Tuesday, 13 November 2012

Background Music of Paragraph 10 by The Choir Boys



Tears In Heaven 



Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would you feel the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
'Cause I know I don't belong here in heaven

Would you hold my hand
If I saw you in heaven?
Would you help me stand
If I saw you in heaven?
I'll find my way through night and day
'Cause I know I just can't stay here in heaven

Time can bring you down, time can bend your knees
Time can break your heart, have you begging please, begging please

Beyond the door there's peace I'm sure
And I know there'll be no more tears in heaven

Would you know my name
If I saw you in heaven?
Would you feel the same
If I saw you in heaven?
I must be strong and carry on
Cause I know I don't belong here in heaven

Tears In Heaven

Paragraph 10

                                    Tears In Heaven



Bunyi lonceng kebahagiaan menggema di selutuh pelosok negeri, bahkan dunia. Hari ini, 25 Desember, Natal telah tiba! Banyak yang sedari pagi mengikuti misa di gereja. Ada juga yang meski tidak merayakannya, namun ikut larut dalam perayaan sukacita ini. 

Pelukan dan ciuman dari sanak saudara, orang tua, kekasih , teman atau sahabat mewarnai hari ini. Semua tersenyum. Semua merasakan kebahagiaan dan keceriaan.

Semua…. 

Kecuali sekumpulan orang berpakaian hitam di sebuah bukit yang cukup tersembunyi dari hiruk pikuk perayaan Natal, bahkan dari kebisingan klakson setiap harinya. Bukit itu terletak tak jauh dari kota Tokyo. Tingginya tidak terlalu mencolok, namun sangat strategis bila ingin melihat sebagian kota Tokyo yang padat luar biasa. 

Ada pagar besi tempa berwarna kayu tua yang menyapa para pengunjung untuk masuk lebih dalam. Para penjaga akan meminta ID Card dan menyodorkan buku tamu pengunjung bagi yang terlihat cukup asing. Jalanan dua jalur yang beralaskan paving cukup mengkontraskan komposisi warna kerasnya alas kendaraan tersebut dengan pepohonan pinus yang menghiasi tiap sisinya. Saljunya kebetulan tidak separah tahun lalu, jadi warna hijau segar masih dapat menyembul untuk memamerkan kesegarannya.

Setelah menembus sekitar 200 meter jalanan paving, pemandangan berikutnya jauh lebih terbuka. Lahan parkir tersedia cukup untuk memuat sekitar 100 mobil pengunjung. Ada sebuah kapel kecil berdiri dipusatnya. Mengadaptasi desain karya yang luar biasa dari Basillica St.Petrus, maka tak heran beberapa pengunjung yang pertama kali melihatnya langsung menganga dan berdecak kagum.

Bangunan itu memang tidak terlalu besar, namun juga tidak akan membuat orang berdesakan ketika menaiki beberapa anak tangga pipih menuju pintu utama. Langit-langitnya juga tinggi, disangga oleh kokohnya desain artistik bernuansa kental Roma-Vatikan. 

Tak jauh di belakang kapel, terhampar pemandangan hebat. Taman telah didesain secara mewah dan natural untuk memuat puluhan jenis bunga. Terlihat beberapa lampu sorot ditanah. Menjanjikan pemandangan eksotik pada malam hari, karena dapat melihat hamparan lampu neon kota Tokyo sekaligus milyaran bintang diangkasa. 

Pastur berambut pirang yang telah luntur oleh uban memulai acara. Para pengunjung berpakaian serba hitam menyambutnya. Yang wanita selalu sibuk menyeka air mata dan mengotori sapu tangannya oleh bercak mascara, dan yang pria sibuk menabahkan.

Para wartawan yang haus berita hanya dapat meliput dari luar. Mereka pun berjumlah sangat sedikit dan agak kesulitan untuk mendapatkan gambar sempurna. Hanya segelintir wartawan kelas atas yang mampu menembus barisan bodyguard setelah menunjukkan kartu ijin meliput yang sah dari Daito. 

Ayumi Himekawa, wanita anggun yang terlahir sempurna, membuka topeng keanggunan yang selalu dikenakan. Ia sempat terlihat menangis histeris dan berteriak tak tentu arah. Ia tak bisa menerima kenyataan dan berakhir dengan pelukan erat dari sang ibunda, Utako. 

Bu Mayuko duduk disisi yang tak jauh dari Ayumi, dan berhasil menenangkannya. Tak hanya Ayumi, seluruh sahabat Maya yang selalu membantu Maya untuk tetap berdiri tegak hingga ia meraih gelar Bidadari Merah juga berhasil dikendalikan oleh wanita berusia lanjut tersebut. 

Pak Kuronuma beserta istri serta seluruh assosiasi kesenian yang terlibat turut hadir. Mereka duduk dibarisan kedua dari depan dan tetap hening mendengarkan Pastur berkhotbah singkat. 

Sakurakoji. 

Pria yang telah memendam rasa cinta cukup lama dari Maya hanya bisa menunduk lesu dan duduk dibarisan kursi berukir kuno paling depan. Ia menggenggam kedua tangannya dengan erat sejak awal acara. Air matanya telah kering sejak berita tentang Maya berhasil bersarang di telinganya. 

Maya… 

Dipandanginya wanita muda yang masih berusia 20 tahunan itu. Wajahnya luar biasa cantik. Bulu matanya lentik. Polesan makeup sederhana menghiasi wajahnya yang pucat. Rambutnya tersisir rapi dan tegerai. Ia mengenakan kimono merah berhiaskan ranting pohon plum. Tertidur abadi. Peti mati berwarna broken white dan berukir mawar liar menyangga tubuh mungilnya yang tergeletak didalamnya. Semerbak mawar ungu bertaburan disekelilingnya, seakan tak henti melindunginya dari dunia luar. Ia tetap terpejam sejak ia dilarikan kedalam heli di Lembah Plum. 

Maya…. Kenapa???? 

Koji mengira ia tak akan meneteskan air matanya lagi. Ia merasa air matanya telah mengering. Namun kenyataan setetes air mata yang barusan jatuh ke pipinya berkata lain. 

Sang Pastur memelankan suaranya ketika ia melihat sosok gagah seorang pria yang baru memasuki pintu kapel. Cahaya pagi menerobos masuk mengikuti langkahnya yang mantap menuju Maya yang tertidur di dekat altar. Bias warna warni jendela gereja menanunginya saat ia mengenakan pakaian serba hitam, berwajah datar dan membawa sebuket penuh mawar ungu ditangannya. 

Seluruh pengunjung seakan berhenti bernafas, terutama Koji.

Mawar Ungu???




“ Re.. Rei… Apakah, Pak Masumi itu… “ bisik Mina sambil tak henti menatap Masumi.

“ A… A… Aku tak tahu! “ balas Rei yang juga tak henti memandang Masumi yang terus berjalan perlahan.

Masumi berhenti didepan peti mati Maya. Barisan lilin yang berjumlah puluhan mengitarinya, memberikan kesan syahdu dan lembut. Ia menatap Pastur berusia itu dan mengangguk hormat. Pastur pun membalas hormat Masumi dan mempersilahkan Masumi untuk lebih mendekat kearah kekasihnya berbaring.

Ia meletakkan buket mawar ungu itu di kaki Maya, karena hanya itulah ruang kosong di petinya, mengingat sudah banyak ia mengerahkan kuntum-kuntum bunga mawar ungu segar disekeliling Maya sekarang. Masumi kemudian sedikit membungkuk, menyetarakan posisi tubuhnya agar bisa lebih dekat dengan Maya.

Bisik-bisik ringan para pelayat mulai terdengar.

“ Apa yang dilakukan si dingin dan gila kerja itu didepan Bidadari Merah? “ bisik seorang sosialita cantik berkacamata gelap gradasi coklat.

“ Mungkin ia sangat terpukul dengan kepergian akrtis yang saat ini sangat berharga bagi Daito. Kau tahu sendiri, Pak Masumi takkan main-main soal harga bakat dari seorang aktris yang satu ini. Dia ini Bidadari Merah! Bahkan Kaisar pun memujanya! “ bisik seorang sosialita lain yang bersanggul anggun disampingnya.

“ Maya… kekasihku… Apa kau sedang tertidur sekarang? “

Para pelayat sontak menganga. Dan wartawan yang di ijinkan meliput oleh Daito sejenak lupa dengan kameranya. Bahkan ada yang menjatuhkan penanya.

 “ Kau… sangat lelap ya? Apa sekarang kau sudah merasakan kedamaian sekarang? Sampai kedatangan Mawar Ungu-mu pun tak kau sambut dengan mata yang terbuka? ” Masumi membelai sayang rambut ikal Maya. “ Sampai kapan kau akan tertidur secantik ini ? “

Koji hendak beranjak dari kursinya. Tidak terima. Namun Kuronuma menahannya dari belakang dan meminta pengertian Koji untuk memberikan waktu bagi Masumi. Yang sebenarnya juga, adalah rasa penasaran Kuronuma yang memuncak. Ada apa antara artist didikannya dengan orang yang membayar gajinya ini.

“ Maya… Aku mencintaimu… “

Suara ringkih Masumi cukup terdengar oleh para hadirin yang sebagian besar sudah berdiri dari kursinya mendengar pernyataan cinta Masumi Hayami kepada sang aktris.

“ Aku.. .Sangat mencintaimu… Maafkan aku yang terlambat mengatakannya, kekasihku… “

Dan Masumi mengecup lembut bibir Maya yang tak bergerak. Pelan dan penuh cinta.

“ Seharusnya kau menjadi istriku di altar ini…. Dan bukan …. Menjadi… Bidadari yang tak bernyawa seperti ini. “ sebulir air mata mulai menggenang di sudut mata Masumi yang tak lagi datar.

“ Seharusnya kita berucap janji setia disini, dan saling mendoakan kebahagiaan… “

Masumi mengeluarkan sekotak kecil beludru hitam dari saku jasnya, membuka dan mengambil cincin cantik bertahtakan berlian 6 karat berwarna ungu dan putih bening, yang berukir mawar ungu disekelilingnya.

     The Deep of Purple Rose

“ Kudengar… Kau sangat ingin memakai ini, kan…. Maya? “ Masumi perlahan menyematkan cincin cantik itu di jari manis Maya yang kaku. Agak kesulitan bagi Masumi untuk memakaikannya, namun usaha kerasnya membuahkan hasil. Cukup ada rongga diantara jemari Maya yang membuat Maya terlihat semakin cantik dengan bukti cinta Masumi di jarinya.

Beberapa wanita penggila perhiasan mewah langsung mengenalinya. Mereka saling berbisik dan ada yang langsung mengeluarkan selularnya, meski jelas-jelas ada larangan untuk mengaktifkannya.

“ Lihat… Kau sangat pantas memakai ini… Apakah… kau bisa melihatnya, Maya? “ dan buliran air mata mulai meninggalkan jejak dipipi Masumi. “ Apa kau bisa… merasakannya?? “

Para pelayat tersayat melihat pernyataan cinta Masumi Hayami yang fenomenal ini. Mereka mengetahui kalau Masumi sudah memperistri Shiori kemarin, namun sekarang sang istri tidak berada disisinya. Dan kenyataannya, sekarang ia malah memproklamirkan cintanya kepada dunia melalui siaran langsung yang diliput media.

Pastur berdeham ringan dan berbisik ke Masumi yang masih berusaha keras menahan tangisnya. Masumi mengangguk dan kembali mengecup bibir Maya, untuk yang terakhir kalinya.

“ Selamat jalan, Maya.. Tunggulah aku… “



Dan Masumi memundurkan langkahnya. Ia mengambil kursi tepat disebelah Koji yang masih menganga tak percaya dengan pemandangan barusan. Pastur melanjutkan kembali acara pemakaman dan membacakan doa untuk Maya.

“ Kau…. Mawar Ungu? Mawar Ungu-nya, Maya?? ” Koji berbisik, berharap Pastur tua itu tak mendengarkan rasa penasaran Koji yang membludak.

Masumi mengangguk tanpa melihat kearah Koji.

“ Jadi…. Selama ini..??? “

“ Aku sudah jatuh cinta padanya sejak melihatnya menjadi Beth, Sakurakoji. Dan kalau kau tak keberatan, aku lebih tertarik mendengan doa Pastur didepan dibandingan rasa penasaranmu yang tak tepat waktu ini. “

Koji terhenyak. Ia kembali ke posisi tegak dan sekarang ia ketambahan keringat dingin di dahinya.

Akhirnya penutupan doa telah terucap. Para pria bertubuh tegap mulai menutup peti mati Maya dan menguncinya di tiap sudut. Masumi sempat melihat kembali wajah kekasihnya tertidur dan tetap memakai cincin darinya. Dan itu adalah harapan terakhirnya sekarang.

Masumi pun meminta foto Maya yang sedang dibawa oleh Rei. Bingkai itu berukuran cukup besar dan memuat foto cantik Maya yang mengenakan kimono Bidadari Merah. Masumi berjalan perlahan didepan untuk memimpin barisan pelayat menuju pintu utama bangunan kapel. Alunan merdu dari 3 anak lelaki tampan berkulit putih mengalunkan lagu Tears In Heaven dengan syahdu, sementara beberapa wanita cantik suruhan Masumi menghamparkan mahkota-mahkota mawar ungu dari keranjangnya, meninggalkan jejak Maya dilantai.

Beberapa wanita yang sedari tadi masih ribut membicarakan cincin Maya, semakin aktif ketika mereka terbebas dari rutinitas kursi gereja. Sepanjang iring-iringan, mereka semakin yakin untuk menganggap Masumi telah sakit jiwa karena membiarkan cincin termahal itu turut serta dikuburkan bersama Bidadari Merah. Meski benar itu sebagai tanda cintanya, namun hal itu terlihat terlalu berlebihan. Terlalu absurb.

Pengantaran jenasah akhirnya berhenti di sebuah taman indah dan memiliki beberapa kanopi bening yang melindungi tanaman dibawahnya. Mereka harus melalui gerbang kecil berbahan besi tempa dan membentuk gambar malaikat-malaikat kecil yang sedang meniup terompet. Tumpukan salju telah disingkirkan dari jalur utama yang membelah taman, menuju sebuah bangunan cantik berpilar lima buah, yang menopang sebuah kubah berukir diatasnya. Pintunya bergaya kental gaya Eropa dan mempersilahkan semuanya menuju ruangan utama.

Lantainya terbuat dari marmer mahal berwarna putih, senada dengan peti mati Maya. Lampu gantung berkuncup tulip yang bersusun 3 baris menggantung ditengah. Dibawahnya terlihat kerumunan bunga, yang tak lain hanyalah kumpulan mawar yang berwarna ungu. Hanya mawar ungu. Dan barisan lilin kembali terlihat disana, memantulkan cahaya orange ke dinding ruangan yang bergambar para malaikat.

“ Ma.. Maya akan beristirahat di.. disini, Rei?? “ tanya Taiko dengan perasaan takjub dan masih berbisik. “ Ini bahkan lebih mewah dan luas dibandingkan apartemenku! “

Rei pun menjawab dengan bisikan yang lebih tipis. “ Masumi Hayami, ah.. Mawar Ungu maksudku… telah menyiapkan ini semua. Aku takkan seheran itu mengingat beliau itu orang yang terlalu kaya harta. Yang lebih mengagetkanku, bagaimana bisa mereka berdua saling jatuh cinta! “

“ Aku pun tidak percaya dengan apa yang tadi kulihat. Tadi kupikir aku sendiri sedang bermimpi, karena pandanganku terlalu buram oleh air mata, tapi… ternyata itu bukan mimpi ya. Mengingat kau juga melihatnya, Rei… “

Rei mengangguk. “ Ini terlalu tragis untuk menjadi nyata. Sepertinya obsesi Maya menjadi Bidadari Merah terlalu besar, sampai ia benar-benar menerapkannya pada hidupnya sendiri… seandainya aku tahu… kalau… ia segila itu.. aku…”

Rei kembali tergugu. Ia masih belum bisa menerima sepenuhnya kepergian Maya. Mau tak mau, Taiko pun ikut menangis dan terlalu sibuk mencari tissue. 

Pembacaan doa di pimpin kembali oleh Pastur, sebelum peti tersebut dimasukkan kedalam liang kubur. 

Isak tangis kembali pecah mana kala peti tersebut perlahan diturunkan. Beberapa teman kembali menaburkan bunga dan Mina ternyata tidak bisa menahan kesadarannya. Ia terjatuh dan ditopang oleh Rei dan Taiko, yang juga berusaha mati-matian agar tak senasib dengannya.

Akhirnya pemakaman telah usai. Para pelayat yang sibuk menghentikan air matanya semakin berkurang satu per satu dan menuju tempat parkiran. Namun perhatian para peliput berita tak henti menyorot satu sosok yang cukup menonjol di upacara pemakaman paling fenomenal ini. Meski kental bernuansa Jepang, jenasah Maya tidak dikremasi. Daito—Masumi Hayami, bersikeras kalau Maya akan dikebumikan.

Pangeran muda Daito itu tetap berdiri disana. Tak berkata apapun. Dan tak berekspresi apapun. Ia tetap memegang kuat foto Maya, memeluknya. Dan tatapannya tak henti menyorot gundukan tanah baru yang di tutupi sempurna oleh sekumpulan bunga segar dari para pelayat.

Tak ada seorang pun yang mampu membantu Masumi beranjak dari tempat itu. Hijiri hanya mampu mengamati dari kejauhan bagaimana tuannya berduka. Ia pun terluka. Segala kinerja efektifnya selama ini ternyata tak mampu melindungi Bidadari Merah yang sudah dikomando Masumi sejak ia menjadi perantara mawar ungu. BahkanMizuki pun tak berani. Ia hanya menemani Masumi disisinya dan masih berbekal saputangan untuk menyeka jatuhnya air mata dari balik kacamata hitamnya.

Dan kamera wartawan masih meliputnya.

Hal ini tak luput dari mataShiori yang bengkak dan sembab oleh karena air mata yang tak henti mengalir. Ia tak mampu mengikuti upacara pemakaman Maya. Tentu saja tidak! Bagaimana bisa ia melihat wanita yang pernah diusir dari sisi Masumi, sementara sekarang ia sedang dipeluk oleh Richard di kamar pribadinya?

“ Tenangkan dirimu, Shiori. Kalau kau begini terus, kau hanya semakin melemahkan tubuhmu. Kau membuat semua orang khawatir. Kakekmu, ayahmu, ibumu, terutama aku… “ Ucap Richard memohon dan tak henti membelai rambut legam Shiori.

“ Bagaimana bisa aku tenang!!! “ teriak Shiori frustasi. “ Maya meninggal karena aku! AKU!!!! APA KAU TAK LIHAT BAGAIMANA PUCATNYA WAJAH MASUMI?!? DAN APA KATA ORANG NANTI KARENA MELIHATNYA MENCIUM MAYA DI SIARAN LANGSUNG INI???“ tunjuk Shiori kasar ke televise datar berukuran 42 inci tersebut.

Richard semakin mempererat pelukannya.

“ Aku takkan sanggup bertemu lagi dengan Masumi! Aku terlaluberdosa.. akuu… “ dan ucapan Shiori semakin terbata-bata karena tangisnya kembali tumpah.

Sesaat suasana kembali menyayat. Shiori seperti orang sakit jiwa yang tak henti mengucapkan kata maaf kepada Maya dan Masumi secara bergantian. Air mata terus berjatuhan dan membasahi kemeja Richard.

“ Shiori…. Kau adalah wanita special bagiku. Dimataku… Kau adalah wanita terkuat yang pernah kutemui. “

“ …. Richard..? “

“ Aku tahu, banyak yang meremehkanmu. Banyak yang menganggap sepele akan daya tahan tubuhmu. Namun tidak bagiku. Kau telah tumbuh menjadi wanita hebat dimataku. Dan potensi itu tetap ada di nuranimu. “
Richard menangkup kedua pipi Shiori yang basah. Ia menghapus jejak air mata dan mengembangkan senyuman.

“ Apa maksudmu…? Kemana arah pembicaraan ini, Richard? “

Kedua mata Richar menajam. “ Berjuanglah untuk kita semua, Shiori. Ini saatnya bagimu untuk menunjukkan kepada mereka yang meremehkanmu, bahwa kau adalah wanita terhebat yang ada didunia ini. Kita memang telah kehilangan sahabat terbaik kita, Maya Kitajima. Dan menorehkan luka yang teramat dalam di jiwa Masumi Hayami. Namun kita bukanlah si kalah. Kita masih mampu memperbaiki ini semua. Cintaku akan selalu menyertaimu. Kau paham maksudku? “

Mata Shiori berbinar. Ruam keputus asa-annya beranjak menghilang, terganti oleh cahaya semangat.

“ Ri.. Richard… “

“ Aku percaya padamu. “

Shiori mengalungkan tangannya keleher Richard danmengecup bibirnya dengan lembut.

“ Kurasa memang kita harus mulai berbuat sesuatu untuk Masumi. Ia tak pantasterus-terusan berduka seperti ini. Karena itu, Richard… Kumohon tetaplah disisiku, dan bantu aku membayar dosa ini dari jiwaku. “
Richard mengangguk dan tersenyum. Ia kembali memeluk Shiori ditubuhnya dan berharap semua keajaiban segera menghampiri mereka.

Segera…

 
blogger template by arcane palette