Sunday, 15 January 2012

Background Music of Paragraph 01, by Avril Lavigne

i'm With You


I'm standing on a bridge 
I'm waitin' in the dark 
I thought that you'd be here by now 
There's nothing but the rain 
No footsteps on the ground 
I'm listening but there's no sound 


Isn't anyone tryin' to find me? 
Won't somebody come take me home 
It's a damn cold night 
Trying to figure out this life 
Won't you take me by the hand 
Take me somewhere new 
I don't know who you are 
But I... I'm with you 


I'm looking for a place 
Searching for a face 
Is anybody here I know 
Cause nothings going right 
And everything's a mess 
And no one likes to be alone 


Isn't anyone tryin' to find me? 
Won't somebody come take me home 
It's a damn cold night 
Trying to figure out this life 
Won't you take me by the hand 
Take me somewhere new 
I don't know who you are 
But I... I'm with you 


Oh why is everything so confusing 
Maybe I'm just out of my mind 
Yea yea yea 


It's a damn cold night 
Trying to figure out this life 
Won't you take me by the hand 
Take me somewhere new 
I don't know who you are 
But I... I'm with you 


Take me by the hand 
Take me somewhere new 
I don't know who you are 
But I... I'm with you
I'm with you


Take me by the hand 
Take me somewhere new 
I don't know who you are 
But I... I'm with you
I'm with you
I'm with you...

Tuesday, 10 January 2012

PARAGRAPH 01



Im With You




Mobil hitam mewah keluaran terbaru itu terus menyisir pelan jalanan ramai di pusat kota. Berharap segera menemukan yang dicari oleh si pengemudi yang tak bisa berpikir santai saat ini.  Biasanya si pengemudi tak pernah terlihat segelisah sekarang. Dia selalu tenang dalam pembawaannya.  Semua hal mampu ia tangani dengan kepala dan tangannya yang dingin. Bahkan julukan Si Dingin Gila Kerja sudah ia sandang sejak muda.

Maya..  Kau dimana… Aku akui memang aku sangat jarang menemuimu semenjak dari Astoria. Tapi bukan berarti aku tak memperhatikanmu.  Aku selalu mengetahui apapun yang kau lakukan,  apa yang kau kerjakan, bahkan apa yang kau makan.  Namun  sekarang aku yang terlalu percaya diri ini kebingungan mencarimu.  Aku tahu latihan Bidadari Merahmu telah selesai sejak pukul 8 malam tadi, tapi sekarang ini aku tak bisa menangkap bayangmu di jendela rumahmu. Kau kemana, Maya…..



Tak menemukan Maya bukan berarti menyurutkan niat Masumi untuk menjelajah Tokyo, bahkan Jepang sekalipun bila perlu. Matanya jeli menyapu tiap sudut-sudut kota bahkan gang-gang sempit sekalipun. Dia tahu Maya adalah gadis yang berani ambil resiko pergi malam-malam sendirian, namun Masumi pun menyadari, fisiknya sama sekali tak sekuat tekadnya. Tidak heran kalau bekas luka mengurangi kemulusan kulit Maya, tapi hal itu tak penting bagi Masumi. Dia tetap mencintai Maya, meski dengan tubuh cacat sekalipun, dia tak perduli. Yang ditakutkannya hanyalah bila ada orang yang berniat jahat kepada Maya. Apalagi kalau orang itu adalah pria. Kalau hal itu terjadi, Masumi takkan segan-segan untuk memenggal kepala pria itu ditempat. Meski penjara adalah hadiahnya, yang penting Maya selamat. Namun sudah dua jam ia mengitari kota. Mendatangi taman yang biasanya dikunjungi Maya, ia masih gagal menemukannya. Ia sudah mencoba menelusuri lewat GPS untuk melacak keberadaan Maya, namun lagi-lagi nihil. Sepertinya Maya mematikan HP-nya.



Kemana lagi harus kucari dirimu, Maya…? Ini sudah hari ke sepuluh aku membuntutimu. Setiap malam aku mau menjemputmu,  si sialan yang beruntung, Sakurakoji pasti sudah menyeretmu ke motornya. Dan aku tak bisa apa-apa melihatmu berdua dengannya. Selama aku masih berkubang dimasalah pernikahanku ini, aku tak mampu mendekatimu atau menculikmu 1 sampai 2 jam untuk melepaskan rinduku….

Sekarang ini jam sudah menunjukkan pukul 10 lewat 17 menit. Baru 17 menit Masumi bergumul dengan pikiran-pikiran negatifnya sendiri, dia sudah merasakan sesak yang berlebihan. AC mobil yg disetel dingin itupun tak mampu menyejukkan otaknya yang sudah mengepul kelimpungan mencari seorang Maya.

Ini sudah terlalu malam untuk gadis yang bahkan sepantaran dengan anak SMU, meski usianya sudah kepala dua…

Lampu merah menyala, menghentikan sementara langkah mobil  sang direktur. Kembali Masumi mengambil HPnya, berharap sinyal GPS yang dipancarkannya jauh-jauh hari mampu menangkap Maya.

Arggh!!!! HP brengsek!!!!

Seperti orang konyol yang memaki-maki benda tipis ditangannya dan kemudia dilemparnya ke kursi penumpang. Pegangannya dikemudi mobil dipereratnya, mencoba melampiaskan rasa kekhawatirannya dengan frustasi. Sambil menatap tajam jalanan didepannya dan mengacuhkan orang-orang yang menatap heran, bahkan tertawa kecil kearah Masumi.

Akhirnya warna hijau yang ditunggunya menyala juga.

Diinn!!!! Diiiinnnn!! Diinnnnnnnn!!!!!!!

Masumi  yang kehilangan kesabarannya itupun mengklakson kuat-kuat mobil didepannya, hingga sepasang kekasih yang tengah asyik berangkulan dan bermesraan itupun melonjak kaget. Bukan cuma karena tak melihat lampu hijau, namun sejoli yang dianggap Masumi tak tahu diri itu bermesraan DIDEPAN MATANYA! Setelah puas menyalahkan sinyal GPS yang lemah, HP yang brengsek dan sejoli tak tahu diri, Masumi menginjak pedal gas kuat-kuat. Berusaha mengusir rasa kuatir akan Maya, serta rasa iri kepada pemandangan yang terpampang barusan didepannya.

Sekilas Masumi ingat sebuah tempat yang cukup mengejutkannya.

Jembatan Asahi

Bodohnya aku, kenapa tempat itu tak terpikirkan dari tadi! Apa yang kupikirkan!?!

Dengan cepat ia memutar balik arah mobilnya, berharap ada Maya disana. Titik-titik air mulai membasahi jendela mobil Masumi.

Oh, great! Sekarang hujan?????

Masumi menghela nafas dalam-dalam. Berusaha mencairkan hawa panas didadanya. Barusan ia menyesali akan kepanikannya yang menghilangkan akal sehatnya, dan sekarang ia tak mau mengulanginya lagi.

Oke….  Sekarang hujan… Semoga saja Maya tidak bertindak konyol dengan membiarkan tubuhnya basah kuyup dan berakhir dengan pingsan didepanku…

Bibir Masumi tersungging kecil, teringat pertama kali ia mencium Maya yang sedang demam tinggi. Alih-alih ingin meminumkan obat, ia sebenarnya lebih tertarik untuk mengecap rasa manis dan ranumnya bibir gadis 11 tahun lebih muda.

Tak lama kemudian, akhirnya sampai juga Masumi di jembatan yang dimaksud. Ia memarkirkan mobilnya tak jauh dari jalan utama. Membuka pintu, mengeluarkan payung dan mulai melangkahkan kaki menuju tangga. Tak butuh waktu lama bagi Masumi untuk sampai diatas mengingat sekali langkah ia mampu mencapai dua anak tangga sekaligus. Cahaya lampu yang temaram membantu usaha pencariannya. Matanya berkilat kuat menangkap sesosok tubuh mungil yang berdiri ditengahnya.

Aah… Akhirnya….

Ucap Masumi bersyukur kepada Tuhan, bahwa Mayanya, gadisnya, baik-baik saja.

                                       



                                        *

Jalanan kota Tokyo tetap seperti biasanya. Sama sekali tak ada pengurangan populasi pejalan kaki yang sibuk hilir mudik merapikan toko, menggandeng tangan kekasih yang tengah asyik menkmati puffy gulali ditangannya, ataupun baru pulang bekerja dari kantornya. Memang tidak banyak, namun beberapa pria terlihat keluar dari pub dan mabuk dengan wajah seperti badut karnaval yang gagal. Dua bulan lagi Natal, namun beberapa gerai toko sudah mulai memasang pernak-pernik akan Topi Santa, kaus kaki warna warni, lampion-lampion kecil yang lucu serta pohon Natal yang siap ditebarkan bermacam hiasan disisinya.
Lampu-lampu kota berpijar kuat, mengeluarkan semua daya yang dipasoknya seakan tak mau kalah akan gelapnya malam di Tokyo, yang kebetulan awan mendung cukup merusak suasana romantic untuk melihat bintang jatuh.

“ Ah… Bukankah itu Kitajima Maya, pemeran Crimson Goddes? “ seorang gadis berseru keras melihat idolanya duduk di kursi tunggu kereta bawah tanah.

“ Eeeeh…. Gadis itu yang jadi Crimson Goddes????? Kau yakin kalau itu dia????? “ seru gadis yang lain , tak kalah histeris dari gadis sebelumnya.

Hufft…  Benar juga kata Nona Mizuki , sepertinya kacamata hitam lebar ini tak mampu menyembunyikan identitasku….

“ Mmmh… Maap Nona.. Apa benar anda yang memerankan Crimson Goddes atau Bidadari Merah di gedung Daito kemarin?” ucap gadis pertama hati-hati.

“ Betul, Saya Maya Kitajima” balas menyapa dua gadis dengan senyum terbaiknya.

“ Kyaaaaahhhh!!!!!!! Ki.. Kiiii…. Kitajima Maya asliiii?!??!?!?!?!!!! “ ucap gadis kedua lebih histeris“

“ I.. Iya..  Saya Maya Kitajima…”

“ Nona Kitajimaaa…. Boleh saya minta tanda tangan dan foto bersama? Kami penggemar berat anda sejak uji coba pementasan Bidadari Merah! “ ucap keduanya hampir bersamaan.

“ Tentu! “ Maya langsung berdiri menandatangani T-Shirt  keduanya serta berfoto bersama.

Bersalaman dengan Kitajima Maya mungkin serasa menyentuh Nirwana, melihat kedua gadis itu sampai menangis terharu dapat bertemu Maya, yang sekarang telah berpredikat sebagai aktris dan selebritis skala internasional. Kedua pipi Maya pun tak luput dari bibir- bibir mungil berlipgloss pink sparkling setelah ijin dari Maya dikantongi mereka.

“ Sampai jumpa lagi Miss Kitajima, kami selalu menunggu penampilan hebatmu di pentas dan film, bahkan di Selebritis gossip sekalipun, heheheee…..” pamit mereka sumringah.

“ Iya, terima kasih banyak untuk dukungannya ya… “ senyum tipis mengulas diwajahnya.


Pasti Sakura Koji yang mereka maksud begitu nama sebuah majalah, Selebritiz~Gossip terlontar secara spontan barusan.


Maya menghela nafas. Akhir-akhir ini gossip akan kedekatan mereka makin parah, dalam artian Maya. Entah darimana para pemburu berita yang menyandang gelar Paparazi  itu mendapatkan sumber cerita yang akhirnya mereka simpulkan sendiri—kemudian dibesar-besarkan menurut pemikiran dan naluri otak mereka bekerja. Bahkan foto Maya berpapasan dengan Sakurakoji ditoilet pun menjadi berita heboh akhir- akhir ini. Maya sampai mengadakan konfrensi pers—menunjukkan rekaman CCTV, bahwa mereka tak berbuat sesuai headline konyol yang mereka cetak besar-besar dihalaman muka.


     Bidadari Merah dan Isshin bermesraan di toilet umum


Tujuanku menjadi seorang aktris tak lain hanya ingin mengeluarkan segala hasrat yang kumiliki, betapa aku sangat mencintai dunia seni peran ini dan ingin memerankan peran sebanyak mungkin selama aku hidup. Bukannya tak suka akan kehidupannya yang mapan sekarang, namun resiko kemapanannya yakni privasinya, benar-benar terkikis sekarang ini.  Seperti tak ada ruang dimana Maya dapat merebahkan diri dan menggunakan pakaian tidur lace-nya tanpa khawatir akan lensa kamera Paparazi.

“ Kyaaaaaaaahhh!!!!!!!!! Itu Maya Kitajima!!! “ teriak segerombolan remaja tanggung sambil menunjuk kearah Maya dengan ribuan watt akan cerahnya wajah mereka.

“ Miss Kitajimaaaa!!!!! “

“ Maya- Chaaaannnn!!!!!!!” Seru mereka bersamaan, menggema didinding-dinding ruang tunggu penumpang.

Setelah itu, gerombolan lain pun berdatangan. Remaja tanggung tetap memayoritasi kerumunan manusia berusia ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan eksekutif muda. Seperti tak ada habisnya tangan Maya menyalami mereka satu persatu, menandatangani buku, kertas kerja dan pakaian mereka. Tidak lupa foto bersama yang menghabiskan waktu Maya sekitan 20 menit—itupun karena pihak keamanan stasiun bawah tanah membubarkan sekumpulan massa yang menghambat arus lalu lintas penumpang.

Maya pun menerima sebotol minuman mineral dari pihak-pihak keamanan. Lucunya, merekapun meminta tanda tangan dan foto bersama juga, dengan alasan istri dan anak-anak mereka sudah lama ingin memiliki kenang-kenangan daari Bidadari Merah.

Sudah pukul 09.10 malam. Rei sedang keluar kota beberapa minggu mulai tiga hari lalu untuk take shot di daerah pedesaan. Sutradaranya menginginkan aura kabut ilalang dan padi asli. Sudah lama sang sutradara yang konon hampir serupa perfeksionisnya dengan Pak Kuronuma, terpesona dengan desa tersebut dan bercita-cita untuk memamerkannya ke penjuru dunia.

Maya kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari stasiun. Ia berubah pikiran. Stasiun terlalu ramai dan rumah terlalu sepi. Maya tetap berjalan dengan perasaan gamang sembari menenteng botol minuman ditangan kirinya.

Dirumah pun aku hanya sendirian. Apa yang harus kulakukan kalau pulangpun aku sedang enggan? Aku sedang tak ingin melihat TV kabel ataupun membaca majalah lagi.

Seketika perasaaan kesepian menusuk dadanya. Perih dan menyesakkan.

Pak Masumi……

Beruntung kacamata Maya cukup besar untuk menutupi betapa merahnya mata Maya. Selepas pertemuannya dengan Shiori tadi, Maya tak henti terisak. Apabila tadi para penggemarnya tak menemukan air mata Maya, itu karena kehebatan dan kelihaian aktingnya.

Pak Masumi…. Kenapa aku harus jatuh cinta padamu sedemikian dalam? Sampai aku mengabaikan fakta  bahwa kau sudah memiliki tunangan yang sangat cantik dan berkelas… Dibandingkan aku yang kecil dan pendek ini…

Buliran air mata kembali menggelinding ringan di pipi putih Maya. Dengan cepat Maya melepas kacamatanya yang basah, mengeringkannya dan memakainya kembali—setelah Maya mengusap mata sembabnya dengan lengan bajunya. Maya tahu ia agak diperhatikan orang-orang sekitar, karena itu ia pun mengeluarkan topi rajutan dari tas tangannya dan memakainya, berharap daya ingat mereka akan Maya Kitajima bisa berkurang hingga 100 persen. Saat ini ia sedang enggan untuk dikenali siapapun, terutama karena sekarang keadaan hati Maya sangat gundah.

Buatlah aku percaya bahwa Bidadari Merah itu benar-benar nyata, Maya….

“Ugh….” keluh Maya sambil menekan kuat dadanya yang sesak.

Pak Masumi…  Bagaimana ini? Makin kuat aku berusaha melupakanmu, makin kuat otak dan hatiku mengingatmu… Aku takut akan keputusan yang kulakukan barusan, Pak Masumi… Aku takut kehilanganmu… Aku tak ingin mengakhiri perasaanku, tapi…….

Terbayang kembali dimana tadi Shiori bersimpuh didepannya, memohon kepada Maya untuk melepaskan tunangannya.

Nona Shiori…  Jadi beginikah perasaanmu tadi sebelum bertemu denganku? Perasaan dimana kau benar-benar sangat takut akan kehilangan orang yang kau anggap belahan jiwamu?

Tanpa disadari otaknya, tubuh Maya telah mengarah ke sebuah jembatan yang besar dan gagah.

Jembatan Asahi….?

Seketika mata Maya berbinar, memandang area tengah jembatan tersebut dari kejauhan. Dengan cepat ia berlari menaiki tangganya dan meraih area tengah.

Ya, disinilah dulu Pak Masumi—Mawar Unguku membimbingku. Ia menyadarkanku akan sesuatu yang seharusnya kuhayati sejak aku menginginkan peran Bidadari Merah. Ia menginginkan aku membuatnya percaya akan keberadaan Bidadari Merah di atas panggung.

Pipi Maya merona mengingat pertunjukan perdana Bidadari Merahnya. Tatanan panggung yang megah , pencahayaan serta paduan suara dan orkestranya menambah sensasi mistis yang diciptakan Maya. Sekilas Maya melirik kearah penonton VVIP, arah dimana Masumi duduk. Maya mengangkap basah mata Masumi yang tengah terhipnotis akan permainan Bidadarinya. Ia berharap Mawar Ungunya mengerti akan perasaan cintanya yang meluap-luap lewat bahasa tubuhnya. Selepas pertunjukkannya pun, seperti biasa, Maya dikejutkan dengan karangan bunga mawar terbesar yang pernah dilihatnya. Jauh melebihi dari karangan bunga mawar ungu ketika dahulu ia akan memerankan Hellen Keller.

Bagaimana ini Pak Masumi? Aku sudah berjanji pada Nona Shiori akan menjauhimu, namun aku sudah sangat merindukanmu... batin Maya terus menerus mengulang kata-kata yang sama. Bimbang…

Maya mempererat pegangannya dipinggir jembatan dan melandaikan sedikit tubuhnya. Dagunya di tumpukan diatas lengannya yang terlipat. Sepertinya ia baru menyadari, kalau ternyata seharian ini dia hanya sedikit makan. Dari pagi sampai sore ia habiskan ditempat latihan. Memang ia pulang lebih awal dari biasanya, namun pertemuan dengan Shiori membuat tubuhnya terasa berlipat kali lebih lelah daripada latihan seharian. Matanya menerawang jauh kebawah, melihat lampu-lampu mobil seakan mengiris jalanan dengan warna kuning pucat keputihan dan merah menyala. Ia sama sekali tak menyadari kalau sedari awal menaiki anak tangga, langit sudah mulai meneteskan air. Topi rajutannya menyerap titik-titik air yang beranjak semakin intens. Entah mungkin memang “kelebihan” Maya adalah -- ketika sedang melamun – ia mampu melupakan situasi dan kondisi sekitarnya. Bahkan mungkin apabila ada komet besar jatuh dibelakangnya saat ini pun ia bias tak menyadarinya .

Pak Masumi…  Tadi aku meminta Nona Shiori untuk memberikanku satu kesempatan bersamamu. Jujur saja, aku sendiri sebenarnya tidak tahu kesempatan seperti apa yang kuajukan. Aku hanya spontan mengucapkannya…

“ Kira-kira… kesempatan seperti apa yang mampu kubagi bersama Pak Masumi, ya? “ ucap Maya lemah.

“ Menurutmu… Hal apa yang bisa kita bagi bersama, Maya? “

Maya melonjak kaget mendengar suara maskulin dibelakangnya. Ternyata suara Masumi sudah melebihi komet jatuh untuk mengembalikan penuh kesadaran Maya.

“ Pak.. Pak Masumi…? Se.. Sedang apa disini malam-malam? “ ucap Maya gugup. Sekaligus malu, karena Masumi menangkapnya bulat-bulat bahwa ia sedang memikirkannya.

“ Kau tak lihat? Aku sedang memayungimu. Sudah berapa lama kau ada dijembatan ini? Untung saja aku menemukanmu sekarang, kalau terlambat, bisa-bisa sekarang kau sudah basah kuyup karena terlalu asyik melamun. “

… Untung saja aku menemukanmu sekarang…..?

Pak Masumi… apa kebetulan saja Bapak lewat sini? Kok bisa...  menemukanku…  disini…?”

“ Iya…  Aku memang mencarimu, Maya…. “




Deg!

Mencariku? Kenapa??


Maya menghela nafas perlahan, berusaha menurunkan kegugupannya.
“ Ke.. Kenapa mencariku, Pak Masumi. Apa ada sesuatu yang sangat penting sampai malam- malam begini anda menemuiku? “

“ Aku hanya mencarimu saja, memangnya kenapa? “

“Hah?  Pak Masumi, berhentilah mengolok-olok saya. Saya tahu saya ini bodoh, tapi saya tak sebodoh itu untuk anda kelabuhi. Katakan saja, adakah yang bisa kubantu?”

Maya ternyata tidak pandai berakting bila didepan atasan sekaligus pengagum rahasianya. Masumi dapat membacanya jelas, semua kegugupan Maya akan kehadirannya yang tiba-tiba. Maya lebih sering melempar pandangan kearah lampu-lampu dari mobil di level bawah tempat mereka berpijak ketimbang kontak mata langsung dengan Masumi.

“ Baiklah..  Ada hal penting yang bisa kaulakukan untukku..” ucap Masumi memancing.

“ A.. Apa?”

“ Pulanglah dan ganti bajumu yang lembab itu. Kau akan sakit kalau kau terus-terusan melamun dan kehujanan pada jam segini. Ini adalah waktunya istirahat, bukannya melihat lampu jalanan, Maya…”

Deg!

Pak Masumi...  Memanggil nama depanku saja??

Padahal hanya ucapan namanya saja dipanggil, tapi entah kenapa, hati Maya jadi sesak… Sesak karena senang karena ia sudah dianggap dekat dengan Masumi dan sedih mengingat akan janjinya pada Shiori.

“ Apa yang kau lakukan malam-malam begini disini, Maya? Apakah latihannya terlalu berat sampai- sampai kau tidak langsung pulang dan sekarang terdampar dijembatan penyebrangan yang berlawanan arah dengan apartementmu? “ Masumi mendekati Maya, berdiri tepat disampingnya serta merapatkan tubuhnya.

“ A.. Aku…. Aku ….” Maya kembali gugup. Mencari-cari alasan terbaiknya meski dia tahu hal itu sepertinya tak cukup untuk membodohi seorang Masumi Hayami.

“ Aku sedang berusaha memahami Bidadari Merah… Ya! Aku 
sedang berusaha lebih mengenal pribadinya, sehingga di pertunjukan berikutnya aku mampu menampilkan yang jauh lebih baik dan berkualitas lagi ” ucap Maya yakin. Atau berusaha meyakininya.

Masumi menaikkan satu alisnya. “ Memahami Bidadari Merah? Yang benar saja, Maya… Kau sudah membawa Bidadari Merah enam kali dalam sebulan ini di Daito. Dan kau harus percaya kalau kau mampu membius siapapun yang melihat pertunjukkanmu. Semua pengamat seni telah mempelajarinya dan kau menang mutlak untuk mendapatkan pujian mereka. Atau… Apakah ada hal yang mungkin belum kau keluarkan, Maya? “

“ A… Itu… Biar bagaimanapun … Aku harus lebih berusaha lagi membuat percaya semua orang yang melihat permainanku, bahwa aku ini benar-benar Bidadari Merah. Aku…”

“ Termasuk aku? “ potong Masumi cepat.

“ Termasuk…. Apa?!!??!? ”  Maya menengadahkan kepalanya, mencari mata Masumi yang terlihat jahil padanya.

“ Termasuk aku. Kau lupa ya, orang yang menarikmu hujan-hujanan ke jembatan ini dan menyuruhmu berakting adalah aku, Masumi Hayami.  Jangan bilang kau melupakan usahaku itu, Maya….” Senyum Masumi mengembang sembari menepuk- nepuk dada bidangnya.

“ I..Ya… Aku pasti tidak akan melupakan saat- saat itu, Pak 
Masumi..” ucap Maya merona. Memegang ujung bibirnya dengan kedua tangan yang mengatup dan ujung sepatunya yang menancap jembatan untuk menutupi kegugupannya. Sekali lagi hal itu tak luput dari pengamatan Masumi.

“ Kenapa kau gugup begitu, Maya.. apakah bersamaku kau merasa tidak nyaman?”





“ Bu... Bukan begitu, Pak Masumi! Anda jangan salah sangka kepadaku!!! “ Maya spontan membela posisi Masumi, tanpa sadar.

Masumi tersenyum. Dia senang dan merasa terharu akan pernyataan Maya barusan. Masumi melandaikan wajahnya sejajar dengan Maya. Dia dapat melihat wajah Maya yang tegas.

“ Berarti.. Kau suka bila bersamaku, Maya? “

“ Ap..???” Maya makin salah tingkah. wajah tegas Maya yang barusan terpasang langsung buyar seketika, tergantikan oleh wajah asli yang memerah seperti kepiting rebus.

“ Hem????” Masumi kembali menebar umpan.

“ A… Aku merasa nyaman kok…  Bila bersama Pak Masumi… “ ucap Maya terbata bata.

“ Baiklan kalau begitu, ayo ikut aku! “ Masumi melingkarkan lengan panjangnya dibahu mungil Maya tanpa menunggu persetujuan.

“ Eehhh.. Pak…. Ini di tempat umum.. Bagaimana kalau….”

“ Kalau para wartawan atau paparazzi memergokimu bila bersamaku? Maya…  Itu akan jadi berita yang jauh lebih baik daripada artikel murahan yang mengatakan kalau Bidadari Merah bermesraan di toilet! “ tegas Masumi.

Mata Maya membulat kaget. Satu-satunya orang yang tak ingin dia tahu akan headline majalah tersebut adalah Masumi Hayami, Mawar Ungunya. Dia benar-benar malu akan artikel tersebut, meski dia tahu itu hanya ulah para kuli tinta untuk mendapatkan keuntungan dan kehidupan dari kehidupan orang lain. Tetapi sebenarnya bukan keadaan dimana Masumi mengetahui artikel murahan tersebut yang membuat Maya kaget bukan main,  namun sorot mata yang dingin dan menusuk yang terpampang jelas disamping kirinya.

Pak Masumi…. Apakah kau cemburu pada lawan mainku?  Batin Maya membuncah sekaligus khawatir akan persepsi yang dirancangnya sendiri. 



“ Pak Masumi… sudah cukup, Pak. Jangan mempermainkanku lagi! Tolong singkirkan tanganmu dari bahuku…”

“ Apakah tangan Koji jauh lebih baik dari tanganku, Maya? “ Masumi menghentikan langkahnya dan merapatkan bahu Maya lebih erat ke dada bidangnya.  Ugh! Lagi-lagi… kenapa aku bertingkah bodoh seperti anak ingusan yang baru duduk di sekolah dasar…..?

“ Apa maksud Pak Masumi? Kenapa anda mengungkit-ungkit soal Koji yang……”

“ Ditoilet….. Kenapa dia memelukmu, Maya?  Dia itu bodoh atau tolol? Atau mungkin ber-IQ idiot sehingga dengan sangat cerobohnya dia membuat skandal murahan yang malah menjatuhkan nama baikmu di masyarakat? Bagaimana mungkin paparazzi menangkap basah adegan konyol itu? Sekarang jelaskan semua padaku maka aku akan melepaskan pelukanku ini. “

Maya mulai merasa ngeri akan kecemburuan Masumi. Ya… Pria  jangkung ini jelas-jelas menyatakan kecemburuannya. Dia tidak suka kalau Maya --- yang dianggap gadisnya, disentuh oleh pria lain selain dirinya. Apalagi pria itu juga mencintai Maya.

“ Saat itu aku terpeleset di depan toilet, Pak Masumi…  Kebetulan Koji pun akan ketoilet pria di sebelahku, dan dia reflek menangkapku. Itu saja…. “ Maya menjelaskan dengan serius dan menegadahkan kepalanya tinggi-tinggi.

 Apa Pak Masumi semakin tinggi? Kenapa leherku seperti serasa kutekukkan paksa begini? Atau sepatu boot- ZARA-ku yang kurang memadai tingginya?  Sambil menatap Masumi dalam-dalam, otaknya pun sedang sibuk menghitung berapa banyak biaya yang harus ia keluarkan untuk membeli sepatu baru. Setidaknya sepatu itu mampu mengurangi sakit lehernya bila ia harus berhadapan dengan orang yang jauh lebih tinggi darinya. Atau itu hanya alibi konyolnya untuk menutupi fakta bahwa dirinya tidak bertambah tinggi 1 centi pun sejak usianya 19 tahun.

“ Untuk ukuran orang yang baru mendapat kecelakaan dan mengalami trauma dikakinya, refleknya masih bagus, atau teramat bagus untuk menahan tubuh olengmu.  Dan foto yang kulihat, Koji tidak hanya memelukmu, atau menangkap tubuhmu seperti yang barusan kau jelaskan. Ia jelas-jelas akan menciummu! “ Masumi sedikit menaikkan nada suaranya.
Ia benar-benar membencinya. Masih teringat jelas bagaimana Mizuki berupaya menyembunyikan surat kabar itu dari meja Masumi kemarin. Aktingnya sama buruknya dengan pemain cabaret karbitan. Beruntung Mizuki memiliki intelegensi tinggi, sehingga ia masih dipandang berguna bagi Masumi untuk mengerjakan semua perintahnya. Dan surat kabar malang itu langsung porak poranda ketika Mizuki telah meninggalkan kantor pribadi sang direktur.

Maya menundukkan kepalanya “ Koji sudah jauh lebih sehat, Pak Masumi. Namun ia akan tetap berakting seperti Isshin pada awalnya, karena memang itulah Isshin seorang Koji, salah satu topeng miliknya “

Sekitar 5 detik Maya diam. Ia mengumpulkan semua keberanian dan menghambarkan semua kegugupannya perlahan, sembari melipat-lipat ujung lengan bajunya, Maya berkata malu-malu.  

“Dan.. Koji… … Memang rasanya waktu itu ia akan menciumku…  Tapi aku langsung mendorongnya dan aku segera berlari keruang latihan lagi! Jangan menuduhku macam-macam Pak Masumi.. Meski usiaku sudah 20 tahun, aku belum pernah dicium siapapun kecuali ibuku dan Bu Utako Himekawa! “ seru Maya lantang dan kembali menaikkan kepalanya.

Mata Masumi melebar dan kedua alisnya spontan naik bersamaan. 

Polos sekali.

“ Hahahahhaaa… Maya! Kau tak perlu menjelaskan sedetail itu. Kalau kau bilang kau tidak mencium atau dicium, aku pasti akan percaya padamu seratus persen! “ Masumi langsung tergelak riang sambil memegangi perutnya. “ Aku sudah melepaskan tanganku, karena ternyata perutku lebih membutuhkan tanganku, Maya… Hahahhahahaaa!!!!!” Masumi merasa sangat terhibur dan merona. Ia senang, paling tidak sekarang dia tahu, baru dialah pria yang berhasil mengambil keperawanan bibir Maya.

Entah kenapa Maya agak panas mendengarnya.“ Itu sama sekali tidak lucu, Pak Masumi! Aku memang bilang aku tidak pernah dicium, bukan berarti aku belum pernah mencium seorang pria! “  Maya melipat kedua tangan didepan dadanya dan menengadahkan kepalanya lebih tinggi lagi. Bahkan ia hampir berjinjit guna menunjukkan ke”tinggian” egonya sebagai wanita matang.

“ Hah?!?!?!? Kau pernah mencium seorang pria?????? “

“ Tentu saja pernah! Aku tidak sepolos yang orang-orang bilang tentangku. Aku…”

“ Siapa? “ Masumi memotong cepat cerocosan Maya.

“ I… Itu rahasia!!!! “ Maya merona hebat. Tak mungkin bagi Maya mengatakan siapa pria yang ia curi bibirnya. Karena orang itu tak lain adalah pria jangkung dihadapannya. Ia terlalu malu dan terlalu bodoh untuk memulai pembicaraan soal cium-ciuman ini.

“ Siapa pria itu, Maya? “ mata Masumi meruncing dan semakin menusuk bola mata serta jantung Maya.

“ Su… Suatu saat pasti akan ku beritahu! Katanya Pak Masumi mau mengantarkanku pulang kan? Ayo, aku sudah sangat kedinginan disini “ Pengalihan Maya terjadi sedemikian cepat. Maya mengambil alih payung yang dipakai Masumi dan berjalan mendahului pria itu.

“ Ayo, Pak Masumi… Aku tak mau kita terlalu basah sesampainya di apartement “ ajak Maya sembari sedikit berteriak.

Masumi dengan malas melangkahkan kakinya dan mencoba menyusul Maya yang berjalan menuju trotoar bawah.

“ Ng.. Pak Masumi… mobilnya dimana yha? “ Tanya Maya sambil cengengesan.

“ Hhh…. Lain kali kau tanya dulu baru bertindak, Maya.. Kenapa kau tidak berubah juga dari dulu? Kita jelas-jelas melawan arah. Kau seharusnya tau dari arah mana tadi aku mendatangimu“  Masumi kembali mengambil alih payung blue deep besarnya dari tangan mungil Maya dan merangkul Maya untuk kembali menaiki tangga jembatan penyebrangan Asahi.

“ Pak Masumi… Maaf… Bisakah anda melepaskan… “

“ Sampai di mobil, baru akan kulepaskan “ jawab Masumi dingin.

Maya tak berani menolaknya,  atau memang sebenarnya sejak peristiwa di kuil Lembah Plum , Maya sudah mencandu akan kehangatan tubuh Masumi. Ia tak bisa dan tak mau kehilangan moment yang menurutnya bisa terukir di buku rekor dunia. Sepanjang jalan yang hanya 10 menit itu keduanya hanya terdiam. Menikmati pikiran dan perasaannya sendiri-sendiri, serta gerimis ringan yang mengguyur kota Tokyo.

Akhirnya Maya masuk kedalam mobil hitam yang terparkir agak tersembunyi di sudut. Beruntung sedari tadi Maya menggunakan “alat-alat penyamarannya” dengan baik, sehingga sedikit atau bahkan, tidak ada yg menyadari kalau dia adalah Si Badai Diatas Panggung yang dirangkul direkturnya. Masumi pun masuk dan mulai menyalakan mobilnya.

“ Jangan lupa pakai sabuk pengamanmu, Maya. Aku akan mengantarkanmu pulang sekarang… “ ucap Masumi memecah kebisuan.

“ I.. Iya… “ Buru- buru Maya memasangkan sabuk pengamannya dan membereskan posisi duduknya. Menepuk- nepuk ringan ujung roknya yang sedikit basah dan merapikan rambutnya yang kucel setelah topi rajutannya ia lepas. Kaca mata hitamnya pun sudah terlipat di kotaknya. Black Jaguar  yang dikendarai Masumi berjalan pada kecepatan standart. Gerimis yang tadinya hanya berupa titik-titik air ringan sekarang menjadi guyuran hujan dengan cepat. Wiper pun dinyalakan. Membelah tirai air di kaca depan dan belakang.

Kesunyian diantara mereka menambah kegalauan hati Masumi yang belum bisa menerima bahwa Maya ternyata pernah mencium pria. Ia benar-benar kehilangan mata elangnya pada bagian dimana ia dengar sendiri dari Maya, bukan dari kepercayaannya, Karato Hijiri. Diam-diam Masumi melirik kearah Maya, yang cenderung melandaikan tubuhnya dikursi penumpang tepat disebelahnya. Matanya sayu dan rasa-rasanya akan mengatupkan kelopak mata yang terulaskan eyes shadow ringan di sudutnya. Pandangan Masumi pun beredar dan terpusat ke bibir Maya yang merekah agak pucat, namun terulas lipgloss tipis disana.

Sebaiknya aku menambahkan tunjangan ekstra di rekening Hijiri agak ia bisa bekerja lebih baik lagi….
 
blogger template by arcane palette