Friday, 16 March 2012
Background Music of Paragraph 04 by The Beatles
Yesterday
Yesterday, all my troubles seemed so far away.
Now it looks as though they’re here to stay.
Oh, I believe in yesterday.
Suddenly, I’m not half the man i used to be,
There’s a shadow hanging over me,
Oh, yesterday came suddenly.
Why she had to go
I don’t know she wouldn’t say.
I said something wrong,
Now I long for yesterday.
Yesterday, love was such an easy game to play.
Now I need a place to hide away.
Oh, I believe in yesterday.
Why she had to go
I don’t know she wouldn’t say.
I said something wrong,
Now I long for yesterday.
Yesterday, love was such an easy game to play.
Now I need a place to hide away.
Oh, I believe in yesterday.
Paragraph 04
Yesterday
“ Maaf , Tuan... Sebaiknya anda menghentikan minumnya dan lekaslah pulang. Keluarga anda dirumah pasti sudah menunggu dan mengkhawatirkan anda sekarang. “ ucap bartender muda tampan berpotongan mowhak dan tato naga kecil dileher kanannya, namun tidak mengurangi wibawa seorang bartender elit di tempat hiburan terkemuka berkawasan di pusat kota Tokyo.
“ Takkan ada yang menungguku, kau tak usah khawatirkan aku. Akupun membawa sopir pribadi yang siap mengantarkanku kemanapun kumau. Aku bisa seharian disinipun karena memang aku sedang membutuhkannya. Dan hentikan peringatan bodohmu yang seperti perempuan cerewet paruh baya yang menghakimi suaminya yang telat pulang 1 jam. Kali ini aku SANGAT membencinya! Kau dengar? “
“ Maafkan saya, Tuan. Tapi ini sudah kewajiban dan tugas saya mengingatkan para pengunjung untuk tidak membahayakan orang lain selepas dari Casino ini, kami sangat menjaga wibawa akan bisnis kami. “ Balasnya lembut.
Masumi mendengus kesal dengan penuturan bantender muda yang mungkin usianya 5-6 tahun lebih muda darinya, namun ia membenarkan ucapannya dalam hatinya, meski saat ini ingin sekali ia meringan-tangankan anggota tubuhnya. Menonjoknya lebih tepat. Sembari memainkan butiran es digelasnya, ia menghirup dalam-dalam cerutunya yang entah sudah berapa batang terbakar habis dan menumpuk di asbak kaca.
“ Berikan aku segelas lagi. “
“ Saya rasa sebaiknya cukup saja, Tuan, wajah anda sudah mulai memerah, saya bukannya tidak suka anda menghabiskan isi dompet anda, tapi saya rasa ini yang terbaik untuk kesehatan Tuan sendiri . “
“ Sekali lagi aku sangat menghargai perhatianmu, namun aku lebih butuh segelas Whiskey dibandingkan kecerewetanmu. “
“ Tuan......” sang bartender muda memelas “ Ayolah ,Tuan..... jangan persulit karier saya seperti ini. Ini tidak adil...”
Masumi tetap menyodorkan gelas kosongnya dengan mata setengah kosong, mengintimidasi bartender untuk tidak pelit menuangkan beberapa mililiter air keras untuk menyegarkan kepalanya yang hampir meledak itu.
“ ..... Baiklah... 1 gelas saja saya rasa sudah cukup untuk membantu Casino ini tetap berjalan dengan semestinya... “ kekalahan bartender itupun nampak juga pada akhirnya.
“ Terima kasih.... “ sembari Masumi menyesapkan perlahan Whiskey ke tenggorokannya, ia mempererat kepalan tangan kirinya.
Mata elang bartender muda yang sudah ahli dan terdidik dengan baik oleh para senior itupun menangkapnya. “ Apakah masalah wanita, Tuan? “ tanyanya perlahan sambil seolah2 menata gelas-gelas kosong dari peminum yang kalah dan melampiaskannya kepada cairan memabukkan, seperti Masumi contohnya.
Masumi menghentikan sesapannya dua detik dan kembali menyesapnya.
“ Entah sampai kapan kaum Hawa akan puas memprak porandakan pertahanan kaum Adam . Sepertinya sejak jaman dinosaurus sampai setik inipun mereka tetap melaksanakan tugasnya itu. Lupakanlah, Tuan... Dan janganlah berhenti sampai di Casino ini dan berpikir untuk bunuh diri. Hidup dan wajah anda sudah pasti bisa menjamin masa depan yang sangat cemerlang...”
“ 7 tahun.....”
“ Maaf? “
“ Pernahkah kau berharap pada gadis yg usianya 11 tahun lebih muda darimu untuk melihatmu atau hebatnya bisa mencintaimu... Dan kau menunggunya selama 7 tahun? “
Bartender muda itu tercengang. Dan kini ia merasa sangat bodoh sudah sok akrab dan menasehati kata-kata pembangkit semangat yang biasa ia jabarkan kepada pecundang berpatah arang.
“ Aku mencintainya selama itu... Dan sekarang ia sudah dipeluk pria lain. “ ucap Masumi getir.
Barterder muda itu pun tersenyum, meletakkan gelas-gelas kosong para pecundang tadi sore dan mengambil kursi untuk duduk berhadapan dengan Masumi. Ia mengerahkan pandangan mata terbaiknya untuk mendapatkan perhatian Masumi.
“ Tuan, apakah kau tahu betapa hebatnya wanita? Mereka mampu menjelma menjadi malaikat terang dengan sosoknya. Menjadi seorang ibu dengan sifat cinta kasihnya. Menjadi seorang istri dengan pelayanannya serta berani menjadi tameng yang kuat untuk orang yang dicintainya...” ucap bartender tanpa melepaskan tatapannya pada Masumi, dan ia berusaha untuk tidak berkedip. “ Namun akupun telah meninggalkannya... Mungkin sejak aku lahir, aku tidak pernah beruntung dengan kaum Hawa itu. Aku merasa menjadi kaum Adam yang terlalu tulen. “
“ Maksudmu? “ Masumi memundurkan tubuhnya perlahan sekitar 10cm kebelakang.
Bartender muda itupun semakin mencondongkan tubuhnya, berusaha mengimbangi jarak antara dirinya dan pengunjungnya. “ Kaum Hawa mampu menghasilkan kloningan mereka tanpa henti hingga mereka mungkin berusia 50 tahun! Bayangkan betapa hebat rahim mereka. Dan aku... sayangnya.... tidak menyukainya...”
“ Maksudmu..... ? ” Masumi mulai mengerti arah pembicaraan mereka.
“ Bisakah aku menghubungimu, Tuan? Kurasa ini bukanlah kebetulan kita bertemu. Kau bisa memanggilku Takahiro, atau... Taka~chan... “ ucap sang bartender malu-malu dengan semu merah muda menggemaskan diwajahnya.
Mata Masumi mendadak melebar seakan-akan hendak memuntahkan bola matanya. Ia langsung mengucapkan terima kasih dengan singkat, menyambar jasnya dan bergerak cepat menuju tempat parkir dimana sang supir telah menunggu tanpa memperdulikan teriakan lemah gemulai yang genit dari sang bartender. Hari ini ia merasa menjadi orang tebodoh didunia yang mungkin Guinness Book of Record tertarik untuk mengukir nama Masumi Hayami dicatatan pentingnya.
Cara kerja otaknya sangat tumpul saat ini, dan ia sangat mengerti faktor-faktor penyebabnya. Pertama ia mendapati Koji yang berhasil mendapatkan cinta Maya, bahkan mendaratkan bibir kotornya ke pipi gadis yang dicintainya. Kedua, ia harus bersedia di foto dan direkam secara live oleh stasiun televisi lokal dan asing untuk mengucapkan selamat kepada pasangan dadakan itu. Ketiga, ia mendapati dirinya didekati oleh seorang homoseksual karena 2 faktor sebelumnya. Ia merutuki dirinya sendiri habis-habisan dan berharap beberapa musuhnya memindahkan dirinya kedunia lain malam itu juga.
“ Maaf , Tuan... Sebaiknya anda menghentikan minumnya dan lekaslah pulang. Keluarga anda dirumah pasti sudah menunggu dan mengkhawatirkan anda sekarang. “ ucap bartender muda tampan berpotongan mowhak dan tato naga kecil dileher kanannya, namun tidak mengurangi wibawa seorang bartender elit di tempat hiburan terkemuka berkawasan di pusat kota Tokyo.
“ Takkan ada yang menungguku, kau tak usah khawatirkan aku. Akupun membawa sopir pribadi yang siap mengantarkanku kemanapun kumau. Aku bisa seharian disinipun karena memang aku sedang membutuhkannya. Dan hentikan peringatan bodohmu yang seperti perempuan cerewet paruh baya yang menghakimi suaminya yang telat pulang 1 jam. Kali ini aku SANGAT membencinya! Kau dengar? “
“ Maafkan saya, Tuan. Tapi ini sudah kewajiban dan tugas saya mengingatkan para pengunjung untuk tidak membahayakan orang lain selepas dari Casino ini, kami sangat menjaga wibawa akan bisnis kami. “ Balasnya lembut.
Masumi mendengus kesal dengan penuturan bantender muda yang mungkin usianya 5-6 tahun lebih muda darinya, namun ia membenarkan ucapannya dalam hatinya, meski saat ini ingin sekali ia meringan-tangankan anggota tubuhnya. Menonjoknya lebih tepat. Sembari memainkan butiran es digelasnya, ia menghirup dalam-dalam cerutunya yang entah sudah berapa batang terbakar habis dan menumpuk di asbak kaca.
“ Berikan aku segelas lagi. “
“ Saya rasa sebaiknya cukup saja, Tuan, wajah anda sudah mulai memerah, saya bukannya tidak suka anda menghabiskan isi dompet anda, tapi saya rasa ini yang terbaik untuk kesehatan Tuan sendiri . “
“ Sekali lagi aku sangat menghargai perhatianmu, namun aku lebih butuh segelas Whiskey dibandingkan kecerewetanmu. “
“ Tuan......” sang bartender muda memelas “ Ayolah ,Tuan..... jangan persulit karier saya seperti ini. Ini tidak adil...”
Masumi tetap menyodorkan gelas kosongnya dengan mata setengah kosong, mengintimidasi bartender untuk tidak pelit menuangkan beberapa mililiter air keras untuk menyegarkan kepalanya yang hampir meledak itu.
“ ..... Baiklah... 1 gelas saja saya rasa sudah cukup untuk membantu Casino ini tetap berjalan dengan semestinya... “ kekalahan bartender itupun nampak juga pada akhirnya.
“ Terima kasih.... “ sembari Masumi menyesapkan perlahan Whiskey ke tenggorokannya, ia mempererat kepalan tangan kirinya.
Mata elang bartender muda yang sudah ahli dan terdidik dengan baik oleh para senior itupun menangkapnya. “ Apakah masalah wanita, Tuan? “ tanyanya perlahan sambil seolah2 menata gelas-gelas kosong dari peminum yang kalah dan melampiaskannya kepada cairan memabukkan, seperti Masumi contohnya.
Masumi menghentikan sesapannya dua detik dan kembali menyesapnya.
“ Entah sampai kapan kaum Hawa akan puas memprak porandakan pertahanan kaum Adam . Sepertinya sejak jaman dinosaurus sampai setik inipun mereka tetap melaksanakan tugasnya itu. Lupakanlah, Tuan... Dan janganlah berhenti sampai di Casino ini dan berpikir untuk bunuh diri. Hidup dan wajah anda sudah pasti bisa menjamin masa depan yang sangat cemerlang...”
“ 7 tahun.....”
“ Maaf? “
“ Pernahkah kau berharap pada gadis yg usianya 11 tahun lebih muda darimu untuk melihatmu atau hebatnya bisa mencintaimu... Dan kau menunggunya selama 7 tahun? “
Bartender muda itu tercengang. Dan kini ia merasa sangat bodoh sudah sok akrab dan menasehati kata-kata pembangkit semangat yang biasa ia jabarkan kepada pecundang berpatah arang.
“ Aku mencintainya selama itu... Dan sekarang ia sudah dipeluk pria lain. “ ucap Masumi getir.
Barterder muda itu pun tersenyum, meletakkan gelas-gelas kosong para pecundang tadi sore dan mengambil kursi untuk duduk berhadapan dengan Masumi. Ia mengerahkan pandangan mata terbaiknya untuk mendapatkan perhatian Masumi.
“ Tuan, apakah kau tahu betapa hebatnya wanita? Mereka mampu menjelma menjadi malaikat terang dengan sosoknya. Menjadi seorang ibu dengan sifat cinta kasihnya. Menjadi seorang istri dengan pelayanannya serta berani menjadi tameng yang kuat untuk orang yang dicintainya...” ucap bartender tanpa melepaskan tatapannya pada Masumi, dan ia berusaha untuk tidak berkedip. “ Namun akupun telah meninggalkannya... Mungkin sejak aku lahir, aku tidak pernah beruntung dengan kaum Hawa itu. Aku merasa menjadi kaum Adam yang terlalu tulen. “
“ Maksudmu? “ Masumi memundurkan tubuhnya perlahan sekitar 10cm kebelakang.
Bartender muda itupun semakin mencondongkan tubuhnya, berusaha mengimbangi jarak antara dirinya dan pengunjungnya. “ Kaum Hawa mampu menghasilkan kloningan mereka tanpa henti hingga mereka mungkin berusia 50 tahun! Bayangkan betapa hebat rahim mereka. Dan aku... sayangnya.... tidak menyukainya...”
“ Maksudmu..... ? ” Masumi mulai mengerti arah pembicaraan mereka.
“ Bisakah aku menghubungimu, Tuan? Kurasa ini bukanlah kebetulan kita bertemu. Kau bisa memanggilku Takahiro, atau... Taka~chan... “ ucap sang bartender malu-malu dengan semu merah muda menggemaskan diwajahnya.
Mata Masumi mendadak melebar seakan-akan hendak memuntahkan bola matanya. Ia langsung mengucapkan terima kasih dengan singkat, menyambar jasnya dan bergerak cepat menuju tempat parkir dimana sang supir telah menunggu tanpa memperdulikan teriakan lemah gemulai yang genit dari sang bartender. Hari ini ia merasa menjadi orang tebodoh didunia yang mungkin Guinness Book of Record tertarik untuk mengukir nama Masumi Hayami dicatatan pentingnya.
Cara kerja otaknya sangat tumpul saat ini, dan ia sangat mengerti faktor-faktor penyebabnya. Pertama ia mendapati Koji yang berhasil mendapatkan cinta Maya, bahkan mendaratkan bibir kotornya ke pipi gadis yang dicintainya. Kedua, ia harus bersedia di foto dan direkam secara live oleh stasiun televisi lokal dan asing untuk mengucapkan selamat kepada pasangan dadakan itu. Ketiga, ia mendapati dirinya didekati oleh seorang homoseksual karena 2 faktor sebelumnya. Ia merutuki dirinya sendiri habis-habisan dan berharap beberapa musuhnya memindahkan dirinya kedunia lain malam itu juga.
*
Seminggu sudah Daito diberondong kumpulan wartawan tak
bertanggung jawab yang mengusik mereka dengan kamera, mike, kabel disana sini, parfum menyengat serta seonggok sampah junk food yang cepat menggunung di tong
sampah. Mereka begitu liar mencari
berita tanpa mengenal waktu, semenjak pasangan panggung yang menjadi nyata
ditahbiskan secara live, kebrutalan mereka semakin tak terkendali dan
menjadi-jadi. Seakan mereka sudah lupa kalau ada matahari yang dapat terbit dan
tenggelam digantikan rembulan, energi mereka selalu cepat tergantikan oleh
barisan para pemburu berita cadangan yang telah tidur sebelumnya untuk membentuk
pasukan kekuatan. Dan entah kapan hal ini akan surut, mengingat pangeran Daito,
Masumi Hayami begitu sangat mahal komentar semenjak ucapan selamatnya meluncur cepat
kepada Maya dan Koji. Hari ini pun tak ada bedanya. Black Jaguar kebanggaannya yang baru menyentuh pelataran parkir
sudah diblokade oleh para reporter. Masumi Hayami—seperti seminggu lalu—diam
seribu bahasa sambil tetap mengayunkan langkah kaki panjangnya menuju gedung
kerajaannya. Para security berbadan kokoh membentuk lorong yang lurus seperti
layaknya selebritis fenomenal hendak naik panggung, melindungi Masumi dari
serangan pertanyaan seputar hubungan Bidadari Merah, Maya-Koji khususnya. Dan
Masumi tetap menganggap pertanyaan-pertanyaan itu seperti Tombak Longinus yang
tanpa henti menghunjamkan seluruh kemampuannya untuk menembus benteng
pertahanan jiwa Masumi. Sampai saat ini ia bersyukur, ia masih mampu bertahan karena sejak kecil ia
telah terdidik untuk bermental baja oleh Kaisar Eisuke Hayami.
Seminggu ini jugalah, ia merasa Maya menjaga jarak
darinya. Mereka hanya bertemu jikalau ada rapat yang mendadak, seperti kemarin, Maya cedera saat ia tak sengaja
menginjak pecahan properti yang luput dari petugas kebersihan. Hal ini sedikit
banyak menghambat kemampuan akting tubuhnya untuk lebih bereksplorasi menyeret
bakat ajaibnya keluar. Dan rapat itupun hanya sekali! Jadi kesimpulannya Masumi
hanya mampu melihat wajah wanita yang dicintainya itu cuma sekali dalam waktu
seminggu ini. Pemandangan kagum dan rindunya pun rusak sekejap sewaktu Koji tak
henti mendampingi Maya, dan Masumi melihat Koji seperti kingkong buruk rupa
yang seakan-akan menunjukkan kepemilikannya kepada gadis mungil ditangannya. Ini
tak lain seperti melihat film bioskop Box
Office garapan Hollywood di ruang rapat pribadinya. Dan film King Kong ini
sangat-sangat ia benci, mengingat si gadis pun mau mengerti dan tetap bersandar
kepada si King Kong! Bah!!! Bahkan salah satu keputusan Masumi untuk memecat
petugas kebersihan ceroboh—sebagai pelampiasan emosinya-- itupun diurungkannya
mengingat Maya meyakinkan Masumi untuk memberinya kesempatan agar ia tak
mengulangi kesalahannya itu.
Seingatnya
hanya itulah terakhir kali ia berbicara pada Maya. Itupun ia mendapat sorotan
tajam dari Si King Kong! Kalau saja
ia memiliki kesempatan yang cukup luas, sudah pasti ia melayangkan tinju
terbaiknya tepat ketengah wajah Koji untuk membuatnya lebih buruk rupa lagi. Jam
menjelang makan siang akhirnya menyadarkan dirinya dari aktifitas super
sibuknya yang sepertinya tak memberinya kata ampun untuk berhenti. Masumi menyambar
jasnya, meninggalkan pesan dan menghampiri Shiori yang baru saja datang dan
menunggunya dilobi.
Hhhhh......
Rasa lelah
menyerangnya. Ia tak tahu berapa lama lagi ia harus bertahan di dunia yang
terus menghimpitnya seperti ini. Ia mengambil rokok dan pemantiknya dan hampir
saja ia menjatuhkan keduanya saat melihat Maya berjalan menuju arahnya di
lorong gedung yang kebetulan, sepi dari pegawai. Ia dapat merasakan Maya pun
tak kalah terkejut dari dirinya, hanya saja sepertinya Masumi lebih terlatih
meredam keterkejutannya daripada Maya.
“ Ah..
Se.. lamat Siang.. Pak Masumi...... “ Maya akhirnya memberanikan dirinya
menyapa atasannya.
Masumi mengamati
bahasa tubuh Maya yang canggung dan
kata-katanya yang terputus-putus, seperti handphone
tua dengan sinyal yang buruk karena cuaca. “ Selamat Siang, Maya....” dengan
penekanan lembut di kata akhirannya.
Maya semakin
diam dan gugup karena sekarang mereka sudah berdiri bersisian menunggu pintu
lift terbuka. Dan bagi Masumi, ini Neraka, karena ia sangat ingin menumpahkan
ribuan kata-kata namun ia harus kembali menelannya sekali teguk. Entah apakah
Maya juga mengerti perasaannya sekarang.
“ Kenapa
kau ada dilantai ini? Apakah ada masalah? Atau mau kembali berlatih? “ tanya
Masumi kalem membuka suasana.
“ Eh?
Iya... Iya, Pak Masumi... “ jawab Maya gugup dan memilin ujung cardigan hijau lumutnya.
“ ???
Kau membenarkan pertanyaanku yang mana, Maya? “
“ Eh?
Oh.... Tadi Pak Masumi bertanya apa ya? “
Sontak Masumi
tertawa renyah. Ia tak mengira menunggu lift ternyata begini menyenangkannya.
“ Aku
hanya bertanya kenapa kau ada dilantai ini, karena biasanya kau tak ada disini
kan, Maya? Dan tujuanmu selanjutnya kemana, apakah mau berlatih kembali? “
jawab Masumi sambil menahan tawanya dan menikmati pemandangan Maya yang
linglung kehilangan orientasi.
“ Oooh,
saya mengambil bahan naskah ini.” Maya memperlihatkan satu folder tipis
berwarna merah menyala ditangannya. “ Saya mendapatkan tawaran untuk sesi foto
dengan beberapa fotomodel lokal dengan tema Bidadari Merah. Tadi adalah
pertemuanku dengan mereka untuk yang pertama kali dan kami harus menyocokkan
pose dan lokasi. “
“ Wah, akhirnya
datang juga waktu dimana kau makin poluler dikalangan fotographer, Maya. Aku ikut
senang untuk kesuksesanmu. Jangan kau lepaskan kesempatan hebat ini. “ dukung
Masumi spontan.
Wajah Maya
memerah akibatnya. Namun suasana itu harus terhenti sementara karena pintu lift
yang mereka nantikan itu akhirnya terbuka dan mempersilahkan mereka untuk
mengisinya. Entah atas doa yang mana, atau apakah ada peringatan akan kiamat,
suasana kantor yang biasanya dipenuhi karyawan tidak terlalu ramai. Padahal sebentar
lagi jam makan siang. Dan kini ia hanya berdua saja di lift bersama Maya. Hatinya
bersorak girang karena Si King Kong—julukan
baru dari Masumi untuk Koji—lengah untuk menjaga sang putri tercinta.
“ Apakah
pemotretan itu akan mengganggu jadwal kerjamu, Maya? Jangan sampai kau terlalu
memaksakan dirimu dan kau berakhir dengan infus rumah sakit. “
“ Ah, tidak
seburuk itu, Pak Masumi... Saya hanya
diminta untuk berada ditengah-tengah mereka dan menampilkan suasana mistis
sekaligus tradisional yang kental. Namun jujur, saya tadi merasa sangat rendah
diri.... “ Maya menghembuskan nafas keluhnya.
Masumi
sedikit menaikkan alisnya. “ Kenapa? “
“ Bagi
manusia tinggi seperti anda pasti takkan mengerti, Pak Masumi..... Anda kan
tahu sendiri, mereka itu fotomodel profesional. Sedangkan saya hanyalah aktris
biasa. Berada ditengah-tengah mereka, saya seperti liliput buruk yang tersasar
dan terdampar di lautan para elf yang
berwujud cantik rupawan dan tinggi seperti pohon cemara. Tak jarang saya
mendapati mereka yang sepertinya, menyepelekan saya karena tinggi saya hanya rata-rata
wanita Jepang jaman dulu dan mereka sudah menyentuh angka minimal 170cm. Dan lucunya,
mereka tetap mengenakan high heels! Saya tak mengerti, setinggi apakah yang
mereka mau....” kembali Maya menunjukkan wajah keluhnya. “ Ah, Pak Masumi...
Sudah makan? “ tanya Maya hati-hati.
Sebentar
Masumi diam.
“ Aku
akan makan siang.... “
“ Sen...
diri? Atau... “ kembali Maya bertanya dan menatap Masumi dengan wajah penasaran.
“ Shiori
menungguku di lobi. Aku harus segera menemuinya. “ jawab Masumi masam.
“ Ah...
Tentu saja........ “
Maya menundukkan
wajahnya. Dan Masumi menagkap wajah galaunya.
“
Maya.... Aku tetap mencintaimu. Apapun keadannya sekarang. Meski kau sekarang
berstatus kekasih Koji, meski kau menghindariku, ataupun statusku yang masih diharapkan
orang-orang menjadi tunangan Shiori Takamiya, aku akan tetap mencintaimu. “
ucap Masumi mantap, menghadap Maya langsung dan menunjukkan kesungguhannya yang
jantan dan kokoh seperti batu karang.
Sontak wajah
Maya terangkat memandang kelekatan mata Masumi yang lembut untuknya.
“
Pak.....? “
“ Jangan
lupa, aku takkan lelah menunggumu. Aku akan selalu menunggu cintamu, Maya...”
Masumi
pun meninggalkan Maya yang syock tak
percaya ketika pintu lift terbuka. Ia tahu Maya takkan mungkin menjawab
pernyataannya barusan mengingat beberapa karyawan Daito sudah menunggu di muka
pintu lift. Sosok kokoh tegapnya menjauh, punggung yang Maya rindukan itu
terlihat semakin kecil dan mulai tertutup barisan para karyawan yang mulai
memadati ruang lift berkapasitas 30 orang. Mata Maya tambah melebar—namum sakit—melihat
Shiori Takamiya menggandeng Masumi menuju pintu keluar gedung Daito. Maya tak
mampu menahan sakit di rongga dadanya yang semakin mendesak air matanya keluar
dari peraduan. Tetes air mata pun mengalir lembut, memulas pipi putih pucatnya
yang lelah. Pintu lift tertutup. Memeluk 12 orang penghuninya dan membawa Maya
kembali kelantai ia tadi bertemu Masumi. Dua tiga orang mendapati aliran air mata Maya
Kitajima, namun mereka hanya mendapatkan jawaban “ Aku tidak apa- apa, mungkin karena tubuhku terlalu lelah karena
akhir-akhir ini aku berlatih cukup keras menahan sakit dikakiku”.
*
“
Masumi..... Kau mau pesan apa? “ kembali Shiori bertanya dengan halus.
“ Ah...
ya? Maaf ? “
“ Aku
sudah bertanya 4 kali dengan yang ini, Masumi.. Sedari tadi kau menatap serius
daftar menu yang ada ditanganmu itu, sampai membuat waitress ini menunggumu.... “ Shiori melempar pandangannya ke arah waitress muda dan cantik berpotongan
sopan dan rambut tergelung rapi lengkap dengan pena dan memo kecil berwarna
coklat muda klasik. “ Kau mau pesan yang mana? “ tanya Shiori lagi dengan
senyum dipaksakan.
“ Ah, maaf.
Aku pesan yakiniku dan teh hijau saja. Tolong tehnya dibuat sekental mungkin,
aku membutuhkannya. “ jawab Masumi ringan dan menutup daftar menunya.
“ Baik
Tuan “ Sang waitress itupun mengambil
menu dan pamit undur diri menuju dapur untuk segera disajikan oleh sang koki.
Shiori meliriknya dengan anggun—namun mengandung intimidasi kuat—memberikan
peringatan kepada waitress yang
terlihat sangat nyata telah terhipnotis akan pesona kuat dan matang dari
Masumi, sepertinya perawan baru keluar dari gua dan bertemu pertama kali dengan
makhluk bernama Adam.
“ Kau
hanya pesan itu saja? “ kembali menatap Masumi.
“ Aku
menyukai resep leluhur kita “
“ Aku
juga sangat menyukai masakan khas negri kita. Namun kurasa tak perlu memakan
waktu lama untuk menyebut namanya. Adakah yang mengganggu pikiranmu, Masumi? “
Masumi
menaikkan pupil matanya yang sedari tadi menatap rangkaian bunga segar yang
mungil dan manis, beraroma segar serta warna putih-hijau muda ringan menengahi
dirinya dan mantan tunangannya.
“
Masalah pekerjaan. Seperti biasanya. “ jawab Masumi singkat. Terlalu singkat.
Namun
tidak menyurutkan niat Shiori untuk memperbaiki hubungan mereka yang kandas.
Para wartawan belum mengendus akan retaknya hubungan mereka, terutama hal
besarnya karena pihak ketiga yang sudah sejak lama bersemayam dihati Masumi
jauh sebelum Shiori berpredikat menjadi tunangannya. Shiori rindu akan dirinya
yang ditipu habis-habisan oleh semua keramahan dan kelembutan Masumi jauh
sebelum ia mengaku sebagai Mawar Ungu. Dan saat inipun ia berbaik hati tetap
mau memenuhi permintaan manja cucu Takamiya, untuk menemaninya makan siang.“
Sangat beratkah masalahnya, sampai-sampai kau harus berpikir keras untuk
memilih apa yang akan kau makan? Aku mengkhawatirkan kesehatanmu, Masumi ...“
“ Terima
kasih. Kau tidak perlu repot-repot memikirkan kesehatanku. Gym pribadiku selalu kuhadiri meski terkadang hanya setengah jam
setiap harinya. Dokter pun selalu memberikan laporan yang sangat memuaskan akan
hasil dari pemeriksaan rutinku setiap dua minggu sekali. Karena itu, sebaiknya
kau pikirkan saja kesehatan dirimu sendiri yang labil itu, Shiori. “
Dingin sekali.
“ Ah...
kau betul sekali... Aku seharusnya lebih memperhatikan kesehatanku ini, Masumi.
Terima kasih... Aku harap aku bisa jauh lebih stabil dan mampu mengimbangimu....
“
“
Shiori....” pandang Masumi pilu. “ Sampai kapan...... “
Obrolan
mereka terputus ketika sang waitress membawa
seluruh pesanan mereka. Shori tahu betul kemana arah pembicaraan mereka—dan
hubungan mereka.
“ Ah,
itu Kitajima Maya dan Yuu Sakurakoji? “ bisik beberapa waitress yang bergosip
membantu menghidangkan makanan dimeja belakang Shiori. “ Mereka pasangan yang
kuidam-idamkan sejak pertunjukkan Jane dan Steward! Aku ingin sekali berfoto
bersama dan mendapatkan tanda tangan mereka “
Masumi
sontak melihat keluar kaca restoran disampingnya. Kaca restoran ini terkenal
unik, karena dari arah luar kau mampu berkaca dan memperbaiki tata riasmu , dan
tanpa kau sadari beberapa orang didalam restoran memperhatikan segala tingkah lakumu dengan senyum
dikulum. Dan tampaklah gadis pujaannya, digandeng mesra oleh Kingkongnya—pikir
Masumi.
Para
waitress wanita dan pria muda, berdecak kagum kearah pasangan itu. Berita akan
kebaikan Maya pun sering jadi buah bibir mulai dari pemburu berita sampai ibu-ibu
dipasar tradisional. Maya yang dikenal pemalu itu kini menjadi pujaan orang-orang,
terutama remaja putri. Maya berani menjadi donatur tetap lembaga perlindungan
anak , bahkan ada fans beratnya yang melamar jadi penata pakaiannya sehari-hari
tanpa mau dibayar tinggi. Ai-chan—begitu ia biasa dipanggil Maya. Bukannya Maya
pelit karena mau memperkerjakan orang yang hanya sering dibayar dengan gaji
secukupnya, makan bersama, senyum tulus dan beberapa tanda tangan dikaus
kesayangannya, tapi karena Ai ini begitu ngototnya ingin ada disamping Maya.
Dan Maya tak ingin membebani orang rendah hati dan diri ini. Diam-diam Maya mengirimkan bayaran yang
seharusnya diterima Ai ke rekening orang tuanya yang bersedia bekerja sama
dengan management Maya untuk memenuhi
kebutuhan Ai bertarung sendiri di kota Tokyo.
Sakurakoji
pun kini menjadi lebih makmur. Motor hitam yang biasa ia pakai untuk mengantar
jemput Maya dulu kini tergeser oleh Subaru merah gelap limited edition. Ia tak perlu takut lagi akan perubahan cuaca dari
panas terik dan berubah menjadi hujan angin. Namun pakaiannya tetap sederhana,
sama seperti Maya, tapi tetap terlihat mahal dan chic. Padahal ini juga adalah buah kehebatan Ai menemukan tulisan sale berhuruf capslock besar dan menampilkan potongan harga yang juga besar—dan
mereka sama sekali tidak gengsi dengan pakaian diskonan. Dan para remaja
menyukainya!
“ Sudah
kuduga, mereka sangat cocok dan saling menunjang. Bukan begitu, Masumi? “
Shiori memecah lamunan tajam Masumi.
“ Aku sangat terharu dan senang mereka
bisa bersama. Aku ikut senang sewaktu Maya menerima cinta Koji seminggu lalu.
Kuakui aku sangat terkejut! Namun siapa sangka, ternyata Maya pun juga
mencintainya... “
Masumi
tersenyum dingin.
“ Dan
itu sangat menguntungkan banyak pihak, begitu maksutmu, Shiori? “
Shiori
terjegil kaget mendengar jawaban dingin Masumi.
“
Masumi..... “
“
Seperti yang kau lihat, Daito tak pernah sepi dari wartawan yang setiap hari
seperti burung pemakan bangkai yang menunggu mangsanya sekarat dan bisa
dilahap. Aku salah satu bangkai yang mereka tunggu. Tapi aku bersumpah mereka
takkan mendapatkanku mati sekarat di pena mereka! Tidak akan!!! Beruntung Maya
dan Koji memiliki posisi yang cukup menguntungkan karena padang bunga sedang
mengitari mereka. Dan tak dipungkiri, saham Daito meroket cukup baik seminggu
ini. Aku berharap ada tukang gosip yang punya waktu 24 jam sehari untuk membual
tentang pernikahan mereka, atau bahkan ... membantu mereka menemui seorang wedding planner. “
“
Masumi! “ bisik peringatan Shiori
meluncur. “ Kau tahu apa yang barusan kau katakan? “
“ Tentu
saja! Aku adalah seorang pengusaha di kerajaan bisnis Daito sekaligus seorang
penggemar yang bernasib sial. “ jawab Masumi santai sambil menyesap perlahan
teh hijaunya.
Ternyata rasanya sangat pahit
sekali...
Hati Masumi berbisik pilu.
Subscribe to:
Posts (Atom)