Thursday, 25 October 2012

Background Music of Paragraph 09 by Lee Sun Hee



                Fox Rain


Sarangeul ajik nan mollaseo
Deoneun gakkai motgayo
Geunde wae jakkuman motnan nae simjangeun
Dugeungeorinayo

Nan dangsini jakkuman barphyeoseo
Geunyang gal sudo eomneyo
Irueojil su do eomneun I sarange
Nae mami neomu apayo

Haruga gago bami omyeon
Nan ontong dangsin saenggakppunijyo
Hansimseureopgo babo gateun nal
Eotteoke haeya joheulkkayo

Maeumi sarangeul ttareuni
Naega mwol hal su innayo
Irueojil sudo eomneun I sarange
Nae mami neomu apayo

Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiru dubirubiru
Dubirubiruraffa

Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiru dubirubiru... ~

Haruga gago bami omyeon
Nan ontong dangsin saenggakppunijyo
Hansimseureopgo babo gateun nal
Eotteoke haeya hanayo

Nae apeumi mudyeojyeo beoril nari
Eonjejjeum naege ogin halkkayo
Hansimseureopgo babo gateun nal
Eotteokhae haran maringayo

Dalbichi neomuna johaseo
Geunyang gal suga eomneyo
Dangsin gyeote jamsi nuwo isseulgeyo
Jamsiman aju jamsiman

[X8]
Dubirubiruraffa
Dubirubiruraffa
Dubirubiru dubirubiru
Dubirubiruraffa 

Paragraph 09



                            Fox Rain


Pernikahan hanya menghitung hari. Namun ada kejanggalan. Kedua belah pihak keluarga menutup rapat peristiwa sakral penyatuan dua insan manusia yang mereka pikir—saling jatuh cinta. Resepi yang rencananya diadakan setelah mereka saling mengikat janji sehidup semati didepan altar juga diundur. Kesibukan menjadi alasan utama, dan tersebar juga permohonan maaf kepada para undangan untuk tidak menghadiri acara pernikahan, karena hanya keluarga inti yang terlibat. Pers tak henti menuntut penjelasan, namun nihil. Pihak keamanan menjaga ketat radius 20 meter dari para pemburu berita dan membuat usaha mereka menjadi sangat sia-sia.

Maya juga mengetahui akan hal itu. Namun ia tak dapat berbuat apapun. Berusaha mengejar Masumi juga cuma jadi mimpi indah belaka yang sepertinya akan dia simpan rapat-rapat. Koji tak henti mendampingi Maya dan membantunya melegakan semua kesesakan ketika berita pernikahan kedua manusia yang beruntung itu tersiar.

Rombongan pertunjukkan tengah bersiap mengemasi semua kebutuhan mereka untuk mewujudkan kembali panggung alami Lembah Plum. Lokasi itu dipilih karena terakhir mereka melihat Bu Mayuko berakting disana, mereka benar-benar merasakan apa yang tertulis dalam buku naskah. Manis, pedih, penuh cinta namun juga derita tersirat jelas. Tantangan sangat jelas. Mereka diminta menunjukkan sebuah dunia fantasi yang minimal seperti apa yang telah berhasil digambarkan Bu Mayuko beberapa tahun lalu. Nama Maya dan Koji sebagai pemeran utama, serta Kuronuma sebagai sutradara, dipertaruhkan.

Sebagian kuli tinta mengikuti mereka. Namun hanya segelintir peliput berita yang diijinkan mengabadikannya. Daito memasang tarif yang sangat tinggi bagi siapapun yang ingin menyiarkannya. Dan hanya 1 media yang berhasil menjawab tantangan Masumi. Mereka harus benar-benar merogoh kantongnya sangat dalam guna mendapatkan legenda yang akan dihidupkan kembali. Dan niatan Maya untuk menjadikan pertunjukan kali ini berbeda dari sebelum-sebelumnya,sudah mereka ketahui.

Semua alat transportasi dikerahkan Daito untuk mengangkut semua pemain serta embel-embel pelengkap pertunjukan. Tinggal Maya seorang yang masih berada di tempat latihan ekstra,  dilantai 11 tepatnya. Karena sesuatu hal, ia kembali kesana, sedangkan yang lain sudah mendapatkan kursi nyaman bahkan ada yang bersiap tidur selama dalam perjalanan kelak. Bu Mayuko, Pak Genzo, Ayumi, Hamill dan beberapa anggota theater yang menaungi Rei, Sayaka dan yang lainnya juga sudah bersiap.

Setelah Maya mendapatkan barangnya yang tertinggal, ia segera bergegas menuju pintu lift. Ia menggenggam erat barangnya, takut ia akan menjatuhkannya, karena ternyata Hayami muda dan beberapa koleganya juga berada disana.

“ Ah, Bidadari Merah! “ sapa kolega pertama yang berkacamata dan berkepala separuh botak, uban yang teratur mengatakan bahwa pria ini sudah mengarungi lebih dari 50 tahun kehidupan.

Maya membungkuk hormat kearah mereka dan ikut memasuki lift. “ Apa kabar, Pak ? “

“ Baik, baik… “ sapa kolega terakhir, yakni yang kedua, dengan nada grogi. Terlihat sekali kalau ia sangat mengagumi Maya. “ A.. Apa kau ingin berangkat sekarang? Kudengar… kalian akan bertolak ke Lembah Plum hari ini? “

Maya mengangguk. “ Betul, kami akan berangkat sekarang. Saya harap bapak-bapak akan melihat pertunjukkan saya besok malam. “

“ Tentu, kami akan datang. Bagaimana mungkin kami akan melewatkan bidadari secantik ini menebarkan pesonanya akan aktingnya! “ jawab kolega pertama bersemangat, diikuti kolega kedua yang masih juga gugup. Penampilan Maya yang sederhana namun manis, selalu tak jauh dari pujian. Mata tajam Masumi meneliti dengan baik mulai dari wedges yang berwarna peach natural, dress broken white, selendang Turki bercorak bunga lembut dan rambut Maya yang tergerai sehat. Ia mendesah pelan melihat wanita yang tak pernah lelah ia cintai itu sekaligus jengkel karena tak dapat berbuat apapun ketika beberapa pria tak segan-segan menunjukkan ketertarikannya.

Masumi berdeham, membuat kolega-koleganya tersadar. Mata Masumi sama sekali tak ramah.

“ Ah, maaf Pak Masumi, Nona Maya, kami akan turun dilantai ini. “ dan mereka pun terburu-buru turun dari lantai yang seharusnya belum mereka tinggalkan. Masih sisa 10 lantai lagi. Maya terbengong kaget namun tetap membalas sopan pamitnya kedua orang itu. Dan Masumi? Ia tersenyum ringan.

“ Kau akan berangkat sekarang? “ Tanya Masumi memecah keheningaan.

Maya menatap langsung kearah Masumi dan memposisikan tubuh mungilnya berhadapan langsung dengan tubuh setinggi 180cm itu memenuhi ruangan lift.

“ Iya, Pak Masumi… “ 

“ Berhati-hatilah nanti dalam perjalananmu. Semoga kau bisa meberiku pertunjukkan yang spektakuler, Maya. Kudoakan yang terbaik. “

“ Pasti. Aku akan membuat pertunjukkan kali ini melegenda dan takkan terlupakan, Pak Masumi. Aku akan berikan yang terbaik untuk… kebahagiaan anda…. “

Masumi terjegil sedikit. Ia merasakan pahit dilidah. Ia ingin mengdekap Maya kuat-kuat dalam pelukannya sekarang, tapi waktunya belum tepat. Masumi masih harus menunggu waktu. Waktu dimana mereka bisa kembali bersatu. Dan Masumi harus bersabar beberapa hari lagi untuk mendapatkannya. Bertahun-tahun sudah pernah ia hadapi, namun beberapa hari kedepan rasanya berat sekali.

“ Maya… Aku… “

Masumi tersentak kaget. Maya menarik turun tubuhnya dan mengalungkan lengan mungil dileher Masumi. Kecupan ringan Maya menembus kalbu Masumi dan membuat pria gunung es itu membatu.

“ Selamat tinggal, Pak Masumi… “ pamit Maya sambil meninggalkan pintu lift yang baru saja terbuka dan meninggalkan Masumi yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Ia ingin mengejar sosok mungil yang perlahan menjauh, namun ia terhalang beberapa orang yang mendesak tubuhnya lebih dalam. Dan pintu lift tertutup. Menahan rintihan hati Masumi yang menuntut penjelasan dari ciuman kilat mereka barusan.

***

Lembah Plum di 24 Desember.

Tanggal itu akhirnya datang juga. Tanggal dimana kebanyakan umat manusia di dunia menyambut gembira kelahiran Jesus Kristus di bumi. Tanggal dimana salju turun dan memutihkan apapun yang ada dibawahnya. Tanggal dimana penghangat dinyalakan dan mantel tebal serta sepatu boots lebih sering dipakai. Hanya orang-orang tertentu yang masih mau menyantap es manis dengan potongan buah atau siraman sedikit rhum. Ungkapan cinta dan kasih sayang serta penolakan yang berujung patah hati juga tak jarang terjadi. Malang bagi Bidadari Merah karena ia tak bisa tersenyum bebas mengingat inilah tanggal dimana ia harus benar-benar merelakan belahan jiwanya dimiliki wanita lain

Lembah yang mistis dan penuh pesona. Semenjak pertunjukan Bu Mayuko dan pembangunan kembali jembatan, area ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Berbekal kamera HP sampai ke kamera berstandar professional sudah berhasil mengabadikan keindahan eksotis alam sana. Merah. Lembut. Beraroma wangi segar dan membuai.

Para pemain sudah bersiap. Kuronuma mengabulkan segala detail yang diinginkan Maya sebagai syarat mutlak pertunjukkan ini. Kuronuma menyanggupi dan mengabulkan semuanya. Ia tak menyangka artist mungilnya ini cerewet luar biasa, hampir menyaingi istrinya yang selalu menerornya kalau ia telat sampai kerumah.

Pemain seruling professional disewa khusus untuk pertunjukkan ini. Tim make-up juga orang-orang pilihan yang siap menyulap para pemainya menjadi sosok mengagumkan. Tim lain bekerja untuk bagian dekorasi serta penataan panggung yang relative ringan. Mereka tak mau terlalu merubah suasananya, hanya ingin medukung keindahan sekitarnya menjadi lebih kuat.

Penonton sudah duduk di kursinya yang hanya beralaskan tikar dan berbantal empuk. Para orang penting dunia pertunjukan kembali berkumpul disini. Bahkan jendral Daito, Eisuke Hayami pun ikut serta. Bu Mayuko memilih sendiri kursinya, menjaga jaraknya dengan Eisuke dan ditemani oleh Pak Genzo, Ayumi dan Hamill.

Masumi dan Shiori pun telah duduk berdampingan. Tempat duduk mereka istimewa, karena merekalah raja dan ratu dari pertunjukkan ini. Mereka berdua mengenakan pakaian khas tradisional Jepang. Masumi cukup membuat para wanita penginapan ternganga dengan balutan Kimono, dilengkapi Haori dan Hakama berwarna hitam senada dengan bawahan lebih cerah dan bergaris. Shiori pun tak kalah mengagumkan. Ia mengenakan kimono cantik berwarna merah lembut dengan corak bunga plum. Sepertinya memang sengaja dipilihkan untuk menyempurnakan acara dashyat ini.

Richard duduk tak jauh dari Shiori, mengingat ini permintaan Shiori jikalau terjadi apa-apa dengannya. Rentetan acara membuat kondisi Shiori menjadi kembali tidak stabil. Tanpa perlu dikomando, Richard sudah siap dengan alat tempurnya guna menjaga Shiori tetap tersadar dan tersenyum menyambut ucapan selamat dari para tamu. Meski ia jengkel setengah mati karena bukan ialah pria yang duduk disamping Shiori, namun ia berdedikasi tinggi pada kariernya.

Tak jauh dari Richard, Maya juga bersikap sama. Ia meminta semuanya berusaha maksimal. Tak pernah ia meminta peƱata makeupnya dengan begitu detail. Ia sangat ingin terlihat lebih cantik dari biasanya. Rambutnya yang tertata rapi, disasak dan diberi tusuk rambut bergaya tradisional. Bunga imitasi kualitas tinggi—yang terlihat seperti asli-menghiasi sisi kepalanya. Mempermanis tampilannya. Desain kimono Bidadai Merah telah diluluuskannya ketika seorang desainer mengajukan sketsa modern yang mengagumkan, namun tak meninggalkan kesan tradisionalnya. Berbagai aksesori menjuntai disana sini, membalut tubuh Maya. Ketika selesai ia idandani habis-habisan, saatnya telah tiba. Maya melangkahkan kakinya keluar, mengucapkan terima kasih kepada semuanya yang telah berusaha keras mewujudkan mimpinya—untuk tampil cantik.

Semua pemain menahan nafasnya ketika Maya memasuki ruang tunggu pemain. Bahkan Kuronuma menjatuhkan rokok yang baru disulutnya. 

Cantik.

Sangat cantik…

Tak pernah ia melihat Maya begitu mengagumkan. Ia mendominasi warna merah menyala dan terlihat begitu percaya diri.

Koji masih tak percaya dengan penglihatannya. Dan ia rasa, ia semakin jatuh cinta. Ia menjadi tak yakin, apa ia hanya akan menunggu Maya, atau akan memberanikan diri lagi untuk memiliki Maya disisinya. Bimbang. Dan rindu…

Seruling pembukaan mengalun. Pemain lain membuka pertunjukan dengan kelihaian mereka berakting dan bercerita. Para penonton mulai menikmatinya. Secara perlahan, mereka ditarik ke masa dewa-dewi  terlihat begitu nyata. Seperti hipnotis aktif, mata mereka menyatu dan terpaku kearah panggung.
Dan yang ditunggu telah datang.

Sekali lagi alunan seruling lembut mengalun. Menciptakan suasana magis diantara udara malam dan kilatan lidah api dari obor. Kabut merah muda mengumbar tipis. Seperti ada serpihan cahaya kecil diantaranya, Maya mulai menampilkan sosoknya.

“ Siapa… Siapakah yang membangunkanku… “

Para penonton sontak ternganga dan menahan nafasnya. Mereka terpesona oleh kehadiran Maya yang tidak biasa. Pertama mereka mengira itu adalah pohon plum, namun ternyata itu adalah bidadari merah yang muncul kedunia. Maya melangkahkan kakinya yang menggunakan bakiak tinggi diatas air. Atas desain kreatif, ia terlihat seperti berjalan diatas air. Menimbulkan ria-riak air yang terlihat seperti jejak kakinya. Ditambah selendang lembutnya yang mudah tertiup angin serta berwarna putih transparan, membiaskan warna perak dan memendarkan warna api.





Ayumi sampai bangkit dari kursinya. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bu Mayuko bergetar hebat dan terkagum. Ia tak menyangka kali ini, baru beberapa menit Maya muncul, sudah berhasil menimbulkan efek pembiusan total kepada para penonton.

Shiori sampai mennutup mulutnya. Ia sangat terpesona akan pemandangan didepannya. Maya yang selama ini terlihat sederhana, menjadi sesosok dewi yang agung. Ia menoleh kearah Masumi,dan tersenyum. Pemandangan wajah Masumi juga tak kalah menarik dari apa yang ia lihat didepannya. Pria dingin yang konon melebihi gunung tertinggi didunia dan terlihat seperti kutub utara, mencair seketika. Ia tak lagi menjadi gunug. Tak lagi menajdi kutub es. Yang Shiori lihat sekarang tak ubahnya dengan sosok pria dewasa yang jatuh cinta lagi dan terlihat sangat bodoh. Karena siapapun pasti dapat melihat apa yang sangat disembunyikan oleh Masumi selama bertahun-tahun ia terjerat oleh cinta.

Sepanjang pertunjukan, Maya tak ubahnya seperti dewi yang luar biasa cantik dan memiliki kekuatan menggerakkan alam. Angin, air, tanah, api serta seluruh makhluk semesta seperti tunduk dikakinya. Dan para penonton merasakannya. Mereka seakan seperti sebutir debu kecil yang berada dihadapan Sang Penguasa.

Akhirnya adegan yang ditunggu-tunggu tiba juga, ketika Akoya dan Isshin saling merayu dan mencinta. Maya melepas atribut dewinya dan berubah menjadi gadis manis beryukata putih gradasi merah muda. Ia membawa keranjang kecil berisikan herbal alami yang digunakan untuk mengobati penduduk yang sakit. Dengan berjalan berjinjit dan berhati-hati, ia melangkah. Takut kalau ia menginjak makhluk kecil dibawahnya tanpa sengaja.

Isshin yang terluka, memperhatikannya. Dan mencintainya.
Ia beruntung merasa dipertemukan dengan Akoya. Meskipun ia harus bersusah payah menyeret kaki cacatnya yang terserang perampok sewaktu dalam perjalanan, ia tetap melangkah. Kayu penopang dijadikan pengganti kakinya yang masih dalam perawatan. Akoya bilang, ia akan kembali berjalan, bahkan cepat berlari, kalau ia tak memaksakan dirinya. Namun mentalnya mengalahkan fisiknya. Ia ingin didekat Akoya. Ingin merasakan kedamaian yang selalu ia rindukan selagi Akoya disisinya untuk merawat atau sekedar mengobrol.

“ Apa yang sedang kau lihat? “

“ Kamu, Akoya…”

“ Bukankah kamu selalu melihat… aku ini? “

“ Aku selalu ingin melihatmu, karena aku hanya memiliki wajahmu. Sebelum berkenalan denganmu, aku tak tahu apa yang harus kulakukan dalam hidup ini…”

Dialog diantara keduanya meluncur ringan namun dalam. Perasaan malu-malu seperti anak remaja yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta sangat ketara, membuat penontonnya mau tak mau mengenang masa lalunya masing-masing. 

Maya—Akoya, yang saat itu mengenakan pakaian sederhana, tetap terlihat memukau. Akting Koji sudah mendarah daging dan ia mampu merasakan, menghidupkan karakter lain didalam dirinya. Keduanya benar-benar pemain sempurna yang sangat memanjakan mata.

“ Aku tak pernah merasa kesepian karenanya. Tapi sekarang, begitu aku berpikir kau akan pergi, rasanya hatiku redup dan sepi… baru pertama ini kurasakan…. “

“ Tak mungkin! Bagaimana bisa wanita secantik kau bisa menyukaiku? Ini seperti mimpi…”

“ Mengapa berkata begitu? Apakah kau tidak menganggapku seperti aku menganggapmu? "

“ Akoya! Bukan begitu! Mana mungkin begitu! “

“ Hari itu, saat berjumpa denganmu… Akoya ini sudah tahu bahwa kau adalah belahan jiwa yang sering disebut-sebut oleh nenek… “

“ Belahan jiwa? “

Maya—Akoya, berjalan ringan menuju dahan rendah yang dipenuhi oleh gerombolan bunga plum yang bermekaran. Hanya 2 kuncup yang masih nyaman dalam tidurnya. Ia mematahkan dahan itu dan menggenggamnya kuat. Diletakkannya dengan hati-hati didada, dekat dengan detak jantung.

Pak Kuronuma tertarik. Ini adalah improvisasi yang Maya janjikan sejak latihan khusus di hari pertama. Koji pun sedikit terbengong, namun dengan cepat ia menyesuaikan perubahan akting Maya.

“ Waktu keadaan dunia masih kacau, Dewa melahirkan seorang anak dan menurunkannya ke dunia. Jiwanya yang satu terbagi dua, yaitu gelap dan terang. Keduanya memiliki wujud yang berbeda. Kelak bertemu lagi, pada waktu gelap dan terang bersatu… manusia akan menjadi dewa.. untuk melahirkan manusia-manusia baru…”

Akoya berjalan ringan memunggungi Koji dan menghadap menantang penonton.

“ Nenek mengatakan pada saat itu, kekuatan ajaib akan bergerak. “

“ Kekuatan ajaib? “

Koji tetap berusaha sebaik-baiknya. Meski biasanya ia mendapatkan dirinya berhadapan langsung dengan Akoya, bukannya memunggunginya, ia tetap pada jalur akting dengan professional.

“ Kekuatan untuk menarik jiwa orang itu. “

Akoya melangkah semakin menjauh dari Isshin. Namun dialog cinta yang telah terancang tetap terucap. 

“ Tak ada usia, wujud dan derajat… “

Akoya menuju sungai kecil yang memisahkan panggung dengan penonton. Dengan mantap, ia melangkah. Ia menyebrangi sungai kecil yang dulu ia takuti ketika Masumi dihadapannya. Namun kali ini, ia lebih berani. Ia tak perduli apabila air telah merayap membasahi yukatanya hingga sebatas separuh betis. Para penonton terperangah. Belum pernah mereka melihat adegan ini di pertunjukkan manapun. Hanya kali ini.

“ Bila keduanya bertemu, mereka akan saling tertarik. Ingin segera memiliki belahan jiwanya… 

Langkah kaki mungil Maya berhasil menyebrangi sungai dengan baik. Ia menapak tanah di seberang panggung dan langsung menuju sasarannya. Masumi Hayami.

“ Ingin segera bersatu, berusaha keras menarik belahan jiwanya… “
Tubuh Akoya yang beraura cinta sangat terasa. Ia melemparkan senyum termanis yang ia miliki dihadapan pria yang dicintainya. Untuk kali ini, Maya bersikap egois. Ia tak memperdulikan istri dari pria yang ia cintai melihatnya dengan heran. Secara perlahan, Maya menyerahkan dahan plum ke tangan Masumi dengan hati-hati. 

“ Itulah… cinta… “

Tangan Masumi bergetar hebat ketika dahan plum itu kini sudah dalam genggamannya. Wajahnya pucat. Sekarang ia semakin yakin bahwa sejak dulu, sejak mereka terperangkap dalam kuil karena hujan badai melanda, Maya telah mencintainya. Dan kali ini, ia kembali memberikan dahan bunga plum.

Maya… kau.. mencintaiku…. Ya, kau mencintaiku!!!

“ Cinta adalah menarik belahan jiwa, agar manusia bisa menjadi Dewa. “

Maya tetap mengucapkan dialognya, dan menyerahkan sekuntum bunga plum, kali ini untuk Shiori, yang ia terima dengan hati bersemi. Shiori menganggukkan kepala sedikit, ucapan terima kasihnya untuk pemberian Maya.

Maya berbalik menuju dunia panggungnya, kembali dnegan perlahan dan hati-hati, Maya menyebrangi sungai. Namun kali ini, Isshin sudah berjalan juga kearahnya, dan mereka bertemu ditengah. Koji menuntunnya menuju panggung.

“ Aku tak percaya, baru pertama aku merasakan perasaan aneh seperti ini. Dengan memikirkanmu saja, dadaku terasa panas. Dengan mendengar suaramu saja, hatiku melayang. Dan saat kau menyentuhku, betapa bahagianya aku… “

Genggaman tangan Koji menguat. Ia meremas tangan mungil Maya yang berhasil menyengat hatinya dengan ribuan listrik yang diyakini Koji, ini adalah perasaan cintanya.

“ Ingatlah, aku ini laki-laki yang tidak ingat namaku sendiri. Kamu tak khawatir, mencintai laki-laki yang seperti ini? “

Isshin berusaha berdiri tegap. Terlihat kalau perasaan cintanya telah mengalahkan rasa sakit di kakinya yangsedang terluka. Ia menghadapkan Akoya di depannya, dan menggenggam kedua tangan Akoya dengan mesra. Diletakkan sepasang tangan mungil itu didadanya yang bidang, sedikit menarik tubuh Akoya agar merapat ketubuhnya.

“ Yang khawatir ini sebenarnya adalah aku, aku bukan laki-laki yang cocok untukmu. Aku tak punya apa-apa, nama maupun masa lalu. Yang ada hanya diri ini dan mata yang memandangmu.. “

Akoya tersenyum manja. Ia lebih merapatkan tubuhnya ke Isshin, dan  menyandarkan kepala agar Isshin bisa merasakan panas tubuhnya. Serasa gila Koji menahan godaan untuk tidak menggagalkan pertunjukkan ini melihat akting Maya yang luar biasa hebat menggelitik hormon testoteronnya yang mulai menggeliat. Berbeda dengan salah satu penontonnya yang menahan kuat amarahnya untuk tidak membuat Isshin babak belur dengan konyol di atas panggung.

“ Bagi Akoya, itu sudah cukup. Untuk apa nama dan masa lalu? Kita hidup dan bertemu, bukankah itu sudah cukup? Buanglah nama dan masa lalumu, jadikanlah Akoya hanya milikmu… “

Masumi terjegil kaget. Ia melihat mata Maya, bukan Akoya, mengarah kepadanya. Itu adalah mata penuh cinta. Dan dialog ini, kembali menyadarkan Masumi bahwa Bidadai Merah yang pernah ia kira itu adalah bayangannya saja, atau dialog cinta yang pernah Maya lontarkan untuknya dilembah plum ini, adalah benar-benar nyata. Selama ini ia terlalu dibodohi oleh rasa ketakutan dan ketidak percayaannya sendiri.

Masumi merasa bodoh. Dan ia semakin yakin kalau kemarin-kemarin ia berhak menyandang predikat 2D, atau 2 Digit, yang melambangkan 2 digit angka IQ-nya saat itu.

“ Apa kamu puas dengan aku yang begini? “

“ Kamu adalah aku yang lain dan aku adalah kamu yang lain… “

“ Aku adalah kamu dan kamu adalah aku. Aku betul-betul mencintaimu… Tak percaya rasanya cinta ini ada dalam diriku. Akoya, kekasihku… Betul apa yang kau katakana, kita adalah gelap dan terang yang menjadi satu. Satu raga…. Satu jiwa…. “
Isshin memeluk Akoya semakin erat, seakan menenggelamkan Akoya didalam lengannya yang besar. “ Saat bertemu, kita berpikir mengapa hidup terpisah hingga kini. Akoya, kita tak bisa berpisah lagi, nama dan masa lalu tak sepenting dirimu. Hal-hal seperti ini akan kulupakan… Mata yang memandangmu, tangan yang memelukmu, dan diri ini yang mencintaimu, cukup itu saja…. “

“ Aku bahagia, kekasihku… “

Dan dialog percintaan mereka semakin menghangat, membuat para penontonnya tersenyum malu-malu, bahkan ada yang bersemu pipinya, seperti memakai pemulas pipi berwarna merah muda. Masumi terus merasakannya, aliran listrik cinta dari Maya untuk dirinya yang sedang berusaha sebaik-baiknya tampil sebagai hadiah perkawinan. Mata Maya tak lelah menatapnya dan terus mempengaruhi jiwa Masumi yang ingin memberontak, ingin mengambil Maya segera dari pemuda ingusan yang terang-terangan mengambil belahan jiwanya. Namun ia tetap berusaha menahan dirinya. Ingin sesegera mungkin ia melewati pertunjukkan ini agar segera berakhir, dan meluruskan segalanya kepada Maya, agar ia dapat kembali merengguk puas rasa rindu kepada belahan jiwanya. Detik demi detik berlalu, dan Masumi semakin mual melihat Maya—Akoya bermanja-manja dipelukan dan elusan Isshin.

Adegan terus beralih ke tahap-tahap kisah legendaris ini. Dan sampailah mereka di adegan paling menyakitkan, dimana Isshin harus memilih antara kepentingan dirinya yang mencintai seorang dewi atau kepentingan banyak orang yang mendambakan kedamaian di muka bumi.

Sambil membawa kapak yang terasa teramat berat ditangannya, ia menghadapi Akoya. Akoya berdiri disana, merentangkan kedua tangannya ke angkasa. Bulu mata lentik membingkai matanya yang terpejam dan tak bisa membantu sang mata yang menganak sungaikan air mata.

“ Kau datang juga kesini, kekasihku…”

“ Akoya…. “ Isshin merintih. “ Kekasihku…. Maafkan aku yang tak berguna ini. Maafkan aku yang tak mampu melindungimu dari ketidak adilan dunia ini. Aku…. “

Akoya tersenyum sedih dan terus menggelindingkan air matanya di tiap sisi pipinya yang pucat. Penampilan Akoya yang kusut musai semakin mempengaruhi emosi di sekelilingnya. Ia menurunkan kedua lengannya dan memeluk sendiri tubuhnya yang bersender lemah di pohon. Seperti merapal sebuah doa, mulutnya berbisik. Akoya membungkuk rapuh, menutup mulut dengan kedua telapak tangannya yang mungil dan tetap menangis.

“ Isshin, bukankah kau mencintaiku? Kau katakan bahwa kita takkan bisa dan tak boleh berpisah, benarkah itu? “

Isshin menjawab. Serak. “ Benar…”

“ Kau… takan meninggalkanku? Takkan… melupakanku bahkan…. sedetikpun? “

“ Takkan… kekasihku….. “

Isshin menangis. Selama ini Koji beradu akting dengan Maya entah berapa kali, namun perasaannya kali ini terlalu pekat. Mungkin karena suasananya yang mendukung? Entahlah…. Satu hal pasti yang ia rasakan hanya satu kata. Sedih. Ia berjalan bertatih-tatih. Kakinya memang belum sembuh sempurna, namun ia berjalan lebih baik dari sebelumnya berkat perawatan Akoya.

“ Akoya…. Akoya….. “

“ Iya, kekasihku…. “

“ Aku akan selalu mencintaimu… Selamanya…. “

“ Aku mengerti, kekasihku…. Akupun selalu mencintaimu…. “

Akoya berlutut lemah. Menjatuhkan tubuhnya ketanah yang lembab. Tubuhnya terlihat lebih ringkih dan terlihat berusaha kuat membangkitkan dirinya, namun ia hanya mampu sedikit bersimpuh dan kembali terjatuh.

Maya?

Koji terperangah. Ia khawatir bukan main dengan akting Maya kali ini. Dia benar-benar terlihat rapuh dan… sekarat.

“ Akoya… Akoyaa!!!! “ dengan segera Isshin melupakan kakinya yang pincang. Ia berlari tertatih-tatih ke arah Akoya dengan tergesa dan melempar kapaknya sembarangan.

“ Berhenti… Jangan kesini, Isshin… jangan….. “

“ Tapi…. Tapi….. Akoya! “

“ Kau boleh mendekat kearahku, asal dengan kapakmu… Tanpa itu, kau tak boleh lagi mendekapku lagi…. “

Batin Isshin tergolak hebat. Saking paniknya, Koji sampai membuang kapak yang seharusnya ia genggam dari tadi. Kuronuma sempat sampai berdiri terkejut melihat kecerobohan Koji kali ini. Dengan berat hati, Isshin mengambil kapak yang belum jauh dari kakinya. Ia kembali mendatangi Akoya yang masih berusaha bangkit.

“ Isshinku… Betapa bersyukurnya aku bertemu denganmu. Kau selalu membantuku menerangi gelapnya hatiku, menceriakan kepedihan hatiku, menerima apa adanya diriku… “ Akoya akhirnya bangkit berdiri namun kembali bersender di batang pohon kokoh dibelakangnya. Ia bernafas tersenggal senggal. Seakan kadar oksigen disekelilingnya semakin tipis dan tak bernyawa. “ Berjanjilah padaku, kau takkan melupakanku, kau adalah belahan jiwaku, dan aku adalah belahan jiwamu… Kumohon… berjanjilah…..”

“ Kau akan selalu menjadi belahan jiwaku, Akoya! Apapun yang terjadi, sampai mati, cintaku takkan berubah untukmu! “

Akoya tersenyum manis. Namun sama sekali tak menghentikan derasnya air mata yang meleleh. “ Jangan lupakan aku….. “

Entah tenaga dari mana, Akoya berlari kearah Isshin dan menarik tangan Isshin yang memegang kapak ke tubuhnya sendiri. Semburan darah hangat palsu membaur dan mengotori lembah suci plum. Yukata putih bersih yang berwarna lembut itu ternoda oleh warna merah darah yang pekat, menandakan kematian.

“ AKOYA!!!! “

Akoya mengertakan pegangannya di tangan Isshin yang gemetar dan kembali menghunjamkan kapaknya untuk yang kedua kali. Isshin berteriak lantang. Berusaha menolak kenyataan pahit dimana ia harus berpisah raga dengan kekasihnya.

“ TIDAK!!!! AKOYAAAAAAAAA!!!!! “

Tubuh mungil itu pun limbung seketika. Isshin mendekapnya secepat kilat kedalam tubuhnya yang masih bergetar hebat. Sekali lagi, kapak itu terlempar sembarangan, namun kali ini ia ditelan sungai kecil. Membuat riak air yang semakin menjauh.

“ Peluk aku, Isshin… Peluk… A… ku…. “

Isshin menyanggupinya, ia memeluk Akoya lebih dalam lagi. Telapak tangannya berusaha menutup luka menganga yang terus membuat jejak darah di sepanjang tubuhnya. Namun itu sia-sia. Ia tahu, ini harus terjadi. Namun ia tak pernah tahu, akan sesakit ini hatinya. Pernah suatu ketika, ia mengira-ngira akan kehilangan Akoya. Tapi perhitungannya meleset teramat jauh dari kenyataan.

“ Aku memelukmu Akoya! Aku takkan meninggalkanmu sedetik pun!!! “

Akoya tersenyum dalam pelukan Isshin. Tangannya menggapai keluar sisi tubuh, kearah penonton, menuju Masumi. Dengan nafas tersenggal hebat dan tenaga yang tersisa, ia berusaha terlihat tabah dan menerima keadaan pahit ini. Keadaan dimana ia harus berpisah dengan belahan jiwanya.

A.. ri.. ga… to…..

Dan tangannya mengejang sebentar. Matanya menyipit menahan sakit, gemeretak gigi yang saling bertaut cukup terdengar di telinga Isshin. Akoya menekan kuat dadanya—luka palsunya dengan sebelah tangan. Ia terlihat benar-benar kehabisan nafas. Meregang nyawa. Setelah seluruh rasa sakitnya beranjak hilang, tangannya mulai terkulai perlahan. Matanya hampir terpejam dan masih menyisakan butir-butir air mata.

Isshin menjerit sejadi-jadinya. Tak kuasa ia menerima kenyataan yang teramat pahit ini. Seluruh penonton terhanyut. Mereka juga merasakan sesak yang teramat hebat di dadanya karena Bidadari yang mereka cintai telah pergi. Para pemain teather bawah tanah dan Ikkakuju menahan nafasnya. Rei bahkan menangis. Mereka benar-benar tak menyangka penampilan Maya kali ini sangat total. Mereka sampai berpikir kalau adegan kali ini, baru mereka lihat hanya dalam pertunjukkan Bidadari Merah, dimana Maya menunjukkan dedikasi tinggi kepada profesinya. Namun keterkejutan mereka tak hanya sampai disitu. Alunan seruling sendu kembali mengalun. Langit malam Lembah Plum tidak lagi hitam pekat. Lampion-lampion kecil mengudara satu persatu, meninggalkan bumi menuju langit kelam yang bertabur bintang. Maya telah merancang hal detail ini jauh sebelum hari pertunjukkan, menguatkan kondisi dimana jiwanya telah mengangkasa, namun tak henti untuk menerangi dunia. Tangisan mereka semakin merebak. Yang pria berusaha mati-matian untuk tak menangis dan tak tampak terlalu cengeng di hadapan kaum hawa. Bahkan Masumi meninggalkan jejak di sudut matanya. Kabut tipis berwarna merah muda semakin memperkuat panorama tragis di depan mata, dan telah berhasil mengecoh indra penglihatan berpasang-pasang mata.




Maya?

Isshin terheran.

Isshin berusaha menggendongnya lembut, namun ia merasakan kejanggalan yang teramat nyata di depannya. Pada pertunjukkan sebelumnya, Maya juga berakting sekarat. Ia telah berhasil melampaui gemblengan keras dari Pak Kuronuma sewaktu ia latihan menjadi Jean yang keracunan. Namun kali ini, tubuh Maya memang terasa teramat lemas tak bertenaga, dan yang membuatnya semakin berbeda adalah keadaan dimana sesekali tubuh Maya mengejang. Mata Maya terlihat kosong. Ia terlihat seperti wanita yang tercekik. Hembusan nafasnya terasa tipis…. Tipis??? Apakah ini juga akting dari Maya? Dengan rasa penasaran dan kekhawatiran yang memuncak, ia meraba leher Maya.

Jantung Koji terasa akan meledak.

Mana? Mana denyut nadimu, Maya??? 

Ia terus menelusuri leher Maya dengan tak sabar. Akhirnya, ia menemukan yang ia cari, namun… denyutnya….

“ Maya! Maya!!!! Bangun, Maya!!!!! “

Ia menampar pipi Maya berulang kali, berusaha mendapatkan respone dari Maya.

“ MAYA!!!!!!!! “


Sontak para penonton berdiri. Khawatir. 

“ KOJI! BODOH!!!!! KAU MENGACAUKAN PERTUNJUKKANNYA!!!! “ Kuronuma berteriak murka. Ia tak menyangka aktor sekaliber Sakurakoji bisa berbuat bodoh seperti amatiran demam panggung.

“ AKU TIDAK BODOH!!!! MAYA…. “ balas Koji yang tak kalah lantang berteriak panik membalas amarah Pak Kuronuma. Dan ia kembali melihat kembali kearah Maya. “ MAYA! KATAKAN KAU MASIH BERAKTING! KATAKAN!!!! “

Pak Kuronuma semakin tak sabar. Ia bangkit dari tikarnya dan mulai melangkah kearah mereka. “ Kau jangan lupa, Koji! Siapa Maya yang sedang berakting sekarang! Ia takkan berhenti sebelum tirai panggung dinyatakan turun. APA KAU MULAI DUNGU?! “

Koji tercengang.

Betul juga. Maya… takkan berhenti berakting hingga tirai panggung menutup sempurna. Maya….

Mata Maya yang sembab karena air mata mulai terlihat kemerahan, dan terlihat semakin hampa. Dan dari sisi bibir tipisnya, mengalir cairan yang tidak biasa dengan sedikit busa.

Koji membelalak. Dan sekarang ia yakin kalau jantungnya serasa berhenti berdetak.

“ MAYA!!! MAYAA!!!!! “

Baru saja Koji hendak memberikan pernafasan buatan, tubuhnya tiba-tiba sudah tertarik dengan kuat oleh lengan kokoh pria yang tinggi dan berotot hingga ia limbung kebelakang, meninggalkan Maya tergeletak di tanah.

“ DOKTER! AKU MAU… “

“ MENJAUHLAH!! KALAU KAU LAKUKAN ITU, KAU JUGA BISA SEKARAT!!!! “

Sekarat???

Sontak semua penonton berdiri. Masumi Hayami belum bisa mencerna semua kejadian yang terlalu cepat ini.

Ada apa? Ada apa dengan kekasihku?

Tanpa pikir panjang, Masumi langsung menghambur kearah panggung. Ia tak perduli apa yang dipikirkan orang dengan meninggalkan pengantinnya di belakang. Yang ia pikirkan hanyalah, Maya, kekasihnya.

“ RICHARD! MAYA… KENAPA DENGAN MAYA?!!? “ Masumi berteriak panik.

Richard yang berusaha menjaga Maya tetap tersadar kembali berteriak kearah kerumunan penonton. “ Aku butuh helikopter! SEGERA!!!!! “

“ RICHARD!!! AKU BERTANYA PADAMU!!! “

“ MAYA SEKARAT! KAU PUAS???? SEKARANG KATAKAN, DIMANA HELIKOPTERKU?!!!! “

Bagai terserang jutaan voltage dari kilatan petir, Masumi membatu.

“ Se… Sekarat??? “

Masumi masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Richard. Dan sekarang Richard berusaha memindahkan tubuh Maya ke lokasi yang lebih memungkinkan dirinya menjangkau peralatan kedokterannya. Masumi ingin mengambil alih tubuh Maya kedalam gendongannya, namun ditolak mentah-mentah oleh Richard.

“ Saat ini, Maya pasienku!!! Takkan kubiarkan orang awam menyentuhnya!!! “

Shiori melihat semua itu dengan tatapan bingung dan panik. Ia tak percaya semua hal nyata didepannya dan berharap ini semua hanyalah mimpi yang buruk. Ia ikut bangkit dan berusaha merangsek kerumunan meraih Richard. Berusaha mendapatkan jawaban untuk otaknya yang penuh tanda tanya.

“ Richard! Richard!!! “

“ Jangan kesini, Shiori! Berbahaya untukmu! “ Richard berteriak kearah Shiori. “ Lakukan ini untukku, ini untuk kebaikanmu! “ dan Richard kembali membopong Maya menjauhi panggung. 

Koji dan Masumi hanya seperti pecundang yang tak bisa apa-apa menghadapi situasi ini. Pak Kuronuma juga, ia tak paham sama sekali. yang hanya bisa mereka lakukan adalah menunggu kabar selanjutnya dari dokter.

“ Richard! “ Namun Shiori tak menghiraukan imbauan Richard, ia tetap berusaha berlari menyebrangi sungai kecil yang licin.

“ Shiori!!! Pasienku keracunan Sianida! JANGAN BERANI KAU MENDEKAT KESINI!!“

Seluruh penonton berteriak. Koji membatu seribu gerak. Pak Kuronuma langsung berlutut, seperti kehilangan lutut penopang kakinya. Ayumi dan Bu Mayuko syok. Begitu juga dengan semua pemain pendukung lainnya. Terutama Rei, Sayaka, Mina, dan pemain lain yang sudah seperti keluarga Maya, berteriak histeris. Shiori yang tak kuat menerima kenyataan ini, langsung kehilangan kesadarannya dan pingsan di tengah sungai. Kacau!

Masumi semakin panik. Ia tak pernah merasa sedemikian kecil dan seperti berkubang di pasir hidup. Ia ingin sekali meninju wajah dokter yang seenaknya membawa pergi Maya-nya, namun ia sadar satu hal, Maya berada ditangan yang benar.

“ MASUMI! BAWA SHIORI!!! APA KAU BODOH MEMBIARKAN ISTRIMU TERGENANG DISANA?!!! “

Batin Masumi terusik mendengar teriakan Richard tentang Shiori.

“ BERIKAN MAYA PADAKU! SEHARUSNYA KAULAH YANG MEMBAWA SHIORI!!! “

Sekarang kepala Richard yang ingin meledak. “ INI BUKAN SAATNYA MENJADI ANAK KECIL! BAWA SHIORI!!!! “

Belum pernah Masumi diperintah oleh orang lain selain ayahnya yang sekarang berada di sisi panggung mana, ia sama sekali tak memperhatikan sang jendral sejak Maya memulai langkahnya di panggung. Akhirnya Masumi mengalah. Ia segera berbalik dan berlari, mengambil tubuh Shiori yang sudah diangkat oleh salah satu sanak Shiori. Ia segera mengangkat tubuh Shiori dan berlari untuk kembali mengekor Richard.

Helikopter medis tiba beberapa saat kemudian. Richard sudah memberi komando kepada beberapa perawat untuk segera menangani Shiori. Namun ia sangat egois untuk tidak memberikan Maya ketangan dokter lain. Ia hanya meminta mereka membantu dirinya sebisa dan secepat mungkin. Maya dinaikkan ke helikopter, dengan alat bantu pernafasan yang sedari tadi Richard berikan untuknya. Shiori diminta untuk tidak satu heli dengannya, karena alasan medis yang lebih ringan. Shiori hanya terkena syok, dan ia pasti bisa tersadar lebih cepat dari Maya. Kembali Masumi berulah, ia bersikeras ingin menaiki heli yang sama dengan Maya. Dan sekali lagi bentakan keras dari Richard-lah yang diterimanya.

Akhirnya heli yang di naiki Maya dan beberapa kru dokter mengudara. Para perawat telah memberikan perawatan terbaiknya untuk Shiori yang masih belum tersadar di tempat yang lebih layak dan akan segera dipindahkan ke ruangan yang lebih steril. Kakek, ayah dan ibu Shiori, serta beberapa sanak saudara telah berkumpul mendampingi Shiori. Mereka tak tahu dimana Masumi yang sedari tadi langsung menghilang tanpa jejak.

Para pemain theater pun tak menemukannya. Terutama Rei. Yang sangat ingin bertemu dengan Masumi. Dengan gerakan cepat dan darurat, mereka segera berkemas. Meninggalkan panggung yang belum tertutup tirai penanda berakhirnya pertunjukkan.

Tangisan menggema diantara tebing-tebing mistis Lembah Plum. Peliput berita yang kebetulan hanya eksklusif dari pihak Daito berusaha mencerna dan mengumpulkan semua informasi yang ada. Namun mereka tidak akan berani melemparkan semuanya ke massa, kalau mereka ingin lehernya selamat dari ayunan parang Masumi.

Jalanan malam Natal adalah mimpi buruk bagi para pencinta kecepatan. Deretan mobil berbaris rapi, menikmati jatuhnya salju tipis dari angkasa dan memberikan warna putih bagi bumi. Dan Masumi terserang frustasi tingkat tinggi karenanya. Richard sama sekali tak mengijinkan dirinya turut serta dalam heli. Dan sekarang ia terjebak dalam rutinitas kemacetan malam Natal. Beruntung kemacetan yang ia derita sekarang hanyalah menunggu datangnya helikopter pribadinya. Dan setiap detiknya teramat berharga baginya sekarang. Ia tak bisa tenang. Hanya mondar mandir dan sesekali menjambak-jambak rambutnya yang ikal.
Dan yang ditunggunya telah tiba.

Helikopter berwarna hitam dove mendarat. Dan Hijiri memastikan tuannya dengan cepat masuk kedalamnya, disusul oleh dirinya sendiri yang bertugas mendampingi pilot. Ia tetap dalam bentuk penyamaran, sehingga tak banyak orang yang menyadarinya. Beruntung bagi Rei, ia menemukan Masumi pada waktunya. Disusul beberapa aktris asuhan Theather Tsukikage, mereka diijinkan untuk ikut serta. Merekapun segera meninggalkan Lembah Plum, menuju International Hospital, tempat dimana Richard bertugas. 

**

Ia mengerjap-ngerjapkan matanya yang berat. Tampaknya, ia sudah agak lama kehilangan kesadaran. Ruangan disekitarnya terasa berputar dan yang ia rasakan hanya ingin kembali menutup matanya. Sayup-sayup terdengar suara orang disekitarnya memanggil namanya yang terdengar agak jauh. Tak begitu jelas, karena ia merasa seperti berada didalam air dan tak mampu mendengar dengan jelas.

Matanya kembali dibuka, namun hanya siluet beberapa orang yang tampak. Ia tak begitu mengenali bentuk siluet itu, namun ia yakin, ia pernah dekat dengan orang-orang itu.

“ Shiori!!!! buka matamu, sayang!! Ini mama!!! “

Ah…. Iya, itu suara mama… dan siluet itu, adalah mama….. Masumi…. Yang mana siluet Masumi??

Jantung Shiori berdetak kuat. Ia langsung teringat akan apa yang terjadi. Ia pingsan di tengah sungai dan tak tahu lagi kelanjutannya. Seperti mendapat ekstra tenaga, ia langsung bangkit dari ranjangnya. Para perawat telah sigap menahan tubuhnya yang masih limbung karena serangan sakit kepala yang hebat.

“ Masumi?!! Masumi….. Dimana Masumi???? “

“ Mama tak tahu sayang, sepertinya, ia menyusul dokter Richard ke rumah sakit. Tadi ia menghilang begitu saja, tanpa pamit pada siapapun. Yang mama hanya pikirkan adalah dirimu. Papa dan kakek menunggu diluar, aku akan segera memanggil mereka! “

“ Mama! Aku harus ke rumah sakit sekarang! Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi!! “

“ Tapi, Shiori…! “

“ Aku tak apa-apa , Mama! Aku bukan lagi Shiori yang lemah! Aku tahu apa yang kubutuhkan, sekarang, kumohon, aku harus ke rumah sakit! “

Belum pernah ibu Shiori melihat kegigihan putri semata wayangnya seperti ini. Meski nyata ia terlihat lemah, namun semangatnya mencuat dengan kuat. Ia segera memeluk tubuh putrinya. Dengan nada bangga, ia membisikkan hal yang membuat Shiori merona.

“ Mama tahu kau anak yang hebat sejak dulu, Shiori. Mama sangat bangga padamu. Sekarang, bersiaplah. Kita akan segera menyusul Masumi ke rumah sakit. Dan kau, harus segera bertemu penyemangat hidupmu. Mama rasa, Richard sudah menunggumu juga disana. “

**

Akhirnya Masumi dapat menjejakkan kakinya di atap rumah sakit. Sempat menunggu sejenak karena landasan helikopter telah di tempati oleh 2 helikopter pihak rumah sakit. Dan salah satunya tadi, telah membawa kekasihnya kesini. Langkah kakinya yang panjang ditambah dengan lari yang tergesa, sukses meninggalkan para penumpang lain yang berusaha mengikutinya.

Ia mencari bagian informasi, namun malah tersesat di lorong yang sangat asing baginya. Ia menghentikan pada beberapa perawat manis yang nyata terlihat terpesona ketika Masumi menanyakan dimana Maya berada. Setelah mendapatkannya, ia kembali berlari, dan lebih jauh lagi meninggalkan rombongan Rei yang berlari dengan kepayahan.

Ia berhasil melihat ruangan itu. Huruf “ER” besar terpampang jelas yang menunjukkan sebagai ruangan darurat.

Emergency Room.

Masumi benar-benar merasakan ketakutan yang dalam melihat huruf-huruf itu. Ia ingin sekali memasukinya, namun perawat penjaga benar-benar berhasil menahan tubuhnya yang jelas-jelas tingginya di bawah Masumi. Demi kebaikan pasien, begitu alasan klasiknya. Masumi dipersilahkan duduk di ruang tunggu yang tersedia, namun ia lebih memilih berdiri. Menatap lekat pintu putih pucat di depannya terbuka.

Dan yang di tunggunya tiba juga.

Richard keluar dari dalam sana, masih lengkap menggunakan atribut kedokteran. Ia menatap Masumi yang mulai melangkah masuk dan menahannya.

“ Richard! Katakan padaku, bagaimana kondisi Maya sekarang?! “ Ia bertanya dengan tatapan memelas dan panik yang bercampur jadi satu, menampakkan wajah yang bisa membuat siapapun meneteskan air mata karenanya.

Dokter muda itu melepas maskernya perlahan. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tak mampu menatap wajah Masumi lebih lama lagi.

“ RICHARD!! “

Namun Richard masih saja menunduk.

Masumi menjadi tak sabar karenanya. Di guncang-guncangkan dengan kuat bahu pria yang tingginya 11cm diatasnya. “ RICHARD!!!! KATAKAN PADAKU! BAGAIMANA KONDISI MAYA! MAYA-KU!!!!! “

Derap langkah serombongan kaki akhirnya datang. Para pemain teather Tsukikage telah sampai. Untuk saat ini, hanya dengan melihat situasi dan terutama… mimik seseorang, mereka langsung paham apa yang telah terjadi. 

Richard menghembuskan nafas beratnya perlahan.

“ Maafkan aku, Masumi… “

Mata Masumi membelalak. Tubuhnya terasa bagai disiram air es terdingin yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

“ A.. Apa… Apa maksudnya? Kenapa aku harus memaafkanmu… ? “

Richard menggeleng pelan. Dan kembali, kata maaf yang serak terucap.

Sayaka langsung menjerit dan menangis sejadi-jadinya. Mina dan Taiko saling berpelukan, menenangkan Sayaka dan diri mereka sendiri. Rei pun langsung menangis di tempat, menutup wajah tampan sekaligus manisnya dengan kedua tangannya. Dan Masumi masih belum memahami semuanya hingga sekarang.

“ Kenapa??? Kenapa dengan semuanya???? Ada apa dengan Maya-ku?!!! “

“ Masumi.. “ Richard menaruh telapak tangan besarnya di bahu Masumi. “ Kau harus bisa menerimanya, Maya…. “

“ Katakan dia tak apa-apa! Dia akan segera pulih dan kembali padaku!!! “

Richard semakin miris melihat batin Masumi yang bergolak hebat. Ia jadi terlihat begitu bodoh karena ia takkan bisa mempercayai siapapun saat ini.

“ Ikhlaskan dia, Masumi… Maya sekarang… sudah menjadi milik Tuhan…. “

Dan kata-kata Richard barusan benar-benar nyata bagi Masumi. Namun sekali lagi, hatinya tak mau menerimanya.

“ KAU BOHONG!!!!  BOHONG!!!! AKU TAK PERCAYA MAYA SUDAH TIADA!!!! “ teriak Masumi menggelegar sambil mengguncangkan tubuh Richard dengan kuat.

“ Masumi, tenanglah…. “

“ BAGAIMANA MUNGKIN AKU BISA TENANG!!!! “ air mata Masumi mulai mengalir setitik. “ AKU MENCINTAINYA!!!! IA HARUS HIDUP DISISIKU!!!!! “ dan titik-titik air mata mulai menyusul kemudian.

Seluruh sahabat Maya terkejut, mereka tak menyangka musuh utama Maya, Masumi Hayami yang mereka kira selama ini, jatuh cinta pada sahabatnya.

Rei menghela nafas panjang. Sekarang ia mengerti, bagaimana keadaannya. Maya dan Masumi ternyata saling jatuh cinta. Namun keadaan tak membiarkan mereka bersatu. Maya menyadarinya, dan ia melangkah terlalu jauh memutuskan semuanya. 

Rei merogoh saku yukatanya, dan mendapatkan titipan dari Maya.

Sebuah amplop kecil berwarna ungu muda yang cerah dan bahagia.

Ia teringat, sebelum Maya naik panggung di Lembah Plum, ia menitipkan amplop ini untuk diserahkan ke Masumi. Maya tak mengatakan apa isinya, apa maksud tujuannya. Ia hanya memohon kepada Rei agar amplop ini sampai ke tangan Masumi. Setelah itu, ia tersenyum manis dan mulai melangkah ke panggung.

“ Pak Masumi, ini.. “ Rei menyerahkan amplop mungil di tangannya yang bergetar. “ Maya menitipkan ini padaku, ia ingin anda….  membacanya… “

Masumi masih bersimbah air mata. Ia menerima amplop itu dan membukanya dengan tak sabar.

Pak Masumi….
Ini saya, Maya Kitajima…
Saya tak tahu harus memulai dari mana…
Saya tak tahu… Harus bagaimana….
Namun satu hal yang saya tahu….
Saya sangat mencintai anda

Serasa mimpi indah kalau saya bisa menjadi kekasih anda
Atau belahan jiwa bagi Pak Masumi

Selamanya… aku hanya milikmu
Seluruh cintaku, senangku, dukaku, hidupku…
Takkan bisa dimiliki siapapun

Karena itu…
Tolong terima permintaan maafku…
Dan pernyataan cintaku yang kekanakan ini untuk anda..
Mawar Unguku…
Aku mencintaimu

Detak jantung Masumi serasa melambat dan hendak berhenti berdetak.  Ia kembali membacanya dengan lebih perlahan dari sebelumnya. Huruf demi huruf. Kalimat demi kalimat.

Maya….. mencintaiku????

Dan kali ini, Masumi benar-benar menahan nafasnya.

Mawar Unguku????

Tubuh Masumi langsung limbung, ia jatuh berlutut.

Maya, kau tahu siapa aku???? Kau tahu… ?????

Masumi mendekap erat surat cinta dari Maya didadanya. Nafasnya semakin cepat dan berat, serta menangis tergugu. Masumi meneriakkan nama Maya berulang-ulang sambil menundukkan kepalanya dan menjatuhkan bulir-bulir air mata di lantai rumah sakit. Berharap kekasih hatinya mendengarnya sedang memanggil-manggil sang belahan jiwa dengan suara yang menyayat.





 
blogger template by arcane palette