Tuesday, 26 March 2013

Paragraph 11



You Belong To Me - ( Everytime )


Dua hari sudah Maya tertidur selamanya. Pemberitaan tentangnya tak lelah mengudara di semua media massa. Seluruh mulut manusia membicarakannya, menangisi kisah tragis drama percintaan yang terangkat ke dunia nyata, sungguh ironi. Masumi Hayami, sang kaisar Daito makin jarang terlihat. Desas desus keretakan rumah tangganya pun naik menjadi headline surat kabar. Uniknya, sekarang tak ada lagi pemblokiran berita. Seakan-akan membenarkan isu, aksi tutup mulut kerap terjadi ketika para wartawan berusaha mengorek informasi.

Pementasan karya agung Bidadari Merah akhirnya terpaksa diambil oleh Ayumi. Tak heran apabila pertama kali wasiat Maya dibacakan tentang hak pementasan dialihkan ke dirinya, ia menolak mentah-mentah dan menyumpah serapah di toilet. Butuh waktu khusus bagi dirinya untuk menghidupkan Bidadari Merah kembali. Sebelumnya, ia mengadakan audisi konyol bersama Bu Mayuko Chigusa untuk mencari kandidat Bidadari Merah yang lain, hanya sebagai peyakin dirinya, bahwa hanya ialah yang mampu. Dan jawabannya sudah sangat jelas. Tak ada artist satu pun yang berani bersaing dengannya, bahkan seniornya pun mendukungnya.

Daito juga tak terlalu ambil pusing tentang bagaimana kelanjutan Bidadari Merah. Yang sebenarnya, Masumi lah yang sudah kehilangan ambisi dan tujuan. Pemasaran tidak seheboh lalu, mungkin dengan tujuan menghormati Bidadari terdahulu. Entahlah…

Penurunan harga saham, pembatalan kerja sama dengan beberapa investor, jam kerja yang panjang dan beberapa catatan pengunduran karyawan terus menghantui Daito. Inilah kehebatan daya hancur Maya Kitajima kepada perusahaan raksasa yang ditakuti sekaligus disegani siapapun. Meskipun tidak dalam batas ambang ataupun masuk golongan collaps, namun cukup membuat Eisuke kegerahan. Bentakan dan teriakan yang dulu sering ia jadikan senjata, sama sekali tak mengena. Bujukan lembut Shiori tak dihiraukan. Masumi sekarang seperti mayat hidup yang terprogram mulai dari bangun pagi hingga tidur malam. Yang di syukurkan, ia memiliki stamina diatas rata-rata. Dokter sekaliber Richard tak menemukan penyakit serius, ia hanya menyarankan pengurangan rokok, minuman keras dan istirahat lebih awal. Ia tak begitu perduli Masumi mendengarkannya atau tidak, ia telah menjalankan tugasnya sebagai dokter. Dan akan tetap begitu.

Namun tak selamanya mayat hidup itu bisa benar-benar datar. Ia pernah membombardir karyawannya tanpa ampun. Ia berteriak seperti orang kehilangan akal dan menghancurkan layar monitor flat yang tak berdosa dengan tangan kosong. Ya! Didepan semua karyawannya! Ia sebaiknya berganti profesi menjadi petinju dan bukannya seorang direktur papan atas. Ketakutan akan tirani Masumi yang kejam semakin mengerikan dan membuat para pekerjanya merasa di neraka. Yang bertahan hanyalah orang-orang bermental baja, atau tepatnya lagi adalah orang-orang yang merasa tak memiliki nyali mencari sumber penghasilan lain yang bisa sepadan dengan Daito.

Derap langkah kaki wanita terdengar menggema di lorong kantor Daito. Ia menggunakan sepatu hak rendah, berwarna merah dalam dan senada dengan gaunnya yang cantik. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Cukup malam hingga membuat Richard memaksa untuk menemani. Ia takkan bisa membiarkan Shiori mendatangi Masumi sendirian, dengan wajah cenderung gusar serta khawatir dan di jam yang sudah seharusnya ia beristirahat.

“ Richard, kau tak perlu repot menemaniku. Aku bisa menghadapinya sendiri. Kau tak usah khawatirkan aku. “ Ucap Shiori lembut tanpa memperlambat langkahnya.

Richard tak kesusahan menjajarinya, karena beruntung ia memiliki sepasang kaki yang cukup panjang. “ Aku hanya menjaga milikku, Shiori. “

Hanya dengan sebuah kalimat itu, Shiori memerah. Ia tak menyangka bisa sejatuh cinta ini pada Richard. Ketika mereka hampir sampai di lift, handphone Richard bergetar. Ternyata ada pasien yang sedang membutuhkan penanganan segera. Dahi Richard mengkerut, ia membenci hal ini, namun ia masih berdedikasi sebagai dokter.

“ Tak apa, Richard. Aku akan meminta supir menjemputku nanti. Kau tangani dahulu pasienmu. “

Wajah Richard memelas. Kecewa. “ Baiklah, maaf aku hanya bisa menemanimu sampai disini, sayang. Aku akan segera menjemputmu kalau aku memiliki waktu yang cukup. “

Shiori tersenyum dan segera memasuki lift yang hendak membawanya ke lantai teratas, di mana suaminya berada. “ Tak usah terburu-buru, Richard. Pergilah. Aku akan baik-baik saja. “
Dan pintu lift menutup, membawa Shiori ke tempat tujuannya. Sambil melihat tombol angka berubah, Richard mengambil handphonenya dan segera menuju basement.

“ Masumi… “

Shiori mendapati dirinya sendirian di kantor Masumi yang luas. Sekretaris muda menggantikan Mizuki sedang cuti hari ini. Namun setelahnya ia segera pulang karena jam kerja yang sudah lewat.

Ternyata urusan transisi pemain Bidadari Merah juga berpengaruh pada jam kerja karyawan Daito hampir secara keseluruhan. Ia menutup pintu dan kembali memanggil Masumi, namun tetap tak ada jawaban. Kediaman Hayami memastikan kalau Masumi belum pulang sejak pemakaman Maya dan selama itu ia tidur di kantor.
Ia menelpon Masumi.

Tak diangkat.

Shiori menjadi semakin khawatir. Ia kembali memencel tombol handphonenya dan terdengar suara ringtone sebuah handphone yang sudah sangat dihapalnya.

Masumi? Ia disini!

Matanya berusaha menangkap arah suara, dan letaknya…. Dibalik lukisan?

Kembali ia menelpon Masumi dan benar, suaranya dari balik lukisan. Ia menggeser lukisan itu dan menemukan sebuah tombol berwarna hitam, sewarna dengan dindingnya yang kelam. Dan tiba-tiba dinding yang menggantungkan karya pelukis ternama itupun bergeser.

Pintu?

Ia mengikuti arah cahaya yang cenderung orange senja. Dan ia pun takjub.

Tak pernah terpikir dalam benaknya ia mendapati ruangan rahasia milik Masumi disini. Di kantor Daito. Berbagai lukisan Bidadari Merah terpajang memenuhi dinding. Ada pohon plum tiruan yang menghiasi sudut ruangan. Lampion-lampion cantik menghiasi langit-langit, dan tirai tembus pandang berwarna merah pekat melilit dan menjuntai disana sini. Yang paling membuat Shiori terpana adalah berdirinya sebuah patung realistis berukuran tubuh asli manusia didalam dinding kaca. Itu Maya! Maya yang sedang menggunakan pakaian Bidadari Merah. Ia menggenggam sebuah ranting pohon plum lengkap dengan selendangnya yang lembut. Matanya sempat berkedip cepat, ia tak percaya kalau Masumi memiliki duplikat cincin yang ia lihat sewaktu Masumi mengenakan cincin kepada jasad Maya dan akhirnya ikut dikuburkan. Masumi pasti sudah membayar mahal sang desainer karena ruangan ini seperti ruangan pemujaan Bidadari Merah yang sakral. Dan entah kenapa ia merasa agak berdosa karena memasukinya tanpa ijin empunya.

Matanya berhasil menangkap sosok Masumi yang tertidur di sofa panjang. Ia sedih melihatnya. Masumi yang dahulu terlihat berwibawa, sekarang seperti pemabuk tak berguna yang dikelilingi botol-botol minuman keras dan berserakan disana sini tanpa aturan. Ia luar biasa berantakan.

“ Masumi, bangunlah sebentar. Ada yang ingin kutanyakan… “

Namun mata Masumi tetap tertutup dan yang terdengan hanya dengkuran halus.

“ Masumi.. “ Ia mengguncangkan tubuh berat Masumi. “ Masumi… “

Akhirnya mata Masumi terbuka perlahan. Matanya merah dan berair. Sedikit bengkak, mungkin disinilah ia bisa puas menangisi kepergian Maya.

“ Masumi, besok siang aku akan mendampingimu memimpin rapat pemegang saham. Aku harus ada disana, kau tak tahu kekacauan apa yang kau buat dalam dua hari ini. Maaf aku harus bicara seperti ini, tapi keluhan dan surat pengunduran diri tak bisa kau acuhkan begitu saja. kau harus bangkit, Masumi… Kau tak bisa begini terus. “

Shiori terus berusaha membangunkan Masumi dengan membicarakan maksud kedatangannya. Ia pun mendengar tentang buruknya situasi Daito dan terutama, sang direktur muda. Amukan Masumi yang diluar batas kepada bawahannya dan pemecatan terang-terangan kepada wanita hamil bukanlah hal yang baik.

Pemegang saham ikut mengalami dampaknya. Para calon investor mengurungkan niatannya untuk menanamkan modal. Dan keinginan Masumi yang terus-terusan menenggak minuman keras sudah dipastikan ia ingin bunuh diri. Maka itu tanpa pikir panjang, Shiori langsung berusaha menyadarkan Masumi, sebelum terlambat atau ia akan menyesal selamanya.

“ Masumi, apa kau mendengarku? “

Shiori masih ditempatnya, berlutut diatas karpet merah yang tebal. Ia mendapati mata Masumi yang menyedihkan. Namun ada yang berbeda dari tatapan matanya dan cukup membuat Shiori menjadi sedikit takut.

“ Maya… Kau datang padaku? Maya…. Mayaa….. “

Shiori membelalak. Berada dekat dengan pria yang bergelung dengan berbagai botol minuman keras ternyata bukanlah ide yang cukup bagus. Ia menyesal meminta Richard tak menemaninya tadi. Ketika ia hendak beranjak pergi, tangan kokoh Masumi menariknya hingga ia terjatuh diatas tubuh Masumi yang kekar dan beraroma tajam dari alkohol.

‘ Masumi! Lepaskan!!! MA… “ Dan meneganglah seluruh tubuh Shiori setelah bibir Masumi melumatnya dengan rakus.

Sekuat tenaga ia berusaha menolak pelukan Masumi, namun itu hanyalah kesia-siaan. Tenaganya sama sekali tak sepadan dengan ukuran tubuh Masumi yang besar. Meski memang, Richard lebih besar dari Masumi, namun ia selalu diperlakukan lembut. Ia tak pernah mendapati sentuhan kasar seperti ini sebelumnya. Ia merasakan tangan Masumi memeluknya kuat-kuat, seperti hendak meremukkan seluruh tulang rusuknya. Ia kembali berusaha mendapatkan momentum melarikan diri, pikirnya ia sedikit berhasil, namun ia malah jatuh keatas karpet tebal dan posisinya sama sekali tak menguntungkan. Tubuh Masumi menindihnya lekat dan masih berusaha mendapatkan bibir Shiori yang panik.

“ Maya… Aku merindukanmu! Aku.. aku takkan melepaskanmu lagi! Tidak Maya, aku tak bisa melihatmu pergi lagi, kumohon…. “
Hati Shiori tersayat mendengarnya. Ia merasakan titik air mata Masumi membasahi pipinya. Namun sedetik kemudian, ia menyadari bahwa ia tetap harus pergi dari sini, secepatnya!

Tiba-tiba tubuh Masumi yang tadi menindihnya, terlempar begitu saja. Richard datang tepat waktu. Ia menghadiahkan kepalan tangannya tepat mengenai pelipis Masumi. Direktur muda Daito itupun terlempar dan menabrak meja hingga memecahkan guci antik yang entah berapa digit angka harganya.

Richard melangkah lebar dan mendaratkan tendangan keras ke perut Masumi dengan telak. Tak ayal perut Masumi langsung mengejang dan memuntahkan semua minuman keras yang tadi ia tenggak. Ketika tendangan berikutnya hendak dilancarkan,Shiori berhasil menghentikan aksi brutal kekasihnya kepada suaminya.

“ Richard! Hentikan! Kumohon jangan begini!! “

Richard membalikkan badan dan menarik lengan Shiori dengan cepat.“ Ayo Shiori, kita tak perlu lagi menolong sampah busuk ini lagi! “

“ Ta… Tapi Richard…. “

Richard tak bergeming.Ia tetap menarik lengan Shiori agar menjauh dari sang suami yang sedang tak jelas kondisinya. Namun Shiori kembali menarik lengannya ketika ia sudah berada di ruang kerja Masumi yang besar.

“ Richard! Tunggu dulu…. Bagaimana kau bisa tahu kalau terjadi sesuatu padaku barusan?Apakah ada yang memberitahukan padamu?“ mata Shiori mencari-cari seseorang selain mereka, terutama sekretaris muda yang tadi mempersilahkannya masuk ke dalam.

Richard tetap diam dan ia kembali menarik tangan Shiori agar segera meninggalkan gedung. Tapi Shiori kembali berusaha menarik tangannya kearah berlawanan.Sehingga aksi tarik menarik terlihat konyol dan frustasi.

“ Aku bertanya padamu, Richard Jefferson! “

Mata Richard menajam.Ia mempererat cengkraman tangannya di lengan Shiori yang kecil dan membuat wanita muda itu mengaduh.Richard tak menggubris bentakan Shiori dan membuatnya terpaksa membopong tubuh Shiori di lengannya.

Wanita itu berusaha melawan, tapi sekali lagi, ia tampak hanya seperti lembaran kertas tipis yang dengan mudah terbawa angin. Hanya suara isakan tangis Shiori yang terdengar makin menjauh dari telinga Masumi.

Masumi mengerjabkan matanya berulang-ulang.Ia masih memegangi perutnya yang kelu dan perih. Ia yakin, Richard mengeluarkan semua kekuatannya dan menghempaskannya tepat ke tubuh Masumi yang terkapar.

Masumi tertawa, sambil memegangi perutnya agar tawanya tak membuat sakitnya bertambah parah. Dengan susah payah, ia membawa tubuhnya berdiri dan berjalan perlahan keluar. Ia beruntung para karyawan telah pulang. Hanya security yang tetap berjaga di pos masing-masing. Meski pun mereka melihat langkah sempoyongan Masumi yang tak beraturan, mereka akan tutup mulut dan menganggap tak melihat apapun. Sekali lagi, tirani Masumi masih menghantui status pekerjaan mereka di Daito.

Masumi akhirnya berada di atap gedung Daito yang luas. Ia berdiri bersender gontai di dinding pembatas yang menjaga tubuhnya agar tetap pada gedung yang tinggi menjulang. Ia melihat sekitarnya. Hamparan cahaya lampu kota Tokyo yang sepertinya takkan pernah padam, memamerkan segala warna dan mengerlip genit kearah Masumi. Meski sebenernya mungkin itu hanya pikiran Masumi yang masih terpengaruh alcohol. Mungkin juga…

Ia melihat keatas. Langitnya cerah. Ia dapat melihat hamparan cahaya bintang yang berusaha bersaing dengan cahaya buatan di bumi. Namun takkan bisa lebih spektakuler dibandingkan kampung halaman Bidadari Merah. Dan Masumi pun mengingat gadis mungilnya.

Ia merindukannya.

Maya…

Masumi memejamkan mata. Memori ketika ia pertama kali bertemu dengan Maya sangatlah manis. Ia masih teramat kecil, tinggi tubuhnya hanyalah sebatas dada bidang Masumi. Dan gadis mungil itu baru berusia 13 tahun. Ingatannya kembali mengalir, ketika Maya memerankan Beth. Ya, saat itu, jantung Masumi berdegup lebih kencang dari biasanya. Pada saat itu, penyangkalan diri besar-besaran terjadi. Ia takkan mungkin bersikap jujur pada perasaannya sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana wajah orang-orang apabila pada saat itu juga ia menyatakan cintanya kepada Maya. Mungkin rumah sakit jiwa akan menjadi tempatnya berkubang sekarang.

Lalu ia mengetahui hubungan Maya dan Sakurakoji yang cukup dekat. Dan saat itu, ia belajar akan apa arti dari kata cemburu. Namun ia tak bisa berbuat banyak. Ia tetap berada di balik bayangan Mawar Ungu yang selalu ia kirimkan kepada gadis pujaannya sejak pertama kali Maya tampil.

Hatinya semakin kalut ketika tanpa sengaja, ia telah membunuh calon ibu mertuanya. Ia tak bermaksut melakukan hal kotor itu. Yang ia pikirkan hanyalah segi bisnis, tepat seperti jendral besar mengajarkan jalan hidupnya. Dan kata benci yang selalu diucapkan Maya berulang-ulang padanya bagaikan langit yang runtuh menimpa tepat ke kepalanya yang terasa kosong. Namun ia tak menyerah untuk mendukung Maya. Tetap sebagai pengecut yang berlindung dari rangkaian bunga mawar ungu andalannya.

Ia tak menyadari, entah sejak kapan sikap Maya padanya menjadi melunak. Ia bahkan bisa memeluk Maya di tengah derasnya guyuran hujan yang membasahi tubuh mungil gadisnya. Mereka bahkan bisa melewatkan malam berdua, meski Masumi tahu, itu akan menjadi malam yang amat berat baginya. Dimana hasratnya untuk memiliki dan mencintai Maya amatlah besar. Namun ia juga seorang pelindung. Ia takkan berbuat hal yang tak pantas pada gadis yang tengah tertidur di pelukannya yang makin menghangat.

Kejadian Astoria semakin menguatkan kenyataan. Ia sangat yakin kalau mereka mampu berjalan bersama. Namun sekali lagi, posisi Masumi yang sebagai tunangan Shiori Takamiya takkan memudahkan jalannya. Di tambah lagi pemuda kurang ajar—Sakurakoji—itu tetap berusaha mendapatkan cinta Maya. Pernyataan cinta yang diterima Maya sekali lagi menampar keras kesadaran Masumi. Dan akhirnya ia kembali berjalan kepada jalan yang menggaris datar.

Mata Masumi makin terpejam kuat. Ia takkan bisa lupa insiden pernikahannya. Ia mengira ia akan melihat acting Maya yang luar biasa cantiknya. Ia memang jatuh cinta kembali melihat Maya yang berubah menjadi sosok Bidadari Merah. Namun ia….

Masumi terisak. Ia takkan mampu menghilangkan ingatannya ketika ia melihat Maya meregang nyawa. Ia panik dan kacau. Semua dunianya hancur seketika saat akhirnya ia harus melihat gadis cantiknya tertidur di peti mati dengan menggunakan kimono merah. Sejak Maya dikebumikan, air matanay telah habis. Ia tak perduli lagi akan sekitarnya. Ia merasa sekeliling manusia adalah musuhnya. Dan mereka semua mengharapkan kehancurannya.

Masumi kembali tertawa.

Ia takkan lupa bagaimana sumpah serapah yang terus di lemparkan orang-orang ke wajahnya. Baik di meja direksi ataupun di pelataran parkiran mobil. Bahkan ia menerima lemparan telur busuk yang tak sempat ia hindari. Armani-nya menjadi bau dan ia langsung membuang jas itu begitu saja di jalanan.

Tawa Masumi semakin sumbang.

Ia merasa ia memerlukannya. 

Dan tawa sumbangnya kembali menjadi isakan tangis perlahan demi perlahan.

Pertama, ia di tinggal mati oleh ibunya. Setelah itu, ia harus menjadi budak pekerja dari Eisuke Hayami. Menjadi tunangan-lalu suami wanita yang tak ia cintai dan mencintai wanita yang amat membencinya. Membunuh seorang ibu lemah yang buta. Memecat karyawan seenaknya. Dan yang terakhir ini, pukulan serta tendangan dari selingkuhan istrinya sendiri.

Masumi menghirup nafasnya dalam-dalam. Ia mengangkat tubuhnya, melewati dinding pembatas keamanan dan duduk santai diatasnya. Sama sekali tak merasakan takut ketika kaki panjangnya menjulur dan yang dilihat dibawahnya adalah barisan mobil terparkir rapi yang tampak seperti semut-semut yang sedang berjaga. Air matanya kembali menetes dan kali ini mengalir cukup deras. Ia tergugu hingga bahu kekarnya terguncang hebat. Ia menapakkan kakinya pada segaris beton yang pas dengan ukuran satu tapak kaki manusia, dan itu masih di luar dinding pembatas keamanan. Matanya masih terpejam. Dan dengan perlahan, ia melepaskan pegangan tangannya pada tepi dinding serta mendorong tubuhnya kedepan. Ia menerima daya gravitasi bumi yang terasa semakin menghisapnya kebawah.

Maya, aku sangat merindukanmu, sayang…..




*



Kedua insan itu masih dalam pergulatan. Shiori masih mempertanyakan penculikan Richard yang cukup barbar. Ia sangat malu pada para security yang berusaha menolongnya, namun di cegah dengan baik-baik oleh wanita muda itu meski masih di panggul Richard.

“ Masuklah! “

Laki-laki kokoh itu menunjukkan belangnya. Ternyata ia agak kasar apabila sedang marah. Shiori tidak menyalahkan, namun ia berhak tahu akan alasan Richard datang kembali padanya.

“ Richard, aku akan masuk ke mobilmu. Tapi tidak dengan cara kasar seperti ini! “ dan ia pun melangkahkan kaki jenjangnya kedalam sedan sporty mewah milik dokter pribadinya itu.

Richard mendengus dan segera memposisikan dirinya di belakang kemudi. Mereka pun mulai melaju keluar dari gedung Daito yang sepertinya sudah sangat dikutuk Richard beberapa waktu lalu.
Kecepatan mobil melaju stabil. Richard bukanlah type pria yang melampiaskan emosinya ke hal peletup adrenalin yang lebih berbahaya. Ia lebih suka hatinya yang panas meledak ledak, namun ia tetap dalam area berkepala dingin.

Mereka tetap dalam kesunyian. Shiori sama sekali tak lagi menanyakan alasan Richard kembali ke Daito. Ia memilih untuk menatap keluar jendela, mengamati cahaya lampu yang berkerlap kerlip dan para pejalan kaki yang memenuhi trotoar toko.

“ aku mendapat kabar yang cukup penting. Kupikir aku harus menangani pasien, namun begitu aku sampai di basement, kabar yang kudapatkan lebih mengejutkan lagi. “

Ucapan Richard berhasil memancing rasa ingin tahu Shiori yang sedari tadi di timbunnya. Namun belum cukup kuat untuk menarik wajah Shiori dari kaca pintu mobil.

“ Kabar tentang apa? “

Richard melirik wanita disampingnya. Ia masih membuang mukanya meski ia bertanya.

“ Dokter Akagi tertangkap tangan sedang melakukan pelanggaran kode etik. Perawat yang biasa menangani Maya dan dirimu mengetahuinya sebelum terlambat. Ehm, kau masih ingat dokter Akagi? Dia pria tua yang sudah menjadi penggemar berat Maya bertahun-tahun. “

Usaha Richard berhasil. Shiori langsung membalikkan badannya dengan mata yang membelalak penuh keingin tahuan.

“ Pelanggaran apa? Ini berhubungan dengan Maya? Katakana padaku, Richard! “

Richard tersenyum. Ia merendahkan kecepatan dan meposisikan mobilnya dijalur lambat sehingga tidak menghambat laju pengemudi lain dibelakangnya.

“ Ia dengan lancang mengambil sel telur Maya yang matang. Gerak geriknya terdeteksi ketika ia hendak melakukan prosesi pembuahan luar—bayi tabung, untuk lebih jelasnya. Para security telah mengamankannya setelah keributan hebat antara dokter tua itu dan perawatmu terjadi. Ia terobsesi pada Maya, sampai pengambilan sel telur Maya pun ditempuhnya. Memang terdengar sangat ganjil, mengingat beliau adalah dokter yang sangat terhormat dikalangan kami. Sampai sekarang kami tak tahu bagaimana caranya ia mendapatkan sel telur dari Maya. Para penyidik akan segera mengungkapkannya. Aku langsung berlari ketempatmu, dan mendapatkanmu dilecehkan oleh sampah pemabuk itu! “

“ STOP! “

Shiori berteriak kencang. Wajahnya yang tadi jual mahal sekarang terlihat semakin kacau. Richard sempat terkaget dan ia segera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang sudah tersedia.

“ Jadi… apakah… karena hal ini Maya meninggal? Dokter itu… “
Richard mengelus rambut Shiori. Kepalanya sedikit menggigil, sepertinya Shiori pun menahan emosi yang cukup besar. 

“ Maya murni bunuh diri. Ia menyimpan kapsul sianida dan meminumnya ketika ia mengambil air sungai sewaktu pertunjukan Bidadari Merah. Sel telur itu didapatkan dokter Akagi beberapa waktu sebelum Maya pentas. “

“ Tapi.. apakah dokter itu ikut ambil bagian? Darimana Maya mendapatkan barang seperti itu!? “ Tanya Shiori dengan cepat.
Richard menggeleng. “ sepertinya Maya mendapatkannya dari black market, entahlah. Penyidik masih berjuang keras disini mengingat sindikat yang dihubungi Maya sepertinya sudah sangat professional dibidangnya. Dokter Akagi pun sama seperti kita. Ia kaget luar biasa. Ia sampai ambil cuti untuk berkabung bagi Maya, dan barusan ia hendak membuahi sel telur Maya dengan harapan bisa mendapatkan Maya kembali. Jujur saja, aku tak mengira ia akan bersikap seperti phsyko… “

“ Lalu, bagaimana dengan sel telur Maya? “

“… Shiori? “

“ Bagaimana…? Bagaimana dengan Maya?!? “ nada suara Shiori agak meninggi.

“ Sel telur Maya masih pada tempatnya karena memang belum sempat terjadi proses apapun. Mungin akan segera dibawa penyidik sebagai barang bukti. Kita lihat saja nanti… “

“ PERINTAHKAN UNTUK TETAP DITEMPATNYA!!! AKU TAKKAN MEMAAFKAN SIAPAPUN MENYENTUH MAYA!!! “ Shiori berteriak, membuat Richard semakin kaget. Wah, sepertinya Richard belum mengetahui sisi Shiori yang seperti ini.

Dengan enggan, Richard menelpon pihak rumah sakit. Ternyata memang benar, para penyidik sudah akan segera membawanya. Beruntung Richard bisa menahannya dengan alasan medis yang dibuatnya dengan spontan.

“ Kau puas? Memang kau mau apa dengan sel telur Maya? Oh, kita bisa mengawetkannya sebagai kenangan! “ spekulasi Richard meluncur begitu saja.

Shiori menggeleng. “ Atau kita bisa membuat Maya yang baru! Kita harus segera kembali ke Daito sekarang, Richard! “

Dahi Richard berkerut. Apa maksutnya membuat Maya yang baru???  Dan otak Richard langsung menyadarinya saat itu juga.

“ Oh tidak, Shiori… Kau tahu itu melanggar kode etik kedokteran manapun. Aku tak suka kemana arah pembicaraan ini. Sebaiknya kita segera pulang, kau harus beristirahat, sayang… “

Shiori tak mengalah begitu saja. Ia segera membuka pintu dan hendak keluar sementara tangan Richard dengan cepat menyambarnya.

“ Kau mau kemana, Shiori? Ini sudah tengah malam! Sangat berbahaya bagimu berkeliaran sendirian di kota ini!! “

“ Antarkan aku ke Daito atau aku akan berjalan sendiri kesana! “
Genggaman tangan Richard menguat dan membuat Shiori sedikit menyerngit.

“ Aku takkan membiarkan kau mendekati pecundang itu, Shiori. Masuklah, kuantarkan kau pulang…” Richard memelankan suaranya dan benar-benar menekankan setiap kata pada kalimatnya, hendak mengintimidasi Shiori agar menuruti kata-katanya.

Namun yang dihadapi Richard adalah cucu Takamiya. Ia adalah seorang ratu yang memiliki kekuasaan. Ia dapat melemparkan karier Richard dengan hanya menjentikkan kelingkingnya.

“ Baiklah, aku akan berjalan. Selamat tinggal, Mr. Jefferson. “
Shiori menghempaskan tangan Richard dan segera keluar. Richard terkaget dan segera keluar dari mobil, menyusul Shiori yang baru berjalan sekitar 3 langkah. Ia kembali mendapatkan pergelangan Shiori di tangannya dan menahannya selama mungkin ia dapat.

“ Aku takkan membiarkan kau bersama sampah itu, Shiori! Apa kata-kataku kurang jelas!? Dan kenapa aku memanggilku begitu? Apa kau sekarang meninggalkanku dan kembali pada suamimu yang tak berguna itu?! “

Tamparan keras melayang di pipi Richard. Pipinya perih dan panas. Ia belum pernah ditampar oleh wanita manapun selama ini. Baru Shiori yang baru saja memberikannya pengalaman pertama yang pasti akan terus diingatnya. Mengingat ia melakukannya di khalayak ramai, sehingga membuat tontonan gratis pertengkaran abad ini.

“ Jaga ucapanmu , Mr. Jefferson! Meski dia suamiku yang tak berguna, akulah yang menyebabkan ia menjadi seperti itu! Aku masih memiliki hati dan aku merasa bertanggung jawab akan kesalahanku! Aku mencintaimu! Ya, aku mencintaimu!! Tapi kau tak mau membantuku!! Sebaiknya aku segera pergi dari sini.. “ 

Baru saja Shiori membalikkan badannya, ia merasa dipeluk dengan hangat oleh badan tegap yang tingginya jauh diatasnya.

“ Maafkan aku…. Kumohon maafkan aku, Shiori…. Baiklah, kita akan ke Daito. Dengan syarat, kau tak boleh sendirian menghadapi Masumi, oke? “

Penawaran Richard bersambut baik. Shiori tersenyum dan berbalik. Mereka berciuman dan membuat riuh pejalan kaki yang sedari tadi menontonnya. Mereka tak perduli jikalau ada yang memfoto mereka, atau mengunggah momen mereka ke dunia maya. Yang mereka rasakan sekarang adalah rekonsiliasi yang hangat.

Mereka memasuki mobil dan segera kembali menuju Daito. Semoga mereka belum terlambat akan semua kejadian beruntun ini dan bisa menyelesaikannya dengan baik. 

Semoga….



12 comments:

  1. Baguuusss.. Bunuh diri saja toh.. Kang Mas..
    Tahu tahu Neng Maya masih hidup, nyesel deh.. Jadi arwah gentayangan jadinya --> nasih ngareep.. He..he..

    Mayanya masih hidup kan, Mom? Cuma pura pyra mati? *kedip kedip merayu* he.he..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe, tungguin kelanjutannya yhaa, makasih udah baca :D

      Delete
  2. hikzz sedih bgddd.............

    ReplyDelete
  3. masumi.... masih banyak harem2mu di sini...
    silakan dipilih :D

    ReplyDelete
  4. hedeu .... untung masumi ra sido ngapak - ngapake shiori, rugilah masumine....wkwkkwkkwk

    kapan update meneh ???? *njaluk dikeplak xiixixi
    maturnuwun update e regina

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwkkk.. ono2 bae lah kie XD

      ta usahain ki maret iki rampungan mbak. ki sedilit ngkas njuk enthek kok :D

      Delete
  5. kasiaaannn masuminyaaa.. hiksss..
    *come to mama dini masumi-san*

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, dia jatuh ke pelukan saya dulu dunk, hihihiihihiii XD

      Delete
  6. whoaaaaaa.... idenya kereeeennn!! mantep bgt momih... <3

    ReplyDelete

 
blogger template by arcane palette