Sunday, 26 February 2012

Paragraph 03


Run To You



Lift yang membawa kedua insan itupun mulai membelah level demi level lantai apartement. Apartement Maya Kitajima bukanlah apartement murahan seperti dulu tempat ia dan Rei tinggal. Apartement yang dulu dengan mudahnya dijangkau dalam waktu 5 menit menuju kamarnya, yang hanya terletak di lantai dua kini mulai terasa sangat simple dan gampang. Tiap malam tak lupa ia meletakkan 1 atau 2 botol susu kosong di depan untuk kemudian di tukar dengan yang baru keesokan paginya. Mengeluarkan sekantung dua kantung sampah di tong sampah , serta meneliti sudut-sudut kotor yang harus ia bersihkan. Pagi harinya loper koran akan menaruh sebuah majalah langganan Maya . Kalau beruntung kadang ia bertemu Maya yang hendak berangkat latihan pagi di pinggir sungai terdekat, untuk mendapatkan sekedar cerita pertunjukkannya atau bahkan tanda tangannya.

Namun kini Maya harus melalui penjagaan full security 24 jam non stop, CCTV di setiap sudut, cleaning service yang menjamin kebersihan lingkungannya, serta senyum ribuan watt para pengurus yang siap menyinari kemewahan apartement hanya untuk sampai di tempat peraduannya yang ia sebut baby violet  big pillow.Dilantai 2 terdapat supermarket  yang menjamin kebutuhan tiap orang yang tinggal ataupun sekedar berkunjung. Sasana Gym dan food court kualitas bintang lima berderet rapi guna memanjakan kesehatan dan perut. Tata lampu dan tanaman hias menambah nilai eksotik dan keseimbangan proporsi ruang--sesuai brosur iklan onlinenya di dunia maya.

Pintu lift terbuka ketika green lamp menunjukkan angka 23 dan Masumi masih menggandeng tangan Maya. Maya merasa beruntung karena tak seorangpun artist, sutradara  atau produser lain yang memergoki mereka berdua untuk menuju pintu Maya. Dan tak lain karena Masumi Hayami-lah—Mawar Ungunya—yang memberinya kehangatan melalui tangannya.

“ Mana kuncinya, Maya? “ tanya Masumi memecah lamunan Maya.

“ Eh.. ehm.. tu.. tunggu sebentar.... “ ucap Maya gugup.

“.....”

“ ..... Pak Masumi... akan lebih mudah bagiku untuk mencari kunciku dengan kedua tanganku....” kembali Maya berucap malu-malu.

Masumi tersadar. “ Ah.. Maaf...” dan ia pun melepas tangan Maya dengan perasaan enggan dan muka memerah.

“Baiklah Pak Masumi, saya sangat berterima kasih untuk bantuannya malam ini. Anda sampai repot-repot mengantarkan saya sampai ke kamar. Sebenarnya anda tak perlu sampai begini Pak...”

“ Aku menginginkanmu benar-benar sampai kamarmu, apa itu masalah buatmu? “

“ Eh? Bukan be.. begitu... “ Maya tertahan untuk menggesek apartment key card-nya. “Sama sekali tak masalah buatku, namun akan menjadi masalah besar untuk anda Pak.. Kalau... Ada yang memergoki kita bergandengan tangan sedari tadi, bahkan paparazi, saya yakin akan menjadi berita yang sangat tidak nyaman untuk anda dan.. Nona Shiori... “

Masumi merasa sangat tertohok mendengan nama tunangan yang sama sekali tidak ia cintai.

“ Apa kau meragukan sistem keamanan apartement ini, Maya? Apartement ini adalah apartement elit dan sangat menjunjung tinggi privasi para penghuninya. Kau tak perlu mengkhawatirkan apapun, pikirkan saja pertunjukan dan syuting-syutingmu berikutnya.” Masumi megalihkan pembicaraannya, ingin Maya tidak lagi mengucapkan kata Shiori ketika mereka sedang berdua.

“ Tentu tidak, Pak Masumi. Apartement ini hebat sekali! Aku sungguh beruntung Mizuki memilihkan ini untukku.” Ucap Maya meluruskan.

Tentu saja, ini adalah apartement pilihanku untukmu, Maya...bisik Masumi dalam hati.

“ Baiklah, bagus kalau kamu suka. Aku pamit dulu. Maaf sudah menahanmu begitu lama di depan pintu kamarmu sendiri.” Ucap Masumi tersenyum sembari merapikan jasnya yang sama sekali tidak berantakan.

“ Ung.... tidak apa-apa. Terima kasih, Pak..  Hati-hati dijalan...” bungkuk Maya dalam-dalam.

Masumi menganggukan kepalanya dan membalikkan tubuh tingginya, menjauh menuju koridor lift. Maya memandangi punggung Masumi yang terlihat pilu dan lelah  berwarna orange sunset, tersiram lampu sorot ruangan. Maya mendorong pintu yang sudah terbuka sedari tadi, namun belum juga memasukkan tubuhnya kedalam ruangan. Rasa rindunya menyeruak hebat mendapati Masumi kini berjarak sekitar 7 meter dari dirinya.

“ Pak Masumi!”

“ Eh? “

Masumi tercengang, barusan.. .. Maya memanggilnya? Dan benar saja, ia mendapati Maya sudah berlari ke arahnya.

“ Aku baru bisa membuat caffe latte, kemarin aku bisa menyuguhkannya untuk Pak Kuronuma dan Koji, apa anda.. Mau mencobanya? “ undang Maya kikuk.

Masumi senang sekaligus cemburu.  Lagi-lagi Koji berhasil menampar hatinya tanpa susah payah melayangkan tangannya . “ Terima kasih untuk undangannya, tapi aku harus segera ke kantor, menyelesaikan berkas-berkas di mejaku. Lain waktu, aku pasti mencobanya. Kalau bisa, aku lebih suka apabila akulah yang pertama mencoba setiap uji coba masakan atau minuman buatanmu, Maya.”

“ Apa anda suka Frappe? Atau mungkin Espresso???? Aku bisa membuatnya dengan cepat serta non caffeine, jadi Pak Masumi bisa tetap menikmati kopi tanpa khawatir akan kesehatan dan berkas-berkas anda.. “ kali ini undangan Maya terlihat agak berlebihan. Dan Masumi dapat membacanya sangat jelas.

“ Espresso, please..  aku lebih suka yang panas. “ jawab pria itu dengan senyum terlebarnya. Dia sangat bahagia akan paksaan Maya yang spontan ini.

“ Baiklah, tapi untuk rasanya aku tidak bisa menjanjikan seperti buatan Nona Mizuki. Aku hanya pernah mencobanya dua kali, itupun aku sendiri yang mencobanya. Belum pernah ada orang lain yang menilainya. “jawab gadis itu bergegas menuju kamarnya dan buru-buru ke dapur.

Ruangan berdesain Jepang modern-traditional langsung menyambut pria yang tak lain pemilik apartement. Ia memang memilikinya, namun bukan berarti ia memahami semua property-nya. Dan itu hal lumrah bagi Masumi. Sofa sudut empuk berwarna tanah berpadu hitam beludru serta meja mungil berbentuk kotak melengkapi estetika keindahan ruangan. Tak lupa karpet putih gading bercorak bambu menjadi alasnya. Masumi merasa sangat nyaman memposisikan tubuhnya dengan gaya pemalas. Sambil menunggu Espresso buatan Maya, ia menyalakan TV.

“ Maaf lama, Pak… Saya harus membuka note untuk resep ini, srmoga cocok ya dengan rasanya.” Ucap gadis mungil itu membawa nampan berisikan dua cup minuman panas serta setoples makanan ringan.

“ Ah.. akhirnya.! Kukira aku akan sampai menginap disini menunggumu. Semoga perutku tidak apa-apa begitu aku meminumnya “ gelak tawa Masumi membuncah sembari menyesap espresso panas ke mulutnya.

“ Pak Masumiiiii… aku sudah mencicipinya dulu tadi, dan kurasa Pak Kuronuma dan—“

“ Enak! Bagaimana mungkin kau bisa membuat kopi seperti ini? Aku akan minta Mizuki mengganti Mountain Blue Coffe dengan kopi ini. Berikan resepnya padaku sekarang juga! “ potong Masumi cepat sebelum Maya mengucapkan si initial K.

“ A… Baiklah Pak. Aku akan segera mencatatkannya sekarang… “ jemari lincah Maya menulis sebuah resep kuno—yang kebetulan disukai Masumi—dengan cepat di balik lembaran kertas brosur pertunjukannya mendatang. Masumi mengamatinya sambil terus menyesapkan minuman itu, sepertinya lidahnya juga sudah sangat jatuh cinta pada rasanya.

“ Dan itu… Aku yakin Pak Masumi tahu, kalau besok aku akan tampil di Gedung Amaterasu jam 6 sore. Kuharap anda bisa datang dan melihat pertunjukanku…. “ undang Maya.

“ Aku selalu datang pada semua pertunjukanmu, Maya. Jangan lupa, akulah yang menyelenggarakannya dan gedung yang besok kau tempati itu juga gedung terbaru milik Daito. Aku ingin membuka gedung itu dengan pertunjukan Bidadari Merah sebagai seorang penyuap agar Dewa Dewi mau membantuku melancarkan bisnisku disana. “

Keduanya langsung tertawa renyah. Dan langsung terdiam. Masumi masih belum bisa membaca sepenuhnya apa maksud undangan Maya, atau paksaan lebih tepatnya, sampai Maya tega membuatnya menelantarkan berkas bernilai jutaan yen. Tidak berbeda jauh dengan Masumi, Maya sedang mengumpat banyak dalam hatinya, kenapa ia berani bertindak sembrono mengekspresikan perasaannya yang hanya separuh niat.

“ Kopimu enak sekali Maya, sayang sekali aku harus pamit dulu . Jangan bosan untuk membuatkanku lagi lain waktu ya.“  Masumi bangkit dari sofa dan lagi-lagi membereskan jasnya. Mungkin memang sudah kebiasaan Masumi untuk selalu tampil rapi kapanpun dan dimanapun.

Maya ikut bangkit dari sofanya, namun ia masih belum rela. “ Apakah pertunjukkanku bagus, Pak? Sebagai penonton, apakah Pak Masumi sama sekali tidak merasa bosan akan pertunjukan ulangku? “

Kali ini Masumi benar-benar sangat yakin ada yang tidak beres dengan keadaan psikis Maya.

“ Ada apa, Maya? “

“ Ha? Maksudnya?”

Masumi melangkah mendekati Maya. “ Ada hal yang ingin kau sampaikan kepadaku?” jemari panjangnya mulai menyentuh ubun-ubun gadis mungil itu dan membenamkannya lebih dalam, berharap yang dilakukannya mampu membuka mulut Maya yang entah mau dibuka atau di tutup selamanya.

“ A…. Aku… Saya… “ kegugupan mulai menerjang pertahanan diri Maya yang dari dulu memang tidak ada bagus-bagusnya. “… Saya sangat berharap Pak Masumi besok dapat datang ke pertunjukan saya, namun saya khawatir kalau Pak Masumi mulai jenuh akan performa saya belakangan ini…” ucap Maya tertunduk, memandang tangan-tangan mungilnya merenggut ujung kaos berbahan lembut.

Jemari Masumi yang sedari tadi menari-nari di kepala Maya pun terhenti sejenak, kemudian berubah menjadi topan yang memporak porandakan tatanan rambut Maya dengan agak kasar. “ Kukira ada apa, dari tadi kau terlihat begitu gugup dan tertahan sesuatu. Kalau yang kau permasalahkan adalah kehadiranku besok, atau mood-ku besok, maka kau bisa tidur lelap malam ini. Aku pastikan kursi VVIP tepat di depan panggung akan kududuki.”

“ Pak Masumiiii, hentikan kebiasaanmu mengacak-ngacak rambutku! Aku bukan anak kecil lagi! Aku….” Mata Maya melebar membentuk bulatan tegas ketika menengadahkan kepalanya dan mendapatkan wajah Masumi sangat dekat.

“ Kau wanita dewasa yang matang, aku tahu itu, Maya… Sangat menyadarinya….” Masumi pun mendekatkan wajahnya perlahan menuju lipatan bibir pucat Maya yang sepertinya semakin kering dengan reaksi Masumi.

“ Pa.. Pak… Masu…..” Kata-kata Maya terhenti sampai disitu saja. Dia tak mampu lagi melanjutkan kata-kata bodohnya, yang ia sendiri tak tahu mau bicara apa. Bibir tegas Masumi menyapu lembut bibir Maya perlahan, perlahan dan perlahan. Jemarinya yang tadi menggeraikan rambut Maya sudah berubah menjadi dekapan di tengkuk sang gadis. Tanpa ampun Masumi memeluk Maya, seperti Phyton yang hendak menghancurkan tulang belulang lawannya untuk dilumat. Nafas keduanya tersenggal. Dan eurofia sekitarnya berubah serasa di dunia pelangi dengan kabut awan kapas yang beterbangan kesana kemari. Dan ini pertama kali bagi Maya, di cium pria dalam kondisi sadar. Dulu ia pernah mencium sang pria, namun ia menjadi pencuri kala itu. Kaki-kakinya melemas. Tubuhnya seperti coklat masak yang langsung melumer terkena teflon panas. Otaknya lumpuh sejenak. Namun Maya langsung tersadar akan sesuatu.

Nona Shiori….

Tubuh keduanya langsung terpisah. Masumi mendapati tangan Maya mendorong dadanya kuat-kuat, dan apabila Masumi tidak terjaga, ia pasti sudah terjengkang sekarang.

“ Maya? “

“ Ma.. Maaf , Pak Masumi… Sepertinya kita berdua lelah. Saya rasa, saya harus istirahat untuk pertunjukan besok. Mohon maaf kalau saya lancang sedari tadi menahan anda disini. Saya….” Air mata Maya meleleh sebutir, menggaris pipi putihnya.

“ Maya… Maaf. Maaf  kalau aku berbuat lancang. Kumohon.. . Jangan seperti ini. Aku tak ingin melihatmu menangis seperti ini “ jemari Masumi meraih pipi dan menghapus jejak air mata Maya. Menyesali perbuatannya yang terlalu cepat ini.

“ Tidak Pak Masumi…. Aku tidak apa-apa.. Terima kasih untuk mala mini, maaf…. Saya ingin istirahat…”

Mata keduanya bertemu. Maya sudah terlihat seperti sebelum mereka berciuman. Tak ada air mata disana. Namun Masumi masih menduga-duga. Apakah ini salah satu aktingnya, mengingat dia adalah aktris fenomenal saat ini.

“ Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu. Terima kasih untuk espresso-nya, dan resep ini kubawa. Selamat malam, Maya. “ Pamit Masumi sopan dan langsung menuju pintu keluar -- masih dengan beragam pertanyaan menggelayuti otak briliantnya. Masumi mungkin mampu meringkaskan berbagai masalah perusahaannya, namun ia sangat payah di bidang Maya Kitajima..

“ Sama- sama Pak, hati-hati dijalan. “ ucap Maya melepas ekor mata Masumi yang mulai menjauh.


Tadi… Pak Masumi… menciumku…? Kenapa… Kenapaaa??? Aku… Aku masih rindu akan kehadirannya. Dan bodohnya aku malah semakin merindukannya sekarang. Aku… aku…..


Kerinduan Maya yang meledak seketika membawa kakinya tuk melangkah. Mengejar Masumi yang hampir mencapai pintu lift.

“ Pak Masumi ! “

Masumi menoleh sedikit. “ Maya??? “


Entah karena efek keletihannya, atau karena efek ciumannya barusan, atau malah yang terburuk, karena ia mengkonsumsi kopi buatan Maya sekali tenggak, karena yang ia lihat bukanlah Maya Kitajima yang tengah menarik ekor jasnya.

 Gadis itu berambut agak keunguan, panjang dan separuh tergelung, dengan hiasan bunga Orin merah di telinga kanan yang seperti tersemat dan diramaikan dengan putik-putik bunga putih gading, seperti semburat dandelion yang tertiup angin. Mengenakan kimono hebat berwarna merah serta selendang yang entah kenapa seperti bercahaya dan bertabur kelip bintang-bintang. Namun matanya benar-benar yakin—itu Maya Kitajima! Tapi kenapa…. la seperti Crimson Goddes???



Tidak mengherankan apabila indra penglihatan Masumi sejenak menjadi lumpuh dan berhalusinasi. Itu bukanlah halusinasi atau khayalan atau bahkan keletihan tubuhnya. Rasa rindu Maya untuk memiliki Masumi sudah diwujudkan dalam wujud dewi merah. Maya sendiri tak menyadarinya. Tak mengira akan efek dari perasaannya terhadap performanya. Ia mampu menjadi Bidadari Merah di bekas reruntuhan gedung dan stasiun, di dunia panggung yang melibatkan tenaga professional, atau bahkan di lorong apartement dekat pintu lift. Itulah bakatnya.

“ Pak Masumi…” sekarang wajah Maya malah terlihat semakin manis dan melankolis.

“ Maya? Aku serius sekarang! Katakan ada apa atau aku akan menginap di kamarmu malam ini! “ tegas Masumi tak sabar.



Maya terjegil. Menginap????? “ Pak Masumi… Kenapa harus pakai acara menginap? A.. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu…”

“ Kenapa dari tadi tidak kau katakana, Maya? Apa kau perlu kuajarkan bagaimana caranya berbicara dengan manusia lain? Aku ini masih manusia, bukan alien! “ Masumi terkekeh ringan. “Apa hal itu sangat penting? “

Hati Maya tak tenang. Ia ingin sekali menumpahkan semua uneg-uneg dan pikirannya seperti tsunami ke otak Masumi, tapi itu tak mungkin! Bagaimana bisa ia tega membuat wanita yang berlutut demi masa depannya kepada Maya, terus menanti kepastian yang tak ada ujungnya? Harus berapa lama dan berapa dalam lagi Shiori harus berlutut dan menundukkan badannya sebelum Maya memeluknya beberapa jam yang lalu? Maya hanyalah gadis yang cukup—sangat tidak menguntungkan dalam posisi ini. Maya memang mengenal Masumi sudah semenjak ia masih ABG ingusan berusia 13 tahun. Bertengkar, bertengkar dan bertengkar mengisi hari-harinya bila bertemu dengan sang direktur. Namun semenjak Maya berhasil menyingkap fakta siapa sosok asli dari direktur dengan kecerdasan pas-pas-annya, perasaannya langsung terjungkal dan tidak rasional. Ditambah kehadiran wanita cantik nan sempurna yang setia menggelayut lengan kokoh Masumi, Maya semakin yakin kalau iapun ternyata memiliki rasa cemburu yang luar biasa besar. Ia ternyata juga bisa seperti wanita-wanita lain. TIDAK RELA!!!!

“ Pak Masumi…. Aku ingin kau memiliki ini…” tangan mungil itupun menyelinap ringan di saku rok mininya, mencari dan sedikit meremas sehelai syal biru dongker yang masih terawat, lalu menjulurkan kea rah Masumi perlahan.

“ Ini…? “

“ Syal biruku. Aku berharap Pak Masumi mau menyimpannya. “ senyum termanis Maya mengembang lebar, berusaha menutupi kacau balau kondisi hatinya dengan susah payah.
Masumi menaikkan alisnya bersamaan. “ Untukku? “

“ Iya. Hanya untukmu, Pak Masumi. Ini memang punya saya, namun bukan berarti saya sudah memakainya. Saya sungguh-sungguh menyimpan dan menjaga syal ini. Dia berarti banyak untukku dan sudah seperti jimat keberuntunganku….” Maya mulai mengiba.

“ Baiklah. “ Masumi  pun mengambil alih syal biru yang terlipat rapi dari tangan kanan Maya yang terbuka lebar. “ Terima kasih. Aku pasti akan menjaganya baik-baik. Kau yakin mau memindahkan keberuntunganmu ini padaku, Maya? Jangan kau sesali karena aku sama sekali tidak berminat mengembalikannya sampai kapanpun“

Keduanya tertawa ringan.

“ Anggap itu kenang-kenangan dariku, Pak Masumi. Aku tak tahu harus memberimu kenang-kenangan yang seperti apa. Anda sudah memiliki semua, bahkan tempat aku tidur ini pun, Anda yang punya. Aku hanya punya ini. Kuharap anda juga bisa merasakan keberuntungan setelah memilikinya. “ Sedikit Maya menundukkan lehernya dan berusaha menghindari tatapan Masumi yang mulai merekat.

Masumi mendapati rona merah di kedua pipi gadis mungil dihadapannya. Ia tersanjung, sangat! Jemari panjangnya mendekatkan syal itu ke indra penciumannya dan menarik dalam aroma khas Maya serta semburat parfum beraroma Velvet Rose. “ Terima kasih, Maya. Aku pamit dulu. Kuharap kau tidak bosan membuatkan Espresso serta sering-sering memberiku kenang-kenangan lagi.” Ujar pria jangkung itu seraya memendekkan jarak diantara keduanya hanya dalam sekali langkah.

“ Aku mencintaimu… “ aku Masumi sembari mencuri kening Maya dengan bibirnya.

Serasa dunia runtuh dan padang bunga melanda hatinya secara bersamaan, Maya membelalakkan kedua matanya.

“ Pak… Pak….? Pak Masumi barusan… Bilang apa???? “ Telinga Maya berfungsi sempurna. Namun entah kenapa 2 patah kata Masumi barusan terdengar seperti gaung yang tidak jelas pantulannya.

Masumi merendahkan tubuhnya, mendapati bola mata Maya yang melebar tak percaya menuntut pengulangan. “ Aku mencintaimu, Maya….”

Kali ini kata-kata Masumi terdengar sangat jelas berkumandang di seluruh aliran darah Maya. Namun hati nurani Maya mencoba menyangkal kalau sekarang ini adalah nyata, bukan mimpi, bukan juga hal yang kemarin-kemarin sering ia bayangkan ketika ia melamun sambil berendam di bath-up mungil berisikan air hangat.

“ ……”

Maya hanya bisa melongo dan membuka setengah mulutnya. Tadi dia sempat merasakan—lagi—bibir pria idamannya di bibirnya, tak lama kemudian di keningnya. Dan sekarang pengakuan cinta di depan pintu lift menjelang kepulangannya kembali ke meja kerja.
ini benar-benar diluar nalar terliarnya sekalipun!



“ Kau bisa menjawabnya kapanpun kau mau, Maya. Aku takkan pernah lelah menunggumu. “ Pria jangkung itu member pernyataan kembali, yang membuat hati siapapun pasti seperti di awang-awang surgawi. Sembari melangkah masuk ke dalam lift dan meninggalkan Maya yang belum juga menutup rapat mulutnya, Masumi kembali berkata hal-hal yang akan sangat terpatri kuat di memori Maya.

“ Dan kuharap kau tidak melupakan ciumanku tadi. Walau kau menggunakan pembersih lipstick se-steril apapun, cintaku akan tetap ada disana. Selamat malam, Maya…”

Dan pintu lift pun tertutup. Menertawakan mimik Maya yang terombang ambing akan keadaan yang sangat tidak menguntungkan serta rasa cinta yang kini mulai meresap lebih dalam lagi di bibirnya.

                                                                  **

Amaterasu Building adalah salah satu peranakan dari kerajaan kokoh Daito. Berdiri tegak di distrik yang sangat strategis di pusat kota Tokyo. Tak jauh dari ayahnya—Daito—Amaterasu merupakan bangunan yang sangat megah. Melibatkan setidaknya 12 perancang terkemuka di kota Tokyo serta perencanaan matang dan dana yang sudah dipersiapkan untuk pembengkakan angka, menjadikan Amaterasu menjadi pujaan para perancang bahkan pejalan kaki yang sekedar lewat di depan trotoarnya. Desainnya sangat dinamis, namun tak meninggalkan kesan tradisional khas negeri Sakura. Kolam ikan koi dengan dentingan bambu yang dialiri air ada di muka dibantu barisan pohon Palem Raja dan Kuning  memagari sekeliling gedung serta lampu-lampu jalan yang meyoroti setiap jengkal aspal. Tak ketinggalan pepohonan Sakura ikut meramaikan halaman yang berbentuk huruf L besar dan menyiku sudut bangunan--memang disediakan untuk sekedar bersantai atau menikmati teh hijau di kafetaria. Bila beruntung, matahari senja yang hebat siap mempesona mata para pengunjungnya. Warna kuning cerah membalut sempurna baja yang meliuk disisi timur gedung, serta kuning senja di sisi barat. Tidaklah heran mengapa warna alam cukup mendominasi di wilayah ini. Masumi ingin menyesuaikan dengan temanya, dengan “anak” barunya yang dia anggap akan menjadi kebanggaan Daito yang lain. Amaterasu atau Ōhiru-menomuchi-no-kami dalam mitologi Jepang adalah dewa matahari dan merupakan dewa Shinto yang paling penting. Ia lahir dari mata kiri Izanagi. Ia juga dikatakan berhubungan secara langsung dengan garis silsilah rumah tangga kerajaan Jepang dan kaisar. Dengan tema yang kuat inilah, Masumi Hayami berharap sang dewa mau menyinari peruntungannya disini. Dalam segi bisnis tentunya.

Pementasan perdana Bidadari Merah di Amaterasu berlangsung sangat sempurna. Decak kagum dan nafas yang tertahan dari para penonton selalu mengiringi mulai dari awal hingga akhir pertunjukan. Kepiawaian Kitajima Maya serta Sakura Koji dalam penumpahan bakat mereka di atas panggung sudak tak dapat diragukan lagi. Seandainya senjata, pasangan ini mewakili Long Range Sniper Rifle, Caliber .50, M107 yang mampu memporakporandakan sasaran dibalik tembok sampai menembus baja tank tempur sekalipun.

Gemuruh tepuk tangan dan teriakan kekaguman histeris yang tiada henti mengisi tiap sudut ruangan sesempit apapun dengan resonansi tinggi, menandakan kesuksesan Amaterasu di hari pertamanya lahir. Senyum seluruh pemain menghiasi wajah mereka masing-masing, melupakan betapa kering dan sakitnya tenggorokan yang belum sempat menenggak air mineral dibelakang tirai serta cucuran keringat di tengkuk dan beberapa bagian tubuh lainnya. Mereka terlalu bersemangat di panggung perdana dan merasa dimanjakan oleh segala fasilitas penunjang. Kuronuma merasa sangat tersanjung dan terharu dengan keputusan Daito menampilkan mereka sebagai ujung tombak penembus pasar hiburan tanah air. Kitajima Maya—Crimson Goddes—perlahan meninggalkan panggung dan dunia lainnya dia hidup. Beberapa jam waktu yang lalu langkahnya benar-benar ringan manakala ia menjejakkan kakinya di panggung dengan kabut asap tipis mengiringinya, benar-benar berlawanan dengan langkah kakinya sekarang. Wajahnya meringis menahan sakit manakala Masumi Hayami berjalan menuju para petinggi hiburan didampingi tunangan cantiknya, Shiori Takamiya. Maya tidak luka sedikitpun diatas panggung, dia tidak terjatuh, terkilir, ataupun menabrak sesuatu yg keras. Hatinya sangat-sangat sakit saat ini, dan hal itu tertangkap basah oleh kedua pupil Koji yang terus memandangnya tanpa lelah.

“ Kau lelah, Maya? “ Koji menghampiri dan dengan hati-hati merapikan poni Maya yang sedikit melekat karena keringatnya.

“ Sedikit..  Seperti biasanya kok, Koji. Terima kasih…” ucap Maya sembari berusaha menepis tangan Koji dengan halus.

Namun sepertinya Koji belajar dari masa lalu. Dia menjadi lebih keras kepala dan lebih nekat. Meski tangan kanannya ditepis, nemun tangan kirinya meraih lembut pinggang mungil Maya.

“ Koji! Apa yang kau lakukan!!! Banyak orang disini!!! “ sembur Maya sambil berusaha melepaskan pinggang kecilnya yang sepertinya sudah tersangkut kuat di lengan Koji.

Senyum Koji merekah, namun senyum itu tidak hanya mengandung rasa sayang dan cinta, namun penuh tekad. “ Semalam di telpon kau bilang kau akan memberikan jawaban lagi. Aku harap aku mendapatkan jawaban yang jauh lebih memuaskan dari jawaban-jawabanmu yang lalu. Kau tak bisa terus-terusan menolak pria yang sudah terlalu jauh mencintaimu. Kau tahu kan? Itu… Bisa sangat berbahaya untukmu. Menyerahlah, Maya… Aku akan membahagiakanmu. “ tegas Koji dengan mata tajamnya yang mampu membelah hati siapapun di depannya—kecuali Maya—sepertinya.

“ Haruskah kujawab sekarang, Koji? Semalam aku memang menelponmu, memberikan jawaban untuk kalung dolphin yang sekarang di sakuku, namun bukankah akan lebih baik lagi kalau tidak ada siapapun yang melihat kita? Apalagi dengan posisi ini, semua orang pasti akan salah sangka! Tolong lepaskan aku, aku tak enak dengan sekitar kita!! “ desak Maya dan sedikit menaikkan nada bicaranya namun tetap berbisik.

Koji tetap tersenyum. Dia tahu mereka mulai jadi bahan gosip dan pusat perhatian, namun tetap saja tangannya bertengger kuat di pinggang Maya. Matanya menangkap sepasang pandangan tajam dari pria yang lumayan mencolok tinggi badan dan segi ketampanannya, dan Koji menjadi semakin tertantang. 
“ Konferensi pers! “

“ Maaf? Konferensi pers? “ Maya mulai linglung.

“ Berikan jawabanmu nanti di konferensi pers. Semua media sudah tahu akan perasaanku padamu. Berita tentang sepasang kalung kita juga sudah mengudara seminggu yang lalu, dan mereka sangat hebat hingga berhasil mewawancarai pemilik toko yang menjual kalung ini ketika kita kabur latihan dulu. “ Koji mengendurkan pelukannya. “ Kau tahu sudah berapa lama aku menginginkanmu, Maya? Sudah sangat lama. Dan ini salah satu penantianku. Aku akan sangat bersyukur kau mau menjawab YA untuk menjadi belahan hatiku di dunia nyata, dan bukannya niatan konyolmu yang terus menerus ingin mengembalikan kalung itu padaku. Kalaupun nanti, pada saat media meliput kita dan kau tetap menolakku, paling tidak aku akan mendapat tamparan hebat dan kembali bertekad mendapatkanmu disisiku. Dan seluruh dunia tahu, betapa aku sangat mencintaimu. Ingat itu, Maya… Kutunggu kau di kursi meja pers. “ ucap Koji mantap dan segera menuju ruang konferensi pers di sisi barat gedung. Kakinya sudah sembuh sempurna berkat rentetan therapy yang disiplin dilakoninya dan tak butuh waktu lama bagi Koji untuk mencapai ruang yang mulai dikerumuni orang.

Rasa-rasanya seluruh tulang Maya sudah rontok dan tidak menempati posnya masing-masing. Bukan ini yang ia harapkan ketika semalam ia menelpon Koji untuk kepastiannya memberi jawaban kalungnya untuk yang terakhir kali. Ingin sekali ia berteriak frustasi akan nasib percintaannya yang payah serta mungkin berubah jadi biarawati untuk menghindari situasi ini. Namun kini ia tak bisa berkutik lagi. Ruang konferensi sudah mulai padat akan petinggi drama hibura, produser, sutradara serta para peliput berita yang sedang sibuk memfoto atau sekedar mengecek kesempurnaan senjata-senjatanya—kamera tipis bertekhnologi canggih salah satunya. Masumi Hayami selaku penyelenggara utama pertunjukan inipun sudah menarik kursinya, berjarak 2 kursi dari tempat duduk Koji. Pak Kuronuma memanggil Maya yang sedang sibuk merangkai tulang belulangnya yang tadi terlepas-lepas akibat hantaman Badai Koji.

“ Ba.. Baik, Pak Kuronuma! Tunggu saya!!! “ seru Maya sembari mensejajarkan langkah-langkah kaki mungilnya.
                               
Para peliput berita sudah siap memposisikan dirinya masing-masing. Pencahayaan akan lampu sorot, mike yang berderet, notes-notes kecil serta sekelumit pulpen siap mengabadikan moment yang siap di cetak selepas mereka kembali dari sini. Orang-orang yang terlibat dalam sandiwara agung inipun sudah berjejer rapi. Ada Kitajima Maya selaku pemeran utama, Sakurakoji Yuu selaku pemeran pendamping dan duduk tepat disampingnya, Kuronuma Ryuzo sang sutradara gila yang jenius, Chiguza Mayuko sang Bidadari Merah sebelumnya dan guru Maya, serta Hayami Masumi sebagai raja dari bisnis pertunjukan ini. Rentetan pertanyaan mulai dilincurkan para kuli tinta menuju barisan orang-orang yang siap disantap hidup-hidup tanpa ampun. Pertama-tama, pertanyaan hanyalah seputaran pementasan dan tentang gedung baru anakan kerajaan Daito. Masumi dengan bangga menjelaskan semua fasilitas serta kerja keras para staffnya. Namun Masumi tidak memberi angka pasti akan besarnya biaya yang dibutuhkan untuk mewujudkan gedung bertemakan Dewa Matahari tersebut. Namun pertanyaan-pertanyaan berikutnya mulai menyerempet akan kisah percintaan Bidadari Merah yang cukup membuat panas telinga Hayami muda.

“ Maya Kitajima, menurut kabar yang kami dapatkan, benarkah anda menolak pernyataan cinta Yuu Sakurakoji beberapa waktu yang lalu? Sentil salah satu reporter cantik berpakaian sopan berwarna merah marun tersebut.

“ Itu..”

“ Benar! “ Jawab Koji memotong jalur bicara Maya. “ Maya sudah pernah menolakku… 5 kali terhitung awal kami memulai pertunjukan drama ini. “

Suara penyesalan puluhan—bahkan ratusan orang di gedung itu pun pecah. Mereka tak percaya Maya bisa setega itu menelantarkan perasaan pria tampan yang jadi pujaan para gadis-gadis muda.

“ Ko… Koji!!! “ muka Maya sontak memerah karena malu. Ia tak ingin hal ini dibesar-besarkan. Dan otaknya yang ikutan mungil itupun tak bisa membaca akan arah pembicaraan yang mulai membakar rasa ingin tahu orang-orang di gedung ini.

“ Maya, kau tahu semua orang sudah memikirkan arah hubungan kita, dan pasti mereka mengharapkan hal yang indah akan merekah diantara kita, bukan begitu, teman-teman? “ Koji melempar pertanyaan yang memancing dukungan para wartawan.

“ Kyaaaaa!!!”

“ Waaaww!!!!” atau

“ Yippiiiiii!!!!” menunjukkan ketertarikan mereka akan eurofia padang bunga dadakan ini.

Dan Masumi sangat ingin meninju kuat-kuat wajah pemuda brengsek yang berani menantangnya ini sampai ibu kandungnya pun takkan mengenali wajahnya lagi. Koji mendapati kembali tatapan es itu lagi, dan ia bukannya makin takut, namun makin terbakar hebat serta menabuh genderang perang lebih keras lagi serta berharap gendang telinga lawannya bisa pecah dan menjadikannya tuli permanent.

“ Aku mencintaimu, Maya. Maukah… kau menerima cintaku? “ Tanya Koji lekat-lekat serta mencondongkan tubuhnya kearah Maya yang terkejut bukan main. Kalung berbandul dolphin itu pun terpampang hebat di tulang selangka kokohnya, seperti mengemis meminta pasangannya juga mau menggelayut indah di leher mungil Maya.

“ Yaaay!!! Terima!! Terima!! Terima!!!!! Mayaa!!! Katakan YA!! “ 
sorak sorai para wartawan yang ikut merona serta berbunga-bunga melihat langsung adegan percintaan nyata sepasang artist muda itu. Barisan pengunjung yang memandang mereka dari lantai-lantai atas pun ikut meramaikan suasana.

Semua dukungan akan percintaan mereka semakin menusuk mata Maya. Ia bingung, sangat bingung. Ia pun tak sengaja melihat kearah cucu Takamiya duduk diantara para petinggi drama, Shiori. Maya mendapati senyuman tulus dari Shiori dan tangannya yang saling menangkup seperti menunggu akan keputusan besar Maya terhadap hidupnya.

Nona Shiori…..

Maya pun menegok kearah Koji yang masih menunggu jawabannya. Bu Mayuko dan Pak Kuronuma tetap dalam posisi duduknya, ikut menanti jawaban Maya namun tidak terlalu diperlihatkan rasa penasarannya. Dan mata Maya pun tersangkut akan jala dari daya edar mata Masumi.

Oh.. tidak…….

Sepasang mata itu dingin, sangat dingin, namun juga datar dan tak nampak emosinya bagi mata orang awam. Maya dapat merasakan betapa sakitnya hati Masumi yang semalam membuatnya tak bisa tidur tenang mengingat akan kecupan kuat di bibirnya. Maya sangat ingin membantu menghilangkan rasa sepi itu, tapi….

“ Koji…. “ Maya menarik kalung berbandul dolphin itu dari saku kimononya. “ Koji… aku…. “ Maya menundukkan kepalanya, tak sanggup membalas tatapan dingin Masumi. “ Ini….” Maya menyerahkan kalung itu kekedua tangan Koji yang ia balikkan perlahan.

“ Ooooowwwwww…..! “ sesal para penonton.

Maya membalikkan badannya, memunggungi Koji dan memilin lembut rambut panjangnya serta mengangkat tinggi-tinggi untuk memperlihatkan tengkuk putih polosnya. 

“ Koji… Tolong… Pakaikan kalung itu…..  di leherku…” jelas Maya terbata-bata.

“ GYAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!! “ teriakan histeris yang kegirangan membalikkan perasaan sesal para penonton yang barusan kecewa. Mereka berhalusinasi akan hamparan kelopak plum yang bertebaran dan beterbangan memenuhi isi gedung, serta mengharumi udara dari deretan AC.

Koji terpana. Ia tak percaya perjuangannya jatuh bangun untuk mendapati cinta Maya hanya tinggal sekaitan kalung yang kini di tangannya.

“ Ma.. Maya… Kupakaikan.. Diam sebentar ya….. “ jawab Koji terbata-bata. Tangannya sedikit gemetar dan keringat dinginnya menguap entah kemana. Hatinya disesaki sejuta bintang kebahagiaan sampai-sampai rasanya ia tak mampu bernafas dan megap-megap mencari sebotol oksigen murni.

Ucapan selamat pun dipanen kedua sejoli yang baru saja resmi. Pembukaan gedung baru Daito dan pernyataan cinta Isshin serta terciptanya sepasang kekasih baru sudah tentu menambah polularitas Daito . Kejadian langka ini dipastikan akan menjadi headline berita, majalah dan koran-koran gossip yang berlomba-lomba menaikkan rating mereka. Bu Mayuko dan Pak Kuronuma menyalami mereka serta mengucapkan selamat tulus. Maya baru akan bangkit dari kursinya, menyambut uluran tangan sang guru dan sutradara, namun Koji malah menarik tubuh Maya untuk memposisikan tubuh gadis mungil itu di pangkuannya.

“ Kooo.. Koojiiiii!!!! “ Maya gelagapan. Panik.

“ Terima kasih, Maya. Aku mencintaimu. “ ucap Koji mesra serta mencuri pipi Maya dengan bibir tegasnya.

“ Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!! “ kembali jerit histeris melanda ruangan. Para photographer dan cameraman tak henti mengabadikan moment special ini. Hal lain apa yang lebih menarik dari pangkuan serta ciuman Isshin kepada Crimson Goddes saat ini? Tidak ada!

“ Koji!!!!! “ Maya langsung meloncat dari pangkuan Koji dan mundur selangkah, namun tak menyurutkan senyum kemenangan Koji. Maya pun langsung melihat kearah Masumi Hayami yang sedari tadi membeku tak berdaya di sudut meja konferensi.

Pak Masumi…  Maaf….

Maafkan aku…..



48 comments:

  1. ya..saya..saya..ingin ditemani Pak Masumi malam ini...#eaaa

    ReplyDelete
  2. Hiiyyaaaaaa....gambarnya bagus...ceritanya apalagi...<3 <3 <3.
    Jadikan Masumi nginep di tempat Maya. Ga sabar nunggu lanjutannya...XDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaa... makasih udah mau menunggu saya eh updatenya ^^

      Delete
  3. hmmm....gambarnya bagus sukaaa
    tp respon keduanya lambat yah XDD

    MK : pak masumi...tolong temani saya malam ini selebihnya terserah anda ...*lho* XDDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. setuju! gw jg gerah ma responnya yg lemot bgt! *loh???? XD

      Delete
  4. Yessssss Ngineeeeeeeeeeeep ajaaaaaaaaaaa aseeekkkk

    ReplyDelete
  5. kyaaaaaaaaaaaa....
    gambarnya dah dipajaaaaaaaaaaannggg...

    itu akyuuuuu XDDDDD

    ReplyDelete
  6. iya..temani aq malam ini..he...he

    ReplyDelete
  7. Nginep! Nginep! Kasih tw Masumi soal permintaan shiomay dan isi hati Maya. Biar Masumi cpt2 putusin pertunangannya.

    ReplyDelete
  8. Replies
    1. XDDDD kita ikut nginep jg ga yha sis Mia? XDD

      Delete
  9. curang dia pake gambar sendiri.... *nelangsa*
    mana lagunya bikin ga konsen,, mba whitney aku kan suka sekalii....

    ini mah dengan sendirinya langsung masuk daptar bacaan favorit saya

    ReplyDelete
    Replies
    1. huwee... nelangsa knapa sis nisaa?? karya2mu jg baguss looh, aku ngikutin ^^
      iyhaa.. ni lagu akhir2 ini menghipnotisku, sekalian dlm rangka mengenang beliau.
      makasi buat responnya ^0^ aku terharuuuuu T~T

      Delete
  10. haiya ..... jangan nginbox diriku ya regina ?
    ge aku, kabeh wis paaaaaasss *lah wong disogok nggo fanart kok py kakakkaka ;)
    sering2 wae ko ngene regina? *nglujak

    matursuwun update te regina ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwwkk.. ge brusaha ngeluarin semua yg ku punya mbakyuu, ff karo fan art pas2an, wakakakkakaa.. tur sembah nuwun sanget uda ninggalin jejak dimarih yo mbakyuuu

      Delete
  11. aww.. terarengkiu buat rsponnya all sistah, mgkn emg masi sangat jauh dari harapan XD melihat bnyk writter2 lain yg lebih berbakat menuangkan cerita, eaaaaaa XDDD

    wah, banyak yg pingin nginep yak di apartement maya? hihihihiihihi.. moga2 lagunya jg ngedukung "Suasana"nya ^^

    ReplyDelete
  12. iya nginep aja hihihi nti di bikinin lg kopi yg enak. mau ya mau ya

    ReplyDelete
  13. wes tah... nginep aja... itu ngapain shiori muncul???? Duagh!!!! Tendang Shiori!!!
    Acara nginepnya ditunggu

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkkwkw... kan emang dah porsinya shioori, jadi "penengah" XDD

      Delete
  14. * pasang cctv tersembunyi di banyak tempat di apartemen maya *


    okehhhhh , masumi boleh nginep skrg . tempatnya udh readyyyyyy ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakkakaa... ikut memantau aah <3

      Delete
    2. bah bah bah naga2nya ga jd nginep nehhhh * muka mutung *

      Delete
  15. waduhhh....... ngegantung bgd mom mary.... pasti maya mintak dipelukk tuh ma abang masumi.. ihhh curangg... U_U

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, klo minta dipeluk masumi mah itu sayaaah XDDD

      Delete
  16. maya ngga bisa tidur gara2 pengakuan cinta masumi apalgi setelah dicium

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahaha.. makluuum, bibir agak perawan ( dulu pernah nyolong, gantian di colong jd kepikiran semaleman XD)

      Delete
  17. Haduuuh coba sensei Miuchi berani bikin komik kayak gini....tsunami dah tuh dunia persilatan TK....

    ReplyDelete
    Replies
    1. termasuk saya juga kali yha yg protes abis2an, wkwkkwkwkwk

      Delete
  18. asik..
    akhirnya masumi bisa juga ngucapin kata2 itu.

    ReplyDelete
  19. maya kenapa nerima Koji kasian Masuminya
    T-T

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhuhuu.. kan masuminya bs sama saya aja XD

      Delete
  20. hehehehe entah kenapa gw seneng klo masumi menderita ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakkaka... sadis lu ,Bett!! gw juga sih, bikin cerita model beginih =))

      Delete
  21. Aaaah! Tidaaak! Koji and Shiomay sialan! Maya jg plin plan bgt sih! Udah tw masumi jg pny rasa yg sama,bukannya berjuang malah nyerah! Pokoknya sis Mary,gak rela ya kalo koji smp nyium bibir maya! Masumi-nya jg cpt2 putusin Shiory dong! Lelet!
    Hosh,hosh,hosh..esmosi jiwa neh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakakkakaka....! sabar yha saay, belum puncak cerita kok ^^

      Delete
  22. perang dunia ke 3 di mulai....XDDDDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaa... tapi disinilah mulai serunya XDD

      Delete
  23. hadeeeeh Mayaaaaa, ntar pasti nyesel deh.

    ReplyDelete
  24. *gantung koji di puun rambutan*
    mom mary regina~~ sebell,,sebell sama koji
    *peluk masumi* sinih,,sinih,,ama akuh hajah dah,, *ngarep*

    ReplyDelete

 
blogger template by arcane palette