Thursday, 17 May 2012

Background Music of Paragraph 07 by Frente



Bizarre Love Triangle

Every time I think of you
I get a shot right through
Into a bolt of blue
It's no problem of mine
But it's a problem I find
Living the life that I can't leave behind

There's no sense in telling me
The wisdom of a fool won't set you free
But that's the way that it goes
And it's what nobody knows
And every day my confusion grows

Every time I see you falling
I get down on my knees and pray
I'm waiting for the final moment
You say the words that I can't say


I feel fine and I feel good
I feel like I never should
Whenever I get this way
I just don't know what to say
Why can't we be ourselves like we were yesterday


I'm not sure what this could mean
I don't think you're what you seem
I do admit to myself
That if I hurt someone else
Then I'll never see just what we're meant to be


Every time I see you falling
I get down on my knees and pray
I'm waiting for the final moment
You'll say the words that I can't say

Every time I see you falling
I'll get down on my knees and pray
I'm waiting for the final moment
You'll say the words that I can't say

Paragraph 07

Bizzare Love Triangle




Pemberitaan mengenai pernikahan dua insan dunia bisnis kembali menggema di berbagai media komunikasi, mulai dari sms hingga tayangan infotaiment yang memuat cuplikan bertekuk lututnya Masumi Hayami, ketika ia melamar Sang Putri, Shiori Takamiya sejak 4 hari lalu. Para pengunjung disana terlihat begitu kaget dan antusias, tak jauh berbeda dengan para pelahap berita pagi ini. Mereka menganga, menarik alis tinggi-tinggi dan ada yang kuat-kuat membelalakkan mata. Ikut tersenyum bahagia namun ada juga yang mengacuhkannya dan kembali pada dunia nyatanya sendiri yang penuh perjuangan hidup.

Selepas keluar dari acara Kaisar, diluar lingkungan istana, tak jauh dari pesta syukuran diadakan ternyata Sang Pangeran Daito kembali beraksi. Mereka—Masumi Hayami—sendirilah sebenarnya yang  merencanakan pernikahan mereka 2 bulan lagi tanpa terbantahkan. Tanggal sudah langsung ditentukan saat itu juga, sehari sebelum perayaan Natal yang konon sangat sulit untuk mengatur waktunya, sehingga Shiori hanya bisa menahan rahangnya kuat-kuat yang hampir terjatuh hebat.

Masumi pun mengumumkan akan semacam sayembara untuk para artist yang bergelut didunia jewelry design. Iming-iming kontrak kerja selama 2 tahun bersama Daito dan bersanding dengan para aktor dan aktris serta model-model kelas dunia yang kelak akan memakai hasil rancangan mereka. Siapa yang akan menyia-nyiakan kesempatan berlian ini ???

Akhirnya disinilah Maya berada, diapit oleh Koji disisi kiri dan Kuronuma disisi kanan namun hendak melihat sisi ruangan lain yang dibatasi kayu berukir naga. Ruangan yang dimaksud adalah ruangan dadakan hasil sulapan para arsitek yang juga dadakan dalam bekerja. Masumi tak mau tahu bagaimana cara kerja mereka, tak perduli mereka sudah makan atau belum apalagi jam tidur mereka, mengingat kantung mata dan lingkaran hitam disekitar mata para pekerja menjadi tampak begitu nyata merusak penampilan.

“ Hebat sekali ruangan ini “ decak Pak Kuronuma sambil melihat-lihat karya seni tingkat tinggi itu dipajang.

Ruangan itu tidak terlalu besar, namun juga tidak terlalu sempit. Kira-kira cukup untuk memuat 50-60 orang tanpa saling berhimpitan. Langit-langitnya bercermin tinggi dan diterangi lampu sorot yang menghadap atas, memaksimalkan system pemantulan cahaya mengingat dinding seluruh ruangan dilapisi cermin. Etalase memanjang dan bertingkat memamerkan beberapa rancangan dari para desainer yang kebetulan ingin cepat-cepat menebas pesaingnya. Namun mereka diberi kesempatan untuk menampilkan masing-masing 5 desain hingga batas deadline, 2 minggu sebelum Natal tiba. Pohon plum mini imitasi menyegarkan ruangan berwarna keemasan  dan bermaksud mengimbangi beratnya kesan akan logam mulia.

Maya akhirnya memberanikan diri untuk memasuki ruangan penuh berpasang-pasang cincin pernikahan setelah melalui identifikasi oleh para penjaga didepan pintu masuk dan membatasi pengunjung hanya 5 orang per 15 menit. Dan tak semua orang dapat memasukinya. Hanyalah kalangan orang-orang yang dipercaya Masumi kalau mereka takkan bersikap macam-macam dengan kumpulan cincin emas berlian itu berada. Ada yang tipis, ada yang tebal dan berat, ada yang tidak bermata dan ada yang penuh akan mata penuh kilau memukau. Warna bervariasi mulai dari standart perak, emas kuning bahkan ada yang memakai warna-warna berbeda dalam pernikahan. Merah, biru, kuning bahkan… ungu.
Mata Maya terpaku pada sebuah model cincin yang diletakkan di sebuah box kaca bening, dan disekitar cincin itu dihiasi oleh kerimbunan bunga mawar palsu berwarna ungu pekat.

                    Heart Of Deep Purple Rose

“ Purple Rose??? “ gumam Maya pelan dan melangkahkan kakinya mendekati papan nama kecil didepan cincin yang berhasil memanggil Maya untuk menatapnya.

“ Hng ? Kenapa Maya….? “ pertanyaan Koji terhenti setelah ia melihat apa yang dipandang Maya sedari tadi.

“ Aku suka cincin itu, Koji… Aku rasa aku baru saja jatuh cinta.. “ ucap Maya tanpa menoleh sedikitpun kearah kedatangan Koji dan mengelus kaca pembatas yang mengungkung sang cincin diperaduannya.

Koji mengangguk “ Kau benar. Cincin itu sangat istimewa. Dia terlihat sangat hebat diantara yang lain. “

“ Aku ingin sekali memakainya, Koji… Ingin.. Sekali….. “

Koji menatap Maya lurus. Ia mendapati mata Maya yang penuh luka sekaligus harapan. Ia belum pernah melihat Maya begitu bernafsu pada sebuah perhiasan, apalagi yang berharga sedemikian super mahal, mengingat entah berapa karat beberapa berlian yang bertengger disana.

Cincinnya memang luar biasa mewah . Cincin berlian ungu yang berhasil didesain oleh perusahaan pelelangan internasional—Christine—di  Jepang seharga US$ 10,8 juta atau sekitar Rp 92 miliar mungkin dapat dinyatakan sebagai cincin berlian termahal di dunia. Mengapa berlian ini sangat mahal? Karena desainnya tanpa ampun! Cincin  ini bertahtakan berlian 6 karat berwarna ungu dalam berbentuk hati dan dihiasi dengan berlian putih disisi kanannya yang mengikuti ukiran berbentuk mawar dan melengkung membuat lingkaran yang dapat mencengkram jari manis wanita yang beruntung mendapatkannya. Tak heran bagi mata awam perhiasan semacam Maya tersihir karena kehebatannya berpamer diri.

“ Kuharap kau bisa segera memilikinya, Maya, karena jujur saja, aku belum mampu membelikanmu cincin yang seperti ini. “ Canda Koji sembari menarik keluar kantong jeansnya yang tak berisi.

Maya terkekeh “ Kojiiii! Mana mungkin aku memintamu membelikannya! Aku sendiri pun tak mungkin dapat membeli benda semacam ini. Ini terlalu jauh dari lingkaran kesehatan keuanganku! “

Mereka bedua becanda sembari mengagumi cincin ungu didepan mata tanpa menyadari Kuronuma yang datang mendekat dan menepuk ringan kedua bahu mereka.

“ Sudah saatnya kalian kembali berlatih ! kalau kalian rajin latihan, maka takkan mungkin cincin itu akan bisa kalian miliki! Percayalah padaku! “

Mereka kembali terkekeh.

“ Mungkin aku bisa mendapatkannya kalau aku sudah mendekati usia senja, Pak. “ gurau Koji sambil menggaruk kepalanya yang baru saja dikeramasi.

“ Kau jangan pesimistis seperti itu, kalau kita mau berusaha apapun dapat kita jangkau! Ayo, kita sudah terlambat 10 menit. Jangan biarkan mereka mengusir kita , sebaiknya kita sendirilah yang keluar dari sini.“

“ Hahahaha… Baiklah Pak, terimakasih untuk dukungannya! Ayo, Maya! “ ajak Koji menutup gurauannya dengan pak sutradara.
Maya kembali menoleh pada kotak kaca tadi. “ Kalian duluan saja, aku… Ingin disini sebentar lagi saja, kumohon… Biarkan aku disini sebentar. Aku janji akan segera menyusul kalian. “ Mata Maya memohon penuh binar belas kasihan sembari mengatupkan kedua tangannya.

Kuronuma memiringkan kepalanya sebentar. “ Baiklah, tapi jangan lebih dari 5 menit ya, aku harus mengkordinasi kembali akan kebutuhan pertunjukkan selanjutnya. “

“ Baiklah, Pak! Terima kasih banyak!!! “ Maya membungkuk 90 derajat dan mengulang lagi kata terima kasihnya.

“ Ya… Ya…. Ayo Koji!“

“ Baik, Pak…” Jawab Koji lantang. “ Maya, aku tunggu kau diluar ya? “ namun kali ini Koji berbisik ditelinga Maya.

Maya tersenyum. “ Baiklah, Koji… Terima kasih .“

Pak Kuronuma dan Koji pun melanggeng pergi, meninggalkan Maya sendirian yang sibuk memenuhi otaknya dengan segala hal yang bersangkutan dengan mawar ungu… Mawar Ungu-nya…

“ Mawar Ungu…. Bisakah kau mendengarku? Aku sangat merindukan kehadiranmu lagi dihidupku. Kumohon…. Jangan tinggalkan aku seperti ini…… “ gumam Maya pelan sembari mengelus-elus kaca pembatas.

Maya sama sekali tak mengerti, sama seperti pengunjung lainnya. Bahwa ruangan itu bukan hanya ruangan berdinding cermin biasa. Ada tim yang bertugas disetiap sisinya, dibalik cermin tersebut. Mereka memantau gerak-gerik pengunjung dan meminimalisir tindakan kearah criminal. Masumi sengaja membuat ruangan ini, selain ia ingin bekerja sama dengan pihak penjual perhiasan, ia ingin menunjukkan pada dunia, betapa seriusnya dia ingin menunaikan pekerjaan utamanya… Menikahi cucu Takamiya. Dan sekarang ini, Sang Pangeran ada dibalik cermin dua arah tersebut. Ia dapat sangat jelas melihat Maya memandangi cincin ungu tersebut lekat-lekat dengan mata coklatnya yang bening dan sedikit berkaca-kaca. Masumi dapat mendengar jelas gumaman Maya karena speaker mini didekat Maya berhasil menyampaikan pesan kecilnya tanpa perlu diketahui sumber suara. Sekarang ini, mereka saling berhadapan. Saling melepas rindu melalui visualisasi masing-masing. Maya akhirnya menghentikan lamunannya setelah seorang petugas cantik menyampaikan bahwa waktu berkunjungnya sudah habis dan iapun melangkah pergi meninggalkan Masumi yang bermata nanar penuh kerinduan.

Sudah kuduga, kau akan menyukai cincinnya, Maya…. 

                                         
                                      *

“ Aku sudah melihatnya, Masumi...  Gallerinya terlalu berlebihan untuk kita.. “ Ucap Shiori pelan, memasang wajah kuatir dan keberatannya.



“ Itu tidak berlebihan. Mereka mendesainnya menyesuaikan selera dan kelas kita. Itu saja. “



Shiori mendongakkan kepalanya dan berjalan menuju meja Masumi yang penuh dengan segala hal yang bersangkutan dengan pekerjaannya, menggesernya sedikit dan menduduki meja kayu mahoni besar disisi sudut kiri Masumi.



“ Masumi, aku ingin yang sejujurnya.... Ada apa? “



“ Maksudmu? “


“ Apa yang terjadi denganmu? Kau sangat berubah sekali, aku seperti tidak mengenalimu... “

Masumi meletakkan pena dan menyingkirkan laptopnya sejenak. Ia memiringkan kursi putarnya kearah Shiori dan menatapnya dalam.

“ Aku akan menikahimu, Shiori. Apa lagi yang meragukanmu? Bukankah ini adalah hal yang paling kau tunggu-tunggu? Sekarang aku sudah menepatinya. Semua manusia dibumi ini sudah mengetahui tanggal pastinya kau akan menjadi istriku, lalu? Apa ada hal lain yang kau rasakan kurang? “ Masumi bertanya dengan bodoh namun tetap memasang wajahnya yang paling menawan, seolah semua wanita pasti akan terlena dengan rentetan gigi putih yang tersusun rapi di mulutnya.

“ Hatimu.... ada apa dengannya, Masumi? Apa kau sudah membuangnya? “ tanya Shiori pedas dan Masumi mengerti kemana arah pembicaraan ini .

“ Aku menyimpannya disini, untukmu. “

Shiori mengetatkan rahangnya kuat-kuat. Geram.

“ Aku tidak sebodoh dulu, Masumi! Dahulu kau bisa mengatakan hal-hal manis itu padaku,  mengajakku berkencan dengan segala kemewahan dan kenyamanan yang kau tawarkan. Kau juga mengumbar senyum dan  semua perhatianmu untukku, tapi kau jangan lupa, kau pernah menolakku! Dan sampai sekarang aku masih sangat mengingat jelas bagaimana pahitnya saat itu!

Masumi tetap menatap Shiori dengan tenang. Ia bangkit berdiri dari kursinya dan meraih jemari Shiori dengan jari-jari panjangnya yang kokoh serta mengurungnya dalam kehangatan telapak tangan Masumi. Dan Shiori terperanjat olehnya.

“ Maafkan aku dulu begitu bersikap sangat bodoh dan tak adil padamu, Shiori. Sungguh aku tak ingin membuatmu merasa seperti itu. Kau adalah wanita yang baik dan tidak seharusnya hal konyol itu terjadi. Sekarang aku hendak menebus kesalahanku padamu. Sudah seharusnya kau kubuat bahagia sejak dulu kita dipertemukan oleh keluarga kita masing-masing. Oleh karena itu, maukah kau memberikan kesempatan untukku....... Sayang? “ ucap Masumi sedikit memelas namun berjeda dikata terakhir.

“ Kau panggil aku apa barusan, Masumi? “

“ ....... Sayang...? Kenapa, kau tak suka ku panggil begitu? Atau... Kau lebih suka kupanggil apa selain Shiori? “

Shiori tidak bergeming. Ia telah belajar cukup banyak.

“ Masumi.... Kau tak perlu mengubah apapun. Aku hanya menginginkanmu yang sebenarnya, yang seharusnya... Aku memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. Tapi aku tahu, kau terluka... Dan luka itu sangat dalam. Hanya saja, aku tak mampu mengetahui seberapa dalamnya... “ Shiori meletakkan telapaknya yang digenggam Masumi erat ke dada bidang pria 30 tahunan itu “Aku sangat ingin menyembuhkannya, Masumi. Namun.... Maafkan aku, aku datang kesini juga untuk mengatakan sesuatu, dan kuharap kau tidak semakin terluka mendengarnya.....”

Masumi bertanya dalam hati dan kembali menunjukkan performa akting yang ia pelajari dari para aktor dan aktris yang berjaya dibawah tangan dinginnya.

“ Katakanlah, apapun itu... Kalau darimu, aku takkan merasa sakit apapun.... “

Shiori tersenyum simpul dan membalikkan tangannya tuk menggenggam tangan Masumi. Memohon.

“ Tolong tunda tanggal pernikahan kita. Aku ingin kita menjalaninya dengan hati yang benar-benar lega. Sampai semua hati kita benar-benar siap dan permasalahan kita selesai, kita pasti bisa segera menghadap Pastur di Altar Gereja. “

Mata Masumi melebar tak percaya.

“ Menunda? Kenapa? “

Hawa dingin Masumi sekejap menyeruak ruangan dan matanya menjadi setajam pedang samurai yang baru saja diasah. Dan Shiori merasakannya sampai menusuk tulang rusuknya sendiri.

“ Aku.... Aku rasa aku belum siap, Masumi... Aku ingin semuanya berjalan sempurna. Memang wedding organizer  kita kembali memproduksi apa yang dahulu kita hentikan, tapi... Kurasa..... Masih ada beberapa hal yang benar-benar belum siap... “ Jawab Shiori agak ragu.

“ Dan katakan apa yang belum siap itu. “ sambut Masumi, masih dingin terselubung.

“ Sudah kukatakan, hati kita yang masih belum siap. Aku memang tidak mengetahui data atau diagram akan kondisi hatimu, namun aku sangat merasakannya, Masumi... Aku tidak ingin kita kecewa nantinya. Kau jangan lupa, nanti kita menikah di Gereja bersama Pastur. Kau tahu kita takkan bisa bercerai sampai maut yang memisahkan kita. “ Debat Shiori pun tidak mau kalah.

Masumi tertohok mendengarnya. Memang benar banyak yang menikah di Gereja namun tak sedikit juga yang bercerai. Tapi fakta bahwa pernikahan secara Gerejawi khususnya bila didampingi Pastur, maka pernikahan itu akan menjadi kekal. Manusia takkan dapat menceraikannya, hanya Tuhan yang berkuasa akan itu. Dan apabila nanti Masumi ingin menceraikan Shiori ataupun sebaliknya, maka mereka akan berada dalam masalah besar. Karena Gereja takkan mau membatalkannya dan mereka harus memikirkan cara lain yang cukup menyita waktu, pikiran dan juga uang. Yakni mereka harus menghadapi Paus, Pemimpin Utama dari Gereja Roma, dan itu bukanlah hal yang mudah walaupun mereka menyandang nama Hayami dan Takamiya. Sejenak ia mengumpat habis-habisan dalam hatinya dan mengutuk akan nasib hidupnya yang konyol. Namun, ia telah mengatakan selamat tinggal untuk Maya, dan untuk hatinya. Ia kini bukan siapa-siapa, hanyalah alat yang memiliki misi memajukan Daito. Itu saja!

“ Pernikahan akan dilangsungkan tangal 24 Desember dan itu 2 bulan dari sekarang Shiori. Waktumu hanya 2 bulan untuk memperbaiki hatimu. Sedangkan aku, tidak ada lagi yang perlu diperbaiki. Aku berada dalam kondisi mantap untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Dan kuharap kau segera menyusulku, karena aku tak mau kalau nanti aku harus menunggumu sendirian dialtar tanpa tahu kau akan muncul atau tidak. “ jawab Masumi percaya diri.

“ Dan kau bahagia, Masumi? “

“ Absolut! “

Shiori menatap Masumi dalam, mencari kesungguhan disana. Dan ia masih mencarinya. Ia memendekkan jarak antara keduanya dan merasakan nafas Masumi yang berbau tembakau dihidungnya dengan perlahan. Ia pun meredupkan matanya dan mengarahkan bibirnya untuk merasai bibir Masumi yang maskulin dan menggoda.

Shiori mencium Masumi lembut. Dipipi. Shiori menjauhkan badannya dan kembali menatap Masumi yang melihat entah kemana.

“ Masumi, terima kasih untuk waktumu.... Dan pipimu. Kuharap kau tidak lagi memalingkan wajahmu kalau aku akan menciummu. Kau tahu hal itu sangat tidak sopan untuk tunanganmu ini. “

“ Maaf... Aku hanya bersikap spontan.... Aku rasa hal itu tidak bisa kita lakukan sekarang diruanganku, aku takut  kalau-kalau Mizuki membuka pintu itu tanpa lebih dulu mengetuknya. “ Jawab Masumi asal dapat. Dan Shiori kembali menagkap kekalapannya.

“ Dan apakah Mizuki pernah berbuat seceroboh itu, Masumi? “

“ ...... “

“ Kau tak perlu menjawabnya, Masumi... Aku sudah benar-benar mengenal kondisi kantor dan pekerjaanmu. “ Shiori kembali mencondongkan wajahnya, membisikkan kata-kata selanjutnya yang membuat raga Masumi sedikit menegang sebelum meninggalkan ruangan Masumi yang kelabu dan muram.

“ Aku menyukai Heart Of Deep Purple Rose-nya, Masumi..... “

                                           *

“ Yak, cukup dulu latihannya. Maya dan Koji sudah bisa selesai disini, namun bukan berarti boleh pulang, kalian harus membantuku me-review akan apa saja yang sudah kita kembangkan hari ini! “ Teriak Kuronuma dengan pengeras suara yang selalu dibawanya kesana-kemari, seakan benda itu sudah menjadi bagian dari tubuhnya.

“ Aahh... Akhirnyaaa....! “ seru beberapa pemain yang sudah berpeluh keringat membanjiri pori-pori tubuh mereka.

Ruangan yang sebelumnya penuh sesak dengan adegan-adegan peperangan sekarang menjadi lebih tenang. Mereka membuka bekal makan siangnya dengan tujuan memangkas pengeluaran, sedangkan yang lainnya memilih ke kantin terdekat untuk kepraktisannya. Maya dan Koji, seperti biasa berjalan menuju kantin di lantai bawah. Meskipun mereka sudah berpisah baik-baik, namun baik Maya maupun Koji belum mengumumkannya ke publik. Mereka tidak suka apabila kehidupan pribadinya menjadi bulan-bulanan para pemburu berita gosip. Karena tak jarang mereka melebih-lebihkan berita yang ternyata hanya kasus sederhana. Baru saja mereka keluar dari pintu lift dan melewati ruangan dadakan yang berisi puluhan cincin mewah itu, Maya dipanggil seseorang yang bersuara sangat lembut.

“ Maya, selamat siang... “

Maya menoleh kearah suara lembut itu bersamaan dengan menolehnya Koji.

“ Ah, selamat siang, Nona Shiori “ Sapa Maya kembali seraya membungkukkan sedikit tubuh mungilnya.

“ Kalian.... Ingin makan siang bersama? “

“ Iya... Apakah.... Nona mau bergabung dengan kami? “

“ Ng.... Maaf.... Nanti saja selepas kalian makan siang, kurasa aku harus berbicara sedikit denganmu, Maya... Apakah, kau ada waktu untukku? “

Maya dan Koji heran, tidak biasanya Shiori meminta waktu Maya dengan sedemikian formalnya. 
Maya menoleh kearah Koji. Meminta pertimbangannya.

“ Nona Shiori, kalau anda mau berbicara dengan Maya, silahkan saja. Saya sungguh tidak apa-apa... Kebetulan beberapa teman saya tadi mengundang saya untuk makan bersama. Saya akan menyusul mereka kalau begitu.. “ jawab Koji.

Shiori merasa sangat tidak enak. “ Oh, Tidak Sakurakoji.... Aku tidak ingin mengganggu waktu kebersamaan kalian, aku sebaiknya menunggu saja... “.

“ Tidak apa-apa, Nona Shiori. Sungguh!  “ Koji melanjutkan jawabannya dengan ramah.

Akhirnya Shiori merasa tidak terlalu bersalah. Ia membalas senyum Koji dengan hangat. “ Baiklah kalau begitu, aku akan meminjam sebentar kekasihmu. “

Maya merasa tidak enak dan Koji pun ingin segera meluruskannya. “ Kami sudah bukan lagi sepasang kekasih, Nona Shiori. Sekarang ini, Maya sudah lebih seperti adikku. Kami rasa hubungan kami akan lebih baik kalau kami hanyalah sahabat. “

Shiori tercengang mendengarnya. “ Sahabat ? Kalian... Sudah putus?? “

Keduanya mengangguk dan tersenyum tanpa beban. Akhirnya Koji undur diri dari kedua wanita cantik yang berdiri diantaranya. Koji hendak menemui teman-temannya yang tentu saja, hanya sebuah alasan. Koji sebenarnya juga ingin berusaha melepaskan cintanya, namun ia terlalu baik sehingga tak tega membiarkan Maya berjalan sendiri, mengingat pria yang Maya cintai sudah meninggalkannya. Tapi ia pun tak bisa terus-terusan bersikap diam. Ia tak bisa terus memanjakan Maya dan harus membantunya bangkit kembali dari keterpurukan cintanya. Koji menyalakan mesin mobilnya dan memilih kembali ke apartementnya sendiri.

Sementara itu, Maya dan Shiori sudah disebuah cafeteria khusus direksi Daito yang menyajikan makanan bebas lemak. Biar bagaimanapun mereka adalah wanita yang harus menjaga bentuk tubuhnya agar tetap langsing dan Maya tak ingin ia terlihat gendut ditengah-tengah panggung pertunjukkan. Mereka memesan makanannya, beserta puding buah kiwi untuk penutupnya.

“ Bagaimana kabarmu, Maya? Sudah lebih baikkah? “

“ Eh? “

“ Kudengar kau sekarang lebih sering mengunjungi Dokter Akagi. Apakah kau terlalu memforsir kekuatan tubuhmu sendiri, Maya? Jangan terlalu dipaksakan, tidak baik untuk kesehatanmu.. “

Maya tersenyum mendengar kekhawatiran Shiori yang tulus. “ Terima kasih Nona, tapi sungguh, saya tidak apa-apa. Saya memang sering menemui beliau, namun hanya sekedar check-up dan menjaga stamina saya untuk pertunjukkan berikutnya. Ini hanya sebuah rutinitas saja. “

Shiori menyeruput pelan teh hijaunya untuk melegakan tenggorokannya yang kering. Ia tak tahu apakah ia harus menanyakannya kepada Maya, namun keadaan sudah terlanjur mengkondisikan sedemikian rupa, akhirnya ia memberanikan diri dan membusungkan nyali tipisnya yang sekarat.

“ Maya… Apakah, kau sudah bertemu dengan Masumi? “

Maya bukan aktris yang baik sekarang. Bahasa tubuhnya sudah sangat tertebak.

“ I… iya, sudah….. “ Suaranya yang pelan menandakan ketakutan dan ketidak percaya diriannya. Ia sangat ciut didepan Takamiya.

“ Apakah…. Terjadi sesuatu? Maaf… Aku mungkin terdengar sangat lancang, namun…. Hanya jawaban dari mulutmu sendirilah yang mampu meredakan berbagai tanda Tanya dikepalaku saat ini…. “

Maya membenarkan posisi duduknya, ia menggenggam sendiri kedua telapak tangannya, merenggut sedikit taplak meja putih berajut hujau lumut muda yang melapisi beja bundar dan telah dihidangkan berbagai pesanan mereka, kecuali pudingnya. Maya benar-benar ragu apakah ia harus menceritakannya pada calon pengantin pangeran Daito yang terlihat resah dan pucat.

“ Kami… Sudah mengucapkan Sayonara, Nona Shiori… Anda tak perlu khawatirkan lagi kalau aku akan berniat ada diantara kalian. Hal itu… Takkan pernah terjadi….. aku sudah berada pada posisiku yang seharusnya. “

Shiori seharusnya merasa sangat lega, namun mendengar hal itu, ia malah menjadi iba. Hatinya malah menjadi semakin bimbang dan penuh keraguan.

Jadi… Kalian sudah sepakat untuk tidak melanjutkan lagi akan…. Cinta kalian? “

“ Tidak akan, Nona! Percayalah pada saya! Saya sudah berhasil membuat Pak Masumi sendiri yang meninggalkan saya, bukan saya yang meneriakkan kata sayonara itu. Dan sudah terlihat, Pak Masumi… Kini benar-benar murni sebagai atasan saya. Anda bisa tanyakan langsung kepada beberapa teman-teman Theatherku atau malah kepada Pak Kuronuma. “

Spontan tubuh Shiori menegang. “ Apa maksudmu Masumi sendiri yang mengatakannya? “

“ Itu….. “

Apa yang kau bicarakan pada Masumi sehingga ia sendiri yang meninggalkanmu?! “

Maya heran sekaligus takut, mengapa Shiori bukannya memasang wajah lega, namun wajah penuh kegusaran yang Nampak.

“ Saya… Saya mengatakan…. Kalau saya tidak akan pernah bisa mencintai orang yang pernah….. membunuh ibuku….. “ Dan Maya pun menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari kilatan mata Shiori yang meradang.

“ Apa? Kau bilang a.. apa… APA??????? “ Shiori hampir setengah berteriak, membuat beberapa direksi yang lain menolehkan kepalanya menuju mereka.

“ No… Nona Shiori… Pelankan suaramu….. “ Maya panik dan menaruh telunjuknya kebibirnya sendiri.

Shiori langsung menyadari kecerobohannya. “ Ehm.. Maaf…. Aku barusan tidak sopan…. “ Shiori kembali meminum tehnya karena mendengar kata-kata Maya barusan benar-benar membuat perutnya mual dan kepalanya seperti dihantam martil besar. Ia jadi semakin mengerti mata rantai yang ia cari. Jawaban untuk semua perubahan sikap Masumi yang seperti boneka hidup tanpa jiwa, namun enggan untuk meninggalkan perannya.

Jadi karena jawaban gadis inikah, Masumi? Kau sampai membuang nuranimu?? Kau sampai kehilangan…. Kebahagiaanmu???

Mata Shiori berkaca-kaca, menahan hatinya yang sakit untuk sebuah kenyataan yang sama sekali ia tak siap mendengarnya.

“ No.. Nona Shiori, anda tak apa-apa? “ ganti Maya yang mengkhawatirkan Shiori, karena wajah Shiori menjadi terlalu pucat dan membuat lipstick merahnya terlihat mencolok seperti dandanan model Geisha.

“ Aku… Tidak….” Shiori tak mampu meneruskan kata-katanya, karena seisi ruangan cafeteria menjadi perlahan-lahan meninggalkan cahayanya. Ia tak mampu melihat jelas kondisi sekitarnya dan suara teriakan orang-orang menjadi tidak jelas, serasa berada ditengah-tengah danau yang pekat dan dalam. Ingatannya terakhir adalah tangan Maya yang terulur menahan tubuh limbungnya dan ia tak kuat untuk membuka kelopak matanya yang lelah.



Mizuki segera melangkahkan sepasang kaki jenjangnya terburu-buru hingga terantuk sudut kursinya sendiri dan melupakan untuk menyuarakan umpatan. Ia segera membuka pintu ruang kerja Masumi dan melupakan janjinya untuk tidak mengganggu konsentrasi direktur yang akhir-akhir ini sering naik darah.


“ MIZUKI!!!!! “ dentaman keras telapak tangan kokoh Masumi menghentakkan meja dan membuat beberapa barang diatasnya melonjak. “ APA KAU TULI?! ATAU KAU SUDAH MULAI TERJANGKIT WABAH PIKUN?? AKU TIDAK INGIN DIGANGGU SIAPAPUN!!!!! “



Gelegar kemarahan Masumi terasa bagai petir kemurkaan langit kelam. Mizuki sejenak kaget, mengingat ia tak pernah melihat emosi Masumi yang demikian hebatnya melebihi segala amarahnya yang lalu. Ia merapikan jas kerjanya dan high hellsnya yang nyaris patah, lalu berdeham ringan.



 Nona Shiori pingsan di Cafetaria bagian Barat Daya, Pak Masumi… Saya rasa saya wajib memberitahukan ini kepada anda secepatnya…. “


Masumi kaku 3 detik dan mulai menyusun kembali pikirannya.

“ Aku kesana. Tahan semua telepon untukku dan rapat ditunda sekitar 3 jam. Bila tidak memungkinkan, rapat tetap akan dijalankan hari ini, tak peduli jam berapa akan dimulai. Mereka harus menyiapkan mata dan kopi mereka agar tidak tidur lebih cepat hari ini. “

Mizuki membungkukkan tubuhnya, pertanda ia patuh akan perintah bosnya yang lagi-lagi tidak manusiawi. Ia mengekor langkah kaki Masumi yang panjang dan memerintahkan para sekretaris asuhannya untuk mengatasi semua kegilaan Masumi. Mereka menuju lift berkapasitas 20 orang dan menekan tombol. Masumi mungkin sebaiknya berakting khawatir apabila ingin terlihat seperti tunangan yang jatuh cinta daripada memasang wajah datar dingin yang super membosankan. Aura kelamnya tak urung memberinya ruang tersendiri agar orang—bahkan makhluk—lain tidak bersentuhan dengannya. Mizuki hanya bisa pasrah dan meletupkan seucap doa kecil bagi kebahagiaan Masumi.

Sementara itu, ruang cafetaria menjadi sangat ramai. Shiori yang bertubuh lebih besar dan tinggi dari Maya sudah tentu membawa problematika untuk ukuran tubuh Maya yang kecil. Maya berusaha mati-matian menahan kepala Shiori agar tak membentur lantai marmer berukuran 60cm ditiap sisinya. Ia terbantu begitu beberapa pria membantu Maya dari perjuangannya dan melontarkan berbagai pertanyaan yang sekilas memojokkan Maya.

“ Sungguh, aku tak tahu apa yang terjadi pada Nona Shiori! Kami sedang berbincang dan tiba-tiba ia pingsan! “ ucap Maya dengan bibir bergetar menahan air mata ketakutannya.

“ Aku tadi melihat kau membuat Nona Takamiya menjadi gusar bukan? Bahkan Nona yang terkenal anggun dan bertata krama sopan itu sampai memekik ketika tadi bicara denganmu! “ tuduh pengasuh Shiori yang tak pernah jauh dari sisinya dan selalu menggunakan kacamata berujung runcing keatas serta kimono untuk kesehariannya bertugas. Ia memposisikan kepala Shiori tepat didada kanannya, agar tidak terlalu kehilangan kelancaran peredaran darah yg ia butuhkan.

“ Itu tidak benar! Kami hanya... “ kata-kata Maya terputus begitu ia mengingat percakapannya kembali pada Shiori beberapa menit lalu “..... Bicara! “ dan Maya sedikit menggigil mengingatnya.

Apakah karena tadi Nona Shiori mengetahui cara kotorku menjauhi Pak Masumi? Ugh..! seharusnya aku tidak menjelaskan semuanya dengan gamblang begitu saja! Dasar Maya bodoh! BODOH!!!! Umpat hati Maya habis-habisan untuk dirinya sendiri.
“ Kalau kau berbicara dengan topik yang sehat, ia takkan sampai jatuh pingsan seperti ini! Aku mengenalnya sejak ia masih dalam kandungan! Kau memang selalu menyusahkan Nona Takamiya! “ bentak sang pengasuh tanpa ampun.

“ Kami tidak membicarakan hal yang tidak sehat! Kumohon sebaiknya anda menjaga pikiran dan perkataan anda barusan! “

“ Kalau memang begitu, kenapa tadi Nona Shiori terlihat gundah dan ia sampai setengah berteriak? “

“ Itu....” Maya terpojok.

“ Kenapa kau tidak mampu menjawabnya, HAH? KENAPA? APA YANG KAU KATAKAN PADA NONAKU INI?!?!??! “ bentakan sang pengasuh menjadi semakin nyaring. “ KAU SEHARUSNYA----“

“ Permisi, aku harus membawa tunanganku ke Rumah Sakit secepatnya. Mizuki, apakah mobilnya sudah siap? “ seketika Pangeran Muda Daito melesak diantara kerumunan para pengunjung yang telah bersiap membawa Shiori ke ruang perawatan pribadi milik Daito.

“ Semua sudah siap, Pak. Bahkan saya sudah menghubungi Dokter Jefferson untuk standby di UGD. “

“ Baiklah, kalau begitu permisi semuanya “ Dengan sekali angkat ia membopong Shiori yang masih belum meraih kesadarannya.

“ Pak Masumi... Umm... Tadi saya dan Nona Shiori hanya membicara—“

Masumi terus melangkahkan kaki panjangnya dan menjaga Shiori aman dipelukan. “ Maaf permisi, saya kesulitan menuju mobil apabila anda-semua ada didepanku. Tolong beri aku jalan! “

“ Pak Masu..... Mi..... “ mata Maya kembali lebih berkaca-kaca. Masumi mengacuhkannya! Ia seperti tak melihat Maya yang sedang kebingungan dengan situasi tiba-tiba barusan ini. Namun tadi Maya yakin, mata mereka bertemu untuk sesaat. Rasa sakit dan rindu yang kemarin berhasil ia tanam dalam-dalam langsung muncul merangsek tulang-tulang rusuknya sekali hentak. Ia mengaduh dalam hati, dan menahan semua egoismenya mengeruhkan jalan pikiran sehatnya. Ia melihat sosok pria yang dicintainya pergi begitu saja, dengan calon pengantinnya, menjauhi sosok mungil yang akhirnya seneteskan air mata kekalahan. Maya memang dicibir habis-habisan olah pengasuh Shiori yang berada dibelakang Masumi, namun dukungan para pengunjung disana bagi Maya tak putus-putus. Mereka membantu menenangkan emosi Maya yang berjingkrakan hebat dan para wanita berbagi pelukan hangat. Mereka mencintai Maya apa adanya, dan itulah yang dibutuhkan Maya saat ini.

Semuanya.... Terima kasih banyak.... Sebuah senyum terlukis jelas diwajah Maya yang sedang berakting sebaik-baiknya. Ia mati-matian menonjolkannya dan ia seharusnya mendapat penghargaan tinggi bagi bakatnya yang luar biasa guna menipu para penonton serta mengikis dalamnya perih hati.
                                     *



Ruangan UGD seketika menjadi lebih ribut daripada biasanya. Jarang-jarang ada kejadian selebritis yang pingsan dan langsung memancing para pemilik handphone mengarahkan kameranya. Shiori Takamiya-Masumi Hayami adalah gosip panas yang masih sangat diminati para penyantap gosip. Bahkan para perawat yang sedang tidak menangani pasien bisa dengan spontan mengeluarkan kameranya dan langsung berkicau di jejaring sosial.


“ Kami akan memeriksa keseluruhan kondisi Nona Takamiya. Sepertinya tidak seburuk yang kita perkirakan. Saya sudah cukup mengenal nona dan saya memiliki semua track record yang dibutuhkan. Silahkan menunggu diluar, Pak Masumi. ”  Usir Dokter Jefferson dengan sopan. Ia tak suka diawasi ketika ia sedang bekerja menangani pasien. Terutama bila ia menyukai pasiennya.



Sangat.



“ Baiklah. Tolong kabari aku kalau Shiori sudah sadar. Saya akan berada tak jauh dari sini. Terimakasih, Mr. Jefferson... “

“ Richard. Aku ingin kita lebih akrab lagi, Masumi..”

“..... Baiklah, Richard. “ Masumi sedikit tersenyum dan mencari kursi yang telah disediakan Mizuki sedari tadi. Dekat dengan televisi dan minuman kaleng.

Richard kembali mengikuti para perawat untuk masuk keruang perawatan ketika Shiori dipindahkan. Shiori ditempatkan dikamar yang biasa ia gunakan bila kondisinya sangat turun. Para perawat menyiapkan segalanya dan meninggalkan dokter tersebut berdua dengan pasien dengan dalih bahwa Richard bisa mengatasi hal ini sendirian dan mereka diminta mendampingi dokter lain yang membutuhkan tenaga mereka. Ia memeriksa semuanya. Terutama tekanan darahnya.

80/60?

Kenapa bisa serendah ini? Apa sih yang dia siang ini?

Richard menarik kelopak bawah mata Shiori untuk memeriksa warnanya.

Lagi-lagi pucat dan bukannya merah segar.

Mau tak mau Richard menjadi lebih ekstra mengobatinya. Ia menginjeksi sejenis vitamin yang berguna mengembalikan stamina Shiori. Hanya dosis ringan, karena ia lebih suka bila Shiori mendapatkannya dari makanan, bukan suntikan.

“ Richard.....”

Dokter muda itupun menoleh kearah pasien yang menarik-narik ujung jas putihnya.

“ Ada apa denganku...  ughhh..... “ Shiori mencoba bangun namun kepalanya masih terasa seberat batu.

“ Tetaplah tiduran dulu, sebaiknya kau beristirahat hari ini. Besok kau sudah bisa pulang. Tidak parah, namun aku bersumpah kalau tubuhmu butuh perawatan lebih dari biasanya. Apa yang terjadi,Shiori? Apa kau menghindari daftar makanan yang kubuat? Kau tak memakan salah satu dari mereka kan? Kau masih mengidap hipotensi dan Demi Tuhan,Shiori.... Kau— “

Richard tercekat karena secara tiba-tiba Shiori menghambur ke pelukannya.

“ Shiori? “

“ Kumohon biarkan aku begini sebentar, Richard, kumohon..... “
Richard tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun ia bisa menyimpulkan 100% bahwa penyebab sakitnya Shiori tak lebih dari stress berlebihan. Ia membiarkan Shiori membasahi dadanya dengan aliran air mata yang menganak sungai. Richard dengan lembut membelai rambut Shiori yang hitam legam dan panjang terurai.

“ Apa kau sudah lebih tenang sekarang, Shiori? “

Shiori tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan meminta maaf untuk tindakan kurang sopannya. Shiori mendorong pelan bahu Richard dan memberi jarak diantara keduanya.

“ Kurasa aku akan menikahi patung, Richard... Ia memang ada disisiku, namun jiwa dan cintanya melayang entah kemana. Aku membuatnya menjadi monster dikantor karena keegoisanku. Aku merasa menjadi sangat buruk dan tak tahu apa yang harus kulakukan. Aku bimbang, Richard...” Dan Shiori kembali terisak.

Richard mengamati Shiori dengan mata teduh. Ia sangat simpati dengan gadis ini. Ia akhirnya mendengarkan semua yang ada dikepala Shiori dengan gamblang. Mulai dari rencana orang tua kedua belah pihak, pertunangan, hingga tentang Maya Kitajima.

“ Maya... Kitajima??? Bidadari Merah itu???? “

Shiori mengangguk lemah. Ia sudah bisa mengontrol emosinya ketika Richard membantunya tuk mengatur nafas dan memberinya segelas air putih.

“ Masumi mengagumi Maya sejak ia masih berusia 13 tahun, dan ia mendukung selama itu dibalik buket mawar ungu. Dan sekarang ia tak hanya mengaguminya, ia mencintainya jauh sebelum aku hadir ditengah-tengah mereka. Jauh sebelum aku bertunangan dengannya dan mengira ia jatuh cinta kepadaku. Kukira kami adalah sepasang belahan jiwa yang terpisah, tapi ternyata.....” Shiori mengisi dalam-dalam oksigen keparu-parunya “ .... Bukan! Bukan akulah orangnya....”

Richard kembali menangkap sosok lain yang tak asing ditelinganya.
“ Buket mawar ungu? Jadi.... pengagum nomor satu dari Maya Kitajima yang legendaris itu...”

“ Masumi Hayami...”

“ ....... “

Richard hanya bisa membuka sedikit mulutnya. Ia berusaha untuk tetap tenang meski hatinya bergolak keterkejutan yang luar biasa hebat. Tak bisa diperkirakan bagaimana reaksi para wartawan bila kenyataan ini terungkap kepermukaan. Mereka pasti panen besar.

“ Ehm... Begini Shiori.... Apa kau tahu kalah Masumi yang membawamu kemari? Ia membopongmu sendiri ke ruang UGD. Apa kau yakin kalau ia tak mencintaimu seperti apa yang barusan kau tuduhkan barusan? “

“ Masumi... membopongku... sendiri? “ Shiori terkejut sekaligus merona.

Aye... Tapi aku akan berkata jujur, seharusnya aku tak mengatakan hal tadi apabila aku ingin peluangku lebih besar kepadamu. Aku lebih suka ketika kau berasumsi kalau ia hanya berpura-pura bersikap seperti pangeran dongeng yang jatuh cinta. Namun inilah diriku, aku tak bisa bersikap curang. Dan kurasa aku mulai sedikit membenci kebanggaanku yang satu itu. “

Shiori tersenyum dan sedikit terkekeh. Ia merasa sangat terhibur oleh keterus terangan Richard berbicara kepadanya. Ia merasa sangat... Nyaman.

“ Ah, Shiori, sebaiknya aku pergi. Aku akan memanggil Masumi untuk menemuimu. Ia menunggumu sedari tadi di ruang tunggu. Kuharap kau bisa segera menjernihkan segalanya. Bicaralah dengannya. Nanti sore aku akan kemari lagi untuk melihat reaksi obat yang tadi kusuntikkan kepadamu. Permisi... “  Richard berpamitan dan mengambil beberapa kertas data pasien yang tergeletak disamping tempat tidur Shiori.

“ Richard.... Maaf... Kalau kau tak keberatan... Bisakah kau meminta Masumi pulang? Ia ada rapat penting, seharusnya sekarang. Aku tak ingin mengganggu pekerjaannya hanya karena kecerobohanku dalam menjaga kesehatan tubuhku sendiri. Bisakah....? “

“ Shiori, sebaiknya kau sendiri yang memintanya pulang. Akan tidak adil baginya yang sudah bersusah payah membawamu kemari. Aku tidak ingin terlalu terlibat lebih dalam, apalagi ketika aku melihat lamaran Masumi yang begitu romantis ditelevisi beberapa hari yang lalu. “ Richard tersenyum, namun ia bersumpah dalam hati, ia cemburu.

Shiori membulatkan matanya. Ia tak siap mendapati fakta bahwa Richard menonton lamaran konyol dari tunangannya sendiri.

“ Tuan Richard Jefferson..... Apakah kau cemburu pada tunanganku? “

Richard hanya tersenyum tipis dan miris.

“ Kalau begitu, aku benar-benar sangat memohon kepadamu... Tolong minta Masumi untuk menemuiku besok saja. Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya. Saat ini dialah yang menyebabkan aku berada diruangan ini lagi. dan kurasa... Kau pasti tak ingin kalau aku tak bisa beristirahat, bukan? “ pinta Shiori lembut dan berani.

Richard tersenyum lebih lebar lagi. “ Baiklah. Aku akan mengatakan kalau sekarang kau sudah tidur karena pengaruh obat. Aku akan mengijinkan pengasuhmu menungguimu sekarang.

“ Richard.... Ummmm... Bisakah kau minta pengasuhku pulang dan menyiapkan segala keperluanku? Apapun yang kubutuhkan.. “ Shiori terdengar agak kurang yakin. “Dan ia kubutuhkan untuk membantuku makan malam nanti saja. Namun sebelum itu... Kurasa.... Aku ingin lebih mengenalmu... Richard.... “  Ucap Shiori agak terbata-bata dan rona wajahnya terlihat lebih nyata dari sebelumnya.



                                     *

Masumi akhirnya pulang setelah disampaikan oleh Dokter Richard tentang keadaan Shiori yang sudah tertangani. Masih kurang yakin sampai akhirnya ia dikalahkan oleh sederet jadwal kerja yang luar biasa sibuk hingga pukul 11 malam nanti. Mizuki mendampinginya kembali ke kantor dan ia akan kembali ke rumah sakit setelah ia dapat “dilepas” oleh Masumi dengan tugasnya. Sore itupun Shiori bisa menyambut Mizuki dengan hangat hingga membuat Mizuki merasa tidak mengenal watak Shiori yang selalu muram akhir-akhir ini. Iapun melihat keakraban yang tidak biasa antara pasian dengan dokternya. Namun ia tak mau berspekulasi lebih jauh lagi mengingat tanggal pernihakan mereka pun sudah tercetak jelas di beberapa media. Rangkaian bunga lily putih yang dibawa Mizuki memaniskan keadaan mereka bertiga hingga mereka melupakan bahwa ini adalah kamar rumah sakit. Baunya harum. Berhasil sedikit menetralisir mayoritas bau steril khas kesehatan.
Tepat keesokan siangnya, Shiori sudah bisa kembali ke rumah. Penyembuhan yang diberikan Dokter Jefferson memang “obat” yang dibutuhkan Shiori. Ia memiliki semua tawa dan ketenangan. Ia memiliki mata yang teduh serta pelukan yang hangat. Shiori mulai menyukainya. Namun ia masih takut untuk menerima Richard 100% kedalam hatinya karena cincin yang melingkar di jari manisnya masih ada. Semua kegembiraan Shiori menjadi sedikit terusik dengan kehadiran pria dingin betopeng senyum yang tak lain adalah tunangannya sendiri. Aura perbedaan dua pribadi terlihat cukup menyolok. Bagai panas dan dingin yang saling berhadapan. Dan Shiori lebih membutuhkan sesuatu yang hangat bagi jiwanya yang kosong.

“ Shiori, bagaimana kabarmu? Sudah lebih baik? “ Ucap Masumi basa-basi. Ia tadi sempat mendengar tawa renyah Shiori yang meramaikan separuh lorong rumah sakit bersama dengan Mizuki dan Mr.Jefferson.

“…. Baik… Masumi… Aku sudah lebih baik. Terima kasih… “

Formal sekali

Masumi memincingkan sedikit matanya penuh selidik.
Kurasa indra pendengaranku sudah mulai memburuk. Kurasa tadi aku mendengar Shiori tertawa. Tapi… kenapa ia menjadi gugup dan pendiam seperti ini? Apakah karena… kehadiranku???

“Kau mau pulang sekarang? “

“ Se.. Sebentar lagi Masumi. Aku menunggu pengasuhku untuk membawa sedikit perlengkapanku. Kurasa sekitar 20 menit lagi ia sampai disini. Ia masih dalam perjalanan. Kuharap kau tidak keberatan bila kita menunggunya sebentar. Tapi, kalau kau sibuk….”

“ Tidak apa, Shiori. Aku bisa menunggumu selesai berkemas. Tanpa menunggu pengasuhmu pun, aku bisa membantumu mengemasi semua kebutuhanmu dan membawanya kemobil untuk mengantarmu kerumah. Bagaimana? “ Tawar Masumi. Sejujurnya Masumi tidak memiliki waktu cukup banyak untuk menjemput Shiori ke rumah sakit. Namun mandat Sang Jendral harus tetap dilaksanakan.

“ Tapi Masumi.. Aku masih harus menjalani sedikit pemeriksaan lagi…. “

Sekarang alis Masumi yang naik sebelah.

“ Pemeriksaan apa lagi?”

“ Reaksi obat, Pak Masumi. “ Sambung Dokter Richard membela alasan konyol Shiori. “ Obat yang barusan ku injeksi mungkin akan menyebabkan kantuk tak tertahankan. Kemarin bekas injeksi itu juga sedikit meninggalkan noda kebiruan dikulit Shiori. Kurasa kulit Shiori juga sangat sensitif. Aku hanya menghindari beberapa obat yang reaksinya dapat merusak penampilannya juga. Aku juga sudah membahas ini kepada ahli kesehatan kulit. Kau tahu lah… Tapi selebihnya dari itu, tidak ada masalah. Aku hanya perlu memeriksa sedikit tekanan darahnya juga setelah ia meminum obat 30 menit yang lalu “

“ Oh.. Baiklah. Kalau sudah selesai semua, aku akan mengantarmu pulang, Shiori.. “

“ Baiklah, Masumi… Terima kasih… “

Suasana ruangan menjadi senyap. Masumi sedikit heran dengan hawa perubahan yang cukup drastis. Apa yang salah???

Akhirnya kedatangan pengasuh Shiori berhasil memecahkan kesunyian itu 10 menit kemudian. Ia membantu Shiori mengemaskan beberapa barang dan memasukkannya ke kopor yang bisa diseret kapanpun mereka siap. Dokter sedang memeriksa tekanan darahnya dan Mizuki menjelaskan jadwal Masumi beberapa jam kedepan hingga pukul 9 malam. Mereka sedang bernegosiasi dengan waktu dan ternyata masih cukup sulit mendapatkan kata deal. Setelah selesai semuanya, mereka mulai meninggalkan ruangan tempat Shiori bermalam. Para petugas kebersihan langsung memasukinya dan membereskan serta sterilisasi ruangan guna berjaga-jaga untuk kedatangan Shiori lagi. Ruangan itu sudah dibeli permanen sejak Shiori berumur 14 tahun. Usia yang sangat muda untuk sering berbaring ditempat tidur rumah sakit. Shiori mengamati sebentar dan tersenyum tipis kearah Richard dibelakang Masumi. Begitu juga ketika Shiori masuk ke mobil Masumi, Richard menyempatkan diri untuk mengantar mereka sampai pintu tempat parker. Mizuki kembali melihatnya dan sekarang ia telah yakin satu hal. Posisi Pak Masumi selaku pengantin pria bisa jadi hanya mimpi belaka kelak.

Seminggu sudah tragedi café itu terjadi dan sayup-sayup udara pergunjingan tentang Maya dan Shiori makin meredup. Beberapa meluruskan kalau memang Maya hanya sedang makan bersama Shiori siang itu dan beberapa orang yang tidak menyukainya—tentu saja—menyebarkan berita yang aneh-aneh. Mulai dari  cara Maya yang ingin mempengaruhi Shiori agak kontraknya dengan Daito dijadikan permanen sampai gosip yang cukup memukul kuat jantung Maya, ia mengaku mencintai Pak Masumi dan membuat Shiori kehilangan kesadaran saking syoknya. Adegan kucing-anjing yang dulu sering mereka pertontonkan ke para karyawan Daito tentu saja menimbulkan iri yang tidak sedikit dikalangan karyawan wanita yang sudah tentu ingin mendapatkan perhatian serupa dari Masumi, meski itu harus menjadi sebuah pertempuran, paling tidak mereka ingin melihat tawa bos mereka yang sangat pelit diedarkan. Maya pernah mencuri tawa itu dan mereka semua berharap besar akan mendapat posisi itu suat hari nanti.

Sama seperti hari-hari neraka sebelumnya, kemarin Masumi kembali memecat kepala hotel milik Daito yang baru didirikan 2 tahun lalu dengan alasan yang cukup menyakitkan… ada 1 ekor lalat hijau di ruang restoran tempat Masumi menjamu para client. Meski para client tersebut meminta Masumi untuk tidak terlalu keras, tapi sepertinya Tirani Masumi tidak tergoyahkan. Terbukti dengan dilayangkannya surat keputusan Masumi memecat kepala hotel tersebut 10 menit kemudian. Hal ini cukup membuat bulu kuduk merinding dan semua orang yang bekerja sama dengannya menjadi lebih menghargai tingkat keprofesionalisme daya kerjanya yang amat sangat disiplin. Atau lebih tepatnya ekstrem!

Para karyawan lebih sering menunduk dalam-dalam ketika Masumi melewati meja mereka. Mereka juga selalu merapikan meja mereka karena direktur muda mereka pasti akan mencari-cari kesalahan. Baru saja ia mencolek sedikit meja sekretaris yang baru saja mengganti posisi nona Takeda dan menemukan sedikit serpihan penghapus dijemarinya.

“ Kalau kau tak ingin berada dalam barisan perampingan karyawan, kau bersihkan meja kotormu ini! Aku tak ingin gedung tempatku bekerja diisi oleh orang-orang yang tak becus menjaga kebersihan mejanya sendiri!!! “

Serentak para karyawan memeriksa kondisi meja mereka dan mengeluarkan tissue—bahkan sapu tangan karena ada yang tidak menyediakan tissue—untuk membersihkan meja hingga kursi mereka sendiri. Setelah puas memaki beberapa karyawan, barulah ia masuk ruangannya sendiri. Mizuki melihat neraka ini menjadi lebih parah setiap harinya. Para karyawan jadi lebih murung dan hanya bekerja tanpa jiwa. Mereka jadi tidak menikmati apa yang dihadapan matanya dan senyum pun menjadi langka. 3 hari lalu ia berhasil menggagalkan usaha seorang karyawan yang hendak melompat dari atap gedung karena tidak tahan dengan perlakuan Masumi yang diktator. Setelah mendapatkan ketenangan, akhirnya karyawan tersebut mengundurkan diri. Dan Masumi cukup senang, karena Daito tak ingin memberi uang pesangon kepada karyawan yang mengundurkan diri . Pemecatan karyawan akhir-akhir ini cukup menguras kas Daito hanya untuk pos pesangon. Dan Masumi sepertinya memiliki jalan keluar efektif supaya karyawan itu mundur dengan sendirinya.

Mizuki cukup mengenal direkturnya dan ia menemukan sedikit cara untuk mengubahnya. Dan ia berani menempuh cara itu meski resikonya adalah neraka yang lebih besar lagi. Namun ia berharap, Taman Surgawilah yang akan diraihnya, dan ia akan menemukan kembali senyum dan canda tawa rekan kerjanya. Mizuki mengetuk pintu Masumi dan membukanya begitu ijin dari Masumi meluncur.

Maya… bantulah aku…

“ Pak Masumi, jadwal anda hari ini akan kembali padat hingga pukul 10 malam. Sebelum memulai Rapat dewan yang akan dimulai jam 1 setelah jam makan siang, bapak harus memeriksa 14 proposal dari station tv dan beberapa sutradara. Dilanjutkan dengan pertemuan para investor diruangan ini pukul 3. Setelah itu…. “

“ Mizuki, aku sedang membaca sendiri jadwalku, terima kasih. ”

Dan ruangan kembali senyap. Kantung mata Masumi menjadi lebih pekat dari sebelumnya. Ia terlalu meneggelamkan otaknya ke tumpukan dokumen dan rapat rapat dan rapat lagi dari hari ke hari. Makan tidak teratur dan hanya berpak-pak batang rokok serta minuman keras yang menghiasi meja makannya. Batin Mizuki terdesak.

Lebih baik bunuh diri sekalian daripada hidup konyol seperti ini.

“ Akhir-akhir ini banyak karyawan yang mengundurkan diri, Pak Masumi… “

“ Mereka bodoh. Itu saja.. “

“.. Pak…? “

“  Problem??? “

Akhirnya Mizuki tak mampu berkata-kata lagi. Percuma bicara dengan manusia atau makhluk yang diukir sedemikian tampannya tapi dia menulikan sendiri indra pendengarannya.

Sepertinya belakangan ini Maya tampaknya tidak sesehat penampilannya, Pak Masumi.. “ ucap Mizuki sedikit berdeham. Dan dehamannya itu membuahkan hasil setimpal.

Bunyi derik kertas yang sedari tadi diusik jemari Masumi terdiam.“ Oh, bagaimana keadaannya sekarang? Bukankah dia seharusnya menjaga kesehatannya untuk pertunjukkan bulan depan di Gedung Yamato? “ Masumi menjawab dengan tetap menatap kertas-kertas dokumen ditangannya, tanpa membaca dengan pasti huruf apa saja yang tertera disana.

Mizuki tersenyum puas namun ditahannya mati-matian. Ia sudah mencium sedikit aroma kemenangan. “ Buruk! Sejak kejadian di cafe seminggu yang lalu, ditambah tidak adanya konfirmasi langsung dari pihak Nona Shiori, situasi Nona Maya menjadi tambah menguntungkan Daito. Beritanya cukup menaikkan oplah penjualah dari segi media cetak. Aku tidak akan perduli pada aktris-aktor atau siapapun yang suka membuat ulah dan lebih mengandalkan skandal untuk menaikkan pamor mereka ketimbang prestasinya, namun saya sangat yakin, Maya bukanlah type gadis macam itu. Ia mati-matian mencintai akting dan takkan dapat hidup tanpanya. Aku tidak cukup bisa terima jikalau kekurangan Maya terlalu dibesar-besarkan.“

Masumi akhirnya mengangkat dagunya yang persegi dan tegas, menatap Mizuki dalam-dalam dengan wajah khawatir tak terlukis.

“ Dalam seminggu ini, Maya sudah 2 kali ke Dokter Akagi, yang kebetulan penggemar berat Nona Maya. Meski usia sudah mulai menggerogoti penampilannya, namun ia takkan malu-malu meminta Maya berfoto bersama dengannya. Begitu juga dengan Maya, ia sama sekali tak keberatan dengan permintaan sang dokter yang terbilang cukup berlebihan. Maksud saya, apasih yang menarik dari foto bersama pria tua yang menggunakan cosplay Steward??? “ Mizuki tak dapat menahan cekikiannya “ Jangan katakan kalau Maya mengira... Dokter Akagi adalah si Mawar Ungunya...”

Masumi pun seperti ikan yang tersangkut sang kail tanpa sadar. Gebrakan kepalan tangannya dimeja sudah cukup membuktikan seberapa cemburu dan tidak terimanya dia yang sudah menunggu sekian lama untuk menunggu kedewasaan Maya merekah dan sekarang sepertinya dokter berbau tanah yang super genit itu ingin menyerobot posisinya.

“ Konyol! Maya takkan pernah memiliki bayangan konyol semacam itu! Dia— “

“ Dia tidak mengetahui identitas asli si Mawar Ungu, Pak Masumi.. Kuharap anda tidak melupakan point penting tersebut. “ Mizuki benar-benar menebar jalanya selebar-lebarnya kali ini, berharap hiu pembunuh didepannya dapat terjaring dengan sangat mudah tanpa perlawanan berarti.

“ jadwalku selesai jam berapa? “

“ Jam 10 malam ini, Pak Masumi... Maaf, ada yang bisa saya bantu? “

Masumi menggerutu hebat. Ia sungguh muak dengan pola jadwal kerja yang mencekiknya setiap hari dan seakan ia tak memiliki oksigen cukup untuk mengisi paru-parunya sendiri.

“ Maya juga akhir-akhir ini lebih suka tidur di ruang istirahat pemain, terletak disamping ruang ganti pemain Bidadari Merah. Disana ia dapat berlindung sepuasnya dari kerakusan para wartawan berita gosip yang suka melebih-lebihkan itu. “ kembali profokasi Mizuki meluncur deras ke hati nurani Masumi.

“ Ruang istirahat? Ayolah Mizuki, bagaimana dengan apartement yang kusediakan untuk Maya kemarin? Apa dia tidak merasa lebih nyaman disana?? “

“ Maaf, setahu saya, ia hanya ingin memperuncing talentanya. Itu saja alasan logis yang bisa kuterima. “

“ Tapi disana hanya ada tempat tidur standart berbaring sejenak, dan bukannya untuk bermalam beberapa hati! Kau harusnya lebih cepat memberitahu hal ini kepadaku, Mizuki! “

“ Saya mohon tanyakan hal tersebut kepada aktris anda, Pak Masumi. Karena ia memiliki kepala yang lebih keras dari batu karang. Aku tak tahu kata-kata atau benda apa yang mampu meruntuhkannya, bahkan bujukan Sakurakoji pun tak digubrisnya sama sekali. “

Sakurakoji.....

“ Mizuki, apakah jadwalku tidak bisa dipersingkat lagi ?’ Masumi akhirnya bernegosiasi kembali untuk meluruskan otaknya yang sejenak berbelok arah.

“ Maafkan saya, Pak Masumi. Jadwal ini sudah harga mati. Kumohon jangan membuat saya merubahnya karena pertemuan ini saja sudah saya susun 3 bulan sebelumnya. Dan ini sangat sempurna! Tapi saya hanya mampu memberikan penawaran yang saya yakin, anda takkan mampu menolaknya.” Mizuki mengerling sedikit kepada atasannya yang seakan-akan dapat terbunuh oleh rasa penasaran.

Batin Masumi tergelak. Sekarang aku seperti memiliki 2 buah batu karang di kantor Daito...

“ Dan, apakah itu...? “

“ Saya mampu meracaukan CCTV yang ada di seluruh ruangan tempat Bidadari Merah. Saya buakn mengatakan kalau saya profesional dibidang ini, hanya saja kebetulan saya mengetahuinya.

Masumi menaikkan 1 alisnya dn berkata dengan kepercayaan diri yang masih tersenggal. “ Kalau begitu, aku memohon bantuanmu, Mizuki “

Dan disinilah Mizuki, memenangkan piala kemenangan serta lampu sorot khayalan yang hanya kearahnya. Ia tersenyum lebar dan mulai membereskan semua hal bagi Masumi dan Maya sejenak ia keluar dari kantor Masumi. Ia hanya bisa berdoa agar piala ini tidak cepat kusam dan berkarat.

                    *

Ruangan tempat Kuronuma menempa bakat para aktris dan aktor itupun akhirnya lenggang. Seperti biasa, Maya tidak diijinkan untuk ikut membersihkan ruangan oleh cleaning service yang mengidolakannya dan bersumpah untuk tutup mulut tentang kebiasaan Maya yang baru tentang pindah tempat tidur. Maya selalu mengatakan kalau ia datang lebih awal dari biasanya kepada para pemain. Yang mengetahui keadaan asli Maya hanyalah Rei, Sakurakoji dan Kuronuma sendiri. Dengan iming-iming ia akan memberikan pertunjukkan yang lebih dan lebih spektakuler di penampilan berikutnya cukup membuat telinga Kuronuma kenyang. Ia sendiri menyerah kepada niatan Maya, hanya pesan untuk menjaga kesehatan, menjaga diri dan embel-embel lainnya yang rutin ia lontarkan sebelum meninggalkan aula latihan. Ia menyayangi Maya seperti anak perempuannya dan sangat percaya kepada cara Maya melatih dirinya sendiri. Bu Mayuko sendiri sudah benar-benar menyerahkan hal ini kepada Kuronuma dan kepada Maya sendiri tentunya.

Setelah semua pembersihan selesai, petugas kebersihan itupun mengundurkan diri. Tak lupa Maya mengunci pintu penghubung aula latihan dan ruang istirahat. Ia benar-benar tak ingin diganggu siapapun ketika ia lelah. Maya sudah membersihkan diri di kamar mandi sempit yang sebenarnya bukanlah kamar mandi yang mewah, namun sangat bersih dan mereka selalu menjamin kesediaan air hangat. Ia memakai yukata berbahan katun lembut dan berwarna ungu dalam, bercorak semburat bunga lavender muda serta putik yang beterbangan. Ia melangkahkan kakinya dengan gontai dan berbaring ketempat tidur berkasur busa tipis yang terbaring dilantai dengan ukurannya lumayan lebar bagi tubuh mungil Maya. 180cm x 180cm dan dilapisi seprai putih yang juga berbahan katun. Petugas tadi baru saja menggantinya dengan yang baru dan harumnya kain baru dicuci telah membuai tubuh Maya yang asyik bergelung diatasnya.

Ia memandang langit-langit yang cukup jauh darinya. Dua lampu tidur yang berbentuk lampion kotak menerangi ruangan dari dua sudut yang berlawanan dan ia membelinya 5 hari yang lalu sejak ia memutuskan untuk pindah sementara disini. Ruangannya cenderung kosong. Tak banyak perabotan, hanya tempat tidur dan lemari kecil tempat ia menimpan 4 pasang baju yang baru ia beli.
Sakit hatinya akan gosip-gosip tak sedap antara ia dan Shiori seminggu yang lalu masih membekas dihatinya. Ia masih jengah ketika Masumi tidak menyadari kehadirannya. Atau ia memang sengaja tak mau melihatnya? Entahlah… Yang pasti perlakuan Masumi kemarin cukup membuat Maya semakin menyadari posisinya. Ia hanyalah orang ketiga. Dan ia tak ingin dicap perusak pertunangan orang. Tak terasa air matanya tergenang, memburamkan penglihatannya dan mengalir perlahan kearah pelipis.

Ia masih mencintai Masumi Hayami.

Ia masih tak bisa menghapus sosok Masumi Hayami.

Dan ia sepertinya tak ingin Masumi Hayami menjadi milik orang lain, namun siapalah dia…

Maya menutup matanya erat-erat. Menggosok kuat-kuat air matanya yang sulit mengkonfirmasi perintah dari otaknya untuk menyuruhnya berhenti menghabiskan berapa tetes mineral tubuhnya yang berharga. Ia benci bila pagi-pagi memandang cermin, karena mata bengkak yang selalu tampak nomer satu disana. Dan alasan bergadang sepertinya sudah terlalu basi untuk disuguhkan ke teman-temannya.

Ia menggerak-gerakkan tubuhnya, menggeliat dan menarik kedua tangannya keatas kepalanya bersamaan. Ia masih menutup matanya, entah sudah berapa lama. Rambutnya yang sedikit basah diujung berkilat-kilat memantulkan cahaya lampion yang temaram. Yukata yang diikatnya dengan asal-asalan sedikit menunjukkan sisi kedewasaan Maya yang telah merekah. Dadanya sudah tidak sedatar dulu. Dan renda pakaian dalam Maya yang manis sedikit menyeruak melebihi kain yukatanya. Kaki Maya yang diangkat 60 derajat secara bergantian ikut memporak porandakan kerapiannya. Ia disarankan beberapa temannya untuk berolahraga ringan supaya kakinya tetap ramping. Ia bahkan menyenderkan kedua kakinya ketembok, membentuk segitiga bersudut sekitar 60 derajat juga, sama seperti ia tadi mengangkat kakinya. Biar bagaimanapun, penampilan adalah hal yang juga dijual para aktris. Maya menyadari kalau kakinya sama sekali tidak panjang. Karena itu ia selalu menjaga kerampingan kaki dan betisnya. Ia tak ingin menjadi gendut dan pendek, bahkan menjadi mungil kuadrat. Bahkan proses pelaseran ke akar-akar bulu halus yang tumbuh diarea kaki, tangan dan area lainnya yang tidak diinginkan kaum wanita pun dijalankannya. Ia sangat menyadari penampilannya dan ingin lebih baik lagi.

Ia ingin Masumi melihatnya tambah cantik.

Ia selalu bermimpi kalau Masumi bisa memandangnya sebagai sosok wanita dewasa yang matang, yang mampu menjaga kesehatannya, yang mampu menempa bakatnya, dan juga…. Yang mampu memuaskan indra penglihatannya.

Hati kecilnya mengatakan kalau ia juga tidak kalah cantik dari tunangan direktur muda itu. Meski ia bertubuh lebih pendek, lebih polos dan tidak terlalu cantik, namun ia memiliki sesuatu yang dijunjung banyak orang. Ia memang menuai banyak pujian, namun sepertinya hanya kuat diarea bakat dan pekerjaannya. Kalau dari segi kecantikan, mungkin hanya ibunya lah yang akan mengatakan ia adalah wanita tercantik didunia. Itupun kalau ibunya sekarang masih hidup. Ia memang cantik, tapi bukan fisik. Itulah hal yang selalu membesarkan hati Maya ketika ia berhadapan dengan wanita-wanita anggun lain yang berbalut busana super mahal di pesta dansa atau acara-acara penghargaan bergengsi.

Posisi tubuh Maya masih dalam kondisi lucu-lucunya. Ia akhirnya menurunkan kakinya perlahan ketika dikira-kira sudah 15 menit berlalu dengan lamunannya yang masih juga konyol. Kedua kakinya menekuk, sedikit menyentuh ujung batal dan rok yukatanya tertarik cukup tinggi serta memperlihatkan kedua kaki mungilnya yang ramping. Ia menggeliatkan lagi tubuhnya dan mengerang halus. Menaikkan tulang punggungnya melengkung keatas dan membusungkan dada perawannya yang malu-malu tersembul sedikit.

Klik.

Seketika mata Maya terbuka dan menoleh kearah pintu yang ia yakin telah dikuncinya sebelum ia masuk tadi. Ia masih terpaku dengan posisinya yang cukup membuat keringat para kaum Adam bercucuran. Mulut Maya ternganga dan berusaha mengumpulkan penglihatannya yang tadi diburamkan sekelompok butiran air mata.

“ Selamat malam, Maya. Maaf aku bertindak lancang masuk begitu saja tanpa menunggu ijinmu. “

Mata Maya mengerjap-ngerjap tak percaya. Ia spontan langsung membangkitkan badan dan terduduk dengan kaki terlipat, melupakan semua kelelahan yang sedari tadi menerjangnya.

“… Kau… Semakin cantik, Maya… Dan kau…. Ternyata sudah lebih dewasa dari yang kuperkirakan ya? “

Kata-kata pria yang tinggi menjulang dihadapannya menyadarkan kondisi Maya yang acak-acakan. Kain yukata bahu kanannya melorot parah hingga pinggang dan roknya tersikap, memperlihatkan hampir seluruh kaki mungilnya yang terlipat sedari tadi. Buru-buru ia membereskan pakaiannya dengan kasar dan menaruh bantal panjang didepan tubuhnya sebagai tameng.

“ Tak perlu terburu-buru, Maya. Aku hanya ingin bicara sedikit denganmu. Itu saja..” ucap pria itu tenang. Setenang danau yang sama sekali tak beriak.

“ A… Apa yang ingin anda bicarakan dengan saya malam-malam begini… Pak Masumi…” jawab Maya sedikit terputus didua kata terakhir. Ketika ia menyebut nama pria yang selalu memenuhi otaknya akhir-akhir ini.

“ Aku merindukanmu. “


Dunia Maya seakan-akan runtuh seketika dan ia bagai langsung tersiram air es yang membekukan dengan cepat. Mata coklat gelapnya makin membulat, melebarkan pupilnya kuat-kuat.

“ Ap... Apa maksud anda, Pak Masumi... Anda sudah bertunangan dan... Akan menikah 2 bulan lagi... “

“ Terima kasih untuk mengingatkanku pada pernikahan terkutukku. “

“ Ma... Maksud anda? Terkutuk??? “ Maya merasa agak marah melihat Masumi mendeskripsikan kehidupannya kelak. Apa sih yang dipikirkan otak dari Masumi Hayami ini?

“ Terkutuk...” Masumi melangkahkan kaki panjangnya kearah Maya perlahan dan mantap, menimbulkan sedikit hentakan dilantai kayu mahogni tua yang sedikit memudar warnanya. “ Karena aku tidak mencintainya. Kau tahu sendiri siapa yang aku cintai, Maya... Dan terkutuklah aku lagi, karena wanita itu menolakku mentah-mentah atas dosa masa laluku yang tak terampuni. “ ucap Masumi menahan amarah.

Maya semakin mundur, menjauhi tubuh kokoh Masumi yang memabukkan dan berbau tembakau. Dorongan kakinya terhenti manakala tubuh mungilnya sudah tertahan kuat oleh dinding ber-wallpaper hijau muda bersiluet bambu jepang berdaun runcing.

“ Kenapa, Maya? Kau takut padaku? Kau pikir aku akan melakukan hal yang tidak patut kepadamu? “

“ Ti... tidak! Tentu saja tidak, Pak Masumi... Kenapa aku harus takut padamu? Kau kan akan menjadi suami dari Nona Shiori sebentar lagi.. “ Maya terkekeh ringan. “ Dan anda akan bahagia. Anda akan melupakan kata-kata terkutuk ketika anda mengenal lebih jauh akan Nona Shiori. “

“ Kenapa dari tadi kau terus-terusan menyangkutkan nama Shiori ketika kita sedang berdua, Maya? Kutanya sekali lagi, apa kau takut padaku? “ goda Masumi dan masih berdiri di sudut tempat tidur Maya.

Wajah Maya merah padam, berusaha mati-matian perasaan aneh yang berdesir dihatinya. Ia tak tahu pasti, rasa takut itu ada, tapi ia tak memungkiri ada rasa bahagia yang membuncah, rasa rindu, rasa ingin memeluk... Dan merasakan lagi bibir Masumi yang tegas itu....
Maya menggeleng kuat-kuat kepalanya. Berusaha mengusir pikiran hormonalnya yang menyerang benteng pertahanannya.

“ Begitu ya? Terima kasih untuk tak takut padaku. Kalau begitu.... “ Masumi merebahkan tubuhnya yang panjang dan mendominasi kasur Maya hampir separuhnya dan mengunci Maya yang kebingungan di dinding. “ Kalau begitu, aku ingin istirahat sebentar disini. Kau tak keberatan? “

“ Pak.. Pak... Paaak Masumii... Di Daito ini banyak sekali ruang istirahat yang jauh lebih bagus dan mewah daripada disini. Lagipula.. Ini adalah wilayah privasiku.. “ cerocos Maya dengan rasa gugup yang menjalar, suaranya terdengar bergetar.

“ Karena ini adalah daerah privasimu, Maya... Bukankah itu menjadikan ruangan yang bagus dan mewah? Siapa yang akan menolak berada diruangan yang sama dengan Bidadari Merah? “

“ Pak Masumi, aku yakin sekali ruangan sekitar sini diawasi oleh CCTV. Anda takkan bertindak yang aneh-aneh disini bukan? Kalau hanya ingin bicara, kita bisa bicara diluar, bukan didalam kamar temaram dan kita hanya berdua. Dan kalau aku tidak salah mendengar, anda mengunci pintu yang aku sangat yakin, sudah kukunci sendiri.. “ sindir Maya halus.

“ Bukankah sudah jelas, Maya? Akulah pemilik gedung ini. Tak jadi soal bagaimana caraku mengakali CCTV dan pintu kamar ini. “ Masumi mendorong tubuhnya lebih mendekat ke Maya dengan angkuh. “ Aku ingin menemuimu. Aku menjilat kembali ludah sayonaraku untuk melepas rinduku. Persetan dengan semua itu kalau aku tahu bahwa aku benar-benar tak bisa melupakanmu sedetikpun! “

“ Tu.. Tunggu dulu, Pak Masumi! Aku juga sudah memiliki kekasih! Kami... Kami... Akan menikah juga... Tak lama setelah anda menikah!!! “ seru Maya sembari mendorong bantal pertahanannya kearah Masumi. Berbohong.
Gerak tubuh Masumi terhenti. Ia bangkit terduduk dan masih mengisi kepalanya dengan kenyataan barusan.

“ Menikah... Dengan Sakurakoji? Setelah aku??!!!?!? “

Masumi mengambil paksa bantal yang menghalangi mereka berdua dan menghempaskannya kelantai dengan kasar.

“ APA MAKSUDMU MENIKAH DENGAN KOJI?!?!?!!!?”

Maya terhentak. Ia kaget bukan kepalang melihat amarah Masumi yang meledak.


“ Tapi… Bukankah itu adalah hal yang wajar, Pak Masumi? Ketika sepasang kekasih berpacaran, kemudian mereka bertunangan, sudah layak kalau mereka menuju pernikahan? Bahkan…. “ Maya menggigit bibirnya dengan sedikit ketara “ …. Banyak orang yang mengharapkan kami dapat menjadi sepasang… suami istri… Sama seperti Pak Masumi dan Nona Shiori.. “. Maya menoleh kesamping dan menunduk dalam.

Bukan… Bukan hal bohong seperti ini yang ingin kuutarakan. Tapi…. Tapi….

Ucapan Maya barusan bagaikan petir di siang bolong bagi otak Masumi yang tadi sempat lumpuh beberapa saat, menyadarkan kalau gadisnya akan dimiliki pria lain. Ia tidak terima. Tapi ia pun disadarkan oleh kenyataan dirinya sendiri yang berada dalam posisi yang dideskripsikan sempurna oleh Maya. Ingin rasanya ia meninju tembok beton disampingnya hingga tembus atau melakukan hal paling brutal yang tak pernah dipikirkan otak jernihnya.

“…. Aku memang melamarnya, Maya… Tapi percayakan kau? Aku tidak mencintainya. Aku masih mencintaimu dan kau pun tahu apa yang kulakukan disini kalau bukan rasa hausku akan perhatianmu? Tak perlu perhatianmu, cukup mengetahui kau ada disatu atap gedung yang sama denganku, sudah cukup membuatku lebih hidup dan lebih mengerti apa itu arti cinta kasih. Aku… Sangat membutuhkanmu disisiku, Maya… Lebih dari apapun…. “. Masumi menelan ludahnya, membasahi kerongkongannya yang tercekat dan perih. “ Belum terlambat untuk memperjuangkan cintaku, Maya. Akhir-akhir ini aku sudah hidup seperti orang gila yang mungkin sudah menumpuk jutaan sumpah serapah dari para karyawan dan para pengusaha yang kusingkirkan. Aku sangat ingin mengakhiri hidup seperti itu, Maya. Aku membutuhkan kembali nuraniku yang ada ketika kau tersenyum padaku. Aku ingin bisa memimpin pekerjaanku dengan kehadiranmu disisiku, sedekat ini… “ Masumi mendekatkan tubuh jangkungnya ke tubuh ringkih Maya yang menciut di dinding. “ Dan aku ingin lebih bisa merasai hidupku yang sialan ini… Dengan kehangatan tubuhmu.. “ Masumi lebih merapatkan tubuhnya ke tubuh Maya, membuka kungkungan lengan Maya hingga ia bisa mendekap erat tubuh Maya yang bergetar. “ Dan kerinduanku akan bibirmu yang manis… “.

Dan saat itu waktu seakan berhenti bagi Maya.

Ia seperti orang lumpuh yang bahkan untuk mengedip pun tak bisa, ketika bibir maskulin Masumi menyapu lembut bibir Maya yang lembut. Maya ingin sekali berontak, otaknya mengirimkan jutaan perintah namun hatinya sudah tercuci otak oleh serangan hasrat seorang Masumi. Ia tak berdaya.

Kecupan-kecupan ringan Masumi sepertinya tak cukup memuaskan rasa haus yang luar biasa dalam perutnya yang terlatih dan berotot. Ia menginginkan lebih. Perlahan tapi pasti, Masumi berusaha menerobos mulut Maya yang berusaha menarik oksigen dengan lidahnya. Ia mengecapnya dan bermain-main didalamnya.

“ Maya…. Maya…. “ desah hasrat Masumi yang mulai membuncah namun masih sedikit ditahannya. “ Kau….. Mmmh…. Manis sekali, Maya…. “ Dan ia kembali mengulum bibir Maya hingga merobohkan tubuh mungil Maya kekasur empuk yang wangi.

“ Pak… Pak… Akhhh….. “ sepertinya kosakata Maya juga sudah berpendar entah kemana, karena erangan Maya hanya membius Masumi untuk mencandunya lebih parah lagi.

Masumi menjadi kehilangan akal sehatnya. Berkali-kali juga otaknya membunyikan alarm peringatan dengan bunyi terkerasnya, namun Masumi yang ini sudah menjadi tuli rupanya. Ia terus-terusan mendesak Maya lebih dalam. Tak perduli betapa berat tubuhnya yang menindih ketat tubuh Maya. Tangannya menjadi lebih liar. Pertama ia menangkup kedua pipi Maya yang lembut, tapi sekarang kedua telapak itu menjelajah dengan kesepuluh jarinya, memuaskan indra perasanya yang terbenam dikelebatan rambut Maya yang hitam, dibahu Maya yang mungil, di pinggang dan punggung Maya untuk lebih merapatkan tubuh mereka yang terbakar hasrat sepasang manusia dewasa.

“ Ngghhh…… Khhh…. Pa… Pak.. Masumiiii…. “ Maya berusaha keras mengendalikan dominanisasi tubuh Masumi diatasnya. “ Ku… Mohon….. Stop….. Kita tidak boleh… Akhh…. “ Masumi mengendus ringan leher Maya dan menjilatinya perlahan. “ 
….Khh… Kita…. Akkhh….. “ Dan kata-kata Maya tetap menjadi rancu artinya. Masumi benar-benar ahli membuat Maya yang ceroboh menjadi lebih parah lagi. Kacau! Tapi ia menyukainya dan apabila syarat memiliki Maya berarti ia menjadi iblis terkutuk, maka ia akan menjadi makhluk penghuni neraka tersebut.

“ Maafkan aku, Maya… Aku… Terlalu merindukanmu…. “. 

Remasan telapak tangan Masumi di area dada Maya menyadarkan kembali semua janji Maya kepada Shiori. Kedua mata Maya membelalak dan mulutnya megap-megap. Ia mengeluarkan semua kekuatan tangan ringkihnya untuk mendorong kuat-kuat tubuh Masumi yang berat dan tentu saja, tak bergeming sedikitpun dari posisinya.

“ Pak… Pak Masumi!! Kumohon hentikan!!!! Aku memiliki Sakurakoji! Dan anda memiliki Nona Shiori! Kita tidak sepantasnya melalukan ini!!!! “

Kedua mata Masumi menajam geram. Urat pipinya menegang dan keras. Ia mengerang dalam-dalam menahan emosinya yang sedari tadi ditahannya. “ MAYA!!!! Ya Tuhan, Mayaaaa….!!!! “ Ia meninju kasur kuat-kuat tak jauh dari sisi tubuh Maya. “ AKU MENCINTAIMU! MENGINGINKANMU!!! SETENGAH MATI AKU MENGUCAPKAN SAYONARA PADAMU DIDEPAN KOJI!!! DAN KINI AKU MENJILAT KEMBALI LUDAHKU SENDIRI DAN KAU… KAUUU?!!!!?? “ . Masumi menegakkan tubuhnya dan mengacak-ngacak rambutnya kesegala arah dengan gerakan super frustasi, namun tetap mengurung tubuh Maya diantara kedua pahanya yang terlipat menduduki Maya.

Maya merasa takut, ia tak menyangka kalau Masumi Hayami yang terkenal berwatak dingin dan mampu meredam semua emosinya tampak begitu berantakan dan kacau didepannya… Dan diatas tubuhnya untuk lebih tepatnya.

“ Pak… Tolong menyingkir dari atas saya… Tubuh anda terlalu berat untuk ukuran saya. “ Maya berucap mantap dengan dibuat-buat, menyamarkan getaran-getaran grogi yang kuat ditiap hurufnya dengan perlahan. Dengan penuh bakat ia menutupi semua gelora emosi tanpa cela. Dan Masumi terlalu sibuk untuk meneliti akting Maya dengan pikirannya sendiri.

Masumi masih menggenggam erat kedua sisi rambut lebatnya dan mengerjapkan matanya. Helaan nafas Masumi yang panjang terhembus. Ia mengurut keningnya dan menepuk sedikit kuat pipinya—atau sedikit menamparnya?—sepertinya memang itu yang ia butuhkan sekarang. “ Maaf, Maya…. Maafkan kelancanganku… “. Langkah kaki panjang Masumi melewati tubuh Maya yang tergeletak begitu saja. Ia menarik diri kepinggir tempat tidur dan merapikan jasnya yang sedikit kusut. “ Aku tidak bermaksud bertindak bodoh seperti ini… Aku benar-benar minta maaf sudah membuatmu takut “. Ia menegakkan tubuhnya dan mengembalikan posisi 180cm ke posisi tegak berdiri. “ Aku benar-benar menyesal sudah bertindak sejauh ini. Sudah seharusnya aku tidak mengikuti bujukan konyol dari sekretaris yang juga tak kalah konyol itu.

Mata Maya kembali melebar.

Nona Mizuki??? Untuk apa ia membujuk Pak Masumi agar menemuiku???? 

“ Apa kau benar-benar membenciku, Maya? Sampai tak tersisa kata maaf darimu untuk dosaku? Aku hanya butuh setetes maaf dan aku bisa merasa telah menyentuh langit surga. Apa ini yang kau inginkan, Maya? Melihatku terus hancur? “.

Iba rasa hati Maya berkecambuk. Ia tak kuat melihat aura penyesalan Masumi yang dalam akan masa lalunya. Ia ingin sekali menghambur kearah Masumi, tak perduli dengan yukatanya yang sekarang lebih berantakan dan senonoh daripada tadi Masumi pertama melihatnya. Tapi ia memiliki janji yang terlalu bodoh untuk ia tepati. Dan rasa percaya diri yang terus-terusan terkikis oleh kenyataan dan keadaan. Ia tak sanggup melangkah lebih jauh lagi dari pada ini.

Cukup sampai disini.

“ Saya… Sudah sama sekali tak membenci anda sedalam itu, Pak Masumi. Meski saya akui, hati saya masih terlalu terluka akan perbuatan anda kepada ibu saya.. “ Maya menghirup oksigen dalam-dalam. “ Namun sejujurnya saya juga tidak menginginkan kehancuran anda. Malah saya berdoa untuk kesuksesan anda serta… Kebahagiaan anda…. “. Genangan air mata Maya mulai merebak dan ditahan sekuat tenaga. “ Anda bukanlah belahan jiwaku yang hilang dan saya bukanlah belahan jiwa yang anda cari, Pak Masumi… Semua dialog Akoya yang anda dengar dari mulut saya ketika di Astoria… Dan permintaan saya untuk menunggu kedewasaan saya, itu… Hanyalah… Emosi sesaat. “ Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan Masumi yang meredup sedih. “ Saya pikir saya memang tertarik dengan anda, tapi ternyata saya salah… Kita… berada didunia yang berbeda, Pak Masumi. Anda telah memiliki Nona Shiori dan melamarnya dimata Jepang, dan saya…. “. Maya menengadahkan kepalanya, mengumpulkan keberanian yang kuat, mengingat karakter sesosok Satoko yang angkuh dan penuh kuasa akan dirinya. “ Saya memiliki Sakurakoji. “

Masumi menutup matanya erat. Ia merasakan pintu neraka sudah terbuka lebar didepannya. Ia terbakar. Dan memang sepertinya ia tetap harus melalui bara api yang luar biasa sakit itu dengan kaki telanjangnya. Ia mendesahkan nasibnya yang sepertinya telah ditinggal jauh oleh Dewi Fortuna sejak lama.

“ Baiklah, Maya. Sekali lagi aku benar-benar meminta maaf. Aku, Masumi Hayami, takkan pernah lagi bersikap lancang padamu! Aku, Masumi Hayami, sudah sangat menyadari dimana posisiku sekarang, yakni sebagai tersangka dan penghuni penjara dosa seumur hidupku. Aku bersumpah takkan menjilat kembali ludahku yang kotor. Selamat malam, Kitajima….. “

Bunyi pintu tertutup terdengar pelan, menghilangkan sosok tegap Masumi yang terburu-buru meninggalkan ruangan tempat Maya melayangkan tatapannya. Pikiran Maya sekarang terasa teramat hampa dan cahaya temaram lampu tidurnya menambah suasana muram hatinya yang kosong melompong. Tanpa diperintah, air mata Maya telah terjun bebas, membasahi kedua pipi Maya yang pucat pasi.

Pak Masumi… Belahan jiwaku… Yang hilang….

Ia memejamkan matanya kuat-kuat. Merenggut yukatanya dibagian dadanya yang terasa teramat sakit dan perih luar biasa. Ia menangis.

Pak Masumi….

Tangisan hebat melanda seluruh atom ditubuhnya yang mungil. Sesenggukan. Menahan dirinya untuk tidak meneriakkan nama pangeran Daito yang kemungkinan belum jauh dari tempat ia meratapi dirinya. Ia sampai mengguncang-guncangkan bahunya karena tak kuasa akan dalamnya luka yang barusan ia torehkan lebih dalam lagi. Ia terus menangis. Tak perduli kalau ia akan kehilangan cairan tubuhnya sendiri hingga dehidrasi akut.

“Pak Masumi…..”

Deretan giginya yang putih saling menggertak. Otot lehernya menegang dan kedua tangannya tetap terkepal didadanya. Ia menghabiskan malamnya dengan rintihan menyayat. Serpihan harapannya sudah benar-benar musnah sekarang. Ia takkan sanggup lagi menemui Masumi, tak ada nyali lagi ia untuk berusaha meluruskan segala kebohongannya yang ia susun secara acak.

Detik demi detik yang kini berubah jadi jam ke jam tak juga menghentikan laju air mata Maya. Ia tak pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Dan ketika jam wekkernya berbunyi, ia menoleh pelan. Meraihnya dan menekan tombol off untuk menghentikan peringatan ringan dari jam tersebut.

Sudah waktunya aku bangun. Ayo bersemangat, Maya Kitajima!!!!

                          *

Takamiya, sebuah keluarga yang cukup memiliki pengaruh hebat di Jepang. Penyandang nama tersebut memiliki waralaba tingkat nasional hingga internasional, yang dikembangkan turun temurun dan semakin hari terlihat semakin tinggi dan kokoh kerajaannya. Hanya dengan lirikan sebelah mata seorang Takamiya, mereka mampu membuat sederet tubuh manusia membungkuk dalam bahkan mungkin hingga mencium ujung sepatu.

Sepasukan pelayan setiap hari bekerja siang malam mengurus pekerjaan mulai dari rumah tangga hingga neraca keuangan yang entah sudah berapa digit. Berani taruhan, mereka pasti pusing melihat deretan pekerjaan dan deretan angka-angka yang terpampang begitu mereka bangun tidur. Bahkan para Takamiya yang kebetulan memiliki sifat boros sangat-sangat tidak mungkin memikirkan, apakah dalam sehari ia telah mengurangi 2-3 digit angka direkeningnya. Mereka tak ambil pusing karena berbagai bunga dari usahanya pasti mampu mengembalikan angka berdigit-digit itu dalam waktu singkat.

Sore itu, kebetulan sang nona muda, Shiori Takamiya, merasa kurang sehat—lagi. Ia memerintah kepada semua pelayan untuk meninggalkannya, tak luput sang pengasuh berkacamata runcing yang kemarin menyemprot Maya habis-habisan dicafe pun disuruh kembali kekamarnya. Sang pengasuh bersikeras ingin menemani Shiori, namun kedatangan seorang dokter muda diruangan bernuansa Jepang yang sangat kental itu berhasil membuatnya mengundurkan diri dalam waktu 5 menit.

“ Bagaimana kabarmu, Shiori? Apa yang kau rasakan sekarang? “. Ucap dokter muda itu lembut sembari mengusap pergelangan tangan Shiori yang kurus dan memeriksa tekanan darahnya. “ Apa kau merasa pusing? “

Shiori menganggukkan ringan kepalanya. “ Aku mematuhi semua peraturanmu, Richard. Aku memakan semua yang kubenci… Sebagian besar maksutku, dan aku sekarang patuh untuk meminum segelas susu murni. Aku tetap menyukai saranmu tentang buah-buahan namun sejujurnya, aku masih malas untuk berolah raga. “ Aku Shiori yang disambut oleh kerutan kedua ujung alis pria tinggi didepannya.

“ Kau bisa mencoba yoga, menurutku sangat sesuai dengan kepribadianmu yang lembut. Dan kau tahu, kau tidak selemah ini. Kau kuat, hanya saja kau yang selalu kalah oleh sugesti yang kau percaya bertahun-tahun. “ ketus Richard senewen. Ia memakai stetoskop-nya dan memeriksa detak jantung Shiori dibalik yukata berbahan sutra lembut yang pasti sangat mahal harganya. 

Sebenarnya bukan yukata yang membuat Richard agak gemetar tertarik, melainkan ekspresi Shiori yang memelas dan manja ketika ia memindah-mindahkan letak pemeriksaannya di bagian dada.
Suasana sempat hening sejenak. Mereka seakan sibuk dengan pikirannya masing-masing yang mereka buat sendiri. Richard akhirnya mengeluarkan penanya, ia menuliskan resep disecarik kertas kecil yang akan ia berikan pada penguruss Shiori dibagian kesehatan. Ia pun member catatan-catatan kecil di buku agenda yang akan diingat baik-baik oleh koki pribadi dan petugas kebersihan. Tak lupa ia member deretan saran yang sudah dihapal Shiori diluar kepala, karena Richard selalu membeberkannya ketika ia hendak pamit.

“ Kau belum mau pulang kan, Richard? “ tanya Shiori polos.

“ Aku masih harus kembali kerumah sakit, Shiori. Jam 8 malam nanti aku harus mendampingi pasien yang dipindahkan dari rumah sakit lain. Ia memiliki penyakit yang lebih parah darimu dan ia membutuhkan pengawasanku 24 jam kedepan. Setelah itu barulah dokter pengganti yang akan melanjutkannya. Aku sudah melakukan tugasku dengan baik dan sekarang aku ingin pamit.

“ Apakah ia cantik? “

Alis Richard naik sebelah. “ Maaf? “

“ Pasienmu. “ Shiori menjadi sedikit gusar. “ Apa ia cantik? “

Sekarang kedua alis Richard yang naik bersamaan. “ ….. Ya, ia cantik. Ia anak kedua dari keluarga Daidouji. Kau pasti mengenalnya, Shiori. “

Kaoru Daiouji

Shiori sangat mengenal baik bagaimana moleknya penampilan Kaoru. Ia seperti mata air segar di padang pasir. Atau bagaikan padang bunga dimusim semi. Pria manapun pasti akan langsung menatapnya begitu melihat penampilannya yang elegan dan manis.
Masih segar dalam ingatannya ketika ia menghadiri pesta dan tak sengaja matanya melihat tingkah genit dari Kaoru ke kolega-kolega ayahnya. Ia memang memasang standart tinggi untuk memenuhi statusnya sebagai anak emas. Ia sangat suka ketika para pria mengelilingi dan menghujaninya dengan puji-pujian. Siapa yang tidak tergoda dengan rambut coklat lurus sepunggung yang halus dan lebat, kulit seputih yogurt dan bibir ranum berbentuk sensual membingkai deretan gigi putih yang rapi terawat?  Dan ia bertubuh tinggi semampai mengingat ia juga berprofesi sebagai supermodel, 174cm cukup memuaskan bagi panikmat catwalk.

Dan sekarang ia memiliki janji dengan Richard untuk menemaninya 24 jam kedepan? Dengan Richard-nya??? 
Memikirkannya saja sudah membuat perut Shiori mual dan rasanya ia ingin muntah sekarang juga.

Shiori menjadi tidak tenang melihat sikap Richard yang bersiap meninggalkan kamarnya—sendirian. “ Kau tak boleh pergi! “
Richard menghentikan aktifitas berbenahnya, cukup tercengang dengan permintaan—perintah lebih tepatnya— dari Shiori.

“ Shiori? “

“ Kau… harus menemaniku… disini…”

Richard meletakkan tas kerjanya dan kembali bersimpuh disisi ranjang Shiori yang empuk.

“ Ada hal yang mengganggumu? Berbagilah denganku. Aku ada disini.. “ Richard meraih tangan Shiori lembut dan meremasnya perlahan. “… untukmu.”

Hati Shiori bagaikan menembus langit surga. Ia bersorak kegirangan dalam batinnya yang tadi sempat terkubur rasa cemburu buta. Ia menundukkan wajahnya yang merona, malu namun senang bercampur aduk menjadi satu, dan cukup terlihat jelas diwajahnya.

Senyuman jatuh cinta.

Richard menangkap ekspresi lugu Shiori yang malu-malu dan ikut tersenyum. Shiori mulai menjelaskan semua aktifitasnya mulai dari pagi, penyebab dirinya kembali mengalami tekanan darah yang cukup rendah dan membuat tubuhnya hampir limbung kembali di pelataran parkir Daito.

Ia bertemu tunangannya calon suaminya yang pemarah, Masumi Hayami. Entah bencana apa yang dibuatnya pagi ini karena seisi karyawan Daito seperti terkena putting beliung. Mereka berwajah pucat, beberapa ada yang terburu-buru hingga terjatuh sambil membawa berkas yang bertumpuk dilengannya. Yang wanita ada yang menangis dan berusaha menahan laju air matanya ketika Shiori hadir. Shiori pun menangkap ada yang mengumpat dengan ucapan terkasar yang pernah Shiori dengar di toilet wanita. Ia menjadi tidak tenang karena topic pembicaraan para karyawan hanyalah direktur muda yang mereka anggap gila dan tidak berperasaan, namun lebih kotor dan rendah daripada sebelumnya.
Ia mendapati Mizuki yang juga menjadi super sibuk. Tak pernah ia melihat raut wajah Mizuki yang tertekan seperti ini. Ia tetap berusaha bersikap wajar dan datar, namun Shiori tahu, ia barusan menangis.

Memasuki ruangan Masumi tak jauh lebih baik lagi. Ia mencium aroma minuman keras yang menyengat serta kepulan asap rokok yang entah sudah berapa bungkus tersulut habis diasbak. Masumi tidak tampak rapi sedikitpun. Ia kusut dan kacau luar biasa.

Rambutnya berantakan, dasinya entah kemana dan jasnya…. sepertinya ia sudah tidak mengenal apa itu arti dari kata jas.
Disudut ruangan, Shiori melihat tumpukan pecahan gelas Kristal yang mahal beserta botolnya. Sepertinya dari situlah asal muasal sumber bau penyengat ruangan ini. Petugas kebersihan hanya menerima semprotan dan ancaman PHK ketika mereka ingin membereskan segala kekacauan yang Masumi buat. Kertas kerja porak poranda dan… ya Tuhan! Bukankah itu laptop??? Shiori sudah hampir tidak mengenalinya lagi karena media kerja Masumi yang berharga tersebut sudah terbagi menjadi 2 secara brutal.

Dan pertengkaran hebat pun tak terelakkan. Shiori pertama hanya menanyakan secara perlahan, sambil sekuat tenaga menyimpan rasa kekhawatiran dan kebingungan. Masumi menjawabnya dengan pengaruh alkohol yang kuat dan berhasil memicu emosi Shiori yang terpendam. Masumi tidak ingin menunda pernikahan namun ia juga tak ingin membahasnya dengan Shiori. Ia memilih menenggak kembali segelas Vodka daripada wacana soal pernikahan. Dan Shiori menjadi semakin muak. Ia merasa terabaikan dan Masumi menjadi kehilangan akal.

Entah kejadian apa yang telah membentuk karakter lain dari Masumi Hayami yang ini. Shiori benar-benar tidak mengenalinya dan ingin sekali mengurungkan pernikahannya. Ia ingin Masumi yang dahulu kembali memberinya senyuman, meski palsu, namun Shiori menyukainya. Dan ia sedang berjuang untuk mendapatkan yang asli.

Tapi untuk saat ini Shiori memilih untuk mendinginkan kepalanya yang terasa amat panas. Ia tak ingin pingsan lagi di muka umum dan menyuruh supir untuk membawanya kembali kerumah.

Dan sekarang disinilah ia. Sedari tadi mengurung diri dikamarnya. Namun ia lebih baik daripada dahulu, ia mau makan. Ia tak ingin usaha Richard menyembuhkannya menjadi sia-sia. Ia sudah mengeringkan tetes-tetes air matanya yang merengek minta keluar dan jatuh di seprai satin bercorak bunga sakura.

Kehadiran Richard disisinya menjadi amat menghibur dan menyegarkan. Namun nama Kaoru, pasiennya yang harus ditemani dokter pribadinya, membuat Shiori berjuang keras menahannya lama-lama disisinya. Terpercik rasa cemburu, ia memberanikan diri, mencuatkan nyalinya yang rapuh dan berusaha kuat.

“ Aku senang kau disini, Richard…. Kau takkan tahu betapa berartinya kau disisiku sekarang. “  Shiro bermanja dibahu lebar Richard yang siap memeluknya. Menghangatkannya.

Richard tentu saja, menyambut feminitas Shiori yang memabukkan, yang ia tunggu sejak ia memimpikan dirinya yang memberi cincin safir di pesta pertunangan dengan Hayami. Ia merengkuh Shiori lembut dan mengelus perlahan rambut Shiori yang ikal dan beraroma lavender. Shiori pun tak menolak ketika Richard mendaratkan ciuman lembut dikeningnya dan menggesek-gesekkan ujung hidungnya di pelipis Shiori.

“ Kau jangan lupa, Shiori…. Aku mencintaimu…. Kau harus tahu dengan apa yang kau berikan padaku sekarang. Kau baru saja memberiku kesempatan. “

Shiori merekatkan dirinya ke tubuh Richard yang tinggi besar didepannya, semakin menguatkan pelukannya.
“ Aku tahu… Kumohon Richard, jangan berkata apapun lagi. Aku ingin menikmati suasana ini. Ini terlalu nyaman dan hangat, aku tak ingin kehilangan ini. Aku membutuhkannya, Richard… membutuhkanmu…. “

Ucapan polos Shiori menyentakkan hormonal Richard yang sedari tadi ia tahan mati-matian. Richard menghentikan lacu kata ucapannya. Ia tak lagi berbicara. Ia bertindak. 

Shiori menengadahkan kepalanya, menatap dalam-dalam bola mata Richard yang jernih keperakan. Perlahan, Shiori menutup matanya yang sayu, meminta Richard membawanya ke dunia yang belum pernah ia raskan, bahkan oleh Masumi Hayami sekalipun.
Mereka pun berciuman.

Richard menyapukan lembut bibir tegasnya ke bibir Shiori yang perawan. Kecupan-kecupan ringan mereka ternyata tak cukup menyegarkan hasrat yang kini perlahan membuncah. Bukannya semakin segar, kini mereka semakin haus dan haus. Shiori mengalungkan tangannya ke leher Richard dan meremas kuat rambut lebat Richard yang berwarna emas diantara jemarinya yang lentik. Sebagai lelaki yang matang, tubuh Richard pun mendorong Shiori ke peraduannya. Menindihnya namun tetap menyangga tubuh besarnya dengan sikunya yang keras. Ia tak mau tubuh ringkih Shiori menderita dengan bobotnya yang sudah pasti bisa membuat Shiori tak bisa bernafas lega.

Perlahan namun pasti, Shiori menyambut sosok Richard yang jantan diatasnya. Ia tak ingin Richard pergi, tidak dengan kondisi ini. Ia membutuhkannya. Ia menginginkannya. Baik Richard maupun Shiori sendiri sepertinya sudah melupakan status Shiori 2 bulan lagi. Mereka tak lagi memperdulikan tetek bengek macam itu. Yang mereka perdulikan hanyalah dorongan hasrat sepasang manusia yang mabuk cinta.

Shiori tersenyum bahagia dan merasa menjadi wanita seutuhnya. Ia merasa beruntung karena ia berpesan kepada seluruh karyawan bahkan pengasuhnya untuk meninggalkan ia sendirian ketika ia dikunjungi Richard. Mereka sudah pasti mematuhi perintah nona muda itu. Area kamar Shiori lenggang oleh manusia dan hal itu sangat mendukung kegiatan sepasang sejoli yang sedang merayakan percintaan.

Shiori melepaskan lenguhan manis ketika ia mencapai nirwana. Disusul oleh Richard yang kemudian roboh disisi Shiori dengan peluh dan keringat bercucuran. Senyum Shiori menghiasi wajahnya, menyambut mata Richard yang hanya terarah kepadanya. Ia merasa sangat cantik. Sangat manis dan sangat wanita saat ini. Dengan sisa-sisa tenaganya, ia memeluk tubuh besar Richard dan menyeka beberapa butir peluh dipelipisnya.

“ Seharusnya aku mengenalmu sejak jauh hari, Richard….. “

“ Percayalah Shiori, aku sangat jengkel karena aku baru mengenalmu ketika kau mengenakan cincin safir itu. “

Shiori tersenyum kecut, ia tak ingin kenyataan itu mengganggu aura kasih sayang yang kini merebak di kamarnya. “ Aku sangat ingin menanggalkan cincin itu, Richard… kumohon jangan mengungkit itu, aku lebih menikmati pelukanmu sekarang daripada hal-hal yang malah membuatku sakit kepala. “

“ Ah, maafkan aku Shiori, aku tak bermaksud…. “

“ Aku tahu, Richard… Aku tahu… “ Shiori mengusap lembut dahinya, serta menyusuri rambutnya. “Dan sepertinya, aku jatuh cinta kepadamu….” Shiori berucap lembut, mengurung sepasang bola mata perak yang terbelalak bahagia dan mencium bibir lelaki itu perlahan.

                                                   *

Latihan malam hari ini berlangsung amat lancar seperti biasanya. Mereka bersemangat dan berkeringat. Suara lantang dari para pemain tetap berkumandang hebat. Mereka benar-benar professional dan mengerti akan kemampuan serta kebutuhan tubuh mereka, meskipun ada yang ringkih karena terlalu forsir, acting mereka menjadi topeng kaca yang tak diragukan lagi.

Hal itu berlaku juga bagi pemain utama, Maya dan Koji. Mereka tak bisa berhenti menghembuskan aura magis mereka yang selalu bisa menghanyutkan para penontonnya, bahkan para pemain lainya pun ikut terseret kedalam pusaran akting mereka. Hal itu sangat lumrah, mengingat mereka sudah seperti bagian tubuh yang terus saling mendukung dan menyempurnakan. Dan Kuronuma berperan penting sebagai kepala dari bagian-bagian tubuh lainnya agar bisa berkoordinasi dengan baik dan sempurna.

Latihan mereka sejenak terhenti karena direktur muda yang dikenal semakin seperti gunung es berjalan mulai menapakkan langkah kakinya kedalam ruang latihan.

“ Selamat malam, semuanya. “ Masumi berucap basa basi melihat keheningan yang baru saja ia ciptakan sendiri tanpa sadar. Ia mengedarkan pandangan ramahnya yang masih diragukan para pemain lain dan bola matanya berhasil menangkap sosok mungil ber-yukata putih yang berpeluh. Ia menangkap keterkejutan dari sikap tubuh Maya terhadapnya, dan Demi Tuhan…. Mati-matian ia berusaha membunuh rasa rindunya untuk tidak menerjang Maya kedalam pelukannya.

“ Selamat malam, Pak Masumi. “ balas para pemain yang agak kikuk. Yang lelaki bersikap hormat dan yang wanita berusaha memperbaiki penampilan mereka.

Pak Kuronuma beranjak dari kursi sutradaranya dan menaruh pengeras suara yang hampir menyatu dengan tangannya di meja, bersisian dengan kursinya. “ Wah, ada apa gerangan pak direktur mengunjungi kami malam-malam begini? Adakah hal yang sekiranya tidak layak pentas atau ada yang ingin direvisi? “ Tanya Kuronuma blak-blakan, seperti pertama Masumi mengenalnya di malam pesta.

Masumi menyipitkan mata dan merekahkan senyuman terbaiknya.

“ Untuk pertunjukkan sekelas Kaisar, aku tidak melihat apapun yang perlu direvisi lagi. Citra Daito kini sangat mencuat jauh dipermukaan. Kami sangat beruntung memiliki sandiwara ini sebagai ujung tombak dan aku sangat-sangat berharap hal baik ini tidak hanya untuk Kaisar, melainkan juga untuk hari bahagiaku. “

“ Hari bahagia? Maksud anda… Pak Masumi….”

Senyum Masumi semakin berkembang dan memamerkan deretan gigi putihnya yang terawat, tidak menunjukkan kalau ia pecandu rokok yang akut. Ia menegakkan tubuhnya dan menghadap keseluruh pemain yang berpusat kepadanya. Dengan lantang dan tegas ia menyuarakan niatannya yang mengusik ritual dari latihan sakral Bidadari Merah.

“ Saya, Masumi Hayami, memohon dengan sangat kepada seluruh pemain Bidadari Merah… “ ia menoleh kearah Kuronuma “ dan sang sutradara tentunya…. Untuk menunjukkan akting terbaik kalian di Lembah Plum, lembah legendaris dari sang Bidadari, setelah aku mengucap janji dialtar Gereja bersama Shiori Takamiya. Aku akan menjanjikan fasilitas nomer satu dan gaji yang bisa membawa kalian semua ke pulau Hawaii sebulan. Kalian takkan ku kecewakan. Dan kuharap, kalian pun bisa mendukung hari bahagiaku 2 bulan lagi sejak detik ini. Bagaimana? Tawaranku ini takkan terjadi dua kali dan kuharap kalian memikirkannya baik-baik. “ Masumi melipat lengannya didada dan bersikap layaknya seorang direktur yang pasti memenangkan sebuah perusahaan.

“ YAAAYY!!!!! TENTU SAJA PAK MASUMI!!!! “ teriak spontan para pemain menggema. Tak henti-hentinya dinding putih itu memantulkan ucapan selamat dan tangis haru pemain lain dari kesempatan langka ini. Mereka memang pernah tampil didepan Kaisar, namun eurofia kali ini begitu hebat. Mereka seperti melihat pemanasan global yang positif, mengingat gunung es yang selalu berjalan mondar mandir dan membekukan sekitarnya sekarang mulai mencair dan menumbuhkan bunga musim semi yang harum semerbak.

Masumi tak henti menerima jabatan tangan dari para pemain dan bahkan Kuronuma merangkul bahu Masumi yang jauh lebih tinggi dari bahunya sendiri. Suasana tawa dan canda mewarnai ruangan latihan yang tertanya tidak berlaku bagi sepasang pemain utama.
Koji sangat terkejut dengan langkah yang dibuat Masumi. Ia tahu betul akan percikan bunga cinta diantara Maya dan Masumi. Mereka masih saling mencintai. Saling merindukan satu sama lain. Namun mereka selalu terhalangi oleh status, kedudukan dan tetek bengek lainnya yang berlaku dalam norma masyarakat umum. Ia hanya bisa tersenyum palsu ketika Masumi melangkah mendekatinya, dan mendekati Maya yang mematung di sisi Koji.

“ Ah, Sang Bidadari Merah… “ Masumi menghentikan langkahnya didepan Maya dan sedikit menundukkan kepalanya agar bisa memandang wajah gadis yang ia damba. “ Bagaimana denganmu, Kitajima? Apakah aku tidak mendapat ucapan selamat darimu? “
Maya yang masih merasa berada dalam lubang hitam yang pekat berusaha mengumpulkan kekuatan hatinya untuk sadar.

“ Maya? “

Dan senggolan tangan Koji dibahunya berhasil mengembalikan jiwanya yang barusan melayang entah kemana.

“ Ah, ya… Maaf, anda tadi bicara apa, Pak Masumi? “ Maya menundukkan kepalanya yang canggung dan berwajah seperti kepiting rebus. Malu.

“ Ini… “ Masumi mengulurkan tangan kanannya. “ Apa aku bisa mendapat ucapan selamat darimu untuk rencana pernikahanku kelak, Kitajima? “

Maya menengadahkan kepalanya. Perih. Sesak. Terluka dan terasa matiraga. Ia pun mengulurkan tangan kanannya dan mulai menjabat tangan Masumi yang besar dan dingin.

Maya merindukannya. Sangat. Ia merindukan tangan dingin itu menyentuhnya dan ia akan berusaha menghangatkannya dengan limpahan rasa cinta kasih yang ia punya.

“ Se… Selamat untuk… rencana pernikahan anda, Pak Masumi… Dan kuharap… kami… bisa memberikan yang terbaik untuk…. Hari bahagia anda bersama… Nona Shiori….. “ ucap Maya terbata-bata dan bergetar. Koji sudah pasti bisa membaca badai dalam hati Maya dan Masumi tak berbeda jauh. Hanya saja Masumi sudah tidak ingin lagi membuka harapannya. Ia mengucapkan terima kasih yang singkat dan melepaskan genggaman tangan Maya yang mulai meracuni hasrat yang ia pendam dalam-dalam.

Masumi memutar tubuhnya dan membelakangi keduanya. Ia bahkan tidak begitu menanggapi ucapan selamat yang terlontar dari mulut Koji. Masumi sudah terlalu jengah untuk melihat pemuda beruntung itu seenaknya menggandeng, memeluk dan mengecup Maya setiap hari.

Kuronuma kembali menyambut Masumi dan menghentikan latihan. Para pemain dibubarkan lebih awal dari jam biasanya, dan disambut gembira oleh para pasangan yang jatuh cinta untuk berkencan di tempat romantis atau sekedar makan malam berdua. Masumi mengekor langkah Kuronuma untuk memasuki kantor kerjanya yang terletak diluar ruang latihan dan membahas soal pertunjukkan spesial mereka dengan serius. Masumi memang tidak mengharapkan 100 persen akan mirip dengan pertunjukkan Kaisar, apalagi lokasi pertunjukkan adalah di Lembah Plum yang menuntut kealamiannya.

Maya masih mematung. Ketika seluruh pemain pulang dan mengosongkan ruangan, ia berlari menuju toilet wanita dan menghempaskan tangisan tertahannya sedari tadi. Ia tak perduli kalau ada yang mendengar. Ia tak lagi peduli kalau ada paparazzi nekat yang mengabadikan wajahnya yang jelek bersimbah air mata. Ia hanya ingin menangis dan menghabiskan 1 roll tissue toilet.

Koji tidak bisa berkata apapun. Ia tak mungkin melabrak direktur muda yang mau menikah dengan alasan yang masih abu-abu, apalagi menyusul Maya ke toilet wanita. ia hanya bisa membereskan kebutuhannya dan mengirimkan pesan singkat di HP Maya yang ia tahu, takkan dengan cepat terjawab.

Kapanpun kau butuh aku, aku selalu ada disisimu. Sakurakoji.




 
blogger template by arcane palette