Monday, 23 July 2012
Background Music of Paragraph 08 by Adelle
Someone Like You
I heard
That you're settled down
That you
Found a girl
And you're
Married now
I heard
That your dreams came true.
Guess she gave you things
I didn't give to you
Old friend
Why are you so shy?
Ain't like you to hold back
Or hide from the light
I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over
Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead."
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead,
Yeah.
You know how the time flies
Only yesterday
It was the time of our lives
We were born and raised
In a summer haze
Bound by the surprise
Of our glory days
I hate to turn up out of the blue uninvited
But I couldn't stay away, I couldn't fight it.
I had hoped you'd see my face and that you'd be reminded
That for me it isn't over.
Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead."
Nothing compares
No worries or cares
Regrets and mistakes
They are memories made.
Who would have known
How bittersweet this would taste?
Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead"
Never mind
I'll find someone like you
I wish nothing but the best for you too
"Don't forget me," I begged
"I'll remember," you said
"Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead"
Sometimes it lasts in love
But sometimes it hurts instead
Paragraph 08
Someone Like You
Ahirnya
disinilah Maya kembali berada. Rumah Sakit! Ia didiagnosa oleh dokter yang ia
percayakan kesehatannya sejak ia memegang kendali penuh akan hak Bidadari
Merah. Maya divonis menderita keletihan dan anemia dan terpaksa di”penjara”
oleh dokter Akagi untuk mengalami beberapa pemeriksaan dan injeksi selama
beberapa hari di rumah sakit. Dan Masumi sama sekali tak pernah menjenguknya
hingga hari ke-3. Hanya sahabat dari teather bawah tanah dan Sakurakoji yang
setia mendampinginya. Bu Mayuko sesekali datang menjenguknya bersama Pak Genzo,
bahkan Shiori Takamiya juga pernah bertandang sebentar namun sayangnya ia
datang pada saat bukan jam menjenguk dan ia sendiri belum memiliki kesempatan
untuk bertemu kembali dengan Maya.
Setelah Maya dinyatakan pulih, ia diijinkan pulang. Siang
sebelum kepulangannya ke apartement, Maya dibantu Koji untuk mengemasi segala
kebutuhannya yang bila dikumpulkan hanya sebesar
tas koper
kecil. Maya benar-benar dimanja oleh dokter Akagi yang mendeklarasikan diri
sebagai fans nomer satu se-Jepang. Terserahlah... dokter tua tersebut
benar-benar menjadi fans yang agak kehilangan kendalinya bila Maya datang
mengunjunginya karena ingin sekedar check-up. Mungkin tidak seperti kebanyakan
dokter, ia mengharap Maya bisa lebih lama tinggal dirumah sakit untuk menemani
jam-jam dinasnya yang padat. Sepertinya,
berita akan kesembuhan Maya sama sekali tak diharapkannya. Maya
menanggapinya hanya dengan tertawa kecil namun disambut dengan dahi berkerut
oleh Koji. Dan karena keberadaan pasien lain, dengan berat hati sang dokter
meninggalkan mereka berdua.
Kamar VVIP tersebut terasa cukup
membantu Maya melupakan segala kegundahannya. Melupakan ritual hariannya mulai
dari bangun tidur hingga berangkat tidur, melupakan aktivitas aktingnya,
melupakan segala tagihan, nonton bioskop, taman hiburan dan yang terpahit....
membuatnya belajar melupakan Masumi Hayami.
Koji masih dapat dengan jelas menangkap gurat-gurat kesedihan
diwajah Maya yang agak pucat dan kelabu.
“ Bagaimana kondisimu, Maya? Kau yakin
sudah lebih kuat untuk kembali ke apartementmu? “
Maya menoleh lemah dan kembali
berakting ceria. “ Tentu saja, Koji! Aku sudah sangat sehat dan kuat! “
Aktingmu
semakin buruk, Maya.
“ Apa kau akan sendirian disana?
Maksudku... Akan lebih baik apabila kau ditemani seseorang atau mungkin
beberapa orang untuk menjagamu? “
Maya kembali tersenyum dengan akting
gagalnya yang usang. “ Rei bersikeras menjagaku dan Sayaka sepertinya juga
ingin mencoba sofa yang baru kubeli seminggu lalu. Mereka berdua akan membuat
suasana apartementku menjadi lebih ramai, Koji. Kau tak perlu mengkhawatirkan
kondisiku, aku bukan anak kecil yang tak bisa apa-apa. Kau tak perlu takut aku
akan terguling dari tangga atau aku akan menghanguskan masakanku. “ Maya berusaha
keras meyakinkan Koji yang memandangnya dengan mata pesimis. “ Aku akan
bersenang-senang dengan mereka. “
“ Kau mungkin akan tertawa bersama
mereka, Maya. Kau takkan terguling dari tangga atau menghanguskan masakanmu
karena mereka akan menjadi radar yang hebat dan setia mendampingimu. Namun
mereka sama sekali tak tahu, apa yang terjadi... Bukan begitu? “
Tatapan mata Koji yang hangat malah
menghunjam keras jantung Maya. Tak urung bola mata Maya membulat dan
mengecilkan pupil matanya yang kaget dengan pertanyaan Koji secara tiba-tiba
namun tepat sasaran.
Koji....
“ A... Apa maksudmu, Koji? “ Maya
tersenyum simpul kecil .” Sudah kukatakan, aku bisa bersenang-senang dengan
mereka. Apa kau tak percaya denganku? Kau boleh ikut bergabung dengan kami,
tapi kau tidak bisa tidur bersama kami... “ Maya meringis jahil. “ aku lebih
suka tidur dengan teman-teman yang sejenis denganku! “ dan ia melebarkan
senyumnya, berharap Koji berhenti mengorek luka yang ingin ia pendam
dalam-dalam.
“ Kira-kira.... Apa yang dipikirkan
Masumi Hayami ketika ia mendengar Bidadari Merah kesayangannya terbaring di
tempat tidur rumah sakit dan tak bebas bergerak karena jarum infus membatasi
aktivitasnya? Atau tak ada seorang pun yang memberitahunya? Atau ia tak
menonton televisi yang heboh mengumbar berita tentangmu sekarang ini? Dan ia
sama sekali tak menjengukmu? Yang benar saja.... “ Koji menggelengkan
kepalanya. Tak percaya. Tapi sedihnya itu nyata. “ Ada sesuatu yang ingin kau
ceritakan padaku, Maya? Aku takkan lelah menjadi pendengarmu, aku siap menjadi
teman terbaik yang belum pernah kau miliki. Aku disini... “ Koji meraih tangan
Maya dan menggenggamnya erat. “ untuk menemanimu.”
Perlakuan hangat Koji membuat Maya
meleleh. “ Ah, Koji... “ dan kini ia mulai tersentuh. “ aku sudah memutuskan
kalau aku akan melupakan Pak Masumi....” air mata mulai menggenangi pelupuknya.
“ sepertinya... tak semudah yang kukira.... “
Koji masih berdiri disisi ranjang dan
menggenggam kedua tangan Maya yang masih terduduk ditempat tidur. Ia mengerti
sekali kenapa Maya seakan segan pulih dan cenderung mengasiani dirinya
belakangan ini. “ Kau masih mencintainya, Maya? Sebentar lagi ia akan menikahi
Nona Shiori. “
“ Aku tahu itu! “ Maya sedikit gusar.
Gelisah. “ Aku tahu.... tapi jalan nasib kami memang ditakdirkan begini! Ini
realita, bukan drama percintaan dalam komik atau novel yang bisa menjadi indah
sesuai imajinasi pengarangnya. Aku sempat berpikir ini adalah kutukan bagi
pemegang hak akan Bidadari Merah...”
Koji tersentak kaget. “
Maya??? Sejak kapan kau jadi sedemikian pesimistis dan menyalahkan Bidadari
Merah?! “ Koji menjadi sedikit tersinggung. “ Kau mati-matian bersaing dengan
Ayumi bukan untuk menjadi seperti sekarang ini! Kau tak bisa terus-terusan
terpuruk dan merasa paling menderita sedunia. Kau berhak bahagia dan Pak Masumi bukanlah satu-satunya
sumber kebahagiaanmu! “
“ Aku tidak bisa
melupakannya, Koji… Apa yang harus kulakukan sekarang? “ Maya tergugu sambil
menumpahkan segala kegalauan yang menyiksanya. “ Hanya
dialah yang kupikirkan! Segala akting yang kutampilkan selama ini
kupersembahkan hanya untuknya. Cuma untuk mendapatkan pujian dan rasa bangganya
kepadaku... “
“ Apa kau sudah
mengatakan yang sebenarnya padanya, Maya? Bahwa kau juga mencintainya? “
Maya terkejut dengan
pertanyaan Koji yang sepertinya tidak waras.
“ Kau sudah mengatakan
padanya tentang perasaanmu padanya, Maya? “ kembali Koji mengulangi pertanyaannya. Dan sekarang
terdengar lebih mendesak.
“ Koji! Mereka akan
menikah! Pak Masumi dan Nona Shiori akan menjadi suami dan istri! Apa yang kau
harapkan dari pengakuan cinta dalam waktu kurang dari 2 bulan ini ?!? “ teriak
Maya frustasi.
“ Mungkin aku akan
terdengar seperti pasien sakit jiwa yang baru saja melarikan diri, tapi tidak
ada salahnya kau mengatakan perasaanmu padanya, Maya. Hal itu bisa mengurangi
beban pikiranmu dan kau tak perlu terkekang oleh selang infus dan rutinitas
minum obat yang membosankan ini. Meski terdengar ganjil, tapi kurasa tak ada
salahnya kau mencoba. “
“ Itu tidak mungkin,
Koji! “
Koji menaikkan kedua
alisnya, berusaha tetap bersikap netral dan ingin menetralisir ketegangan
diantara mereka. “ Apa… kau ingin aku yang melakukannya? Kau tahu itu sangat
mustahil, Maya… aku takut kalau Pak Masumi salah sangka dan ia malah berpikir
kalau aku yang mencintainya. “
Spontan ekspresi Maya
yang tadi terkesan murung dan frustasi, kini menjadi tertawa tergelitik.
“ Koji… Kojiiiii….! “
Maya mulai tertawa
kecil, dan Koji ikut tertawa bersamanya.
“ Maya, aku tahu kau mencintainya dan aku
tidak bisa memaksamu untuk mengalihkan perasaanmu itu padaku. Aku sudah
mengerti dengan sangat bagaimana posisi kita masing-masing. Pak Masumi pun
mencintaimu dan kurasa dialah yang bodoh dengan melamar Nona Shiori sampai
didepan Kaisar.” Koji menggerutu pelan. “ Kalau saja ia tahu perasaanmu
kepadanya, aku yakin dia bisa sangat menyesal dan menjadi gila.”
Maya sedikit terkekeh dan kebali menjadi
murung. “ Ia tak perlu tahu, Koji. Biarlah ini kupendam sendiri. Aku tak ingin
ada kerancuan dan menjadi penghalang pernikahan mereka. Dulu rencana mereka ini
sudah pernah tertunda, dan aku tak ingin menjadi sumber dari masalah mereka.
Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berakting. Tak lebih dari itu. “
“ Aku akan baik-baik
saja, Koji. Jangan khawatirkan aku… “
Koji melihat bagaimana
cara Maya menahan kesedihannya kuat-kuat. Meski tadi terlihat sangat rapuh, ia
masih bisa merasakan bagaimana pedihnya hati Maya sekarang. Ia sangat ingin
membantu Maya mengeyahkan perasaan yang menyiksa ini, ingin sekali ia
mengembalikan senyum dan tawa untuk gadis mungil yang sudah lama ia cintai.
Meski ia tahu, cintanya takkan berbalas, namun Koji akan tetap menjadi sahabat
Maya yang terbaik.
Koji tersenyum. “ Aku
percaya kau bisa bangkit lagi, Maya. Maya yang kukenal adalah gadis yang kuat,
yang tegar, dan yang terbaik untuk menjadi Bidadari Merah. Kau memiliki
teman-temanmu dan kau tetap memiliki aku. “
Maya mematung sesaat.
Ia tahu ini seperti penggalan dari sebuah pernyataan cinta, namun hati kecilnya
yang haus kasih sayang meronta hebat. Maya merentangkan kedua tangannya,
meminta Koji memeluknya.
“ Maya? “
“ Koji… maaf… bolehkah
aku memelukmu? “
Koji langsung terduduk
disisi ranjang dan menyambar tubuh Maya didalam dekapannya. Ia tak ingin
sedetikpun kehilangan rasa hangat ini, meski memang terlihat kalau ia sedang
mengambil kesempatan, namun memang itulah yang sekarang ia lakukan. Koji pun
seorang manusia biasa. Dan sekarang ini pun, ia membutuhkannya. Meski ia sadar,
pelukan ini tak lebih dari pelukan seorang sahabat, bukan pelukan sejoli yang
jatuh cinta. Seperti yang dahulu ia lihat di dermaga Astoria.
Maya tetap membenamkan
wajahnya di dada Koji yang bidang. “ Terima kasih, Koji… kau adalah sahabat
terbaik yang kumiliki. Entah apa jadinya kalau kau tak menyemangatiku…”
Koji mempererat
pelukannya dan menghirup aroma ubun-ubun Maya yang khas. Ia menyandarkan
dagunya dikepala Maya dan mengelus ringan rambut tebal Maya yang kusut. Maya
sama sekali tak menolak perlakuan lembut Koji. Untuk kali ini, ia sangat menikmatinya.
Ia membutuhkannya.
Gemerisik dedaunan
yang tertiup angin semilir menambah keindahan pemandangan di luar kamar rumah
sakit. Sinar matahari yang mulai keemasan membias jendela dan menyebarkan warna
hangat ke seluruh ruangan. Seperti efek Instagram.
*
“ Makan siang anda,
Pak Masumi? “
Masumi kembali
mengerutkan dahi. Ia benar-benar tak ingin diganggu oleh makanan. Matanya yang
dingin tetap menatap berkas-berkas penting dimeja kerjanya yang cukup besar.
Bahkan bila tubuh Masumi dibaringkan diatasnya, ia masih bisa memiliki ruang
untuk 2 orang lagi yang seukuran dengannya.
“ Mizuki….” mata Masumi menyipit, pertanda isyarat tertentu.
“ Saya mengerti, saya
sudah menyiapkan makan siang anda, Pak Masumi. Saya akan menaruhnya di meja
makan. “
Mizuki langsung
berjalan menuju sisi ruangan yang terisi oleh 1 set meja makan dengan 2 kursi
berdesain simple dan elegan serta berwarna hangat. Sangat kontras dengan
kepribadian Masumi yang kelam.
“ Kali ini apa yang kau
bawa untukku, Mizuki? Aku sedang tidak terlalu berselera untuk makan, aku harus
menyelesaikan pekerjaanku sebelum jam 5. “
“ Apa anda yakin anda
tak mau menjenguk Nona Maya, Pak Masumi?” Mizuki membalas
pertanyaan Masumi dengan pertanyaan, yang sama sekali tak berhubungan dengan menu makan
siang. Sambil menata makanan
dimeja makan, ia tetap menatap semua peralatan makan guna dipakai oleh Masumi. Tak
perduli akan lonjakan ringan tubuh Masumi yang menegang. Entah akan berguna
atau tidak usaha kerasnya ini agar kesehatan dan asupan gizi bagi bosnya
terjaga, namun ia tetap menjalankannya dengan sempurna.
“ Mizuki… “
“ Saya tetap akan
menanyakannya setiap saya masuk ruangan ini, Pak Masumi. Anda boleh memecat
saya kalau anda mulai jengah dengan saya. “ Mizuki menegakkan tubuhnya dan
membelakangi meja makan yang sudah siap. Menatap langsung
ke arah direkturnya.
Masumi menghela nafas
berat. Ia tahu ia takkan mungkin memecat Mizuki, dan ia sangat yakin kalau
Mizuki pun memiliki pemikiran yang sama dengan kerja otaknya.
“ Aku harus
melupakannya dan tetap fokus pada tujuan awal pekerjaanku, Mizuki. Aku dan Maya
bukanlah belahan jiwa seperti legenda Bidadari Merah. Kami ini adalah sepasang
manusia yang takkan mungkin bisa bersama. Kau puas dengan jawabanku? Sekarang jawab,
makanan apa yang kau bawa sekarang? “ balas Masumi seperti senapan serbu.
Sekarang ganti Mizuki
mengerutkan dahinya, namun agak tertutup oleh kacamata serta poni hitamnya yang
gelap. “ saya bawakan Yosenabe dan
teh hijau. Porsi sedang. “ jawab Mizuki ketus.
“ Terima kasih, kau
boleh keluar. “ Masumi menanggapinya dingin dan kali ini matanya sama sekali
tak beranjak dari kertas putih didepannya dengan serius.
Mizuki yang agak kesal
segera beranjak ke pintu keluar. Namun ia tak puas dengan hanya begini saja. Ia
tahu bagaimana kondisi hati bosnya yang agak labil akhir-akhir ini dan
resikonya adalah Mizuki kehilangan beberapa teman kerja yang berpotensi.
“ Maya pulang hari
ini. Rumah sakit sudah menghubungi manager Maya dan mengatakan kalau kondisi
Maya sudah stabil.”
Spontan Masumi
langsung mendongak dan mencari sosok Mizuki yang sudah menghilang setelah
terdengar suara pintu kayu tertutup sedikit kasar.
Maya….
Tanpa sadar ia hampir
meremukkan berkas-berkas penting yang membutuhkan tanda tangannya siang ini.
Semenjak ia mengetahui kabar kalau Maya jatuh sakit dan Rei sampai memanggil
ambulans, hati Masumi sama sekali tak tenang. Ia gelisah luar biasa. Namun ia
bersyukur telah dididik dengan tangan besi dari Eisuke, sehingga ia tetap bisa
menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Mati-matian ia berusaha tak memikirkan
kondisi Maya. Ia kini menjadi pengecut yang berpura-pura memiliki tameng
titanium dan mengira tak ada apapun yang dapat menembusnya. Namun ia salah
besar. Perasaaan kuatir terus menghunjam jantungnya
berkali-kali tiap ia mendengar secuil kabar tentang Maya baik dari media
elektronik maupun gosip para karyawan.
Deretan angka dan
huruf didepannya sekarang pun menjadi tak terbaca. Tulisannya terlihat
seperti melarikan diri oleh mata nyalang Masumi sampai-sampai ia hampir
menempelkan kertas itu ke wajahnya sendiri. Ia memejamkan mata sebentar, dan
membukanya. Hasilnya sama saja.
Maya…..
Hanya 1 kata itu yang
dapat ia baca. Bahkan berkas didepan hidungnya seperti terbaca “Maya” sebanyak
1 halaman penuh. Ia memejamkan matanya dan membukanya kembali. Berkali-kali
sampai ia rasa sudah cukup bermain kedip-kedipan mata.
Berkas kerja ia lempar
begitu saja dimeja. Ia segera menyambar jas kerja dan sedikit merapikan rambut
yang sepertinya sudah setengah hari ini tidak disentuh sisir. Penyegar nafas
juga ia semprotkan beberapa kali ke mulut, dan tak lupa ia menyemprotkan parfum
wewangian pegunungan segar untuk menyamarkan bau tembakau yang menyengat. Setelah ia merasa
cukup tampan, langkah kaki panjangnya membawanya ke pintu dengan tergesa.
“ Kosongkan jadwalku
sampai besok pagi, aku ada keperluan mendadak. “ ucap Masumi menanggapi mulut
Mizuki yang belum sempat menanyakan tujuan Masumi.
“ Baik, Pak Masumi. Di
seberang Daito ada toko bunga yang baru namun cukup ramai oleh pengunjung
akhir-akhir ini. Peminatnya sangat banyak karena mereka selalu menyediakan
bunga yang segar. Nona Maya pasti menyukainya. “ Mizuki menyarankan dengan
gayanya yang sok tahu dan yakin.
“ Dan oh, Pak Masumi, bawalah ini.” Mizuki mengeluarkan
tas koper mini, seperti sebuah brankas uang berwarna hitam berpegangan perak
mengkilat.
“ Mizuki, aku membawa semua kartu debit maupun
kreditku. Kau tak perlu membawakanku setumpuk uang, apalagi seukuran tas itu. “
Masumi mengerutkan dahi dan hendak beranjak pergi dari sekretaris yang dirasa
sudah membuang waktu 2 menitnya yang berharga. Namun Mizuki berkeras agar ia
membawanya dan membukanya nanti di mobil. Mizuki juga sudah menyuruh supir
Daito untuk mengantarkan Masumi ke rumah sakit.
“ Kenapa kau begitu keras kepala memberiku tas
ini Mizuki, apa isinya? ”
“ Nanti anda akan berterima kasih pada saya
begitu anda membukanya di kursi penumpang. Sebaiknya anda segera berangkat, Pak
Masumi. Kalau tidak, bisa-bisa anda tak sempat memberikan karangan bunga yang akan saya pesankan sekarang. “ terlihat Mizuki mengangkat sebuah telepon dan
mulai memencet beberapa tombolnya.
Masumi sangat takjub dengan efisiensi kerja
Mizuki. Ia tak hanya bisa diandalkan dalam urusan pekerjaan, namun juga dalam
bisnis percintaan. Diam-diam Masumi bersumpah bahwa ia akan memperkerjakan
Mizuki seumur hidupnya, atau membuat surat kontrak bahwa nyawa Mizuki akan
dimiliki Daito.
Ia segera turun ke lift dan keluar dari pintu utama Daito. Menunggu sebentar di luar
mobil sambil beberapa kali melirik jam tangannya yang tercetak jelas tulisan
kokoh Swiss Army.
Sang supir sudah berjaga dibalik
kemudi atas perintah singkat Masumi. Setelah muncul seorang kurir pria yang
membawa karangan bunga Lily putih yang segar, Masumi langsung menyambarnya dan
memberikan lima lembar uang yang sangat besar angkanya untuk seikat karangan bunga. Ia
langsung masuk mobil, memerintah supir untuk bergegas. Meninggalkan kurir yang
masih sibuk melongo ingin mengembalikan kelebihan lembaran uang. Ia berusaha menenangkan
jantungnya yang sepertinya berdetak cukup cepat tak beraturan dan bulir-bulir
kecil keringat agak sedikit nampak dipelipis. Grogi! Ia memang pernah bersumpah, namun dalam urusan Maya, sumpah
untuk meninggalkan Maya, sepertinya sangat cepat berkarat.
Masumi menghembuskan perlahan nafas beratnya,
dan membuka tas kecil yang sedari tadi hanya dipandanginya. Ia membuka tutupnya
dan terkejut.
Bento?????
Masumi terkekeh kecil dan merasa sangat
terbantu juga untuk urusan perutnya. Ia melupakan hidangan yang tadi disiapkan
Mizuki dimeja makan kecil. Padahal aromanya tadi sangat menggugah selera, jauh
lebih menggoda dibandingkan bento sederhana dipangkuannya. Namun Masumi sangat
menghargainya. Segera ia membuka sumpit dan melahapnya menuju rumah sakit tempat
Maya terbaring lemah.
30 menit kemudian, setelah berjuang sebentar
melawan arus lalu lintas yang kebetulan padat, Masumi menginjakkan kaki di lobi
rumah sakit. Ia tegang. Namun beruntung ia telah merapikan diri sebelum
berangkat. Dan yang lebih baik lagi, ia dalam kondisi tidak lapar.
Ia tak perlu bertanya pada resepsionis yang
sedari tadi memandang Masumi dengan mata berbinar, seperti Eve yang baru saja
bertemu Adam di Taman Eden. Masumi telah mendapatkan informasi pasti dimana
letak ruang perawatan Maya dan dengan tak sabar ia melangkahkan kakinya dengan
kasar dan cepat.
Ruangan Maya dirawat adalah ruangan yang tak
kalah mewah dari ruangan pribadi tunangannya, Shiori Takamiya. Terletak diujung
lorong dilantai 2 dan memiliki jendela kamar yang cukup lebar dan luas. Serta
anti peluru! Pemandangan yang tersaji sangat dibutuhkan oleh pasien yang cepat
bosan oleh suasana rumah sakit. Mereka dapat melihat taman bunga buatan dan
pepohonan yang daunnya sedang mudah terbawa angin awal musim gugur. Tak jarang
suara kicauan burung yang bertengger dapat terdengar.
Masumi akhirnya sampai tepat didepan pintu
Maya dirawat. Ia menyiapkan karangan bunga Lily putih berpita hijau muda yang
ada digenggamannya. Nafasnya dibuat seteratur mungkin, karena ia tak ingin
terlihat gugup dihadapan Maya. Irama detak jantung Masumi mulai melembut dan ia
memberanikan diri untuk melihat Maya dari jendela kaca kecil yang memanjang
kebawah dan bermaksud untuk mengetuk pintu.
Deg!
Apa
ini?!
Masumi membelalakkan matanya. Tak percaya
dengan apa yang tersaji didepannya.
Masumi mengetatkan genggamannya, dan
sepertinya batang-batang bunganya telah remuk seketika. Ia mengurungkan
jemarinya yang sudah hampir menyentuh pintu, melangkah mundur dan berbalik
menuju lantai satu.
“ Ah, maaf, mencari siapa Pak, mungkin saya
bisa bantu? “ sapa petugas resepsionis yang sepertinya masih terpesona pada
Masumi.
Masumi memandang tajam gadis yang sepertinya
masih berusia awal 20 tahunan itu.
“ Tak ada. Ini untukmu. “
Masumi menaruh karangan bunga Lily putih yang
masih terlihat sangat manis di meja sang gadis dan langsung membalikkan
tubuhnya, meninggalkan gadis muda itu yang masih kebingungan dan masih berusaha
mencerna peristiwa barusan.
“ Sepertinya aku pernah melihat wajahnya, tapi
dimana ya? “ gadis resepsionis tadi masih berusaha berpikir dan mengingat
wajah-wajah idolanya yang sering muncul dilayar kaca. Ia menggaruk-garukkan
rambutnya sambil memeluk Lily putih itu didada.
“ Yuna!!! Jangan melamun saja! “ tiga teman
sang gadis resepsionis tadi menghampirinya. Sepertinya mereka sudah selesai
menggunakan jam makan siang.
“ Waaah, Lily putih! Pasti sangat mahal, bunga
dari siapa ini??? “ goda salah satu temannya yang berhasil memancing rasa
penasaran dari temannya yang lain.
Gadis resepsionis bernama Yuna tadi langsung
tersenyum hangat dan menampakkan rona wajahnya yang memerah.
“ I... Ini dari... penggemarku.” Jawabnya.
Berbohong. “ Sepertinya ia menyukaiku. “
“ Kyaaa!!! “ sahut sorak sorai teman-temannya
yang ikut kegirangan.
Ruangan lobi menjadi lebih ramai oleh mereka
berempat. Tawa dan gosip sedikit meluncur dari mulut mereka dan dibumbui
perasaan bahagia. Namun kegaduhan mereka menjadi terhenti setelah sosok Maya
Kitajima dan Sakurakoji keluar dari lift.
Mereka berdua menuju ruangan dokter Akagi dan
sepertinya mereka akan ke basement tempat dimana Koji memarkirkan mobilnya.
“ Pasangan Bidadari Merah, heuuuuu~~~~ kapan
aku akan menjadi seperti mereka? ” keluh seorang teman yang memandang Maya dan
Koji dengan rasa iri. “ Mereka sangat serasi. Kalian lihat kaus lengan panjang
Maya yang berwarna coklat gelap itu? Dan sepatu low boots warna coklat tanah itu??? Aku sudah lama sekali
menginginkannya... “
Keluhan teman itupun disambut derai tawa yang
lain dan berhasil mempengaruhi mereka untuk berdoa bersama tentang gaji lebih
awal atau terjadi diskon besar untuk kedua barang tersebut.
Jam menunjukkan pukul 18.35 di kota Tokyo.
Padatnya arus lalu lintas masih merayapi jalanan. Namun tidak semacet yang
diperkirakan sebagian penduduk. Beruntung hari ini tidak ada kecelakaan atau
apapun yang mampu menghambat kelancaran harapan mereka untuk bisa pulang ke
rumah tepat waktu. Gemerlap lampu neon seperti tak mau kalah dengan pijaran
sejuta bintang di langit, dan mereka memancarkan seluruh watt yang mereka miliki
untuk menerangi kegelapan malam. Inilah Tokyo. Bercahaya, padat, penuh
kesibukan dan bertabur cinta. Mengimbangi akan biaya hidup yang cukup lumayan
di ibukota Jepang tersebut.
Dan taburan cinta sepertinya telah berhasil
memaksa hati Shiori untuk menemui Richard di apartementnya yang tak begitu jauh
dari rumah sakit.
Ah,
sampai juga aku disini. Bagaimana ini? Aku yang seorang Takamiya, sama sekali
tidak pernah dididik untuk menemui pria bujangan yang hidup di apartement, dan
datang sendirian.
Jantung Shiori berdetak tak karuan. Ia
benar-benar tak percaya akan semua yang telah Richard lakukan pada perasaannya.
Memang setelah kejadian manis tersebut, Richard masih menghubunginya,
mengirimkan beberapa pesan singkat. Namun sudah berhari-hari pria itu tidak menghubunginya.
Pasti karena kesibukan yang luar biasa dan kadang, mengatasi beberapa pasien
yang berpura-pura sakit hanya untuk mencoba keberuntungannya mendapatkan status
istri dokter pria asing yang bergaji besar—bukanlah hal yang sepele dan mudah.
Tak salah kalau Shiori mengalami sindrom tak ingin kehilangan.
Ia mengidap penyakit gelisah, sering melihat handphone ataupun jam, mondar mandir tak
tentu arah, kehilangan nafsu makan, galau, kuatir dan perasaan cemburu, bersatu
padu memporak porandakan keyakinannya akan seorang tunangan Hayami.
Ia telah menghubungi rumah sakit dan
mendapatkan kepastian kalau Richard sudah selesai bertugas dan digantikan oleh
dokter lain yang tak kalah profesional darinya. Entah keegoisan atau harga diri
macam apa yang dimiliki Shiori. Ia memilih mencari tahu ke rumah sakit daripada
bertanya langsung ke Richard. Padahal hanya dengan memencet beberapa tombol, ia
pasti sudah bisa langsung mendengar suara atau menatap wajah Richard yang
tersenyum mengembang di layar handphone-nya.
Dan sekarang ia telah berdiri tegak di depan
pintu bercat putih gading dan bergaya konvesional. Shiori meyakinkan diri dan
mulai memencet bel.
Terdengar lembut alunan nada dari bel pintu
Richard, namun belum ada yang membuka pintu. Shiori mengulanginya lagi dan
menunggu 2 menit. Tetap tak ada jawaban. Shiori mulai gelisah.
Bukankah
Richard telah pulang ke apartementnya? Atau aku salah alamat? Tapi... Pak
Takumi tak mungkin salah mengantarkanku. Ia telah hapal seluruh pelosok kota
Jepang melebihi siapapun. Aku sangat mengenal supir pribadiku sejak 12 tahun
yang lalu.
Shiori mencoba memencet tombolnya kembali dan
kembali menunggu. Ia sekilas teringat pada Kaoru Daidouji, teman yang
sekalangan dengannya, sangat terlihat kalau ia tertarik pada Richard. Ia pernah
memergoki Kaoru yang bermanja pada Richard untuk memeriksanya, padahal ia sama
sekali tidak mengidap penyakit apapun. Namun kekesalan Shiori meyakinkannya
kalau ia mengidap penyakit jiwa!
Apakah...
Richard tertarik pada wanita semacam itu, sampai ia lupa menghubungiku? Ia memang
sangat bugar, sehat dan bersemangat, berbeda sekali dengan diriku yang mudah
pingsan dan memiliki stamina tubuh yang buruk.
Hati Shiori sedikit terkoyak cemburu karena
khayalan dan tuduhan aneh yang ia bayangkan. Ia memang pernah mengalami cemburu
semacam ini dulu kepada Maya. Dulu. Sebelum ia menyadari akan sosok dokter
Richard Jefferson yang mempesona.
Kalau dipikir, wanita
mana yang takkan tertarik kepada Richard? Ia bertubuh tegap, tinggi dan kekar.
Kemeja kerja yang biasa ia kenakan malah membalut tubuhnya menjadi lebih
sempurna. Jas putih panjangnya terlihat menonjolkan auranya yang bersih serta
menguatkan warna rambut Richard yang berbeda dari kebanyakan masyarakat Jepang.
Ia sering memakai kacamata berbingkai tipis. Shiori pernah melihat ia tak
menggunakannya, ketika Richard sedang mendekap tubuhnya yang gemetar. Karena
takut, karena rindu, karena indah dan karena ternyata Shiori menginginkannya.
Akhirnya kesabarannya pun habis. Ia meraih handphone-nya dan memencet tombol dialling. Tiba-tiba pintu putih itu
terbuka lebar, dan menampilkan sosok tinggi menjulang dihadapan Shiori yang
hampir menangis.
“ Shiori? Apa yang kau lakukan disini? “
Shiori terkejut dengan penampilan Richard.
“ Kau.. Kau... ada apa dengan bajumu? “
Richard melihat dirinya yang memakai jubah
mandi berwana biru dalam dan tidak terikat kencang di bagian pinggang,
memamerkan otot kokoh tubuhnya yang kencang dan licin.
“ Aku sedang mandi. Maaf aku tidak segera
membukakan pintu. Aku tadi sempat terpeleset dan sibuk mencari jubah mandiku
yang lupa kutaruh dimana.“ Richard menjelaskan dengan wajah memelas, meminta
pengertian. “ Silahkan masuk.”
“ Ah, ti... tidak usah... “ wajah Shiori
menjadi memerah, malu karena pikirannya yang penuh prasangka buruk dan terutama,
karena jubah mandi Richard yang malah menambah keseksian tubuh kaum Adam.
“
Aku... hanya sekedar mampir sebentar karena kebetulan.... aku lewat didekat
sini. “
“ Apa kau datang sendirian? Atau ada
pendamping yang ikut denganmu?
“ Aku... sendirian.... “
Richard menangkap kegugupan Shiori yang selalu
menundukkan kepalanya ketika ia menjawab. Tak pernah Richard melihat sosok
Shiori yang terlihat manis seperti ini. Biasanya ia menghadapi Shiori sebagai
wanita yang beraura kuat dan penuh percaya diri serta keanggunan kelas atas. Ia
menjulurkan lehernya keluar pintu,
menoleh kekiri dan kekanan. Setelah dipastikan “aman”, ia menarik
tangan Shiori masuk apartementnya dan mengunci pintu dibelakang punggung
lebarnya.
“ Ri... Richard! Aku.... hnggggh...... “ dan
keterkejutan Shiori menjadi meledak ketika Richard menangkap tubuhnya dan
memeluknya erat. Serta mendaratkan ciuman panas di bibirnya.
“ Aku merindukanmu, Shiori... “
Tubuh Shiori menjadi meleleh. Seperti lilin
ulang tahun yang menyangga api besar diatasnya. Namun api yang ia sangga
ternyata terlalu besar, dan ia meleleh lebih cepat dari seharusnya.
Mata Shiori meredup dan mulai bisa mengimbangi
perasaan rindu yang ditawarkan Richard. Ia melingkarkan tangannya di leher pria
bertubuh 191cm tersebut dan melengkungkan tubuhnya, agar bisa sepenuhnya
merasakan kehangatannya.
Mereka berciuman cukup lama dan membisikkan
mantera-mantera rindu serta luapan cinta yang mereka pendam beberapa hari
belakangan ini.
“ Richard... maukah kau makan malam, denganku?
“ bisik Shiori lemah.
Sekejap mata Richard membulat. Ia tak pernah
menyangka kalau wanita sekelas Shiori, mengundangnya makan malam. Berdua! Ini
terlalu hebat buat Richard. Seperti memenangkan jackpot saja.
Richard memang lapar. Sedari tadi ia
melewatkan makan siangnya dan hanya berhasil memasukkan 2 lembar sandwich
seukuran porsi wanita yang sedang diet, serta segelas jus jeruk. Namun rasa
lapar yang ia butuhkan sekarang berbeda. Ia lapar akan Shiori.
“ Tentu saja aku bersedia menemanimu makan
malam. Tapi, aku lebih membutuhkan menu yang istimewa malam ini. “ Richard
meminta ijin Shiori dan tetap menjaga jarak kedua bibir mereka untuk tetap
dekat. “ Aku menginginkanmu, Shiori... aku terlalu merindukanmu...”
Wajah Shiori bersemu merah. Ia tahu apa yang
Richard minta. Tak pernah ia merasakan sebegini dibutuhkan oleh seorang pria.
Ia benar-benar merasakan desakan kuat dari Richard yang terlalu menggebu-gebu.
Dan ia kalah.
“ Akupun menginginkanmu, Richard. “ jawab
Shiori tersipu dan menutupnya dengan mencium dan memeluk tubuh Richard lebih
lekat.
Mereka berdua akhirnya
terhanyut dipusaran cinta yang mereka buat dalam sekejap. Seperti candu,
sepertinya mereka sudah terlalu terbius cukup parah. Kecupan-kecupan ringan
menjadi terlalu sering dan terus membara. Mereka sudah sangat haus akan
kebutuhan biologis masing-masing yang terlalu mendesak.
Jubah mandi Richard
sudah berserakan tidak karuan dilantai kayu, tak jauh berbeda dengan pakaian
resmi Shiori yang sudah lebih dulu teronggok dekat pintu apartement. Dan tak
butuh waktu lama bagi mereka untuk saling melepaskan semua yang mereka
pikirkan, semua yang mereka impikan dan yang sekarang mereka rasakan. Semuanya
terlalu memabukkan. Dan terlalu nyaman bagi mereka untuk memisahkan kedua tubuh
diatas ranjang empuk berukuran king size.
Mereka sudah melupakan
norma-norma sekitar yang berlaku. Seharusnya Shiori tidak kesini, apalagi
sendirian. Supir yang mengantarnya diminta menunggu dan terserah mau kemana
selama sekitar 3 jam. Dan supir hanya menuruti perintah majikan, dan ia
bersumpah tutup mulut, kalau ia tidak ingin kehilangan pekerjaannya.
Seharusnya juga ia
mengingat posisinya sebagai calon istri seorang direktur muda sukses, Masumi
Hayami, dan pernikahan mereka pun sudah didukung oleh Kaisar secara langsung.
Richard sama saja. Ia tak mau tahu kalau yang sekarang sedang ia manjakan ini
adalah tunangan pria lain. Mungkin wanita ini pernah dipeluk oleh pria itu,
dicium, atau dimajakan. Namun Richard tahu pasti, bahwa dialah yang pertama
bagi Shiori. Dan itu membuat Richard tersanjung bahkan lupa diri. Namun ia tak
terlalu ambil pusing. Ia mencintai Shiori. Titik!
Mereka saling memuji
satu sama lain di balik tebalnya selimut Alpaca
yang mewah. Warnanya yang segelap biji coklat matang, sangat kontras dengan
kulit manusia yang berkeringat dan mengkilat. Shiori memeluk erat dan
memekikkan nama Richard ketika ia seakan menyentuh pelangi dengan warna-warni
yang berjuta jenis. Dan senyuman Richard menyambutnya dengan lembut dan penuh
kasih sayang.
Tiba-tiba alunan bel
pintu Richard berbunyi lembut, mengembalikan akal sehat kedua insan yang
barusan dimabuk cinta. Dengan segera Richard mencari jubah mandinya yang
lagi-lagi ia lupakan letaknya. Shiori memandang Richard dengan perasaan takut
dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Pakaiannya ada di pintu utama, dan ia
terlalu takut untuk melangkah kesana.
“ Tak usah takut,
sayang. Aku akan mengambilkan pakaianmu sebelum aku membuka pintuku. “ kata
Richard tenang dan mengecup ringan kening Shiori dan segera beranjak ke pintu
utama, membiarkan tamunya memencet tombol pintunya yang sudah ketiga kalinya.
Ia segera memungut
baju Shiori dan memberikannya pada wanita yang masih gelisah ditempat tidur.
Setelah Richard memastikan ia pantas menerima tamu yang tak ia duga, ia segera
membuka pintunya.
“ Anda?! “ Richard
yang biasanya tenang, menjadi kaget dan sedikit lepas kendali.
“ Selamat malam,
Mr.Jefferson. saya mencari Nona Shiori Takamiya. Bisakah saya menemui beliau
sekarang? “ ucap wanita tua berkacamata runcing dan memiliki bakat alami untuk
tampil judes dan tak menyenangkan sama sekali.
Richard berdeham
ringan dan tetap menghalangi pintu masuk. “ Anda pasti salah, nyonya. Saya tak
bertemu Shiori beberapa hari ini.”
“ Lancang sekali kau
memanggil nona muda tanpa menggunakan nama keluarganya, bahkan kau tak
memanggilnya nona! Kau pikir kau siapa?! Kami bisa membelimu kapan pun kami mau
dan membuangmu dengan sangat mudah! Sekarang, dimana nona Shiori???! ”
“ Untuk ukuran
pengasuh yang menjaga nona Shiori sedari kecil, kau terlalu kasar. Tidakkah
anda sadar akan hal itu, nyonya? “
Pengasuh Shiori
tersulut emosinya. Tak pernah ia bertemu pria yang berani kurang ajar padanya,
bahkan ketika Masumi berniat membatalkan pernikahannya, pria itu masih lebih
sopan dan dapat mengendalikan ucapannya dengan baik melebihi dokter pribadi
Shiori.
“ Kau!!!! Aku akan
merekomendasikan kepada keluarga Takaymiya untuk memecatmu! Kami tak butuh
dokter lancang yang tak tahu sopan santun untuk merawat nona kami yang
berharga! “
Richard tersenyum
sinis. Shiori sudah menceritakan betapa protektifnya sang pengasuh ketika
dirasa ia dalam bahaya, dan hal itu tidak juga membuat kenyamanan dalam diri
Shiori. Entah sudah berapa pria yang berhasil ditendangnya. Namun Richard tak
mau kalah oleh wanita yang tingginya hanya sebatas perutnya dan menyemburkan
kata-kata kasar dalam hanya dalam tempo 7 menit.
“ Lalu apa yang anda
lakukan disini? Apakah jauh-jauh niat anda hanya ingin memecat saya? Anda bisa
menggunakan telepon, atau media elektronik lainnya. Saya sangat mudah
dihubungi. Namun saya takkan mundur dari pekerjaan saya. Saya adalah dokter
yang paling pantas merawat Shiori, ah, maaf—nona Shiori. Takkan ada dokter lain
yang mampu berbuat lebih jauh lagi dalam penanganan kesehatan fisiknya dan juga
jiwanya. Saya sangat percaya diri akan keputusan saya dan maaf… saya hendak
berpakaian kalau anda tak keberatan. “ Richard menjawab dengan tenang, meski ia
khawatir, kalau percakapan ini akan didengar oleh orang lain yang tinggal
disebelahnya.
Pengasuh itu bersikap
lebih dingin dari 7 menit tadi. Ia balas tersenyum culas dan merendahkan. “ Aku
sangat tahu kalau nona Shiori ada didalam, Mr. Jefferson. Saya mengikutinya
sejak 1 jam yang lalu. Dan aneh sekali anda menyangkalnya. Kalau terjadi
sesuatu yang tidak sepantasnya anda lakukan pada nona-ku, anda seharusnya mulai
mengemasi pakaian anda dan kembali ke negara asal anda.” Ia mendongakkan
kepalanya dengan angkuh. “ saya sangat serius dengan ucapan saya sendiri.
Kembalikan nona Shiori dan menjauhlah darinya. Ini yang terbaik untuk anda. “
“ Dan apa anda yakin
ini juga untuk Shiori? “ Richard kembali membalas kesombongan sang pengasuh
dengan keyakinannya.
“ Anda tak tahu apapun
tentang nona! Saya mengasuhnya sedari kecil!!!”
“ Dan saya mengobati
serta merawatnya semenjak ia hancur lebur! Dan sekarang ia mampu bangkit dengan
kedua kakinya sendiri! Ia wanita yang kuat dan kau hanya membuatnya melemah
dengan caramu memanjakan serta menyalahkan sekitarnya!! Kau menyesatkannya dan
aku takkan membiarkannya!!! “
“ KAU!!!! “
Pengasuh itu
melayangkan tangannya, hendak menampar pipi Richard.
“ CUKUP! “
Keduanya terhenti.
Baik pengasuh dan Richard.
“ Shiori… Kenapa kau
keluar?!? “ desis Richard tak percaya.
“ Nona Shiori!!! Saya
sangat mengkhawatirkanmu!!!! “ sang pengasuh menghambur masuk kamar, tak
memperdulikan Richard yang masih melongo di pintu. “ Apa yang ia lakukan
padamu, nona? Apa ia menyakitimu? “
Mata sang pengasuh itu
terlihat panik, mengingat tubuh Shiori hanya terbalutkan oleh jubah mandi
berwarna biru dalam yang jelas bukan milik Shiori, karena ukurannya yang
terlalu besar. dan anehnya, sama persis dengan yang dipakai oleh Richard sekarang. “ Nona, kenapa kau berpakaian seperti ini? Jangan-jangan… oohh…!!!!
“
Shiori menatap mata
pengasuhnya yang menutup mulut dengan kedua telapak tangannya rapat-rapat. Ia melayangkan
pandangan yang lembut dan dalam. “ Bibi… aku mencintainya. Bukan Masumi Hayami.
Aku mencintai Richard Jefferson…”
Kedua rahang Richard
dan sang pengasuh seperti seakan terjatuh ke lantai. Richard sama sekali tak
menyangka kalau Shiori sudah seberani itu. Sekuat itu! Dan ia rasa, ia semakin
jatuh cinta padanya.
***
“ Apa maksudmu kau
mencintainya, nona!? Kau akan menikah sebentar lagi!! “
Air maya Shiori
mendesak keluar, namun ia tetap pada posisinya. Ia tak lagi bersikap cengeng
dan manja. “ Aku tahu… aku akan membicarakan kelanjutannya pada keluargaku dan
keluarga Hayami. “
“ Itu tidak mungkin
nona! “ pengasuh itu menjadi semakin frustasi.
“ kau tak bisa membatalkan
pernikahan yang pernah tertunda! Apa kata orang-orang nanti padamu? Mereka akan
merendahkanmu! Sebaiknya kita segera pulang nona, aku akan meminta pada kakekmu
untuk mengganti dokter pribadimu secepatnya! “
Wajah Shiori mengeras.
“ Menggantinya? Kenapa?? Apa karena kami saling jatuh cinta dan kau ingin
menggantinya??? ”
“ Nona.. saya mohon jangan bersikap begini. Apa nanti
kata tuan dan nyonya besar tentang hal ini? Mereka sudah merencanakan semuanya
dengan sangat rapid a detail, bahkan kakek nona sudah sangat mengharapkan ada
penerus Takamiya lagi kelak. Saya mohon, pikirkan lagi baik-baik keputusan
nona…”
“ Mereka harus
mengerti keputusanku, bibi. Aku tak bisa hidup dengan pria yang tidak kucintai
lagi. Aku mencintai dokter pribadiku, dan kurasa hal itu bukan hal yang tabu.
Sudah banyak orang yang jatuh cinta pada orang yang telah merawatnya, dan aku
salah satunya. Ia selalu ada pada saat kubutuhkan, dan Masumi terlalu sibuk
dengan pekerjaannya. Selalu seperti itu! Aku ingin menikahi pria yang selalu
ada waktu untukku dan keluargaku kelak! “
“ Nona… tolong ingat
akan kesehatan kakek nona. Beliau bisa mendapatkan serangan jantung bila ia mendengar
hal ini! Bukan begitu, Tuan Jefferson? “ pengasuh itu menatap sang dokter
dengan wajah kalut. Shiori sama sekali tak mengetahui akan hal ini dan mulai terlihat bingung.
“ Kakek… sakit? “ ia
melemparkan pandangan panik ke arah Richard. “ Benarkah itu, Richard? Kakekku??
“
Richard diam seribu
bahasa. Namun ia mengangguk.
“ Kenapa kau tidak
memberitahhukanku, Richard!!!! Ini kakekku!!!! Dan aku sangat menyayanginya
melebihi apapun!!!! “ suara Shiori meninggi.
“ Kakekmu berpesan
kepada kami untuk merahasiakan ini, terutama darimu, Shiori. Beliau tak ingin
kau menjadi seperti ini, panik dan khawatir.” Richard mendekati Shiori dan
menatap tajam sang pengasuh disampingnya. “ Mohon maaf untuk sikapku, tapi aku
sangat memegang teguh permintaan beliau. Tidak seperti orang kepercayaannya
yang lain, yang dengan mudah membocorkan kepercayaan tuannya. “
“ Kau!!!!! Lancang
sekali kau…!!!! “
“ Cukup, bibi.. aku
akan pulang. Kumohon tunggu aku dibawah dan minta Takumi untuk menyiapkan
mobil. Aku akan berpakaian sebentar. “
Mata sang pengasuh itu
membulat tak percaya. “ Nona….
anda? Apa maksudnya… berpakaian
???“
Shiori tersenyum lemah
“ Sudah kukatakan, bibi.. Aku mencintainya. Dan aku tak menyesalinya. Sekarang,
mohon biarkan aku berpakaian sebentar dan membicarakan hal ini sebentar pada Richard.
Kumohon, mengertilah. “
Dan akhirnya pengasuh
itupun takluk. Ia mengundurkan diri, menuju pintu lift dan segera menyuruh
Takumi menyiapkan mobil. Sekitar 20 menit kemudian, Shiori pun menyusul. Dengan
segera ia masuk ke mobil tanpa banyak bicara sepatah kata pun. Baik sang pengasuh
maupun supir pribadi, sama sekali tak bernyali untuk bertanya kepada nona
mudanya yang cantik.
Kenapa anda menangis, Nona ?
Dua hari setelah
kembalinya Maya ke apartement, banyak sekali karangan bunga silih berganti
datang memenuhi kamarnya. Ucapan “ semoga lekas sembuh “, “ tetap semangat! “,
bahkan yang terkonyol dengan nada undangan seperti “ aku mencintaimu “ dan
“menikahlah denganku” pun ada. Para fans Maya sempat berkumpul di pintu masuk,
hendak melihat kondisi Maya setelah di rumah sakit mereka tak berhasil
menemuinya.
Mereka menghambur
seperti kawanan lebah ketika melihat Maya turun dari Subaru biru milik
Sakurakoji. Beberapa pihak keamanan telah membuat pagar betis guna melindungi
idolanya yang akhir-akhir ini menjadi bahan gossip dipelosok kota. Tapi Maya
tetap berbaik hati memberikan tanda tangan dan senyumnya yang menawan.
Maya masuk dengan
tumpukan karangan bunga dan macam-macam hadiah dari para fansnya. Dibantu Koji,
ia membawanya masuk ke kamar apartement. Rei dan Sayaka telah menyiapkan segala
yang dibutuhkan temannya selama masa pemulihan. Baik itu kebersihan sampai
urusan dapur. Karena tercium aroma teh melati yang lembut, menghangatkan
ruangan Maya yang manis.
Setelah selesai menata
segalanya, Maya kembali beristirahat. Koji mohon pamit karena jadwal syuting
memaksa dirinya untuk tetap mengais rejeki. Jaman sekarang, pekerjaan itu
susah-susah gampang, hanya tingkat disiplin dan profesionalisme kerjalah yang
dapat membuat mereka tetap eksis membayar tagihan tanpa perlu menumpuk utang.
Maya bergelung santai
diranjang. Ditemani kedua sahabat terbaiknya, mereka bercerita segala hal yang
mereka ingin bagi. Betapa mereka sangat merindukan Maya, dan begitu juga
sebaliknya. Karena dasar akan kecintaan acting, percakapan mereka pun mayoritas
hanya diseputaran film, audisi, pendatang baru dan tak lupa, tarif!
Dua hari setelahnya,
Maya tetap dipaksa Pak Kuronuma untuk beristirahat. Ia bahkan memasang tulisan
yang di print-out sebesar spanduk yang bertuliskan MAYA KITAJIMA / BIDADARI MERAH
DILARANG MASUK!!!
Para pemain dan
pekerja Daito sudah mengenal sekali watak sang sutradara. Karena itu, mereka
sama sekali tak protes tentang spanduk itu. Hanya seorang Maya saja yang
menyambutnya dengan bibir mengerucut dan pipi menggembung. Namun spanduk itu
sangat sukses menggiring Maya untuk kembali keperaduannya sembari diiringi tawa
tertahan dari para karyawan Daito selama perlajanan Maya menuju pintu keluar.
Bahkan petugas keamanan pun berwajah sangat lucu melihat Maya keluar dari sana.
Di apartement, yang bisa
Maya lakukan hanyalah berakting sendirian. Ia tak mau menjadi tumpul karena
faktor kelelahan. Sepertinya, Maya perlu mengganti dokternya, karena dokter
Akagi yang terkenal super galak tak mampu membuat Maya beristirahat melatih
bakatnya hingga mencucurkan bulir-bulir keringat. Terdengar bunyi bel pintu.
Maya segera merapikan penampilannya secepat mungkin dan menyambut tamunya
didepan.
“ Bu Mayuko, Ayumi?!?
“
“ Apa kabar, Maya.
Kudengar kau sudah kembali ke apartement, makanya kami berdua datang kemari
menjengukmu.” Sapa Bu Mayuko dengan lembut.
“ Mari.. silahkan
masuk! “ Maya menyambut keduanya dengan sangat riang, seperti anak TK yang baru
bertemu dengan Sinterklas di cerobong asap pada hari Natal. Maya menyilahkan
mereka duduk dan segera menuju dapur. 6 menit kemudian, Maya sudah kembali
dengan nampan berisi cangkir dan toples cantik berisi kue kering.
“ Apa kau sudah lebih baik? Kau tak perlu
repot-repot menyuguhi kami secangkir teh dan kue kering buatanmu ini. Dan,oh
Tuhan...” Ayumi mengunyah sebagian kue yang tergeletak bergerombol di toples
cantik berbentuk kuncup bunga. “ aromanya sangat menggelitik dan kuenya
langsung mencair dimulutku. Kau harus mengajariku membuatnya, Maya. Aku tak
percaya kau bisa membuat kue senikmat ini! “ Dan Ayumi kembali mengambil kuenya yang kedua.
“ Tentu saja. Aku hanya membutuhkan tepung
terigu, butter, gula palm, dan gula
bubuk. Oh, kau tak boleh melewatkan white
coffe untuk membuat aromanya yang kuat ini. “ Maya menjelaskan sebagian
bahan dan menceritakan lebih lanjut tentang betapa sederhananya resep yang ia
buat secara mendadak tadi malam. Rencana kedatangan Bu Mayuko dan Ayumi ke
apartementnya didapatkan dari Rei dan Sayaka, dan mereka membantu Maya
menyelesaikan misinya. Sayang mereka berdua sedang terikat dengan jam kerja,
jadi hanya Maya seorang diri yang menyambut kedua tamunya.
Bu Mayuko pun menyesap sedikit teh melati dan
ikut merasakan kue yang dipromosikan Ayumi dengan sungguh-sungguh.
“ Akhir-akhir ini, aku sering sekali melihatmu
sakit di berbagai media. Apakah penyakitmu itu serius, Maya? “ ucap Bu Mayuko
dengan getir kekhawatiran terhadap anak didiknya.
“ Itu betul, Maya. Kau menjadi sering sakit.
Apakah Daito terlalu memeras tenagamu?” Ayumi menimpali.
Maya tersenyum semanis mungkin. Ia sangat
senang dipikirkan oleh kedua orang terpenting dalam hidupnya. Namun ia juga tak
enak karena telah membuat mereka ketakutan. “ Aku tidak apa-apa. Sungguh!
Memang benar akhir-akhir ini, aku selalu banyak mendapatkan tawaran pekerjaan.
Entah sudah berapa kesempatan emas yang kutolak. Namun aku masih bisa mengukur
diri. Aku tak mau terlalu letih. Tapi ternyata stamina tubuhku sudah tidak
seprima dulu.” Maya meletakkan nampan yang pertama ada dipangkuannya keatas
meja. “ kurasa aku hanya keletihan. Diagnosa dari dokter selalu mengatakan aku
kurang istirahat dan obat yang kutebus tak jauh dari vitamin. Aku tidah
apa-apa. Sungguh! ”
Keduanya akhirnya terdiam mengiyakan. Mereka
memang master di bidang seni peran, namun di bidang medis mereka angkat tangan.
Lagipula, kondisi Maya memang sekarang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Rei
dan Sayaka yang merangkap tugas selain menjadi teman dan babysitter Maya juga, meyakinkan semua pihak tentang hal ini.
“ Bu Mayuko, kalau boleh saya tahu... Belahan jiwa antara ibu dan Pak Ichiren itu
seperti apa? “
Maya?
Bu Mayuko memperbaiki posisi duduknya yang
santai menjadi lebih anggun. “ Maya, ternyata akting memang sudah mendarah
daging sedemikian kuat dijiwamu, ya? Kami datang kesini setengah mati
mengkhawatirkan kesehatanmu dan yang kami dapatkan adalah pertanyaan yang tak
jauh sama sekali dari akting? Menarik sekali... “
“ Kumohon, aku butuh sebuah pandangan dari
ibu... “ Maya mencondongkan tubuhnya. “ Ini... sangat berarti untuk hidupku...
“
Bu Mayuko dan Ayumi terkejut dengan pernyataan
Maya yang sungguh-sungguh tercetak jelas di raut wajahnya.
“ Sa... Saya mohon juga petunjuk dari ibu
tentang belahan jiwa ini, Bu Mayuko.. “ Ayumi ikut mengutarakan niat yang sama.
Ah...
ternyata para bidadari yang jatuh cinta....
“ Sangat sederhana…
kami saling mencintai. Dan kami akan selalu terikat, meski kami berada didunia yang
berbeda. Tanpa cintanya, aku takkan mampu bertahan hidup sampai saat ini… “
Pernyataan Bu Mayuko
yang menggelora membuat bulu kuduk keduanya merinding. Cinta macam apa itu?
Bagaimana mungkin ada manusia yang memiliki kesetiaan setinggi itu? Pasangannya
telah tiada dan tak ada seorangpun yang mampu menggeser tahtanya dihati sang
wanita. Ini tak masuk akal, tapi ini nyata. Membuat kedua wanita amatir cinta
ini menahan nafasnya beberapa detik. Membuat mereka berpikir keras, cinta
seperti apakah yang ada dihadapan mereka sekarang.
“ Jikalau semisal… Pak
Ichiren.. meninggalkan anda… maka…? “ Ayumi bertanya sungguh-sungguh. Ia sampai
meremas ujung dress satinnya yang berwarna kelabu.
“ Aku akan mati. “
Pupil kedua pasang
mata Ayumi dan Maya melebar.
“ Anda akan.. mati? “
kali ini Maya yang bertanya.
Bu Mayuko tersenyum. Ia
sungguh terharu masih ada anak muda yang tertarik dengan kisah cinta masa lalu
dari seorang wanita paruh baya yang keras dan membosankan.
“ Mati yang
kumaksudkan disini adalah, jiwaku yang mati, anak-anak… aku kehilangan belahan
jiwaku. Dan aku tak bisa lengkap karena ada separuh ruang kosong yang hampa
merongrong nyawaku. Aku memang hidup secara fisik, tapi aku sekarat didalam. Serasa
kau ingin bernafas dalam-dalam, tapi kau dapati ternyata kau sudah tenggelam
didasar lautan. “ Bu Mayuko menaruh kedua telapak tangannya menghadap dada dan
menaruhnya perlahan. “ Tapi hingga detik ini, Ichiren ada disini. Ia mendampingiku,
menghangatkanku. Ia tak bosan menyalakan lentera jiwaku didalam. Karena aku
yakin, ia mencintaiku. Karena itulah, aku masih bisa menikmati teh hangat ini
dan sepotong kue kering buatanmu, Maya. “
Mereka tersenyum lega.
Pembicaraan mereka pun berlanjut semakin dalam. Mereka benar-benar belajar dari
seorang maestro seni dalam akting dan cinta. Begitu banyak bahan yang harus
mereka resap dan pelajari. Berharap otak mereka masih seperti otak bayi yang
seperti spons halus.
Kira-kira 1 jam
pembicaraan mereka harus berakhir, karena Ayumi harus kembali ke tempat syuting
dan Bu Mayuko harus menghadiri rencana persiapan gala dinner para pejabat elite yang tentunya tak jauh dari dunia
hiburan. Maya menutup pintu setelah melepaskan keduanya ke lorong menuju pintu
lift. Ia menatap kearah meja. Cangkir kosong dan sebagian besar kue keringnya
tandas sudah. Kekosongan kembali menggerogoti naluri bertahannya yang sedari
tadi ia pasang sebagai tameng, menutupi keropos batinnya yang terdalam. Ia membenamkan
wajahnya kebantal. Membayangkan Pak Masumi yang kelak akan menikah dan
bersanding bahagia disamping tuan putri yang anggun menawan. Hanya dengan
bayangan itu, ia mulai paham dengan artian kata mati yang tadi ia bahas bersama gurunya satu jam yang lalu. Buliran
air mata kembali menggelinding bersisian, seperti sedang berpacu cepat tertarik
gravitasi bumi yang kuat. Setiap bayangan lelaki tampan itu hadir dalam
otaknya, setiap itu juga ia merasakan semakin mati dan mati kembali.
Maya sedih. Dan ia tak
tahu apakah ia dapat bangkit dan memberikan ucapan selamat yang tulus kepada
pria gagah yang ia cintai, berada disamping istrinya kelak. Ia pikir ia takkan
sanggup. Dan alasan keterpurukannya semakin diperkuat dengan bayangan melingkarnya
cincin kawin di jari manis Masumi Hayami dan Shiori Takamiya.
Isakan tangis Maya
teramat ringkih dan menyayat. Sangat kontras dengan suasana ceria dan hangat
ruangan pastelnya yang lembut. Maya hanya mampu berdoa, memohon kepada-Nya
untuk kekuatan jiwanya. Agar kelak ia benar-benar mampu melepaskan pria
pujaannya dan bersiap menghadapi kematian.
Daito. Kerajaan yang
tak mengenal kata istirahat. Para pegawai dan jajaran direksi telah melakukan
mandatnya guna menebalkan kantong dan mengisi perut mereka sehari-hari. Tak
jarang banyak yang melakukan kerja rodi—kasarnya—karena tuntutan hidup yang tak
lagi semudah dulu. Sekarang air minum pun ada harganya. Hanya orang-orang
beruntung yang mampu membeli serta memberikan wanita pujaannya dengan untaian
berlian guna menambah nilai kecantikan dan martabat.
Karyawati cantik
berjejer rapi dan membungkuk hormat ketika Masumi memasuki kantornya. Mizuki,
sekretaris andalannya terhalang untuk melakukan segambreng pekerjaan dan
memaksa sekretaris bawahannya untuk menanganinya selama ia sedang berjuang
menyembuhkan penyakit flu berat. Pekerjaan tiada habis dan cuaca yang tak
menentu berhasil menumbangkan tubuh kokoh Mizuki. Masumi menyayangkan
absensinya, namun ia lebih suka melihat sekretaris lain duduk disana daripada
melihat Mizuki memakai kaca mata hitamnya dan ditambah dengan masker,
membuatnya terlihat seperti ancaman untuk kesehatan jiwa Masumi sendiri. Ia
memaksa Mizuki berbaring dan istirahat total dan ia tak mau dibantah.
Tak lama setelah
ritual penyambutan selesai, ia menerima Shiori yang telah menunggu di ruangannya.
“ Apa kabar, Shiori?
Tumben sekali kau datang sepagi ini ke kantorku. Ada yang bisa kubantu? ”
Shiori melihat semua
mimik Masumi dengan teliti. Meski Masumi tersenyum, ia tetap terasa seperti
musim dingin dan ada setumpuk salju di ubun-ubun.
“ Aku baik, terima
kasih… apa kau, mau minum sesuatu? Aku sudah meminta sekretaris pengganti Mizuki untuk
menyiapkan teh di meja kecil sejak aku mendengar kedatanganmu. “ Shiori
tersenyum manis dan mengajak Masumi untuk duduk bersamanya.
“ Aku sudah minum kopi
pagi ini, terima kasih. Dan Mizuki hanya sementara diganti selama ia dalam masa pemulihan. Bisakah kau katakan maksud kedatanganmu, Shiori? Aku
masih harus menyelesaikan pekerjaanku, kalau kau tak keberatan…”
Tanpa menoleh, Shori
tetap berdiri terdiam memunggungi Masumi yang keheranan. Ia menghirup nafas dan
menghembuskan perlahan. Shiori mengambil kursi dan mulai duduk, menatap tehnya
yang beranjak mendingin.
“ Kurasa, sebaiknya
kita tidak usah menikah, Masumi… “
Masumi yang sedari
tadi berdiri bersandar pada meja kerjanya langsung spontan menegakkan tubuh dan
hampir menjatuhkan dagunya entah kemana.
“ Batal… lagi…?
Shiori…” Masumi mempercepat langkahnya dan ikut duduk dihadapan Shiori yang
terus menatap cangkir tehnya. “ Apa maksudmu kali ini? Kau yang merencanakan
pernikahan kita, aku pernah membatalkannya, dan sekarang kita sudah akan kembali
menikah. Tapi ….. ini mau dibatalkan kembali??? Kau sudah gila…. “ Masumi
menatap Shiori tak percaya. “ Ini… sangat gila…”
“ Memang ini terdengar
sangat gila dan tak nyata. Tapi aku sungguh tak ingin menikah denganmu. “
Shiori menegakkan kepalanya dan langsung menatap mata Masumi yang kebingungan.
“ Kita harus selesai sekarang juga, Masumi. “
Masumi tercenung
sementara. Ia berusaha mencerna semua kejadian tiba-tiba ini dengan sempurna.
“ Alasanmu? “
“ Aku tak bisa menikah
dengan robot, Masumi. Kau terlalu berubah sejak…”
“ Sejak? “
“ Maya benar-benar
meninggalkanmu. “
Masumi diam. Ia tak
membantahnya.
“ Apakah hanya karena
aku sudah berubah menjadi robot mengerikan makanya kau ingin membatalkan
pernikahan kita? Bagaimana dengan pemikiran orang-orang yang sudah bersiap
datang ke resepsi pernikahan kita nanti? Oh, dank au tak boleh lupa, Kaisar
adalah salah satu tamu paling terhormat yang kita miliki. Apa kau paham
maksudku, Shiori? “ Masumi tetap berbicara dengan tenang dan datar. “ Kita akan
menderita kerugian yang sangat besar. “
Shiori mendesis tajam. “ Aku sudah semakin
terbiasa dengan semua sikap tak berperasaanmu, Masumi. Terima kasih. Tapi aku
tak perduli, aku tidak ingin menikah denganmu. Titik! “
Shiori berdiri dan
hendak meninggalkan kursinya. “ Maaf aku mengganggu jam kerjamu. Aku yakinkan
bahwa ini adalah yang terakhir kalinya aku disini. Selamat tinggal, Masumi. “
“….. Richard Jefferson…. “
Tiga langkah kaki Shiori terhenti.
“ Jadi, kau akan
mengganti namaku dengan nama Richard kelak di kartu undangan pernikahan yang
siap cetak itu, Shiori. “ Masumi menyeruput ringan tehnya dengan santai. “ Aku
tak sabar menantinya. “
Tiga langkah kaki
Shiori kembali terdengar, namun kali ini kembali menuju Masumi.
“ Kau tak perlu
menyeret Richard! Kau tak kenal siapa dia! “
Masumi meletakkan
tehnya dengan anggun dan menggeser kursinya agar menghadap Shiori. Bisa
terlihat wajah Shiori yang mengepul karena emosi. Ia tak beda dengan udang
rebus yang baru saja diambil dari panci.
“ Shiori… tunanganmu
ini adalah seorang Masumi Hayami. Kau tak boleh melupakan kekuatan namaku. Aku
memang bukan Tuhan, tapi aku diberi kemampuan oleh-Nya untuk bisa berpikiran
cerdas. “ Masumi berdiri dan menarik kursi lawannya. “ Duduk dulu denganku
disini, kita bisa membicarakannya baik-baik tanpa harus tersulut emosi. “
Dengan hati yang galau
dan panas, ia menuruti permintaan Masumi. Dan tanpa permisi, ia langsung
menenggak teh yang baru diminumnya sedikit.
“ Maaf, mungkin karena
aku sedang ada masalah. Aku jadi tak bisa berpikiran jernih. “
“ Ada yang bisa kubantu? “
“ Aku tidak mungkin
meminta bantuanmu untuk urusan asmaraku, Masumi. Kau terlalu menyedihkan… ah…
maaf…. Mungkin juga karena aku sudah terlalu jengah oleh sikap dinginmu itu…”
Masumi sedikit
tersenyum. “ Ceritakanlah padaku. Kuharap aku bisa sedikit membantumu. “
“ Apa yang kau tahu
soal Richard? “
Masumi tetap pada
senyum pertamanya, namun terlihat lebih datar.
“ Ia tak hanya dokter
pribadimu, Shiori. Kurasa, ia adalah belahan jiwamu yang hilang. Kalau bukan, kau
takkan repot-repot datang ke apartementnya sendirian dan memaksa supirmu untuk
tutup mulut. Aku tahu semuanya. “
Wajah Shiori memucat.
“ Kau…. Tahu? “
“ Bahkan soal
kedatangan pengasuhmu pun, aku mengetahuinya, Shiori. Dan aku maklum kenapa kau
datang kemari dengan wajah kusut dan bermata sembab. Sebaiknya kau meletakkan
kaca mata gelapmu itu, toh aku tetap mengetahui kondisi matamu. Kau hanya
mengingatkanku pada sekretarisku saja.“ Gerutu Masumi.
“ Aku lebih suka
memakainya, terima kasih atas perhatianmu. “
Sejenak ada jeda.
Mereka sibuk dnegan pikiran masing- masing. Masumi masih menunggu kejelasan
dari Shiori dan Shiori terlihat masih berusaha bersikap jernih dan tidak
terhasut oleh emosinya.
“ Kupikir… ungkapan
cintanya padaku itu… hanyalah main-main. Ia sangat tenar dikalangan para dokter
dan perawat wanita, bahkan ada pasien yang sama sekali tak sakit namun berusaha
keras menjadi sakit agar bisa bertemu Richard. “
Masumi tetap terdiam
membiarkan Shiori menumpahkan semua masalahnya yang tentunya cukup menyita
waktu dan uang Masumi.
“ Dan ia bilang ia
mencintaiku, Masumi… aku, aku memang pernah, bahkan seringkali, mendengar
ungkapan pria-pria yang ingin menjadi pendampingku, namun, hanya dialah yang tampak
paling tulus didepanku. Ah, maafkan aku Masumi, bukan maksudku menyindirmu buruk,
tapi aku…. “
“ Kau mencintainya ? “
Shiori menatap mata
Masumi dan mulai membuka kacamatanya.
“ Sangat. “
Masumi menganggukkan
kepalanya. “ Aku mengerti. Memang benar, sebaiknya kita tidak usah menikah. “
“ Masumi..! “ Shiori
langsung memancarkan wajah cerah penuh pengharapan. “ Kau, menyetujuinya?? “
“ Tentu! Selain jujur…
aku tak mencintaimu, kau mencintai pria lain. Kita takkan sukses menjalani
rumah tangga yang bahkan tidak memiliki pondasi. “
“ A.. Aku tak tahu
harus berkata apa.. kupikir… kupikir kau akan meledak dan.. dan… “ suara Shiori
bergetar hebat. “ ah, aku tak tahu harus berkata apa lagi, Masumi. Aku terlalu
lega dan bahagia. “
Masumi tersenyum lebar
dan memamerkan deretan giginya yang amat terawat.
“ Tapi, kita memiliki
kendala hebat. Kakekmu… ia terlalu berharap dari pernikahan kita. Aku sangat
mengkhawatirkan kesehatannya Shiori. Aku tak menjamin jantungnya akan kuat
menerima fakta bahwa kita akan kembali membatalkan pernikahan. Seperti yang
kupaparkan tadi, ini resiko yang teramat sangat besar. Aku sangat yakin Kaisar
takkan datang. Tapi berita tentang pembatalan kita, pasti akan terdengar sangat
ganjil di Kerajaan. “
Semangat Shiori yang
tadi membara langsung meredup. “ Jadi, maksudmu… kita tetap harus menikah??? “
“ Aku sangat tak ingin
mengatakan ini, Shiori. Sungguh! Tapi aku tidak memiliki jalan lain yang lebih
aman untuk menanggulangi segala resiko. Kalau pembatalan yang pertama, aku
yakin hal itu hanya akan menerpa hebat keluarga Hayami. Namun masyarakat
terlanjur tahu kalau kita ber-rekonsiliasi. Resiko kali ini terlalu besar
dibandingkan yang dahulu…. “
“ Masumi… “ Shiori
langsung terduduk lemas.
“ Kita akan menemukan
solusinya. Serahkan padaku. Namun, kuharap untuk saat ini kau tak perlu
membicarakannya pada siapapun dulu. Bahkan kepada Richard. Aku ingin mengurangi
resiko kebocoran dan kegagalan misi. Kita bisa mengkonfirmasi kepada Richard
dan.. ehm… “ Masumi berdeham ringan “ Maya tentunya, setelah semuanya bisa
tertanggulangi atau melewati hari H. Kuharap kau mengerti, Shiori. “
Shiori menongak.
Menatap wajah tulus Masumi yang terlihat lebih manusiawi.
“ … akan kupikirkan… “
“ Harus kau pikirkan.
“
Shiori tersenyum
melihat ketegasan Masumi. Ia sangat mengerti bagaimana Masumi sangat
menunggu-nunggu waktu ini datang. Waktu diaman ia bisa menggapai impiannya
bersama Maya.
“ Aku akan berusaha
mencari celah terbaik untuk kita.” Shiori bangkit berdiri dari kursi dan meraih
tas tangan mungilnya serta kembali mengenakan kacamata gelapnya yang tergeletak
di meja. “ Aku sangat berterima kasih uktuk semua waktu dan saranmu, Masumi.
Aku tak menyangka kita dapat berjalan di jalan yang sama dengan cara ini.
Sungguh diluar dugaanku… “
Masumi terbahak. “
Akupun juga tak menyangka akan bekerja sama denganmu untuk urusan hal seperti
ini, Shiori. aku sangat senang kita dapat menjadi partner yang baik. Kuharap
untuk kedepannya, hubungan kita akan tetap dan semakin membaik. Ku doakan yang
terbaik untukmu, Shiori. Akupun juga harus mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya padamu. Hanya kau ujung tombakku saat ini. “
“ Kau harus
membayarnya kelak, Masumi. Di dunia ini tak ada yang gratis. Apalagi kau batal
menjadi suamiku hampir dua kali. Apa kata para penggosip diluar sana mengenai
aku. Bisa saja mereka mengira bahwa aku ini mandul atau terburuknya, ternyata
aku ini penyuka sejenis. “
Keduanya tertawa
bersama.
“ Aku tak tahu kau
bisa membuat lelucon seperti ini, Shiori. aku mengenalmu sebagai wanita yang
santun dan selalu serius. Serta kalem dan sangat menjaga keanggunan. Kau yang
sekarang… sungguh segar dan luar biasa. “ Puji Masumi.
“ Masumi, jangan
bilang kau jadi berubah pikiran. Aku mencintai… “
“ Hahahhaa… tentu saja
aku paham, Shiori. Kau tak usah khawatir. Pria yang kau cintai itu takkan
kemana-mana. Tujuanku tadi tulus untuk memujimu, kau lebih cantik bila kau
bahagia, dan aku senang melihatnya. “
Shiori tersenyum
lembut. “ Akupun mendoakan kebahagiaan untukmu, Masumi. Aku tahu Tuhan akan
memberikan yang terbaik untukmu. Maaf, aku harus segera pergi. Masih banyak
yang harus ku… awwww!!! “
Tubuh Shiori oleng.
Hak sepatu yang biasa menopang tubuhnya mendadak rapuh dan membuat pemiliknya
kehilangan keseimbangan. Beruntung tangan kokoh Masumi segera menangkapnya agar
ia tak terhempas konyol ke lantai marmer.
“ Kau tak apa-apa,
Shiori? “
“ A.. aku tak apa-apa,
Masumi, terima kasih… “ Shiori melihat sepatunya yang sekarang cacat rupa. “
Ah… sepatuku. Kenapa harus sekarang?! Dan, aduh… mataku… “. Sudut mata Shiori sedikit terluka oleh
bingkai kacamata. Ia segera melepas kacamata yang sekarang malah merusak
penampilan yang dijaganya baik-baik.
“ Shiori, kau sedikit
memar di ujung matamu. Apa kau perlu di kompres agar tidak menjadi bengkak
lukanya? “ Masumi segera membantu Shiori menyeimbangkan tubuhnya dan menatap
dalam mata Shiori. “ Biar kulihat sebentar, jangan sampai matamu ikut terluka.
“
“ Baiklah… Terima
kasih. “
Masumi memperhatikan
dengan seksama mata Shiori yang sayu dan teduh, namun cahaya keceriaan lebih
terpancar didalamnya. Masumi mengaku dalam hati ia terpesona oleh kesegaran
didepannya, namun hanya sebatas teman, atau mantan tunangan. Ia tetap merasa
mata Bidadari Merah lah yang terbaik untuk di lihatnya. Setelah beberapa saat
Masumi memeriksanya, ia tersenyum lega.
“ Tidak apa-apa. Kau
bisa lega, hanya memar sedikit dan sepertinya tidak akan sampai bengkak. Namun
kau bisa membawa sebongkah es untuk menjaganya agar tak menjadi yang kita
takutkan. Kau bisa meminta Richard memeriksanya. “ Masumi melangkah menuju
kulkas dan memasukkan 2 bongkah es berbentuk telur kecil yang dibungkus plastik bening dan dibalut kembali oleh saputangannya.
“ Bawalah ini. Akan
sedikit mengurangi rasa nyerimu, kurasa.. “ Masumi menyerahkan es ke tangan
Shiori yang terbuka.
“ Terima kasih, Masumi.
Aku sangat senang mengenalmu yang sekarang. Aku permisi dulu. “
“ Ah, sepatumu?
Bagaimana…. “
“ Aku sudah mematahkan
yang satunya. Nanti aku akan membeli yang baru selama perjalananku menuju rumah
sakit. “
Masumi tertawa. “
Sampaikan salamku untuk Richard. “
“ Aku akan
menyampaikannya nanti, Masumi. Kalau kusampaikan sekarang, kau hanya akan
terkesan mengejeknya. “
Masumi kembali tertawa
melepaskan kepergian Shiori yang menghilang dibalik pintu ruangannya. Ia merasa
bahagia. Sangat!
Selain Shiori yang selama ini dia pikir sebagai rintangan
terbesarnya, sekarang ia berbalik menjadi mata tombaknya yang teruncing dari
apapun. Selain itu, wanita yang jatuh cinta terlihat menjadi lebih cantik dan
bahagia. Mau tak mau, Masumi pasti menjadi ikut bahagia. Dan ia sangat boros
tersenyum pagi ini.
***
Sementara itu, kehebohan luar biasa kali ini terjadi di
toilet wanita. Setelah itu merebak ke kantin, bahkan tak jarang lebih cepat
menyambar ke meja kerja dan merusak semua niat konsentrasi karyawan yang hendak
menandaskan pekerjaan . Gosip adalah santapan yang sering dimakan untuk
mengenyangkan kelaparan jiwa dari suntuknya jam kerja. Serta untuk menyegarkan
pikiran dari atasan yang luar biasa dingin melebihi Himalaya. Tentu saja…
“ Aku melihat mereka berciuman! “ kata sekretaris wanita
berambut lurus sebahu.
“ Eeeh, siapa??? “ sambut sekretaris lain yang berkerumun di
depan kaca sambil berusaha merias diri, mulai dari mengoleskan lipbalm berwarna nude, pink, menyisir atau
sekedar memeriksa penampilan mereka setelah baru beberapa jam menerima tindasaan
batin dari sang direktur. Mereka berjumlah sekitar 4 orang, dan siap meluaskan
berita ini ke seluruh penduduk Daito.
“ Tentu saja Pak Masumi! Dan Nona Shiori… “
Sekretaris lain menghembuskan nafas kecewa. “ Huh, kukira
siapa. Nona Shiori itu kan tunangannya, berciuman adalah hal yang wajar!
Kupikir kau akan mengabarkan Pak Masumi mencium wanita lain! “ gerutu
sekretaris berambut ikal dan panjang sepunggung.
“ Ha! Pak Masumi mencium wanita lain? Yang benar saja… “
“ Kenapa tidak mungkin? “
“ Pak Masumi itu orangnya sangat lurus kepada tujuannya. Dia
takkan macam-macam dengan wanita yang bisa merusak prestasi dan usahanya
meluaskan Daito ke mancanegara. Wanita lain pasti hanya setara dengan lobak
atau kol dipasar. Pria macam itu sepertinya tidak akan pernah mengenal kata
jatuh cinta. Itu tidak logis, buat manusia sekelas dia, hahahhahaa….“
Mereka semua terbahak ringan.
“ Tapi, apa kau tidak memperhatikan? Sepertinya Pak Masumi
diawasi oleh wanita lain yang memiliki kekuatan yang cukup berpengaruh di
Daito. “
Para sekretaris yang
tadi tertawa serentak menjadi diam dan membelalakkan mata.
“ Ada ya wanita yang setara dengan Nona Shiori? Kalau
sekarang kau berniat bercanda, sejujurnya, aku takkan tertawa, atau berusaha
tertawa. Kau pikir siapa orangnya? “
“ Bidadari Merah, Maya Kitajima! “
Mereka terdiam sesaat.
Lalu mereka tertawa lebih keras daripada topik yang pertama
merebak.
“ Kali ini kau bisa membuat lelucon yang sangat lucu! Kenapa
harus Maya? Dia sudah memiliki Koji. Keterlaluan sekali kalau ia sampai melirik
tunangan orang lain. Kurang apa Sakurakoji itu? Kalau mereka putus, aku tak
akan menyia-nyiakan kesempatan itu! “
“ Kudengar sekarang mereka sedang merenggang, kau tak tahu
itu? “
Binar mata pengharapan langsung terpancar dari sekretaris
lain, bahkan menghentikan aktifitas mereka untuk mempercantik diri. “ Kau
serius? “
“ Ung.. “ anggukan kepala setuju dari sekretaris berambut
lurus sebahu.
“ Kyaaa! “ sorak sorai kegembiraan para single ini langsung mencuat. Mereka jelas sangat menginginkan
posisi Maya yang sebagai kekasih bintang muda tenar yang sedang meroket karir
dan angka di rekeningnya.
Sekretaris berambut ikal langsung teringat dan membenahi
kembali peralatan kosmetiknya. “ Ah, kita tidak boleh terlalu lama disini.
Kalau Pak Masumi tahu kita bergerombol di toilet, bisa-bisa kita dapat layangan
surat PHK. Ayo cepat! “
“ Ah, betul! Aku tak bisa kehilangan pekerjaan ini. “
“ Tapi, topik soal Maya tadi benar-benar lucu! “ sembari
sekretaris lain berucap meninggalkan toilet wanita. “ Tidak mungkin kalau Pak
Masumi meninggalkan Nona Shiori yang begitu sempurna hanya untuk wanita pendek
yang hanya kebetulan memiliki bakat akting. Dia bukanlah tandingan Nona Shiori.
Kalau memang benar Pak Masumi meninggalkan Nona Shiori untuk Maya, aku lebih
baik harakiri. “
Dan tawa cekikikan pun menyambut ucapan pedas gosip dari
sekretaris tolol yang hanya bernurani iri dan dengki. Tak dipungkiri,
kesuksesan Maya merambah dunia akting tak lepas dari pro dan kontra. Banyak
yang sangat memuji talentanya, namun tidak sedikit juga yang menghinanya. Ini
realita hidup. Tak semua sejalan seperti yang manusia ideal pikirkan. Dan isak
tangis tertahan terdengar semu di toilet wanita ketika semua orang didalamnya
pergi.
“ Memang benar…. Aku bukanlah wanita yang bisa bersanding dengan
Pak Masumi. Ataupun bersaing dengan Nona Shiori. Aku hanyalah wanita pendek
yang kebetulan hanya memiliki bakat akting…. “
***
“ Selamat pagi semua! “ sapa Maya kepada seluruh pemain di
ruang latihan.
“ Pagi!!! “ para pemain menyambut keceriaan Maya yang
bersinar.
“
Kau bersemangat sekali, Maya! Aku suka dengan itu! “ ucap
sutradara brewokan berkacamata hitam dan berperut buncit sembari melangkah
mendatanginya. “ Kalau begitu, kau sudah siap dengan latihan kita kali ini?
Kuharap kau bisa lebih menampilkan sisi yang lebih menghanyutkan kami. Aku
sangat menantikannya! “
“ Aku akan berikan yang terbaik, Pak Kuronuma. Untuk pentas
spesial kita ini, aku akan menjadikan legenda Bidadari Merah yang baru! Dan
kuyakinkan tidak akan ada yang bisa berakting melampauiku! “
Kuronuma dan pemain lain tertegun.
“ Hebat! Hebat!!! Inilah yang kutunggu! Aku selalu tahu akan
percaya dirimu soal akting, Maya. Tapi kali ini, kau lebih matang dan kuat. Pak
Masumi dan Nona Shiori pasti akan lebih bangga akan pernikahan mereka nanti
dengan pertunjukkan kita. Bahkan tidak mungkin kita bias memicu rasa iri kepada
keluarga Kaisar. “
Maya tersenyum palsu. Mati-matian
ia menyembunyikan sinar mata kecewa dihadapan para manusia yang cukup peka
terhadap perubahan mimik seseorang.
“ Tentu saja, tunggulah
permainanku yang sangat hebat kelak, Pak Kuronuma. Namun sebelumnya, saya
sangat ingin bapak mau mengabulkan keinginan egoisme saya, untuk kali ini
saja…”
Kuronuma mengangkat alis.
“ Apa saja itu, Maya? “
“ Saya harus berbicara dengan
pendesain kostum dan beberapa kru lain. Akan ada sedikit perubahan disana-sini.
Pendapat para pemain yang lain termasuk bapak akan sangat mempengaruhi
kesuksesan ini. Saya ingin ini akan menjadi pertunjukkan yang melegenda dan
takkan ada yang bisa melupakannya. Melebihi apapun. Saya ingin tampil total!
Saya sangat mohon dukungan bapak kali ini… “ bungkuk Maya dengan sangat dalam
dan hormat.
“ Selama ini untuk kesuksesan
Bidadari Merah, lakukan saja! Aku percaya pada kemampuanmu! Sekarang ,cepat latihan!
Jangan kau buang waktuku yang berharga! “
Maya tertawa renyah dan puas. “
Terimakasih banyak, Pak. Saya yakinkan bapak takkan kecewa dengan pertunjukkan
saya nanti. “
Maya segera beranjak ke ruangan
penata kostum. Ia terlihat sangat bersemangat. Berbeda sekali dengan hari-hari
belakangannya yang padam dan suram, dimana ia selalu mendapat rasa kuatir
bahkan hampir tak lepas dari cengkraman rutinitas meminum obat.
Tak lama dari menghilangnya Maya
keruangan lain, Koji baru saja datang dan hendak mengambil kembali naskahnya.
Ia berpakaian santai seperti biasanya serta membawa tas yang berisikan pakaian
ganti dan beberapa perlengkapan lain yang ia butuhkan selama masa latihan.
“ Koji, tolong damping Maya
dengan baik, ya! “
“ Pak? “ Koji sedikit terkejut ketika
tiba-tiba Pak Kuronuma telah berada dibelakangnya sambil menenteng beberapa
lembar kertas lengkap dengan pena.
“ Maya terlalu bersemangat. Aku
tak tahu apa yang sekarang ia pikirkan. Tidak seperti biasanya, ia terlalu
berubah. Sepertinya ia baru saja kembali terluka. Namun kali ini ia tidak
selemah dulu, Koji. Kalau kau mampu menemani dan benar-benar mengembalikan
semangatnya, ia akan benar-benar menjelma sebagai Bidadari Merah yang ia
impikan. Melegenda! Itu yang tadi ia katakan sambil mengobral senyum
disana-sini. Orang lain mungkin menganggapnya ia telah bangkit, tapi mataku ini
berkualitas diatas rata-rata manusia normal. Ia sedang sangat terluka, Koji….“
Nada khawatir terbesit jelas ditiap kata Pak Kuronuma. “ Ia sampai ingin
membuktikan kemampuan yang selama ini ia ragukan sendiri akhir-akhir ini. “
Koji tercengang. Benarkah Maya
hari ini seperti itu? Ia melihat sekeliling, mencari Maya.
“ Ia ada di ruangan kostum. Entah
apa rencananya. Tapi sepertinya ia ingin berpenampilan lebih baik dari
biasanya. Mungkin ia sekarang lebih sadar penampilan? “ ucap Pak Kuronuma
terkekeh.
“ Baiklah Pak, terima kasih untuk
informasinya. Saya akan keruangan kostum. Sudah lama saya tak melihat obralan
senyum Maya. “
Pak Kuronuma mengangguk sekali. “
Tapi jangan lama-lama! Kau kira kau sedang liburan di Hawaii?!! Masih banyak
latihan lagi untuk menyempurnakan penampilan kalian besok. Jangan sampai Pak
Masumi dan Nona Shiori mendapatkan kado yang buruk dari kita nantinya. “ Dan ia
meninggalkan Koji yang kembali kaget untuk kesekian kalinya pagi ini.
Maya ingin tampil lebih sempurna lagi di hari pernikahan Pak Masumi dan
Nona Shiori????
Rasa khawatir Koji membuncah. Ia
langsung mendeteksi ada hal yang tidak beres disini. Ia jadi semakin paham
kenapa Pak Kuronuma memintanya langsung menjaga Bidadari Merah secara lebih
ekstra. Dan ia akan melakukannya. Ia ingin melihat kembali senyum tulus Maya.
Ia ingin status sebagai kekasih kembali disandangnya. Meski berita ini hanya
segelintir orang yang tahu
akan retaknya hubungan mereka, Koji tak pernah lelah
berharap Maya bisa mencintainya.
Berharap….
***
Subscribe to:
Posts (Atom)


