Sunday, 26 May 2013

Background Music of Paragraph 13 by Shania Twain



            From This Moment



I just swear
That I'll aways be there
I give anything
And everything
And I will always care
Through weakness and strength
Happiness and sorrow
For better, for worse
I will love you
With every beat of my heart

From this moment life has begun
From this moment you are the one
Right beside you is where I belong
From this moment on

From this moment, I have been blessed
I live only, for your happiness
And for your love, I give my last breath
From this moment on

I give my hand to you with all my heart
I can't wait to live my life with you I can't wait to start
You and I will never be apart
My dreams came true because of you

From this moment, as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing, I wouldn't give
From this moment on

You're the reason I believe in love
And you're the answer to my prayers from up above
All we need is just the two of us
My dreams came true because of you

From this moment, as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing, I wouldn't give
From this moment, I will love you
As long as I live from this moment on


Paragraph 13


                    From This Moment


Semua berjalan seperti yang direncanakan. Lurus dengan sedikit kelokan. Kabar miring dan desas desus kebahagiaan selalu menerpa pasangan impian Daito dan Takamiya yang dikabarkan berbulan madu diluar negri. 

Bulan madu.

Itulah yang dipikirkan orang-orang dalam kepala mereka manakala mereka melihat kedua pasangan itu keluar dari sebuah mobil hitam menuju pelataran mansion mewah milik keluarga yang takkan bisa dinikmati siapapun yang bukan berdarah Daito atau kini, bertambah aliran darah Takamiya.

Segala kendali perusahaan tetap dipegang Masumi meski ia kini berdomisili di negri Eropa yang sedang dingin-dinginnya. Keberuntungan juga melanda Mizuki. Ia diberi kepercayaan melebihi kapasitasnya sebagai sekretaris pribadi yang selama ini disandangnya. Ia pun kini menjadi tangan kanan kepercayaan Masumi yang bisa menundukkan jajaran direksi sekalier apapun semudah ia mengedipkan mata sesering mungkin. Gajinya pun berkali lipat seiring bertambahnya waktu dan keramahan Masumi yang akhir-akhir ini menjadi terlalu nyata di telepon.

Lima bulan berlalu dan Masumi akhirnya kembali menginjakkan kaki tegapnya di bandara Narita. Dengan sopan, ia membantu Shiori mendapatkan jalan dari buruan paparazzi yang telah menghadang mereka sejam berjam-jam lalu. Rutukan kasar dan umpatan para kuli tinta itu terbayar sejak pemberitahuan delaynya jadwal pesawat yang membawa pasangan muda sukses tersebut.

Ucapan bahagia dan selamat terlontar kepasangan Masumi-Shiori ketika kamera berhasil membidik perut Shiori yang kini tengah membuncit. Seorang dokter tampan terlihat kurang bersahabat dan segera membawa rombongan mereka menuju mobil yang tengah mennunggu. Kontras dengan Richard yang cenderung dingin dan menguarkan aura permusuhan, Masumi malah mengembangkan senyum terlebarnya yang ia miliki. Mempesona semua orang yang biasa mengenalinya sebagai gunung es Antartika.

Rombongan mobil itupun berlalu dan langsung menuju gedung Daito.

“ Kau yakin tak bisa ditunda besok, Shiori? kau tak boleh terlalu lelah. “ Ucap Masumi lembut.
Richard mengiyakan. “ Ucapan Masumi sangat masuk akal, Shiori. kita bisa menundanya dengan alasan kau tak boleh terlalu lelah. Kami mengkhawatirkan keadaanmu, tak bisakah kau sedikit tak keras kepala? Aku heran darimana kau mendapatkan sifat itu. “

Shiori tertawa ringan. Ia sangat senang diperhatikan kedua orang yang sangat penting baginya saat ini. “ Mungkin ini bawaan bayi yang kukandung. Kalian tak lupa bagaimana keras kepalanya Maya? Ia selalu berhasil membuat orang mempertanyakan logika dan kewarasannya kalau menyangkut soal akting. “
Masumi tersenyum hangat. Terlalu hangat. Shiori menangkap tangan Masumi untuk menyentuh perutnya yang besar. Hasil USG menyatakan kalau janin ini berkelamin laki-laki. Calon Masumi muda yang tampan. Meski sebenarnya Shiori menginginkan bayi perempuan yang sudah ia persiapkan nama “ Maya “, namun senyum kebahagiaan Masumi melunturkan kekecewaan yang sempat dirasanya. Masumi melonjak senang ketika janinnya dan Maya berhasil tumbuh normal di rahim Shiori.

Richard sudah bisa menerima kejadian ini, meski dulu ia sempat diwabahi rasa cemburu yang luar biasa. Beruntung Shiori berhasil meyakinkannya untuk satu hal, yang akan mereka hadapi dalam waktu dekat ini, tepat di tempat tujuan mereka sekarang. 

Gedung Daito.

Aula berkapasitas lima ribu orang itu sudah tersusun sempurna. Daito sudah berhasil menarik minat para pemburu berita untuk membeli hak eksklusif peliputan kedua pasangan Daito yang lama terkubur beritanya. Bahkan Daito memerintahkan sebagian orang termasuk karyawan undangan untuk menghadirinya. Cukup membuat tanda tanya besar diotak mereka mengingat selama konferensi pers itu, Daito memerintahkan karyawannya untuk terbebas sementara dari pekerjaannya dan mereka disuguhi televisi layar datar yang dipasang di tiap lantai.

Saat tokoh utamanya datang dan duduk dikursi yang disediakan, ruangan menjadi tenang. Mereka bersiap dengan catatan ditangan dan mike yang siap menggemakan suara mereka untuk sesi tanya jawab.

Shiori duduk ditengah dua pria tampan yang berstatus suami dan dokter pribadinya. Ia menghela nafas panjang dan tersenyum penuh arti.

“ Selamat sebelumnya. Bagaimana bulan madunya, Nyonya Hayami? Kami lihat sudah membuahkan hasil yang sangat mengejutkan, mengingat tak satupun yang tahu kalau ternyata anda sekarang sedang berbadan dua. “ Tanya wanita berpakaian formal dengan rambut tergelung dan kacamata berbingkai perak yang tipis.

“ Terima kasih. Kami bersyukur semua berjalan lancar dengan semestinya. Kami sangat bahagia akan hal ini. “

“ Dan bagaimana dengan anda , Pak Masumi Hayami? Kami dengar anda sangat setia menunggui istri anda disana, sampai anda mengendalikan perusahaan dari jarak antar negara yang cukup lama. Apakah mitos bahwa Negara Eropa memiliki kekuatan magis romantisnya itu juga berlaku bagi anda berdua? “

Wajah Richard langsung mengeras mendengarnya. Ingin sekali ia melemparkan asbak didepannya ini tepat ke wajah wanita cantik berkacamata yang sedari tadi meliriknya dengan tatapan berbeda. Dan Shiori menangkapnya dengan cepat.

“ Ini bukanlah anakku. Di dalam rahimku ini sedang bertumbuh janin dari Masumi Hayami dan Maya Kitajima. “




Thursday, 4 April 2013

Background Music of Paragraph 12 by IL Divo




           Rejoice


Where did I misplace my faith?
Where did I set it down?
Which one, the day that I forgot what this was all about?

And I came so close to throwing it all away,
But I'm taking it back again.
So come and rejoice,
Come and rejoice.
What was lost, is found.

Cual es el dia en que olvide
Mi fe y mi sentir,
Mi vida fue un sinvivir
La quiero compartir.

Which is the day in which I forgot my faith and my feel, my life was without-living i want to share it...

Llegue a pensar
Dejar todo y olvidar,
Pero vuelvo a empezar.

I started to think to leave everything and forget, but i return to begin.

So come and rejoice,
Come and rejoice.

And you don't even have to make a sound.

I feel it in your touch, you say it with your eyes.

What was lost, is found.

So come and rejoice,
Come and rejoice.
What was lost, is found.

What was lost, is found

Paragraph 12



            You Belong To Me - Rejoice


“ Ada apa ini? “ Shiori bertanya kepada salah seorang security yang tengah berlarian. Mereka terlihat panik. Terlihat dari nafas mereka yang tersenggal-senggal dan tatapan mata mereka yang kengerian.

“ Ada kejadian apa? Apakah ada kebakaran? “ sambung Richard sambil mengendus-endus udara, mencari sesuatu yang terbakar. Kalau memang iya, dia harus segera menyingkirkan Shiori dari gedung ini secepatnya.

Security berpawakan tegap itu berusaha mengatur nafasnya. Ia telah berlari dari 3 lantai basement, jauh dari lantai utama mereka berpijak sekarang.

“ Nyonya Hayami… Pak Masumi… Pak Masumi sepertinya bunuh diri. Ia terlihat melompat dari atas gedung ini. Pihak keamanan CCTV melihatnya dan mereka langsung berteriak lewat walkie-talkie yang saya pegang ini. Maaf, saya harus segera menyusul yang lain. Saya harus ke lapangan parkir di bagian barat, mereka memperkirakan tubuh Pak Masumi berada disana. Permisi, Nyonya… “

Dan ia pun segera berlari sekuat tenaga menuju tempat yang tadi ia sebutkan. Beberapa karyawan wanita yang telah mengetahuinya sibuk menghubungi paramedic sambil menangis dengan panik. 

Bahkan ada yang langsung pingsan di tempat begitu ia mengetahui kejadian apa yang tengah berlanjut. Mereka menerka-nerka dengan acak, mengira bahwa Pak Masumi sudah begitu terlalu mencintai Bidadari Merah hingga kehilangan akal sehatnya.

Sekali lagi… Bidadari Merah, bukan Maya Kitajima. Mereka belum mengetahui fakta yang terjadi sebenarnya dilapangan.

Shiori langsung syok mendengarnya. Ia merasa seperti berada diatas lubang hitam yang amat pekat dan siap menelannya saat ini juga. Beruntung Richard langsung menangkap tubuhnya dan membantunya mengembalikan kesadarannya dengan cepat.

“ Shiori, Shiori… “ Richard mengangkat tubuh Shori dan menaruhnya di sofa lobi terdekat. “ Sayang, kau tak apa-apa? Bangunlah… “

Mata sayunya mengerjab dan ia melihat wajah khawatir Richard di atas wajahnya. Ia berusaha bangkit. Ia tak ingin kembali menjadi Shiori yang lemah dan tak bisa apa-apa. Tidak! Ia sudah meninggalkan Shiori yang itu jauh hari semenjak ia mengenal sosok Richard di hatinya.

Shiori terduduk. Ia dapat melihat lebih jelas sekarang. Tak lagi buram seperti sesaat lalu.

“ Richard, bawa aku ke tempat parkir bagian barat, kumohon… “
Richard menggelengkan kepalanya.

“ Jangan. Kau tunggu disini saja dulu, biar aku kesana. Aku adalah seorang dokter, ini sudah dalam wilayah tanggung jawabku apabila menyangkut nyawa manusia. “

“ Richard… “

“ Aku memaksa, Shiori, tinggallah disini sebentar. Oke? “

Shiori mengangguk. Ia masih merasakan perih di pusat dadanya, namun ditahannya. Suara tangis karyawati di sudut lobi sama sekali tak membantu, bahkan ada beberapa orang yang menyadari kehadirannya dan segera memberikan semangat ke Shiori. Ada juga yang menawarkan sekotak tissue untuk menghapus air mata Shiori yang mulai menetes dan menggaris di kedua pipi.

Tak berapa lama, Richard akhirnya kembali.

“ Masumi tak ada di manapun. Semua pihak keamanan mencarinya dan baru saja kita mendapat kepastian bahwa Masumi masih berada diatas. Kau bisa tunggu disini , Shiori. “

“ Aku ikut! “

“ Shiori… sebaiknya…”

“ Richard! Kumohon, aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri! “

Richard dapat melihat kesungguhan di mata Shiori dan rasanya percuma melawan keinginannya sekarang. Dengan kedua tangannya, ia membopong Shiori dan membawanya berlari menuju lift. Para karyawati yang melihatnya sempat dibuat takjub. Mereka baru kali ini melihat dokter pribadi Shiori dan panah asmara sepertinya baru saja menancap di hati mereka secara serempak.

Lift yang mereka naiki terasa sangat lambat. Baru kali ini Shiori merasa begitu muak akan kelembutan lift Daito yang memang dirancang untuk tidak membuat penumpangnya terhentak. Richard telah menurunkannya, meski Richard memilih untuk dapat terus menggendongnya. Tapi tatapan heran para security yang ikut bergabung dengan mereka membuatnya sadar akan apa yang baru saja dilakukannya. Sebaiknya kau bersabar, Richard…

Pintu lift terbuka dan langsung menuju lantai teratas. Shiori dan Richard mengikuti para keamanan dan mulai mencari Masumi dimana-mana. Akhirnya Richard menemukannya. Masumi tergeletak di sudut, sangat dekat dengan tembok pembatas keamanan. Ia terlihat kacau dan tertidur dengan tenang.

Shit!

Begitulah kira-kira Richard mengumpat tak ketara dibelakang Shiori. Otaknya sempat kacau dan ia berpikir keras bagaimana caranya menenangkan hysteria Shiori apabila benar ia akan menemukan Masumi dengan kepala yang pecah. Ia bersyukur bahwa direktur muda itu tetap utuh dan kurang ajarnya tengah terlelap. Meskipun begitu, ingin rasanya Richard sendiri yang melempar Masumi ke tengah parkiran dari lantai ini karena sukses membuatnya kalang kabut.

“ Masumi! Bangun!!! Masumi !!!! “

Shiori mencoba berulang kali menggoncangkan tubuh suaminya, namun Masumi seperti bangkai hidup. Ia tetap terpejam dan… mendengkur!!!!

Emosi Richard tersulut mendengarnya. Dengan segera ia memerintahkan keamanan untuk membawa seember air. Dan benar saja, Richard menumpahkan begitu saja air yang entah dari mana sumbernya tepat di wajah Masumi dan membuat pria itu bangun dari mimpi indahnya dengan terbatuk-batuk.

Shiori kaget bukan kepalang melihat cara ekstrim kekasihnya dalam hal membangunkan seorang pemabuk. “ Richard! Tak bisakah kau membangunkannya dengan cara yang lebih baik? “ ucapnya.

Alis Richard naik sebelah. “ Ya? Dan bagaimanakah caranya itu? Dengan mengguncangkannya perlahan? Kau lihat dengan caramu tadi, sama sekali tak berhasil. Ia tak hanya lelap, tapi juga mendengkur! “ balas Richard acuh sambil melemparkan ember kosong ke security tadi.

Shiori merengut. Namun ia tak bisa membalikkan ucapan Richard yang dengan telak menghempaskan keluhannya. Sementara itu, Masumi berdiri kepayahan. Langkahnya agak terseok-seok dan ia membutuhkan kedua pria berbadan tegap untuk membantunya melangkah.

“ Masumi, kau baik-baik saja? Dengar, aku punya berita bagus.. “ sembur Shiori bersemangat bercampur panik. “ ini tentang Maya! “

“ Hemm? “

Mata Masumi masih berat dan kelopaknya hanya berhasil naik setengah. Ia mendengar nama kekasihnya disebut, namun pengaruh alcohol masih belum beranjak jauh dari kesadarannya meski ia telah basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung sepatu hitamnya yang tersemir.

Richard menarik pelan lengan Shiori dan berbisik “ Apa yang kau lakukan? “

“ Kau tahu, Richard! “ Suara Shiori tetap pada nadanya, ia tak berbisik seperti yang dilakukan Richard “ Kita bisa membuat Maya kecil hadir di dunia ini! Dan kita membutuhkan Masumi sebagai ayahnya! Tidakkah ini hebat? “ Shiori setengah terpekik bahagia menuturkan ide yang didapatnya sejak di mobil tadi.

Mata Richard membelalak. “ Apa? APA?!?!?? “

“ Ayolah Richard, kau harus membantunya! “ Shiori mengeluarkan jurusnya yang tak pernah luput sasaran, merengek!

Richard menggelengkan kepalanya cepat. “ Kau tahu ini bisa jadi tindakan illegal! Penyidik akan mengambil sample apapun yang menyangkut kriminalitas di TKP cepat atau lambat. Lagipula, aku tak mau membantu sampah busuk yang sudah kurang ajar menyentuh kekasihku. Dan kalaupun ia menjadi ayah, aku takkan heran kalau ia akan memberikan minuman keras ke bayi dan bukannya sebotol susu hangat! “

Dan pertengkaran kecil mereka semakin memanas. Masumi dan seluruh anak buahnya seperti menonton drama panggung secara langsung tentang sepasang kekasih yang meributkan akan hadirnya bayi.

Tunggu dulu, bayi… ?

Kepala Masumi berdenyut ketika ia mencoba mencerna pertengkaran ini.

Kalau aku tidak salah… mereka mengatakan aku … jadi ayah? Ayah dari bayi siapa? Aku masih perjaka! Meskipun aku mabuk, aku bukanlah type pria yang tidak bisa mengendalikan testoteronnya ketika minta pelepasan!

Masumi mencengkram lengan Richard. “ Apa maksud ini semua? Kenapa kau bisa bilang kalau aku jadi ayah? “ Masumi berganti menatap mata Shiori yang berkaca-kaca. “ Shiori, tadi kau bilang… ini tentang Maya? Apa pendengaranku tidak salah? “

Richard menghempaskan tangan Masumi di kemejanya. “ Dengar, aku tahu kau adalah suami dari Shiori, tapi jangan harap kau bisa bersikap kurang ajar kepadanya karena aku takkan tinggal diam! Dan apa yang kami perbincangkan ini sama sekali bukan urusanmu! Sebaiknya kau turun dan kembali ke ruangan terkutukmu yang tidak sehat itu “ ancam Richard dengan jengah.

Masumi kembali mencengkram kemeja Richard, namun kali ini di lehernya. Ia sama sekali tak takur pada pria yang tingginya 11cm diatasnya ini.

“ Semua yang berhubungan dengan Maya adalah urusanku! Meski aku mabuk, namun otakku masih waras!! Jangan main-main denganku, kau takkan suka denganku kalau aku tak bisa menjaga emosiku, dokter… “

Richard tersenyum sinis. “ Aku tak takut dengan pria pecundang yang tak bisa mempertahankan wanita, kau dengar itu?? “

Richard lengah dengan ucapan sinisnya, dan dengan telak Masumi menghantamkan kepalan tinjunya ke rahang Richard. Shiori berteriak, ia tak mengharapkan pertengkaran antara pria-pria yang disayanginya terjadi. Richard terhempas dan hendak membalas pukulan Masumi dengan kakinya yang panjang. Beruntung para security yang masih disana melerai mereka dengan cepat dan segera membuat jarak sehingga kesempatan mereka untuk menyerang semakin kecil.

“ Apa yang kalian lakukan?! HAH?? “ teriak Shiori histeris.

Dan makian antara Masumi dan Richard kembali terjadi, membuat kepala Shiori menjadi lebih mendidih. Suara tamparan dua kali menggema di atas gedung itu dan membuat para pria disana terheran namun tak dapat berbuat apa-apa.

Richard merasakan pipinya yang terasa panas. Begitu pula dengan Masumi. Mereka tak menyangka ternyata tamparan Shiori cukup keras. Sama sekali tak terbayang akan kekuatannya dibalik tangannya yang kurus.

“ KALAU MEMANG KALIAN TAK BISA MEMBANTU, FINE!!!! AKU AKAN LAKUKAN SENDIRI!!! KALIAN PRIA-PRIA TAK BERGUNA!!!!! “ Shiori kembali berteriak dan segera berlalu meninggalkan semua pria disana menuju ruang lift.

Richard berhasil melepaskan diri lebih dulu dari Masumi, hampir menerjang pintu kaca otomatis dan menyusul Shiori yang belum jauh melangkah. Ia mendapatkan lengan Shiori yang berayun dan hendak di lepaskannya, tapi berhasil ditahan Richard.

“ Sayang, Shiori… Maafkan aku… Aku tadi terlalu emosi. Aku masih sakit hati melihat ia berani melecehkanmu. Kumohon jangan bersikap begini padaku… “

Shiori masih terdiam tanpa memandang wajah Richard yang memelas.

“ Shiori…. Kumohon maafkan aku… Aku akan membantumu! Aku akan merubah sikapku, aku berjanji! “

Richard akhirnya mendapapatkan yang diinginkannya. Perhatian Shiori .

“ Kau…. Akan membantuku? “ Tanya Shiori.

“ Tentu saja! “

“ Apapun itu resikonya? “

“ Kau bisa pegang janjiku! “

Senyum kemenangan Shiori berkembang. Ia merasa harus berterima kasih pada drama yang kemarin sore ia tonton sewaktu mengisi waktu luangnya di kamar .

“ Bantu aku untuk menyukseskan rencanaku. Kita bisa membuat bayi tabung! “

Richard melihat semangat dan keceriaan Shiori, namun ia takut kalau apa yang dipikirkan otaknya menjadi kenyataan.

“….. Bayi tabung…? “

“ Bayi tabung! “

“ Dan….. bayi siapa yang akan kita buat, Shiori… ?  Jangan katakan kalau….. “

“ Tentu saja, Richard! Aku akan merasa pantas menjadi ibu dari bayi Maya dan Masumi! “

Oh, Tuhan…..

Kepala Richard terasa baru saja lepas dari sumbu lehernya seketika. Bayangan yang ditakutkannya ketika ia mendengar tentang penyimpangan kode etik oleh dokter Akagi terjadi sudah. Dan ia tak bisa mundur, ia telah berucap janji semenit lalu.

“ Kau yakin dengan kondisi tubuhmu, Shiori ? “

“ Kau akan membantuku, Richard. Aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya! Ini seperti menciptakan keajaiban dan kita akan mampu melaluinya… Aku sangat tak sabar akan semua ini! “

Richard dapat merasakan eurofia Shiori yang membuncah. Ia benar-benar bahagia secara ekstrem. Richard ikut bahagia karenanya, namun ia masih merasakan ganjalan yang berarti karena akan yang akan di kandung Shiori kelak bukanlah darah dagingnya.
Tapi ia telah berjanji, dan ia tak biasa melanggar janjinya. Pernah ia melanggar janji seorang pasien dan itu mengakibatkan hampir terjadinya sebuah kematian. Dan ia mengalami traumatic yang cukup mendalam sejak saat itu.

“ Baiklah, Shiori…. Kita akan mengusahakan yang sebaiknya. Aku akan segera menghubungi para perawat dan tenaga medis yang tersedia disana. Kita dapat melakukannya lusa. Sekarang kita harus beristirahat. “

“ Tak bisakah malam ini juga? Oh Richard, kau menyiksaku! “
Richard menggelengkan kepalanya dan tersenyum. “ Semua ini membutuhkan stamina yang baik, Shiori. Dan untuk malam ini, kita semua harus mempersiapkan yang sebaik-baiknya. Bukankah kau menginginkan keberhasilan yang bisa membuat kita semua terseyum ? Kalau ya, kau harus menuruti perintahku. Aku tak cuma kekasihmu, aku doktermu. “

Shiori tersenyum simpul mendengarnya. Ia tahu kalau kekhawatiran Richard cukup beralasan, dan ia sebaiknya tak bersikap kekanak-kanakan dan malah membuat usahanya bisa gagal.

“ Terima kasih, Richard. Kau tahu betapa sangat berartinya pertolonganmu. “ Shiori menyentuhkan kedua telapak tangannya di pipi Richard dan mengelusnya perlahan di pipi yang tadi ia tampar. 

“ Maafkan aku karena menamparmu… “

Richard tersenyum. “ Tak apa, kadang aku memang membutuhkannya. Asal kau tak terlalu sering melakukannya padaku. Itu cukup sakit, kau tahu? “

Dan suara tawa kecil mewarnai pelukan mesra mereka. Mereka pun berciuman. Melupakan dimana mereka berada. Dan ciuman mereka terputus oleh suara dehaman yang berat.

“ Aku ikut senang kalian bahagia. Tapi jangan lupakan aku. Aku harus terlibat dalam pembicaraan kalian karena aku mencuri dengar, ini ada hubungannya juga dengan Maya. Aku rasa, aku yang paling berhak tahu untuk semua tragedy ini. Bukankah begitu? “ ucap Masumi datar dan agak berhati-hati.

Richard melepaskan pelukannya dan berjalan menuju Masumi yang tak jauh darinya. Semua pria berseragam security tetap di luar dan tak bisa mendengar pembicaraan mereka, namun mereka tetap awas dan menjaga bos yang menggaji mereka tiap bulannya tanpa alpa.

“ Masumi, aku akan langsung ke intinya. Aku membutuhkan benihmu 2 hari kedepan. Kau harus menetralisir alcohol dalam tubuhmu secepatnya. Malam ini kau harus ikut denganku dan aku sedang tak ingin di bantah. Kita akan melakukan serangkaian pemeriksaan mendasar padamu dan kemungkinan besar juga kau akan di rawat disana. “

Masumi berpikir keras, ia merasa tamparan Shiori tadi cukup memberikannya kejutan dan membuat pengaruh buruk alcohol lari tunggang langgang meninggalkan otaknya.

“ Apa kau bilang? Rrrr…. Benih ? apakah yang kau maksud itu…. “

Richard mengacak rambutnya. “ Ayolah Masumi, usiamu berapa sekarang? Bersikaplah secara dewasa! “

“ Jadi maksudmu… aku harus ber… mast….. “ Masumi terbata-bata mengucapkannya, meski ia telah menikah, namun pembicaraan ini masih terlalu tabu untuk perjaka usia 35 tahun. Apalagi sedari tadi Shiori bersembunyi di punggung Richard dan membuang wajah. Masumi dapat melihat rona merah di pipi istrinya.

“ Arrgh!!!! Inilah kenapa aku benci perjaka tua! “ Richard sekarang tak cuma mengacak rambutnya, ia bahkan menjambaknya. “ Dengar Masumi, aku tahu ini akan terdengar kurang ajar, tapi aku memiliki segudang foto-foto Maya hasil editing para fans di internet. Bahkan mereka menemukannya juga di laci dokter Akagi yang sudah di albumkan! Kau takkan mempersulitku mendapatkan benihmu, kau takkan berani! Kalau kau ingin mendapatkan bayimu dan Maya, kita harus berdamai dan bekerja sama sekarang juga! “

Masumi tercenung mendengarnya. Ia bahagia. Ia juga terkaget mendengarnya. Bahkan Shiori mau meminjamkan rahimnya. Meski di Asia Tenggara hal ini dilarang, mereka tetap berani maju. Dalam kurun waktu tiga hari, mereka akan ke Eropa dan melaksanakan proses ini dengan efisien.

Para security diluar tak mengetahui apa yang terjadi. Dalam hati mereka ikut merasa sedih, karena Nyonya Hayami berselingkuh tepat di depan suaminya. Tapi keheranan mereka terbit manakala Richard dan Masumi saling berpelukan, bahkan mereka melihat yang yang tak pernah terjadi sebelumnya di Daito. Masumi hayami menangis terharu, diikuti oleh Shiori yang juga merangkulnya dan senyuman hangat dari Richard sang tersangka pihak ketiga.

Masumi mengekor pasangan Shiori dan Richard menuju lift. Ia benar-benar merasakan kesempatan hidup keduanya sekarang. Kesegaran dan gairah hidup kembali membanjirinya, tepat seperti ketika ia jatuh cinta kepada pujaan hatinya.

Maya…

Ia bersyukur masih dapat menginjakkan kakinya di dunia ini. Tadi ia hampir saja melakukan hal konyol, berpikir bahwa kematian dapat mempertemukan mereka lagi dengan cara instant. Masumi beruntung Maya menyadarkannya.

Tunggu dulu….

Masumi berusaha mengingat kembali urutan kejadian hari ini. Setelah tadi ia menenggak minuman keras di ruangan rahasianya, ia yakin Maya mendatanginya, namun ternyata gadis itu tak lain adalah Shiori, istrinya sendiri. Dan hantaman brutal Richard jelas nyata karena ia masih merasakan nyeri di semua rusuk bagian kiri.

Ketika Masumi meraba rusuknya yang ngilu, ia merasakan ada yang mengganjal disaku dalam jasnya. Ia merasakannya dan mengambilnya perlahan dari kantong. Mata Masumi membelalak dengan benda yang dilihatnya tepat di telapak tangannya yang besar.

The Deep of Purple Rose

Masumi takkan pernah dapat melupakan cincin cantik bertahtakan berlian 6 karat berwarna ungu dan putih bening, yang berukir mawar ungu disekelilingnya. Ia memiliki dua buah, dan hanya dua buah cincin seperti ini di dunia. Yang satu, ikut bersemayam dalam makam Maya, dengan harapan cintanya juga akan selalu menyertai Maya dimanapun ia berada, meski itu di dalam kubur. Yang kedua, ia memang memesan sepasang, bentuk yang mirip seratus persen sama dengan yang dikenakan Maya. Namun cincin yang ini berukuran sesuai jarinya, lebih besar dan lebih kokoh.

Ia menyematkan cincin itu perlahan dijarinya. Dan ia tak salah. Ini adalah cincin yang ia taruh di boneka lilin wujud Maya dalam balutan kimono Bidadari Merah. Ia menaruhnya tepat di tangan boneka Maya, didalam kotak kaca yang sangat tebal dan anti peluru. Benda seberat apapun harus berusaha keras memecahkannya, bahkan ia membutuhkan tenaga sekian pria untuk mengangkatnya dari helicopter pribadinya, itupun dibantu oleh sebuah alat khusus.

Bayangannya kembali melanda pikiran Masumi. Tak memperdulikan Shiori dan Richard yang tengah asyik membahas rencana bayi tabung yang akan mereka semua jalani.

Masumi tadi sangat yakin, kalau ia telah melewati dinding pembatas keamanan. Ia masih ingat ketika matanya nyalang melihat barisan mobil yang amat kecil dibawahnya. Setelah itu buram. Karena ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan permen. Dan ia memejamkan mata…

Ya, ia sangat yakin ia merasakan hisapan gravitasi bumi menariknya. Namun kenyataannya, semua orang mendapatinya sedang tertidur lelap di lantai gedung yang dingin dan bermandikan cahaya bulan.

Apa yang sebenarnya terjadi ?? Maya….


Sunday, 31 March 2013

Background Music of Paragraph 12 by Celine Dion


                            Immortality



So this is who I am,
And this is all I know,
And I must choose to live,
For all that I can give,
The spark that makes the power grow

And I will stand for my dream if I can,
Symbol of my faith in who I am,
But you are my only,
And I must follow on the road that lies ahead,
I won't let my heart control my head,
But you are my only
We don't say goodbye,
We don't say goodbye,
And I know what I've got to be

Immortality
I make my journey through eternity
I keep the memory of you and me inside

Fulfil your destiny,
Is there within the child,
My storm will never end,
My fate is on the wind,
The king of hearts, the joker's wild,
But we don't say goodbye,
We don't say goodbye,
I'll make them all remember me

Cos I have found a dream that must come true,
Every ounce of me must see it through,
But you are my only
I'm sorry I don't have a role for love to play,
Hand over my heart I'll find my way,
I will make them give to me

Immortality (oh baby)
There is a vision and a fire in me (ohh)
I keep the memory of you and me, inside
And we don't say goodbye
With all my love for you
And what else we may do
We don't say, goodbye

Paragraph 12


                                  You Belong To Me 
                   ( Immortality )



Tubuhnya terasa melayang. Sangat ringan. Masih memejamkan mata, Masumi dapat merasakan hembusan angin menerpa wajahnya dengan kuat. Deru udara yang bergemuruh di gendang telinganya serta adrenalin yang terpacu.

Tapi seketika tubuhnya yang terhisap gravitasi bumi terasa terhenti. Ia dapat merasakan tubuh beratnya tertahan oleh sebuah pelukan.

Pelukan?

Ya, pelukan… pelukan ini… sangat menentramkan jiwanya. Masumi mengenali aroma manis ini. Tubuhnya pun hapal akan proporsi wanita yang memeluknya dengan posesif. Dagu Masumi bersandar lemah dibahu mungil yang terasa teramat rapuh dan ringkih.

Tapi bagaimana bisa…?

Perlahan Masumi membuka matanya. Ia berusaha menggapai sinar yang mampu ia serap sebanyak-banyaknya di kegelapan malam kota Tokyo dengan susah payah. Pengaruh alkohol tinggi membuatnya sedikit banyak berjuang mengeyahkan pandangan kabur dan berhasil menangkap sosok wanita yang sangat dirindukannya beberapa hari ini.

Maya..

MAYA???

Masumi membelalakan matanya. ia menggelengkan kepalanya dengan kuat lagi dan lagi. Tapi matanya tak salah. Ia melihat Maya, tapi terasa sedikit berbeda. Kulitnya terlalu pucat dan kimono merah yang dipakainya terlihat seperti lukisan. Kalau Masumi tak mabuk, ia akan menganggap ini sangat mustahil, karena matanya menangkap sepasang sayap hitam dipunggung sang kekasih yang sedang memeluknya, menahan tubuhnya dengan kedua tangan mungilnya agar tidak mati konyol di lapangan parkir.

Jangan lakukan ini, Pak Masumi….. kumohon…

jangan….

Masumi dapat mendengar suara Maya dengan sangat jelas. Ya.. YA! Ini SUARA MAYA!!! Tapi entah kenapa, Masumi tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan dan tak mau lepas dari sana. Ia membuka mulutnya, ingin berbicara. Namun hanya hembusan nafas yang bisa menjawab perkataan Maya.

Pak Masumi, kalau kau lakukan ini, kita tak dapat bertemu lagi… Karena itu, kumohon bertahanlah. Demi diriku… Demi cinta kita… Aku akan menunggumu.. Karena aku mempercayai cintamu padaku…

Begitu kuat keinginan Masumi untuk membalas pelukan gadis mungil ini di tubuhnya. Ia mati-matian berusaha memerintahkan kedua tangannya yang tak mampu bergerak. Tak cuma suaranya, ia bahkan kehilangan kendali akan tubuhnya. Ia seperti sebuah manekin toko yang dengan mudah di arahkan kesana dan kesini.

Aku sangat mencintaimu, Pak Masumi…

Dan dengan kata-kata ini, Masumi dapat merasakan sebuah sapuan lembut bibir manis Maya dibibirnya. Sangat memabukkan dan hangat. Rasanya luar biasa lebih nikmat dari berbotol botol anggur yang telah ia tenggak seharian tanpa makan. Begitu damai, hingga matanya kembali terasa berat. Ia berusaha tak menutup matanya. Indra penglihatannya belum puas memandangi sosok Maya di hadapannya. Namun sekali lagi, ia kini lumpuh dan hanya kegelapan yang dapat dirasakan.

Dalam hati ia merutuk dan bersumpah serapah pada berbotol-botol anggur mahal yang tergeletak di ruangan rahasianya tadi. Sepertinya, ini akan jadi awal baru yang baik bagi tubuh Masumi.





Tuesday, 26 March 2013

Background Music of Paragraph 11 by Britney Spears


                               Everytime



Notice me
Take my hand
Why are we
Strangers when
Our love was strong
Why carry on without me

Everytime I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby 
And everytime I see
Your in my dreams
I see your face
Its haunting me
I guess I need you baby

I make-believe
That you are here
Its the only way 
That I see clear
What have I done
You seem to move on easy

Everytime I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby 
And everytime I see
Your in my dreams
I see your face
Your haunting me
I guess I need you baby

I may have made it rain
Please forgive me
My weakness Caused you pain
And this song's my sorry

At night I pray
That soon your face will fade away

Everytime I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby 
And everytime I see
You ruin my dreams
I see your face
Your haunting me
I guess I need you baby

Paragraph 11



You Belong To Me - ( Everytime )


Dua hari sudah Maya tertidur selamanya. Pemberitaan tentangnya tak lelah mengudara di semua media massa. Seluruh mulut manusia membicarakannya, menangisi kisah tragis drama percintaan yang terangkat ke dunia nyata, sungguh ironi. Masumi Hayami, sang kaisar Daito makin jarang terlihat. Desas desus keretakan rumah tangganya pun naik menjadi headline surat kabar. Uniknya, sekarang tak ada lagi pemblokiran berita. Seakan-akan membenarkan isu, aksi tutup mulut kerap terjadi ketika para wartawan berusaha mengorek informasi.

Pementasan karya agung Bidadari Merah akhirnya terpaksa diambil oleh Ayumi. Tak heran apabila pertama kali wasiat Maya dibacakan tentang hak pementasan dialihkan ke dirinya, ia menolak mentah-mentah dan menyumpah serapah di toilet. Butuh waktu khusus bagi dirinya untuk menghidupkan Bidadari Merah kembali. Sebelumnya, ia mengadakan audisi konyol bersama Bu Mayuko Chigusa untuk mencari kandidat Bidadari Merah yang lain, hanya sebagai peyakin dirinya, bahwa hanya ialah yang mampu. Dan jawabannya sudah sangat jelas. Tak ada artist satu pun yang berani bersaing dengannya, bahkan seniornya pun mendukungnya.

Daito juga tak terlalu ambil pusing tentang bagaimana kelanjutan Bidadari Merah. Yang sebenarnya, Masumi lah yang sudah kehilangan ambisi dan tujuan. Pemasaran tidak seheboh lalu, mungkin dengan tujuan menghormati Bidadari terdahulu. Entahlah…

Penurunan harga saham, pembatalan kerja sama dengan beberapa investor, jam kerja yang panjang dan beberapa catatan pengunduran karyawan terus menghantui Daito. Inilah kehebatan daya hancur Maya Kitajima kepada perusahaan raksasa yang ditakuti sekaligus disegani siapapun. Meskipun tidak dalam batas ambang ataupun masuk golongan collaps, namun cukup membuat Eisuke kegerahan. Bentakan dan teriakan yang dulu sering ia jadikan senjata, sama sekali tak mengena. Bujukan lembut Shiori tak dihiraukan. Masumi sekarang seperti mayat hidup yang terprogram mulai dari bangun pagi hingga tidur malam. Yang di syukurkan, ia memiliki stamina diatas rata-rata. Dokter sekaliber Richard tak menemukan penyakit serius, ia hanya menyarankan pengurangan rokok, minuman keras dan istirahat lebih awal. Ia tak begitu perduli Masumi mendengarkannya atau tidak, ia telah menjalankan tugasnya sebagai dokter. Dan akan tetap begitu.

Namun tak selamanya mayat hidup itu bisa benar-benar datar. Ia pernah membombardir karyawannya tanpa ampun. Ia berteriak seperti orang kehilangan akal dan menghancurkan layar monitor flat yang tak berdosa dengan tangan kosong. Ya! Didepan semua karyawannya! Ia sebaiknya berganti profesi menjadi petinju dan bukannya seorang direktur papan atas. Ketakutan akan tirani Masumi yang kejam semakin mengerikan dan membuat para pekerjanya merasa di neraka. Yang bertahan hanyalah orang-orang bermental baja, atau tepatnya lagi adalah orang-orang yang merasa tak memiliki nyali mencari sumber penghasilan lain yang bisa sepadan dengan Daito.

Derap langkah kaki wanita terdengar menggema di lorong kantor Daito. Ia menggunakan sepatu hak rendah, berwarna merah dalam dan senada dengan gaunnya yang cantik. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Cukup malam hingga membuat Richard memaksa untuk menemani. Ia takkan bisa membiarkan Shiori mendatangi Masumi sendirian, dengan wajah cenderung gusar serta khawatir dan di jam yang sudah seharusnya ia beristirahat.

“ Richard, kau tak perlu repot menemaniku. Aku bisa menghadapinya sendiri. Kau tak usah khawatirkan aku. “ Ucap Shiori lembut tanpa memperlambat langkahnya.

Richard tak kesusahan menjajarinya, karena beruntung ia memiliki sepasang kaki yang cukup panjang. “ Aku hanya menjaga milikku, Shiori. “

Hanya dengan sebuah kalimat itu, Shiori memerah. Ia tak menyangka bisa sejatuh cinta ini pada Richard. Ketika mereka hampir sampai di lift, handphone Richard bergetar. Ternyata ada pasien yang sedang membutuhkan penanganan segera. Dahi Richard mengkerut, ia membenci hal ini, namun ia masih berdedikasi sebagai dokter.

“ Tak apa, Richard. Aku akan meminta supir menjemputku nanti. Kau tangani dahulu pasienmu. “

Wajah Richard memelas. Kecewa. “ Baiklah, maaf aku hanya bisa menemanimu sampai disini, sayang. Aku akan segera menjemputmu kalau aku memiliki waktu yang cukup. “

Shiori tersenyum dan segera memasuki lift yang hendak membawanya ke lantai teratas, di mana suaminya berada. “ Tak usah terburu-buru, Richard. Pergilah. Aku akan baik-baik saja. “
Dan pintu lift menutup, membawa Shiori ke tempat tujuannya. Sambil melihat tombol angka berubah, Richard mengambil handphonenya dan segera menuju basement.

“ Masumi… “

Shiori mendapati dirinya sendirian di kantor Masumi yang luas. Sekretaris muda menggantikan Mizuki sedang cuti hari ini. Namun setelahnya ia segera pulang karena jam kerja yang sudah lewat.

Ternyata urusan transisi pemain Bidadari Merah juga berpengaruh pada jam kerja karyawan Daito hampir secara keseluruhan. Ia menutup pintu dan kembali memanggil Masumi, namun tetap tak ada jawaban. Kediaman Hayami memastikan kalau Masumi belum pulang sejak pemakaman Maya dan selama itu ia tidur di kantor.
Ia menelpon Masumi.

Tak diangkat.

Shiori menjadi semakin khawatir. Ia kembali memencel tombol handphonenya dan terdengar suara ringtone sebuah handphone yang sudah sangat dihapalnya.

Masumi? Ia disini!

Matanya berusaha menangkap arah suara, dan letaknya…. Dibalik lukisan?

Kembali ia menelpon Masumi dan benar, suaranya dari balik lukisan. Ia menggeser lukisan itu dan menemukan sebuah tombol berwarna hitam, sewarna dengan dindingnya yang kelam. Dan tiba-tiba dinding yang menggantungkan karya pelukis ternama itupun bergeser.

Pintu?

Ia mengikuti arah cahaya yang cenderung orange senja. Dan ia pun takjub.

Tak pernah terpikir dalam benaknya ia mendapati ruangan rahasia milik Masumi disini. Di kantor Daito. Berbagai lukisan Bidadari Merah terpajang memenuhi dinding. Ada pohon plum tiruan yang menghiasi sudut ruangan. Lampion-lampion cantik menghiasi langit-langit, dan tirai tembus pandang berwarna merah pekat melilit dan menjuntai disana sini. Yang paling membuat Shiori terpana adalah berdirinya sebuah patung realistis berukuran tubuh asli manusia didalam dinding kaca. Itu Maya! Maya yang sedang menggunakan pakaian Bidadari Merah. Ia menggenggam sebuah ranting pohon plum lengkap dengan selendangnya yang lembut. Matanya sempat berkedip cepat, ia tak percaya kalau Masumi memiliki duplikat cincin yang ia lihat sewaktu Masumi mengenakan cincin kepada jasad Maya dan akhirnya ikut dikuburkan. Masumi pasti sudah membayar mahal sang desainer karena ruangan ini seperti ruangan pemujaan Bidadari Merah yang sakral. Dan entah kenapa ia merasa agak berdosa karena memasukinya tanpa ijin empunya.

Matanya berhasil menangkap sosok Masumi yang tertidur di sofa panjang. Ia sedih melihatnya. Masumi yang dahulu terlihat berwibawa, sekarang seperti pemabuk tak berguna yang dikelilingi botol-botol minuman keras dan berserakan disana sini tanpa aturan. Ia luar biasa berantakan.

“ Masumi, bangunlah sebentar. Ada yang ingin kutanyakan… “

Namun mata Masumi tetap tertutup dan yang terdengan hanya dengkuran halus.

“ Masumi.. “ Ia mengguncangkan tubuh berat Masumi. “ Masumi… “

Akhirnya mata Masumi terbuka perlahan. Matanya merah dan berair. Sedikit bengkak, mungkin disinilah ia bisa puas menangisi kepergian Maya.

“ Masumi, besok siang aku akan mendampingimu memimpin rapat pemegang saham. Aku harus ada disana, kau tak tahu kekacauan apa yang kau buat dalam dua hari ini. Maaf aku harus bicara seperti ini, tapi keluhan dan surat pengunduran diri tak bisa kau acuhkan begitu saja. kau harus bangkit, Masumi… Kau tak bisa begini terus. “

Shiori terus berusaha membangunkan Masumi dengan membicarakan maksud kedatangannya. Ia pun mendengar tentang buruknya situasi Daito dan terutama, sang direktur muda. Amukan Masumi yang diluar batas kepada bawahannya dan pemecatan terang-terangan kepada wanita hamil bukanlah hal yang baik.

Pemegang saham ikut mengalami dampaknya. Para calon investor mengurungkan niatannya untuk menanamkan modal. Dan keinginan Masumi yang terus-terusan menenggak minuman keras sudah dipastikan ia ingin bunuh diri. Maka itu tanpa pikir panjang, Shiori langsung berusaha menyadarkan Masumi, sebelum terlambat atau ia akan menyesal selamanya.

“ Masumi, apa kau mendengarku? “

Shiori masih ditempatnya, berlutut diatas karpet merah yang tebal. Ia mendapati mata Masumi yang menyedihkan. Namun ada yang berbeda dari tatapan matanya dan cukup membuat Shiori menjadi sedikit takut.

“ Maya… Kau datang padaku? Maya…. Mayaa….. “

Shiori membelalak. Berada dekat dengan pria yang bergelung dengan berbagai botol minuman keras ternyata bukanlah ide yang cukup bagus. Ia menyesal meminta Richard tak menemaninya tadi. Ketika ia hendak beranjak pergi, tangan kokoh Masumi menariknya hingga ia terjatuh diatas tubuh Masumi yang kekar dan beraroma tajam dari alkohol.

‘ Masumi! Lepaskan!!! MA… “ Dan meneganglah seluruh tubuh Shiori setelah bibir Masumi melumatnya dengan rakus.

Sekuat tenaga ia berusaha menolak pelukan Masumi, namun itu hanyalah kesia-siaan. Tenaganya sama sekali tak sepadan dengan ukuran tubuh Masumi yang besar. Meski memang, Richard lebih besar dari Masumi, namun ia selalu diperlakukan lembut. Ia tak pernah mendapati sentuhan kasar seperti ini sebelumnya. Ia merasakan tangan Masumi memeluknya kuat-kuat, seperti hendak meremukkan seluruh tulang rusuknya. Ia kembali berusaha mendapatkan momentum melarikan diri, pikirnya ia sedikit berhasil, namun ia malah jatuh keatas karpet tebal dan posisinya sama sekali tak menguntungkan. Tubuh Masumi menindihnya lekat dan masih berusaha mendapatkan bibir Shiori yang panik.

“ Maya… Aku merindukanmu! Aku.. aku takkan melepaskanmu lagi! Tidak Maya, aku tak bisa melihatmu pergi lagi, kumohon…. “
Hati Shiori tersayat mendengarnya. Ia merasakan titik air mata Masumi membasahi pipinya. Namun sedetik kemudian, ia menyadari bahwa ia tetap harus pergi dari sini, secepatnya!

Tiba-tiba tubuh Masumi yang tadi menindihnya, terlempar begitu saja. Richard datang tepat waktu. Ia menghadiahkan kepalan tangannya tepat mengenai pelipis Masumi. Direktur muda Daito itupun terlempar dan menabrak meja hingga memecahkan guci antik yang entah berapa digit angka harganya.

Richard melangkah lebar dan mendaratkan tendangan keras ke perut Masumi dengan telak. Tak ayal perut Masumi langsung mengejang dan memuntahkan semua minuman keras yang tadi ia tenggak. Ketika tendangan berikutnya hendak dilancarkan,Shiori berhasil menghentikan aksi brutal kekasihnya kepada suaminya.

“ Richard! Hentikan! Kumohon jangan begini!! “

Richard membalikkan badan dan menarik lengan Shiori dengan cepat.“ Ayo Shiori, kita tak perlu lagi menolong sampah busuk ini lagi! “

“ Ta… Tapi Richard…. “

Richard tak bergeming.Ia tetap menarik lengan Shiori agar menjauh dari sang suami yang sedang tak jelas kondisinya. Namun Shiori kembali menarik lengannya ketika ia sudah berada di ruang kerja Masumi yang besar.

“ Richard! Tunggu dulu…. Bagaimana kau bisa tahu kalau terjadi sesuatu padaku barusan?Apakah ada yang memberitahukan padamu?“ mata Shiori mencari-cari seseorang selain mereka, terutama sekretaris muda yang tadi mempersilahkannya masuk ke dalam.

Richard tetap diam dan ia kembali menarik tangan Shiori agar segera meninggalkan gedung. Tapi Shiori kembali berusaha menarik tangannya kearah berlawanan.Sehingga aksi tarik menarik terlihat konyol dan frustasi.

“ Aku bertanya padamu, Richard Jefferson! “

Mata Richard menajam.Ia mempererat cengkraman tangannya di lengan Shiori yang kecil dan membuat wanita muda itu mengaduh.Richard tak menggubris bentakan Shiori dan membuatnya terpaksa membopong tubuh Shiori di lengannya.

Wanita itu berusaha melawan, tapi sekali lagi, ia tampak hanya seperti lembaran kertas tipis yang dengan mudah terbawa angin. Hanya suara isakan tangis Shiori yang terdengar makin menjauh dari telinga Masumi.

Masumi mengerjabkan matanya berulang-ulang.Ia masih memegangi perutnya yang kelu dan perih. Ia yakin, Richard mengeluarkan semua kekuatannya dan menghempaskannya tepat ke tubuh Masumi yang terkapar.

Masumi tertawa, sambil memegangi perutnya agar tawanya tak membuat sakitnya bertambah parah. Dengan susah payah, ia membawa tubuhnya berdiri dan berjalan perlahan keluar. Ia beruntung para karyawan telah pulang. Hanya security yang tetap berjaga di pos masing-masing. Meski pun mereka melihat langkah sempoyongan Masumi yang tak beraturan, mereka akan tutup mulut dan menganggap tak melihat apapun. Sekali lagi, tirani Masumi masih menghantui status pekerjaan mereka di Daito.

Masumi akhirnya berada di atap gedung Daito yang luas. Ia berdiri bersender gontai di dinding pembatas yang menjaga tubuhnya agar tetap pada gedung yang tinggi menjulang. Ia melihat sekitarnya. Hamparan cahaya lampu kota Tokyo yang sepertinya takkan pernah padam, memamerkan segala warna dan mengerlip genit kearah Masumi. Meski sebenernya mungkin itu hanya pikiran Masumi yang masih terpengaruh alcohol. Mungkin juga…

Ia melihat keatas. Langitnya cerah. Ia dapat melihat hamparan cahaya bintang yang berusaha bersaing dengan cahaya buatan di bumi. Namun takkan bisa lebih spektakuler dibandingkan kampung halaman Bidadari Merah. Dan Masumi pun mengingat gadis mungilnya.

Ia merindukannya.

Maya…

Masumi memejamkan mata. Memori ketika ia pertama kali bertemu dengan Maya sangatlah manis. Ia masih teramat kecil, tinggi tubuhnya hanyalah sebatas dada bidang Masumi. Dan gadis mungil itu baru berusia 13 tahun. Ingatannya kembali mengalir, ketika Maya memerankan Beth. Ya, saat itu, jantung Masumi berdegup lebih kencang dari biasanya. Pada saat itu, penyangkalan diri besar-besaran terjadi. Ia takkan mungkin bersikap jujur pada perasaannya sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana wajah orang-orang apabila pada saat itu juga ia menyatakan cintanya kepada Maya. Mungkin rumah sakit jiwa akan menjadi tempatnya berkubang sekarang.

Lalu ia mengetahui hubungan Maya dan Sakurakoji yang cukup dekat. Dan saat itu, ia belajar akan apa arti dari kata cemburu. Namun ia tak bisa berbuat banyak. Ia tetap berada di balik bayangan Mawar Ungu yang selalu ia kirimkan kepada gadis pujaannya sejak pertama kali Maya tampil.

Hatinya semakin kalut ketika tanpa sengaja, ia telah membunuh calon ibu mertuanya. Ia tak bermaksut melakukan hal kotor itu. Yang ia pikirkan hanyalah segi bisnis, tepat seperti jendral besar mengajarkan jalan hidupnya. Dan kata benci yang selalu diucapkan Maya berulang-ulang padanya bagaikan langit yang runtuh menimpa tepat ke kepalanya yang terasa kosong. Namun ia tak menyerah untuk mendukung Maya. Tetap sebagai pengecut yang berlindung dari rangkaian bunga mawar ungu andalannya.

Ia tak menyadari, entah sejak kapan sikap Maya padanya menjadi melunak. Ia bahkan bisa memeluk Maya di tengah derasnya guyuran hujan yang membasahi tubuh mungil gadisnya. Mereka bahkan bisa melewatkan malam berdua, meski Masumi tahu, itu akan menjadi malam yang amat berat baginya. Dimana hasratnya untuk memiliki dan mencintai Maya amatlah besar. Namun ia juga seorang pelindung. Ia takkan berbuat hal yang tak pantas pada gadis yang tengah tertidur di pelukannya yang makin menghangat.

Kejadian Astoria semakin menguatkan kenyataan. Ia sangat yakin kalau mereka mampu berjalan bersama. Namun sekali lagi, posisi Masumi yang sebagai tunangan Shiori Takamiya takkan memudahkan jalannya. Di tambah lagi pemuda kurang ajar—Sakurakoji—itu tetap berusaha mendapatkan cinta Maya. Pernyataan cinta yang diterima Maya sekali lagi menampar keras kesadaran Masumi. Dan akhirnya ia kembali berjalan kepada jalan yang menggaris datar.

Mata Masumi makin terpejam kuat. Ia takkan bisa lupa insiden pernikahannya. Ia mengira ia akan melihat acting Maya yang luar biasa cantiknya. Ia memang jatuh cinta kembali melihat Maya yang berubah menjadi sosok Bidadari Merah. Namun ia….

Masumi terisak. Ia takkan mampu menghilangkan ingatannya ketika ia melihat Maya meregang nyawa. Ia panik dan kacau. Semua dunianya hancur seketika saat akhirnya ia harus melihat gadis cantiknya tertidur di peti mati dengan menggunakan kimono merah. Sejak Maya dikebumikan, air matanay telah habis. Ia tak perduli lagi akan sekitarnya. Ia merasa sekeliling manusia adalah musuhnya. Dan mereka semua mengharapkan kehancurannya.

Masumi kembali tertawa.

Ia takkan lupa bagaimana sumpah serapah yang terus di lemparkan orang-orang ke wajahnya. Baik di meja direksi ataupun di pelataran parkiran mobil. Bahkan ia menerima lemparan telur busuk yang tak sempat ia hindari. Armani-nya menjadi bau dan ia langsung membuang jas itu begitu saja di jalanan.

Tawa Masumi semakin sumbang.

Ia merasa ia memerlukannya. 

Dan tawa sumbangnya kembali menjadi isakan tangis perlahan demi perlahan.

Pertama, ia di tinggal mati oleh ibunya. Setelah itu, ia harus menjadi budak pekerja dari Eisuke Hayami. Menjadi tunangan-lalu suami wanita yang tak ia cintai dan mencintai wanita yang amat membencinya. Membunuh seorang ibu lemah yang buta. Memecat karyawan seenaknya. Dan yang terakhir ini, pukulan serta tendangan dari selingkuhan istrinya sendiri.

Masumi menghirup nafasnya dalam-dalam. Ia mengangkat tubuhnya, melewati dinding pembatas keamanan dan duduk santai diatasnya. Sama sekali tak merasakan takut ketika kaki panjangnya menjulur dan yang dilihat dibawahnya adalah barisan mobil terparkir rapi yang tampak seperti semut-semut yang sedang berjaga. Air matanya kembali menetes dan kali ini mengalir cukup deras. Ia tergugu hingga bahu kekarnya terguncang hebat. Ia menapakkan kakinya pada segaris beton yang pas dengan ukuran satu tapak kaki manusia, dan itu masih di luar dinding pembatas keamanan. Matanya masih terpejam. Dan dengan perlahan, ia melepaskan pegangan tangannya pada tepi dinding serta mendorong tubuhnya kedepan. Ia menerima daya gravitasi bumi yang terasa semakin menghisapnya kebawah.

Maya, aku sangat merindukanmu, sayang…..




*



Kedua insan itu masih dalam pergulatan. Shiori masih mempertanyakan penculikan Richard yang cukup barbar. Ia sangat malu pada para security yang berusaha menolongnya, namun di cegah dengan baik-baik oleh wanita muda itu meski masih di panggul Richard.

“ Masuklah! “

Laki-laki kokoh itu menunjukkan belangnya. Ternyata ia agak kasar apabila sedang marah. Shiori tidak menyalahkan, namun ia berhak tahu akan alasan Richard datang kembali padanya.

“ Richard, aku akan masuk ke mobilmu. Tapi tidak dengan cara kasar seperti ini! “ dan ia pun melangkahkan kaki jenjangnya kedalam sedan sporty mewah milik dokter pribadinya itu.

Richard mendengus dan segera memposisikan dirinya di belakang kemudi. Mereka pun mulai melaju keluar dari gedung Daito yang sepertinya sudah sangat dikutuk Richard beberapa waktu lalu.
Kecepatan mobil melaju stabil. Richard bukanlah type pria yang melampiaskan emosinya ke hal peletup adrenalin yang lebih berbahaya. Ia lebih suka hatinya yang panas meledak ledak, namun ia tetap dalam area berkepala dingin.

Mereka tetap dalam kesunyian. Shiori sama sekali tak lagi menanyakan alasan Richard kembali ke Daito. Ia memilih untuk menatap keluar jendela, mengamati cahaya lampu yang berkerlap kerlip dan para pejalan kaki yang memenuhi trotoar toko.

“ aku mendapat kabar yang cukup penting. Kupikir aku harus menangani pasien, namun begitu aku sampai di basement, kabar yang kudapatkan lebih mengejutkan lagi. “

Ucapan Richard berhasil memancing rasa ingin tahu Shiori yang sedari tadi di timbunnya. Namun belum cukup kuat untuk menarik wajah Shiori dari kaca pintu mobil.

“ Kabar tentang apa? “

Richard melirik wanita disampingnya. Ia masih membuang mukanya meski ia bertanya.

“ Dokter Akagi tertangkap tangan sedang melakukan pelanggaran kode etik. Perawat yang biasa menangani Maya dan dirimu mengetahuinya sebelum terlambat. Ehm, kau masih ingat dokter Akagi? Dia pria tua yang sudah menjadi penggemar berat Maya bertahun-tahun. “

Usaha Richard berhasil. Shiori langsung membalikkan badannya dengan mata yang membelalak penuh keingin tahuan.

“ Pelanggaran apa? Ini berhubungan dengan Maya? Katakana padaku, Richard! “

Richard tersenyum. Ia merendahkan kecepatan dan meposisikan mobilnya dijalur lambat sehingga tidak menghambat laju pengemudi lain dibelakangnya.

“ Ia dengan lancang mengambil sel telur Maya yang matang. Gerak geriknya terdeteksi ketika ia hendak melakukan prosesi pembuahan luar—bayi tabung, untuk lebih jelasnya. Para security telah mengamankannya setelah keributan hebat antara dokter tua itu dan perawatmu terjadi. Ia terobsesi pada Maya, sampai pengambilan sel telur Maya pun ditempuhnya. Memang terdengar sangat ganjil, mengingat beliau adalah dokter yang sangat terhormat dikalangan kami. Sampai sekarang kami tak tahu bagaimana caranya ia mendapatkan sel telur dari Maya. Para penyidik akan segera mengungkapkannya. Aku langsung berlari ketempatmu, dan mendapatkanmu dilecehkan oleh sampah pemabuk itu! “

“ STOP! “

Shiori berteriak kencang. Wajahnya yang tadi jual mahal sekarang terlihat semakin kacau. Richard sempat terkaget dan ia segera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang sudah tersedia.

“ Jadi… apakah… karena hal ini Maya meninggal? Dokter itu… “
Richard mengelus rambut Shiori. Kepalanya sedikit menggigil, sepertinya Shiori pun menahan emosi yang cukup besar. 

“ Maya murni bunuh diri. Ia menyimpan kapsul sianida dan meminumnya ketika ia mengambil air sungai sewaktu pertunjukan Bidadari Merah. Sel telur itu didapatkan dokter Akagi beberapa waktu sebelum Maya pentas. “

“ Tapi.. apakah dokter itu ikut ambil bagian? Darimana Maya mendapatkan barang seperti itu!? “ Tanya Shiori dengan cepat.
Richard menggeleng. “ sepertinya Maya mendapatkannya dari black market, entahlah. Penyidik masih berjuang keras disini mengingat sindikat yang dihubungi Maya sepertinya sudah sangat professional dibidangnya. Dokter Akagi pun sama seperti kita. Ia kaget luar biasa. Ia sampai ambil cuti untuk berkabung bagi Maya, dan barusan ia hendak membuahi sel telur Maya dengan harapan bisa mendapatkan Maya kembali. Jujur saja, aku tak mengira ia akan bersikap seperti phsyko… “

“ Lalu, bagaimana dengan sel telur Maya? “

“… Shiori? “

“ Bagaimana…? Bagaimana dengan Maya?!? “ nada suara Shiori agak meninggi.

“ Sel telur Maya masih pada tempatnya karena memang belum sempat terjadi proses apapun. Mungin akan segera dibawa penyidik sebagai barang bukti. Kita lihat saja nanti… “

“ PERINTAHKAN UNTUK TETAP DITEMPATNYA!!! AKU TAKKAN MEMAAFKAN SIAPAPUN MENYENTUH MAYA!!! “ Shiori berteriak, membuat Richard semakin kaget. Wah, sepertinya Richard belum mengetahui sisi Shiori yang seperti ini.

Dengan enggan, Richard menelpon pihak rumah sakit. Ternyata memang benar, para penyidik sudah akan segera membawanya. Beruntung Richard bisa menahannya dengan alasan medis yang dibuatnya dengan spontan.

“ Kau puas? Memang kau mau apa dengan sel telur Maya? Oh, kita bisa mengawetkannya sebagai kenangan! “ spekulasi Richard meluncur begitu saja.

Shiori menggeleng. “ Atau kita bisa membuat Maya yang baru! Kita harus segera kembali ke Daito sekarang, Richard! “

Dahi Richard berkerut. Apa maksutnya membuat Maya yang baru???  Dan otak Richard langsung menyadarinya saat itu juga.

“ Oh tidak, Shiori… Kau tahu itu melanggar kode etik kedokteran manapun. Aku tak suka kemana arah pembicaraan ini. Sebaiknya kita segera pulang, kau harus beristirahat, sayang… “

Shiori tak mengalah begitu saja. Ia segera membuka pintu dan hendak keluar sementara tangan Richard dengan cepat menyambarnya.

“ Kau mau kemana, Shiori? Ini sudah tengah malam! Sangat berbahaya bagimu berkeliaran sendirian di kota ini!! “

“ Antarkan aku ke Daito atau aku akan berjalan sendiri kesana! “
Genggaman tangan Richard menguat dan membuat Shiori sedikit menyerngit.

“ Aku takkan membiarkan kau mendekati pecundang itu, Shiori. Masuklah, kuantarkan kau pulang…” Richard memelankan suaranya dan benar-benar menekankan setiap kata pada kalimatnya, hendak mengintimidasi Shiori agar menuruti kata-katanya.

Namun yang dihadapi Richard adalah cucu Takamiya. Ia adalah seorang ratu yang memiliki kekuasaan. Ia dapat melemparkan karier Richard dengan hanya menjentikkan kelingkingnya.

“ Baiklah, aku akan berjalan. Selamat tinggal, Mr. Jefferson. “
Shiori menghempaskan tangan Richard dan segera keluar. Richard terkaget dan segera keluar dari mobil, menyusul Shiori yang baru berjalan sekitar 3 langkah. Ia kembali mendapatkan pergelangan Shiori di tangannya dan menahannya selama mungkin ia dapat.

“ Aku takkan membiarkan kau bersama sampah itu, Shiori! Apa kata-kataku kurang jelas!? Dan kenapa aku memanggilku begitu? Apa kau sekarang meninggalkanku dan kembali pada suamimu yang tak berguna itu?! “

Tamparan keras melayang di pipi Richard. Pipinya perih dan panas. Ia belum pernah ditampar oleh wanita manapun selama ini. Baru Shiori yang baru saja memberikannya pengalaman pertama yang pasti akan terus diingatnya. Mengingat ia melakukannya di khalayak ramai, sehingga membuat tontonan gratis pertengkaran abad ini.

“ Jaga ucapanmu , Mr. Jefferson! Meski dia suamiku yang tak berguna, akulah yang menyebabkan ia menjadi seperti itu! Aku masih memiliki hati dan aku merasa bertanggung jawab akan kesalahanku! Aku mencintaimu! Ya, aku mencintaimu!! Tapi kau tak mau membantuku!! Sebaiknya aku segera pergi dari sini.. “ 

Baru saja Shiori membalikkan badannya, ia merasa dipeluk dengan hangat oleh badan tegap yang tingginya jauh diatasnya.

“ Maafkan aku…. Kumohon maafkan aku, Shiori…. Baiklah, kita akan ke Daito. Dengan syarat, kau tak boleh sendirian menghadapi Masumi, oke? “

Penawaran Richard bersambut baik. Shiori tersenyum dan berbalik. Mereka berciuman dan membuat riuh pejalan kaki yang sedari tadi menontonnya. Mereka tak perduli jikalau ada yang memfoto mereka, atau mengunggah momen mereka ke dunia maya. Yang mereka rasakan sekarang adalah rekonsiliasi yang hangat.

Mereka memasuki mobil dan segera kembali menuju Daito. Semoga mereka belum terlambat akan semua kejadian beruntun ini dan bisa menyelesaikannya dengan baik. 

Semoga….



 
blogger template by arcane palette