Sudah
kuduga, kau akan menyukai cincinnya, Maya….
*
“ Aku sudah melihatnya,
Masumi... Gallerinya terlalu berlebihan
untuk kita.. “ Ucap Shiori pelan, memasang wajah kuatir dan keberatannya.
“ Itu
tidak berlebihan. Mereka mendesainnya menyesuaikan selera dan kelas kita. Itu
saja. “
Shiori
mendongakkan kepalanya dan berjalan menuju meja Masumi yang penuh dengan segala
hal yang bersangkutan dengan pekerjaannya, menggesernya sedikit dan menduduki
meja kayu mahoni besar disisi sudut kiri Masumi.
“
Masumi, aku ingin yang sejujurnya.... Ada apa? “
“
Maksudmu? “
“ Apa
yang terjadi denganmu? Kau sangat berubah sekali, aku seperti tidak
mengenalimu... “
Masumi
meletakkan pena dan menyingkirkan laptopnya sejenak. Ia memiringkan kursi
putarnya kearah Shiori dan menatapnya dalam.
“ Aku
akan menikahimu, Shiori. Apa lagi yang meragukanmu? Bukankah ini adalah hal
yang paling kau tunggu-tunggu? Sekarang aku sudah menepatinya. Semua manusia
dibumi ini sudah mengetahui tanggal pastinya kau akan menjadi istriku, lalu?
Apa ada hal lain yang kau rasakan kurang? “ Masumi bertanya dengan bodoh namun
tetap memasang wajahnya yang paling menawan, seolah semua wanita pasti akan
terlena dengan rentetan gigi putih yang tersusun rapi di mulutnya.
“
Hatimu.... ada apa dengannya, Masumi? Apa kau sudah membuangnya? “ tanya Shiori
pedas dan Masumi mengerti kemana arah pembicaraan ini .
“ Aku
menyimpannya disini, untukmu. “
Shiori
mengetatkan rahangnya kuat-kuat. Geram.
“ Aku
tidak sebodoh dulu, Masumi! Dahulu kau bisa mengatakan hal-hal manis itu
padaku, mengajakku berkencan dengan
segala kemewahan dan kenyamanan yang kau tawarkan. Kau juga mengumbar senyum
dan semua perhatianmu untukku, tapi kau
jangan lupa, kau pernah menolakku! Dan sampai sekarang aku masih sangat
mengingat jelas bagaimana pahitnya saat itu! “
Masumi
tetap menatap Shiori dengan tenang. Ia bangkit berdiri dari kursinya dan meraih
jemari Shiori dengan jari-jari panjangnya yang kokoh serta mengurungnya dalam
kehangatan telapak tangan Masumi. Dan Shiori terperanjat olehnya.
“
Maafkan aku dulu begitu bersikap sangat bodoh dan tak adil padamu, Shiori.
Sungguh aku tak ingin membuatmu merasa seperti itu. Kau adalah wanita yang baik
dan tidak seharusnya hal konyol itu terjadi. Sekarang aku hendak menebus
kesalahanku padamu. Sudah seharusnya kau kubuat bahagia sejak dulu kita
dipertemukan oleh keluarga kita masing-masing. Oleh karena itu, maukah kau
memberikan kesempatan untukku....... Sayang? “ ucap Masumi sedikit memelas
namun berjeda dikata terakhir.
“ Kau
panggil aku apa barusan, Masumi? “
“
....... Sayang...? Kenapa, kau tak suka ku panggil begitu? Atau... Kau lebih
suka kupanggil apa selain Shiori? “
Shiori
tidak bergeming. Ia telah belajar cukup banyak.
“
Masumi.... Kau tak perlu mengubah apapun. Aku hanya menginginkanmu yang
sebenarnya, yang seharusnya... Aku memang tak tahu apa yang sebenarnya terjadi
padamu. Tapi aku tahu, kau terluka... Dan luka itu sangat dalam. Hanya saja,
aku tak mampu mengetahui seberapa dalamnya... “ Shiori meletakkan telapaknya
yang digenggam Masumi erat ke dada bidang pria 30 tahunan itu “Aku sangat ingin
menyembuhkannya, Masumi. Namun.... Maafkan aku, aku datang kesini juga untuk
mengatakan sesuatu, dan kuharap kau tidak semakin terluka mendengarnya.....”
Masumi
bertanya dalam hati dan kembali menunjukkan performa akting yang ia pelajari
dari para aktor dan aktris yang berjaya dibawah tangan dinginnya.
“
Katakanlah, apapun itu... Kalau darimu, aku takkan merasa sakit apapun.... “
Shiori
tersenyum simpul dan membalikkan tangannya tuk menggenggam tangan Masumi.
Memohon.
“
Tolong tunda tanggal pernikahan kita. Aku ingin kita menjalaninya dengan hati
yang benar-benar lega. Sampai semua hati kita benar-benar siap dan permasalahan
kita selesai, kita pasti bisa segera menghadap Pastur di Altar Gereja. “
Mata
Masumi melebar tak percaya.
“
Menunda? Kenapa? “
Hawa
dingin Masumi sekejap menyeruak ruangan dan matanya menjadi setajam pedang
samurai yang baru saja diasah. Dan Shiori merasakannya sampai menusuk tulang
rusuknya sendiri.
“
Aku.... Aku rasa aku belum siap, Masumi... Aku ingin semuanya berjalan
sempurna. Memang wedding organizer kita kembali memproduksi apa yang dahulu kita
hentikan, tapi... Kurasa..... Masih ada beberapa hal yang benar-benar belum
siap... “ Jawab Shiori agak ragu.
“ Dan
katakan apa yang belum siap itu. “ sambut Masumi, masih dingin terselubung.
“
Sudah kukatakan, hati kita yang masih belum siap. Aku memang tidak mengetahui
data atau diagram akan kondisi hatimu, namun aku sangat merasakannya, Masumi...
Aku tidak ingin kita kecewa nantinya. Kau jangan lupa, nanti kita menikah di
Gereja bersama Pastur. Kau tahu kita takkan bisa bercerai sampai maut yang
memisahkan kita. “ Debat Shiori pun tidak mau kalah.
Masumi
tertohok mendengarnya. Memang benar banyak yang menikah di Gereja namun tak
sedikit juga yang bercerai. Tapi fakta bahwa pernikahan secara Gerejawi
khususnya bila didampingi Pastur, maka pernikahan itu akan menjadi kekal.
Manusia takkan dapat menceraikannya, hanya Tuhan yang berkuasa akan itu. Dan
apabila nanti Masumi ingin menceraikan Shiori ataupun sebaliknya, maka mereka
akan berada dalam masalah besar. Karena Gereja takkan mau membatalkannya dan
mereka harus memikirkan cara lain yang cukup menyita waktu, pikiran dan juga
uang. Yakni mereka harus menghadapi Paus, Pemimpin Utama dari Gereja Roma, dan
itu bukanlah hal yang mudah walaupun mereka menyandang nama Hayami dan
Takamiya. Sejenak ia mengumpat habis-habisan dalam hatinya dan mengutuk akan
nasib hidupnya yang konyol. Namun, ia telah mengatakan selamat tinggal untuk
Maya, dan untuk hatinya. Ia kini bukan siapa-siapa, hanyalah alat yang memiliki
misi memajukan Daito. Itu saja!
“
Pernikahan akan dilangsungkan tangal 24 Desember dan itu 2 bulan dari sekarang
Shiori. Waktumu hanya 2 bulan untuk memperbaiki hatimu. Sedangkan aku, tidak
ada lagi yang perlu diperbaiki. Aku berada dalam kondisi mantap untuk melangkah
ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Dan kuharap kau segera menyusulku, karena
aku tak mau kalau nanti aku harus menunggumu sendirian dialtar tanpa tahu kau
akan muncul atau tidak. “ jawab Masumi percaya diri.
“ Dan
kau bahagia, Masumi? “
“
Absolut! “
Shiori
menatap Masumi dalam, mencari kesungguhan disana. Dan ia masih mencarinya. Ia
memendekkan jarak antara keduanya dan merasakan nafas Masumi yang berbau
tembakau dihidungnya dengan perlahan. Ia pun meredupkan matanya dan mengarahkan
bibirnya untuk merasai bibir Masumi yang maskulin dan menggoda.
Shiori
mencium Masumi lembut. Dipipi. Shiori menjauhkan badannya dan kembali menatap
Masumi yang melihat entah kemana.
“
Masumi, terima kasih untuk waktumu.... Dan pipimu. Kuharap kau tidak lagi
memalingkan wajahmu kalau aku akan menciummu. Kau tahu hal itu sangat tidak
sopan untuk tunanganmu ini. “
“
Maaf... Aku hanya bersikap spontan.... Aku rasa hal itu tidak bisa kita lakukan
sekarang diruanganku, aku takut
kalau-kalau Mizuki membuka pintu itu tanpa lebih dulu mengetuknya. “
Jawab Masumi asal dapat. Dan Shiori kembali menagkap kekalapannya.
“ Dan
apakah Mizuki pernah berbuat seceroboh itu, Masumi? “
“
...... “
“ Kau
tak perlu menjawabnya, Masumi... Aku sudah benar-benar mengenal kondisi kantor
dan pekerjaanmu. “ Shiori kembali mencondongkan wajahnya, membisikkan kata-kata
selanjutnya yang membuat raga Masumi sedikit menegang sebelum meninggalkan
ruangan Masumi yang kelabu dan muram.
“ Aku menyukai Heart Of Deep
Purple Rose-nya, Masumi..... “
*
“
Yak, cukup dulu latihannya. Maya dan Koji sudah bisa selesai disini, namun
bukan berarti boleh pulang, kalian harus membantuku me-review akan apa saja
yang sudah kita kembangkan hari ini! “ Teriak Kuronuma dengan pengeras suara
yang selalu dibawanya kesana-kemari, seakan benda itu sudah menjadi bagian dari
tubuhnya.
“
Aahh... Akhirnyaaa....! “ seru beberapa pemain yang sudah berpeluh keringat
membanjiri pori-pori tubuh mereka.
Ruangan
yang sebelumnya penuh sesak dengan adegan-adegan peperangan sekarang menjadi
lebih tenang. Mereka membuka bekal makan siangnya dengan tujuan memangkas
pengeluaran, sedangkan yang lainnya memilih ke kantin terdekat untuk kepraktisannya.
Maya dan Koji, seperti biasa berjalan menuju kantin di lantai bawah. Meskipun
mereka sudah berpisah baik-baik, namun baik Maya maupun Koji belum
mengumumkannya ke publik. Mereka tidak suka apabila kehidupan pribadinya
menjadi bulan-bulanan para pemburu berita gosip. Karena tak jarang mereka
melebih-lebihkan berita yang ternyata hanya kasus sederhana. Baru saja mereka
keluar dari pintu lift dan melewati ruangan dadakan yang berisi puluhan cincin
mewah itu, Maya dipanggil seseorang yang bersuara sangat lembut.
“
Maya, selamat siang... “
Maya
menoleh kearah suara lembut itu bersamaan dengan menolehnya Koji.
“ Ah,
selamat siang, Nona Shiori “ Sapa Maya kembali seraya membungkukkan sedikit
tubuh mungilnya.
“
Kalian.... Ingin makan siang bersama? “
“
Iya... Apakah.... Nona mau bergabung dengan kami? “
“ Ng.... Maaf.... Nanti saja selepas kalian makan siang, kurasa aku harus
berbicara sedikit denganmu, Maya... Apakah, kau ada waktu untukku? “
Maya dan Koji heran, tidak biasanya Shiori meminta waktu Maya dengan sedemikian
formalnya. Maya
menoleh kearah Koji. Meminta pertimbangannya.
“
Nona Shiori, kalau anda mau berbicara dengan Maya, silahkan saja. Saya sungguh
tidak apa-apa... Kebetulan beberapa teman saya tadi mengundang saya untuk makan
bersama. Saya akan menyusul mereka kalau begitu.. “ jawab Koji.
Shiori
merasa sangat tidak enak. “ Oh, Tidak Sakurakoji.... Aku tidak ingin mengganggu
waktu kebersamaan kalian, aku sebaiknya menunggu saja... “.
“ Tidak apa-apa, Nona Shiori. Sungguh! “
Koji melanjutkan jawabannya dengan ramah.
Akhirnya
Shiori merasa tidak terlalu bersalah. Ia membalas senyum Koji dengan hangat. “
Baiklah kalau begitu, aku akan meminjam sebentar kekasihmu. “
Maya
merasa tidak enak dan Koji pun ingin segera meluruskannya. “ Kami sudah bukan
lagi sepasang kekasih, Nona Shiori. Sekarang ini, Maya sudah lebih seperti
adikku. Kami rasa hubungan kami akan lebih baik kalau kami hanyalah sahabat. “
Shiori
tercengang mendengarnya. “ Sahabat ? Kalian... Sudah putus?? “
Keduanya mengangguk dan tersenyum tanpa beban. Akhirnya Koji undur diri dari
kedua wanita cantik yang berdiri diantaranya. Koji hendak menemui
teman-temannya yang tentu saja, hanya sebuah alasan. Koji sebenarnya juga ingin
berusaha melepaskan cintanya, namun ia terlalu baik sehingga tak tega
membiarkan Maya berjalan sendiri, mengingat pria yang Maya cintai sudah
meninggalkannya. Tapi ia pun tak bisa terus-terusan bersikap diam. Ia tak bisa
terus memanjakan Maya dan harus membantunya bangkit kembali dari keterpurukan
cintanya. Koji menyalakan mesin mobilnya dan memilih kembali ke apartementnya
sendiri.
Sementara
itu, Maya dan Shiori sudah disebuah cafeteria khusus direksi Daito
yang menyajikan
makanan bebas lemak. Biar bagaimanapun mereka adalah wanita yang harus menjaga
bentuk tubuhnya agar tetap langsing dan Maya tak ingin ia terlihat gendut
ditengah-tengah panggung pertunjukkan. Mereka memesan makanannya, beserta
puding buah kiwi
untuk penutupnya.
“
Bagaimana kabarmu, Maya? Sudah lebih baikkah? “
“ Eh?
“
“
Kudengar kau sekarang lebih sering mengunjungi Dokter Akagi. Apakah kau terlalu
memforsir kekuatan tubuhmu sendiri, Maya? Jangan terlalu dipaksakan, tidak
baik untuk kesehatanmu..
“
Maya
tersenyum mendengar kekhawatiran Shiori yang tulus. “ Terima kasih Nona, tapi sungguh,
saya tidak apa-apa. Saya memang sering menemui beliau, namun hanya sekedar
check-up dan menjaga stamina saya untuk pertunjukkan berikutnya. Ini hanya
sebuah rutinitas saja. “
Shiori
menyeruput pelan teh hijaunya untuk melegakan tenggorokannya yang
kering. Ia tak tahu apakah ia harus menanyakannya kepada Maya, namun keadaan
sudah terlanjur mengkondisikan sedemikian rupa, akhirnya ia memberanikan diri
dan membusungkan nyali tipisnya yang sekarat.
“ Maya… Apakah, kau sudah bertemu dengan Masumi? “
Maya bukan aktris yang baik sekarang. Bahasa tubuhnya
sudah sangat tertebak.
“ I… iya, sudah….. “ Suaranya yang pelan menandakan
ketakutan dan ketidak percaya diriannya. Ia sangat ciut didepan Takamiya.
“ Apakah…. Terjadi sesuatu? Maaf… Aku mungkin terdengar
sangat lancang, namun…. Hanya jawaban dari mulutmu sendirilah yang mampu
meredakan berbagai tanda Tanya dikepalaku saat ini…. “
Maya membenarkan posisi duduknya, ia menggenggam
sendiri kedua telapak tangannya, merenggut sedikit taplak meja putih berajut
hujau lumut muda yang melapisi beja bundar dan telah dihidangkan berbagai
pesanan mereka, kecuali pudingnya. Maya benar-benar ragu apakah ia harus
menceritakannya pada calon pengantin pangeran Daito yang terlihat resah dan
pucat.
“ Kami… Sudah mengucapkan Sayonara, Nona Shiori… Anda tak perlu khawatirkan lagi kalau aku
akan berniat ada diantara kalian. Hal itu… Takkan pernah terjadi….. aku sudah
berada pada posisiku yang seharusnya. “
Shiori seharusnya merasa sangat lega, namun mendengar
hal itu, ia malah menjadi iba. Hatinya malah menjadi semakin bimbang dan penuh
keraguan.
“ Jadi… Kalian sudah sepakat untuk tidak melanjutkan
lagi akan…. Cinta kalian? “
“ Tidak akan, Nona! Percayalah pada saya! Saya sudah
berhasil membuat Pak Masumi sendiri yang meninggalkan saya, bukan saya yang
meneriakkan kata sayonara itu. Dan sudah terlihat, Pak Masumi… Kini benar-benar
murni sebagai atasan saya. Anda bisa tanyakan langsung kepada beberapa
teman-teman Theatherku atau malah kepada Pak Kuronuma. “
Spontan tubuh Shiori menegang. “ Apa maksudmu Masumi
sendiri yang mengatakannya? “
“ Itu….. “
“ Apa yang kau bicarakan pada Masumi sehingga ia
sendiri yang meninggalkanmu?! “
Maya heran sekaligus takut, mengapa Shiori bukannya
memasang wajah lega, namun wajah penuh kegusaran yang Nampak.
“ Saya… Saya mengatakan…. Kalau saya tidak akan pernah
bisa mencintai orang yang
pernah….. membunuh ibuku….. “ Dan Maya pun menundukkan kepalanya dalam-dalam,
menghindari kilatan mata Shiori yang meradang.
“ Apa? Kau bilang a..
apa… APA??????? “ Shiori hampir setengah berteriak, membuat beberapa direksi
yang lain menolehkan kepalanya menuju mereka.
“ No… Nona Shiori…
Pelankan suaramu….. “ Maya panik dan menaruh telunjuknya kebibirnya sendiri.
Shiori langsung
menyadari kecerobohannya. “ Ehm.. Maaf…. Aku barusan tidak sopan…. “ Shiori
kembali meminum tehnya karena mendengar kata-kata Maya barusan benar-benar
membuat perutnya mual dan kepalanya seperti dihantam martil besar. Ia jadi
semakin mengerti mata rantai yang ia cari. Jawaban untuk semua perubahan sikap
Masumi yang seperti boneka hidup tanpa jiwa, namun enggan untuk meninggalkan
perannya.
Jadi karena jawaban gadis inikah, Masumi? Kau sampai
membuang nuranimu?? Kau sampai kehilangan…. Kebahagiaanmu???
Mata Shiori berkaca-kaca,
menahan hatinya yang sakit untuk sebuah kenyataan yang sama sekali ia tak siap
mendengarnya.
“ No.. Nona Shiori,
anda tak apa-apa? “ ganti Maya yang mengkhawatirkan Shiori, karena wajah Shiori
menjadi terlalu pucat dan membuat lipstick merahnya terlihat mencolok seperti
dandanan model Geisha.
“ Aku… Tidak….”
Shiori tak mampu meneruskan kata-katanya, karena seisi ruangan cafeteria
menjadi perlahan-lahan meninggalkan cahayanya. Ia tak mampu melihat jelas
kondisi sekitarnya dan suara teriakan orang-orang menjadi tidak jelas, serasa
berada ditengah-tengah danau yang pekat dan dalam. Ingatannya terakhir adalah
tangan Maya yang terulur menahan tubuh limbungnya dan ia tak kuat untuk membuka
kelopak matanya yang lelah.
Mizuki
segera melangkahkan sepasang kaki jenjangnya terburu-buru hingga terantuk sudut
kursinya sendiri dan melupakan untuk menyuarakan umpatan. Ia segera membuka
pintu ruang kerja Masumi dan melupakan janjinya untuk tidak mengganggu
konsentrasi direktur yang akhir-akhir ini sering naik darah.
“
MIZUKI!!!!! “ dentaman keras telapak tangan kokoh Masumi menghentakkan meja dan
membuat beberapa barang diatasnya melonjak. “ APA KAU TULI?! ATAU KAU SUDAH
MULAI TERJANGKIT WABAH PIKUN?? AKU TIDAK INGIN DIGANGGU SIAPAPUN!!!!! “
Gelegar
kemarahan Masumi terasa bagai petir kemurkaan langit kelam. Mizuki sejenak
kaget, mengingat ia tak pernah melihat emosi Masumi yang demikian hebatnya
melebihi segala amarahnya yang lalu. Ia merapikan jas kerjanya dan high
hellsnya yang nyaris patah, lalu
berdeham ringan.
“ Nona Shiori pingsan di Cafetaria bagian Barat
Daya, Pak Masumi… Saya rasa saya wajib memberitahukan ini kepada anda
secepatnya…. “
Masumi kaku 3 detik dan mulai menyusun kembali
pikirannya.
“ Aku
kesana. Tahan semua telepon untukku dan rapat ditunda sekitar 3 jam. Bila tidak
memungkinkan, rapat tetap akan dijalankan hari ini, tak peduli jam berapa akan
dimulai. Mereka harus menyiapkan mata dan kopi mereka agar tidak tidur lebih
cepat hari ini. “
Mizuki
membungkukkan tubuhnya, pertanda ia patuh akan perintah bosnya yang lagi-lagi
tidak manusiawi. Ia mengekor langkah kaki Masumi yang panjang dan memerintahkan
para sekretaris asuhannya untuk mengatasi semua kegilaan Masumi. Mereka menuju
lift berkapasitas 20 orang dan menekan tombol. Masumi mungkin sebaiknya
berakting khawatir apabila ingin terlihat seperti tunangan yang jatuh cinta
daripada memasang wajah datar dingin yang super membosankan. Aura kelamnya tak
urung memberinya ruang tersendiri agar orang—bahkan makhluk—lain tidak
bersentuhan dengannya. Mizuki hanya bisa pasrah dan meletupkan seucap doa kecil
bagi kebahagiaan Masumi.
Sementara
itu, ruang cafetaria menjadi sangat ramai. Shiori yang bertubuh lebih besar dan
tinggi dari Maya sudah tentu membawa problematika untuk ukuran tubuh Maya yang kecil.
Maya berusaha mati-matian menahan kepala Shiori agar tak membentur lantai
marmer berukuran 60cm ditiap sisinya. Ia terbantu begitu beberapa pria membantu
Maya dari perjuangannya dan melontarkan berbagai pertanyaan yang sekilas
memojokkan Maya.
“ Sungguh,
aku tak tahu apa yang terjadi pada Nona Shiori! Kami sedang berbincang dan
tiba-tiba ia pingsan! “ ucap Maya dengan bibir bergetar menahan air mata
ketakutannya.
“ Aku
tadi melihat kau membuat Nona Takamiya menjadi gusar bukan? Bahkan Nona yang
terkenal anggun dan bertata krama sopan itu sampai memekik ketika tadi bicara
denganmu! “ tuduh pengasuh Shiori yang tak pernah jauh dari sisinya dan selalu
menggunakan kacamata berujung runcing keatas serta kimono untuk kesehariannya
bertugas. Ia memposisikan kepala Shiori tepat didada kanannya, agar tidak
terlalu kehilangan kelancaran peredaran darah yg ia butuhkan.
“ Itu
tidak benar! Kami hanya... “ kata-kata Maya terputus begitu ia mengingat
percakapannya kembali pada Shiori beberapa menit lalu “..... Bicara! “ dan Maya
sedikit menggigil mengingatnya.
Apakah karena tadi Nona Shiori
mengetahui cara kotorku menjauhi Pak Masumi? Ugh..! seharusnya aku tidak
menjelaskan semuanya dengan gamblang begitu saja! Dasar Maya bodoh! BODOH!!!! Umpat hati Maya habis-habisan
untuk dirinya sendiri.
“ Kalau
kau berbicara dengan topik yang sehat, ia takkan sampai jatuh pingsan seperti
ini! Aku mengenalnya sejak ia masih dalam kandungan! Kau memang selalu
menyusahkan Nona Takamiya! “ bentak sang pengasuh tanpa ampun.
“ Kami tidak
membicarakan hal yang tidak sehat! Kumohon sebaiknya anda menjaga pikiran dan
perkataan anda barusan! “
“ Kalau
memang begitu, kenapa tadi Nona Shiori terlihat gundah dan ia sampai setengah
berteriak? “
“
Itu....” Maya terpojok.
“ Kenapa
kau tidak mampu menjawabnya, HAH? KENAPA? APA YANG KAU KATAKAN PADA NONAKU
INI?!?!??! “ bentakan sang pengasuh menjadi semakin nyaring. “ KAU
SEHARUSNYA----“
“
Permisi, aku harus membawa tunanganku ke Rumah Sakit secepatnya. Mizuki, apakah
mobilnya sudah siap? “ seketika Pangeran Muda Daito melesak diantara kerumunan
para pengunjung yang telah bersiap membawa Shiori ke ruang perawatan pribadi milik Daito.
“ Semua
sudah siap, Pak. Bahkan saya sudah menghubungi Dokter Jefferson untuk standby di UGD. “
“
Baiklah, kalau begitu permisi semuanya “ Dengan sekali angkat ia membopong
Shiori yang masih belum meraih kesadarannya.
“ Pak
Masumi... Umm... Tadi saya dan Nona Shiori hanya membicara—“
Masumi
terus melangkahkan kaki panjangnya dan menjaga Shiori aman dipelukan. “ Maaf
permisi, saya kesulitan menuju mobil apabila anda-semua ada didepanku. Tolong
beri aku jalan! “
“ Pak
Masu..... Mi..... “ mata Maya kembali lebih berkaca-kaca. Masumi
mengacuhkannya! Ia seperti tak melihat Maya yang sedang kebingungan dengan
situasi tiba-tiba barusan ini. Namun tadi Maya yakin, mata mereka bertemu untuk
sesaat. Rasa sakit dan rindu yang kemarin berhasil ia tanam dalam-dalam
langsung muncul merangsek tulang-tulang rusuknya sekali hentak. Ia mengaduh
dalam hati, dan menahan semua egoismenya mengeruhkan jalan pikiran sehatnya. Ia
melihat sosok pria yang dicintainya pergi begitu saja, dengan calon
pengantinnya, menjauhi sosok mungil yang akhirnya seneteskan air mata
kekalahan. Maya memang dicibir habis-habisan olah pengasuh Shiori yang berada
dibelakang Masumi, namun dukungan para pengunjung disana bagi Maya tak
putus-putus. Mereka membantu menenangkan emosi Maya yang berjingkrakan hebat
dan para wanita berbagi pelukan hangat. Mereka mencintai Maya apa adanya, dan
itulah yang dibutuhkan Maya saat ini.
Semuanya.... Terima kasih
banyak.... Sebuah
senyum terlukis jelas diwajah Maya yang sedang berakting sebaik-baiknya. Ia
mati-matian menonjolkannya dan ia seharusnya mendapat penghargaan tinggi bagi
bakatnya yang luar biasa guna menipu para penonton serta mengikis dalamnya perih
hati.
*
Ruangan UGD
seketika menjadi lebih ribut daripada biasanya. Jarang-jarang ada kejadian
selebritis yang pingsan dan langsung memancing para pemilik handphone mengarahkan kameranya. Shiori
Takamiya-Masumi Hayami adalah gosip panas yang masih sangat diminati para
penyantap gosip. Bahkan para perawat yang sedang tidak menangani pasien bisa
dengan spontan mengeluarkan kameranya dan langsung berkicau di jejaring sosial.
“ Kami
akan memeriksa keseluruhan kondisi Nona Takamiya. Sepertinya tidak seburuk yang
kita perkirakan. Saya sudah cukup mengenal nona dan saya memiliki semua track record yang dibutuhkan. Silahkan menunggu
diluar, Pak Masumi. ” Usir Dokter
Jefferson dengan sopan. Ia tak suka diawasi ketika ia sedang bekerja menangani
pasien. Terutama bila ia menyukai pasiennya.
Sangat.
“
Baiklah. Tolong kabari aku kalau Shiori sudah sadar. Saya akan berada tak jauh
dari sini. Terimakasih, Mr. Jefferson... “
“
Richard. Aku ingin kita lebih akrab lagi, Masumi..”
“.....
Baiklah, Richard. “ Masumi sedikit tersenyum dan mencari kursi yang telah
disediakan Mizuki sedari tadi. Dekat dengan televisi dan minuman kaleng.
Richard kembali
mengikuti para perawat untuk masuk keruang perawatan ketika Shiori dipindahkan.
Shiori ditempatkan dikamar yang biasa ia gunakan bila kondisinya sangat turun. Para
perawat menyiapkan segalanya dan meninggalkan dokter tersebut berdua dengan
pasien dengan dalih bahwa Richard bisa mengatasi hal ini sendirian dan mereka
diminta mendampingi dokter lain yang membutuhkan tenaga mereka. Ia memeriksa
semuanya. Terutama tekanan darahnya.
80/60?
Kenapa bisa serendah ini? Apa sih
yang dia siang ini?
Richard menarik
kelopak bawah mata Shiori untuk memeriksa warnanya.
Lagi-lagi pucat dan bukannya
merah segar.
Mau tak
mau Richard menjadi lebih ekstra mengobatinya. Ia menginjeksi sejenis vitamin
yang berguna mengembalikan stamina Shiori. Hanya dosis ringan, karena ia lebih
suka bila Shiori mendapatkannya dari makanan, bukan suntikan.
“
Richard.....”
Dokter muda
itupun menoleh kearah pasien yang menarik-narik ujung jas putihnya.
“ Ada apa
denganku... ughhh..... “ Shiori mencoba
bangun namun kepalanya masih terasa seberat batu.
“
Tetaplah tiduran dulu, sebaiknya kau beristirahat hari ini. Besok kau sudah
bisa pulang. Tidak parah, namun aku bersumpah kalau tubuhmu butuh perawatan
lebih dari biasanya. Apa yang terjadi,Shiori? Apa kau menghindari daftar
makanan yang kubuat? Kau tak memakan salah satu dari mereka kan? Kau masih
mengidap hipotensi dan Demi Tuhan,Shiori.... Kau— “
Richard tercekat
karena secara tiba-tiba Shiori menghambur ke pelukannya.
“
Shiori? “
“
Kumohon biarkan aku begini sebentar, Richard, kumohon..... “
Richard tak
tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun ia bisa menyimpulkan 100% bahwa
penyebab sakitnya Shiori tak lebih dari stress berlebihan. Ia membiarkan Shiori
membasahi dadanya dengan aliran air mata yang menganak sungai. Richard dengan
lembut membelai rambut Shiori yang hitam legam dan panjang terurai.
“ Apa
kau sudah lebih tenang sekarang, Shiori? “
Shiori tak
menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya dan meminta maaf untuk tindakan
kurang sopannya. Shiori mendorong pelan bahu Richard dan memberi jarak diantara
keduanya.
“ Kurasa
aku akan menikahi patung, Richard... Ia memang ada disisiku, namun jiwa dan
cintanya melayang entah kemana. Aku membuatnya menjadi monster dikantor karena
keegoisanku. Aku merasa menjadi sangat buruk dan tak tahu apa yang harus
kulakukan. Aku bimbang, Richard...” Dan Shiori kembali terisak.
Richard mengamati
Shiori dengan mata teduh. Ia sangat simpati dengan gadis ini. Ia akhirnya
mendengarkan semua yang ada dikepala Shiori dengan gamblang. Mulai dari rencana
orang tua kedua belah pihak, pertunangan, hingga tentang Maya Kitajima.
“
Maya... Kitajima??? Bidadari Merah itu???? “
Shiori mengangguk
lemah. Ia sudah bisa mengontrol emosinya ketika Richard membantunya tuk
mengatur nafas dan memberinya segelas air putih.
“ Masumi
mengagumi Maya sejak ia masih berusia 13 tahun, dan ia mendukung selama itu
dibalik buket mawar ungu. Dan sekarang ia tak hanya mengaguminya, ia
mencintainya jauh sebelum aku hadir ditengah-tengah mereka. Jauh sebelum aku
bertunangan dengannya dan mengira ia jatuh cinta kepadaku. Kukira kami adalah
sepasang belahan jiwa yang terpisah, tapi ternyata.....” Shiori mengisi
dalam-dalam oksigen keparu-parunya “ .... Bukan! Bukan akulah orangnya....”
Richard kembali
menangkap sosok lain yang tak asing ditelinganya.
“ Buket
mawar ungu? Jadi.... pengagum nomor satu dari Maya Kitajima yang legendaris
itu...”
“ Masumi
Hayami...”
“
....... “
Richard hanya
bisa membuka sedikit mulutnya. Ia berusaha untuk tetap tenang meski hatinya
bergolak keterkejutan yang luar biasa hebat. Tak bisa diperkirakan bagaimana
reaksi para wartawan bila kenyataan ini terungkap kepermukaan. Mereka pasti
panen besar.
“ Ehm...
Begini Shiori.... Apa kau tahu kalah Masumi yang membawamu kemari? Ia membopongmu
sendiri ke ruang UGD. Apa kau yakin kalau ia tak mencintaimu seperti apa yang
barusan kau tuduhkan barusan? “
“
Masumi... membopongku... sendiri? “ Shiori terkejut sekaligus merona.
“ Aye...
Tapi aku akan berkata jujur, seharusnya aku tak mengatakan hal tadi apabila aku
ingin peluangku lebih besar kepadamu. Aku lebih suka ketika kau berasumsi kalau
ia hanya berpura-pura bersikap seperti pangeran dongeng yang jatuh cinta. Namun
inilah diriku, aku tak bisa bersikap curang. Dan kurasa aku mulai sedikit
membenci kebanggaanku yang satu itu. “
Shiori tersenyum
dan sedikit terkekeh. Ia merasa sangat terhibur oleh keterus terangan Richard
berbicara kepadanya. Ia merasa sangat... Nyaman.
“ Ah,
Shiori, sebaiknya aku pergi. Aku akan memanggil Masumi untuk menemuimu. Ia menunggumu
sedari tadi di ruang tunggu. Kuharap kau bisa segera menjernihkan segalanya. Bicaralah
dengannya. Nanti sore aku akan kemari lagi untuk melihat reaksi obat yang tadi
kusuntikkan kepadamu. Permisi... “
Richard berpamitan dan mengambil beberapa kertas data pasien yang
tergeletak disamping tempat tidur Shiori.
“
Richard.... Maaf... Kalau kau tak keberatan... Bisakah kau meminta Masumi
pulang? Ia ada rapat penting, seharusnya sekarang. Aku tak ingin mengganggu
pekerjaannya hanya karena kecerobohanku dalam menjaga kesehatan tubuhku sendiri.
Bisakah....? “
“
Shiori, sebaiknya kau sendiri yang memintanya pulang. Akan tidak adil baginya
yang sudah bersusah payah membawamu kemari. Aku tidak ingin terlalu terlibat
lebih dalam, apalagi ketika aku melihat lamaran Masumi yang begitu romantis
ditelevisi beberapa hari yang lalu. “ Richard tersenyum, namun ia bersumpah
dalam hati, ia cemburu.
Shiori membulatkan
matanya. Ia tak siap mendapati fakta bahwa Richard menonton lamaran konyol dari
tunangannya sendiri.
“ Tuan
Richard Jefferson..... Apakah kau cemburu pada tunanganku? “
Richard
hanya tersenyum tipis dan miris.
“ Kalau
begitu, aku benar-benar sangat memohon kepadamu... Tolong minta Masumi untuk
menemuiku besok saja. Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya. Saat ini dialah
yang menyebabkan aku berada diruangan ini lagi. dan kurasa... Kau pasti tak
ingin kalau aku tak bisa beristirahat, bukan? “ pinta Shiori lembut dan berani.
Richard tersenyum
lebih lebar lagi. “ Baiklah. Aku akan mengatakan kalau sekarang kau sudah tidur
karena pengaruh obat. Aku akan mengijinkan pengasuhmu menungguimu sekarang.
“
Richard.... Ummmm... Bisakah kau minta pengasuhku pulang dan menyiapkan segala
keperluanku? Apapun yang kubutuhkan.. “ Shiori terdengar agak kurang yakin. “Dan
ia kubutuhkan untuk membantuku makan malam nanti saja. Namun sebelum itu...
Kurasa.... Aku ingin lebih mengenalmu... Richard.... “ Ucap Shiori agak terbata-bata dan rona
wajahnya terlihat lebih nyata dari sebelumnya.
*
Masumi akhirnya pulang
setelah disampaikan oleh Dokter Richard tentang keadaan Shiori yang sudah
tertangani. Masih kurang yakin sampai akhirnya ia dikalahkan oleh sederet
jadwal kerja yang luar biasa sibuk hingga pukul 11 malam nanti. Mizuki
mendampinginya kembali ke kantor dan ia akan kembali ke
rumah sakit setelah ia dapat “dilepas” oleh Masumi dengan tugasnya. Sore itupun
Shiori bisa menyambut Mizuki dengan hangat hingga membuat Mizuki merasa tidak
mengenal watak Shiori yang selalu muram akhir-akhir ini. Iapun melihat
keakraban yang tidak biasa antara pasian dengan dokternya. Namun ia tak mau
berspekulasi lebih jauh lagi mengingat tanggal pernihakan mereka pun sudah
tercetak jelas di beberapa media. Rangkaian bunga lily putih yang dibawa Mizuki
memaniskan keadaan mereka bertiga hingga mereka melupakan bahwa ini adalah
kamar rumah sakit. Baunya harum. Berhasil sedikit menetralisir mayoritas bau
steril khas kesehatan.
Tepat keesokan
siangnya, Shiori sudah bisa kembali ke rumah. Penyembuhan yang diberikan Dokter
Jefferson memang “obat” yang dibutuhkan Shiori. Ia memiliki semua tawa dan
ketenangan. Ia memiliki mata yang teduh serta pelukan yang hangat. Shiori mulai
menyukainya. Namun ia masih takut untuk menerima Richard 100% kedalam hatinya
karena cincin yang melingkar di jari manisnya masih ada. Semua kegembiraan
Shiori menjadi sedikit terusik dengan kehadiran pria dingin betopeng senyum
yang tak lain adalah tunangannya sendiri. Aura perbedaan dua pribadi terlihat
cukup menyolok. Bagai panas dan dingin yang saling berhadapan. Dan Shiori lebih
membutuhkan sesuatu yang hangat bagi jiwanya yang kosong.
“ Shiori, bagaimana
kabarmu? Sudah lebih baik? “ Ucap Masumi basa-basi. Ia tadi sempat mendengar
tawa renyah Shiori yang meramaikan separuh lorong rumah sakit bersama dengan
Mizuki dan Mr.Jefferson.
“…. Baik… Masumi… Aku
sudah lebih baik. Terima kasih… “
Formal sekali
Masumi memincingkan
sedikit matanya penuh selidik.
Kurasa indra pendengaranku sudah mulai
memburuk. Kurasa tadi aku mendengar Shiori tertawa. Tapi… kenapa ia menjadi
gugup dan pendiam seperti ini? Apakah karena… kehadiranku???
“Kau mau pulang
sekarang? “
“ Se.. Sebentar lagi
Masumi. Aku menunggu pengasuhku untuk membawa sedikit perlengkapanku. Kurasa
sekitar 20 menit lagi ia sampai disini. Ia masih dalam perjalanan. Kuharap kau
tidak keberatan bila kita menunggunya sebentar. Tapi, kalau kau sibuk….”
“ Tidak apa, Shiori.
Aku bisa menunggumu selesai berkemas. Tanpa menunggu pengasuhmu pun, aku bisa
membantumu mengemasi semua kebutuhanmu dan membawanya kemobil untuk mengantarmu
kerumah. Bagaimana? “ Tawar Masumi. Sejujurnya Masumi tidak memiliki waktu
cukup banyak untuk menjemput Shiori ke rumah sakit. Namun mandat Sang Jendral
harus tetap dilaksanakan.
“ Tapi Masumi.. Aku masih
harus menjalani sedikit pemeriksaan lagi…. “
Sekarang alis Masumi
yang naik sebelah.
“ Pemeriksaan apa
lagi?”
“ Reaksi obat, Pak
Masumi. “ Sambung Dokter Richard membela alasan konyol Shiori. “ Obat yang
barusan ku injeksi mungkin akan menyebabkan kantuk tak tertahankan. Kemarin
bekas injeksi itu juga sedikit meninggalkan noda kebiruan dikulit Shiori.
Kurasa kulit Shiori juga sangat sensitif. Aku hanya menghindari beberapa obat
yang reaksinya dapat merusak penampilannya juga. Aku juga sudah membahas ini
kepada ahli kesehatan kulit. Kau tahu lah… Tapi selebihnya dari itu, tidak ada
masalah. Aku hanya perlu memeriksa sedikit tekanan darahnya juga setelah ia
meminum obat 30 menit yang lalu “
“ Oh.. Baiklah. Kalau
sudah selesai semua, aku akan mengantarmu pulang, Shiori.. “
“ Baiklah, Masumi…
Terima kasih… “
Suasana ruangan
menjadi senyap. Masumi sedikit heran dengan hawa perubahan yang cukup drastis.
Apa yang salah???
Akhirnya kedatangan
pengasuh Shiori berhasil memecahkan kesunyian itu 10 menit kemudian. Ia
membantu Shiori mengemaskan beberapa barang dan memasukkannya ke kopor yang
bisa diseret kapanpun mereka siap. Dokter sedang memeriksa tekanan darahnya dan
Mizuki menjelaskan jadwal Masumi beberapa jam kedepan hingga pukul 9 malam.
Mereka sedang bernegosiasi dengan waktu dan ternyata masih cukup sulit
mendapatkan kata deal. Setelah selesai semuanya, mereka mulai meninggalkan ruangan tempat Shiori
bermalam. Para petugas kebersihan langsung memasukinya dan membereskan serta
sterilisasi ruangan guna berjaga-jaga untuk kedatangan Shiori lagi. Ruangan itu
sudah dibeli permanen sejak Shiori berumur 14 tahun. Usia yang sangat muda
untuk sering berbaring ditempat tidur rumah sakit. Shiori mengamati sebentar
dan tersenyum tipis kearah Richard dibelakang Masumi. Begitu juga ketika Shiori masuk ke mobil
Masumi, Richard menyempatkan diri untuk mengantar mereka sampai pintu tempat
parker. Mizuki kembali melihatnya dan sekarang ia telah
yakin satu hal. Posisi Pak Masumi selaku pengantin pria bisa jadi hanya mimpi
belaka kelak.
Seminggu sudah tragedi
café itu terjadi dan sayup-sayup udara pergunjingan tentang Maya dan Shiori
makin meredup. Beberapa meluruskan kalau memang Maya hanya sedang makan bersama
Shiori siang itu dan beberapa orang yang tidak menyukainya—tentu saja—menyebarkan
berita yang aneh-aneh. Mulai dari cara
Maya yang ingin mempengaruhi Shiori agak kontraknya dengan Daito dijadikan
permanen sampai gosip yang cukup memukul kuat jantung Maya, ia mengaku
mencintai Pak Masumi dan membuat Shiori kehilangan kesadaran saking syoknya.
Adegan kucing-anjing yang dulu sering mereka pertontonkan ke para karyawan
Daito tentu saja menimbulkan iri yang tidak sedikit dikalangan karyawan wanita
yang sudah tentu ingin mendapatkan perhatian serupa dari Masumi, meski itu
harus menjadi sebuah pertempuran, paling tidak mereka ingin melihat tawa bos
mereka yang sangat pelit diedarkan. Maya pernah mencuri tawa itu dan mereka
semua berharap besar akan mendapat posisi itu suat hari nanti.
Sama seperti hari-hari
neraka sebelumnya, kemarin Masumi kembali memecat kepala hotel milik Daito yang
baru didirikan 2 tahun lalu dengan alasan yang cukup menyakitkan… ada 1 ekor
lalat hijau di ruang restoran tempat Masumi menjamu para client. Meski para
client tersebut meminta Masumi untuk tidak terlalu keras, tapi sepertinya
Tirani Masumi tidak tergoyahkan. Terbukti dengan dilayangkannya surat keputusan
Masumi memecat kepala hotel tersebut 10 menit kemudian. Hal ini cukup membuat
bulu kuduk merinding dan semua orang yang bekerja sama dengannya menjadi lebih
menghargai tingkat keprofesionalisme daya kerjanya yang amat sangat disiplin.
Atau lebih tepatnya ekstrem!
Para karyawan lebih
sering menunduk dalam-dalam ketika Masumi melewati meja mereka. Mereka juga
selalu merapikan meja mereka karena direktur muda mereka pasti akan
mencari-cari kesalahan. Baru saja ia mencolek sedikit meja sekretaris yang baru
saja mengganti posisi nona Takeda dan menemukan sedikit serpihan penghapus
dijemarinya.
“ Kalau kau tak ingin
berada dalam barisan perampingan karyawan, kau bersihkan meja kotormu ini! Aku
tak ingin gedung tempatku bekerja diisi oleh orang-orang yang tak becus menjaga
kebersihan mejanya sendiri!!! “
Serentak para karyawan
memeriksa kondisi meja mereka dan mengeluarkan tissue—bahkan sapu tangan karena
ada yang tidak menyediakan tissue—untuk membersihkan meja hingga kursi mereka
sendiri. Setelah puas memaki beberapa karyawan, barulah ia masuk ruangannya
sendiri. Mizuki melihat neraka ini menjadi lebih parah setiap harinya. Para
karyawan jadi lebih murung dan hanya bekerja tanpa jiwa. Mereka jadi tidak
menikmati apa yang dihadapan matanya dan senyum pun menjadi langka. 3 hari lalu
ia berhasil menggagalkan usaha seorang karyawan yang hendak melompat dari atap
gedung karena tidak tahan dengan perlakuan Masumi yang diktator. Setelah
mendapatkan ketenangan, akhirnya karyawan tersebut mengundurkan diri. Dan
Masumi cukup senang, karena Daito tak ingin memberi uang pesangon kepada
karyawan yang mengundurkan diri . Pemecatan karyawan akhir-akhir ini cukup
menguras kas Daito hanya untuk pos pesangon. Dan Masumi sepertinya memiliki
jalan keluar efektif supaya karyawan itu mundur dengan sendirinya.
Mizuki cukup mengenal
direkturnya dan ia menemukan sedikit cara untuk mengubahnya. Dan ia berani
menempuh cara itu meski resikonya adalah neraka yang lebih besar lagi. Namun ia
berharap, Taman Surgawilah yang akan diraihnya, dan ia akan menemukan kembali
senyum dan canda tawa rekan kerjanya. Mizuki mengetuk pintu Masumi dan
membukanya begitu ijin dari Masumi meluncur.
Maya… bantulah aku…
“ Pak Masumi, jadwal
anda hari ini akan kembali padat hingga pukul 10 malam. Sebelum memulai Rapat
dewan yang akan dimulai jam 1 setelah jam makan siang, bapak harus memeriksa 14
proposal dari station tv dan beberapa sutradara. Dilanjutkan dengan pertemuan
para investor diruangan ini pukul 3. Setelah itu…. “
“ Mizuki, aku sedang
membaca sendiri jadwalku, terima kasih. ”
Dan ruangan kembali
senyap. Kantung mata Masumi menjadi lebih pekat dari sebelumnya. Ia terlalu
meneggelamkan otaknya ke tumpukan dokumen dan rapat rapat dan rapat lagi dari
hari ke hari. Makan tidak teratur dan hanya berpak-pak batang rokok serta
minuman keras yang menghiasi meja makannya. Batin Mizuki terdesak.
Lebih baik bunuh diri sekalian daripada hidup
konyol seperti ini.
“ Akhir-akhir ini
banyak karyawan yang mengundurkan diri, Pak Masumi… “
“ Mereka bodoh. Itu
saja.. “
“.. Pak…? “
“ Problem??? “
Akhirnya Mizuki tak
mampu berkata-kata lagi. Percuma bicara dengan manusia atau makhluk yang diukir
sedemikian tampannya tapi dia menulikan sendiri indra pendengarannya.
“ Sepertinya
belakangan ini Maya tampaknya tidak sesehat penampilannya,
Pak Masumi.. “ ucap Mizuki sedikit berdeham. Dan dehamannya itu membuahkan
hasil setimpal.
Bunyi derik kertas
yang sedari tadi diusik jemari Masumi terdiam.“ Oh,
bagaimana keadaannya sekarang? Bukankah dia seharusnya menjaga kesehatannya
untuk pertunjukkan bulan depan di Gedung Yamato? “ Masumi menjawab dengan tetap
menatap kertas-kertas dokumen ditangannya, tanpa membaca dengan pasti huruf apa
saja yang tertera disana.
Mizuki tersenyum puas namun ditahannya
mati-matian. Ia sudah mencium sedikit aroma kemenangan. “ Buruk! Sejak kejadian
di cafe seminggu yang lalu, ditambah tidak adanya konfirmasi langsung dari
pihak Nona Shiori, situasi Nona Maya menjadi tambah menguntungkan Daito.
Beritanya cukup menaikkan oplah penjualah dari segi media cetak. Aku tidak akan
perduli pada aktris-aktor atau siapapun yang suka membuat ulah dan lebih
mengandalkan skandal untuk menaikkan pamor mereka ketimbang prestasinya, namun
saya sangat yakin, Maya bukanlah type gadis macam itu. Ia mati-matian mencintai
akting dan takkan dapat hidup tanpanya. Aku tidak cukup bisa terima jikalau
kekurangan Maya terlalu dibesar-besarkan.“
Masumi akhirnya mengangkat dagunya yang
persegi dan tegas, menatap Mizuki dalam-dalam dengan wajah khawatir tak
terlukis.
“ Dalam seminggu ini, Maya sudah 2 kali ke
Dokter Akagi, yang kebetulan penggemar berat Nona Maya. Meski usia sudah mulai
menggerogoti penampilannya, namun ia takkan malu-malu meminta Maya berfoto
bersama dengannya. Begitu juga dengan Maya, ia sama sekali tak keberatan dengan
permintaan sang dokter yang terbilang cukup berlebihan. Maksud saya, apasih
yang menarik dari foto bersama pria tua yang menggunakan cosplay Steward??? “
Mizuki tak dapat menahan cekikiannya “ Jangan katakan kalau Maya mengira...
Dokter Akagi adalah si Mawar Ungunya...”
Masumi pun seperti ikan yang tersangkut sang
kail tanpa sadar. Gebrakan kepalan tangannya dimeja sudah cukup membuktikan
seberapa cemburu dan tidak terimanya dia yang sudah menunggu sekian lama untuk
menunggu kedewasaan Maya merekah
dan sekarang sepertinya dokter berbau tanah yang super genit itu ingin
menyerobot posisinya.
“ Konyol! Maya takkan pernah memiliki bayangan
konyol semacam itu! Dia— “
“ Dia tidak mengetahui identitas asli si Mawar
Ungu, Pak Masumi.. Kuharap anda tidak melupakan point penting tersebut. “
Mizuki benar-benar menebar jalanya selebar-lebarnya kali ini, berharap hiu
pembunuh didepannya dapat terjaring dengan sangat mudah tanpa perlawanan
berarti.
“ jadwalku selesai jam berapa? “
“ Jam 10 malam ini, Pak Masumi... Maaf, ada
yang bisa saya bantu? “
Masumi menggerutu hebat. Ia sungguh muak
dengan pola jadwal kerja yang mencekiknya setiap hari dan seakan ia tak
memiliki oksigen cukup untuk mengisi paru-parunya sendiri.
“ Maya juga akhir-akhir ini lebih suka tidur
di ruang istirahat pemain, terletak disamping ruang ganti pemain Bidadari
Merah. Disana ia dapat berlindung sepuasnya dari kerakusan para wartawan berita
gosip yang suka melebih-lebihkan itu. “ kembali profokasi Mizuki meluncur deras ke hati
nurani Masumi.
“ Ruang istirahat? Ayolah Mizuki, bagaimana
dengan apartement yang kusediakan untuk Maya kemarin? Apa dia tidak merasa
lebih nyaman disana?? “
“ Maaf, setahu saya, ia hanya ingin
memperuncing talentanya. Itu saja alasan logis yang bisa kuterima. “
“ Tapi disana hanya ada tempat tidur standart
berbaring sejenak, dan bukannya untuk bermalam beberapa hati! Kau harusnya
lebih cepat memberitahu hal ini kepadaku, Mizuki! “
“ Saya mohon tanyakan hal tersebut kepada
aktris anda, Pak Masumi. Karena ia memiliki kepala yang lebih keras dari batu
karang. Aku tak tahu kata-kata atau benda apa yang mampu meruntuhkannya, bahkan
bujukan Sakurakoji pun tak digubrisnya sama sekali. “
Sakurakoji.....
“ Mizuki, apakah jadwalku tidak bisa
dipersingkat lagi ?’ Masumi akhirnya bernegosiasi kembali untuk meluruskan
otaknya yang sejenak berbelok arah.
“ Maafkan saya, Pak Masumi. Jadwal ini sudah
harga mati. Kumohon jangan membuat saya merubahnya karena pertemuan ini saja
sudah saya susun 3 bulan sebelumnya. Dan ini sangat sempurna! Tapi saya hanya
mampu memberikan penawaran yang saya yakin, anda takkan mampu menolaknya.”
Mizuki mengerling sedikit kepada atasannya yang seakan-akan dapat terbunuh oleh
rasa penasaran.
Batin Masumi tergelak. Sekarang aku seperti memiliki 2 buah batu karang di kantor Daito...
“ Dan, apakah itu...? “
“ Saya mampu meracaukan CCTV yang ada di
seluruh ruangan tempat Bidadari Merah. Saya buakn mengatakan kalau saya
profesional dibidang ini, hanya saja kebetulan saya mengetahuinya.
Masumi menaikkan 1 alisnya dn berkata dengan
kepercayaan diri yang masih tersenggal. “ Kalau begitu, aku memohon bantuanmu,
Mizuki “
Dan disinilah Mizuki, memenangkan piala
kemenangan serta lampu sorot khayalan yang hanya kearahnya. Ia tersenyum lebar
dan mulai membereskan semua hal bagi Masumi dan Maya sejenak ia keluar dari
kantor Masumi. Ia hanya bisa berdoa agar piala ini tidak cepat kusam dan
berkarat.
Ruangan tempat
Kuronuma menempa bakat para aktris dan aktor itupun akhirnya lenggang. Seperti
biasa, Maya tidak diijinkan untuk ikut membersihkan ruangan oleh cleaning service yang mengidolakannya
dan bersumpah untuk tutup mulut tentang kebiasaan Maya yang baru tentang pindah
tempat tidur. Maya selalu mengatakan kalau ia datang lebih awal dari biasanya
kepada para pemain. Yang mengetahui keadaan asli Maya hanyalah Rei, Sakurakoji
dan Kuronuma sendiri. Dengan iming-iming ia akan memberikan pertunjukkan yang
lebih dan lebih spektakuler di penampilan berikutnya cukup membuat telinga
Kuronuma kenyang. Ia sendiri menyerah kepada niatan Maya, hanya pesan untuk
menjaga kesehatan, menjaga diri dan embel-embel lainnya yang rutin ia lontarkan
sebelum meninggalkan aula latihan. Ia menyayangi Maya seperti anak perempuannya
dan sangat percaya kepada cara Maya melatih dirinya sendiri. Bu Mayuko sendiri
sudah benar-benar menyerahkan hal ini kepada Kuronuma dan kepada Maya sendiri
tentunya.
Setelah semua
pembersihan selesai, petugas kebersihan itupun mengundurkan diri. Tak lupa Maya
mengunci pintu penghubung aula latihan dan ruang istirahat. Ia benar-benar tak
ingin diganggu siapapun ketika ia lelah. Maya sudah membersihkan diri di kamar
mandi sempit yang sebenarnya bukanlah kamar mandi yang mewah, namun sangat
bersih dan mereka selalu menjamin kesediaan air hangat. Ia memakai yukata
berbahan katun lembut dan berwarna ungu dalam, bercorak semburat bunga lavender
muda serta putik yang beterbangan. Ia melangkahkan kakinya dengan gontai dan
berbaring ketempat tidur berkasur busa tipis yang terbaring dilantai dengan ukurannya
lumayan lebar bagi tubuh mungil Maya. 180cm x 180cm dan dilapisi seprai putih yang
juga berbahan katun. Petugas tadi baru saja menggantinya dengan yang baru dan
harumnya kain baru dicuci telah membuai tubuh Maya yang asyik bergelung
diatasnya.
Ia memandang
langit-langit yang cukup jauh darinya. Dua lampu tidur yang berbentuk lampion
kotak menerangi ruangan dari dua sudut yang berlawanan dan ia membelinya 5 hari
yang lalu sejak ia memutuskan untuk pindah sementara disini. Ruangannya cenderung
kosong. Tak banyak perabotan, hanya tempat tidur dan lemari kecil tempat ia
menimpan 4 pasang baju yang baru ia beli.
Sakit hatinya akan gosip-gosip
tak sedap antara ia dan Shiori seminggu yang lalu masih membekas dihatinya. Ia masih
jengah ketika Masumi tidak menyadari kehadirannya. Atau ia memang sengaja tak
mau melihatnya? Entahlah… Yang pasti perlakuan Masumi kemarin cukup membuat
Maya semakin menyadari posisinya. Ia hanyalah orang ketiga. Dan ia tak ingin
dicap perusak pertunangan orang. Tak terasa air matanya tergenang, memburamkan
penglihatannya dan mengalir perlahan kearah pelipis.
Ia masih mencintai
Masumi Hayami.
Ia masih tak bisa
menghapus sosok Masumi Hayami.
Dan ia sepertinya tak
ingin Masumi Hayami menjadi milik orang lain, namun siapalah dia…
Maya menutup matanya
erat-erat. Menggosok kuat-kuat air matanya yang sulit mengkonfirmasi perintah
dari otaknya untuk menyuruhnya berhenti menghabiskan berapa tetes mineral
tubuhnya yang berharga. Ia benci bila pagi-pagi memandang cermin, karena mata
bengkak yang selalu tampak nomer satu disana. Dan alasan bergadang sepertinya
sudah terlalu basi untuk disuguhkan ke teman-temannya.
Ia menggerak-gerakkan
tubuhnya, menggeliat dan menarik kedua tangannya keatas kepalanya bersamaan. Ia
masih menutup matanya, entah sudah berapa lama. Rambutnya yang sedikit basah
diujung berkilat-kilat memantulkan cahaya lampion yang temaram. Yukata yang
diikatnya dengan asal-asalan sedikit menunjukkan sisi kedewasaan Maya yang
telah merekah. Dadanya sudah tidak sedatar dulu. Dan renda pakaian dalam Maya
yang manis sedikit menyeruak melebihi kain yukatanya. Kaki Maya yang diangkat
60 derajat secara bergantian ikut memporak porandakan kerapiannya. Ia disarankan
beberapa temannya untuk berolahraga ringan supaya kakinya tetap ramping. Ia bahkan
menyenderkan kedua kakinya ketembok, membentuk segitiga bersudut sekitar 60
derajat juga, sama seperti ia tadi mengangkat kakinya. Biar bagaimanapun,
penampilan adalah hal yang juga dijual para aktris. Maya menyadari kalau
kakinya sama sekali tidak panjang. Karena itu ia selalu menjaga kerampingan
kaki dan betisnya. Ia tak ingin menjadi gendut dan pendek, bahkan menjadi
mungil kuadrat. Bahkan proses pelaseran ke akar-akar bulu halus yang tumbuh
diarea kaki, tangan dan area lainnya yang tidak diinginkan kaum wanita pun
dijalankannya. Ia sangat menyadari penampilannya dan ingin lebih baik lagi.
Ia ingin Masumi
melihatnya tambah cantik.
Ia selalu bermimpi
kalau Masumi bisa memandangnya sebagai sosok wanita dewasa yang matang, yang
mampu menjaga kesehatannya, yang mampu menempa bakatnya, dan juga…. Yang mampu
memuaskan indra penglihatannya.
Hati kecilnya
mengatakan kalau ia juga tidak kalah cantik dari tunangan direktur muda itu. Meski
ia bertubuh lebih pendek, lebih polos dan tidak terlalu cantik, namun ia
memiliki sesuatu yang dijunjung banyak orang. Ia memang menuai banyak pujian,
namun sepertinya hanya kuat diarea bakat dan pekerjaannya. Kalau dari segi
kecantikan, mungkin hanya ibunya lah yang akan mengatakan ia adalah wanita
tercantik didunia. Itupun kalau ibunya sekarang masih hidup. Ia memang cantik,
tapi bukan fisik. Itulah hal yang selalu membesarkan hati Maya ketika ia
berhadapan dengan wanita-wanita anggun lain yang berbalut busana super mahal di
pesta dansa atau acara-acara penghargaan bergengsi.
Posisi tubuh Maya
masih dalam kondisi lucu-lucunya. Ia akhirnya menurunkan kakinya perlahan
ketika dikira-kira sudah 15 menit berlalu dengan lamunannya yang masih juga
konyol. Kedua kakinya menekuk, sedikit menyentuh ujung batal dan rok yukatanya
tertarik cukup tinggi serta memperlihatkan kedua kaki mungilnya yang ramping. Ia
menggeliatkan lagi tubuhnya dan mengerang halus. Menaikkan tulang punggungnya
melengkung keatas dan membusungkan dada perawannya yang malu-malu tersembul
sedikit.
Klik.
Seketika mata Maya
terbuka dan menoleh kearah pintu yang ia yakin telah dikuncinya sebelum ia
masuk tadi. Ia masih terpaku dengan posisinya yang cukup membuat keringat para
kaum Adam bercucuran. Mulut Maya ternganga dan berusaha mengumpulkan
penglihatannya yang tadi diburamkan sekelompok butiran air mata.
“ Selamat malam, Maya.
Maaf aku bertindak lancang masuk begitu saja tanpa menunggu ijinmu. “
Mata Maya
mengerjap-ngerjap tak percaya. Ia spontan langsung membangkitkan badan dan terduduk
dengan kaki terlipat, melupakan semua kelelahan yang sedari tadi menerjangnya.
“… Kau… Semakin
cantik, Maya… Dan kau…. Ternyata sudah lebih dewasa dari yang kuperkirakan ya? “
Kata-kata pria yang
tinggi menjulang dihadapannya menyadarkan kondisi Maya yang acak-acakan. Kain yukata
bahu kanannya melorot parah hingga pinggang dan roknya tersikap, memperlihatkan
hampir seluruh kaki mungilnya yang terlipat sedari tadi. Buru-buru ia
membereskan pakaiannya dengan kasar dan menaruh bantal panjang didepan tubuhnya
sebagai tameng.
“ Tak perlu
terburu-buru, Maya. Aku hanya ingin bicara sedikit denganmu. Itu saja..” ucap
pria itu tenang. Setenang danau yang sama sekali tak beriak.
“ A… Apa yang ingin
anda bicarakan dengan saya malam-malam begini… Pak Masumi…” jawab Maya sedikit
terputus didua kata terakhir. Ketika ia menyebut nama pria yang selalu memenuhi
otaknya akhir-akhir ini.
“ Aku merindukanmu. “
Dunia Maya seakan-akan runtuh seketika dan ia bagai langsung
tersiram air es yang membekukan dengan cepat. Mata coklat gelapnya makin
membulat, melebarkan pupilnya kuat-kuat.
“ Ap... Apa maksud anda, Pak Masumi... Anda sudah
bertunangan dan... Akan menikah 2 bulan lagi... “
“ Terima kasih untuk mengingatkanku pada pernikahan
terkutukku. “
“ Ma... Maksud anda? Terkutuk??? “ Maya merasa agak marah
melihat Masumi mendeskripsikan kehidupannya kelak. Apa sih yang dipikirkan otak
dari Masumi Hayami ini?
“ Terkutuk...” Masumi melangkahkan kaki panjangnya kearah
Maya perlahan dan mantap, menimbulkan sedikit hentakan dilantai kayu mahogni
tua yang sedikit memudar warnanya. “ Karena aku tidak mencintainya. Kau tahu
sendiri siapa yang aku cintai, Maya... Dan terkutuklah aku lagi, karena wanita
itu menolakku mentah-mentah atas dosa masa laluku yang tak terampuni. “ ucap
Masumi menahan amarah.
Maya semakin mundur, menjauhi tubuh kokoh Masumi yang
memabukkan dan berbau tembakau. Dorongan kakinya terhenti manakala tubuh
mungilnya sudah tertahan kuat oleh dinding ber-wallpaper hijau muda bersiluet
bambu jepang berdaun runcing.
“ Kenapa, Maya? Kau takut padaku? Kau pikir aku akan
melakukan hal yang tidak patut kepadamu? “
“ Ti... tidak! Tentu saja tidak, Pak Masumi... Kenapa aku
harus takut padamu? Kau kan akan menjadi suami dari Nona Shiori sebentar lagi..
“ Maya terkekeh ringan. “ Dan anda akan bahagia. Anda akan melupakan kata-kata
terkutuk ketika anda mengenal lebih jauh akan Nona Shiori. “
“ Kenapa dari tadi kau terus-terusan menyangkutkan nama
Shiori ketika kita sedang berdua, Maya? Kutanya sekali lagi, apa kau takut
padaku? “ goda Masumi dan masih berdiri di sudut tempat tidur Maya.
Wajah Maya merah padam, berusaha mati-matian perasaan aneh
yang berdesir dihatinya. Ia tak tahu pasti, rasa takut itu ada, tapi ia tak
memungkiri ada rasa bahagia yang membuncah, rasa rindu, rasa ingin memeluk...
Dan merasakan lagi bibir Masumi yang tegas itu....
Maya menggeleng kuat-kuat kepalanya. Berusaha mengusir
pikiran hormonalnya yang menyerang benteng pertahanannya.
“ Begitu ya? Terima kasih untuk tak takut padaku. Kalau begitu....
“ Masumi merebahkan tubuhnya yang panjang dan mendominasi kasur Maya hampir
separuhnya dan mengunci Maya yang kebingungan di dinding. “ Kalau begitu, aku
ingin istirahat sebentar disini. Kau tak keberatan? “
“ Pak.. Pak... Paaak Masumii... Di Daito ini banyak sekali
ruang istirahat yang jauh lebih bagus dan mewah daripada disini. Lagipula.. Ini
adalah wilayah privasiku.. “ cerocos Maya dengan rasa gugup yang menjalar,
suaranya terdengar bergetar.
“ Karena ini adalah daerah privasimu, Maya... Bukankah itu
menjadikan ruangan yang bagus dan mewah? Siapa yang akan menolak berada diruangan
yang sama dengan Bidadari Merah? “
“ Pak Masumi, aku yakin sekali ruangan sekitar sini diawasi
oleh CCTV. Anda takkan bertindak yang aneh-aneh disini bukan? Kalau hanya ingin
bicara, kita bisa bicara diluar, bukan didalam kamar temaram dan kita hanya
berdua. Dan kalau aku tidak salah mendengar, anda mengunci pintu yang aku
sangat yakin, sudah kukunci sendiri.. “ sindir Maya halus.
“ Bukankah sudah jelas, Maya? Akulah pemilik gedung ini. Tak
jadi soal bagaimana caraku mengakali CCTV dan pintu kamar ini. “ Masumi
mendorong tubuhnya lebih mendekat ke Maya dengan angkuh. “ Aku ingin menemuimu.
Aku menjilat kembali ludah sayonaraku untuk melepas rinduku. Persetan dengan
semua itu kalau aku tahu bahwa aku benar-benar tak bisa melupakanmu sedetikpun!
“
“ Tu.. Tunggu dulu, Pak Masumi! Aku juga sudah memiliki
kekasih! Kami... Kami... Akan menikah juga... Tak lama setelah anda menikah!!! “
seru Maya sembari mendorong bantal pertahanannya kearah Masumi. Berbohong.
Gerak tubuh Masumi terhenti. Ia bangkit terduduk dan masih
mengisi kepalanya dengan kenyataan barusan.
“ Menikah... Dengan Sakurakoji? Setelah aku??!!!?!? “
Masumi mengambil paksa bantal yang menghalangi mereka berdua
dan menghempaskannya kelantai dengan kasar.
“ APA MAKSUDMU MENIKAH DENGAN KOJI?!?!?!!!?”
Maya terhentak. Ia kaget bukan kepalang melihat amarah
Masumi yang meledak.
“ Tapi… Bukankah itu
adalah hal yang wajar, Pak Masumi? Ketika sepasang kekasih berpacaran, kemudian
mereka bertunangan, sudah layak kalau mereka menuju pernikahan? Bahkan…. “ Maya
menggigit bibirnya dengan sedikit ketara “ …. Banyak orang yang mengharapkan
kami dapat menjadi sepasang… suami istri… Sama seperti Pak Masumi dan Nona Shiori..
“. Maya menoleh kesamping dan menunduk dalam.
Bukan… Bukan hal bohong seperti ini yang ingin
kuutarakan. Tapi…. Tapi….
Ucapan Maya barusan
bagaikan petir di siang bolong bagi otak Masumi yang tadi sempat lumpuh
beberapa saat, menyadarkan kalau gadisnya akan dimiliki pria lain. Ia tidak
terima. Tapi ia pun disadarkan oleh kenyataan dirinya sendiri yang berada dalam
posisi yang dideskripsikan sempurna oleh Maya. Ingin rasanya ia meninju tembok
beton disampingnya hingga tembus atau melakukan hal paling brutal yang tak
pernah dipikirkan otak jernihnya.
“…. Aku memang
melamarnya, Maya… Tapi percayakan kau? Aku tidak mencintainya. Aku masih
mencintaimu dan kau pun tahu apa yang kulakukan disini kalau bukan rasa hausku
akan perhatianmu? Tak perlu perhatianmu, cukup mengetahui kau ada disatu atap
gedung yang sama denganku, sudah cukup membuatku lebih hidup dan lebih mengerti
apa itu arti cinta kasih. Aku… Sangat membutuhkanmu disisiku, Maya… Lebih dari
apapun…. “. Masumi menelan ludahnya, membasahi kerongkongannya yang tercekat
dan perih. “ Belum terlambat untuk memperjuangkan cintaku, Maya. Akhir-akhir
ini aku sudah hidup seperti orang gila yang mungkin sudah menumpuk jutaan
sumpah serapah dari para karyawan dan para pengusaha yang kusingkirkan. Aku sangat
ingin mengakhiri hidup seperti itu, Maya. Aku membutuhkan kembali nuraniku yang
ada ketika kau tersenyum padaku. Aku ingin bisa memimpin pekerjaanku dengan
kehadiranmu disisiku, sedekat ini… “ Masumi mendekatkan tubuh jangkungnya ke
tubuh ringkih Maya yang menciut di dinding. “ Dan aku ingin lebih bisa merasai
hidupku yang sialan ini… Dengan kehangatan tubuhmu.. “ Masumi lebih merapatkan
tubuhnya ke tubuh Maya, membuka kungkungan lengan Maya hingga ia bisa mendekap
erat tubuh Maya yang bergetar. “ Dan kerinduanku akan bibirmu yang manis… “.
Dan saat itu waktu
seakan berhenti bagi Maya.
Ia seperti orang
lumpuh yang bahkan untuk mengedip pun tak bisa, ketika bibir maskulin Masumi
menyapu lembut bibir Maya yang lembut. Maya ingin sekali berontak, otaknya
mengirimkan jutaan perintah namun hatinya sudah tercuci otak oleh serangan
hasrat seorang Masumi. Ia tak berdaya.
Kecupan-kecupan ringan
Masumi sepertinya tak cukup memuaskan rasa haus yang luar biasa dalam perutnya
yang terlatih dan berotot. Ia menginginkan lebih. Perlahan tapi pasti, Masumi berusaha
menerobos mulut Maya yang berusaha menarik oksigen dengan lidahnya. Ia mengecapnya
dan bermain-main didalamnya.
“ Maya…. Maya…. “
desah hasrat Masumi yang mulai membuncah namun masih sedikit ditahannya. “ Kau…..
Mmmh…. Manis sekali, Maya…. “ Dan ia kembali mengulum bibir Maya hingga
merobohkan tubuh mungil Maya kekasur empuk yang wangi.
“ Pak… Pak… Akhhh….. “
sepertinya kosakata Maya juga sudah berpendar entah kemana, karena erangan Maya
hanya membius Masumi untuk mencandunya lebih parah lagi.
Masumi menjadi
kehilangan akal sehatnya. Berkali-kali juga otaknya membunyikan alarm
peringatan dengan bunyi terkerasnya, namun Masumi yang ini sudah menjadi tuli
rupanya. Ia terus-terusan mendesak Maya lebih dalam. Tak perduli betapa berat
tubuhnya yang menindih ketat tubuh Maya. Tangannya menjadi lebih liar. Pertama ia
menangkup kedua pipi Maya yang lembut, tapi sekarang kedua telapak itu
menjelajah dengan kesepuluh jarinya, memuaskan indra perasanya yang terbenam
dikelebatan rambut Maya yang hitam, dibahu Maya yang mungil, di pinggang dan
punggung Maya untuk lebih merapatkan tubuh mereka yang terbakar hasrat sepasang
manusia dewasa.
“ Ngghhh…… Khhh…. Pa…
Pak.. Masumiiii…. “ Maya berusaha keras mengendalikan dominanisasi tubuh Masumi
diatasnya. “ Ku… Mohon….. Stop….. Kita tidak boleh… Akhh…. “ Masumi mengendus
ringan leher Maya dan menjilatinya perlahan. “
….Khh… Kita…. Akkhh….. “ Dan
kata-kata Maya tetap menjadi rancu artinya. Masumi benar-benar ahli membuat
Maya yang ceroboh menjadi lebih parah lagi. Kacau! Tapi ia menyukainya dan
apabila syarat memiliki Maya berarti ia menjadi iblis terkutuk, maka ia akan
menjadi makhluk penghuni neraka tersebut.
“ Maafkan aku, Maya…
Aku… Terlalu merindukanmu…. “.
Remasan telapak tangan Masumi di area dada Maya
menyadarkan kembali semua janji Maya kepada Shiori. Kedua mata Maya membelalak
dan mulutnya megap-megap. Ia mengeluarkan semua kekuatan tangan ringkihnya
untuk mendorong kuat-kuat tubuh Masumi yang berat dan tentu saja, tak bergeming
sedikitpun dari posisinya.
“ Pak… Pak Masumi!!
Kumohon hentikan!!!! Aku memiliki Sakurakoji! Dan anda memiliki Nona Shiori! Kita
tidak sepantasnya melalukan ini!!!! “
Kedua mata Masumi
menajam geram. Urat pipinya menegang dan keras. Ia mengerang dalam-dalam
menahan emosinya yang sedari tadi ditahannya. “ MAYA!!!! Ya Tuhan, Mayaaaa….!!!!
“ Ia meninju kasur kuat-kuat tak jauh dari sisi tubuh Maya. “ AKU MENCINTAIMU!
MENGINGINKANMU!!! SETENGAH MATI AKU MENGUCAPKAN SAYONARA PADAMU DIDEPAN KOJI!!!
DAN KINI AKU MENJILAT KEMBALI LUDAHKU SENDIRI DAN KAU… KAUUU?!!!!?? “ . Masumi
menegakkan tubuhnya dan mengacak-ngacak rambutnya kesegala arah dengan gerakan
super frustasi, namun tetap mengurung tubuh Maya diantara kedua pahanya yang
terlipat menduduki Maya.
Maya merasa takut, ia
tak menyangka kalau Masumi Hayami yang terkenal berwatak dingin dan mampu
meredam semua emosinya tampak begitu berantakan dan kacau didepannya… Dan
diatas tubuhnya untuk lebih tepatnya.
“ Pak… Tolong
menyingkir dari atas saya… Tubuh anda terlalu berat untuk ukuran saya. “ Maya
berucap mantap dengan dibuat-buat, menyamarkan getaran-getaran grogi yang kuat ditiap
hurufnya dengan perlahan. Dengan penuh bakat ia menutupi semua gelora emosi
tanpa cela. Dan Masumi terlalu sibuk untuk meneliti akting Maya dengan
pikirannya sendiri.
Masumi masih
menggenggam erat kedua sisi rambut lebatnya dan mengerjapkan matanya. Helaan nafas
Masumi yang panjang terhembus. Ia mengurut keningnya dan menepuk sedikit kuat
pipinya—atau sedikit menamparnya?—sepertinya memang itu yang ia butuhkan sekarang.
“ Maaf, Maya…. Maafkan kelancanganku… “. Langkah kaki panjang Masumi melewati
tubuh Maya yang tergeletak begitu saja. Ia menarik diri kepinggir tempat tidur
dan merapikan jasnya yang sedikit kusut. “ Aku tidak bermaksud bertindak bodoh seperti
ini… Aku benar-benar minta maaf sudah membuatmu takut “. Ia menegakkan tubuhnya
dan mengembalikan posisi 180cm ke posisi tegak berdiri. “ Aku benar-benar
menyesal sudah bertindak sejauh ini. Sudah seharusnya aku tidak mengikuti
bujukan konyol dari sekretaris yang juga tak kalah konyol itu.
Mata Maya kembali
melebar.
Nona Mizuki??? Untuk apa ia membujuk Pak Masumi
agar menemuiku????
“ Apa kau benar-benar
membenciku, Maya? Sampai tak tersisa kata maaf darimu untuk dosaku? Aku hanya
butuh setetes maaf dan aku bisa merasa telah menyentuh langit surga. Apa ini
yang kau inginkan, Maya? Melihatku terus hancur? “.
Iba rasa hati Maya
berkecambuk. Ia tak kuat melihat aura penyesalan Masumi yang dalam akan masa
lalunya. Ia ingin sekali menghambur kearah Masumi, tak perduli dengan yukatanya
yang sekarang lebih berantakan dan senonoh daripada tadi Masumi pertama
melihatnya. Tapi ia memiliki janji yang terlalu bodoh untuk ia tepati. Dan rasa
percaya diri yang terus-terusan terkikis oleh kenyataan dan keadaan. Ia tak sanggup
melangkah lebih jauh lagi dari pada ini.
Cukup sampai disini.
“ Saya… Sudah sama
sekali tak membenci anda sedalam itu, Pak Masumi. Meski saya akui, hati saya
masih terlalu terluka akan perbuatan anda kepada ibu saya.. “ Maya menghirup
oksigen dalam-dalam. “ Namun sejujurnya saya juga tidak menginginkan kehancuran
anda. Malah saya berdoa untuk kesuksesan anda serta… Kebahagiaan anda…. “. Genangan
air mata Maya mulai merebak dan ditahan sekuat tenaga. “ Anda bukanlah belahan
jiwaku yang hilang dan saya bukanlah belahan jiwa yang anda cari, Pak Masumi…
Semua dialog Akoya yang anda dengar dari mulut saya ketika di Astoria… Dan
permintaan saya untuk menunggu kedewasaan saya, itu… Hanyalah… Emosi sesaat. “
Maya menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan Masumi yang meredup
sedih. “ Saya pikir saya memang tertarik dengan anda, tapi ternyata saya salah…
Kita… berada didunia yang berbeda, Pak Masumi. Anda telah memiliki Nona Shiori
dan melamarnya dimata Jepang, dan saya…. “. Maya menengadahkan kepalanya,
mengumpulkan keberanian yang kuat, mengingat karakter sesosok Satoko yang
angkuh dan penuh kuasa akan dirinya. “ Saya memiliki Sakurakoji. “
Masumi menutup matanya
erat. Ia merasakan pintu neraka sudah terbuka lebar didepannya. Ia terbakar. Dan
memang sepertinya ia tetap harus melalui bara api yang luar biasa sakit itu
dengan kaki telanjangnya. Ia mendesahkan nasibnya yang sepertinya telah
ditinggal jauh oleh Dewi Fortuna sejak lama.
“ Baiklah, Maya. Sekali
lagi aku benar-benar meminta maaf. Aku, Masumi Hayami, takkan pernah lagi
bersikap lancang padamu! Aku, Masumi Hayami, sudah sangat menyadari dimana
posisiku sekarang, yakni sebagai tersangka dan penghuni penjara dosa seumur
hidupku. Aku bersumpah takkan menjilat kembali ludahku yang kotor. Selamat malam,
Kitajima….. “
Bunyi pintu tertutup
terdengar pelan, menghilangkan sosok tegap Masumi yang terburu-buru
meninggalkan ruangan tempat Maya melayangkan tatapannya. Pikiran Maya sekarang
terasa teramat hampa dan cahaya temaram lampu tidurnya menambah suasana muram
hatinya yang kosong melompong. Tanpa diperintah, air mata Maya telah terjun
bebas, membasahi kedua pipi Maya yang pucat pasi.
Pak Masumi… Belahan jiwaku… Yang hilang….
Ia memejamkan matanya
kuat-kuat. Merenggut yukatanya dibagian dadanya yang terasa teramat sakit dan
perih luar biasa. Ia menangis.
Pak Masumi….
Tangisan hebat melanda
seluruh atom ditubuhnya yang mungil. Sesenggukan. Menahan dirinya untuk tidak
meneriakkan nama pangeran Daito yang kemungkinan belum jauh dari tempat ia
meratapi dirinya. Ia sampai mengguncang-guncangkan bahunya karena tak kuasa
akan dalamnya luka yang barusan ia torehkan lebih dalam lagi. Ia terus menangis.
Tak perduli kalau ia akan kehilangan cairan tubuhnya sendiri hingga dehidrasi akut.
“Pak Masumi…..”
Deretan giginya yang
putih saling menggertak. Otot lehernya menegang dan kedua tangannya tetap
terkepal didadanya. Ia menghabiskan malamnya dengan rintihan menyayat. Serpihan
harapannya sudah benar-benar musnah sekarang. Ia takkan sanggup lagi menemui
Masumi, tak ada nyali lagi ia untuk berusaha meluruskan segala kebohongannya
yang ia susun secara acak.
Detik demi detik yang
kini berubah jadi jam ke jam tak juga menghentikan laju air mata Maya. Ia tak
pernah merasa sesakit ini sebelumnya. Dan ketika jam wekkernya berbunyi, ia
menoleh pelan. Meraihnya dan menekan tombol off untuk menghentikan peringatan
ringan dari jam tersebut.
Sudah waktunya aku bangun. Ayo bersemangat,
Maya Kitajima!!!!
*
Takamiya, sebuah
keluarga yang cukup memiliki pengaruh hebat di Jepang. Penyandang nama tersebut
memiliki waralaba tingkat nasional hingga internasional, yang dikembangkan
turun temurun dan semakin hari terlihat semakin tinggi dan kokoh kerajaannya.
Hanya dengan lirikan sebelah mata seorang Takamiya, mereka mampu membuat
sederet tubuh manusia membungkuk dalam bahkan mungkin hingga mencium ujung
sepatu.
Sepasukan pelayan
setiap hari bekerja siang malam mengurus pekerjaan mulai dari rumah tangga
hingga neraca keuangan yang entah sudah berapa digit. Berani taruhan, mereka
pasti pusing melihat deretan pekerjaan dan deretan angka-angka yang terpampang
begitu mereka bangun tidur. Bahkan para Takamiya yang kebetulan memiliki sifat
boros sangat-sangat tidak mungkin memikirkan, apakah dalam sehari ia telah
mengurangi 2-3 digit angka direkeningnya. Mereka tak ambil pusing karena
berbagai bunga dari usahanya pasti mampu mengembalikan angka berdigit-digit itu
dalam waktu singkat.
Sore itu, kebetulan
sang nona muda, Shiori Takamiya, merasa kurang sehat—lagi. Ia memerintah kepada
semua pelayan untuk meninggalkannya, tak luput sang pengasuh berkacamata
runcing yang kemarin menyemprot Maya habis-habisan dicafe pun disuruh kembali
kekamarnya. Sang pengasuh bersikeras ingin menemani Shiori, namun kedatangan
seorang dokter muda diruangan bernuansa Jepang yang sangat kental itu berhasil
membuatnya mengundurkan diri dalam waktu 5 menit.
“ Bagaimana kabarmu,
Shiori? Apa yang kau rasakan sekarang? “. Ucap dokter muda itu lembut sembari
mengusap pergelangan tangan Shiori yang kurus dan memeriksa tekanan darahnya. “
Apa kau merasa pusing? “
Shiori menganggukkan
ringan kepalanya. “ Aku mematuhi semua peraturanmu, Richard. Aku memakan semua
yang kubenci… Sebagian besar maksutku, dan aku sekarang patuh untuk meminum
segelas susu murni. Aku tetap menyukai saranmu tentang buah-buahan namun
sejujurnya, aku masih malas untuk berolah raga. “ Aku Shiori yang disambut oleh
kerutan kedua ujung alis pria tinggi didepannya.
“ Kau bisa mencoba yoga, menurutku sangat sesuai dengan
kepribadianmu yang lembut. Dan kau tahu, kau tidak selemah ini. Kau kuat, hanya
saja kau yang selalu kalah oleh sugesti yang kau percaya bertahun-tahun. “ ketus
Richard senewen. Ia memakai stetoskop-nya
dan memeriksa detak jantung Shiori dibalik yukata berbahan sutra lembut yang
pasti sangat mahal harganya.
Sebenarnya bukan yukata yang membuat Richard agak
gemetar tertarik, melainkan ekspresi Shiori yang memelas dan manja ketika ia
memindah-mindahkan letak pemeriksaannya di bagian dada.
Suasana sempat hening
sejenak. Mereka seakan sibuk dengan pikirannya masing-masing yang mereka buat
sendiri. Richard akhirnya mengeluarkan penanya, ia menuliskan resep disecarik
kertas kecil yang akan ia berikan pada penguruss Shiori dibagian kesehatan. Ia pun
member catatan-catatan kecil di buku agenda yang akan diingat baik-baik oleh
koki pribadi dan petugas kebersihan. Tak lupa ia member deretan saran yang
sudah dihapal Shiori diluar kepala, karena Richard selalu membeberkannya ketika
ia hendak pamit.
“ Kau belum mau pulang
kan, Richard? “ tanya Shiori polos.
“ Aku masih harus
kembali kerumah sakit, Shiori. Jam 8 malam nanti aku harus mendampingi pasien
yang dipindahkan dari rumah sakit lain. Ia memiliki penyakit yang lebih parah
darimu dan ia membutuhkan pengawasanku 24 jam kedepan. Setelah itu barulah
dokter pengganti yang akan melanjutkannya. Aku sudah melakukan tugasku dengan
baik dan sekarang aku ingin pamit.“
“ Apakah ia cantik? “
Alis Richard naik
sebelah. “ Maaf? “
“ Pasienmu. “ Shiori
menjadi sedikit gusar. “ Apa ia cantik? “
Sekarang kedua alis
Richard yang naik bersamaan. “ ….. Ya, ia cantik. Ia anak kedua dari keluarga Daidouji.
Kau pasti mengenalnya, Shiori. “
Kaoru Daiouji
Shiori sangat mengenal
baik bagaimana moleknya penampilan Kaoru. Ia seperti mata air segar di padang
pasir. Atau bagaikan padang bunga dimusim semi. Pria manapun pasti akan
langsung menatapnya begitu melihat penampilannya yang elegan dan manis.
Masih segar dalam
ingatannya ketika ia menghadiri pesta dan tak sengaja matanya melihat tingkah
genit dari Kaoru ke kolega-kolega ayahnya. Ia memang memasang standart tinggi
untuk memenuhi statusnya sebagai anak emas. Ia sangat suka ketika para pria
mengelilingi dan menghujaninya dengan puji-pujian. Siapa yang tidak tergoda
dengan rambut coklat lurus sepunggung yang halus dan lebat, kulit seputih
yogurt dan bibir ranum berbentuk sensual membingkai deretan gigi putih yang
rapi terawat? Dan ia bertubuh tinggi
semampai mengingat ia juga berprofesi sebagai supermodel, 174cm cukup memuaskan
bagi panikmat catwalk.
Dan sekarang ia
memiliki janji dengan Richard untuk menemaninya 24 jam kedepan? Dengan Richard-nya???
Memikirkannya saja sudah membuat
perut Shiori mual dan rasanya ia ingin muntah sekarang juga.
Shiori menjadi tidak
tenang melihat sikap Richard yang bersiap meninggalkan kamarnya—sendirian. “
Kau tak boleh pergi! “
Richard menghentikan
aktifitas berbenahnya, cukup tercengang dengan permintaan—perintah lebih
tepatnya— dari Shiori.
“ Shiori? “
“ Kau… harus
menemaniku… disini…”
Richard meletakkan tas
kerjanya dan kembali bersimpuh disisi ranjang Shiori yang empuk.
“ Ada hal yang
mengganggumu? Berbagilah denganku. Aku ada disini.. “ Richard meraih tangan
Shiori lembut dan meremasnya perlahan. “… untukmu.”
Hati Shiori bagaikan
menembus langit surga. Ia bersorak kegirangan dalam batinnya yang tadi sempat
terkubur rasa cemburu buta. Ia menundukkan wajahnya yang merona, malu namun
senang bercampur aduk menjadi satu, dan cukup terlihat jelas diwajahnya.
Senyuman jatuh cinta.
Richard menangkap
ekspresi lugu Shiori yang malu-malu dan ikut tersenyum. Shiori mulai
menjelaskan semua aktifitasnya mulai dari pagi, penyebab dirinya kembali
mengalami tekanan darah yang cukup rendah dan membuat tubuhnya hampir limbung
kembali di pelataran parkir Daito.
Ia bertemu tunangannya
calon suaminya yang pemarah, Masumi Hayami. Entah bencana apa yang dibuatnya
pagi ini karena seisi karyawan Daito seperti terkena putting beliung. Mereka berwajah
pucat, beberapa ada yang terburu-buru hingga terjatuh sambil membawa berkas
yang bertumpuk dilengannya. Yang wanita ada yang menangis dan berusaha menahan
laju air matanya ketika Shiori hadir. Shiori pun menangkap ada yang mengumpat
dengan ucapan terkasar yang pernah Shiori dengar di toilet wanita. Ia menjadi
tidak tenang karena topic pembicaraan para karyawan hanyalah direktur muda yang
mereka anggap gila dan tidak berperasaan, namun lebih kotor dan rendah daripada
sebelumnya.
Ia mendapati Mizuki
yang juga menjadi super sibuk. Tak pernah ia melihat raut wajah Mizuki yang
tertekan seperti ini. Ia tetap berusaha bersikap wajar dan datar, namun Shiori
tahu, ia barusan menangis.
Memasuki ruangan
Masumi tak jauh lebih baik lagi. Ia mencium aroma minuman keras yang menyengat
serta kepulan asap rokok yang entah sudah berapa bungkus tersulut habis
diasbak. Masumi tidak tampak rapi sedikitpun. Ia kusut dan kacau luar biasa.
Rambutnya
berantakan, dasinya entah kemana dan jasnya…. sepertinya ia sudah tidak
mengenal apa itu arti dari kata jas.
Disudut ruangan,
Shiori melihat tumpukan pecahan gelas Kristal yang mahal beserta botolnya. Sepertinya
dari situlah asal muasal sumber bau penyengat ruangan ini. Petugas kebersihan
hanya menerima semprotan dan ancaman PHK ketika mereka ingin membereskan segala
kekacauan yang Masumi buat. Kertas kerja porak poranda dan… ya Tuhan! Bukankah itu
laptop??? Shiori sudah hampir tidak
mengenalinya lagi karena media kerja Masumi yang berharga tersebut sudah
terbagi menjadi 2 secara brutal.
Dan pertengkaran hebat
pun tak terelakkan. Shiori pertama hanya menanyakan secara perlahan, sambil
sekuat tenaga menyimpan rasa kekhawatiran dan kebingungan. Masumi menjawabnya
dengan pengaruh alkohol yang kuat dan berhasil memicu emosi Shiori yang
terpendam. Masumi tidak ingin menunda pernikahan namun ia juga tak ingin
membahasnya dengan Shiori. Ia memilih menenggak kembali segelas Vodka daripada wacana soal pernikahan. Dan
Shiori menjadi semakin muak. Ia merasa terabaikan dan Masumi menjadi kehilangan
akal.
Entah kejadian apa
yang telah membentuk karakter lain dari Masumi Hayami yang ini. Shiori benar-benar
tidak mengenalinya dan ingin sekali mengurungkan pernikahannya. Ia ingin Masumi
yang dahulu kembali memberinya senyuman, meski palsu, namun Shiori menyukainya.
Dan ia sedang berjuang untuk mendapatkan yang asli.
Tapi untuk saat ini
Shiori memilih untuk mendinginkan kepalanya yang terasa amat panas. Ia tak
ingin pingsan lagi di muka umum dan menyuruh supir untuk membawanya kembali
kerumah.
Dan sekarang disinilah
ia. Sedari tadi mengurung diri dikamarnya. Namun ia lebih baik daripada dahulu,
ia mau makan. Ia tak ingin usaha Richard menyembuhkannya menjadi sia-sia. Ia sudah
mengeringkan tetes-tetes air matanya yang merengek minta keluar dan jatuh di
seprai satin bercorak bunga sakura.
Kehadiran Richard
disisinya menjadi amat menghibur dan menyegarkan. Namun nama Kaoru, pasiennya
yang harus ditemani dokter pribadinya, membuat Shiori berjuang keras menahannya
lama-lama disisinya. Terpercik rasa cemburu, ia memberanikan diri, mencuatkan
nyalinya yang rapuh dan berusaha kuat.
“ Aku senang kau
disini, Richard…. Kau takkan tahu betapa berartinya kau disisiku sekarang. “ Shiro bermanja dibahu lebar Richard yang siap
memeluknya. Menghangatkannya.
Richard tentu saja,
menyambut feminitas Shiori yang memabukkan, yang ia tunggu sejak ia memimpikan
dirinya yang memberi cincin safir di pesta pertunangan dengan Hayami. Ia merengkuh
Shiori lembut dan mengelus perlahan rambut Shiori yang ikal dan beraroma
lavender. Shiori pun tak menolak ketika Richard mendaratkan ciuman lembut
dikeningnya dan menggesek-gesekkan ujung hidungnya di pelipis Shiori.
“ Kau jangan lupa,
Shiori…. Aku mencintaimu…. Kau harus tahu dengan apa yang kau berikan padaku
sekarang. Kau baru saja memberiku kesempatan. “
Shiori merekatkan
dirinya ke tubuh Richard yang tinggi besar didepannya, semakin menguatkan
pelukannya.
“ Aku tahu… Kumohon
Richard, jangan berkata apapun lagi. Aku ingin menikmati suasana ini. Ini terlalu
nyaman dan hangat, aku tak ingin kehilangan ini. Aku membutuhkannya, Richard…
membutuhkanmu…. “
Ucapan polos Shiori
menyentakkan hormonal Richard yang sedari tadi ia tahan mati-matian. Richard menghentikan
lacu kata ucapannya. Ia tak lagi berbicara. Ia bertindak.
Shiori menengadahkan
kepalanya, menatap dalam-dalam bola mata Richard yang jernih keperakan. Perlahan,
Shiori menutup matanya yang sayu, meminta Richard membawanya ke dunia yang
belum pernah ia raskan, bahkan oleh Masumi Hayami sekalipun.
Mereka pun berciuman.
Richard menyapukan
lembut bibir tegasnya ke bibir Shiori yang perawan. Kecupan-kecupan ringan
mereka ternyata tak cukup menyegarkan hasrat yang kini perlahan membuncah. Bukannya
semakin segar, kini mereka semakin haus dan haus. Shiori mengalungkan tangannya
ke leher Richard dan meremas kuat rambut lebat Richard yang berwarna emas diantara
jemarinya yang lentik. Sebagai lelaki yang matang, tubuh Richard pun mendorong
Shiori ke peraduannya. Menindihnya namun tetap menyangga tubuh besarnya dengan
sikunya yang keras. Ia tak mau tubuh ringkih Shiori menderita dengan bobotnya
yang sudah pasti bisa membuat Shiori tak bisa bernafas lega.
Perlahan namun pasti,
Shiori menyambut sosok Richard yang jantan diatasnya. Ia tak ingin Richard
pergi, tidak dengan kondisi ini. Ia membutuhkannya. Ia menginginkannya. Baik Richard
maupun Shiori sendiri sepertinya sudah melupakan status Shiori 2 bulan lagi. Mereka
tak lagi memperdulikan tetek bengek macam itu. Yang mereka perdulikan hanyalah
dorongan hasrat sepasang manusia yang mabuk cinta.
Shiori tersenyum
bahagia dan merasa menjadi wanita seutuhnya. Ia merasa beruntung karena ia
berpesan kepada seluruh karyawan bahkan pengasuhnya untuk meninggalkan ia
sendirian ketika ia dikunjungi Richard. Mereka sudah pasti mematuhi perintah
nona muda itu. Area kamar Shiori lenggang oleh manusia dan hal itu sangat
mendukung kegiatan sepasang sejoli yang sedang merayakan percintaan.
Shiori melepaskan
lenguhan manis ketika ia mencapai nirwana. Disusul oleh Richard yang kemudian
roboh disisi Shiori dengan peluh dan keringat bercucuran. Senyum Shiori
menghiasi wajahnya, menyambut mata Richard yang hanya terarah kepadanya. Ia merasa
sangat cantik. Sangat manis dan sangat wanita saat ini. Dengan sisa-sisa
tenaganya, ia memeluk tubuh besar Richard dan menyeka beberapa butir peluh
dipelipisnya.
“ Seharusnya aku
mengenalmu sejak jauh hari, Richard….. “
“ Percayalah Shiori,
aku sangat jengkel karena aku baru mengenalmu ketika kau mengenakan cincin
safir itu. “
Shiori tersenyum
kecut, ia tak ingin kenyataan itu mengganggu aura kasih sayang yang kini
merebak di kamarnya. “ Aku sangat ingin menanggalkan cincin itu, Richard…
kumohon jangan mengungkit itu, aku lebih menikmati pelukanmu sekarang daripada
hal-hal yang malah membuatku sakit kepala. “
“ Ah, maafkan aku
Shiori, aku tak bermaksud…. “
“ Aku tahu, Richard…
Aku tahu… “ Shiori mengusap lembut dahinya, serta menyusuri rambutnya. “Dan
sepertinya, aku jatuh cinta kepadamu….” Shiori berucap lembut, mengurung
sepasang bola mata perak yang terbelalak bahagia dan mencium bibir lelaki itu
perlahan.
*
Latihan malam hari ini
berlangsung amat lancar seperti biasanya. Mereka bersemangat dan berkeringat.
Suara lantang dari para pemain tetap berkumandang hebat. Mereka benar-benar
professional dan mengerti akan kemampuan serta kebutuhan tubuh mereka, meskipun
ada yang ringkih karena terlalu forsir, acting mereka menjadi topeng kaca yang
tak diragukan lagi.
Hal itu berlaku juga
bagi pemain utama, Maya dan Koji. Mereka tak bisa berhenti menghembuskan aura
magis mereka yang selalu bisa menghanyutkan para penontonnya, bahkan para
pemain lainya pun ikut terseret kedalam pusaran akting mereka. Hal itu sangat
lumrah, mengingat mereka sudah seperti bagian tubuh yang terus saling mendukung
dan menyempurnakan. Dan Kuronuma berperan penting sebagai kepala dari
bagian-bagian tubuh lainnya agar bisa berkoordinasi dengan baik dan sempurna.
Latihan mereka sejenak
terhenti karena direktur muda yang dikenal semakin seperti gunung es berjalan
mulai menapakkan langkah kakinya kedalam ruang latihan.
“ Selamat malam,
semuanya. “ Masumi berucap basa basi melihat keheningan yang baru saja ia
ciptakan sendiri tanpa sadar. Ia mengedarkan pandangan ramahnya yang masih
diragukan para pemain lain dan bola matanya berhasil menangkap sosok mungil ber-yukata putih yang berpeluh. Ia menangkap
keterkejutan dari sikap tubuh Maya terhadapnya, dan Demi Tuhan…. Mati-matian ia
berusaha membunuh rasa rindunya untuk tidak menerjang Maya kedalam pelukannya.
“ Selamat malam, Pak
Masumi. “ balas para pemain yang agak kikuk. Yang lelaki bersikap hormat dan
yang wanita berusaha memperbaiki penampilan mereka.
Pak Kuronuma beranjak
dari kursi sutradaranya dan menaruh pengeras suara yang hampir menyatu dengan
tangannya di meja, bersisian dengan kursinya. “ Wah, ada apa gerangan pak
direktur mengunjungi kami malam-malam begini? Adakah hal yang sekiranya tidak
layak pentas atau ada yang ingin direvisi? “ Tanya Kuronuma blak-blakan,
seperti pertama Masumi mengenalnya di malam pesta.
Masumi menyipitkan
mata dan merekahkan senyuman terbaiknya.
“ Untuk pertunjukkan sekelas Kaisar,
aku tidak melihat apapun yang perlu direvisi lagi. Citra Daito kini sangat
mencuat jauh dipermukaan. Kami sangat beruntung memiliki sandiwara ini sebagai
ujung tombak dan aku sangat-sangat berharap hal baik ini tidak hanya untuk
Kaisar, melainkan juga untuk hari bahagiaku. “
“ Hari bahagia? Maksud
anda… Pak Masumi….”
Senyum Masumi semakin
berkembang dan memamerkan deretan gigi putihnya yang terawat, tidak menunjukkan
kalau ia pecandu rokok yang akut. Ia menegakkan tubuhnya dan menghadap
keseluruh pemain yang berpusat kepadanya. Dengan lantang dan tegas ia menyuarakan
niatannya yang mengusik ritual dari latihan sakral Bidadari Merah.
“ Saya, Masumi Hayami,
memohon dengan sangat kepada seluruh pemain Bidadari Merah… “ ia menoleh kearah
Kuronuma “ dan sang sutradara tentunya…. Untuk menunjukkan akting terbaik
kalian di Lembah Plum, lembah legendaris dari sang Bidadari, setelah aku
mengucap janji dialtar Gereja bersama Shiori Takamiya. Aku akan menjanjikan
fasilitas nomer satu dan gaji yang bisa membawa kalian semua ke pulau Hawaii
sebulan. Kalian takkan ku kecewakan. Dan kuharap, kalian pun bisa mendukung
hari bahagiaku 2 bulan lagi sejak detik ini. Bagaimana? Tawaranku ini takkan
terjadi dua kali dan kuharap kalian memikirkannya baik-baik. “ Masumi melipat
lengannya didada dan bersikap layaknya seorang direktur yang pasti memenangkan
sebuah perusahaan.
“ YAAAYY!!!!! TENTU
SAJA PAK MASUMI!!!! “ teriak spontan para pemain menggema. Tak henti-hentinya
dinding putih itu memantulkan ucapan selamat dan tangis haru pemain lain dari
kesempatan langka ini. Mereka memang pernah tampil didepan Kaisar, namun
eurofia kali ini begitu hebat. Mereka seperti melihat pemanasan global yang
positif, mengingat gunung es yang selalu berjalan mondar mandir dan membekukan
sekitarnya sekarang mulai mencair dan menumbuhkan bunga musim semi yang harum
semerbak.
Masumi tak henti
menerima jabatan tangan dari para pemain dan bahkan Kuronuma merangkul bahu
Masumi yang jauh lebih tinggi dari bahunya sendiri. Suasana tawa dan canda
mewarnai ruangan latihan yang tertanya tidak berlaku bagi sepasang pemain
utama.
Koji sangat terkejut
dengan langkah yang dibuat Masumi. Ia tahu betul akan percikan bunga cinta
diantara Maya dan Masumi. Mereka masih saling mencintai. Saling merindukan satu
sama lain. Namun mereka selalu terhalangi oleh status, kedudukan dan tetek
bengek lainnya yang berlaku dalam norma masyarakat umum. Ia hanya bisa
tersenyum palsu ketika Masumi melangkah mendekatinya, dan mendekati Maya yang
mematung di sisi Koji.
“ Ah, Sang Bidadari
Merah… “ Masumi menghentikan langkahnya didepan Maya dan sedikit menundukkan
kepalanya agar bisa memandang wajah gadis yang ia damba. “ Bagaimana denganmu,
Kitajima? Apakah aku tidak mendapat ucapan selamat darimu? “
Maya yang masih merasa
berada dalam lubang hitam yang pekat berusaha mengumpulkan kekuatan hatinya
untuk sadar.
“ Maya? “
Dan senggolan tangan
Koji dibahunya berhasil mengembalikan jiwanya yang barusan melayang entah
kemana.
“ Ah, ya… Maaf, anda
tadi bicara apa, Pak Masumi? “ Maya menundukkan kepalanya yang canggung dan
berwajah seperti kepiting rebus. Malu.
“ Ini… “ Masumi
mengulurkan tangan kanannya. “ Apa aku bisa mendapat ucapan selamat darimu
untuk rencana pernikahanku kelak, Kitajima? “
Maya menengadahkan
kepalanya. Perih. Sesak. Terluka dan terasa matiraga. Ia pun mengulurkan tangan
kanannya dan mulai menjabat tangan Masumi yang besar dan dingin.
Maya merindukannya. Sangat. Ia merindukan tangan dingin itu
menyentuhnya dan ia akan berusaha menghangatkannya dengan limpahan rasa cinta
kasih yang ia punya.
“ Se… Selamat untuk…
rencana pernikahan anda, Pak Masumi… Dan kuharap… kami… bisa memberikan yang
terbaik untuk…. Hari bahagia anda bersama… Nona Shiori….. “ ucap Maya
terbata-bata dan bergetar. Koji sudah pasti bisa membaca badai dalam hati Maya
dan Masumi tak berbeda jauh. Hanya saja Masumi sudah tidak ingin lagi membuka
harapannya. Ia mengucapkan terima kasih yang singkat dan melepaskan genggaman
tangan Maya yang mulai meracuni hasrat yang ia pendam dalam-dalam.
Masumi memutar
tubuhnya dan membelakangi keduanya. Ia bahkan tidak begitu menanggapi ucapan
selamat yang terlontar dari mulut Koji. Masumi sudah terlalu jengah untuk
melihat pemuda beruntung itu seenaknya menggandeng, memeluk dan mengecup Maya
setiap hari.
Kuronuma kembali
menyambut Masumi dan menghentikan latihan. Para pemain dibubarkan lebih awal
dari jam biasanya, dan disambut gembira oleh para pasangan yang jatuh cinta
untuk berkencan di tempat romantis atau sekedar makan malam berdua. Masumi mengekor
langkah Kuronuma untuk memasuki kantor kerjanya yang terletak diluar ruang
latihan dan membahas soal pertunjukkan spesial mereka dengan serius. Masumi memang
tidak mengharapkan 100 persen akan mirip dengan pertunjukkan Kaisar, apalagi
lokasi pertunjukkan adalah di Lembah Plum yang menuntut kealamiannya.
Maya masih mematung. Ketika
seluruh pemain pulang dan mengosongkan ruangan, ia berlari menuju toilet wanita
dan menghempaskan tangisan tertahannya sedari tadi. Ia tak perduli kalau ada
yang mendengar. Ia tak lagi peduli kalau ada paparazzi nekat yang mengabadikan
wajahnya yang jelek bersimbah air mata. Ia hanya ingin menangis dan menghabiskan
1 roll tissue toilet.
Koji tidak bisa
berkata apapun. Ia tak mungkin melabrak direktur muda yang mau menikah dengan
alasan yang masih abu-abu, apalagi menyusul Maya ke toilet wanita. ia hanya
bisa membereskan kebutuhannya dan mengirimkan pesan singkat di HP Maya yang ia
tahu, takkan dengan cepat terjawab.
Kapanpun kau butuh aku, aku selalu ada
disisimu. Sakurakoji.