Friday, 16 March 2012

Background Music of Paragraph 04 by The Beatles



Yesterday



Yesterday, all my troubles seemed so far away.
Now it looks as though they’re here to stay.
Oh, I believe in yesterday.
Suddenly, I’m not half the man i used to be,
There’s a shadow hanging over me,
Oh, yesterday came suddenly.


Why she had to go
I don’t know she wouldn’t say.
I said something wrong,
Now I long for yesterday.


Yesterday, love was such an easy game to play.


Now I need a place to hide away.
Oh, I believe in yesterday.


Why she had to go
I don’t know she wouldn’t say.
I said something wrong,
Now I long for yesterday.


Yesterday, love was such an easy game to play.
Now I need a place to hide away.
Oh, I believe in yesterday.

Paragraph 04

Yesterday




“ Maaf , Tuan... Sebaiknya anda menghentikan minumnya dan lekaslah pulang. Keluarga anda dirumah pasti sudah menunggu dan mengkhawatirkan anda sekarang. “ ucap bartender muda tampan berpotongan mowhak dan tato naga kecil dileher kanannya, namun tidak mengurangi wibawa seorang bartender elit di tempat hiburan terkemuka berkawasan di pusat kota Tokyo.



“ Takkan ada yang menungguku, kau tak usah khawatirkan aku. Akupun membawa sopir pribadi yang siap mengantarkanku kemanapun kumau. Aku bisa seharian disinipun karena memang aku sedang membutuhkannya. Dan hentikan peringatan bodohmu yang seperti perempuan cerewet paruh baya yang menghakimi suaminya yang telat pulang 1 jam. Kali ini aku SANGAT membencinya! Kau dengar? “


“ Maafkan saya, Tuan. Tapi ini sudah kewajiban dan tugas saya mengingatkan para pengunjung untuk tidak membahayakan orang lain selepas dari Casino ini, kami sangat menjaga wibawa akan bisnis kami. “ Balasnya lembut.


Masumi mendengus kesal dengan penuturan bantender muda yang mungkin usianya 5-6 tahun lebih muda darinya, namun ia membenarkan ucapannya dalam hatinya, meski saat ini ingin sekali ia meringan-tangankan anggota tubuhnya. Menonjoknya lebih tepat. Sembari memainkan butiran es digelasnya, ia menghirup dalam-dalam cerutunya yang entah sudah berapa batang terbakar habis dan menumpuk di asbak kaca.


“ Berikan aku segelas lagi. “


“ Saya rasa sebaiknya cukup saja, Tuan, wajah anda sudah mulai memerah, saya bukannya tidak suka anda menghabiskan isi dompet anda, tapi saya rasa ini yang terbaik untuk kesehatan Tuan sendiri . “


“ Sekali lagi aku sangat menghargai perhatianmu, namun aku lebih butuh segelas Whiskey dibandingkan kecerewetanmu. “


“ Tuan......” sang bartender muda memelas “ Ayolah ,Tuan..... jangan persulit karier saya seperti ini. Ini tidak adil...”


Masumi tetap menyodorkan gelas kosongnya dengan mata setengah kosong, mengintimidasi bartender untuk tidak pelit menuangkan beberapa mililiter air keras untuk menyegarkan kepalanya yang hampir meledak itu.


“ ..... Baiklah... 1 gelas saja saya rasa sudah cukup untuk membantu Casino ini tetap berjalan dengan semestinya... “ kekalahan bartender itupun nampak juga pada akhirnya.


“ Terima kasih.... “ sembari Masumi menyesapkan perlahan Whiskey ke tenggorokannya, ia mempererat kepalan tangan kirinya.


Mata elang bartender muda yang sudah ahli dan terdidik dengan baik oleh para senior itupun menangkapnya. “ Apakah masalah wanita, Tuan? “ tanyanya perlahan sambil seolah2 menata gelas-gelas kosong dari peminum yang kalah dan melampiaskannya kepada cairan memabukkan, seperti Masumi contohnya.


Masumi menghentikan sesapannya dua detik dan kembali menyesapnya.


“ Entah sampai kapan kaum Hawa akan puas memprak porandakan pertahanan kaum Adam . Sepertinya sejak jaman dinosaurus sampai setik inipun mereka tetap melaksanakan tugasnya itu.  Lupakanlah, Tuan... Dan janganlah berhenti sampai di Casino ini dan berpikir untuk bunuh diri. Hidup dan wajah anda sudah pasti bisa menjamin masa depan yang sangat cemerlang...”


“ 7 tahun.....”


“ Maaf? “


“ Pernahkah kau berharap pada gadis yg usianya 11 tahun lebih muda darimu untuk melihatmu atau hebatnya bisa mencintaimu... Dan kau menunggunya selama 7 tahun? “


Bartender muda itu tercengang. Dan kini ia merasa sangat bodoh sudah sok akrab dan menasehati kata-kata pembangkit semangat yang biasa ia jabarkan kepada pecundang berpatah arang.


“ Aku mencintainya selama itu... Dan sekarang ia sudah dipeluk pria lain. “ ucap Masumi getir.


Barterder muda itu pun tersenyum, meletakkan gelas-gelas kosong para pecundang tadi sore dan mengambil kursi untuk duduk berhadapan dengan Masumi. Ia mengerahkan pandangan mata terbaiknya untuk mendapatkan perhatian Masumi.


“ Tuan, apakah kau tahu betapa hebatnya wanita? Mereka mampu menjelma menjadi malaikat terang dengan sosoknya. Menjadi seorang ibu dengan sifat cinta kasihnya. Menjadi seorang istri dengan pelayanannya serta berani menjadi tameng yang kuat untuk orang yang dicintainya...” ucap bartender tanpa melepaskan tatapannya pada Masumi, dan ia berusaha untuk tidak berkedip. “ Namun akupun telah meninggalkannya...  Mungkin sejak aku lahir, aku tidak pernah beruntung dengan kaum Hawa itu. Aku merasa menjadi kaum Adam yang terlalu tulen. “


“ Maksudmu? “ Masumi memundurkan tubuhnya perlahan sekitar 10cm kebelakang.


Bartender muda itupun semakin mencondongkan tubuhnya, berusaha mengimbangi jarak antara dirinya dan pengunjungnya. “ Kaum Hawa mampu menghasilkan kloningan mereka tanpa henti hingga mereka mungkin berusia 50 tahun! Bayangkan betapa hebat rahim mereka. Dan aku... sayangnya.... tidak menyukainya...”


“ Maksudmu..... ? ” Masumi mulai mengerti arah pembicaraan mereka.


“ Bisakah aku menghubungimu, Tuan? Kurasa ini bukanlah kebetulan kita bertemu. Kau bisa memanggilku Takahiro, atau... Taka~chan... “ ucap sang bartender malu-malu dengan semu merah muda menggemaskan diwajahnya.


Mata Masumi mendadak melebar seakan-akan hendak memuntahkan bola matanya. Ia langsung mengucapkan terima kasih dengan singkat, menyambar jasnya dan bergerak cepat menuju tempat parkir dimana sang supir telah menunggu tanpa memperdulikan teriakan lemah gemulai yang genit dari sang bartender. Hari ini ia merasa menjadi orang tebodoh didunia yang mungkin Guinness Book of Record tertarik untuk mengukir nama Masumi Hayami dicatatan pentingnya.


Cara kerja otaknya sangat tumpul saat ini, dan ia sangat mengerti faktor-faktor penyebabnya. Pertama ia mendapati Koji yang berhasil mendapatkan cinta Maya, bahkan mendaratkan bibir kotornya ke pipi gadis yang dicintainya. Kedua, ia harus bersedia di foto dan direkam secara live oleh stasiun televisi lokal dan asing untuk mengucapkan selamat kepada pasangan dadakan itu. Ketiga, ia mendapati dirinya didekati oleh seorang homoseksual karena 2 faktor sebelumnya. Ia merutuki dirinya sendiri habis-habisan dan berharap beberapa musuhnya memindahkan dirinya kedunia lain malam itu juga.

                                                           *



Seminggu sudah Daito diberondong kumpulan wartawan tak bertanggung jawab yang mengusik mereka dengan kamera, mike, kabel disana sini, parfum menyengat serta seonggok sampah junk food yang cepat menggunung di tong sampah.  Mereka begitu liar mencari berita tanpa mengenal waktu, semenjak pasangan panggung yang menjadi nyata ditahbiskan secara live, kebrutalan mereka semakin tak terkendali dan menjadi-jadi. Seakan mereka sudah lupa kalau ada matahari yang dapat terbit dan tenggelam digantikan rembulan, energi mereka selalu cepat tergantikan oleh barisan para pemburu berita cadangan yang telah tidur sebelumnya untuk membentuk pasukan kekuatan. Dan entah kapan hal ini akan surut, mengingat pangeran Daito, Masumi Hayami begitu sangat mahal komentar semenjak ucapan selamatnya meluncur cepat kepada Maya dan Koji. Hari ini pun tak ada bedanya. Black Jaguar kebanggaannya yang baru menyentuh pelataran parkir sudah diblokade oleh para reporter. Masumi Hayami—seperti seminggu lalu—diam seribu bahasa sambil tetap mengayunkan langkah kaki panjangnya menuju gedung kerajaannya. Para security berbadan kokoh membentuk lorong yang lurus seperti layaknya selebritis fenomenal hendak naik panggung, melindungi Masumi dari serangan pertanyaan seputar hubungan Bidadari Merah, Maya-Koji khususnya. Dan Masumi tetap menganggap pertanyaan-pertanyaan itu seperti Tombak Longinus yang tanpa henti menghunjamkan seluruh kemampuannya untuk menembus benteng pertahanan jiwa Masumi. Sampai saat ini ia bersyukur,  ia masih mampu bertahan karena sejak kecil ia telah terdidik untuk bermental baja oleh Kaisar Eisuke Hayami.

Seminggu ini jugalah, ia merasa Maya menjaga jarak darinya. Mereka hanya bertemu jikalau ada rapat yang mendadak, seperti kemarin, Maya cedera saat ia tak sengaja menginjak pecahan properti yang luput dari petugas kebersihan. Hal ini sedikit banyak menghambat kemampuan akting tubuhnya untuk lebih bereksplorasi menyeret bakat ajaibnya keluar. Dan rapat itupun hanya sekali! Jadi kesimpulannya Masumi hanya mampu melihat wajah wanita yang dicintainya itu cuma sekali dalam waktu seminggu ini. Pemandangan kagum dan rindunya pun rusak sekejap sewaktu Koji tak henti mendampingi Maya, dan Masumi melihat Koji seperti kingkong buruk rupa yang seakan-akan menunjukkan kepemilikannya kepada gadis mungil ditangannya. Ini tak lain seperti melihat film bioskop Box Office garapan Hollywood di ruang rapat pribadinya. Dan film King Kong ini sangat-sangat ia benci, mengingat si gadis pun mau mengerti dan tetap bersandar kepada si King Kong! Bah!!! Bahkan salah satu keputusan Masumi untuk memecat petugas kebersihan ceroboh—sebagai pelampiasan emosinya-- itupun diurungkannya mengingat Maya meyakinkan Masumi untuk memberinya kesempatan agar ia tak mengulangi kesalahannya itu.

Seingatnya hanya itulah terakhir kali ia berbicara pada Maya. Itupun ia mendapat sorotan tajam dari Si King Kong! Kalau saja ia memiliki kesempatan yang cukup luas, sudah pasti ia melayangkan tinju terbaiknya tepat ketengah wajah Koji untuk membuatnya lebih buruk rupa lagi. Jam menjelang makan siang akhirnya menyadarkan dirinya dari aktifitas super sibuknya yang sepertinya tak memberinya kata ampun untuk berhenti. Masumi menyambar jasnya, meninggalkan pesan dan menghampiri Shiori yang baru saja datang dan menunggunya dilobi.

Hhhhh......

Rasa lelah menyerangnya. Ia tak tahu berapa lama lagi ia harus bertahan di dunia yang terus menghimpitnya seperti ini. Ia mengambil rokok dan pemantiknya dan hampir saja ia menjatuhkan keduanya saat melihat Maya berjalan menuju arahnya di lorong gedung yang kebetulan, sepi dari pegawai. Ia dapat merasakan Maya pun tak kalah terkejut dari dirinya, hanya saja sepertinya Masumi lebih terlatih meredam keterkejutannya daripada Maya.

“ Ah.. Se.. lamat Siang.. Pak Masumi...... “ Maya akhirnya memberanikan dirinya menyapa atasannya.

Masumi mengamati bahasa tubuh Maya yang canggung  dan kata-katanya yang terputus-putus, seperti handphone tua dengan sinyal yang buruk karena cuaca. “ Selamat Siang, Maya....” dengan penekanan lembut di kata akhirannya.

Maya semakin diam dan gugup karena sekarang mereka sudah berdiri bersisian menunggu pintu lift terbuka. Dan bagi Masumi, ini Neraka, karena ia sangat ingin menumpahkan ribuan kata-kata namun ia harus kembali menelannya sekali teguk. Entah apakah Maya juga mengerti perasaannya sekarang.

“ Kenapa kau ada dilantai ini? Apakah ada masalah? Atau mau kembali berlatih? “ tanya Masumi kalem membuka suasana.

“ Eh? Iya... Iya, Pak Masumi... “ jawab Maya gugup dan memilin ujung cardigan hijau lumutnya.

“ ??? Kau membenarkan pertanyaanku yang mana, Maya? “

“ Eh? Oh.... Tadi Pak Masumi bertanya apa ya? “

Sontak Masumi tertawa renyah. Ia tak mengira menunggu lift ternyata begini menyenangkannya.

“ Aku hanya bertanya kenapa kau ada dilantai ini, karena biasanya kau tak ada disini kan, Maya? Dan tujuanmu selanjutnya kemana, apakah mau berlatih kembali? “ jawab Masumi sambil menahan tawanya dan menikmati pemandangan Maya yang linglung kehilangan orientasi.

“ Oooh, saya mengambil bahan naskah ini.” Maya memperlihatkan satu folder tipis berwarna merah menyala ditangannya. “ Saya mendapatkan tawaran untuk sesi foto dengan beberapa fotomodel lokal dengan tema Bidadari Merah. Tadi adalah pertemuanku dengan mereka untuk yang pertama kali dan kami harus menyocokkan pose dan lokasi. “

“ Wah, akhirnya datang juga waktu dimana kau makin poluler dikalangan fotographer, Maya. Aku ikut senang untuk kesuksesanmu. Jangan kau lepaskan kesempatan hebat ini. “ dukung Masumi spontan.

Wajah Maya memerah akibatnya. Namun suasana itu harus terhenti sementara karena pintu lift yang mereka nantikan itu akhirnya terbuka dan mempersilahkan mereka untuk mengisinya. Entah atas doa yang mana, atau apakah ada peringatan akan kiamat, suasana kantor yang biasanya dipenuhi karyawan tidak terlalu ramai. Padahal sebentar lagi jam makan siang. Dan kini ia hanya berdua saja di lift bersama Maya. Hatinya bersorak girang karena Si King Kong—julukan baru dari Masumi untuk Koji—lengah untuk menjaga sang putri tercinta.

“ Apakah pemotretan itu akan mengganggu jadwal kerjamu, Maya? Jangan sampai kau terlalu memaksakan dirimu dan kau berakhir dengan infus rumah sakit. “

“ Ah, tidak seburuk itu, Pak Masumi...  Saya hanya diminta untuk berada ditengah-tengah mereka dan menampilkan suasana mistis sekaligus tradisional yang kental. Namun jujur, saya tadi merasa sangat rendah diri.... “ Maya menghembuskan nafas keluhnya.

Masumi sedikit menaikkan alisnya. “ Kenapa? “

“ Bagi manusia tinggi seperti anda pasti takkan mengerti, Pak Masumi..... Anda kan tahu sendiri, mereka itu fotomodel profesional. Sedangkan saya hanyalah aktris biasa. Berada ditengah-tengah mereka, saya seperti liliput buruk yang tersasar dan terdampar di lautan para elf yang berwujud cantik rupawan dan tinggi seperti pohon cemara. Tak jarang saya mendapati mereka yang sepertinya, menyepelekan saya karena tinggi saya hanya rata-rata wanita Jepang jaman dulu dan mereka sudah menyentuh angka minimal 170cm. Dan lucunya, mereka tetap mengenakan high heels! Saya tak mengerti, setinggi apakah yang mereka mau....” kembali Maya menunjukkan wajah keluhnya. “ Ah, Pak Masumi... Sudah makan? “ tanya Maya hati-hati.

Sebentar Masumi diam.

“ Aku akan makan siang.... “

“ Sen... diri? Atau... “ kembali Maya bertanya dan menatap Masumi dengan wajah penasaran.

“ Shiori menungguku di lobi. Aku harus segera menemuinya. “ jawab Masumi masam.

“ Ah... Tentu saja........ “

Maya menundukkan wajahnya. Dan Masumi menagkap wajah galaunya.

“ Maya.... Aku tetap mencintaimu. Apapun keadannya sekarang. Meski kau sekarang berstatus kekasih Koji, meski kau menghindariku, ataupun statusku yang masih diharapkan orang-orang menjadi tunangan Shiori Takamiya, aku akan tetap mencintaimu. “ ucap Masumi mantap, menghadap Maya langsung dan menunjukkan kesungguhannya yang jantan dan kokoh seperti batu karang.

Sontak wajah Maya terangkat memandang kelekatan mata Masumi yang lembut untuknya.

“ Pak.....? “

“ Jangan lupa, aku takkan lelah menunggumu. Aku akan selalu menunggu cintamu, Maya...”

Masumi pun meninggalkan Maya yang syock tak percaya ketika pintu lift terbuka. Ia tahu Maya takkan mungkin menjawab pernyataannya barusan mengingat beberapa karyawan Daito sudah menunggu di muka pintu lift. Sosok kokoh tegapnya menjauh, punggung yang Maya rindukan itu terlihat semakin kecil dan mulai tertutup barisan para karyawan yang mulai memadati ruang lift berkapasitas 30 orang. Mata Maya tambah melebar—namum sakit—melihat Shiori Takamiya menggandeng Masumi menuju pintu keluar gedung Daito. Maya tak mampu menahan sakit di rongga dadanya yang semakin mendesak air matanya keluar dari peraduan. Tetes air mata pun mengalir lembut, memulas pipi putih pucatnya yang lelah. Pintu lift tertutup. Memeluk 12 orang penghuninya dan membawa Maya kembali kelantai ia tadi bertemu Masumi.  Dua tiga orang mendapati aliran air mata Maya Kitajima, namun mereka hanya mendapatkan jawaban “ Aku tidak apa- apa, mungkin karena tubuhku terlalu lelah karena akhir-akhir ini aku berlatih cukup keras menahan sakit dikakiku”.

                                             *

“ Masumi..... Kau mau pesan apa? “ kembali Shiori bertanya dengan halus.

“ Ah... ya? Maaf ? “

“ Aku sudah bertanya 4 kali dengan yang ini, Masumi.. Sedari tadi kau menatap serius daftar menu yang ada ditanganmu itu, sampai membuat waitress ini menunggumu.... “ Shiori melempar pandangannya ke arah waitress muda dan cantik berpotongan sopan dan rambut tergelung rapi lengkap dengan pena dan memo kecil berwarna coklat muda klasik. “ Kau mau pesan yang mana? “ tanya Shiori lagi dengan senyum dipaksakan.

“ Ah, maaf. Aku pesan yakiniku dan teh hijau saja. Tolong tehnya dibuat sekental mungkin, aku membutuhkannya. “ jawab Masumi ringan dan menutup daftar menunya.

“ Baik Tuan “ Sang waitress itupun mengambil menu dan pamit undur diri menuju dapur untuk segera disajikan oleh sang koki. Shiori meliriknya dengan anggun—namun mengandung intimidasi kuat—memberikan peringatan kepada waitress yang terlihat sangat nyata telah terhipnotis akan pesona kuat dan matang dari Masumi, sepertinya perawan baru keluar dari gua dan bertemu pertama kali dengan makhluk bernama Adam.

“ Kau hanya pesan itu saja? “ kembali menatap Masumi.

“ Aku menyukai resep leluhur kita “

“ Aku juga sangat menyukai masakan khas negri kita. Namun kurasa tak perlu memakan waktu lama untuk menyebut namanya. Adakah yang mengganggu pikiranmu, Masumi? “

Masumi menaikkan pupil matanya yang sedari tadi menatap rangkaian bunga segar yang mungil dan manis, beraroma segar serta warna putih-hijau muda ringan menengahi dirinya dan mantan tunangannya.

“ Masalah pekerjaan. Seperti biasanya. “ jawab Masumi singkat. Terlalu singkat.

Namun tidak menyurutkan niat Shiori untuk memperbaiki hubungan mereka yang kandas. Para wartawan belum mengendus akan retaknya hubungan mereka, terutama hal besarnya karena pihak ketiga yang sudah sejak lama bersemayam dihati Masumi jauh sebelum Shiori berpredikat menjadi tunangannya. Shiori rindu akan dirinya yang ditipu habis-habisan oleh semua keramahan dan kelembutan Masumi jauh sebelum ia mengaku sebagai Mawar Ungu. Dan saat inipun ia berbaik hati tetap mau memenuhi permintaan manja cucu Takamiya, untuk menemaninya makan siang.“ Sangat beratkah masalahnya, sampai-sampai kau harus berpikir keras untuk memilih apa yang akan kau makan? Aku mengkhawatirkan kesehatanmu, Masumi ...“

“ Terima kasih. Kau tidak perlu repot-repot memikirkan kesehatanku. Gym pribadiku selalu kuhadiri meski terkadang hanya setengah jam setiap harinya. Dokter pun selalu memberikan laporan yang sangat memuaskan akan hasil dari pemeriksaan rutinku setiap dua minggu sekali. Karena itu, sebaiknya kau pikirkan saja kesehatan dirimu sendiri yang labil itu, Shiori. “

Dingin sekali.

“ Ah... kau betul sekali... Aku seharusnya lebih memperhatikan kesehatanku ini, Masumi. Terima kasih... Aku harap aku bisa jauh lebih stabil dan mampu mengimbangimu.... “

“ Shiori....” pandang Masumi pilu. “ Sampai kapan...... “

Obrolan mereka terputus ketika sang waitress membawa seluruh pesanan mereka. Shori tahu betul kemana arah pembicaraan mereka—dan hubungan mereka.

“ Ah, itu Kitajima Maya dan Yuu Sakurakoji? “ bisik beberapa waitress yang bergosip membantu menghidangkan makanan dimeja belakang Shiori. “ Mereka pasangan yang kuidam-idamkan sejak pertunjukkan Jane dan Steward! Aku ingin sekali berfoto bersama dan mendapatkan tanda tangan mereka “

Masumi sontak melihat keluar kaca restoran disampingnya. Kaca restoran ini terkenal unik, karena dari arah luar kau mampu berkaca dan memperbaiki tata riasmu , dan tanpa kau sadari beberapa orang didalam restoran  memperhatikan segala tingkah lakumu dengan senyum dikulum. Dan tampaklah gadis pujaannya, digandeng mesra oleh Kingkongnya—pikir Masumi.

Para waitress wanita dan pria muda, berdecak kagum kearah pasangan itu. Berita akan kebaikan Maya pun sering jadi buah bibir mulai dari pemburu berita sampai ibu-ibu dipasar tradisional. Maya yang dikenal pemalu itu kini menjadi pujaan orang-orang, terutama remaja putri. Maya berani menjadi donatur tetap lembaga perlindungan anak , bahkan ada fans beratnya yang melamar jadi penata pakaiannya sehari-hari tanpa mau dibayar tinggi. Ai-chan—begitu ia biasa dipanggil Maya. Bukannya Maya pelit karena mau memperkerjakan orang yang hanya sering dibayar dengan gaji secukupnya, makan bersama, senyum tulus dan beberapa tanda tangan dikaus kesayangannya, tapi karena Ai ini begitu ngototnya ingin ada disamping Maya. Dan Maya tak ingin membebani orang rendah hati dan diri ini.  Diam-diam Maya mengirimkan bayaran yang seharusnya diterima Ai ke rekening orang tuanya yang bersedia bekerja sama dengan management Maya untuk memenuhi kebutuhan Ai bertarung sendiri di kota Tokyo.

Sakurakoji pun kini menjadi lebih makmur. Motor hitam yang biasa ia pakai untuk mengantar jemput Maya dulu kini tergeser oleh Subaru merah gelap limited edition. Ia tak perlu takut lagi akan perubahan cuaca dari panas terik dan berubah menjadi hujan angin. Namun pakaiannya tetap sederhana, sama seperti Maya, tapi tetap terlihat mahal dan chic. Padahal ini juga adalah buah kehebatan Ai menemukan tulisan sale berhuruf capslock besar dan menampilkan potongan harga yang juga besar—dan mereka sama sekali tidak gengsi dengan pakaian diskonan. Dan para remaja menyukainya!

“ Sudah kuduga, mereka sangat cocok dan saling menunjang. Bukan begitu, Masumi? “ Shiori memecah lamunan tajam Masumi.

 “ Aku sangat terharu dan senang mereka bisa bersama. Aku ikut senang sewaktu Maya menerima cinta Koji seminggu lalu. Kuakui aku sangat terkejut! Namun siapa sangka, ternyata Maya pun juga mencintainya... “
Masumi tersenyum dingin.

“ Dan itu sangat menguntungkan banyak pihak, begitu maksutmu, Shiori? “

Shiori terjegil kaget mendengar jawaban dingin Masumi.

“ Masumi..... “

“ Seperti yang kau lihat, Daito tak pernah sepi dari wartawan yang setiap hari seperti burung pemakan bangkai yang menunggu mangsanya sekarat dan bisa dilahap. Aku salah satu bangkai yang mereka tunggu. Tapi aku bersumpah mereka takkan mendapatkanku mati sekarat di pena mereka! Tidak akan!!! Beruntung Maya dan Koji memiliki posisi yang cukup menguntungkan karena padang bunga sedang mengitari mereka. Dan tak dipungkiri, saham Daito meroket cukup baik seminggu ini. Aku berharap ada tukang gosip yang punya waktu 24 jam sehari untuk membual tentang pernikahan mereka, atau bahkan ... membantu mereka menemui seorang wedding planner. “

“ Masumi! “ bisik peringatan  Shiori meluncur. “ Kau tahu apa yang barusan kau katakan? “

“ Tentu saja! Aku adalah seorang pengusaha di kerajaan bisnis Daito sekaligus seorang penggemar yang bernasib sial. “ jawab Masumi santai sambil menyesap perlahan teh hijaunya.

Ternyata rasanya sangat pahit sekali...

 Hati Masumi berbisik pilu.




 
blogger template by arcane palette