Sunday, 26 February 2012
Background Music of Paragraph 03, by Whitney Houston
Run To You
I know that when you look at me
There's so much that you just don't see
But if you would only take the time
I know in my heart you'd find
A girl who's scared sometimes
Who isn't always strong
Can't you see the hurt in me?
I feel so all alone
[Chorus:]
I want to run to you (oooh)
I want to run to you (oooh)
Won't you hold me in your arms
And keep me safe from harm
I want to run to you (oooh)
But if I come to you (oooh)
Tell me, will you stay or will you run away
Each day, each day I play the role
Of someone always in control
But at night I come home and turn the key
There's nobody there, no one cares for me
What's the sense of trying hard to find your dreams
Without someone to share it with
Tell me what does it mean?
[Chorus]
I need you here
I need you here to wipe away my tears
To kiss away my fears
If you only knew how much...
[Chorus]
Paragraph 03
Run To You
Lift
yang membawa kedua insan itupun mulai membelah level demi level lantai
apartement. Apartement Maya Kitajima bukanlah apartement murahan seperti dulu
tempat ia dan Rei tinggal. Apartement yang dulu dengan mudahnya dijangkau dalam
waktu 5 menit menuju kamarnya, yang hanya terletak di lantai dua kini mulai
terasa sangat simple dan gampang.
Tiap malam tak lupa ia meletakkan 1 atau 2 botol susu kosong di depan untuk
kemudian di tukar dengan yang baru keesokan paginya. Mengeluarkan sekantung dua
kantung sampah di tong sampah , serta meneliti sudut-sudut kotor yang harus ia
bersihkan. Pagi harinya loper koran akan menaruh sebuah majalah langganan Maya
. Kalau beruntung kadang ia bertemu Maya yang hendak berangkat latihan pagi di
pinggir sungai terdekat, untuk mendapatkan sekedar cerita pertunjukkannya atau
bahkan tanda tangannya.
Namun
kini Maya harus melalui penjagaan full
security 24 jam non stop, CCTV di setiap sudut, cleaning service yang
menjamin kebersihan lingkungannya, serta senyum ribuan watt para pengurus yang
siap menyinari kemewahan apartement hanya untuk sampai di tempat peraduannya
yang ia sebut baby violet big pillow.Dilantai 2 terdapat supermarket yang menjamin kebutuhan tiap orang yang tinggal
ataupun sekedar berkunjung. Sasana Gym dan food court
kualitas bintang lima berderet rapi guna memanjakan kesehatan dan perut. Tata
lampu dan tanaman hias menambah nilai eksotik dan keseimbangan proporsi
ruang--sesuai brosur iklan onlinenya di dunia maya.
Pintu
lift terbuka ketika green lamp menunjukkan
angka 23 dan Masumi masih menggandeng tangan Maya. Maya merasa
beruntung karena tak seorangpun artist, sutradara atau produser lain yang memergoki mereka
berdua untuk menuju pintu Maya. Dan tak lain karena Masumi Hayami-lah—Mawar
Ungunya—yang memberinya kehangatan melalui tangannya.
“
Mana kuncinya, Maya? “ tanya Masumi memecah lamunan Maya.
“
Eh.. ehm.. tu.. tunggu sebentar.... “ ucap Maya gugup.
“.....”
“
..... Pak Masumi... akan lebih mudah bagiku untuk mencari kunciku dengan kedua
tanganku....” kembali Maya berucap malu-malu.
Masumi
tersadar. “ Ah.. Maaf...” dan ia pun melepas tangan Maya dengan perasaan enggan
dan muka memerah.
“Baiklah
Pak Masumi, saya sangat berterima kasih untuk bantuannya malam ini. Anda sampai
repot-repot mengantarkan saya sampai ke kamar. Sebenarnya anda tak perlu sampai
begini Pak...”
“
Aku menginginkanmu benar-benar sampai kamarmu, apa itu masalah buatmu? “
“
Eh? Bukan be.. begitu... “ Maya tertahan untuk menggesek apartment key card-nya. “Sama sekali tak masalah buatku, namun akan
menjadi masalah besar untuk anda Pak.. Kalau... Ada yang memergoki kita
bergandengan tangan sedari tadi, bahkan paparazi,
saya yakin akan menjadi berita yang sangat tidak nyaman untuk anda dan.. Nona
Shiori... “
Masumi
merasa sangat tertohok mendengan nama tunangan yang sama sekali tidak ia
cintai.
“
Apa kau meragukan sistem keamanan apartement ini, Maya? Apartement ini adalah
apartement elit dan sangat menjunjung tinggi privasi para penghuninya. Kau tak
perlu mengkhawatirkan apapun, pikirkan saja pertunjukan dan syuting-syutingmu berikutnya.”
Masumi megalihkan pembicaraannya, ingin Maya tidak lagi mengucapkan kata Shiori
ketika mereka sedang berdua.
“
Tentu tidak, Pak Masumi. Apartement ini hebat sekali! Aku sungguh beruntung
Mizuki memilihkan ini untukku.” Ucap Maya meluruskan.
Tentu saja, ini adalah apartement
pilihanku untukmu, Maya...bisik
Masumi dalam hati.
“
Baiklah, bagus kalau kamu suka. Aku pamit dulu. Maaf sudah menahanmu begitu
lama di depan pintu kamarmu sendiri.” Ucap Masumi tersenyum
sembari
merapikan jasnya yang sama sekali tidak berantakan.
“
Ung.... tidak apa-apa. Terima kasih, Pak..
Hati-hati dijalan...” bungkuk Maya dalam-dalam.
Masumi
menganggukan kepalanya dan membalikkan tubuh tingginya, menjauh menuju koridor lift. Maya
memandangi punggung Masumi yang terlihat pilu dan lelah berwarna orange
sunset, tersiram lampu sorot ruangan. Maya mendorong pintu yang sudah
terbuka sedari tadi, namun belum juga memasukkan tubuhnya kedalam ruangan. Rasa
rindunya menyeruak hebat mendapati Masumi kini berjarak sekitar 7 meter dari
dirinya.
“ Pak Masumi!”
“ Eh? “
Masumi tercengang, barusan.. .. Maya memanggilnya? Dan
benar saja, ia mendapati Maya sudah berlari ke arahnya.
“ Aku baru bisa membuat caffe latte, kemarin aku bisa menyuguhkannya untuk Pak Kuronuma dan
Koji, apa anda.. Mau mencobanya? “ undang Maya kikuk.
Masumi senang sekaligus cemburu. Lagi-lagi Koji berhasil menampar hatinya
tanpa susah payah melayangkan tangannya . “ Terima kasih untuk undangannya,
tapi aku harus segera ke kantor, menyelesaikan berkas-berkas di mejaku. Lain
waktu, aku pasti mencobanya. Kalau bisa, aku lebih suka apabila akulah yang
pertama mencoba setiap uji coba masakan atau minuman buatanmu, Maya.”
“ Apa anda suka Frappe?
Atau mungkin Espresso???? Aku bisa
membuatnya dengan cepat serta non caffeine, jadi Pak Masumi bisa tetap
menikmati kopi tanpa khawatir akan kesehatan dan berkas-berkas anda.. “ kali
ini undangan Maya terlihat agak berlebihan. Dan Masumi dapat membacanya sangat
jelas.
“ Espresso,
please.. aku lebih suka yang panas.
“ jawab pria itu dengan senyum terlebarnya. Dia sangat bahagia akan paksaan
Maya yang spontan ini.
“ Baiklah, tapi untuk rasanya aku tidak bisa
menjanjikan seperti buatan Nona Mizuki. Aku hanya pernah mencobanya dua kali,
itupun aku sendiri yang mencobanya. Belum pernah ada orang lain yang
menilainya. “jawab gadis itu bergegas menuju kamarnya dan buru-buru ke dapur.
Ruangan berdesain Jepang modern-traditional langsung menyambut pria yang tak lain pemilik
apartement. Ia memang memilikinya, namun bukan berarti ia memahami semua property-nya. Dan itu hal lumrah bagi
Masumi. Sofa sudut empuk berwarna tanah berpadu hitam beludru serta meja mungil
berbentuk kotak melengkapi estetika keindahan ruangan. Tak lupa karpet putih
gading bercorak bambu menjadi alasnya. Masumi merasa sangat nyaman memposisikan
tubuhnya dengan gaya pemalas. Sambil menunggu Espresso buatan Maya, ia menyalakan TV.
“ Maaf lama, Pak… Saya harus membuka note untuk resep
ini, srmoga cocok ya dengan rasanya.” Ucap gadis mungil itu membawa nampan
berisikan dua cup minuman panas serta
setoples makanan ringan.
“ Ah.. akhirnya.! Kukira aku akan sampai menginap
disini menunggumu. Semoga perutku tidak apa-apa begitu aku meminumnya “ gelak
tawa Masumi membuncah sembari menyesap espresso
panas ke mulutnya.
“ Pak Masumiiiii… aku sudah mencicipinya dulu tadi,
dan kurasa Pak Kuronuma dan—“
“ Enak! Bagaimana mungkin kau bisa membuat kopi
seperti ini? Aku akan minta Mizuki mengganti Mountain Blue Coffe dengan kopi ini. Berikan resepnya padaku
sekarang juga! “ potong Masumi cepat sebelum Maya mengucapkan si initial K.
“ A… Baiklah Pak. Aku akan segera mencatatkannya
sekarang… “ jemari lincah Maya menulis sebuah resep kuno—yang kebetulan disukai
Masumi—dengan cepat di balik lembaran kertas brosur pertunjukannya mendatang.
Masumi mengamatinya sambil terus menyesapkan minuman itu, sepertinya lidahnya
juga sudah sangat jatuh cinta pada rasanya.
“ Dan itu… Aku yakin Pak Masumi tahu, kalau besok aku
akan tampil di Gedung Amaterasu jam 6 sore. Kuharap anda bisa datang dan
melihat pertunjukanku…. “ undang Maya.
“ Aku selalu datang pada semua pertunjukanmu, Maya.
Jangan lupa, akulah yang menyelenggarakannya dan gedung yang besok kau tempati
itu juga gedung terbaru milik Daito. Aku ingin membuka gedung itu dengan
pertunjukan Bidadari Merah sebagai seorang penyuap agar Dewa Dewi mau
membantuku melancarkan bisnisku disana. “
Keduanya langsung tertawa renyah. Dan langsung
terdiam. Masumi masih belum bisa membaca sepenuhnya apa maksud undangan Maya,
atau paksaan lebih tepatnya, sampai Maya tega membuatnya menelantarkan berkas
bernilai jutaan yen. Tidak berbeda jauh dengan Masumi, Maya sedang mengumpat
banyak dalam hatinya, kenapa ia berani bertindak sembrono mengekspresikan perasaannya
yang hanya separuh niat.
“ Kopimu enak sekali Maya, sayang sekali aku harus
pamit dulu . Jangan bosan untuk membuatkanku lagi lain waktu ya.“ Masumi bangkit dari sofa dan lagi-lagi
membereskan jasnya. Mungkin memang sudah kebiasaan Masumi untuk selalu tampil
rapi kapanpun dan dimanapun.
Maya ikut bangkit dari sofanya, namun ia masih belum
rela. “ Apakah pertunjukkanku bagus, Pak? Sebagai penonton, apakah Pak Masumi
sama sekali tidak merasa bosan akan pertunjukan ulangku? “
Kali ini Masumi benar-benar sangat yakin ada yang
tidak beres dengan keadaan psikis Maya.
“ Ada apa, Maya? “
“ Ha? Maksudnya?”
Masumi melangkah mendekati Maya. “ Ada hal yang ingin
kau sampaikan kepadaku?” jemari panjangnya mulai menyentuh ubun-ubun gadis
mungil itu dan membenamkannya lebih dalam, berharap yang dilakukannya mampu
membuka mulut Maya yang entah mau dibuka atau di tutup selamanya.
“ A…. Aku… Saya… “ kegugupan mulai menerjang
pertahanan diri Maya yang dari dulu memang tidak ada bagus-bagusnya. “… Saya
sangat berharap Pak Masumi besok dapat datang ke pertunjukan saya, namun saya
khawatir kalau Pak Masumi mulai jenuh akan performa saya belakangan ini…” ucap
Maya tertunduk, memandang tangan-tangan mungilnya merenggut ujung kaos berbahan
lembut.
Jemari Masumi yang sedari tadi menari-nari di kepala
Maya pun terhenti sejenak, kemudian berubah menjadi topan yang memporak
porandakan tatanan rambut Maya dengan agak kasar. “ Kukira ada apa, dari tadi
kau terlihat begitu gugup dan tertahan sesuatu. Kalau yang kau permasalahkan
adalah kehadiranku besok, atau mood-ku besok, maka kau bisa tidur lelap malam
ini. Aku pastikan kursi VVIP tepat di depan panggung akan kududuki.”
“ Pak Masumiiii, hentikan kebiasaanmu mengacak-ngacak
rambutku! Aku bukan anak kecil lagi! Aku….” Mata Maya melebar membentuk bulatan
tegas ketika menengadahkan kepalanya dan mendapatkan wajah Masumi sangat dekat.
“ Kau wanita dewasa yang matang, aku tahu itu, Maya…
Sangat menyadarinya….” Masumi pun mendekatkan wajahnya perlahan menuju lipatan
bibir pucat Maya yang sepertinya semakin kering dengan reaksi Masumi.
“ Pa.. Pak… Masu…..” Kata-kata Maya terhenti sampai
disitu saja. Dia tak mampu lagi melanjutkan kata-kata bodohnya, yang ia sendiri
tak tahu mau bicara apa. Bibir tegas Masumi menyapu lembut bibir Maya perlahan,
perlahan dan perlahan. Jemarinya yang tadi menggeraikan rambut Maya sudah
berubah menjadi dekapan di tengkuk sang gadis. Tanpa ampun Masumi memeluk Maya,
seperti Phyton yang hendak
menghancurkan tulang belulang lawannya untuk dilumat. Nafas keduanya
tersenggal. Dan eurofia sekitarnya berubah serasa di dunia pelangi dengan kabut
awan kapas yang beterbangan kesana kemari. Dan ini pertama kali bagi Maya, di
cium pria dalam kondisi sadar. Dulu ia pernah mencium sang pria, namun ia menjadi
pencuri kala itu. Kaki-kakinya melemas. Tubuhnya seperti coklat masak yang
langsung melumer terkena teflon panas. Otaknya lumpuh sejenak. Namun Maya
langsung tersadar akan sesuatu.
Nona
Shiori….
Tubuh keduanya langsung terpisah. Masumi mendapati
tangan Maya mendorong dadanya kuat-kuat, dan apabila Masumi tidak terjaga, ia
pasti sudah terjengkang sekarang.
“ Maya? “
“ Ma.. Maaf , Pak Masumi… Sepertinya kita berdua
lelah. Saya rasa, saya harus istirahat untuk pertunjukan besok. Mohon maaf
kalau saya lancang sedari tadi menahan anda disini. Saya….” Air mata Maya
meleleh sebutir, menggaris pipi putihnya.
“ Maya… Maaf. Maaf
kalau aku berbuat lancang. Kumohon.. . Jangan seperti ini. Aku tak ingin
melihatmu menangis seperti ini “ jemari Masumi meraih pipi dan menghapus jejak
air mata Maya. Menyesali perbuatannya yang terlalu cepat ini.
“ Tidak Pak Masumi…. Aku tidak apa-apa.. Terima kasih
untuk mala mini, maaf…. Saya ingin istirahat…”
Mata keduanya bertemu. Maya sudah terlihat seperti
sebelum mereka berciuman. Tak ada air mata disana. Namun Masumi masih
menduga-duga. Apakah ini salah satu aktingnya, mengingat dia adalah aktris
fenomenal saat ini.
“ Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu. Terima kasih
untuk espresso-nya, dan resep ini
kubawa. Selamat malam, Maya. “ Pamit Masumi sopan dan langsung menuju pintu
keluar -- masih dengan beragam pertanyaan menggelayuti otak briliantnya. Masumi
mungkin mampu meringkaskan berbagai masalah perusahaannya, namun ia sangat
payah di bidang Maya Kitajima..
“ Sama- sama Pak, hati-hati dijalan. “ ucap Maya
melepas ekor mata Masumi yang mulai menjauh.
Tadi… Pak
Masumi… menciumku…? Kenapa… Kenapaaa??? Aku… Aku masih rindu akan kehadirannya.
Dan bodohnya aku malah semakin merindukannya sekarang. Aku… aku…..
Kerinduan Maya yang meledak seketika membawa kakinya
tuk melangkah. Mengejar Masumi yang hampir mencapai pintu lift.
“ Pak Masumi ! “
Masumi menoleh sedikit. “ Maya??? “
Entah karena efek keletihannya, atau karena efek
ciumannya barusan, atau malah yang terburuk, karena ia mengkonsumsi kopi buatan
Maya sekali tenggak, karena yang ia lihat bukanlah Maya Kitajima yang tengah
menarik ekor jasnya.
Gadis itu
berambut agak keunguan, panjang dan separuh tergelung, dengan hiasan bunga Orin merah di telinga kanan yang seperti
tersemat dan diramaikan dengan putik-putik bunga putih gading, seperti semburat
dandelion yang tertiup angin. Mengenakan kimono hebat berwarna merah serta
selendang yang entah kenapa seperti bercahaya dan bertabur kelip
bintang-bintang. Namun matanya benar-benar yakin—itu Maya Kitajima! Tapi kenapa….
la seperti Crimson Goddes???
Tidak mengherankan apabila indra penglihatan Masumi
sejenak menjadi lumpuh dan berhalusinasi. Itu bukanlah halusinasi atau khayalan
atau bahkan keletihan tubuhnya. Rasa rindu Maya untuk memiliki Masumi sudah
diwujudkan dalam wujud dewi merah. Maya sendiri tak menyadarinya. Tak mengira
akan efek dari perasaannya terhadap performanya. Ia mampu menjadi Bidadari
Merah di bekas reruntuhan gedung dan stasiun, di dunia panggung yang melibatkan
tenaga professional, atau bahkan di lorong apartement dekat pintu lift. Itulah bakatnya.
“ Pak Masumi…” sekarang wajah Maya malah terlihat semakin
manis dan melankolis.
“ Maya? Aku serius sekarang! Katakan ada apa atau aku
akan menginap di kamarmu malam ini! “ tegas Masumi tak sabar.
Maya terjegil. Menginap?????
“ Pak Masumi… Kenapa harus pakai acara menginap? A.. Aku hanya ingin
mengatakan sesuatu…”
“ Kenapa dari tadi tidak kau katakana, Maya? Apa kau
perlu kuajarkan bagaimana caranya berbicara dengan manusia lain? Aku ini masih
manusia, bukan alien! “ Masumi
terkekeh ringan. “Apa hal itu sangat penting? “
Hati Maya tak tenang. Ia ingin sekali menumpahkan
semua uneg-uneg dan pikirannya seperti tsunami ke otak Masumi, tapi itu tak
mungkin! Bagaimana bisa ia tega membuat wanita yang berlutut demi masa depannya
kepada Maya, terus menanti kepastian yang tak ada ujungnya? Harus berapa lama
dan berapa dalam lagi Shiori harus berlutut dan menundukkan badannya sebelum
Maya memeluknya beberapa jam yang lalu? Maya hanyalah gadis yang cukup—sangat
tidak menguntungkan dalam posisi ini. Maya memang mengenal Masumi sudah
semenjak ia masih ABG ingusan berusia 13 tahun. Bertengkar, bertengkar dan
bertengkar mengisi hari-harinya bila bertemu dengan sang direktur. Namun
semenjak Maya berhasil menyingkap fakta siapa sosok asli dari direktur dengan
kecerdasan pas-pas-annya, perasaannya langsung terjungkal dan tidak rasional.
Ditambah kehadiran wanita cantik nan sempurna yang setia menggelayut lengan
kokoh Masumi, Maya semakin yakin kalau iapun ternyata memiliki rasa cemburu
yang luar biasa besar. Ia ternyata juga bisa seperti wanita-wanita lain. TIDAK
RELA!!!!
“ Pak Masumi…. Aku ingin kau memiliki ini…” tangan
mungil itupun menyelinap ringan di saku rok mininya, mencari dan sedikit
meremas sehelai syal biru dongker yang masih terawat, lalu menjulurkan kea rah
Masumi perlahan.
“ Ini…? “
“ Syal biruku. Aku berharap Pak Masumi mau
menyimpannya. “ senyum termanis Maya mengembang lebar, berusaha menutupi kacau
balau kondisi hatinya dengan susah payah.
Masumi menaikkan alisnya bersamaan. “ Untukku? “
“ Iya. Hanya untukmu, Pak Masumi. Ini memang punya
saya, namun bukan berarti saya sudah memakainya. Saya sungguh-sungguh menyimpan
dan menjaga syal ini. Dia berarti banyak untukku dan sudah seperti jimat keberuntunganku….”
Maya mulai mengiba.
“ Baiklah. “ Masumi
pun mengambil alih syal biru yang terlipat rapi dari tangan kanan Maya
yang terbuka lebar. “ Terima kasih. Aku pasti akan menjaganya baik-baik. Kau
yakin mau memindahkan keberuntunganmu ini padaku, Maya? Jangan kau sesali
karena aku sama sekali tidak berminat mengembalikannya sampai kapanpun“
Keduanya tertawa ringan.
“ Anggap itu kenang-kenangan dariku, Pak Masumi. Aku
tak tahu harus memberimu kenang-kenangan yang seperti apa. Anda sudah memiliki semua,
bahkan tempat aku tidur ini pun, Anda yang punya. Aku hanya punya ini. Kuharap
anda juga bisa merasakan keberuntungan setelah memilikinya. “ Sedikit Maya
menundukkan lehernya dan berusaha menghindari tatapan Masumi yang mulai
merekat.
Masumi mendapati rona merah di kedua pipi gadis mungil
dihadapannya. Ia tersanjung, sangat! Jemari panjangnya mendekatkan syal itu ke
indra penciumannya dan menarik dalam aroma khas Maya serta semburat parfum
beraroma Velvet Rose. “ Terima kasih,
Maya. Aku pamit dulu. Kuharap kau tidak bosan membuatkan Espresso serta
sering-sering memberiku kenang-kenangan lagi.” Ujar pria jangkung itu seraya
memendekkan jarak diantara keduanya hanya dalam sekali langkah.
“ Aku mencintaimu… “ aku Masumi sembari mencuri kening
Maya dengan bibirnya.
Serasa dunia runtuh dan padang bunga melanda hatinya secara bersamaan,
Maya membelalakkan kedua matanya.
“ Pak… Pak….? Pak Masumi barusan… Bilang apa???? “ Telinga
Maya berfungsi sempurna. Namun entah kenapa 2 patah kata Masumi barusan
terdengar seperti gaung yang tidak jelas pantulannya.
Masumi merendahkan tubuhnya, mendapati bola mata Maya
yang melebar tak percaya menuntut pengulangan. “ Aku mencintaimu, Maya….”
Kali ini kata-kata Masumi terdengar sangat jelas
berkumandang di seluruh aliran darah Maya. Namun hati nurani Maya mencoba
menyangkal kalau sekarang ini adalah nyata, bukan mimpi, bukan juga hal yang
kemarin-kemarin sering ia bayangkan ketika ia melamun sambil berendam di bath-up mungil berisikan air hangat.
“ ……”
Maya hanya bisa melongo dan membuka setengah mulutnya.
Tadi dia sempat merasakan—lagi—bibir pria idamannya di bibirnya, tak lama
kemudian di keningnya. Dan sekarang pengakuan cinta di depan pintu lift
menjelang kepulangannya kembali ke meja kerja.
ini benar-benar diluar nalar terliarnya sekalipun!
“ Kau bisa menjawabnya kapanpun kau mau, Maya. Aku
takkan pernah lelah menunggumu. “ Pria jangkung itu member pernyataan kembali,
yang membuat hati siapapun pasti seperti di awang-awang surgawi. Sembari
melangkah masuk ke dalam lift dan meninggalkan Maya yang belum juga menutup
rapat mulutnya, Masumi kembali berkata hal-hal yang akan sangat terpatri kuat
di memori Maya.
“ Dan kuharap kau tidak melupakan ciumanku tadi. Walau
kau menggunakan pembersih lipstick
se-steril apapun, cintaku akan tetap ada disana. Selamat malam, Maya…”
Dan pintu lift pun tertutup. Menertawakan mimik Maya
yang terombang ambing akan keadaan yang sangat tidak menguntungkan serta rasa
cinta yang kini mulai meresap lebih dalam lagi di bibirnya.
**
Amaterasu Building adalah salah satu peranakan dari kerajaan kokoh Daito. Berdiri
tegak di distrik yang sangat strategis di pusat kota Tokyo. Tak jauh dari
ayahnya—Daito—Amaterasu merupakan bangunan yang sangat megah. Melibatkan
setidaknya 12 perancang terkemuka di kota Tokyo serta perencanaan matang dan
dana yang sudah dipersiapkan untuk pembengkakan angka, menjadikan Amaterasu
menjadi pujaan para perancang bahkan pejalan kaki yang sekedar lewat di depan
trotoarnya. Desainnya sangat dinamis, namun tak meninggalkan kesan tradisional
khas negeri Sakura. Kolam ikan koi dengan dentingan bambu yang dialiri air ada
di muka dibantu barisan pohon Palem Raja dan Kuning memagari sekeliling gedung serta lampu-lampu
jalan yang meyoroti setiap jengkal aspal. Tak ketinggalan pepohonan Sakura ikut
meramaikan halaman yang berbentuk huruf L besar dan menyiku sudut
bangunan--memang disediakan untuk sekedar bersantai atau menikmati teh hijau di
kafetaria. Bila beruntung, matahari senja yang hebat siap mempesona mata para
pengunjungnya. Warna kuning cerah membalut sempurna baja yang meliuk disisi
timur gedung, serta kuning senja di sisi barat. Tidaklah heran mengapa warna
alam cukup mendominasi di wilayah ini. Masumi ingin menyesuaikan dengan
temanya, dengan “anak” barunya yang dia anggap akan menjadi kebanggaan Daito
yang lain. Amaterasu atau ÅŒhiru-menomuchi-no-kami dalam mitologi Jepang adalah dewa
matahari dan merupakan dewa Shinto yang paling penting. Ia lahir dari mata
kiri Izanagi. Ia juga dikatakan berhubungan secara
langsung dengan garis silsilah rumah tangga kerajaan Jepang dan kaisar. Dengan
tema yang kuat inilah, Masumi Hayami berharap sang dewa mau menyinari
peruntungannya disini. Dalam segi bisnis tentunya.
Pementasan perdana Bidadari Merah di Amaterasu berlangsung sangat
sempurna. Decak kagum dan nafas yang tertahan dari para penonton selalu
mengiringi mulai dari awal hingga akhir pertunjukan. Kepiawaian Kitajima Maya
serta Sakura Koji dalam penumpahan bakat mereka di atas panggung sudak tak
dapat diragukan lagi. Seandainya senjata, pasangan ini mewakili Long Range Sniper Rifle, Caliber .50, M107 yang mampu memporakporandakan
sasaran dibalik tembok sampai menembus baja tank tempur sekalipun.
Gemuruh tepuk tangan dan teriakan kekaguman histeris yang tiada
henti mengisi tiap sudut ruangan sesempit apapun dengan resonansi tinggi,
menandakan kesuksesan Amaterasu di hari pertamanya lahir. Senyum seluruh pemain
menghiasi wajah mereka masing-masing, melupakan betapa kering dan sakitnya
tenggorokan yang belum sempat menenggak air mineral dibelakang tirai serta
cucuran keringat di tengkuk dan beberapa bagian tubuh lainnya. Mereka terlalu
bersemangat di panggung perdana dan merasa dimanjakan oleh segala fasilitas
penunjang. Kuronuma merasa sangat tersanjung dan terharu dengan keputusan Daito
menampilkan mereka sebagai ujung tombak penembus pasar hiburan tanah air.
Kitajima Maya—Crimson Goddes—perlahan meninggalkan panggung dan dunia lainnya
dia hidup. Beberapa jam waktu yang lalu langkahnya benar-benar ringan manakala
ia menjejakkan kakinya di panggung dengan kabut asap tipis mengiringinya,
benar-benar berlawanan dengan langkah kakinya sekarang. Wajahnya meringis
menahan sakit manakala Masumi Hayami berjalan menuju para petinggi hiburan
didampingi tunangan cantiknya, Shiori Takamiya. Maya tidak luka sedikitpun
diatas panggung, dia tidak terjatuh, terkilir, ataupun menabrak sesuatu yg
keras. Hatinya sangat-sangat sakit saat ini, dan hal itu tertangkap basah oleh
kedua pupil Koji yang terus memandangnya tanpa lelah.
“ Kau lelah, Maya? “ Koji menghampiri dan dengan hati-hati
merapikan poni Maya yang sedikit melekat karena keringatnya.
“ Sedikit.. Seperti
biasanya kok, Koji. Terima kasih…” ucap Maya sembari berusaha menepis tangan
Koji dengan halus.
Namun sepertinya Koji belajar dari masa lalu. Dia menjadi lebih
keras kepala dan lebih nekat. Meski tangan kanannya ditepis, nemun tangan
kirinya meraih lembut pinggang mungil Maya.
“ Koji! Apa yang kau lakukan!!! Banyak orang disini!!! “ sembur
Maya sambil berusaha melepaskan pinggang kecilnya yang sepertinya sudah
tersangkut kuat di lengan Koji.
Senyum Koji merekah, namun senyum itu tidak hanya mengandung rasa
sayang dan cinta, namun penuh tekad. “ Semalam di telpon kau bilang kau akan
memberikan jawaban lagi. Aku harap aku mendapatkan jawaban yang jauh lebih
memuaskan dari jawaban-jawabanmu yang lalu. Kau tak bisa terus-terusan menolak
pria yang sudah terlalu jauh mencintaimu. Kau tahu kan? Itu… Bisa sangat berbahaya
untukmu. Menyerahlah, Maya… Aku akan membahagiakanmu. “ tegas Koji dengan mata
tajamnya yang mampu membelah hati siapapun di depannya—kecuali Maya—sepertinya.
“
Haruskah kujawab sekarang, Koji? Semalam aku memang menelponmu, memberikan
jawaban untuk kalung dolphin yang
sekarang di sakuku, namun bukankah akan lebih baik lagi kalau tidak ada
siapapun yang melihat kita? Apalagi dengan posisi ini, semua orang pasti akan
salah sangka! Tolong lepaskan aku, aku tak enak dengan sekitar kita!! “ desak
Maya dan sedikit menaikkan nada bicaranya namun tetap berbisik.
Koji
tetap tersenyum. Dia tahu mereka mulai jadi bahan gosip dan pusat perhatian,
namun tetap saja tangannya bertengger kuat di pinggang Maya. Matanya menangkap sepasang
pandangan tajam dari pria yang lumayan mencolok tinggi badan dan segi
ketampanannya, dan Koji menjadi semakin tertantang.
“ Konferensi pers! “
“
Maaf? Konferensi pers? “ Maya mulai linglung.
“
Berikan jawabanmu nanti di konferensi pers. Semua media sudah tahu akan
perasaanku padamu. Berita tentang sepasang kalung kita juga sudah mengudara
seminggu yang lalu, dan mereka sangat hebat hingga berhasil mewawancarai
pemilik toko yang menjual kalung ini ketika kita kabur latihan dulu. “ Koji
mengendurkan pelukannya. “ Kau tahu sudah berapa lama aku menginginkanmu, Maya?
Sudah sangat lama. Dan ini salah satu penantianku. Aku akan sangat bersyukur
kau mau menjawab YA untuk menjadi
belahan hatiku di dunia nyata, dan bukannya niatan konyolmu yang terus menerus
ingin mengembalikan kalung itu padaku. Kalaupun nanti, pada saat media meliput
kita dan kau tetap menolakku, paling tidak aku akan mendapat tamparan hebat dan
kembali bertekad mendapatkanmu disisiku. Dan seluruh dunia tahu, betapa aku sangat
mencintaimu. Ingat itu, Maya… Kutunggu kau di kursi meja pers. “ ucap Koji
mantap dan segera menuju ruang konferensi pers di sisi barat gedung. Kakinya sudah
sembuh sempurna berkat rentetan therapy yang
disiplin dilakoninya dan tak butuh waktu lama bagi Koji untuk mencapai ruang
yang mulai dikerumuni orang.
Rasa-rasanya
seluruh tulang Maya sudah rontok dan tidak menempati posnya masing-masing. Bukan
ini yang ia harapkan ketika semalam ia menelpon Koji untuk kepastiannya memberi
jawaban kalungnya untuk yang terakhir kali. Ingin sekali ia berteriak frustasi
akan nasib percintaannya yang payah serta mungkin berubah jadi biarawati untuk
menghindari situasi ini. Namun kini ia tak bisa berkutik lagi. Ruang konferensi
sudah mulai padat akan petinggi drama hibura, produser, sutradara serta para
peliput berita yang sedang sibuk memfoto atau sekedar mengecek kesempurnaan
senjata-senjatanya—kamera tipis bertekhnologi canggih salah satunya. Masumi Hayami
selaku penyelenggara utama pertunjukan inipun sudah menarik kursinya, berjarak
2 kursi dari tempat duduk Koji. Pak Kuronuma memanggil Maya yang sedang sibuk
merangkai tulang belulangnya yang tadi terlepas-lepas akibat hantaman Badai Koji.
“
Ba.. Baik, Pak Kuronuma! Tunggu saya!!! “ seru Maya sembari mensejajarkan
langkah-langkah kaki mungilnya.
Para
peliput berita sudah siap memposisikan dirinya masing-masing. Pencahayaan akan
lampu sorot, mike yang berderet, notes-notes kecil serta sekelumit pulpen
siap mengabadikan moment yang siap di cetak selepas mereka kembali dari sini. Orang-orang
yang terlibat dalam sandiwara agung inipun sudah berjejer rapi. Ada Kitajima
Maya selaku pemeran utama, Sakurakoji Yuu selaku pemeran pendamping dan duduk
tepat disampingnya, Kuronuma Ryuzo sang sutradara gila yang jenius, Chiguza
Mayuko sang Bidadari Merah sebelumnya dan guru Maya, serta Hayami Masumi
sebagai raja dari bisnis pertunjukan ini. Rentetan pertanyaan mulai dilincurkan
para kuli tinta menuju barisan orang-orang yang siap disantap hidup-hidup tanpa
ampun. Pertama-tama, pertanyaan hanyalah seputaran pementasan dan tentang
gedung baru anakan kerajaan Daito. Masumi dengan bangga menjelaskan semua
fasilitas serta kerja keras para staffnya. Namun Masumi tidak memberi angka
pasti akan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan gedung bertemakan
Dewa Matahari tersebut. Namun pertanyaan-pertanyaan berikutnya mulai menyerempet
akan kisah percintaan Bidadari Merah yang cukup membuat panas telinga Hayami
muda.
“
Maya Kitajima, menurut kabar yang kami dapatkan, benarkah anda menolak pernyataan
cinta Yuu Sakurakoji beberapa waktu yang lalu? Sentil salah satu reporter
cantik berpakaian sopan berwarna merah marun tersebut.
“
Itu..”
“
Benar! “ Jawab Koji memotong jalur bicara Maya. “ Maya sudah pernah menolakku…
5 kali terhitung awal kami memulai pertunjukan drama ini. “
Suara
penyesalan puluhan—bahkan ratusan orang di gedung itu pun pecah. Mereka tak
percaya Maya bisa setega itu menelantarkan perasaan pria tampan yang jadi
pujaan para gadis-gadis muda.
“
Ko… Koji!!! “ muka Maya sontak memerah karena malu. Ia tak ingin hal ini
dibesar-besarkan. Dan otaknya yang ikutan mungil itupun tak bisa membaca akan
arah pembicaraan yang mulai membakar rasa ingin tahu orang-orang di gedung ini.
“
Maya, kau tahu semua orang sudah memikirkan arah hubungan kita, dan pasti
mereka mengharapkan hal yang indah akan merekah diantara kita, bukan begitu,
teman-teman? “ Koji melempar pertanyaan yang memancing dukungan para wartawan.
“
Kyaaaaa!!!”
“
Waaaww!!!!” atau
“
Yippiiiiii!!!!” menunjukkan ketertarikan mereka akan eurofia padang bunga
dadakan ini.
Dan
Masumi sangat ingin meninju kuat-kuat wajah pemuda brengsek yang berani
menantangnya ini sampai ibu kandungnya pun takkan mengenali wajahnya lagi. Koji
mendapati kembali tatapan es itu lagi, dan ia bukannya makin takut, namun makin
terbakar hebat serta menabuh genderang perang lebih keras lagi serta berharap
gendang telinga lawannya bisa pecah dan menjadikannya tuli permanent.
“
Aku mencintaimu, Maya. Maukah… kau menerima cintaku? “ Tanya Koji lekat-lekat
serta mencondongkan tubuhnya kearah Maya yang terkejut bukan main. Kalung berbandul
dolphin itu pun terpampang hebat di
tulang selangka kokohnya, seperti mengemis meminta pasangannya juga mau
menggelayut indah di leher mungil Maya.
“
Yaaay!!! Terima!! Terima!! Terima!!!!! Mayaa!!! Katakan YA!! “
sorak sorai para
wartawan yang ikut merona serta berbunga-bunga melihat langsung adegan
percintaan nyata sepasang artist muda itu. Barisan pengunjung yang memandang
mereka dari lantai-lantai atas pun ikut meramaikan suasana.
Semua
dukungan akan percintaan mereka semakin menusuk mata Maya. Ia bingung, sangat
bingung. Ia pun tak sengaja melihat kearah cucu Takamiya duduk diantara para
petinggi drama, Shiori. Maya mendapati senyuman tulus dari Shiori dan tangannya
yang saling menangkup seperti menunggu akan keputusan besar Maya terhadap
hidupnya.
Nona Shiori…..
Maya
pun menegok kearah Koji yang masih menunggu jawabannya. Bu Mayuko dan Pak
Kuronuma tetap dalam posisi duduknya, ikut menanti jawaban Maya namun tidak
terlalu diperlihatkan rasa penasarannya. Dan mata Maya pun tersangkut akan jala
dari daya edar mata Masumi.
Oh.. tidak…….
Sepasang
mata itu dingin, sangat dingin, namun juga datar dan tak nampak emosinya bagi
mata orang awam. Maya dapat merasakan betapa sakitnya hati Masumi yang semalam
membuatnya tak bisa tidur tenang mengingat akan kecupan kuat di bibirnya. Maya sangat
ingin membantu menghilangkan rasa sepi itu, tapi….
“
Koji…. “ Maya menarik kalung berbandul dolphin
itu dari saku kimononya. “ Koji… aku…. “ Maya menundukkan kepalanya, tak
sanggup membalas tatapan dingin Masumi. “ Ini….” Maya menyerahkan kalung itu
kekedua tangan Koji yang ia balikkan perlahan.
“
Ooooowwwwww…..! “ sesal para penonton.
Maya
membalikkan badannya, memunggungi Koji dan memilin lembut rambut panjangnya
serta mengangkat tinggi-tinggi untuk memperlihatkan tengkuk putih polosnya.
“ Koji…
Tolong… Pakaikan kalung itu….. di
leherku…” jelas Maya terbata-bata.
“
GYAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!! “ teriakan histeris yang kegirangan membalikkan
perasaan sesal para penonton yang barusan kecewa. Mereka berhalusinasi akan
hamparan kelopak plum yang bertebaran dan beterbangan memenuhi isi gedung,
serta mengharumi udara dari deretan AC.
Koji
terpana. Ia tak percaya perjuangannya jatuh bangun untuk mendapati cinta Maya
hanya tinggal sekaitan kalung yang kini di tangannya.
“
Ma.. Maya… Kupakaikan.. Diam sebentar ya….. “ jawab Koji terbata-bata. Tangannya
sedikit gemetar dan keringat dinginnya menguap entah kemana. Hatinya disesaki
sejuta bintang kebahagiaan sampai-sampai rasanya ia tak mampu bernafas dan
megap-megap mencari sebotol oksigen murni.
Ucapan
selamat pun dipanen kedua sejoli yang baru saja resmi. Pembukaan gedung baru
Daito dan pernyataan cinta Isshin serta terciptanya sepasang kekasih baru sudah
tentu menambah polularitas Daito . Kejadian langka ini dipastikan akan menjadi headline berita, majalah dan koran-koran
gossip yang berlomba-lomba menaikkan rating mereka. Bu Mayuko dan Pak Kuronuma
menyalami mereka serta mengucapkan selamat tulus. Maya baru akan bangkit dari
kursinya, menyambut uluran tangan sang guru dan sutradara, namun Koji malah
menarik tubuh Maya untuk memposisikan tubuh gadis mungil itu di pangkuannya.
“
Kooo.. Koojiiiii!!!! “ Maya gelagapan. Panik.
“
Terima kasih, Maya. Aku mencintaimu. “ ucap Koji mesra serta mencuri pipi Maya
dengan bibir tegasnya.
“
Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!! “ kembali jerit histeris melanda ruangan. Para photographer dan cameraman tak henti mengabadikan moment special ini. Hal lain apa
yang lebih menarik dari pangkuan serta ciuman Isshin kepada Crimson Goddes saat ini? Tidak ada!
“
Koji!!!!! “ Maya langsung meloncat dari pangkuan Koji dan mundur selangkah,
namun tak menyurutkan senyum kemenangan Koji. Maya pun langsung melihat kearah
Masumi Hayami yang sedari tadi membeku tak berdaya di sudut meja konferensi.
Pak Masumi… Maaf….
Maafkan aku…..
Monday, 6 February 2012
Background Music of Paragraph 02, by Jason Wade
You Belong To Me
See the pyramids around the Nile
Watch the sun rise
From the tropic isle
Just remember darling
All the while
You belong to me
See the market place
In old Algiers
Send me photographs and souvenirs
Just remember
When a dream appears
You belong to me
And I'll be so alone without you
Maybe you'll be lonesome too
Fly the ocean
In a silver plane
See the jungle
When it's wet with rain
Just remember till
You're home again
You belong to me
Oh I'll be so alone without you
Maybe you'll be lonesome too
Fly the ocean
In a silver plane
See the jungle
When it's wet with rain
Just remember till
You're home again
You belong to me
Paragraph 02
You Belong To Me
Bukan
kemauan Maya Kitajima untuk duduk di kursi penumpang sebuah mobil mewah milik
pengusaha ternama. Ia hanya berpikir sederhana. Menghabiskan lamunan dan
pikirannya sendiri sambil memandang kebawah akan lampu2 jalanan dan mobil yang
berlalu. Dari dulu hanya itu andalannya – mengkhawatirkan orang lain! Namun
semua tahu, dia tak bermaksud begitu. Hanya saja caranya untuk memikirkan
sebuah masalah terlalu dibawa ekstrem bagi khalayak umum.
Pengemudi disebelahnya pun dengan
tenang tetap mengemudikan mobilnya dengan mulus. Mungkin tangannya terlalu
nyaman di setir mobil berbahan khusus – yang entah butuh berapa gepok uang
untuk membayar designer-nya. Maya
perlahan menoleh kesamping, berusaha membuka matanya yang hanya terbuka
separuh.
“Pak
Masumi...” Maya mulai membuka suasana.
“
Iya? Ada apa, Maya? Kau ingin aku berhenti untuk membeli sesuatu? “
Seperti
biasa, Masumi selalu refleks ingin membuat nyaman gadis yang dia pandang sejak
7 tahun lalu. Maya menyadarinya. Menikmati semua perhatiannya. Dan lebih
mengerti, betapa bodohnya dulu ia tak menanggapi semua makna kebaikan dibalik
tangan dingin Masumi.
“
Tidakkah ini terlalu sunyi, Pak Masumi? Adakah hal yang bisa di bicarakan? Akan
lebih menyenangkan bila kita bisa saling berbagi informasi sambil menunggu anda
mengantarkanku ke apartement? “
“
Berbagi informasi? Seperti bukan kau saja, Maya, hahahhaaaa.... apakah kepalamu
terbentur sesuatu sebelum tadi aku menemukanmu? “ ucap Masumi menghangat
sembari merusak tatanan poni Maya, seakan mencari sesuatu yang rusak disana.
“
Pak Masumi, sampai kapan kau akan menganggapku anak kecil terus? Aku ini sudah
20 tahun! 20 tahun!!! Aku
wanita dewasa! Aku hanya ingin tidak terlalu sunyi disini. Apa itu salah? Dan
aku mampu berjalan dengan baik, meski bukan pemikiran bagus menggunakan
kacamata hitam dalam suasana malam, namun kepalaku baik-baik saja dan tidak
membentur apapun!” sembur Maya sambil kembali merapikan poninya.
“
Lalu kau ingin aku membagi informasi apa untukmu? Hari ini aku seperti
hari-hari yang lalu. Ketika aku tiba di kantor, Mizuki sudah menata beberapa
dokumen penting untuk ku periksa dan kutanda tangani. Setelah itu meeting
dengan beberapa kolega dan membahas soal saham di perusahaan cabang. Investasi
Daito yang makin membaik dengan suksesnya membawa Bidadari Merah ke pelosok
Jepang dan hal itu juga berkat kerja kerasmu, Maya.... “ sebuah senyum simpul
tersunging manis di bibir yang hanya terlihat dari lampu merah di sisi jalan.
Pipi
Maya merona. “ Sa.. Saya hanya melakukan apa yang perlu saya lakukan. Tidak
lebih dari itu, Pak Masumi....”
Masumi mengamati sejenak rona wajah Maya dan ia sangat
menikmatinya.
“
Kau sendiri, apa yang mau kau informasikan untukku? “
“
Hah? Oh.. itu....”
“
Mungkin bisa dimulai dari siapa pria yang kau cium itu? “ Masumi melandaikan
tubuhnya, menjorok ke arah kursi Maya. “ Apa aku mengenalnya, Maya? Atau pria
beruntung itu ada di kota yang sama denganmu? Atau bahkan.... Satu profesi
denganmu? “ selidik Masumi.
“
Jangan bilang anda curiga pada Sakura Koji, Pak Masumi... Itu sangat tidak
mungkin! “ Tegas Maya menantang Masumi.
“
Siapa tahu, kau jatuh cinta padanya. Dan kau berlaku seperti pemain-pemain
drama yang sedang trend di kalangan anak muda jaman sekarang, dimana dia
mencintai namun terlalu malu dan cenderung mundur, tapi tak ayal dia juga
mengharapkan si pria tetap mengejarnya meski dia pergi ke kutub utara
sekalipun. Akhirnya happy ending, seperti harapan para penonton. Itu hal yang
sangat lumrah, Maya.. Kau tak perlu malu untuk mengakuinya....”
Bodoh!
“
Aku memang jatuh cinta, tapi bukan pada Sakura Koji! “ seloroh Maya dengan
ceroboh. Membuat pernyataan yang memancing bulat2 pemikiran kaum Adam yang
terbalut hasrat asmara berlebih.
CKIIIITTTT!!!!!
Mobil
tiba-tiba berhenti. Tidak ada lampu merah, pikir Maya. Apakah mobilnya rusak?
Atau kehabisan bensin? Atau....
DEG!
Maya
sangat kaget karena jarak wajah Masumi sudah hanya sekitar 10 centi dari
wajahnya. Maya dapat dengan jelas mencium aroma mint dari nafas pria matang
yang menuntut jawaban pasti dari bibirnya.
“
Apa aku mengenal siapa pria yang sudah berhasil menancapkan anak panahnya ke
hatimu, Maya? “
Jantung
Maya tiba-tiba berdegup tidak karuan. Seperti Roller Coaster, namun lebih menakutkan, menegangkan tapi juga
membahagiakan. Sangat berbeda dari terakhir kali dia ke taman hiburan. Maya
ingin menjawabnya, tapi.....
“
Aaaa.... Aku ingin mendengarkan lagu!!! Bolehkan aku menyalakan tape ini, Pak Masumi??? “ Maya
menghindar lagi. mungkin sebenarnya gadis ini lebih suka bersembunyi daripada
dengan jelas mengatakan siapa pria yang telah mengisi hati dan otaknya
akhir-akhir ini.
“
Hhhhhh..... apakah hal itu terlalu pribadi untukmu , Maya?” Masumi
sedikit menghela nafas kecewa. “
Kalau memang aku terlalu lancang menanyakannya, aku minta maaf. Tidak
seharusnya aku bersikap begitu. Maaf.... “ Masumi kembali memperbaiki posisi
duduknya, mengencangkan sabuk pengamannya dan kembali menginjak pedal gas.
Tangan Masumi membantu Maya memijit tombol play
untuk kemudian memutar sebuah lagu.
“
Maaf, Pak Masumi... Seharusnya aku tidak membuka pembicaraan konyol ini. Anda
tidak perlu merasa bersalah begitu kepadaku... “ ucap Maya perlahan. Ada rasa
sakit tersirat di inotasi nada suaranya. Kembali Maya mengingat bahwa pria ini
sudah bertunangan. Dan ia tak berani melewati garis merah itu.
Masumi terdiam. Dia tidak menjawab apapun karena
memang dia tidak lagi ingin membahasnya. Dia sudah cukup kesal mendengar bahan
pertanyaan yang ia lontarkan sendiri.
Alunan petikan gitar nan merdu mengalun di dalam
mobil yang di support oleh sound sistem elegan—menghasilkan irama
teratur berkualitas tinggi yang memanjakan telinga si pendengar.
see the pyramids around the Nile…
watch the sunrise from a tropic
isle…
Masumi tertegun. “Kau tahu lagu ini, Maya? “ selidik
Masumi ingin tahu setelah Maya menyanyikan lagu ini dengan suara yang
tipis—mungkin malu—karena Maya langsung membulatkan matanya saat Masumi
bertanya.
“ Ini lagu favorit saya, Pak Masumi… “ ucap Maya
sambil tersenyum lembut kearah Masumi.
YOU BELONG TO ME
Masumi sejenak terpesona. Jarang sekali ia melihat
Maya tersenyum seperti ini kepadanya. Namun intensitas senyum ini mulai terasa
tak asing sejak peristiwa Astoria, peristiwa dimana ia merasa itu adalah hari
bersejarah untuknya. Mungkin rasanya seperti Kaisar Jepang yang telah
mengumumkan hari kemerdekaan kepada rakyatnya. Tapi tetap saja, ini adalah
senyum dari Bidadari Merah! Ia tidak akan pernah bosan untuk melihatnya terus
mengembang… atau sudah menjadi candu untuk relung jiwanya.
“ Ketika aku sedang menghadapi sebuah jalan yang
sulit, lagu ini tak pernah lepas dari telingaku. Jujur saja, Pak Masumi, aku
tidak sepenuhnya mengerti akan makna dari lagu ini. Tapi hanya dengan
mendengarkannya saja, perasaanku jadi lebih tenang. Dan aku merasa memang lebih
ringan untuk kembali berjalan… dan saat ini aku benar-benar senang bisa
mendengarnya… “ ucap Maya melanjutkan alasannya.
“ Apa kau sedang ada masalah berat, Maya? “ Masumi
khawatir.
“ Emmmh…. Bukan apa-apa kok, Pak Masumi. Mungkin
karena aku terlalu lelah dan lembab saja, jadi aku… ingin mendengarkan lagu! “
sanggah Maya cepat-cepat.
Sungguh
alasan yang sangat konyol untuk gadis yang sudah berkepala dua.
“ Tidak masalah kau ingin menceritakannya padaku atau
tidak, Maya… Namun kau ini aktris. Kau harus ekstra menjaga kondisi fisik dan
hatimu. Aku tahu kau pekerja keras, kau sangat tenggelam dalam peranmu, dan
sungguh kuakui, hasilnya memang sangat total. Tapi bukan berarti kau dibolehkan
melamun malam-malam sendirian, tanpa teman, kehujanan…”
“ Hanya gerimis ringan, Pak Masumi… “ Maya meralat.
“ Lalu apakah kau sekarang merasa nyaman mengenakan pakaian yang lembab itu ? “ Tanya
Masumi seraya mengecilkan tiupan AC mobil agar lebih menghangat.
“ I… itu…” Maya kembali gugup dan tak mampu mengelak.
“ Lagunya bagus kan, Pak Masumi? “
“ Maya, aku bukan anak kecil yang mampu kau bodohi
dengan politik membelokkan arah pembicaraan. Apa kau sadar, baru sekitar
setengah jam kau bersamaku dan sudah brapa kali kau bertingkah seperti itu… “
dengus Masumi kesal.
“ Eeeh…. Yang mana??? Aku hanya barusan saja kok….”
“Pertama, alasan kau melamun adalah memahami Bidadari
Merah. Oh Tuhan, yang benar saja… Kedua, setiap aku bertanya siapa pria yang
kau cium. Dan ketiga, sudah jelas-jelas bajumu itu lembab dan kau kedinginan.
Kau punya jari yang kurasa cukup kuat untuk menekan tombol AC “ Masumi
mengedarkan semua informasi yang ia miliki dengan cepat dan tak pelak Maya
seperti kena Palu Kebenaran tepat di keningnya.
“ Pak Masumi… maaf… Hari ini memang hari yang berat
untukku… Dan aku seperti ingin melupakan kalau hari ini ada. Namun aku minta
maaf, aku tidak bisa membaginya kepada siapapun. Ini sangat pribadi untukku,
dan saya harap, anda mau mengerti akan perasaan saya…” Maya melipat bibirnya,
menundukkan kepalanya sedikit serta mengetatkan jemarinya di tas putih
bertuliskan PRADA yang berwarna putih
agak perak.
Masumi merasa sangat miris. Ia ingin sekali menghibur,
membuatnya tertawa—bahkan memeluknya kalau bisa. Namun jelas-jelas gadis ini
seperti membentangkan police line
kuning—tanda bahwa ia tak boleh memasuki kawasan tersebut.
“ Namun Pak Masumi… Kalau anda tidak keberatan, maukah
anda mengingat lagu ini? Mungkin memang terdengar biasa-biasa saja untuk anda.
Namun lagu ini bekerja cukup baik untuk saya. Semoga semua permasalahan Pak
Masumi, entah apa itu, pekerjaan mungkin… Bisa sedikit menguap bila mendengar
lagu ini…. Dan tolong…. Jangan lupakan moment ini, Pak Masumi…” ucap Maya
perlahan dan terdengar sendu saat mengucapkan kalimat terakhir.
Masumi menganalisa keadaan, namun saat ini hasilnya
nihil. Ia sama sekali tak memiliki petunjuk pasti untuk situasi ini. Yang ia
tahu hanyalah aktifitas Maya yang sangat normal. Tidak memiliki konflik
berarti, kalaupun ada, itu hanyalah karena pekerjaannya. Namun biasanya,
separah apapun masalahnya, Maya tidak akan terlihat sedepresi ini.
“ Kita sudah sampai…” Masumi berkata tanpa menjawab
permintaan Maya.
“ Eh.. I.. Iya.. Maaf merepotkan anda, Pak Masumi…”
ucap Maya canggung dan agak sedikit kecewa.
Masumi turun terlebih dahulu setelah menahan tangan
Maya yang hendak membuka pintu mobil penumpang—Ia ingin membukakan pintu untuk
Maya. Pembicaraan mereka yang penuh tanda tanya membuyarkan rute perjalanan.
Maya tidak menyadari kalau Masumi sedikit menaikkan kecepatan mobilnya ketika
mendapati Maya sedikit menggigil kedinginan. Basement apartement Daito yang
terkenal akan tingkat keamanan yang tinggi tidak terlalu padat malam itu. Biasanya
jejeran mobil berwarna kuning Lamborgini,
atau merah beraninya si Kuda Jingkrak Ferrari,
bahkan Porche serta merk-merk
mobil lokal Jepang—Subaru misalnya—memadati
parkiran.
“ Baiklah, Maya… Segeralah ganti pakaianmu. Kau tak
perlu mandi kalau kau merasa kurang sehat. Kalaupun kau harus mandi, usahakan
suhu airmu mencapai minimal 35 derajat celcius. Aku akan kembali ke Daito,
masih ada beberapa hal yang harus kubereskan malam ini. “ Pamit Masumi sambil
menutup pintu penumpang dan menuju pintu pengemudi.
“ Pak Masumi… Apakah setiap hari harus sesibuk ini? Tanya
Maya, khawatir “ Apakah Pak Masumi tidak menyayangi tubuh Pak Masumi sendiri? Kalau
Pak Masumi terus-terusan hidup seperti ini, apa Pak Masumi tidak berpikir kalau
nanti anda takkan sempat menggendong cucu sendiri? “
Masumi menaikkan satu alisnya tinggi-tinggi. “
Maksudmu….?”
“ Emhh….. Pak Masumi pasti tahu kan… Orang normal itu
perlu beristirahat minimal 8 jam setiap harinya. Kalau Pak Masumi melanjutkan
hidup seperti itu, tidaklah heran kalau Pak Masumi nanti terkena kanker, diabetes,
bahkan penyakit jantung. Ditambah pola makan anda yang tidak disiplin, rokok
dan minuman keras. Bahkan tanpa rokok dan minuman keras pun Pak Masumi takkan
selamat dari serangan jantung. Jadi… Tidakkan
Pak Masumi sebaiknya beristirahat dan melanjutkan pekerjaan keesokan harinya? Jelas
Maya panjang lebar, berusaha mengingat-ingat artikel yang kemarin ia baca di
salah satu website kesehatan terkemuka di USA, dan bahkan Oprah pun sering membahas hal ini di acara talkshownya tanpa jemu.
Masumi tersenyum simpul mendengar kecerewetan Maya
yang malu-malu, yang bahkan tidak mengerti akan pentingnya tanda tangan Masumi
di beberapa dokumen yang terabaikan begitu saja di meja kerjanya.
“ Apa kau sedang meng-kampanye-kan pola hidup sehat,
Maya? “ Tanya Masumi sambil terbahak, kembali menutup pintu pengemudi dan
berdiri menghadap Maya.
Maya tertunduk, tersipu lebih tepatnya melihat senyuman
maut Masumi. Ia tidak mau Masumi mendapati wajahnya yang memerah seperti tomat
masak “ A.. Aku hanya… Khawatir….”
Masumi menyenderkan punggungnya di mobil serta
memasukkan tangannya disaku celananya.
“ Kau tak perlu khawatir padaku, Maya. Kuakui memang
aku memiliki pola hidup yang patut dicontoh siapapun. Percayalah, kau pun pasti
tak mau jadi aku! Aku sudah terbiasa mengisi otakku dengan pekerjaan, pekerjaan
dan pekerjaan. Makanan dan istirahat bisa dijadikan dalam satu waktu sekaligus
meeting santai dengan klien di meja kantin direksi. Aku lebih sering tidur
dalam kondisi tertidur, bukan tidur yang kurencanakan. Kadang dimeja kerja
Daito, kadang di toilet—beruntung aku memiliki toilet pribadi sehingga aku
tertidur tak perduli berapa lama pun aku disana, tidak ada yang akan menggedor
waktu tenangku. Kejadian paling parah sewaktu aku menunggu lampu merah. Ingin aku
menyalahkan angka penunjuk waktu digital di traffic
light malam itu, namun aku akan terdengar sangat konyol dimata polisi. Karena
setahuku, lampu merah disana hanya berupa angka 30 detik. Itu benar-benar
memalukan untukku… “ kenang Masumi dengan nafas berat. “ Namun entah kenapa,
ketika pekerjaan menghampiriku, aku seperti mendapat pasokan listrik yang mampu
menerangi Negara Jepang dalam satu detiknya. “
Maya terjegil seketika. Ia tak tahu kalau Masumi separah
itu kondisinya. Ia makin mengkhawatirkan sosok pria yang berdiri santai serta
memainkan sebatang rokok yang hendak dipertemukan dengan pemantik berukir ST.Duppont.
Bisakah ia
tidak menyulut rokok itu??? Pikir Maya jengkel,
seakan tidak mengindahkan kekhawatiran Maya barusan. Tidak perduli semahal
apapun rokok maupun pemantikmu, tetap saja mereka tidak bisa menjamin
panjangnya usiamu.
“ … Kau tidak suka aku merokok, Maya? “ Tanya Masumi santai.
Sangat jelas wajah Maya langsung terlipat-lipat begitu
ia mengeluarkan rokok disaku dan hendak menyalakannya. Masumi tidak ingin
menjadi tidak peka.
‘ Itu terserah Pak Masumi kalau anda tidak ingin
mendengarkan kekhawatiranku barusan… Aku sepertinya membuang waktuku dengan
berusaha keras mengulang kata-kata Oprah yang
kutonton kemarin. Aku permisi dulu, Pak Masumi. Terima kasih karena telah
mengantarkanku pulang .“ pamit Maya menutup pembicaraan dan membungkuk hormat
kepada pria dewasa didepannya.
“ Hahahaha....Baiklah Maya, beristi…..”
Belum sempat Masumi menyelesaikan kalimatnya,
tiba-tiba tubuh Maya limbung di depannya.
“ MAYA!!!! ”
Sekonyong- konyong tangan Masumi mendapatkan Maya di
pelukannya. Menahan kepala Maya dengan tangan kanannya, serta senepuk ringan
pipinya berkali-kali, berharap mata yang terpejam itu dapat kembali terbuka dan
melihat mimik pria yang sangat mengkhawatirkan dirinya yang tergeletak lemah di dinginnya lantai basement.
“ MAYA!!! SADAR
MAYA!!! “
Tak henti-
hentinya Masumi berusaha mengembalikan kesadaran Maya. Teriakannya yang
frustasi memecah kebisuan parkiran basement , tak ayal mengundang para security untuk mendekati arah suara
secepat yang mereka bisa.
“ Ada apa, Pak?”
“ Gadis ini
tiba-tiba pingsan! Dimana letak ruang perawatan darurat apartement ini? “
“ Ah, sebelah
sini, Pak…”
Tanpa basa basi
Masumi pun langsung mengangkat tubuh lesu Maya.Lima security yang tadinya berharap dapat menyentuh sedikit saja tubuh
Maya sepertinya harus bermimpi lagi hari ini.
“ Bukankah dia Pak Masumi Hayami dari
Daito? Kenapa ia ada di area apartement sini? “
Bisik satpam yang baru dua minggu itu memulai karirnya di dunia keamanan
ke rekan kerja seniornya.
“ Benar, itu Pak Masumi. Sebaiknya yang
kau ingat adalah tentang orang itu bernama Masumi Hayami saja, dan bukan
kejadian malam ini. Jangan sampai kau berurusan dengannya selain urusan bisnis.
Kau dalam masalah besar bila kau tak mengunci rapat-rapat mulutmu… “ Balas sang senior dengan berbisik juga,
khawatir jikalau pemilik kompleks apartement mewah ini mendengarnya.
Langkah lebar Masumi mendominasi barisan pria-pria berseragam tegap yang tadinya sebaris dengannya menuju ruang perawatan darurat.
Langkah lebar Masumi mendominasi barisan pria-pria berseragam tegap yang tadinya sebaris dengannya menuju ruang perawatan darurat.
“ Emmmhh……” Maya
mengerjap-ngerjapkan matanya.“ Eeehhh….. Pa.. Pak Masu….”
“ Maya… Kau
tidak apa-apa?“ Hati Masumi lega seketika, mendapatkan mata sang gadis, yang dianggap kekasihnya--kebingungan.
“ A… Aku tidak
apa-apa Pak Masumi… Apa… Yang terjadi.. ..Kenapa aku…”
“ Kau pingsan, Maya! Apa
akhir-akhir ini kau kurang istirahat? Apa latihan pementasanmu sudah berani
menggerogoti kesehatanmu? “ Berondong Masumi tanpa ampun.
“ A… Aku sudah tidak
apa-apa, Pak Masumi. Cuma agak pusing sedikit, dan…. Bisakah saya turun?Saya
rasa saya cukup kuat untuk berdiri sendiri.”Jawab Maya sambil menundukkan
kepalanya dalam-dalam. Maya sangat malu ia tertangkap basah oleh lima fans
beratnya yang sangat mengejar tanda tangan sewaktu Maya mulai menginjakkan
kakinya di apartement ini.
“ Turun? Turun kemana?“
Tanya Masumi linglung. Entah kenapa daya kerja otak Masumi menjadi begitu
terperosok drastis sampai-sampai membuat para security menaikkan alis, mengangakan mulutnya dan menahan tawa.
“ Pak Masumi… Mau sampai kapan anda menggendongku?
Aku…. Malu…” Jawab Maya perlahan dan
cenderung habis suaranya di kata-kata terakhir.
“ Ah… Ya… Turun yang itu….” Masumi melirik kearah lima
pria di belakangnya yang langsung bersikap sempurna begitu sadar ekor mata
Masumi mencari-cari kesalahan.
“Kau yakin kau tidak apa-apa?”Tanya Masumi lembut
seraya menurunkan tubuh Maya perlahan.
“ Tidak apa-apa. Tadi maaf, mungkin aku terlalu
memikirkan pertunjukanku yang berikutnya, sehingga tiba-tiba aku terjatuh.”Ucap
Maya ceria.
Masumi diam sebentar.Mengamati bahasa tubuh Maya. Dia masih saja memaksakan dirinya…
“ Baiklah Pak Masumi, terima kasih banyak sudah mau
mengantarkan saya sambil lewat,” Maya mengedip-ngedipkan matanya di bagian
ucapan sambil lewat sebagai sinyal mohon benarkan ucapanku .
“saya permisi dulu…” pamit Maya sopan dan
sedikit membungkukkan tubuhnya.
Masumi masih khawatir .“ Kau yakin bisa sampai di
ruanganmu tanpa terjatuh di tengah jalan menuju sana? Ruanganmu 23 lantai dari
parkiran ini. “
Maya tersenyum lebar.“ Pak Masumi, aku bukan anak
kecil yang akan ribut minta diantarkan kalau sudah pernah terjatuh. Saya pasti
bisa sampai dengan kondisi utuh, tanpa pingsan! Kalau Pak Masumi tidak percaya,
Pak Masumi bisa memastikannya lewat pihak security kok.
Mereka bisa memastikan saya sampai ruangan dengan sangat akurat, benar kan?”
Tanya Maya sambil menekukkan lehernya miring kepada barisan lima pria di
belakang Masumi.
“ Tentu saja, Nona Maya. Kalau perlu, biar saya yang
membawakan tas Nona sampai pintu. “ Tawar security baru tanpa basa basi.
Masumi menolehkan lehernya, menatap tajam pria yang
barusan berani melewati comfort zone-nya
dengan lancang—dalam standart otak Masumi. Dua langkah satpam baru itu pun
sontak langsung berhenti .Tak berani maju lagi. Sekarang ia benar-benar tahu
akan peringatan serius seniornya.
“ Kubawakan tasmu, Maya..” rebut Masumi paksa dari
genggaman lengah Maya.
“ Ha? Pak….??”Maya bingung. Masih belum bisa mencerna
dengan cepat akan kejadian sedikit percikan panas barusan. “ Maksudnya..?”
Tanya Maya lagi sambil meminta tasnya kembali.
“ Apartemenmu nomor berapa, ku antarkan kau sampai
kesana” Jawab Masumi tanpa melihat kearah Maya, menatap tajam kelima pria yang
sekarang berhadapan langsung dengannya.
Pergilah!
Dan bermimpilah!
Kelima security
itupun langsung bergidik dibuatnya.Mereka langsung membungkuk hormat dan mohon
diri, menuju pos pengaman masing-masing.
“ Ng…. Nomor 7… Tapi aku bisa kesana sendiri kok Pak,
tidak usah repot-repot begini…” Ucap Maya sungkan .
Masumi mengamati wajah Maya yang malu merona.“ Ayo!
Kau harus segera mengganti bajumu yang lembab, jangan sampai kau masuk angin
karenanya” tangan besar Masumi menggandeng lembut tangan Maya.Memastikan Maya
takkan terjatuh pingsan lagi.
“ A…..” Hanya itu huruf yang mampu diucapkan Maya.Dia
terlalu gugup mendapati tangan mungilnya direngkuh oleh tangan kokoh Masumi.
Mereka berdua menuju lift yang tak jauh dari Black Jaguar Masumi yang terparkir. Ketika
didalamnya pun, mereka berdua hanya diam. Sibuk dengan pemikirannya
masing-masing.Dan yang membuat Maya semakin bisu adalah, tangan Masumi belum
juga mau melepaskan tangannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
