon kepada-Nya untuk kekuatan jiwanya. Agar kelak ia benar-benar mampu melepaskan pria pujaannya dan bersiap menghadapi kematian.

***


Daito. Kerajaan yang tak mengenal kata istirahat. Para pegawai dan jajaran direksi telah melakukan mandatnya guna menebalkan kantong dan mengisi perut mereka sehari-hari. Tak jarang banyak yang melakukan kerja rodi—kasarnya—karena tuntutan hidup yang tak lagi semudah dulu. Sekarang air minum pun ada harganya. Hanya orang-orang beruntung yang mampu membeli serta memberikan wanita pujaannya dengan untaian berlian guna menambah nilai kecantikan dan martabat.

Karyawati cantik berjejer rapi dan membungkuk hormat ketika Masumi memasuki kantornya. Mizuki, sekretaris andalannya terhalang untuk melakukan segambreng pekerjaan dan memaksa sekretaris bawahannya untuk menanganinya selama ia sedang berjuang menyembuhkan penyakit flu berat. Pekerjaan tiada habis dan cuaca yang tak menentu berhasil menumbangkan tubuh kokoh Mizuki. Masumi menyayangkan absensinya, namun ia lebih suka melihat sekretaris lain duduk disana daripada melihat Mizuki memakai kaca mata hitamnya dan ditambah dengan masker, membuatnya terlihat seperti ancaman untuk kesehatan jiwa Masumi sendiri. Ia memaksa Mizuki berbaring dan istirahat total dan ia tak mau dibantah.

Tak lama setelah ritual penyambutan selesai, ia menerima Shiori yang telah menunggu di ruangannya.

“ Apa kabar, Shiori? Tumben sekali kau datang sepagi ini ke kantorku. Ada yang bisa kubantu? ”

Shiori melihat semua mimik Masumi dengan teliti. Meski Masumi tersenyum, ia tetap terasa seperti musim dingin dan ada setumpuk salju di ubun-ubun.

“ Aku baik, terima kasih… apa kau, mau minum sesuatu? Aku sudah meminta sekretaris pengganti Mizuki untuk menyiapkan teh di meja kecil sejak aku mendengar kedatanganmu. “ Shiori tersenyum manis dan mengajak Masumi untuk duduk bersamanya.

“ Aku sudah minum kopi pagi ini, terima kasih. Dan Mizuki hanya sementara diganti selama ia dalam masa pemulihan. Bisakah kau katakan maksud kedatanganmu, Shiori? Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku, kalau kau tak keberatan…”

Tanpa menoleh, Shori tetap berdiri terdiam memunggungi Masumi yang keheranan. Ia menghirup nafas dan menghembuskan perlahan. Shiori mengambil kursi dan mulai duduk, menatap tehnya yang beranjak mendingin.

“ Kurasa, sebaiknya kita tidak usah menikah, Masumi… “

Masumi yang sedari tadi berdiri bersandar pada meja kerjanya langsung spontan menegakkan tubuh dan hampir menjatuhkan dagunya entah kemana.

“ Batal… lagi…? Shiori…” Masumi mempercepat langkahnya dan ikut duduk dihadapan Shiori yang terus menatap cangkir tehnya. “ Apa maksudmu kali ini? Kau yang merencanakan pernikahan kita, aku pernah membatalkannya, dan sekarang kita sudah akan kembali menikah. Tapi ….. ini mau dibatalkan kembali??? Kau sudah gila…. “ Masumi menatap Shiori tak percaya. “ Ini… sangat gila…”

“ Memang ini terdengar sangat gila dan tak nyata. Tapi aku sungguh tak ingin menikah denganmu. “ Shiori menegakkan kepalanya dan langsung menatap mata Masumi yang kebingungan. “ Kita harus selesai sekarang juga, Masumi. “

Masumi tercenung sementara. Ia berusaha mencerna semua kejadian tiba-tiba ini dengan sempurna.

“ Alasanmu? “

“ Aku tak bisa menikah dengan robot, Masumi. Kau terlalu berubah sejak…”

“ Sejak? “

“ Maya benar-benar meninggalkanmu. “

Masumi diam. Ia tak membantahnya.

“ Apakah hanya karena aku sudah berubah menjadi robot mengerikan makanya kau ingin membatalkan pernikahan kita? Bagaimana dengan pemikiran orang-orang yang sudah bersiap datang ke resepsi pernikahan kita nanti? Oh, dank au tak boleh lupa, Kaisar adalah salah satu tamu paling terhormat yang kita miliki. Apa kau paham maksudku, Shiori? “ Masumi tetap berbicara dengan tenang dan datar. “ Kita akan menderita kerugian yang sangat besar. “

Shiori mendesis tajam. “ Aku sudah semakin terbiasa dengan semua sikap tak berperasaanmu, Masumi. Terima kasih. Tapi aku tak perduli, aku tidak ingin menikah denganmu. Titik! “
Shiori berdiri dan hendak meninggalkan kursinya. “ Maaf aku mengganggu jam kerjamu. Aku yakinkan bahwa ini adalah yang terakhir kalinya aku disini. Selamat tinggal, Masumi. “

“…..  Richard Jefferson…. “

 Tiga langkah kaki Shiori terhenti.

“ Jadi, kau akan mengganti namaku dengan nama Richard kelak di kartu undangan pernikahan yang siap cetak itu, Shiori. “ Masumi menyeruput ringan tehnya dengan santai. “ Aku tak sabar menantinya. “

Tiga langkah kaki Shiori kembali terdengar, namun kali ini kembali menuju Masumi.

“ Kau tak perlu menyeret Richard! Kau tak kenal siapa dia! “

Masumi meletakkan tehnya dengan anggun dan menggeser kursinya agar menghadap Shiori. Bisa terlihat wajah Shiori yang mengepul karena emosi. Ia tak beda dengan udang rebus yang baru saja diambil dari panci.

“ Shiori… tunanganmu ini adalah seorang Masumi Hayami. Kau tak boleh melupakan kekuatan namaku. Aku memang bukan Tuhan, tapi aku diberi kemampuan oleh-Nya untuk bisa berpikiran cerdas. “ Masumi berdiri dan menarik kursi lawannya. “ Duduk dulu denganku disini, kita bisa membicarakannya baik-baik tanpa harus tersulut emosi. “

Dengan hati yang galau dan panas, ia menuruti permintaan Masumi. Dan tanpa permisi, ia langsung menenggak teh yang baru diminumnya sedikit.

“ Maaf, mungkin karena aku sedang ada masalah. Aku jadi tak bisa berpikiran jernih. “

“ Ada yang bisa kubantu? “

“ Aku tidak mungkin meminta bantuanmu untuk urusan asmaraku, Masumi. Kau terlalu menyedihkan… ah… maaf…. Mungkin juga karena aku sudah terlalu jengah oleh sikap dinginmu itu…”

Masumi sedikit tersenyum. “ Ceritakanlah padaku. Kuharap aku bisa sedikit membantumu. “

“ Apa yang kau tahu soal Richard? “

Masumi tetap pada senyum pertamanya, namun terlihat lebih datar.

“ Ia tak hanya dokter pribadimu, Shiori. Kurasa, ia adalah belahan jiwamu yang hilang. Kalau bukan, kau takkan repot-repot datang ke apartementnya sendirian dan memaksa supirmu untuk tutup mulut. Aku tahu semuanya. “

Wajah Shiori memucat. “ Kau…. Tahu? “

“ Bahkan soal kedatangan pengasuhmu pun, aku mengetahuinya, Shiori. Dan aku maklum kenapa kau datang kemari dengan wajah kusut dan bermata sembab. Sebaiknya kau meletakkan kaca mata gelapmu itu, toh aku tetap mengetahui kondisi matamu. Kau hanya mengingatkanku pada sekretarisku saja.“ Gerutu Masumi.

“ Aku lebih suka memakainya, terima kasih atas perhatianmu. “
Sejenak ada jeda. Mereka sibuk dnegan pikiran masing- masing. Masumi masih menunggu kejelasan dari Shiori dan Shiori terlihat masih berusaha bersikap jernih dan tidak terhasut oleh emosinya.

“ Kupikir… ungkapan cintanya padaku itu… hanyalah main-main. Ia sangat tenar dikalangan para dokter dan perawat wanita, bahkan ada pasien yang sama sekali tak sakit namun berusaha keras menjadi sakit agar bisa bertemu Richard. “

Masumi tetap terdiam membiarkan Shiori menumpahkan semua masalahnya yang tentunya cukup menyita waktu dan uang Masumi.

“ Dan ia bilang ia mencintaiku, Masumi… aku, aku memang pernah, bahkan seringkali, mendengar ungkapan pria-pria yang ingin menjadi pendampingku, namun, hanya dialah yang tampak paling tulus didepanku. Ah, maafkan aku Masumi, bukan maksudku menyindirmu buruk, tapi aku…. “

“ Kau mencintainya ? “

Shiori menatap mata Masumi dan mulai membuka kacamatanya.

“ Sangat. “

Masumi menganggukkan kepalanya. “ Aku mengerti. Memang benar, sebaiknya kita tidak usah menikah. “

“ Masumi..! “ Shiori langsung memancarkan wajah cerah penuh pengharapan. “ Kau, menyetujuinya?? “

“ Tentu! Selain jujur… aku tak mencintaimu, kau mencintai pria lain. Kita takkan sukses menjalani rumah tangga yang bahkan tidak memiliki pondasi. “

“ A.. Aku tak tahu harus berkata apa.. kupikir… kupikir kau akan meledak dan.. dan… “ suara Shiori bergetar hebat. “ ah, aku tak tahu harus berkata apa lagi, Masumi. Aku terlalu lega dan bahagia. “

Masumi tersenyum lebar dan memamerkan deretan giginya yang amat terawat.

“ Tapi, kita memiliki kendala hebat. Kakekmu… ia terlalu berharap dari pernikahan kita. Aku sangat mengkhawatirkan kesehatannya Shiori. Aku tak menjamin jantungnya akan kuat menerima fakta bahwa kita akan kembali membatalkan pernikahan. Seperti yang kupaparkan tadi, ini resiko yang teramat sangat besar. Aku sangat yakin Kaisar takkan datang. Tapi berita tentang pembatalan kita, pasti akan terdengar sangat ganjil di Kerajaan. “

Semangat Shiori yang tadi membara langsung meredup. “ Jadi, maksudmu… kita tetap harus menikah??? “

“ Aku sangat tak ingin mengatakan ini, Shiori. Sungguh! Tapi aku tidak memiliki jalan lain yang lebih aman untuk menanggulangi segala resiko. Kalau pembatalan yang pertama, aku yakin hal itu hanya akan menerpa hebat keluarga Hayami. Namun masyarakat terlanjur tahu kalau kita ber-rekonsiliasi. Resiko kali ini terlalu besar dibandingkan yang dahulu…. “

“ Masumi… “ Shiori langsung terduduk lemas.

“ Kita akan menemukan solusinya. Serahkan padaku. Namun, kuharap untuk saat ini kau tak perlu membicarakannya pada siapapun dulu. Bahkan kepada Richard. Aku ingin mengurangi resiko kebocoran dan kegagalan misi. Kita bisa mengkonfirmasi kepada Richard dan.. ehm… “ Masumi berdeham ringan “ Maya tentunya, setelah semuanya bisa tertanggulangi atau melewati hari H. Kuharap kau mengerti, Shiori. “

Shiori menongak. Menatap wajah tulus Masumi yang terlihat lebih manusiawi.

“ … akan kupikirkan… “

“ Harus kau pikirkan. “

Shiori tersenyum melihat ketegasan Masumi. Ia sangat mengerti bagaimana Masumi sangat menunggu-nunggu waktu ini datang. Waktu diaman ia bisa menggapai impiannya bersama Maya.

“ Aku akan berusaha mencari celah terbaik untuk kita.” Shiori bangkit berdiri dari kursi dan meraih tas tangan mungilnya serta kembali mengenakan kacamata gelapnya yang tergeletak di meja. “ Aku sangat berterima kasih uktuk semua waktu dan saranmu, Masumi. Aku tak menyangka kita dapat berjalan di jalan yang sama dengan cara ini. Sungguh diluar dugaanku… “

Masumi terbahak. “ Akupun juga tak menyangka akan bekerja sama denganmu untuk urusan hal seperti ini, Shiori. aku sangat senang kita dapat menjadi partner yang baik. Kuharap untuk kedepannya, hubungan kita akan tetap dan semakin membaik. Ku doakan yang terbaik untukmu, Shiori. Akupun juga harus mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya padamu. Hanya kau ujung tombakku saat ini. “

“ Kau harus membayarnya kelak, Masumi. Di dunia ini tak ada yang gratis. Apalagi kau batal menjadi suamiku hampir dua kali. Apa kata para penggosip diluar sana mengenai aku. Bisa saja mereka mengira bahwa aku ini mandul atau terburuknya, ternyata aku ini penyuka sejenis. “

Keduanya tertawa bersama.

“ Aku tak tahu kau bisa membuat lelucon seperti ini, Shiori. aku mengenalmu sebagai wanita yang santun dan selalu serius. Serta kalem dan sangat menjaga keanggunan. Kau yang sekarang… sungguh segar dan luar biasa. “ Puji Masumi.

“ Masumi, jangan bilang kau jadi berubah pikiran. Aku mencintai… “

“ Hahahhaa… tentu saja aku paham, Shiori. Kau tak usah khawatir. Pria yang kau cintai itu takkan kemana-mana. Tujuanku tadi tulus untuk memujimu, kau lebih cantik bila kau bahagia, dan aku senang melihatnya. “

Shiori tersenyum lembut. “ Akupun mendoakan kebahagiaan untukmu, Masumi. Aku tahu Tuhan akan memberikan yang terbaik untukmu. Maaf, aku harus segera pergi. Masih banyak yang harus ku… awwww!!! “

Tubuh Shiori oleng. Hak sepatu yang biasa menopang tubuhnya mendadak rapuh dan membuat pemiliknya kehilangan keseimbangan. Beruntung tangan kokoh Masumi segera menangkapnya agar ia tak terhempas konyol ke lantai marmer.

“ Kau tak apa-apa, Shiori? “

“ A.. aku tak apa-apa, Masumi, terima kasih… “ Shiori melihat sepatunya yang sekarang cacat rupa. “ Ah… sepatuku. Kenapa harus sekarang?! Dan, aduh… mataku…  “. Sudut mata Shiori sedikit terluka oleh bingkai kacamata. Ia segera melepas kacamata yang sekarang malah merusak penampilan yang dijaganya baik-baik.

“ Shiori, kau sedikit memar di ujung matamu. Apa kau perlu di kompres agar tidak menjadi bengkak lukanya? “ Masumi segera membantu Shiori menyeimbangkan tubuhnya dan menatap dalam mata Shiori. “ Biar kulihat sebentar, jangan sampai matamu ikut terluka. “

“ Baiklah… Terima kasih. “

Masumi memperhatikan dengan seksama mata Shiori yang sayu dan teduh, namun cahaya keceriaan lebih terpancar didalamnya. Masumi mengaku dalam hati ia terpesona oleh kesegaran didepannya, namun hanya sebatas teman, atau mantan tunangan. Ia tetap merasa mata Bidadari Merah lah yang terbaik untuk di lihatnya. Setelah beberapa saat Masumi memeriksanya, ia tersenyum lega.

“ Tidak apa-apa. Kau bisa lega, hanya memar sedikit dan sepertinya tidak akan sampai bengkak. Namun kau bisa membawa sebongkah es untuk menjaganya agar tak menjadi yang kita takutkan. Kau bisa meminta Richard memeriksanya. “ Masumi melangkah menuju kulkas dan memasukkan 2 bongkah es berbentuk telur kecil yang dibungkus plastik bening dan dibalut kembali oleh saputangannya.

“ Bawalah ini. Akan sedikit mengurangi rasa nyerimu, kurasa.. “ Masumi menyerahkan es ke tangan Shiori yang terbuka.

“ Terima kasih, Masumi. Aku sangat senang mengenalmu yang sekarang. Aku permisi dulu. “

“ Ah, sepatumu? Bagaimana…. “

“ Aku sudah mematahkan yang satunya. Nanti aku akan membeli yang baru selama perjalananku menuju rumah sakit. “

Masumi tertawa. “ Sampaikan salamku untuk Richard. “

“ Aku akan menyampaikannya nanti, Masumi. Kalau kusampaikan sekarang, kau hanya akan terkesan mengejeknya. “

Masumi kembali tertawa melepaskan kepergian Shiori yang menghilang dibalik pintu ruangannya. Ia merasa bahagia. Sangat! 

Selain Shiori yang selama ini dia pikir sebagai rintangan terbesarnya, sekarang ia berbalik menjadi mata tombaknya yang teruncing dari apapun. Selain itu, wanita yang jatuh cinta terlihat menjadi lebih cantik dan bahagia. Mau tak mau, Masumi pasti menjadi ikut bahagia. Dan ia sangat boros tersenyum pagi ini.


Sementara itu, kehebohan luar biasa kali ini terjadi di toilet wanita. Setelah itu merebak ke kantin, bahkan tak jarang lebih cepat menyambar ke meja kerja dan merusak semua niat konsentrasi karyawan yang hendak menandaskan pekerjaan . Gosip adalah santapan yang sering dimakan untuk mengenyangkan kelaparan jiwa dari suntuknya jam kerja. Serta untuk menyegarkan pikiran dari atasan yang luar biasa dingin melebihi Himalaya. Tentu saja…

“ Aku melihat mereka berciuman! “ kata sekretaris wanita berambut lurus sebahu.

“ Eeeh, siapa??? “ sambut sekretaris lain yang berkerumun di depan kaca sambil berusaha merias diri, mulai dari mengoleskan lipbalm berwarna nude, pink, menyisir atau sekedar memeriksa penampilan mereka setelah baru beberapa jam menerima tindasaan batin dari sang direktur. Mereka berjumlah sekitar 4 orang, dan siap meluaskan berita ini ke seluruh penduduk Daito.

“ Tentu saja Pak Masumi! Dan Nona Shiori… “

Sekretaris lain menghembuskan nafas kecewa. “ Huh, kukira siapa. Nona Shiori itu kan tunangannya, berciuman adalah hal yang wajar! Kupikir kau akan mengabarkan Pak Masumi mencium wanita lain! “ gerutu sekretaris berambut ikal dan panjang sepunggung.

“ Ha! Pak Masumi mencium wanita lain? Yang benar saja… “

“ Kenapa tidak mungkin? “

“ Pak Masumi itu orangnya sangat lurus kepada tujuannya. Dia takkan macam-macam dengan wanita yang bisa merusak prestasi dan usahanya meluaskan Daito ke mancanegara. Wanita lain pasti hanya setara dengan lobak atau kol dipasar. Pria macam itu sepertinya tidak akan pernah mengenal kata jatuh cinta. Itu tidak logis, buat manusia sekelas dia, hahahhahaa….“

Mereka semua terbahak ringan.

“ Tapi, apa kau tidak memperhatikan? Sepertinya Pak Masumi diawasi oleh wanita lain yang memiliki kekuatan yang cukup berpengaruh di Daito. “

 Para sekretaris yang tadi tertawa serentak menjadi diam dan membelalakkan mata.

“ Ada ya wanita yang setara dengan Nona Shiori? Kalau sekarang kau berniat bercanda, sejujurnya, aku takkan tertawa, atau berusaha tertawa. Kau pikir siapa orangnya? “

“ Bidadari Merah, Maya Kitajima! “

Mereka terdiam sesaat.

Lalu mereka tertawa lebih keras daripada topik yang pertama merebak.

“ Kali ini kau bisa membuat lelucon yang sangat lucu! Kenapa harus Maya? Dia sudah memiliki Koji. Keterlaluan sekali kalau ia sampai melirik tunangan orang lain. Kurang apa Sakurakoji itu? Kalau mereka putus, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu! “

“ Kudengar sekarang mereka sedang merenggang, kau tak tahu itu? “

Binar mata pengharapan langsung terpancar dari sekretaris lain, bahkan menghentikan aktifitas mereka untuk mempercantik diri. “ Kau serius? “

“ Ung.. “ anggukan kepala setuju dari sekretaris berambut lurus sebahu.

“ Kyaaa! “ sorak sorai kegembiraan para single ini langsung mencuat. Mereka jelas sangat menginginkan posisi Maya yang sebagai kekasih bintang muda tenar yang sedang meroket karir dan angka di rekeningnya.

Sekretaris berambut ikal langsung teringat dan membenahi kembali peralatan kosmetiknya. “ Ah, kita tidak boleh terlalu lama disini. Kalau Pak Masumi tahu kita bergerombol di toilet, bisa-bisa kita dapat layangan surat PHK. Ayo cepat! “

“ Ah, betul! Aku tak bisa kehilangan pekerjaan ini. “

“ Tapi, topik soal Maya tadi benar-benar lucu! “ sembari sekretaris lain berucap meninggalkan toilet wanita. “ Tidak mungkin kalau Pak Masumi meninggalkan Nona Shiori yang begitu sempurna hanya untuk wanita pendek yang hanya kebetulan memiliki bakat akting. Dia bukanlah tandingan Nona Shiori. Kalau memang benar Pak Masumi meninggalkan Nona Shiori untuk Maya, aku lebih baik harakiri. “

Dan tawa cekikikan pun menyambut ucapan pedas gosip dari sekretaris tolol yang hanya bernurani iri dan dengki. Tak dipungkiri, kesuksesan Maya merambah dunia akting tak lepas dari pro dan kontra. Banyak yang sangat memuji talentanya, namun tidak sedikit juga yang menghinanya. Ini realita hidup. Tak semua sejalan seperti yang manusia ideal pikirkan. Dan isak tangis tertahan terdengar semu di toilet wanita ketika semua orang didalamnya pergi.

“ Memang benar….  Aku bukanlah wanita yang bisa bersanding dengan Pak Masumi. Ataupun bersaing dengan Nona Shiori. Aku hanyalah wanita pendek yang kebetulan hanya memiliki bakat akting…. “

 ***

“ Selamat pagi semua! “ sapa Maya kepada seluruh pemain di ruang latihan.

“ Pagi!!! “ para pemain menyambut keceriaan Maya yang bersinar.
“ 
Kau bersemangat sekali, Maya! Aku suka dengan itu! “ ucap sutradara brewokan berkacamata hitam dan berperut buncit sembari melangkah mendatanginya. “ Kalau begitu, kau sudah siap dengan latihan kita kali ini? Kuharap kau bisa lebih menampilkan sisi yang lebih menghanyutkan kami. Aku sangat menantikannya! “

“ Aku akan berikan yang terbaik, Pak Kuronuma. Untuk pentas spesial kita ini, aku akan menjadikan legenda Bidadari Merah yang baru! Dan kuyakinkan tidak akan ada yang bisa berakting melampauiku! “

Kuronuma dan pemain lain tertegun.

“ Hebat! Hebat!!! Inilah yang kutunggu! Aku selalu tahu akan percaya dirimu soal akting, Maya. Tapi kali ini, kau lebih matang dan kuat. Pak Masumi dan Nona Shiori pasti akan lebih bangga akan pernikahan mereka nanti dengan pertunjukkan kita. Bahkan tidak mungkin kita bias memicu rasa iri kepada keluarga Kaisar. “
Maya tersenyum palsu. Mati-matian ia menyembunyikan sinar mata kecewa dihadapan para manusia yang cukup peka terhadap perubahan mimik seseorang.

“ Tentu saja, tunggulah permainanku yang sangat hebat kelak, Pak Kuronuma. Namun sebelumnya, saya sangat ingin bapak mau mengabulkan keinginan egoisme saya, untuk kali ini saja…”

Kuronuma mengangkat alis. “ Apa saja itu, Maya? “

“ Saya harus berbicara dengan pendesain kostum dan beberapa kru lain. Akan ada sedikit perubahan disana-sini. Pendapat para pemain yang lain termasuk bapak akan sangat mempengaruhi kesuksesan ini. Saya ingin ini akan menjadi pertunjukkan yang melegenda dan takkan ada yang bisa melupakannya. Melebihi apapun. Saya ingin tampil total! Saya sangat mohon dukungan bapak kali ini… “ bungkuk Maya dengan sangat dalam dan hormat.

“ Selama ini untuk kesuksesan Bidadari Merah, lakukan saja! Aku percaya pada kemampuanmu! Sekarang ,cepat latihan! Jangan kau buang waktuku yang berharga! “

Maya tertawa renyah dan puas. “ Terimakasih banyak, Pak. Saya yakinkan bapak takkan kecewa dengan pertunjukkan saya nanti. “
Maya segera beranjak ke ruangan penata kostum. Ia terlihat sangat bersemangat. Berbeda sekali dengan hari-hari belakangannya yang padam dan suram, dimana ia selalu mendapat rasa kuatir bahkan hampir tak lepas dari cengkraman rutinitas meminum obat.

Tak lama dari menghilangnya Maya keruangan lain, Koji baru saja datang dan hendak mengambil kembali naskahnya. Ia berpakaian santai seperti biasanya serta membawa tas yang berisikan pakaian ganti dan beberapa perlengkapan lain yang ia butuhkan selama masa latihan.

“ Koji, tolong damping Maya dengan baik, ya! “

“ Pak? “ Koji sedikit terkejut ketika tiba-tiba Pak Kuronuma telah berada dibelakangnya sambil menenteng beberapa lembar kertas lengkap dengan pena.

“ Maya terlalu bersemangat. Aku tak tahu apa yang sekarang ia pikirkan. Tidak seperti biasanya, ia terlalu berubah. Sepertinya ia baru saja kembali terluka. Namun kali ini ia tidak selemah dulu, Koji. Kalau kau mampu menemani dan benar-benar mengembalikan semangatnya, ia akan benar-benar menjelma sebagai Bidadari Merah yang ia impikan. Melegenda! Itu yang tadi ia katakan sambil mengobral senyum disana-sini. Orang lain mungkin menganggapnya ia telah bangkit, tapi mataku ini berkualitas diatas rata-rata manusia normal. Ia sedang sangat terluka, Koji….“ Nada khawatir terbesit jelas ditiap kata Pak Kuronuma. “ Ia sampai ingin membuktikan kemampuan yang selama ini ia ragukan sendiri akhir-akhir ini. “
Koji tercengang. Benarkah Maya hari ini seperti itu? Ia melihat sekeliling, mencari Maya.

“ Ia ada di ruangan kostum. Entah apa rencananya. Tapi sepertinya ia ingin berpenampilan lebih baik dari biasanya. Mungkin ia sekarang lebih sadar penampilan? “ ucap Pak Kuronuma terkekeh.

“ Baiklah Pak, terima kasih untuk informasinya. Saya akan keruangan kostum. Sudah lama saya tak melihat obralan senyum Maya. “

Pak Kuronuma mengangguk sekali. “ Tapi jangan lama-lama! Kau kira kau sedang liburan di Hawaii?!! Masih banyak latihan lagi untuk menyempurnakan penampilan kalian besok. Jangan sampai Pak Masumi dan Nona Shiori mendapatkan kado yang buruk dari kita nantinya. “ Dan ia meninggalkan Koji yang kembali kaget untuk kesekian kalinya pagi ini.

Maya ingin tampil lebih sempurna lagi di hari pernikahan Pak Masumi dan Nona Shiori????

Rasa khawatir Koji membuncah. Ia langsung mendeteksi ada hal yang tidak beres disini. Ia jadi semakin paham kenapa Pak Kuronuma memintanya langsung menjaga Bidadari Merah secara lebih ekstra. Dan ia akan melakukannya. Ia ingin melihat kembali senyum tulus Maya. Ia ingin status sebagai kekasih kembali disandangnya. Meski berita ini hanya segelintir orang yang tahu
 akan retaknya hubungan mereka, Koji tak pernah lelah berharap Maya bisa mencintainya.

Berharap….

***



 
blogger template by arcane palette