*
Jalanan
kota Tokyo tetap seperti biasanya. Sama sekali tak ada pengurangan populasi
pejalan kaki yang sibuk hilir mudik merapikan toko, menggandeng tangan kekasih
yang tengah asyik menkmati puffy
gulali ditangannya, ataupun baru pulang bekerja dari kantornya. Memang tidak
banyak, namun beberapa pria terlihat keluar dari pub dan mabuk dengan wajah seperti badut karnaval yang gagal. Dua
bulan lagi Natal, namun beberapa gerai toko sudah mulai memasang pernak-pernik
akan Topi Santa, kaus kaki warna warni, lampion-lampion kecil yang lucu serta
pohon Natal yang siap ditebarkan bermacam hiasan disisinya.
Lampu-lampu
kota berpijar kuat, mengeluarkan semua daya yang dipasoknya seakan tak mau
kalah akan gelapnya malam di Tokyo, yang kebetulan awan mendung cukup merusak
suasana romantic untuk melihat bintang jatuh.
“ Ah… Bukankah
itu Kitajima Maya, pemeran Crimson Goddes?
“ seorang gadis berseru keras melihat idolanya duduk di kursi tunggu kereta
bawah tanah.
“ Eeeeh….
Gadis itu yang jadi Crimson Goddes?????
Kau yakin kalau itu dia????? “ seru gadis yang lain , tak kalah histeris dari
gadis sebelumnya.
Hufft… Benar juga kata Nona Mizuki ,
sepertinya kacamata hitam lebar ini tak mampu menyembunyikan identitasku….
“ Mmmh…
Maap Nona.. Apa benar anda yang memerankan Crimson
Goddes atau Bidadari Merah di gedung Daito kemarin?” ucap gadis pertama
hati-hati.
“ Betul,
Saya Maya Kitajima” balas menyapa dua gadis dengan senyum terbaiknya.
“
Kyaaaaahhhh!!!!!!! Ki.. Kiiii…. Kitajima Maya asliiii?!??!?!?!?!!!! “ ucap gadis
kedua lebih histeris“
“ I..
Iya.. Saya Maya Kitajima…”
“ Nona
Kitajimaaa…. Boleh saya minta tanda tangan dan foto bersama? Kami penggemar
berat anda sejak uji coba pementasan Bidadari Merah! “ ucap keduanya hampir bersamaan.
“ Tentu! “
Maya langsung berdiri menandatangani T-Shirt
keduanya serta berfoto bersama.
Bersalaman
dengan Kitajima Maya mungkin serasa menyentuh Nirwana, melihat kedua gadis itu
sampai menangis terharu dapat bertemu Maya, yang sekarang telah berpredikat
sebagai aktris dan selebritis skala internasional. Kedua pipi Maya pun tak
luput dari bibir- bibir mungil berlipgloss pink
sparkling setelah ijin dari Maya dikantongi mereka.
“ Sampai
jumpa lagi Miss Kitajima, kami selalu menunggu penampilan hebatmu di pentas dan
film, bahkan di Selebritis gossip sekalipun, heheheee…..” pamit mereka sumringah.
“ Iya,
terima kasih banyak untuk dukungannya ya… “ senyum tipis mengulas diwajahnya.
Pasti Sakura Koji
yang mereka maksud begitu nama sebuah majalah, Selebritiz~Gossip terlontar
secara spontan barusan.
Maya
menghela nafas. Akhir-akhir ini gossip akan kedekatan mereka makin parah, dalam
artian Maya. Entah darimana para pemburu berita yang menyandang gelar Paparazi itu mendapatkan sumber cerita yang akhirnya
mereka simpulkan sendiri—kemudian dibesar-besarkan menurut pemikiran dan naluri
otak mereka bekerja. Bahkan foto Maya berpapasan dengan Sakurakoji ditoilet pun
menjadi berita heboh akhir- akhir ini. Maya sampai mengadakan konfrensi pers—menunjukkan
rekaman CCTV, bahwa mereka tak berbuat sesuai headline konyol yang mereka cetak
besar-besar dihalaman muka.
Bidadari Merah dan Isshin bermesraan di
toilet umum
Tujuanku menjadi
seorang aktris tak lain hanya ingin mengeluarkan segala hasrat yang kumiliki, betapa
aku sangat mencintai dunia seni peran ini dan ingin memerankan peran sebanyak
mungkin selama aku hidup. Bukannya tak suka akan kehidupannya yang mapan
sekarang, namun resiko kemapanannya yakni privasinya, benar-benar terkikis
sekarang ini. Seperti tak ada ruang
dimana Maya dapat merebahkan diri dan menggunakan pakaian tidur lace-nya tanpa khawatir akan lensa
kamera Paparazi.
“ Kyaaaaaaaahhh!!!!!!!!!
Itu Maya Kitajima!!! “ teriak segerombolan remaja tanggung sambil menunjuk
kearah Maya dengan ribuan watt akan cerahnya wajah mereka.
“ Miss
Kitajimaaaa!!!!! “
“ Maya-
Chaaaannnn!!!!!!!” Seru mereka bersamaan, menggema didinding-dinding ruang
tunggu penumpang.
Setelah itu,
gerombolan lain pun berdatangan. Remaja tanggung tetap memayoritasi kerumunan
manusia berusia ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan eksekutif muda. Seperti tak ada
habisnya tangan Maya menyalami mereka satu persatu, menandatangani buku, kertas
kerja dan pakaian mereka. Tidak lupa foto bersama yang menghabiskan waktu Maya
sekitan 20 menit—itupun karena pihak keamanan stasiun bawah tanah membubarkan
sekumpulan massa yang menghambat arus lalu lintas penumpang.
Maya pun
menerima sebotol minuman mineral dari pihak-pihak keamanan. Lucunya, merekapun
meminta tanda tangan dan foto bersama juga, dengan alasan istri dan anak-anak
mereka sudah lama ingin memiliki kenang-kenangan daari Bidadari Merah.
Sudah pukul
09.10 malam. Rei sedang keluar kota beberapa minggu mulai tiga hari lalu untuk take shot di daerah pedesaan. Sutradaranya
menginginkan aura kabut ilalang dan padi asli. Sudah lama sang sutradara yang
konon hampir serupa perfeksionisnya dengan Pak Kuronuma, terpesona dengan desa
tersebut dan bercita-cita untuk memamerkannya ke penjuru dunia.
Maya kembali
melangkahkan kakinya untuk keluar dari stasiun. Ia berubah pikiran. Stasiun terlalu
ramai dan rumah terlalu sepi. Maya tetap berjalan dengan perasaan gamang
sembari menenteng botol minuman ditangan kirinya.
Dirumah pun aku hanya
sendirian. Apa yang harus kulakukan kalau pulangpun aku sedang enggan? Aku sedang
tak ingin melihat TV kabel ataupun membaca majalah lagi.
Seketika perasaaan
kesepian menusuk dadanya. Perih dan menyesakkan.
Pak Masumi……
Beruntung
kacamata Maya cukup besar untuk menutupi betapa merahnya mata Maya. Selepas pertemuannya
dengan Shiori tadi, Maya tak henti terisak. Apabila tadi para penggemarnya tak
menemukan air mata Maya, itu karena kehebatan dan kelihaian aktingnya.
Pak Masumi…. Kenapa aku
harus jatuh cinta padamu sedemikian dalam? Sampai aku mengabaikan fakta bahwa kau sudah memiliki tunangan yang sangat
cantik dan berkelas… Dibandingkan aku yang kecil dan pendek ini…
Buliran air
mata kembali menggelinding ringan di pipi putih Maya. Dengan cepat Maya melepas
kacamatanya yang basah, mengeringkannya dan memakainya kembali—setelah Maya
mengusap mata sembabnya dengan lengan bajunya. Maya tahu ia agak diperhatikan
orang-orang sekitar, karena itu ia pun mengeluarkan topi rajutan dari tas
tangannya dan memakainya, berharap daya ingat mereka akan Maya Kitajima bisa berkurang
hingga 100 persen. Saat ini ia sedang enggan untuk dikenali siapapun, terutama
karena sekarang keadaan hati Maya sangat gundah.
Buatlah aku percaya
bahwa Bidadari Merah itu benar-benar nyata, Maya….
“Ugh….” keluh
Maya sambil menekan kuat dadanya yang sesak.
Pak Masumi… Bagaimana ini? Makin kuat aku berusaha
melupakanmu, makin kuat otak dan hatiku mengingatmu… Aku takut akan keputusan
yang kulakukan barusan, Pak Masumi… Aku takut kehilanganmu… Aku tak ingin
mengakhiri perasaanku, tapi…….
Terbayang
kembali dimana tadi Shiori bersimpuh didepannya, memohon kepada Maya untuk
melepaskan tunangannya.
Nona Shiori… Jadi beginikah perasaanmu tadi sebelum bertemu
denganku? Perasaan dimana kau benar-benar sangat takut akan kehilangan orang
yang kau anggap belahan jiwamu?
Tanpa disadari
otaknya, tubuh Maya telah mengarah ke sebuah jembatan yang besar dan gagah.
Jembatan Asahi….?
Seketika mata
Maya berbinar, memandang area tengah jembatan tersebut dari kejauhan. Dengan cepat
ia berlari menaiki tangganya dan meraih area tengah.
Ya, disinilah dulu
Pak Masumi—Mawar Unguku membimbingku. Ia menyadarkanku akan sesuatu yang
seharusnya kuhayati sejak aku menginginkan peran Bidadari Merah. Ia menginginkan
aku membuatnya percaya akan keberadaan Bidadari Merah di atas panggung.
Pipi Maya
merona mengingat pertunjukan perdana Bidadari Merahnya. Tatanan panggung yang
megah , pencahayaan serta paduan suara dan orkestranya menambah sensasi mistis
yang diciptakan Maya. Sekilas Maya melirik kearah penonton VVIP, arah dimana
Masumi duduk. Maya mengangkap basah mata Masumi yang tengah terhipnotis akan
permainan Bidadarinya. Ia berharap Mawar Ungunya mengerti akan perasaan
cintanya yang meluap-luap lewat bahasa tubuhnya. Selepas pertunjukkannya pun,
seperti biasa, Maya dikejutkan dengan karangan bunga mawar terbesar yang pernah
dilihatnya. Jauh melebihi dari karangan bunga mawar ungu ketika dahulu ia akan
memerankan Hellen Keller.
Bagaimana ini Pak
Masumi? Aku sudah berjanji pada Nona Shiori akan menjauhimu, namun aku sudah
sangat merindukanmu... batin Maya terus menerus
mengulang kata-kata yang sama. Bimbang…
Maya mempererat
pegangannya dipinggir jembatan dan melandaikan sedikit tubuhnya. Dagunya di
tumpukan diatas lengannya yang terlipat. Sepertinya ia baru menyadari, kalau
ternyata seharian ini dia hanya sedikit makan. Dari pagi sampai sore ia
habiskan ditempat latihan. Memang ia pulang lebih awal dari biasanya, namun
pertemuan dengan Shiori membuat tubuhnya terasa berlipat kali lebih lelah
daripada latihan seharian. Matanya menerawang jauh kebawah, melihat lampu-lampu
mobil seakan mengiris jalanan dengan warna kuning pucat keputihan dan merah
menyala. Ia sama sekali tak menyadari kalau sedari awal menaiki anak tangga,
langit sudah mulai meneteskan air. Topi rajutannya menyerap titik-titik air
yang beranjak semakin intens. Entah mungkin memang “kelebihan” Maya adalah -- ketika
sedang melamun – ia mampu melupakan situasi dan kondisi sekitarnya. Bahkan mungkin
apabila ada komet besar jatuh dibelakangnya saat ini pun ia bias tak menyadarinya
.
Pak Masumi… Tadi aku meminta Nona Shiori untuk
memberikanku satu kesempatan bersamamu. Jujur saja, aku sendiri sebenarnya
tidak tahu kesempatan seperti apa yang kuajukan. Aku hanya spontan
mengucapkannya…
“
Kira-kira… kesempatan seperti apa yang mampu kubagi bersama Pak Masumi, ya? “
ucap Maya lemah.
“
Menurutmu… Hal apa yang bisa kita bagi bersama, Maya? “
Maya melonjak
kaget mendengar suara maskulin dibelakangnya. Ternyata suara Masumi sudah
melebihi komet jatuh untuk mengembalikan penuh kesadaran Maya.
“ Pak..
Pak Masumi…? Se.. Sedang apa disini malam-malam? “ ucap Maya gugup. Sekaligus malu,
karena Masumi menangkapnya bulat-bulat bahwa ia sedang memikirkannya.
“ Kau tak
lihat? Aku sedang memayungimu. Sudah berapa lama kau ada dijembatan ini? Untung
saja aku menemukanmu sekarang, kalau terlambat, bisa-bisa sekarang kau sudah basah
kuyup karena terlalu asyik melamun. “
… Untung saja aku
menemukanmu sekarang…..?
“ Pak Masumi… apa
kebetulan saja Bapak lewat sini? Kok bisa... menemukanku… disini…?”
“ Iya… Aku memang mencarimu, Maya…. “
Deg!
Mencariku? Kenapa??
Maya menghela
nafas perlahan, berusaha menurunkan kegugupannya.
“ Ke.. Kenapa
mencariku, Pak Masumi. Apa ada sesuatu yang sangat penting sampai malam- malam
begini anda menemuiku? “
“ Aku hanya
mencarimu saja, memangnya kenapa? “
“Hah? Pak Masumi, berhentilah mengolok-olok saya.
Saya tahu saya ini bodoh, tapi saya tak sebodoh itu untuk anda kelabuhi. Katakan
saja, adakah yang bisa kubantu?”
Maya ternyata
tidak pandai berakting bila didepan atasan sekaligus pengagum rahasianya. Masumi
dapat membacanya jelas, semua kegugupan Maya akan kehadirannya yang tiba-tiba.
Maya lebih sering melempar pandangan kearah lampu-lampu dari mobil di level
bawah tempat mereka berpijak ketimbang kontak mata langsung dengan Masumi.
“ Baiklah..
Ada hal penting yang bisa kaulakukan
untukku..” ucap Masumi memancing.
“ A..
Apa?”
“
Pulanglah dan ganti bajumu yang lembab itu. Kau akan sakit kalau kau terus-terusan
melamun dan kehujanan pada jam segini. Ini adalah waktunya istirahat, bukannya melihat
lampu jalanan, Maya…”
Deg!
Pak Masumi... Memanggil nama depanku saja??
Padahal hanya
ucapan namanya saja dipanggil, tapi entah kenapa, hati Maya jadi sesak… Sesak
karena senang karena ia sudah dianggap dekat dengan Masumi dan sedih mengingat
akan janjinya pada Shiori.
“ Apa
yang kau lakukan malam-malam begini disini, Maya? Apakah latihannya terlalu
berat sampai- sampai kau tidak langsung pulang dan sekarang terdampar
dijembatan penyebrangan yang berlawanan arah dengan apartementmu? “ Masumi
mendekati Maya, berdiri tepat disampingnya serta merapatkan tubuhnya.
“ A.. Aku….
Aku ….” Maya kembali gugup. Mencari-cari alasan terbaiknya meski dia tahu hal
itu sepertinya tak cukup untuk membodohi seorang Masumi Hayami.
“ Aku
sedang berusaha memahami Bidadari Merah… Ya! Aku
sedang berusaha lebih mengenal
pribadinya, sehingga di pertunjukan berikutnya aku mampu menampilkan yang jauh
lebih baik dan berkualitas lagi ” ucap Maya yakin. Atau berusaha meyakininya.
Masumi
menaikkan satu alisnya. “ Memahami Bidadari Merah? Yang benar saja, Maya… Kau
sudah membawa Bidadari Merah enam kali dalam sebulan ini di Daito. Dan kau
harus percaya kalau kau mampu membius siapapun yang melihat pertunjukkanmu. Semua
pengamat seni telah mempelajarinya dan kau menang mutlak untuk mendapatkan
pujian mereka. Atau… Apakah ada hal yang mungkin belum kau keluarkan, Maya? “
“ A… Itu…
Biar bagaimanapun … Aku harus lebih berusaha lagi membuat percaya semua orang
yang melihat permainanku, bahwa aku ini benar-benar Bidadari Merah. Aku…”
“
Termasuk aku? “ potong Masumi cepat.
“
Termasuk…. Apa?!!??!? ” Maya
menengadahkan kepalanya, mencari mata Masumi yang terlihat jahil padanya.
“
Termasuk aku. Kau lupa ya, orang yang menarikmu hujan-hujanan ke jembatan ini
dan menyuruhmu berakting adalah aku, Masumi Hayami. Jangan bilang kau melupakan usahaku itu, Maya….”
Senyum Masumi mengembang sembari menepuk- nepuk dada bidangnya.
“ I..Ya…
Aku pasti tidak akan melupakan saat- saat itu, Pak
Masumi..” ucap Maya merona.
Memegang ujung bibirnya dengan kedua tangan yang mengatup dan ujung sepatunya
yang menancap jembatan untuk menutupi kegugupannya. Sekali lagi hal itu tak
luput dari pengamatan Masumi.
“ Kenapa
kau gugup begitu, Maya.. apakah bersamaku kau merasa tidak nyaman?”
“ Bu... Bukan begitu, Pak Masumi! Anda jangan salah sangka kepadaku!!! “ Maya spontan membela posisi Masumi, tanpa sadar.
Masumi tersenyum. Dia senang dan merasa terharu akan pernyataan Maya barusan. Masumi melandaikan wajahnya sejajar dengan Maya. Dia dapat melihat wajah Maya yang tegas.
“ Berarti.. Kau suka bila bersamaku, Maya? “
“ Ap..???” Maya makin salah tingkah. wajah tegas Maya yang barusan terpasang langsung buyar seketika, tergantikan oleh wajah asli yang memerah seperti kepiting rebus.
“ Hem????” Masumi kembali menebar umpan.
“ A… Aku merasa nyaman kok… Bila bersama Pak Masumi… “ ucap Maya terbata bata.
“ Baiklan kalau begitu, ayo ikut aku! “ Masumi melingkarkan lengan panjangnya dibahu mungil Maya tanpa menunggu persetujuan.
“ Eehhh.. Pak…. Ini di tempat umum.. Bagaimana kalau….”
“ Kalau para wartawan atau paparazzi memergokimu bila bersamaku? Maya… Itu akan jadi berita yang jauh lebih baik daripada artikel murahan yang mengatakan kalau Bidadari Merah bermesraan di toilet! “ tegas Masumi.
Mata Maya membulat kaget. Satu-satunya orang yang tak ingin dia tahu akan headline majalah tersebut adalah Masumi Hayami, Mawar Ungunya. Dia benar-benar malu akan artikel tersebut, meski dia tahu itu hanya ulah para kuli tinta untuk mendapatkan keuntungan dan kehidupan dari kehidupan orang lain. Tetapi sebenarnya bukan keadaan dimana Masumi mengetahui artikel murahan tersebut yang membuat Maya kaget bukan main, namun sorot mata yang dingin dan menusuk yang terpampang jelas disamping kirinya.
Pak Masumi…. Apakah kau cemburu pada lawan mainku? Batin Maya membuncah sekaligus khawatir akan persepsi yang dirancangnya sendiri.
“ Pak
Masumi… sudah cukup, Pak. Jangan mempermainkanku lagi! Tolong singkirkan
tanganmu dari bahuku…”
“ Apakah
tangan Koji jauh lebih baik dari tanganku, Maya? “ Masumi menghentikan
langkahnya dan merapatkan bahu Maya lebih erat ke dada bidangnya. Ugh!
Lagi-lagi… kenapa aku bertingkah bodoh seperti anak ingusan yang baru duduk di
sekolah dasar…..?
“ Apa
maksud Pak Masumi? Kenapa anda mengungkit-ungkit soal Koji yang……”
“
Ditoilet….. Kenapa dia memelukmu, Maya?
Dia itu bodoh atau tolol? Atau mungkin ber-IQ idiot sehingga dengan
sangat cerobohnya dia membuat skandal murahan yang malah menjatuhkan nama
baikmu di masyarakat? Bagaimana mungkin paparazzi menangkap basah adegan konyol
itu? Sekarang jelaskan semua padaku maka aku akan melepaskan pelukanku ini. “
Maya
mulai merasa ngeri akan kecemburuan Masumi. Ya… Pria jangkung ini jelas-jelas menyatakan
kecemburuannya. Dia tidak suka kalau Maya --- yang dianggap gadisnya, disentuh
oleh pria lain selain dirinya. Apalagi pria itu juga mencintai Maya.
“ Saat
itu aku terpeleset di depan toilet, Pak Masumi…
Kebetulan Koji pun akan ketoilet pria di sebelahku, dan dia reflek
menangkapku. Itu saja…. “ Maya menjelaskan dengan serius dan menegadahkan
kepalanya tinggi-tinggi.
Apa Pak
Masumi semakin tinggi? Kenapa leherku
seperti serasa kutekukkan paksa begini? Atau sepatu boot- ZARA-ku yang kurang
memadai tingginya? Sambil menatap
Masumi dalam-dalam, otaknya pun sedang sibuk menghitung berapa banyak biaya
yang harus ia keluarkan untuk membeli sepatu baru. Setidaknya sepatu itu mampu
mengurangi sakit lehernya bila ia harus berhadapan dengan orang yang jauh lebih
tinggi darinya. Atau itu hanya alibi konyolnya untuk menutupi fakta bahwa
dirinya tidak bertambah tinggi 1 centi pun sejak usianya 19 tahun.
“ Untuk
ukuran orang yang baru mendapat kecelakaan dan mengalami trauma dikakinya,
refleknya masih bagus, atau teramat bagus untuk menahan tubuh olengmu. Dan foto yang kulihat, Koji tidak hanya memelukmu,
atau menangkap tubuhmu seperti yang barusan kau jelaskan. Ia jelas-jelas akan
menciummu! “ Masumi sedikit menaikkan nada suaranya.
Ia
benar-benar membencinya. Masih teringat jelas bagaimana Mizuki berupaya menyembunyikan
surat kabar itu dari meja Masumi kemarin. Aktingnya sama buruknya dengan pemain
cabaret karbitan. Beruntung Mizuki memiliki intelegensi tinggi, sehingga ia
masih dipandang berguna bagi Masumi untuk mengerjakan semua perintahnya. Dan surat kabar
malang itu langsung porak poranda ketika Mizuki telah meninggalkan kantor
pribadi sang direktur.
Maya
menundukkan kepalanya “ Koji sudah jauh lebih sehat, Pak Masumi. Namun ia akan
tetap berakting seperti Isshin pada awalnya, karena memang itulah Isshin
seorang Koji, salah satu topeng miliknya “
Sekitar 5
detik Maya diam. Ia mengumpulkan semua keberanian dan menghambarkan semua
kegugupannya perlahan, sembari melipat-lipat ujung lengan bajunya, Maya berkata
malu-malu.
“Dan..
Koji… … Memang rasanya waktu itu ia akan menciumku… Tapi aku langsung mendorongnya dan aku segera
berlari keruang latihan lagi! Jangan menuduhku macam-macam Pak Masumi.. Meski
usiaku sudah 20 tahun, aku belum pernah dicium siapapun kecuali ibuku dan Bu
Utako Himekawa! “ seru Maya lantang dan kembali menaikkan kepalanya.
Mata
Masumi melebar dan kedua alisnya spontan naik bersamaan.
Polos sekali.
“
Hahahahhaaa… Maya! Kau tak perlu menjelaskan sedetail itu. Kalau kau bilang kau
tidak mencium atau dicium, aku pasti akan percaya padamu seratus persen! “
Masumi langsung tergelak riang sambil memegangi perutnya. “ Aku sudah
melepaskan tanganku, karena ternyata perutku lebih membutuhkan tanganku, Maya…
Hahahhahahaaa!!!!!” Masumi merasa sangat terhibur dan merona. Ia senang, paling
tidak sekarang dia tahu, baru dialah pria yang berhasil mengambil keperawanan
bibir Maya.
Entah
kenapa Maya agak panas mendengarnya.“ Itu sama sekali tidak lucu, Pak Masumi!
Aku memang bilang aku tidak pernah dicium, bukan berarti aku belum pernah
mencium seorang pria! “ Maya melipat
kedua tangan didepan dadanya dan menengadahkan kepalanya lebih tinggi lagi.
Bahkan ia hampir berjinjit guna menunjukkan ke”tinggian” egonya sebagai wanita
matang.
“
Hah?!?!?!? Kau pernah mencium seorang pria?????? “
“ Tentu
saja pernah! Aku tidak sepolos yang orang-orang bilang tentangku. Aku…”
“ Siapa?
“ Masumi memotong cepat cerocosan Maya.
“ I… Itu
rahasia!!!! “ Maya merona hebat. Tak mungkin bagi Maya mengatakan siapa pria yang ia curi
bibirnya. Karena orang itu tak lain adalah pria jangkung dihadapannya. Ia
terlalu malu dan terlalu bodoh untuk memulai pembicaraan soal cium-ciuman ini.
“ Siapa
pria itu, Maya? “ mata Masumi meruncing dan semakin menusuk bola mata serta
jantung Maya.
“ Su…
Suatu saat pasti akan ku beritahu! Katanya Pak Masumi mau mengantarkanku pulang
kan? Ayo, aku sudah sangat kedinginan disini “ Pengalihan Maya terjadi
sedemikian cepat. Maya mengambil alih payung yang dipakai Masumi dan berjalan
mendahului pria itu.
“ Ayo,
Pak Masumi… Aku tak mau kita terlalu basah sesampainya di apartement “ ajak
Maya sembari sedikit berteriak.
Masumi
dengan malas melangkahkan kakinya dan mencoba menyusul Maya yang berjalan
menuju trotoar bawah.
“ Ng..
Pak Masumi… mobilnya dimana yha? “ Tanya Maya sambil cengengesan.
“ Hhh…. Lain
kali kau tanya dulu baru bertindak, Maya.. Kenapa kau tidak berubah juga dari
dulu? Kita jelas-jelas melawan arah. Kau seharusnya tau dari arah mana tadi aku mendatangimu“ Masumi kembali mengambil
alih payung blue deep besarnya dari
tangan mungil Maya dan merangkul Maya untuk kembali menaiki tangga jembatan penyebrangan
Asahi.
“ Pak
Masumi… Maaf… Bisakah anda melepaskan… “
“ Sampai
di mobil, baru akan kulepaskan “ jawab Masumi dingin.
Maya tak
berani menolaknya, atau memang
sebenarnya sejak peristiwa di kuil Lembah Plum , Maya sudah mencandu akan
kehangatan tubuh Masumi. Ia tak bisa dan tak mau kehilangan moment yang
menurutnya bisa terukir di buku rekor dunia. Sepanjang jalan yang hanya 10
menit itu keduanya hanya terdiam. Menikmati pikiran dan perasaannya
sendiri-sendiri, serta gerimis ringan yang mengguyur kota Tokyo.
Akhirnya Maya
masuk kedalam mobil hitam yang terparkir agak tersembunyi di sudut. Beruntung sedari
tadi Maya menggunakan “alat-alat penyamarannya” dengan baik, sehingga sedikit
atau bahkan, tidak ada yg menyadari kalau dia adalah Si Badai Diatas Panggung
yang dirangkul direkturnya. Masumi pun masuk dan mulai menyalakan mobilnya.
“ Jangan
lupa pakai sabuk pengamanmu, Maya. Aku akan mengantarkanmu pulang sekarang… “
ucap Masumi memecah kebisuan.
“ I.. Iya…
“ Buru- buru Maya memasangkan sabuk pengamannya dan membereskan posisi
duduknya. Menepuk- nepuk ringan ujung roknya yang sedikit basah dan merapikan
rambutnya yang kucel setelah topi rajutannya ia lepas. Kaca mata hitamnya pun
sudah terlipat di kotaknya. Black Jaguar
yang dikendarai Masumi berjalan pada
kecepatan standart. Gerimis yang tadinya hanya berupa titik-titik air ringan
sekarang menjadi guyuran hujan dengan cepat. Wiper pun dinyalakan. Membelah tirai
air di kaca depan dan belakang.
Kesunyian
diantara mereka menambah kegalauan hati Masumi yang belum bisa menerima bahwa
Maya ternyata pernah mencium pria. Ia benar-benar kehilangan mata elangnya pada
bagian dimana ia dengar sendiri dari Maya, bukan dari kepercayaannya, Karato
Hijiri. Diam-diam Masumi melirik kearah Maya, yang cenderung melandaikan
tubuhnya dikursi penumpang tepat disebelahnya. Matanya sayu dan rasa-rasanya
akan mengatupkan kelopak mata yang terulaskan eyes shadow ringan di sudutnya. Pandangan
Masumi pun beredar dan terpusat ke bibir Maya yang merekah agak pucat, namun
terulas lipgloss tipis disana.
Sebaiknya aku
menambahkan tunjangan ekstra di rekening Hijiri agak ia bisa bekerja lebih baik
lagi….