Sunday, 26 May 2013

Background Music of Paragraph 13 by Shania Twain



            From This Moment



I just swear
That I'll aways be there
I give anything
And everything
And I will always care
Through weakness and strength
Happiness and sorrow
For better, for worse
I will love you
With every beat of my heart

From this moment life has begun
From this moment you are the one
Right beside you is where I belong
From this moment on

From this moment, I have been blessed
I live only, for your happiness
And for your love, I give my last breath
From this moment on

I give my hand to you with all my heart
I can't wait to live my life with you I can't wait to start
You and I will never be apart
My dreams came true because of you

From this moment, as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing, I wouldn't give
From this moment on

You're the reason I believe in love
And you're the answer to my prayers from up above
All we need is just the two of us
My dreams came true because of you

From this moment, as long as I live
I will love you, I promise you this
There is nothing, I wouldn't give
From this moment, I will love you
As long as I live from this moment on


Paragraph 13


                    From This Moment


Semua berjalan seperti yang direncanakan. Lurus dengan sedikit kelokan. Kabar miring dan desas desus kebahagiaan selalu menerpa pasangan impian Daito dan Takamiya yang dikabarkan berbulan madu diluar negri. 

Bulan madu.

Itulah yang dipikirkan orang-orang dalam kepala mereka manakala mereka melihat kedua pasangan itu keluar dari sebuah mobil hitam menuju pelataran mansion mewah milik keluarga yang takkan bisa dinikmati siapapun yang bukan berdarah Daito atau kini, bertambah aliran darah Takamiya.

Segala kendali perusahaan tetap dipegang Masumi meski ia kini berdomisili di negri Eropa yang sedang dingin-dinginnya. Keberuntungan juga melanda Mizuki. Ia diberi kepercayaan melebihi kapasitasnya sebagai sekretaris pribadi yang selama ini disandangnya. Ia pun kini menjadi tangan kanan kepercayaan Masumi yang bisa menundukkan jajaran direksi sekalier apapun semudah ia mengedipkan mata sesering mungkin. Gajinya pun berkali lipat seiring bertambahnya waktu dan keramahan Masumi yang akhir-akhir ini menjadi terlalu nyata di telepon.

Lima bulan berlalu dan Masumi akhirnya kembali menginjakkan kaki tegapnya di bandara Narita. Dengan sopan, ia membantu Shiori mendapatkan jalan dari buruan paparazzi yang telah menghadang mereka sejam berjam-jam lalu. Rutukan kasar dan umpatan para kuli tinta itu terbayar sejak pemberitahuan delaynya jadwal pesawat yang membawa pasangan muda sukses tersebut.

Ucapan bahagia dan selamat terlontar kepasangan Masumi-Shiori ketika kamera berhasil membidik perut Shiori yang kini tengah membuncit. Seorang dokter tampan terlihat kurang bersahabat dan segera membawa rombongan mereka menuju mobil yang tengah mennunggu. Kontras dengan Richard yang cenderung dingin dan menguarkan aura permusuhan, Masumi malah mengembangkan senyum terlebarnya yang ia miliki. Mempesona semua orang yang biasa mengenalinya sebagai gunung es Antartika.

Rombongan mobil itupun berlalu dan langsung menuju gedung Daito.

“ Kau yakin tak bisa ditunda besok, Shiori? kau tak boleh terlalu lelah. “ Ucap Masumi lembut.
Richard mengiyakan. “ Ucapan Masumi sangat masuk akal, Shiori. kita bisa menundanya dengan alasan kau tak boleh terlalu lelah. Kami mengkhawatirkan keadaanmu, tak bisakah kau sedikit tak keras kepala? Aku heran darimana kau mendapatkan sifat itu. “

Shiori tertawa ringan. Ia sangat senang diperhatikan kedua orang yang sangat penting baginya saat ini. “ Mungkin ini bawaan bayi yang kukandung. Kalian tak lupa bagaimana keras kepalanya Maya? Ia selalu berhasil membuat orang mempertanyakan logika dan kewarasannya kalau menyangkut soal akting. “
Masumi tersenyum hangat. Terlalu hangat. Shiori menangkap tangan Masumi untuk menyentuh perutnya yang besar. Hasil USG menyatakan kalau janin ini berkelamin laki-laki. Calon Masumi muda yang tampan. Meski sebenarnya Shiori menginginkan bayi perempuan yang sudah ia persiapkan nama “ Maya “, namun senyum kebahagiaan Masumi melunturkan kekecewaan yang sempat dirasanya. Masumi melonjak senang ketika janinnya dan Maya berhasil tumbuh normal di rahim Shiori.

Richard sudah bisa menerima kejadian ini, meski dulu ia sempat diwabahi rasa cemburu yang luar biasa. Beruntung Shiori berhasil meyakinkannya untuk satu hal, yang akan mereka hadapi dalam waktu dekat ini, tepat di tempat tujuan mereka sekarang. 

Gedung Daito.

Aula berkapasitas lima ribu orang itu sudah tersusun sempurna. Daito sudah berhasil menarik minat para pemburu berita untuk membeli hak eksklusif peliputan kedua pasangan Daito yang lama terkubur beritanya. Bahkan Daito memerintahkan sebagian orang termasuk karyawan undangan untuk menghadirinya. Cukup membuat tanda tanya besar diotak mereka mengingat selama konferensi pers itu, Daito memerintahkan karyawannya untuk terbebas sementara dari pekerjaannya dan mereka disuguhi televisi layar datar yang dipasang di tiap lantai.

Saat tokoh utamanya datang dan duduk dikursi yang disediakan, ruangan menjadi tenang. Mereka bersiap dengan catatan ditangan dan mike yang siap menggemakan suara mereka untuk sesi tanya jawab.

Shiori duduk ditengah dua pria tampan yang berstatus suami dan dokter pribadinya. Ia menghela nafas panjang dan tersenyum penuh arti.

“ Selamat sebelumnya. Bagaimana bulan madunya, Nyonya Hayami? Kami lihat sudah membuahkan hasil yang sangat mengejutkan, mengingat tak satupun yang tahu kalau ternyata anda sekarang sedang berbadan dua. “ Tanya wanita berpakaian formal dengan rambut tergelung dan kacamata berbingkai perak yang tipis.

“ Terima kasih. Kami bersyukur semua berjalan lancar dengan semestinya. Kami sangat bahagia akan hal ini. “

“ Dan bagaimana dengan anda , Pak Masumi Hayami? Kami dengar anda sangat setia menunggui istri anda disana, sampai anda mengendalikan perusahaan dari jarak antar negara yang cukup lama. Apakah mitos bahwa Negara Eropa memiliki kekuatan magis romantisnya itu juga berlaku bagi anda berdua? “

Wajah Richard langsung mengeras mendengarnya. Ingin sekali ia melemparkan asbak didepannya ini tepat ke wajah wanita cantik berkacamata yang sedari tadi meliriknya dengan tatapan berbeda. Dan Shiori menangkapnya dengan cepat.

“ Ini bukanlah anakku. Di dalam rahimku ini sedang bertumbuh janin dari Masumi Hayami dan Maya Kitajima. “




Thursday, 4 April 2013

Background Music of Paragraph 12 by IL Divo




           Rejoice


Where did I misplace my faith?
Where did I set it down?
Which one, the day that I forgot what this was all about?

And I came so close to throwing it all away,
But I'm taking it back again.
So come and rejoice,
Come and rejoice.
What was lost, is found.

Cual es el dia en que olvide
Mi fe y mi sentir,
Mi vida fue un sinvivir
La quiero compartir.

Which is the day in which I forgot my faith and my feel, my life was without-living i want to share it...

Llegue a pensar
Dejar todo y olvidar,
Pero vuelvo a empezar.

I started to think to leave everything and forget, but i return to begin.

So come and rejoice,
Come and rejoice.

And you don't even have to make a sound.

I feel it in your touch, you say it with your eyes.

What was lost, is found.

So come and rejoice,
Come and rejoice.
What was lost, is found.

What was lost, is found

Paragraph 12



            You Belong To Me - Rejoice


“ Ada apa ini? “ Shiori bertanya kepada salah seorang security yang tengah berlarian. Mereka terlihat panik. Terlihat dari nafas mereka yang tersenggal-senggal dan tatapan mata mereka yang kengerian.

“ Ada kejadian apa? Apakah ada kebakaran? “ sambung Richard sambil mengendus-endus udara, mencari sesuatu yang terbakar. Kalau memang iya, dia harus segera menyingkirkan Shiori dari gedung ini secepatnya.

Security berpawakan tegap itu berusaha mengatur nafasnya. Ia telah berlari dari 3 lantai basement, jauh dari lantai utama mereka berpijak sekarang.

“ Nyonya Hayami… Pak Masumi… Pak Masumi sepertinya bunuh diri. Ia terlihat melompat dari atas gedung ini. Pihak keamanan CCTV melihatnya dan mereka langsung berteriak lewat walkie-talkie yang saya pegang ini. Maaf, saya harus segera menyusul yang lain. Saya harus ke lapangan parkir di bagian barat, mereka memperkirakan tubuh Pak Masumi berada disana. Permisi, Nyonya… “

Dan ia pun segera berlari sekuat tenaga menuju tempat yang tadi ia sebutkan. Beberapa karyawan wanita yang telah mengetahuinya sibuk menghubungi paramedic sambil menangis dengan panik. 

Bahkan ada yang langsung pingsan di tempat begitu ia mengetahui kejadian apa yang tengah berlanjut. Mereka menerka-nerka dengan acak, mengira bahwa Pak Masumi sudah begitu terlalu mencintai Bidadari Merah hingga kehilangan akal sehatnya.

Sekali lagi… Bidadari Merah, bukan Maya Kitajima. Mereka belum mengetahui fakta yang terjadi sebenarnya dilapangan.

Shiori langsung syok mendengarnya. Ia merasa seperti berada diatas lubang hitam yang amat pekat dan siap menelannya saat ini juga. Beruntung Richard langsung menangkap tubuhnya dan membantunya mengembalikan kesadarannya dengan cepat.

“ Shiori, Shiori… “ Richard mengangkat tubuh Shori dan menaruhnya di sofa lobi terdekat. “ Sayang, kau tak apa-apa? Bangunlah… “

Mata sayunya mengerjab dan ia melihat wajah khawatir Richard di atas wajahnya. Ia berusaha bangkit. Ia tak ingin kembali menjadi Shiori yang lemah dan tak bisa apa-apa. Tidak! Ia sudah meninggalkan Shiori yang itu jauh hari semenjak ia mengenal sosok Richard di hatinya.

Shiori terduduk. Ia dapat melihat lebih jelas sekarang. Tak lagi buram seperti sesaat lalu.

“ Richard, bawa aku ke tempat parkir bagian barat, kumohon… “
Richard menggelengkan kepalanya.

“ Jangan. Kau tunggu disini saja dulu, biar aku kesana. Aku adalah seorang dokter, ini sudah dalam wilayah tanggung jawabku apabila menyangkut nyawa manusia. “

“ Richard… “

“ Aku memaksa, Shiori, tinggallah disini sebentar. Oke? “

Shiori mengangguk. Ia masih merasakan perih di pusat dadanya, namun ditahannya. Suara tangis karyawati di sudut lobi sama sekali tak membantu, bahkan ada beberapa orang yang menyadari kehadirannya dan segera memberikan semangat ke Shiori. Ada juga yang menawarkan sekotak tissue untuk menghapus air mata Shiori yang mulai menetes dan menggaris di kedua pipi.

Tak berapa lama, Richard akhirnya kembali.

“ Masumi tak ada di manapun. Semua pihak keamanan mencarinya dan baru saja kita mendapat kepastian bahwa Masumi masih berada diatas. Kau bisa tunggu disini , Shiori. “

“ Aku ikut! “

“ Shiori… sebaiknya…”

“ Richard! Kumohon, aku ingin melihatnya dengan mataku sendiri! “

Richard dapat melihat kesungguhan di mata Shiori dan rasanya percuma melawan keinginannya sekarang. Dengan kedua tangannya, ia membopong Shiori dan membawanya berlari menuju lift. Para karyawati yang melihatnya sempat dibuat takjub. Mereka baru kali ini melihat dokter pribadi Shiori dan panah asmara sepertinya baru saja menancap di hati mereka secara serempak.

Lift yang mereka naiki terasa sangat lambat. Baru kali ini Shiori merasa begitu muak akan kelembutan lift Daito yang memang dirancang untuk tidak membuat penumpangnya terhentak. Richard telah menurunkannya, meski Richard memilih untuk dapat terus menggendongnya. Tapi tatapan heran para security yang ikut bergabung dengan mereka membuatnya sadar akan apa yang baru saja dilakukannya. Sebaiknya kau bersabar, Richard…

Pintu lift terbuka dan langsung menuju lantai teratas. Shiori dan Richard mengikuti para keamanan dan mulai mencari Masumi dimana-mana. Akhirnya Richard menemukannya. Masumi tergeletak di sudut, sangat dekat dengan tembok pembatas keamanan. Ia terlihat kacau dan tertidur dengan tenang.

Shit!

Begitulah kira-kira Richard mengumpat tak ketara dibelakang Shiori. Otaknya sempat kacau dan ia berpikir keras bagaimana caranya menenangkan hysteria Shiori apabila benar ia akan menemukan Masumi dengan kepala yang pecah. Ia bersyukur bahwa direktur muda itu tetap utuh dan kurang ajarnya tengah terlelap. Meskipun begitu, ingin rasanya Richard sendiri yang melempar Masumi ke tengah parkiran dari lantai ini karena sukses membuatnya kalang kabut.

“ Masumi! Bangun!!! Masumi !!!! “

Shiori mencoba berulang kali menggoncangkan tubuh suaminya, namun Masumi seperti bangkai hidup. Ia tetap terpejam dan… mendengkur!!!!

Emosi Richard tersulut mendengarnya. Dengan segera ia memerintahkan keamanan untuk membawa seember air. Dan benar saja, Richard menumpahkan begitu saja air yang entah dari mana sumbernya tepat di wajah Masumi dan membuat pria itu bangun dari mimpi indahnya dengan terbatuk-batuk.

Shiori kaget bukan kepalang melihat cara ekstrim kekasihnya dalam hal membangunkan seorang pemabuk. “ Richard! Tak bisakah kau membangunkannya dengan cara yang lebih baik? “ ucapnya.

Alis Richard naik sebelah. “ Ya? Dan bagaimanakah caranya itu? Dengan mengguncangkannya perlahan? Kau lihat dengan caramu tadi, sama sekali tak berhasil. Ia tak hanya lelap, tapi juga mendengkur! “ balas Richard acuh sambil melemparkan ember kosong ke security tadi.

Shiori merengut. Namun ia tak bisa membalikkan ucapan Richard yang dengan telak menghempaskan keluhannya. Sementara itu, Masumi berdiri kepayahan. Langkahnya agak terseok-seok dan ia membutuhkan kedua pria berbadan tegap untuk membantunya melangkah.

“ Masumi, kau baik-baik saja? Dengar, aku punya berita bagus.. “ sembur Shiori bersemangat bercampur panik. “ ini tentang Maya! “

“ Hemm? “

Mata Masumi masih berat dan kelopaknya hanya berhasil naik setengah. Ia mendengar nama kekasihnya disebut, namun pengaruh alcohol masih belum beranjak jauh dari kesadarannya meski ia telah basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung sepatu hitamnya yang tersemir.

Richard menarik pelan lengan Shiori dan berbisik “ Apa yang kau lakukan? “

“ Kau tahu, Richard! “ Suara Shiori tetap pada nadanya, ia tak berbisik seperti yang dilakukan Richard “ Kita bisa membuat Maya kecil hadir di dunia ini! Dan kita membutuhkan Masumi sebagai ayahnya! Tidakkah ini hebat? “ Shiori setengah terpekik bahagia menuturkan ide yang didapatnya sejak di mobil tadi.

Mata Richard membelalak. “ Apa? APA?!?!?? “

“ Ayolah Richard, kau harus membantunya! “ Shiori mengeluarkan jurusnya yang tak pernah luput sasaran, merengek!

Richard menggelengkan kepalanya cepat. “ Kau tahu ini bisa jadi tindakan illegal! Penyidik akan mengambil sample apapun yang menyangkut kriminalitas di TKP cepat atau lambat. Lagipula, aku tak mau membantu sampah busuk yang sudah kurang ajar menyentuh kekasihku. Dan kalaupun ia menjadi ayah, aku takkan heran kalau ia akan memberikan minuman keras ke bayi dan bukannya sebotol susu hangat! “

Dan pertengkaran kecil mereka semakin memanas. Masumi dan seluruh anak buahnya seperti menonton drama panggung secara langsung tentang sepasang kekasih yang meributkan akan hadirnya bayi.

Tunggu dulu, bayi… ?

Kepala Masumi berdenyut ketika ia mencoba mencerna pertengkaran ini.

Kalau aku tidak salah… mereka mengatakan aku … jadi ayah? Ayah dari bayi siapa? Aku masih perjaka! Meskipun aku mabuk, aku bukanlah type pria yang tidak bisa mengendalikan testoteronnya ketika minta pelepasan!

Masumi mencengkram lengan Richard. “ Apa maksud ini semua? Kenapa kau bisa bilang kalau aku jadi ayah? “ Masumi berganti menatap mata Shiori yang berkaca-kaca. “ Shiori, tadi kau bilang… ini tentang Maya? Apa pendengaranku tidak salah? “

Richard menghempaskan tangan Masumi di kemejanya. “ Dengar, aku tahu kau adalah suami dari Shiori, tapi jangan harap kau bisa bersikap kurang ajar kepadanya karena aku takkan tinggal diam! Dan apa yang kami perbincangkan ini sama sekali bukan urusanmu! Sebaiknya kau turun dan kembali ke ruangan terkutukmu yang tidak sehat itu “ ancam Richard dengan jengah.

Masumi kembali mencengkram kemeja Richard, namun kali ini di lehernya. Ia sama sekali tak takur pada pria yang tingginya 11cm diatasnya ini.

“ Semua yang berhubungan dengan Maya adalah urusanku! Meski aku mabuk, namun otakku masih waras!! Jangan main-main denganku, kau takkan suka denganku kalau aku tak bisa menjaga emosiku, dokter… “

Richard tersenyum sinis. “ Aku tak takut dengan pria pecundang yang tak bisa mempertahankan wanita, kau dengar itu?? “

Richard lengah dengan ucapan sinisnya, dan dengan telak Masumi menghantamkan kepalan tinjunya ke rahang Richard. Shiori berteriak, ia tak mengharapkan pertengkaran antara pria-pria yang disayanginya terjadi. Richard terhempas dan hendak membalas pukulan Masumi dengan kakinya yang panjang. Beruntung para security yang masih disana melerai mereka dengan cepat dan segera membuat jarak sehingga kesempatan mereka untuk menyerang semakin kecil.

“ Apa yang kalian lakukan?! HAH?? “ teriak Shiori histeris.

Dan makian antara Masumi dan Richard kembali terjadi, membuat kepala Shiori menjadi lebih mendidih. Suara tamparan dua kali menggema di atas gedung itu dan membuat para pria disana terheran namun tak dapat berbuat apa-apa.

Richard merasakan pipinya yang terasa panas. Begitu pula dengan Masumi. Mereka tak menyangka ternyata tamparan Shiori cukup keras. Sama sekali tak terbayang akan kekuatannya dibalik tangannya yang kurus.

“ KALAU MEMANG KALIAN TAK BISA MEMBANTU, FINE!!!! AKU AKAN LAKUKAN SENDIRI!!! KALIAN PRIA-PRIA TAK BERGUNA!!!!! “ Shiori kembali berteriak dan segera berlalu meninggalkan semua pria disana menuju ruang lift.

Richard berhasil melepaskan diri lebih dulu dari Masumi, hampir menerjang pintu kaca otomatis dan menyusul Shiori yang belum jauh melangkah. Ia mendapatkan lengan Shiori yang berayun dan hendak di lepaskannya, tapi berhasil ditahan Richard.

“ Sayang, Shiori… Maafkan aku… Aku tadi terlalu emosi. Aku masih sakit hati melihat ia berani melecehkanmu. Kumohon jangan bersikap begini padaku… “

Shiori masih terdiam tanpa memandang wajah Richard yang memelas.

“ Shiori…. Kumohon maafkan aku… Aku akan membantumu! Aku akan merubah sikapku, aku berjanji! “

Richard akhirnya mendapapatkan yang diinginkannya. Perhatian Shiori .

“ Kau…. Akan membantuku? “ Tanya Shiori.

“ Tentu saja! “

“ Apapun itu resikonya? “

“ Kau bisa pegang janjiku! “

Senyum kemenangan Shiori berkembang. Ia merasa harus berterima kasih pada drama yang kemarin sore ia tonton sewaktu mengisi waktu luangnya di kamar .

“ Bantu aku untuk menyukseskan rencanaku. Kita bisa membuat bayi tabung! “

Richard melihat semangat dan keceriaan Shiori, namun ia takut kalau apa yang dipikirkan otaknya menjadi kenyataan.

“….. Bayi tabung…? “

“ Bayi tabung! “

“ Dan….. bayi siapa yang akan kita buat, Shiori… ?  Jangan katakan kalau….. “

“ Tentu saja, Richard! Aku akan merasa pantas menjadi ibu dari bayi Maya dan Masumi! “

Oh, Tuhan…..

Kepala Richard terasa baru saja lepas dari sumbu lehernya seketika. Bayangan yang ditakutkannya ketika ia mendengar tentang penyimpangan kode etik oleh dokter Akagi terjadi sudah. Dan ia tak bisa mundur, ia telah berucap janji semenit lalu.

“ Kau yakin dengan kondisi tubuhmu, Shiori ? “

“ Kau akan membantuku, Richard. Aku tak pernah sebahagia ini sebelumnya! Ini seperti menciptakan keajaiban dan kita akan mampu melaluinya… Aku sangat tak sabar akan semua ini! “

Richard dapat merasakan eurofia Shiori yang membuncah. Ia benar-benar bahagia secara ekstrem. Richard ikut bahagia karenanya, namun ia masih merasakan ganjalan yang berarti karena akan yang akan di kandung Shiori kelak bukanlah darah dagingnya.
Tapi ia telah berjanji, dan ia tak biasa melanggar janjinya. Pernah ia melanggar janji seorang pasien dan itu mengakibatkan hampir terjadinya sebuah kematian. Dan ia mengalami traumatic yang cukup mendalam sejak saat itu.

“ Baiklah, Shiori…. Kita akan mengusahakan yang sebaiknya. Aku akan segera menghubungi para perawat dan tenaga medis yang tersedia disana. Kita dapat melakukannya lusa. Sekarang kita harus beristirahat. “

“ Tak bisakah malam ini juga? Oh Richard, kau menyiksaku! “
Richard menggelengkan kepalanya dan tersenyum. “ Semua ini membutuhkan stamina yang baik, Shiori. Dan untuk malam ini, kita semua harus mempersiapkan yang sebaik-baiknya. Bukankah kau menginginkan keberhasilan yang bisa membuat kita semua terseyum ? Kalau ya, kau harus menuruti perintahku. Aku tak cuma kekasihmu, aku doktermu. “

Shiori tersenyum simpul mendengarnya. Ia tahu kalau kekhawatiran Richard cukup beralasan, dan ia sebaiknya tak bersikap kekanak-kanakan dan malah membuat usahanya bisa gagal.

“ Terima kasih, Richard. Kau tahu betapa sangat berartinya pertolonganmu. “ Shiori menyentuhkan kedua telapak tangannya di pipi Richard dan mengelusnya perlahan di pipi yang tadi ia tampar. 

“ Maafkan aku karena menamparmu… “

Richard tersenyum. “ Tak apa, kadang aku memang membutuhkannya. Asal kau tak terlalu sering melakukannya padaku. Itu cukup sakit, kau tahu? “

Dan suara tawa kecil mewarnai pelukan mesra mereka. Mereka pun berciuman. Melupakan dimana mereka berada. Dan ciuman mereka terputus oleh suara dehaman yang berat.

“ Aku ikut senang kalian bahagia. Tapi jangan lupakan aku. Aku harus terlibat dalam pembicaraan kalian karena aku mencuri dengar, ini ada hubungannya juga dengan Maya. Aku rasa, aku yang paling berhak tahu untuk semua tragedy ini. Bukankah begitu? “ ucap Masumi datar dan agak berhati-hati.

Richard melepaskan pelukannya dan berjalan menuju Masumi yang tak jauh darinya. Semua pria berseragam security tetap di luar dan tak bisa mendengar pembicaraan mereka, namun mereka tetap awas dan menjaga bos yang menggaji mereka tiap bulannya tanpa alpa.

“ Masumi, aku akan langsung ke intinya. Aku membutuhkan benihmu 2 hari kedepan. Kau harus menetralisir alcohol dalam tubuhmu secepatnya. Malam ini kau harus ikut denganku dan aku sedang tak ingin di bantah. Kita akan melakukan serangkaian pemeriksaan mendasar padamu dan kemungkinan besar juga kau akan di rawat disana. “

Masumi berpikir keras, ia merasa tamparan Shiori tadi cukup memberikannya kejutan dan membuat pengaruh buruk alcohol lari tunggang langgang meninggalkan otaknya.

“ Apa kau bilang? Rrrr…. Benih ? apakah yang kau maksud itu…. “

Richard mengacak rambutnya. “ Ayolah Masumi, usiamu berapa sekarang? Bersikaplah secara dewasa! “

“ Jadi maksudmu… aku harus ber… mast….. “ Masumi terbata-bata mengucapkannya, meski ia telah menikah, namun pembicaraan ini masih terlalu tabu untuk perjaka usia 35 tahun. Apalagi sedari tadi Shiori bersembunyi di punggung Richard dan membuang wajah. Masumi dapat melihat rona merah di pipi istrinya.

“ Arrgh!!!! Inilah kenapa aku benci perjaka tua! “ Richard sekarang tak cuma mengacak rambutnya, ia bahkan menjambaknya. “ Dengar Masumi, aku tahu ini akan terdengar kurang ajar, tapi aku memiliki segudang foto-foto Maya hasil editing para fans di internet. Bahkan mereka menemukannya juga di laci dokter Akagi yang sudah di albumkan! Kau takkan mempersulitku mendapatkan benihmu, kau takkan berani! Kalau kau ingin mendapatkan bayimu dan Maya, kita harus berdamai dan bekerja sama sekarang juga! “

Masumi tercenung mendengarnya. Ia bahagia. Ia juga terkaget mendengarnya. Bahkan Shiori mau meminjamkan rahimnya. Meski di Asia Tenggara hal ini dilarang, mereka tetap berani maju. Dalam kurun waktu tiga hari, mereka akan ke Eropa dan melaksanakan proses ini dengan efisien.

Para security diluar tak mengetahui apa yang terjadi. Dalam hati mereka ikut merasa sedih, karena Nyonya Hayami berselingkuh tepat di depan suaminya. Tapi keheranan mereka terbit manakala Richard dan Masumi saling berpelukan, bahkan mereka melihat yang yang tak pernah terjadi sebelumnya di Daito. Masumi hayami menangis terharu, diikuti oleh Shiori yang juga merangkulnya dan senyuman hangat dari Richard sang tersangka pihak ketiga.

Masumi mengekor pasangan Shiori dan Richard menuju lift. Ia benar-benar merasakan kesempatan hidup keduanya sekarang. Kesegaran dan gairah hidup kembali membanjirinya, tepat seperti ketika ia jatuh cinta kepada pujaan hatinya.

Maya…

Ia bersyukur masih dapat menginjakkan kakinya di dunia ini. Tadi ia hampir saja melakukan hal konyol, berpikir bahwa kematian dapat mempertemukan mereka lagi dengan cara instant. Masumi beruntung Maya menyadarkannya.

Tunggu dulu….

Masumi berusaha mengingat kembali urutan kejadian hari ini. Setelah tadi ia menenggak minuman keras di ruangan rahasianya, ia yakin Maya mendatanginya, namun ternyata gadis itu tak lain adalah Shiori, istrinya sendiri. Dan hantaman brutal Richard jelas nyata karena ia masih merasakan nyeri di semua rusuk bagian kiri.

Ketika Masumi meraba rusuknya yang ngilu, ia merasakan ada yang mengganjal disaku dalam jasnya. Ia merasakannya dan mengambilnya perlahan dari kantong. Mata Masumi membelalak dengan benda yang dilihatnya tepat di telapak tangannya yang besar.

The Deep of Purple Rose

Masumi takkan pernah dapat melupakan cincin cantik bertahtakan berlian 6 karat berwarna ungu dan putih bening, yang berukir mawar ungu disekelilingnya. Ia memiliki dua buah, dan hanya dua buah cincin seperti ini di dunia. Yang satu, ikut bersemayam dalam makam Maya, dengan harapan cintanya juga akan selalu menyertai Maya dimanapun ia berada, meski itu di dalam kubur. Yang kedua, ia memang memesan sepasang, bentuk yang mirip seratus persen sama dengan yang dikenakan Maya. Namun cincin yang ini berukuran sesuai jarinya, lebih besar dan lebih kokoh.

Ia menyematkan cincin itu perlahan dijarinya. Dan ia tak salah. Ini adalah cincin yang ia taruh di boneka lilin wujud Maya dalam balutan kimono Bidadari Merah. Ia menaruhnya tepat di tangan boneka Maya, didalam kotak kaca yang sangat tebal dan anti peluru. Benda seberat apapun harus berusaha keras memecahkannya, bahkan ia membutuhkan tenaga sekian pria untuk mengangkatnya dari helicopter pribadinya, itupun dibantu oleh sebuah alat khusus.

Bayangannya kembali melanda pikiran Masumi. Tak memperdulikan Shiori dan Richard yang tengah asyik membahas rencana bayi tabung yang akan mereka semua jalani.

Masumi tadi sangat yakin, kalau ia telah melewati dinding pembatas keamanan. Ia masih ingat ketika matanya nyalang melihat barisan mobil yang amat kecil dibawahnya. Setelah itu buram. Karena ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan permen. Dan ia memejamkan mata…

Ya, ia sangat yakin ia merasakan hisapan gravitasi bumi menariknya. Namun kenyataannya, semua orang mendapatinya sedang tertidur lelap di lantai gedung yang dingin dan bermandikan cahaya bulan.

Apa yang sebenarnya terjadi ?? Maya….


Sunday, 31 March 2013

Background Music of Paragraph 12 by Celine Dion


                            Immortality



So this is who I am,
And this is all I know,
And I must choose to live,
For all that I can give,
The spark that makes the power grow

And I will stand for my dream if I can,
Symbol of my faith in who I am,
But you are my only,
And I must follow on the road that lies ahead,
I won't let my heart control my head,
But you are my only
We don't say goodbye,
We don't say goodbye,
And I know what I've got to be

Immortality
I make my journey through eternity
I keep the memory of you and me inside

Fulfil your destiny,
Is there within the child,
My storm will never end,
My fate is on the wind,
The king of hearts, the joker's wild,
But we don't say goodbye,
We don't say goodbye,
I'll make them all remember me

Cos I have found a dream that must come true,
Every ounce of me must see it through,
But you are my only
I'm sorry I don't have a role for love to play,
Hand over my heart I'll find my way,
I will make them give to me

Immortality (oh baby)
There is a vision and a fire in me (ohh)
I keep the memory of you and me, inside
And we don't say goodbye
With all my love for you
And what else we may do
We don't say, goodbye

Paragraph 12


                                  You Belong To Me 
                   ( Immortality )



Tubuhnya terasa melayang. Sangat ringan. Masih memejamkan mata, Masumi dapat merasakan hembusan angin menerpa wajahnya dengan kuat. Deru udara yang bergemuruh di gendang telinganya serta adrenalin yang terpacu.

Tapi seketika tubuhnya yang terhisap gravitasi bumi terasa terhenti. Ia dapat merasakan tubuh beratnya tertahan oleh sebuah pelukan.

Pelukan?

Ya, pelukan… pelukan ini… sangat menentramkan jiwanya. Masumi mengenali aroma manis ini. Tubuhnya pun hapal akan proporsi wanita yang memeluknya dengan posesif. Dagu Masumi bersandar lemah dibahu mungil yang terasa teramat rapuh dan ringkih.

Tapi bagaimana bisa…?

Perlahan Masumi membuka matanya. Ia berusaha menggapai sinar yang mampu ia serap sebanyak-banyaknya di kegelapan malam kota Tokyo dengan susah payah. Pengaruh alkohol tinggi membuatnya sedikit banyak berjuang mengeyahkan pandangan kabur dan berhasil menangkap sosok wanita yang sangat dirindukannya beberapa hari ini.

Maya..

MAYA???

Masumi membelalakan matanya. ia menggelengkan kepalanya dengan kuat lagi dan lagi. Tapi matanya tak salah. Ia melihat Maya, tapi terasa sedikit berbeda. Kulitnya terlalu pucat dan kimono merah yang dipakainya terlihat seperti lukisan. Kalau Masumi tak mabuk, ia akan menganggap ini sangat mustahil, karena matanya menangkap sepasang sayap hitam dipunggung sang kekasih yang sedang memeluknya, menahan tubuhnya dengan kedua tangan mungilnya agar tidak mati konyol di lapangan parkir.

Jangan lakukan ini, Pak Masumi….. kumohon…

jangan….

Masumi dapat mendengar suara Maya dengan sangat jelas. Ya.. YA! Ini SUARA MAYA!!! Tapi entah kenapa, Masumi tak dapat mengeluarkan sepatah katapun. Suaranya seakan tercekat di tenggorokan dan tak mau lepas dari sana. Ia membuka mulutnya, ingin berbicara. Namun hanya hembusan nafas yang bisa menjawab perkataan Maya.

Pak Masumi, kalau kau lakukan ini, kita tak dapat bertemu lagi… Karena itu, kumohon bertahanlah. Demi diriku… Demi cinta kita… Aku akan menunggumu.. Karena aku mempercayai cintamu padaku…

Begitu kuat keinginan Masumi untuk membalas pelukan gadis mungil ini di tubuhnya. Ia mati-matian berusaha memerintahkan kedua tangannya yang tak mampu bergerak. Tak cuma suaranya, ia bahkan kehilangan kendali akan tubuhnya. Ia seperti sebuah manekin toko yang dengan mudah di arahkan kesana dan kesini.

Aku sangat mencintaimu, Pak Masumi…

Dan dengan kata-kata ini, Masumi dapat merasakan sebuah sapuan lembut bibir manis Maya dibibirnya. Sangat memabukkan dan hangat. Rasanya luar biasa lebih nikmat dari berbotol botol anggur yang telah ia tenggak seharian tanpa makan. Begitu damai, hingga matanya kembali terasa berat. Ia berusaha tak menutup matanya. Indra penglihatannya belum puas memandangi sosok Maya di hadapannya. Namun sekali lagi, ia kini lumpuh dan hanya kegelapan yang dapat dirasakan.

Dalam hati ia merutuk dan bersumpah serapah pada berbotol-botol anggur mahal yang tergeletak di ruangan rahasianya tadi. Sepertinya, ini akan jadi awal baru yang baik bagi tubuh Masumi.





Tuesday, 26 March 2013

Background Music of Paragraph 11 by Britney Spears


                               Everytime



Notice me
Take my hand
Why are we
Strangers when
Our love was strong
Why carry on without me

Everytime I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby 
And everytime I see
Your in my dreams
I see your face
Its haunting me
I guess I need you baby

I make-believe
That you are here
Its the only way 
That I see clear
What have I done
You seem to move on easy

Everytime I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby 
And everytime I see
Your in my dreams
I see your face
Your haunting me
I guess I need you baby

I may have made it rain
Please forgive me
My weakness Caused you pain
And this song's my sorry

At night I pray
That soon your face will fade away

Everytime I try to fly I fall
Without my wings
I feel so small
I guess I need you baby 
And everytime I see
You ruin my dreams
I see your face
Your haunting me
I guess I need you baby
 
blogger template by arcane palette