Tuesday, 13 November 2012

Background Music of Paragraph 10 by The Choir Boys



Tears In Heaven 



Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would you feel the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
'Cause I know I don't belong here in heaven

Would you hold my hand
If I saw you in heaven?
Would you help me stand
If I saw you in heaven?
I'll find my way through night and day
'Cause I know I just can't stay here in heaven

Time can bring you down, time can bend your knees
Time can break your heart, have you begging please, begging please

Beyond the door there's peace I'm sure
And I know there'll be no more tears in heaven

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would you feel the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
Cause I know I don't belong here in heaven

Tears In Heaven

Paragraph 10

                                    Tears In Heaven



Bunyi lonceng kebahagiaan menggema di selutuh pelosok negeri, bahkan dunia. Hari ini, 25 Desember, Natal telah tiba! Banyak yang sedari pagi mengikuti misa di gereja. Ada juga yang meski tidak merayakannya, namun ikut larut dalam perayaan sukacita ini. 

Pelukan dan ciuman dari sanak saudara, orang tua, kekasih , teman atau sahabat mewarnai hari ini. Semua tersenyum. Semua merasakan kebahagiaan dan keceriaan.

Semua…. 

Kecuali sekumpulan orang berpakaian hitam di sebuah bukit yang cukup tersembunyi dari hiruk pikuk perayaan Natal, bahkan dari kebisingan klakson setiap harinya. Bukit itu terletak tak jauh dari kota Tokyo. Tingginya tidak terlalu mencolok, namun sangat strategis bila ingin melihat sebagian kota Tokyo yang padat luar biasa. 

Ada pagar besi tempa berwarna kayu tua yang menyapa para pengunjung untuk masuk lebih dalam. Para penjaga akan meminta ID Card dan menyodorkan buku tamu pengunjung bagi yang terlihat cukup asing. Jalanan dua jalur yang beralaskan paving cukup mengkontraskan komposisi warna kerasnya alas kendaraan tersebut dengan pepohonan pinus yang menghiasi tiap sisinya. Saljunya kebetulan tidak separah tahun lalu, jadi warna hijau segar masih dapat menyembul untuk memamerkan kesegarannya.

Setelah menembus sekitar 200 meter jalanan paving, pemandangan berikutnya jauh lebih terbuka. Lahan parkir tersedia cukup untuk memuat sekitar 100 mobil pengunjung. Ada sebuah kapel kecil berdiri dipusatnya. Mengadaptasi desain karya yang luar biasa dari Basillica St.Petrus, maka tak heran beberapa pengunjung yang pertama kali melihatnya langsung menganga dan berdecak kagum.

Bangunan itu memang tidak terlalu besar, namun juga tidak akan membuat orang berdesakan ketika menaiki beberapa anak tangga pipih menuju pintu utama. Langit-langitnya juga tinggi, disangga oleh kokohnya desain artistik bernuansa kental Roma-Vatikan. 

Tak jauh di belakang kapel, terhampar pemandangan hebat. Taman telah didesain secara mewah dan natural untuk memuat puluhan jenis bunga. Terlihat beberapa lampu sorot ditanah. Menjanjikan pemandangan eksotik pada malam hari, karena dapat melihat hamparan lampu neon kota Tokyo sekaligus milyaran bintang diangkasa. 

Pastur berambut pirang yang telah luntur oleh uban memulai acara. Para pengunjung berpakaian serba hitam menyambutnya. Yang wanita selalu sibuk menyeka air mata dan mengotori sapu tangannya oleh bercak mascara, dan yang pria sibuk menabahkan.

Para wartawan yang haus berita hanya dapat meliput dari luar. Mereka pun berjumlah sangat sedikit dan agak kesulitan untuk mendapatkan gambar sempurna. Hanya segelintir wartawan kelas atas yang mampu menembus barisan bodyguard setelah menunjukkan kartu ijin meliput yang sah dari Daito. 

Ayumi Himekawa, wanita anggun yang terlahir sempurna, membuka topeng keanggunan yang selalu dikenakan. Ia sempat terlihat menangis histeris dan berteriak tak tentu arah. Ia tak bisa menerima kenyataan dan berakhir dengan pelukan erat dari sang ibunda, Utako. 

Bu Mayuko duduk disisi yang tak jauh dari Ayumi, dan berhasil menenangkannya. Tak hanya Ayumi, seluruh sahabat Maya yang selalu membantu Maya untuk tetap berdiri tegak hingga ia meraih gelar Bidadari Merah juga berhasil dikendalikan oleh wanita berusia lanjut tersebut. 

Pak Kuronuma beserta istri serta seluruh assosiasi kesenian yang terlibat turut hadir. Mereka duduk dibarisan kedua dari depan dan tetap hening mendengarkan Pastur berkhotbah singkat. 

Sakurakoji. 

Pria yang telah memendam rasa cinta cukup lama dari Maya hanya bisa menunduk lesu dan duduk dibarisan kursi berukir kuno paling depan. Ia menggenggam kedua tangannya dengan erat sejak awal acara. Air matanya telah kering sejak berita tentang Maya berhasil bersarang di telinganya. 

Maya… 

Dipandanginya wanita muda yang masih berusia 20 tahunan itu. Wajahnya luar biasa cantik. Bulu matanya lentik. Polesan makeup sederhana menghiasi wajahnya yang pucat. Rambutnya tersisir rapi dan tegerai. Ia mengenakan kimono merah berhiaskan ranting pohon plum. Tertidur abadi. Peti mati berwarna broken white dan berukir mawar liar menyangga tubuh mungilnya yang tergeletak didalamnya. Semerbak mawar ungu bertaburan disekelilingnya, seakan tak henti melindunginya dari dunia luar. Ia tetap terpejam sejak ia dilarikan kedalam heli di Lembah Plum. 

Maya…. Kenapa???? 

Koji mengira ia tak akan meneteskan air matanya lagi. Ia merasa air matanya telah mengering. Namun kenyataan setetes air mata yang barusan jatuh ke pipinya berkata lain. 

Sang Pastur memelankan suaranya ketika ia melihat sosok gagah seorang pria yang baru memasuki pintu kapel. Cahaya pagi menerobos masuk mengikuti langkahnya yang mantap menuju Maya yang tertidur di dekat altar. Bias warna warni jendela gereja menanunginya saat ia mengenakan pakaian serba hitam, berwajah datar dan membawa sebuket penuh mawar ungu ditangannya. 

Seluruh pengunjung seakan berhenti bernafas, terutama Koji.

Mawar Ungu???




“ Re.. Rei… Apakah, Pak Masumi itu… “ bisik Mina sambil tak henti menatap Masumi.

“ A… A… Aku tak tahu! “ balas Rei yang juga tak henti memandang Masumi yang terus berjalan perlahan.

Masumi berhenti didepan peti mati Maya. Barisan lilin yang berjumlah puluhan mengitarinya, memberikan kesan syahdu dan lembut. Ia menatap Pastur berusia itu dan mengangguk hormat. Pastur pun membalas hormat Masumi dan mempersilahkan Masumi untuk lebih mendekat kearah kekasihnya berbaring.

Ia meletakkan buket mawar ungu itu di kaki Maya, karena hanya itulah ruang kosong di petinya, mengingat sudah banyak ia mengerahkan kuntum-kuntum bunga mawar ungu segar disekeliling Maya sekarang. Masumi kemudian sedikit membungkuk, menyetarakan posisi tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Maya.

Bisik-bisik ringan para pelayat mulai terdengar.

“ Apa yang dilakukan si dingin dan gila kerja itu didepan Bidadari Merah? “ bisik seorang sosialita cantik berkacamata gelap gradasi coklat.

“ Mungkin ia sangat terpukul dengan kepergian akrtis yang saat ini sangat berharga bagi Daito. Kau tahu sendiri, Pak Masumi takkan main-main soal harga bakat dari seorang aktris yang satu ini. Dia ini Bidadari Merah! Bahkan Kaisar pun memujanya! “ bisik seorang sosialita lain yang bersanggul anggun disampingnya.

“ Maya… kekasihku… Apa kau sedang tertidur sekarang? “

Para pelayat sontak menganga. Dan wartawan yang di ijinkan meliput oleh Daito sejenak lupa dengan kameranya. Bahkan ada yang menjatuhkan penanya.

 “ Kau… sangat lelap ya? Apa sekarang kau sudah merasakan kedamaian sekarang? Sampai kedatangan Mawar Ungu-mu pun tak kau sambut dengan mata yang terbuka? ” Masumi membelai sayang rambut ikal Maya. “ Sampai kapan kau akan tertidur secantik ini ? “

Koji hendak beranjak dari kursinya. Tidak terima. Namun Kuronuma menahannya dari belakang dan meminta pengertian Koji untuk memberikan waktu bagi Masumi. Yang sebenarnya juga, adalah rasa penasaran Kuronuma yang memuncak. Ada apa antara artist didikannya dengan orang yang membayar gajinya ini.

“ Maya… Aku mencintaimu… “

Suara ringkih Masumi cukup terdengar oleh para hadirin yang sebagian besar sudah berdiri dari kursinya mendengar pernyataan cinta Masumi Hayami kepada sang aktris.

“ Aku.. .Sangat mencintaimu… Maafkan aku yang terlambat mengatakannya, kekasihku… “

Dan Masumi mengecup lembut bibir Maya yang tak bergerak. Pelan dan penuh cinta.

“ Seharusnya kau menjadi istriku di altar ini…. Dan bukan …. Menjadi… Bidadari yang tak bernyawa seperti ini. “ sebulir air mata mulai menggenang di sudut mata Masumi yang tak lagi datar.

“ Seharusnya kita berucap janji setia disini, dan saling mendoakan kebahagiaan… “

Masumi mengeluarkan sekotak kecil beludru hitam dari saku jasnya, membuka dan mengambil cincin cantik bertahtakan berlian 6 karat berwarna ungu dan putih bening, yang berukir mawar ungu disekelilingnya.

     The Deep of Purple Rose

“ Kudengar… Kau sangat ingin memakai ini, kan…. Maya? “ Masumi perlahan menyematkan cincin cantik itu di jari manis Maya yang kaku. Agak kesulitan bagi Masumi untuk memakaikannya, namun usaha kerasnya membuahkan hasil. Cukup ada rongga diantara jemari Maya yang membuat Maya terlihat semakin cantik dengan bukti cinta Masumi di jarinya.

Beberapa wanita penggila perhiasan mewah langsung mengenalinya. Mereka saling berbisik dan ada yang langsung mengeluarkan selularnya, meski jelas-jelas ada larangan untuk mengaktifkannya.

“ Lihat… Kau sangat pantas memakai ini… Apakah… kau bisa melihatnya, Maya? “ dan buliran air mata mulai meninggalkan jejak dipipi Masumi. “ Apa kau bisa… merasakannya?? “

Para pelayat tersayat melihat pernyataan cinta Masumi Hayami yang fenomenal ini. Mereka mengetahui kalau Masumi sudah memperistri Shiori kemarin, namun sekarang sang istri tidak berada disisinya. Dan kenyataannya, sekarang ia malah memproklamirkan cintanya kepada dunia melalui siaran langsung yang diliput media.

Pastur berdeham ringan dan berbisik ke Masumi yang masih berusaha keras menahan tangisnya. Masumi mengangguk dan kembali mengecup bibir Maya, untuk yang terakhir kalinya.

“ Selamat jalan, Maya.. Tunggulah aku… “



Dan Masumi memundurkan langkahnya. Ia mengambil kursi tepat disebelah Koji yang masih menganga tak percaya dengan pemandangan barusan. Pastur melanjutkan kembali acara pemakaman dan membacakan doa untuk Maya.

“ Kau…. Mawar Ungu? Mawar Ungu-nya, Maya?? ” Koji berbisik, berharap Pastur tua itu tak mendengarkan rasa penasaran Koji yang membludak.

Masumi mengangguk tanpa melihat kearah Koji.

“ Jadi…. Selama ini..??? “

“ Aku sudah jatuh cinta padanya sejak melihatnya menjadi Beth, Sakurakoji. Dan kalau kau tak keberatan, aku lebih tertarik mendengan doa Pastur didepan dibandingan rasa penasaranmu yang tak tepat waktu ini. “

Koji terhenyak. Ia kembali ke posisi tegak dan sekarang ia ketambahan keringat dingin di dahinya.

Akhirnya penutupan doa telah terucap. Para pria bertubuh tegap mulai menutup peti mati Maya dan menguncinya di tiap sudut. Masumi sempat melihat kembali wajah kekasihnya tertidur dan tetap memakai cincin darinya. Dan itu adalah harapan terakhirnya sekarang.

Masumi pun meminta foto Maya yang sedang dibawa oleh Rei. Bingkai itu berukuran cukup besar dan memuat foto cantik Maya yang mengenakan kimono Bidadari Merah. Masumi berjalan perlahan didepan untuk memimpin barisan pelayat menuju pintu utama bangunan kapel. Alunan merdu dari 3 anak lelaki tampan berkulit putih mengalunkan lagu Tears In Heaven dengan syahdu, sementara beberapa wanita cantik suruhan Masumi menghamparkan mahkota-mahkota mawar ungu dari keranjangnya, meninggalkan jejak Maya dilantai.

Beberapa wanita yang sedari tadi masih ribut membicarakan cincin Maya, semakin aktif ketika mereka terbebas dari rutinitas kursi gereja. Sepanjang iring-iringan, mereka semakin yakin untuk menganggap Masumi telah sakit jiwa karena membiarkan cincin termahal itu turut serta dikuburkan bersama Bidadari Merah. Meski benar itu sebagai tanda cintanya, namun hal itu terlihat terlalu berlebihan. Terlalu absurb.

Pengantaran jenasah akhirnya berhenti di sebuah taman indah dan memiliki beberapa kanopi bening yang melindungi tanaman dibawahnya. Mereka harus melalui gerbang kecil berbahan besi tempa dan membentuk gambar malaikat-malaikat kecil yang sedang meniup terompet. Tumpukan salju telah disingkirkan dari jalur utama yang membelah taman, menuju sebuah bangunan cantik berpilar lima buah, yang menopang sebuah kubah berukir diatasnya. Pintunya bergaya kental gaya Eropa dan mempersilahkan semuanya menuju ruangan utama.

Lantainya terbuat dari marmer mahal berwarna putih, senada dengan peti mati Maya. Lampu gantung berkuncup tulip yang bersusun 3 baris menggantung ditengah. Dibawahnya terlihat kerumunan bunga, yang tak lain hanyalah kumpulan mawar yang berwarna ungu. Hanya mawar ungu. Dan barisan lilin kembali terlihat disana, memantulkan cahaya orange ke dinding ruangan yang bergambar para malaikat.

“ Ma.. Maya akan beristirahat di.. disini, Rei?? “ tanya Taiko dengan perasaan takjub dan masih berbisik. “ Ini bahkan lebih mewah dan luas dibandingkan apartemenku! “

Rei pun menjawab dengan bisikan yang lebih tipis. “ Masumi Hayami, ah.. Mawar Ungu maksudku… telah menyiapkan ini semua. Aku takkan seheran itu mengingat beliau itu orang yang terlalu kaya harta. Yang lebih mengagetkanku, bagaimana bisa mereka berdua saling jatuh cinta! “

“ Aku pun tidak percaya dengan apa yang tadi kulihat. Tadi kupikir aku sendiri sedang bermimpi, karena pandanganku terlalu buram oleh air mata, tapi… ternyata itu bukan mimpi ya. Mengingat kau juga melihatnya, Rei… “

Rei mengangguk. “ Ini terlalu tragis untuk menjadi nyata. Sepertinya obsesi Maya menjadi Bidadari Merah terlalu besar, sampai ia benar-benar menerapkannya pada hidupnya sendiri… seandainya aku tahu… kalau… ia segila itu.. aku…”

Rei kembali tergugu. Ia masih belum bisa menerima sepenuhnya kepergian Maya. Mau tak mau, Taiko pun ikut menangis dan terlalu sibuk mencari tissue. 

Pembacaan doa di pimpin kembali oleh Pastur, sebelum peti tersebut dimasukkan kedalam liang kubur. 

Isak tangis kembali pecah mana kala peti tersebut perlahan diturunkan. Beberapa teman kembali menaburkan bunga dan Mina ternyata tidak bisa menahan kesadarannya. Ia terjatuh dan ditopang oleh Rei dan Taiko, yang juga berusaha mati-matian agar tak senasib dengannya.

Akhirnya pemakaman telah usai. Para pelayat yang sibuk menghentikan air matanya semakin berkurang satu per satu dan menuju tempat parkiran. Namun perhatian para peliput berita tak henti menyorot satu sosok yang cukup menonjol di upacara pemakaman paling fenomenal ini. Meski kental bernuansa Jepang, jenasah Maya tidak dikremasi. Daito—Masumi Hayami, bersikeras kalau Maya akan dikebumikan.

Pangeran muda Daito itu tetap berdiri disana. Tak berkata apapun. Dan tak berekspresi apapun. Ia tetap memegang kuat foto Maya, memeluknya. Dan tatapannya tak henti menyorot gundukan tanah baru yang di tutupi sempurna oleh sekumpulan bunga segar dari para pelayat.

Tak ada seorang pun yang mampu membantu Masumi beranjak dari tempat itu. Hijiri hanya mampu mengamati dari kejauhan bagaimana tuannya berduka. Ia pun terluka. Segala kinerja efektifnya selama ini ternyata tak mampu melindungi Bidadari Merah yang sudah dikomando Masumi sejak ia menjadi perantara mawar ungu. BahkanMizuki pun tak berani. Ia hanya menemani Masumi disisinya dan masih berbekal saputangan untuk menyeka jatuhnya air mata dari balik kacamata hitamnya.

Dan kamera wartawan masih meliputnya.

Hal ini tak luput dari mataShiori yang bengkak dan sembab oleh karena air mata yang tak henti mengalir. Ia tak mampu mengikuti upacara pemakaman Maya. Tentu saja tidak! Bagaimana bisa ia melihat wanita yang pernah diusir dari sisi Masumi, sementara sekarang ia sedang dipeluk oleh Richard di kamar pribadinya?

“ Tenangkan dirimu, Shiori. Kalau kau begini terus, kau hanya semakin melemahkan tubuhmu. Kau membuat semua orang khawatir. Kakekmu, ayahmu, ibumu, terutama aku… “ Ucap Richard memohon dan tak henti membelai rambut legam Shiori.

“ Bagaimana bisa aku tenang!!! “ teriak Shiori frustasi. “ Maya meninggal karena aku! AKU!!!! APA KAU TAK LIHAT BAGAIMANA PUCATNYA WAJAH MASUMI?!? DAN APA KATA ORANG NANTI KARENA MELIHATNYA MENCIUM MAYA DI SIARAN LANGSUNG INI???“ tunjuk Shiori kasar ke televise datar berukuran 42 inci tersebut.

Richard semakin mempererat pelukannya.

“ Aku takkan sanggup bertemu lagi dengan Masumi! Aku terlaluberdosa.. akuu… “ dan ucapan Shiori semakin terbata-bata karena tangisnya kembali tumpah.

Sesaat suasana kembali menyayat. Shiori seperti orang sakit jiwa yang tak henti mengucapkan kata maaf kepada Maya dan Masumi secara bergantian. Air mata terus berjatuhan dan membasahi kemeja Richard.

“ Shiori…. Kau adalah wanita special bagiku. Dimataku… Kau adalah wanita terkuat yang pernah kutemui. “

“ …. Richard..? “

“ Aku tahu, banyak yang meremehkanmu. Banyak yang menganggap sepele akan daya tahan tubuhmu. Namun tidak bagiku. Kau telah tumbuh menjadi wanita hebat dimataku. Dan potensi itu tetap ada di nuranimu. “
Richard menangkup kedua pipi Shiori yang basah. Ia menghapus jejak air mata dan mengembangkan senyuman.

“ Apa maksudmu…? Kemana arah pembicaraan ini, Richard? “

Kedua mata Richar menajam. “ Berjuanglah untuk kita semua, Shiori. Ini saatnya bagimu untuk menunjukkan kepada mereka yang meremehkanmu, bahwa kau adalah wanita terhebat yang ada didunia ini. Kita memang telah kehilangan sahabat terbaik kita, Maya Kitajima. Dan menorehkan luka yang teramat dalam di jiwa Masumi Hayami. Namun kita bukanlah si kalah. Kita masih mampu memperbaiki ini semua. Cintaku akan selalu menyertaimu. Kau paham maksudku? “

Mata Shiori berbinar. Ruam keputus asa-annya beranjak menghilang, terganti oleh cahaya semangat.

“ Ri.. Richard… “

“ Aku percaya padamu. “

Shiori mengalungkan tangannya keleher Richard danmengecup bibirnya dengan lembut.

“ Kurasa memang kita harus mulai berbuat sesuatu untuk Masumi. Ia tak pantasterus-terusan berduka seperti ini. Karena itu, Richard… Kumohon tetaplah disisiku, dan bantu aku membayar dosa ini dari jiwaku. “
Richard mengangguk dan tersenyum. Ia kembali memeluk Shiori ditubuhnya dan berharap semua keajaiban segera menghampiri mereka.

Segera…

Thursday, 25 October 2012

Background Music of Paragraph 09 by Lee Sun Hee



                Fox Rain


Sarangeul ajik nan mollaseo
Deoneun gakkai motgayo
Geunde wae jakkuman motnan nae simjangeun
Dugeungeorinayo

Nan dangsini jakkuman barphyeoseo
Geunyang gal sudo eomneyo
Irueojil su do eomneun I sarange
Nae mami neomu apayo

Haruga gago bami omyeon
Nan ontong dangsin saenggakppunijyo
Hansimseureopgo babo gateun nal
Eotteoke haeya joheulkkayo

Maeumi sarangeul ttareuni
Naega mwol hal su innayo
Irueojil sudo eomneun I sarange
Nae mami neomu apayo

Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiru dubirubiru
Dubirubiruraffa

Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiru dubirubiru... ~

Haruga gago bami omyeon
Nan ontong dangsin saenggakppunijyo
Hansimseureopgo babo gateun nal
Eotteoke haeya hanayo

Nae apeumi mudyeojyeo beoril nari
Eonjejjeum naege ogin halkkayo
Hansimseureopgo babo gateun nal
Eotteokhae haran maringayo

Dalbichi neomuna johaseo
Geunyang gal suga eomneyo
Dangsin gyeote jamsi nuwo isseulgeyo
Jamsiman aju jamsiman

[X8]
Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiru dubirubiru
Dubirubiruraffa 

Paragraph 09



                            Fox Rain


Pernikahan hanya menghitung hari. Namun ada kejanggalan. Kedua belah pihak keluarga menutup rapat peristiwa sakral penyatuan dua insan manusia yang mereka pikir—saling jatuh cinta. Resepi yang rencananya diadakan setelah mereka saling mengikat janji sehidup semati didepan altar juga diundur. Kesibukan menjadi alasan utama, dan tersebar juga permohonan maaf kepada para undangan untuk tidak menghadiri acara pernikahan, karena hanya keluarga inti yang terlibat. Pers tak henti menuntut penjelasan, namun nihil. Pihak keamanan menjaga ketat radius 20 meter dari para pemburu berita dan membuat usaha mereka menjadi sangat sia-sia.

Maya juga mengetahui akan hal itu. Namun ia tak dapat berbuat apapun. Berusaha mengejar Masumi juga cuma jadi mimpi indah belaka yang sepertinya akan dia simpan rapat-rapat. Koji tak henti mendampingi Maya dan membantunya melegakan semua kesesakan ketika berita pernikahan kedua manusia yang beruntung itu tersiar.

Rombongan pertunjukkan tengah bersiap mengemasi semua kebutuhan mereka untuk mewujudkan kembali panggung alami Lembah Plum. Lokasi itu dipilih karena terakhir mereka melihat Bu Mayuko berakting disana, mereka benar-benar merasakan apa yang tertulis dalam buku naskah. Manis, pedih, penuh cinta namun juga derita tersirat jelas. Tantangan sangat jelas. Mereka diminta menunjukkan sebuah dunia fantasi yang minimal seperti apa yang telah berhasil digambarkan Bu Mayuko beberapa tahun lalu. Nama Maya dan Koji sebagai pemeran utama, serta Kuronuma sebagai sutradara, dipertaruhkan.

Sebagian kuli tinta mengikuti mereka. Namun hanya segelintir peliput berita yang diijinkan mengabadikannya. Daito memasang tarif yang sangat tinggi bagi siapapun yang ingin menyiarkannya. Dan hanya 1 media yang berhasil menjawab tantangan Masumi. Mereka harus benar-benar merogoh kantongnya sangat dalam guna mendapatkan legenda yang akan dihidupkan kembali. Dan niatan Maya untuk menjadikan pertunjukan kali ini berbeda dari sebelum-sebelumnya,sudah mereka ketahui.

Semua alat transportasi dikerahkan Daito untuk mengangkut semua pemain serta embel-embel pelengkap pertunjukan. Tinggal Maya seorang yang masih berada di tempat latihan ekstra,  dilantai 11 tepatnya. Karena sesuatu hal, ia kembali kesana, sedangkan yang lain sudah mendapatkan kursi nyaman bahkan ada yang bersiap tidur selama dalam perjalanan kelak. Bu Mayuko, Pak Genzo, Ayumi, Hamill dan beberapa anggota theater yang menaungi Rei, Sayaka dan yang lainnya juga sudah bersiap.

Setelah Maya mendapatkan barangnya yang tertinggal, ia segera bergegas menuju pintu lift. Ia menggenggam erat barangnya, takut ia akan menjatuhkannya, karena ternyata Hayami muda dan beberapa koleganya juga berada disana.

“ Ah, Bidadari Merah! “ sapa kolega pertama yang berkacamata dan berkepala separuh botak, uban yang teratur mengatakan bahwa pria ini sudah mengarungi lebih dari 50 tahun kehidupan.

Maya membungkuk hormat kearah mereka dan ikut memasuki lift. “ Apa kabar, Pak ? “

“ Baik, baik… “ sapa kolega terakhir, yakni yang kedua, dengan nada grogi. Terlihat sekali kalau ia sangat mengagumi Maya. “ A.. Apa kau ingin berangkat sekarang? Kudengar… kalian akan bertolak ke Lembah Plum hari ini? “

Maya mengangguk. “ Betul, kami akan berangkat sekarang. Saya harap bapak-bapak akan melihat pertunjukkan saya besok malam. “

“ Tentu, kami akan datang. Bagaimana mungkin kami akan melewatkan bidadari secantik ini menebarkan pesonanya akan aktingnya! “ jawab kolega pertama bersemangat, diikuti kolega kedua yang masih juga gugup. Penampilan Maya yang sederhana namun manis, selalu tak jauh dari pujian. Mata tajam Masumi meneliti dengan baik mulai dari wedges yang berwarna peach natural, dress broken white, selendang Turki bercorak bunga lembut dan rambut Maya yang tergerai sehat. Ia mendesah pelan melihat wanita yang tak pernah lelah ia cintai itu sekaligus jengkel karena tak dapat berbuat apapun ketika beberapa pria tak segan-segan menunjukkan ketertarikannya.

Masumi berdeham, membuat kolega-koleganya tersadar. Mata Masumi sama sekali tak ramah.

“ Ah, maaf Pak Masumi, Nona Maya, kami akan turun dilantai ini. “ dan mereka pun terburu-buru turun dari lantai yang seharusnya belum mereka tinggalkan. Masih sisa 10 lantai lagi. Maya terbengong kaget namun tetap membalas sopan pamitnya kedua orang itu. Dan Masumi? Ia tersenyum ringan.

“ Kau akan berangkat sekarang? “ Tanya Masumi memecah keheningaan.

Maya menatap langsung kearah Masumi dan memposisikan tubuh mungilnya berhadapan langsung dengan tubuh setinggi 180cm itu memenuhi ruangan lift.

“ Iya, Pak Masumi… “ 

“ Berhati-hatilah nanti dalam perjalananmu. Semoga kau bisa meberiku pertunjukkan yang spektakuler, Maya. Kudoakan yang terbaik. “

“ Pasti. Aku akan membuat pertunjukkan kali ini melegenda dan takkan terlupakan, Pak Masumi. Aku akan berikan yang terbaik untuk… kebahagiaan anda…. “

Masumi terjegil sedikit. Ia merasakan pahit dilidah. Ia ingin mengdekap Maya kuat-kuat dalam pelukannya sekarang, tapi waktunya belum tepat. Masumi masih harus menunggu waktu. Waktu dimana mereka bisa kembali bersatu. Dan Masumi harus bersabar beberapa hari lagi untuk mendapatkannya. Bertahun-tahun sudah pernah ia hadapi, namun beberapa hari kedepan rasanya berat sekali.

“ Maya… Aku… “

Masumi tersentak kaget. Maya menarik turun tubuhnya dan mengalungkan lengan mungil dileher Masumi. Kecupan ringan Maya menembus kalbu Masumi dan membuat pria gunung es itu membatu.

“ Selamat tinggal, Pak Masumi… “ pamit Maya sambil meninggalkan pintu lift yang baru saja terbuka dan meninggalkan Masumi yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia ingin mengejar sosok mungil yang perlahan menjauh, namun ia terhalang beberapa orang yang mendesak tubuhnya lebih dalam. Dan pintu lift tertutup. Menahan rintihan hati Masumi yang menuntut penjelasan dari ciuman kilat mereka barusan.

***

Lembah Plum di 24 Desember.

Tanggal itu akhirnya datang juga. Tanggal dimana kebanyakan umat manusia di dunia menyambut gembira kelahiran Jesus Kristus di bumi. Tanggal dimana salju turun dan memutihkan apapun yang ada dibawahnya. Tanggal dimana penghangat dinyalakan dan mantel tebal serta sepatu boots lebih sering dipakai. Hanya orang-orang tertentu yang masih mau menyantap es manis dengan potongan buah atau siraman sedikit rhum. Ungkapan cinta dan kasih sayang serta penolakan yang berujung patah hati juga tak jarang terjadi. Malang bagi Bidadari Merah karena ia tak bisa tersenyum bebas mengingat inilah tanggal dimana ia harus benar-benar merelakan belahan jiwanya dimiliki wanita lain

Lembah yang mistis dan penuh pesona. Semenjak pertunjukan Bu Mayuko dan pembangunan kembali jembatan, area ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Berbekal kamera HP sampai ke kamera berstandar professional sudah berhasil mengabadikan keindahan eksotis alam sana. Merah. Lembut. Beraroma wangi segar dan membuai.

Para pemain sudah bersiap. Kuronuma mengabulkan segala detail yang diinginkan Maya sebagai syarat mutlak pertunjukkan ini. Kuronuma menyanggupi dan mengabulkan semuanya. Ia tak menyangka artist mungilnya ini cerewet luar biasa, hampir menyaingi istrinya yang selalu menerornya kalau ia telat sampai kerumah.

Pemain seruling professional disewa khusus untuk pertunjukkan ini. Tim make-up juga orang-orang pilihan yang siap menyulap para pemainya menjadi sosok mengagumkan. Tim lain bekerja untuk bagian dekorasi serta penataan panggung yang relative ringan. Mereka tak mau terlalu merubah suasananya, hanya ingin medukung keindahan sekitarnya menjadi lebih kuat.

Penonton sudah duduk di kursinya yang hanya beralaskan tikar dan berbantal empuk. Para orang penting dunia pertunjukan kembali berkumpul disini. Bahkan jendral Daito, Eisuke Hayami pun ikut serta. Bu Mayuko memilih sendiri kursinya, menjaga jaraknya dengan Eisuke dan ditemani oleh Pak Genzo, Ayumi dan Hamill.

Masumi dan Shiori pun telah duduk berdampingan. Tempat duduk mereka istimewa, karena merekalah raja dan ratu dari pertunjukkan ini. Mereka berdua mengenakan pakaian khas tradisional Jepang. Masumi cukup membuat para wanita penginapan ternganga dengan balutan Kimono, dilengkapi Haori dan Hakama berwarna hitam senada dengan bawahan lebih cerah dan bergaris. Shiori pun tak kalah mengagumkan. Ia mengenakan kimono cantik berwarna merah lembut dengan corak bunga plum. Sepertinya memang sengaja dipilihkan untuk menyempurnakan acara dashyat ini.

Richard duduk tak jauh dari Shiori, mengingat ini permintaan Shiori jikalau terjadi apa-apa dengannya. Rentetan acara membuat kondisi Shiori menjadi kembali tidak stabil. Tanpa perlu dikomando, Richard sudah siap dengan alat tempurnya guna menjaga Shiori tetap tersadar dan tersenyum menyambut ucapan selamat dari para tamu. Meski ia jengkel setengah mati karena bukan ialah pria yang duduk disamping Shiori, namun ia berdedikasi tinggi pada kariernya.

Tak jauh dari Richard, Maya juga bersikap sama. Ia meminta semuanya berusaha maksimal. Tak pernah ia meminta peñata makeupnya dengan begitu detail. Ia sangat ingin terlihat lebih cantik dari biasanya. Rambutnya yang tertata rapi, disasak dan diberi tusuk rambut bergaya tradisional. Bunga imitasi kualitas tinggi—yang terlihat seperti asli-menghiasi sisi kepalanya. Mempermanis tampilannya. Desain kimono Bidadai Merah telah diluluuskannya ketika seorang desainer mengajukan sketsa modern yang mengagumkan, namun tak meninggalkan kesan tradisionalnya. Berbagai aksesori menjuntai disana sini, membalut tubuh Maya. Ketika selesai ia idandani habis-habisan, saatnya telah tiba. Maya melangkahkan kakinya keluar, mengucapkan terima kasih kepada semuanya yang telah berusaha keras mewujudkan mimpinya—untuk tampil cantik.

Semua pemain menahan nafasnya ketika Maya memasuki ruang tunggu pemain. Bahkan Kuronuma menjatuhkan rokok yang baru disulutnya. 

Cantik.

Sangat cantik…

Tak pernah ia melihat Maya begitu mengagumkan. Ia mendominasi warna merah menyala dan terlihat begitu percaya diri.

Koji masih tak percaya dengan penglihatannya. Dan ia rasa, ia semakin jatuh cinta. Ia menjadi tak yakin, apa ia hanya akan menunggu Maya, atau akan memberanikan diri lagi untuk memiliki Maya disisinya. Bimbang. Dan rindu…

Seruling pembukaan mengalun. Pemain lain membuka pertunjukan dengan kelihaian mereka berakting dan bercerita. Para penonton mulai menikmatinya. Secara perlahan, mereka ditarik ke masa dewa-dewi  terlihat begitu nyata. Seperti hipnotis aktif, mata mereka menyatu dan terpaku kearah panggung.
Dan yang ditunggu telah datang.

Sekali lagi alunan seruling lembut mengalun. Menciptakan suasana magis diantara udara malam dan kilatan lidah api dari obor. Kabut merah muda mengumbar tipis. Seperti ada serpihan cahaya kecil diantaranya, Maya mulai menampilkan sosoknya.

“ Siapa… Siapakah yang membangunkanku… “

Para penonton sontak ternganga dan menahan nafasnya. Mereka terpesona oleh kehadiran Maya yang tidak biasa. Pertama mereka mengira itu adalah pohon plum, namun ternyata itu adalah bidadari merah yang muncul kedunia. Maya melangkahkan kakinya yang menggunakan bakiak tinggi diatas air. Atas desain kreatif, ia terlihat seperti berjalan diatas air. Menimbulkan ria-riak air yang terlihat seperti jejak kakinya. Ditambah selendang lembutnya yang mudah tertiup angin serta berwarna putih transparan, membiaskan warna perak dan memendarkan warna api.





Ayumi sampai bangkit dari kursinya. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bu Mayuko bergetar hebat dan terkagum. Ia tak menyangka kali ini, baru beberapa menit Maya muncul, sudah berhasil menimbulkan efek pembiusan total kepada para penonton.

Shiori sampai mennutup mulutnya. Ia sangat terpesona akan pemandangan didepannya. Maya yang selama ini terlihat sederhana, menjadi sesosok dewi yang agung. Ia menoleh kearah Masumi,dan tersenyum. Pemandangan wajah Masumi juga tak kalah menarik dari apa yang ia lihat didepannya. Pria dingin yang konon melebihi gunung tertinggi didunia dan terlihat seperti kutub utara, mencair seketika. Ia tak lagi menjadi gunug. Tak lagi menajdi kutub es. Yang Shiori lihat sekarang tak ubahnya dengan sosok pria dewasa yang jatuh cinta lagi dan terlihat sangat bodoh. Karena siapapun pasti dapat melihat apa yang sangat disembunyikan oleh Masumi selama bertahun-tahun ia terjerat oleh cinta.

Sepanjang pertunjukan, Maya tak ubahnya seperti dewi yang luar biasa cantik dan memiliki kekuatan menggerakkan alam. Angin, air, tanah, api serta seluruh makhluk semesta seperti tunduk dikakinya. Dan para penonton merasakannya. Mereka seakan seperti sebutir debu kecil yang berada dihadapan Sang Penguasa.

Akhirnya adegan yang ditunggu-tunggu tiba juga, ketika Akoya dan Isshin saling merayu dan mencinta. Maya melepas atribut dewinya dan berubah menjadi gadis manis beryukata putih gradasi merah muda. Ia membawa keranjang kecil berisikan herbal alami yang digunakan untuk mengobati penduduk yang sakit. Dengan berjalan berjinjit dan berhati-hati, ia melangkah. Takut kalau ia menginjak makhluk kecil dibawahnya tanpa sengaja.

Isshin yang terluka, memperhatikannya. Dan mencintainya.
Ia beruntung merasa dipertemukan dengan Akoya. Meskipun ia harus bersusah payah menyeret kaki cacatnya yang terserang perampok sewaktu dalam perjalanan, ia tetap melangkah. Kayu penopang dijadikan pengganti kakinya yang masih dalam perawatan. Akoya bilang, ia akan kembali berjalan, bahkan cepat berlari, kalau ia tak memaksakan dirinya. Namun mentalnya mengalahkan fisiknya. Ia ingin didekat Akoya. Ingin merasakan kedamaian yang selalu ia rindukan selagi Akoya disisinya untuk merawat atau sekedar mengobrol.

“ Apa yang sedang kau lihat? “

“ Kamu, Akoya…”

“ Bukankah kamu selalu melihat… aku ini? “

“ Aku selalu ingin melihatmu, karena aku hanya memiliki wajahmu. Sebelum berkenalan denganmu, aku tak tahu apa yang harus kulakukan dalam hidup ini…”

Dialog diantara keduanya meluncur ringan namun dalam. Perasaan malu-malu seperti anak remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta sangat ketara, membuat penontonnya mau tak mau mengenang masa lalunya masing-masing. 

Maya—Akoya, yang saat itu mengenakan pakaian sederhana, tetap terlihat memukau. Akting Koji sudah mendarah daging dan ia mampu merasakan, menghidupkan karakter lain didalam dirinya. Keduanya benar-benar pemain sempurna yang sangat memanjakan mata.

“ Aku tak pernah merasa kesepian karenanya. Tapi sekarang, begitu aku berpikir kau akan pergi, rasanya hatiku redup dan sepi… baru pertama ini kurasakan…. “

“ Tak mungkin! Bagaimana bisa wanita secantik kau bisa menyukaiku? Ini seperti mimpi…”

“ Mengapa berkata begitu? Apakah kau tidak menganggapku seperti aku menganggapmu? "

“ Akoya! Bukan begitu! Mana mungkin begitu! “

“ Hari itu, saat berjumpa denganmu… Akoya ini sudah tahu bahwa kau adalah belahan jiwa yang sering disebut-sebut oleh nenek… “

“ Belahan jiwa? “

Maya—Akoya, berjalan ringan menuju dahan rendah yang dipenuhi oleh gerombolan bunga plum yang bermekaran. Hanya 2 kuncup yang masih nyaman dalam tidurnya. Ia mematahkan dahan itu dan menggenggamnya kuat. Diletakkannya dengan hati-hati didada, dekat dengan detak jantung.

Pak Kuronuma tertarik. Ini adalah improvisasi yang Maya janjikan sejak latihan khusus di hari pertama. Koji pun sedikit terbengong, namun dengan cepat ia menyesuaikan perubahan akting Maya.

“ Waktu keadaan dunia masih kacau, Dewa melahirkan seorang anak dan menurunkannya ke dunia. Jiwanya yang satu terbagi dua, yaitu gelap dan terang. Keduanya memiliki wujud yang berbeda. Kelak bertemu lagi, pada waktu gelap dan terang bersatu… manusia akan menjadi dewa.. untuk melahirkan manusia-manusia baru…”

Akoya berjalan ringan memunggungi Koji dan menghadap menantang penonton.

“ Nenek mengatakan pada saat itu, kekuatan ajaib akan bergerak. “

“ Kekuatan ajaib? “

Koji tetap berusaha sebaik-baiknya. Meski biasanya ia mendapatkan dirinya berhadapan langsung dengan Akoya, bukannya memunggunginya, ia tetap pada jalur akting dengan professional.

“ Kekuatan untuk menarik jiwa orang itu. “

Akoya melangkah semakin menjauh dari Isshin. Namun dialog cinta yang telah terancang tetap terucap. 

“ Tak ada usia, wujud dan derajat… “

Akoya menuju sungai kecil yang memisahkan panggung dengan penonton. Dengan mantap, ia melangkah. Ia menyebrangi sungai kecil yang dulu ia takuti ketika Masumi dihadapannya. Namun kali ini, ia lebih berani. Ia tak perduli apabila air telah merayap membasahi yukatanya hingga sebatas separuh betis. Para penonton terperangah. Belum pernah mereka melihat adegan ini di pertunjukkan manapun. Hanya kali ini.

“ Bila keduanya bertemu, mereka akan saling tertarik. Ingin segera memiliki belahan jiwanya… 

Langkah kaki mungil Maya berhasil menyebrangi sungai dengan baik. Ia menapak tanah di seberang panggung dan langsung menuju sasarannya. Masumi Hayami.

“ Ingin segera bersatu, berusaha keras menarik belahan jiwanya… “
Tubuh Akoya yang beraura cinta sangat terasa. Ia melemparkan senyum termanis yang ia miliki dihadapan pria yang dicintainya. Untuk kali ini, Maya bersikap egois. Ia tak memperdulikan istri dari pria yang ia cintai melihatnya dengan heran. Secara perlahan, Maya menyerahkan dahan plum ke tangan Masumi dengan hati-hati. 

“ Itulah… cinta… “

Tangan Masumi bergetar hebat ketika dahan plum itu kini sudah dalam genggamannya. Wajahnya pucat. Sekarang ia semakin yakin bahwa sejak dulu, sejak mereka terperangkap dalam kuil karena hujan badai melanda, Maya telah mencintainya. Dan kali ini, ia kembali memberikan dahan bunga plum.

Maya… kau.. mencintaiku…. Ya, kau mencintaiku!!!

“ Cinta adalah menarik belahan jiwa, agar manusia bisa menjadi Dewa. “

Maya tetap mengucapkan dialognya, dan menyerahkan sekuntum bunga plum, kali ini untuk Shiori, yang ia terima dengan hati bersemi. Shiori menganggukkan kepala sedikit, ucapan terima kasihnya untuk pemberian Maya.

Maya berbalik menuju dunia panggungnya, kembali dnegan perlahan dan hati-hati, Maya menyebrangi sungai. Namun kali ini, Isshin sudah berjalan juga kearahnya, dan mereka bertemu ditengah. Koji menuntunnya menuju panggung.

“ Aku tak percaya, baru pertama aku merasakan perasaan aneh seperti ini. Dengan memikirkanmu saja, dadaku terasa panas. Dengan mendengar suaramu saja, hatiku melayang. Dan saat kau menyentuhku, betapa bahagianya aku… “

Genggaman tangan Koji menguat. Ia meremas tangan mungil Maya yang berhasil menyengat hatinya dengan ribuan listrik yang diyakini Koji, ini adalah perasaan cintanya.

“ Ingatlah, aku ini laki-laki yang tidak ingat namaku sendiri. Kamu tak khawatir, mencintai laki-laki yang seperti ini? “

Isshin berusaha berdiri tegap. Terlihat kalau perasaan cintanya telah mengalahkan rasa sakit di kakinya yangsedang terluka. Ia menghadapkan Akoya di depannya, dan menggenggam kedua tangan Akoya dengan mesra. Diletakkan sepasang tangan mungil itu didadanya yang bidang, sedikit menarik tubuh Akoya agar merapat ketubuhnya.

“ Yang khawatir ini sebenarnya adalah aku, aku bukan laki-laki yang cocok untukmu. Aku tak punya apa-apa, nama maupun masa lalu. Yang ada hanya diri ini dan mata yang memandangmu.. “

Akoya tersenyum manja. Ia lebih merapatkan tubuhnya ke Isshin, dan  menyandarkan kepala agar Isshin bisa merasakan panas tubuhnya. Serasa gila Koji menahan godaan untuk tidak menggagalkan pertunjukkan ini melihat akting Maya yang luar biasa hebat menggelitik hormon testoteronnya yang mulai menggeliat. Berbeda dengan salah satu penontonnya yang menahan kuat amarahnya untuk tidak membuat Isshin babak belur dengan konyol di atas panggung.

“ Bagi Akoya, itu sudah cukup. Untuk apa nama dan masa lalu? Kita hidup dan bertemu, bukankah itu sudah cukup? Buanglah nama dan masa lalumu, jadikanlah Akoya hanya milikmu… “

Masumi terjegil kaget. Ia melihat mata Maya, bukan Akoya, mengarah kepadanya. Itu adalah mata penuh cinta. Dan dialog ini, kembali menyadarkan Masumi bahwa Bidadai Merah yang pernah ia kira itu adalah bayangannya saja, atau dialog cinta yang pernah Maya lontarkan untuknya dilembah plum ini, adalah benar-benar nyata. Selama ini ia terlalu dibodohi oleh rasa ketakutan dan ketidak percayaannya sendiri.

Masumi merasa bodoh. Dan ia semakin yakin kalau kemarin-kemarin ia berhak menyandang predikat 2D, atau 2 Digit, yang melambangkan 2 digit angka IQ-nya saat itu.

“ Apa kamu puas dengan aku yang begini? “

“ Kamu adalah aku yang lain dan aku adalah kamu yang lain… “

“ Aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Aku betul-betul mencintaimu… Tak percaya rasanya cinta ini ada dalam diriku. Akoya, kekasihku… Betul apa yang kau katakana, kita adalah gelap dan terang yang menjadi satu. Satu raga…. Satu jiwa…. “
Isshin memeluk Akoya semakin erat, seakan menenggelamkan Akoya didalam lengannya yang besar. “ Saat bertemu, kita berpikir mengapa hidup terpisah hingga kini. Akoya, kita tak bisa berpisah lagi, nama dan masa lalu tak sepenting dirimu. Hal-hal seperti ini akan kulupakan… Mata yang memandangmu, tangan yang memelukmu, dan diri ini yang mencintaimu, cukup itu saja…. “

“ Aku bahagia, kekasihku… “

Dan dialog percintaan mereka semakin menghangat, membuat para penontonnya tersenyum malu-malu, bahkan ada yang bersemu pipinya, seperti memakai pemulas pipi berwarna merah muda. Masumi terus merasakannya, aliran listrik cinta dari Maya untuk dirinya yang sedang berusaha sebaik-baiknya tampil sebagai hadiah perkawinan. Mata Maya tak lelah menatapnya dan terus mempengaruhi jiwa Masumi yang ingin memberontak, ingin mengambil Maya segera dari pemuda ingusan yang terang-terangan mengambil belahan jiwanya. Namun ia tetap berusaha menahan dirinya. Ingin sesegera mungkin ia melewati pertunjukkan ini agar segera berakhir, dan meluruskan segalanya kepada Maya, agar ia dapat kembali merengguk puas rasa rindu kepada belahan jiwanya. Detik demi detik berlalu, dan Masumi semakin mual melihat Maya—Akoya bermanja-manja dipelukan dan elusan Isshin.

Adegan terus beralih ke tahap-tahap kisah legendaris ini. Dan sampailah mereka di adegan paling menyakitkan, dimana Isshin harus memilih antara kepentingan dirinya yang mencintai seorang dewi atau kepentingan banyak orang yang mendambakan kedamaian di muka bumi.

Sambil membawa kapak yang terasa teramat berat ditangannya, ia menghadapi Akoya. Akoya berdiri disana, merentangkan kedua tangannya ke angkasa. Bulu mata lentik membingkai matanya yang terpejam dan tak bisa membantu sang mata yang menganak sungaikan air mata.

“ Kau datang juga kesini, kekasihku…”

“ Akoya…. “ Isshin merintih. “ Kekasihku…. Maafkan aku yang tak berguna ini. Maafkan aku yang tak mampu melindungimu dari ketidak adilan dunia ini. Aku…. “

Akoya tersenyum sedih dan terus menggelindingkan air matanya di tiap sisi pipinya yang pucat. Penampilan Akoya yang kusut musai semakin mempengaruhi emosi di sekelilingnya. Ia menurunkan kedua lengannya dan memeluk sendiri tubuhnya yang bersender lemah di pohon. Seperti merapal sebuah doa, mulutnya berbisik. Akoya membungkuk rapuh, menutup mulut dengan kedua telapak tangannya yang mungil dan tetap menangis.

“ Isshin, bukankah kau mencintaiku? Kau katakan bahwa kita takkan bisa dan tak boleh berpisah, benarkah itu? “

Isshin menjawab. Serak. “ Benar…”

“ Kau… takan meninggalkanku? Takkan… melupakanku bahkan…. sedetikpun? “

“ Takkan… kekasihku….. “

Isshin menangis. Selama ini Koji beradu akting dengan Maya entah berapa kali, namun perasaannya kali ini terlalu pekat. Mungkin karena suasananya yang mendukung? Entahlah…. Satu hal pasti yang ia rasakan hanya satu kata. Sedih. Ia berjalan bertatih-tatih. Kakinya memang belum sembuh sempurna, namun ia berjalan lebih baik dari sebelumnya berkat perawatan Akoya.

“ Akoya…. Akoya….. “

“ Iya, kekasihku…. “

“ Aku akan selalu mencintaimu… Selamanya…. “

“ Aku mengerti, kekasihku…. Akupun selalu mencintaimu…. “

Akoya berlutut lemah. Menjatuhkan tubuhnya ketanah yang lembab. Tubuhnya terlihat lebih ringkih dan terlihat berusaha kuat membangkitkan dirinya, namun ia hanya mampu sedikit bersimpuh dan kembali terjatuh.

Maya?

Koji terperangah. Ia khawatir bukan main dengan akting Maya kali ini. Dia benar-benar terlihat rapuh dan… sekarat.

“ Akoya… Akoyaa!!!! “ dengan segera Isshin melupakan kakinya yang pincang. Ia berlari tertatih-tatih ke arah Akoya dengan tergesa dan melempar kapaknya sembarangan.

“ Berhenti… Jangan kesini, Isshin… jangan….. “

“ Tapi…. Tapi….. Akoya! “

“ Kau boleh mendekat kearahku, asal dengan kapakmu… Tanpa itu, kau tak boleh lagi mendekapku lagi…. “

Batin Isshin tergolak hebat. Saking paniknya, Koji sampai membuang kapak yang seharusnya ia genggam dari tadi. Kuronuma sempat sampai berdiri terkejut melihat kecerobohan Koji kali ini. Dengan berat hati, Isshin mengambil kapak yang belum jauh dari kakinya. Ia kembali mendatangi Akoya yang masih berusaha bangkit.

“ Isshinku… Betapa bersyukurnya aku bertemu denganmu. Kau selalu membantuku menerangi gelapnya hatiku, menceriakan kepedihan hatiku, menerima apa adanya diriku… “ Akoya akhirnya bangkit berdiri namun kembali bersender di batang pohon kokoh dibelakangnya. Ia bernafas tersenggal senggal. Seakan kadar oksigen disekelilingnya semakin tipis dan tak bernyawa. “ Berjanjilah padaku, kau takkan melupakanku, kau adalah belahan jiwaku, dan aku adalah belahan jiwamu… Kumohon… berjanjilah…..”

“ Kau akan selalu menjadi belahan jiwaku, Akoya! Apapun yang terjadi, sampai mati, cintaku takkan berubah untukmu! “

Akoya tersenyum manis. Namun sama sekali tak menghentikan derasnya air mata yang meleleh. “ Jangan lupakan aku….. “

Entah tenaga dari mana, Akoya berlari kearah Isshin dan menarik tangan Isshin yang memegang kapak ke tubuhnya sendiri. Semburan darah hangat palsu membaur dan mengotori lembah suci plum. Yukata putih bersih yang berwarna lembut itu ternoda oleh warna merah darah yang pekat, menandakan kematian.

“ AKOYA!!!! “

Akoya mengertakan pegangannya di tangan Isshin yang gemetar dan kembali menghunjamkan kapaknya untuk yang kedua kali. Isshin berteriak lantang. Berusaha menolak kenyataan pahit dimana ia harus berpisah raga dengan kekasihnya.

“ TIDAK!!!! AKOYAAAAAAAAA!!!!! “

Tubuh mungil itu pun limbung seketika. Isshin mendekapnya secepat kilat kedalam tubuhnya yang masih bergetar hebat. Sekali lagi, kapak itu terlempar sembarangan, namun kali ini ia ditelan sungai kecil. Membuat riak air yang semakin menjauh.

“ Peluk aku, Isshin… Peluk… A… ku…. “

Isshin menyanggupinya, ia memeluk Akoya lebih dalam lagi. Telapak tangannya berusaha menutup luka menganga yang terus membuat jejak darah di sepanjang tubuhnya. Namun itu sia-sia. Ia tahu, ini harus terjadi. Namun ia tak pernah tahu, akan sesakit ini hatinya. Pernah suatu ketika, ia mengira-ngira akan kehilangan Akoya. Tapi perhitungannya meleset teramat jauh dari kenyataan.

“ Aku memelukmu Akoya! Aku takkan meninggalkanmu sedetik pun!!! “

Akoya tersenyum dalam pelukan Isshin. Tangannya menggapai keluar sisi tubuh, kearah penonton, menuju Masumi. Dengan nafas tersenggal hebat dan tenaga yang tersisa, ia berusaha terlihat tabah dan menerima keadaan pahit ini. Keadaan dimana ia harus berpisah dengan belahan jiwanya.

A.. ri.. ga… to…..

Dan tangannya mengejang sebentar. Matanya menyipit menahan sakit, gemeretak gigi yang saling bertaut cukup terdengar di telinga Isshin. Akoya menekan kuat dadanya—luka palsunya dengan sebelah tangan. Ia terlihat benar-benar kehabisan nafas. Meregang nyawa. Setelah seluruh rasa sakitnya beranjak hilang, tangannya mulai terkulai perlahan. Matanya hampir terpejam dan masih menyisakan butir-butir air mata.

Isshin menjerit sejadi-jadinya. Tak kuasa ia menerima kenyataan yang teramat pahit ini. Seluruh penonton terhanyut. Mereka juga merasakan sesak yang teramat hebat di dadanya karena Bidadari yang mereka cintai telah pergi. Para pemain teather bawah tanah dan Ikkakuju menahan nafasnya. Rei bahkan menangis. Mereka benar-benar tak menyangka penampilan Maya kali ini sangat total. Mereka sampai berpikir kalau adegan kali ini, baru mereka lihat hanya dalam pertunjukkan Bidadari Merah, dimana Maya menunjukkan dedikasi tinggi kepada profesinya. Namun keterkejutan mereka tak hanya sampai disitu. Alunan seruling sendu kembali mengalun. Langit malam Lembah Plum tidak lagi hitam pekat. Lampion-lampion kecil mengudara satu persatu, meninggalkan bumi menuju langit kelam yang bertabur bintang. Maya telah merancang hal detail ini jauh sebelum hari pertunjukkan, menguatkan kondisi dimana jiwanya telah mengangkasa, namun tak henti untuk menerangi dunia. Tangisan mereka semakin merebak. Yang pria berusaha mati-matian untuk tak menangis dan tak tampak terlalu cengeng di hadapan kaum hawa. Bahkan Masumi meninggalkan jejak di sudut matanya. Kabut tipis berwarna merah muda semakin memperkuat panorama tragis di depan mata, dan telah berhasil mengecoh indra penglihatan berpasang-pasang mata.




Maya?

Isshin terheran.

Isshin berusaha menggendongnya lembut, namun ia merasakan kejanggalan yang teramat nyata di depannya. Pada pertunjukkan sebelumnya, Maya juga berakting sekarat. Ia telah berhasil melampaui gemblengan keras dari Pak Kuronuma sewaktu ia latihan menjadi Jean yang keracunan. Namun kali ini, tubuh Maya memang terasa teramat lemas tak bertenaga, dan yang membuatnya semakin berbeda adalah keadaan dimana sesekali tubuh Maya mengejang. Mata Maya terlihat kosong. Ia terlihat seperti wanita yang tercekik. Hembusan nafasnya terasa tipis…. Tipis??? Apakah ini juga akting dari Maya? Dengan rasa penasaran dan kekhawatiran yang memuncak, ia meraba leher Maya.

Jantung Koji terasa akan meledak.

Mana? Mana denyut nadimu, Maya??? 

Ia terus menelusuri leher Maya dengan tak sabar. Akhirnya, ia menemukan yang ia cari, namun… denyutnya….

“ Maya! Maya!!!! Bangun, Maya!!!!! “

Ia menampar pipi Maya berulang kali, berusaha mendapatkan respone dari Maya.

“ MAYA!!!!!!!! “


Sontak para penonton berdiri. Khawatir. 

“ KOJI! BODOH!!!!! KAU MENGACAUKAN PERTUNJUKKANNYA!!!! “ Kuronuma berteriak murka. Ia tak menyangka aktor sekaliber Sakurakoji bisa berbuat bodoh seperti amatiran demam panggung.

“ AKU TIDAK BODOH!!!! MAYA…. “ balas Koji yang tak kalah lantang berteriak panik membalas amarah Pak Kuronuma. Dan ia kembali melihat kembali kearah Maya. “ MAYA! KATAKAN KAU MASIH BERAKTING! KATAKAN!!!! “

Pak Kuronuma semakin tak sabar. Ia bangkit dari tikarnya dan mulai melangkah kearah mereka. “ Kau jangan lupa, Koji! Siapa Maya yang sedang berakting sekarang! Ia takkan berhenti sebelum tirai panggung dinyatakan turun. APA KAU MULAI DUNGU?! “

Koji tercengang.

Betul juga. Maya… takkan berhenti berakting hingga tirai panggung menutup sempurna. Maya….

Mata Maya yang sembab karena air mata mulai terlihat kemerahan, dan terlihat semakin hampa. Dan dari sisi bibir tipisnya, mengalir cairan yang tidak biasa dengan sedikit busa.

Koji membelalak. Dan sekarang ia yakin kalau jantungnya serasa berhenti berdetak.

“ MAYA!!! MAYAA!!!!! “

Baru saja Koji hendak memberikan pernafasan buatan, tubuhnya tiba-tiba sudah tertarik dengan kuat oleh lengan kokoh pria yang tinggi dan berotot hingga ia limbung kebelakang, meninggalkan Maya tergeletak di tanah.

“ DOKTER! AKU MAU… “

“ MENJAUHLAH!! KALAU KAU LAKUKAN ITU, KAU JUGA BISA SEKARAT!!!! “

Sekarat???

Sontak semua penonton berdiri. Masumi Hayami belum bisa mencerna semua kejadian yang terlalu cepat ini.

Ada apa? Ada apa dengan kekasihku?

Tanpa pikir panjang, Masumi langsung menghambur kearah panggung. Ia tak perduli apa yang dipikirkan orang dengan meninggalkan pengantinnya di belakang. Yang ia pikirkan hanyalah, Maya, kekasihnya.

“ RICHARD! MAYA… KENAPA DENGAN MAYA?!!? “ Masumi berteriak panik.

Richard yang berusaha menjaga Maya tetap tersadar kembali berteriak kearah kerumunan penonton. “ Aku butuh helikopter! SEGERA!!!!! “

“ RICHARD!!! AKU BERTANYA PADAMU!!! “

“ MAYA SEKARAT! KAU PUAS???? SEKARANG KATAKAN, DIMANA HELIKOPTERKU?!!!! “

Bagai terserang jutaan voltage dari kilatan petir, Masumi membatu.

“ Se… Sekarat??? “

Masumi masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Richard. Dan sekarang Richard berusaha memindahkan tubuh Maya ke lokasi yang lebih memungkinkan dirinya menjangkau peralatan kedokterannya. Masumi ingin mengambil alih tubuh Maya kedalam gendongannya, namun ditolak mentah-mentah oleh Richard.

“ Saat ini, Maya pasienku!!! Takkan kubiarkan orang awam menyentuhnya!!! “

Shiori melihat semua itu dengan tatapan bingung dan panik. Ia tak percaya semua hal nyata didepannya dan berharap ini semua hanyalah mimpi yang buruk. Ia ikut bangkit dan berusaha merangsek kerumunan meraih Richard. Berusaha mendapatkan jawaban untuk otaknya yang penuh tanda tanya.

“ Richard! Richard!!! “

“ Jangan kesini, Shiori! Berbahaya untukmu! “ Richard berteriak kearah Shiori. “ Lakukan ini untukku, ini untuk kebaikanmu! “ dan Richard kembali membopong Maya menjauhi panggung. 

Koji dan Masumi hanya seperti pecundang yang tak bisa apa-apa menghadapi situasi ini. Pak Kuronuma juga, ia tak paham sama sekali. yang hanya bisa mereka lakukan adalah menunggu kabar selanjutnya dari dokter.

“ Richard! “ Namun Shiori tak menghiraukan imbauan Richard, ia tetap berusaha berlari menyebrangi sungai kecil yang licin.

“ Shiori!!! Pasienku keracunan Sianida! JANGAN BERANI KAU MENDEKAT KESINI!!“

Seluruh penonton berteriak. Koji membatu seribu gerak. Pak Kuronuma langsung berlutut, seperti kehilangan lutut penopang kakinya. Ayumi dan Bu Mayuko syok. Begitu juga dengan semua pemain pendukung lainnya. Terutama Rei, Sayaka, Mina, dan pemain lain yang sudah seperti keluarga Maya, berteriak histeris. Shiori yang tak kuat menerima kenyataan ini, langsung kehilangan kesadarannya dan pingsan di tengah sungai. Kacau!

Masumi semakin panik. Ia tak pernah merasa sedemikian kecil dan seperti berkubang di pasir hidup. Ia ingin sekali meninju wajah dokter yang seenaknya membawa pergi Maya-nya, namun ia sadar satu hal, Maya berada ditangan yang benar.

“ MASUMI! BAWA SHIORI!!! APA KAU BODOH MEMBIARKAN ISTRIMU TERGENANG DISANA?!!! “

Batin Masumi terusik mendengar teriakan Richard tentang Shiori.

“ BERIKAN MAYA PADAKU! SEHARUSNYA KAULAH YANG MEMBAWA SHIORI!!! “

Sekarang kepala Richard yang ingin meledak. “ INI BUKAN SAATNYA MENJADI ANAK KECIL! BAWA SHIORI!!!! “

Belum pernah Masumi diperintah oleh orang lain selain ayahnya yang sekarang berada di sisi panggung mana, ia sama sekali tak memperhatikan sang jendral sejak Maya memulai langkahnya di panggung. Akhirnya Masumi mengalah. Ia segera berbalik dan berlari, mengambil tubuh Shiori yang sudah diangkat oleh salah satu sanak Shiori. Ia segera mengangkat tubuh Shiori dan berlari untuk kembali mengekor Richard.

Helikopter medis tiba beberapa saat kemudian. Richard sudah memberi komando kepada beberapa perawat untuk segera menangani Shiori. Namun ia sangat egois untuk tidak memberikan Maya ketangan dokter lain. Ia hanya meminta mereka membantu dirinya sebisa dan secepat mungkin. Maya dinaikkan ke helikopter, dengan alat bantu pernafasan yang sedari tadi Richard berikan untuknya. Shiori diminta untuk tidak satu heli dengannya, karena alasan medis yang lebih ringan. Shiori hanya terkena syok, dan ia pasti bisa tersadar lebih cepat dari Maya. Kembali Masumi berulah, ia bersikeras ingin menaiki heli yang sama dengan Maya. Dan sekali lagi bentakan keras dari Richard-lah yang diterimanya.

Akhirnya heli yang di naiki Maya dan beberapa kru dokter mengudara. Para perawat telah memberikan perawatan terbaiknya untuk Shiori yang masih belum tersadar di tempat yang lebih layak dan akan segera dipindahkan ke ruangan yang lebih steril. Kakek, ayah dan ibu Shiori, serta beberapa sanak saudara telah berkumpul mendampingi Shiori. Mereka tak tahu dimana Masumi yang sedari tadi langsung menghilang tanpa jejak.

Para pemain theater pun tak menemukannya. Terutama Rei. Yang sangat ingin bertemu dengan Masumi. Dengan gerakan cepat dan darurat, mereka segera berkemas. Meninggalkan panggung yang belum tertutup tirai penanda berakhirnya pertunjukkan.

Tangisan menggema diantara tebing-tebing mistis Lembah Plum. Peliput berita yang kebetulan hanya eksklusif dari pihak Daito berusaha mencerna dan mengumpulkan semua informasi yang ada. Namun mereka tidak akan berani melemparkan semuanya ke massa, kalau mereka ingin lehernya selamat dari ayunan parang Masumi.

Jalanan malam Natal adalah mimpi buruk bagi para pencinta kecepatan. Deretan mobil berbaris rapi, menikmati jatuhnya salju tipis dari angkasa dan memberikan warna putih bagi bumi. Dan Masumi terserang frustasi tingkat tinggi karenanya. Richard sama sekali tak mengijinkan dirinya turut serta dalam heli. Dan sekarang ia terjebak dalam rutinitas kemacetan malam Natal. Beruntung kemacetan yang ia derita sekarang hanyalah menunggu datangnya helikopter pribadinya. Dan setiap detiknya teramat berharga baginya sekarang. Ia tak bisa tenang. Hanya mondar mandir dan sesekali menjambak-jambak rambutnya yang ikal.
Dan yang ditunggunya telah tiba.

Helikopter berwarna hitam dove mendarat. Dan Hijiri memastikan tuannya dengan cepat masuk kedalamnya, disusul oleh dirinya sendiri yang bertugas mendampingi pilot. Ia tetap dalam bentuk penyamaran, sehingga tak banyak orang yang menyadarinya. Beruntung bagi Rei, ia menemukan Masumi pada waktunya. Disusul beberapa aktris asuhan Theather Tsukikage, mereka diijinkan untuk ikut serta. Merekapun segera meninggalkan Lembah Plum, menuju International Hospital, tempat dimana Richard bertugas. 

**

Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang berat. Tampaknya, ia sudah agak lama kehilangan kesadaran. Ruangan disekitarnya terasa berputar dan yang ia rasakan hanya ingin kembali menutup matanya. Sayup-sayup terdengar suara orang disekitarnya memanggil namanya yang terdengar agak jauh. Tak begitu jelas, karena ia merasa seperti berada didalam air dan tak mampu mendengar dengan jelas.

Matanya kembali dibuka, namun hanya siluet beberapa orang yang tampak. Ia tak begitu mengenali bentuk siluet itu, namun ia yakin, ia pernah dekat dengan orang-orang itu.

“ Shiori!!!! buka matamu, sayang!! Ini mama!!! “

Ah…. Iya, itu suara mama… dan siluet itu, adalah mama….. Masumi…. Yang mana siluet Masumi??

Jantung Shiori berdetak kuat. Ia langsung teringat akan apa yang terjadi. Ia pingsan di tengah sungai dan tak tahu lagi kelanjutannya. Seperti mendapat ekstra tenaga, ia langsung bangkit dari ranjangnya. Para perawat telah sigap menahan tubuhnya yang masih limbung karena serangan sakit kepala yang hebat.

“ Masumi?!! Masumi….. Dimana Masumi???? “

“ Mama tak tahu sayang, sepertinya, ia menyusul dokter Richard ke rumah sakit. Tadi ia menghilang begitu saja, tanpa pamit pada siapapun. Yang mama hanya pikirkan adalah dirimu. Papa dan kakek menunggu diluar, aku akan segera memanggil mereka! “

“ Mama! Aku harus ke rumah sakit sekarang! Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi!! “

“ Tapi, Shiori…! “

“ Aku tak apa-apa , Mama! Aku bukan lagi Shiori yang lemah! Aku tahu apa yang kubutuhkan, sekarang, kumohon, aku harus ke rumah sakit! “

Belum pernah ibu Shiori melihat kegigihan putri semata wayangnya seperti ini. Meski nyata ia terlihat lemah, namun semangatnya mencuat dengan kuat. Ia segera memeluk tubuh putrinya. Dengan nada bangga, ia membisikkan hal yang membuat Shiori merona.

“ Mama tahu kau anak yang hebat sejak dulu, Shiori. Mama sangat bangga padamu. Sekarang, bersiaplah. Kita akan segera menyusul Masumi ke rumah sakit. Dan kau, harus segera bertemu penyemangat hidupmu. Mama rasa, Richard sudah menunggumu juga disana. “

**

Akhirnya Masumi dapat menjejakkan kakinya di atap rumah sakit. Sempat menunggu sejenak karena landasan helikopter telah di tempati oleh 2 helikopter pihak rumah sakit. Dan salah satunya tadi, telah membawa kekasihnya kesini. Langkah kakinya yang panjang ditambah dengan lari yang tergesa, sukses meninggalkan para penumpang lain yang berusaha mengikutinya.

Ia mencari bagian informasi, namun malah tersesat di lorong yang sangat asing baginya. Ia menghentikan pada beberapa perawat manis yang nyata terlihat terpesona ketika Masumi menanyakan dimana Maya berada. Setelah mendapatkannya, ia kembali berlari, dan lebih jauh lagi meninggalkan rombongan Rei yang berlari dengan kepayahan.

Ia berhasil melihat ruangan itu. Huruf “ER” besar terpampang jelas yang menunjukkan sebagai ruangan darurat.

Emergency Room.

Masumi benar-benar merasakan ketakutan yang dalam melihat huruf-huruf itu. Ia ingin sekali memasukinya, namun perawat penjaga benar-benar berhasil menahan tubuhnya yang jelas-jelas tingginya di bawah Masumi. Demi kebaikan pasien, begitu alasan klasiknya. Masumi dipersilahkan duduk di ruang tunggu yang tersedia, namun ia lebih memilih berdiri. Menatap lekat pintu putih pucat di depannya terbuka.

Dan yang di tunggunya tiba juga.

Richard keluar dari dalam sana, masih lengkap menggunakan atribut kedokteran. Ia menatap Masumi yang mulai melangkah masuk dan menahannya.

“ Richard! Katakan padaku, bagaimana kondisi Maya sekarang?! “ Ia bertanya dengan tatapan memelas dan panik yang bercampur jadi satu, menampakkan wajah yang bisa membuat siapapun meneteskan air mata karenanya.

Dokter muda itu melepas maskernya perlahan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tak mampu menatap wajah Masumi lebih lama lagi.

“ RICHARD!! “

Namun Richard masih saja menunduk.

Masumi menjadi tak sabar karenanya. Di guncang-guncangkan dengan kuat bahu pria yang tingginya 11cm diatasnya. “ RICHARD!!!! KATAKAN PADAKU! BAGAIMANA KONDISI MAYA! MAYA-KU!!!!! “

Derap langkah serombongan kaki akhirnya datang. Para pemain teather Tsukikage telah sampai. Untuk saat ini, hanya dengan melihat situasi dan terutama… mimik seseorang, mereka langsung paham apa yang telah terjadi. 

Richard menghembuskan nafas beratnya perlahan.

“ Maafkan aku, Masumi… “

Mata Masumi membelalak. Tubuhnya terasa bagai disiram air es terdingin yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

“ A.. Apa… Apa maksudnya? Kenapa aku harus memaafkanmu… ? “

Richard menggeleng pelan. Dan kembali, kata maaf yang serak terucap.

Sayaka langsung menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Mina dan Taiko saling berpelukan, menenangkan Sayaka dan diri mereka sendiri. Rei pun langsung menangis di tempat, menutup wajah tampan sekaligus manisnya dengan kedua tangannya. Dan Masumi masih belum memahami semuanya hingga sekarang.

“ Kenapa??? Kenapa dengan semuanya???? Ada apa dengan Maya-ku?!!! “

“ Masumi.. “ Richard menaruh telapak tangan besarnya di bahu Masumi. “ Kau harus bisa menerimanya, Maya…. “

“ Katakan dia tak apa-apa! Dia akan segera pulih dan kembali padaku!!! “

Richard semakin miris melihat batin Masumi yang bergolak hebat. Ia jadi terlihat begitu bodoh karena ia takkan bisa mempercayai siapapun saat ini.

“ Ikhlaskan dia, Masumi… Maya sekarang… sudah menjadi milik Tuhan…. “

Dan kata-kata Richard barusan benar-benar nyata bagi Masumi. Namun sekali lagi, hatinya tak mau menerimanya.

“ KAU BOHONG!!!!  BOHONG!!!! AKU TAK PERCAYA MAYA SUDAH TIADA!!!! “ teriak Masumi menggelegar sambil mengguncangkan tubuh Richard dengan kuat.

“ Masumi, tenanglah…. “

“ BAGAIMANA MUNGKIN AKU BISA TENANG!!!! “ air mata Masumi mulai mengalir setitik. “ AKU MENCINTAINYA!!!! IA HARUS HIDUP DISISIKU!!!!! “ dan titik-titik air mata mulai menyusul kemudian.

Seluruh sahabat Maya terkejut, mereka tak menyangka musuh utama Maya, Masumi Hayami yang mereka kira selama ini, jatuh cinta pada sahabatnya.

Rei menghela nafas panjang. Sekarang ia mengerti, bagaimana keadaannya. Maya dan Masumi ternyata saling jatuh cinta. Namun keadaan tak membiarkan mereka bersatu. Maya menyadarinya, dan ia melangkah terlalu jauh memutuskan semuanya. 

Rei merogoh saku yukatanya, dan mendapatkan titipan dari Maya.

Sebuah amplop kecil berwarna ungu muda yang cerah dan bahagia.

Ia teringat, sebelum Maya naik panggung di Lembah Plum, ia menitipkan amplop ini untuk diserahkan ke Masumi. Maya tak mengatakan apa isinya, apa maksud tujuannya. Ia hanya memohon kepada Rei agar amplop ini sampai ke tangan Masumi. Setelah itu, ia tersenyum manis dan mulai melangkah ke panggung.

“ Pak Masumi, ini.. “ Rei menyerahkan amplop mungil di tangannya yang bergetar. “ Maya menitipkan ini padaku, ia ingin anda….  membacanya… “

Masumi masih bersimbah air mata. Ia menerima amplop itu dan membukanya dengan tak sabar.

Pak Masumi….
Ini saya, Maya Kitajima…
Saya tak tahu harus memulai dari mana…
Saya tak tahu… Harus bagaimana….
Namun satu hal yang saya tahu….
Saya sangat mencintai anda

Serasa mimpi indah kalau saya bisa menjadi kekasih anda
Atau belahan jiwa bagi Pak Masumi

Selamanya… aku hanya milikmu
Seluruh cintaku, senangku, dukaku, hidupku…
Takkan bisa dimiliki siapapun

Karena itu…
Tolong terima permintaan maafku…
Dan pernyataan cintaku yang kekanakan ini untuk anda..
Mawar Unguku…
Aku mencintaimu

Detak jantung Masumi serasa melambat dan hendak berhenti berdetak.  Ia kembali membacanya dengan lebih perlahan dari sebelumnya. Huruf demi huruf. Kalimat demi kalimat.

Maya….. mencintaiku????

Dan kali ini, Masumi benar-benar menahan nafasnya.

Mawar Unguku????

Tubuh Masumi langsung limbung, ia jatuh berlutut.

Maya, kau tahu siapa aku???? Kau tahu… ?????

Masumi mendekap erat surat cinta dari Maya didadanya. Nafasnya semakin cepat dan berat, serta menangis tergugu. Masumi meneriakkan nama Maya berulang-ulang sambil menundukkan kepalanya dan menjatuhkan bulir-bulir air mata di lantai rumah sakit. Berharap kekasih hatinya mendengarnya sedang memanggil-manggil sang belahan jiwa dengan suara yang menyayat.





 
blogger template by arcane palette