Eyes On Me
Pagi ini adalah pagi yang sangat penting bagi Daito. Tiap harinya memang penting. Tapi tidak untuk hari ini. Hari ini sangat sangat sangat penting bahkan sampai membuat Masumi Hayami datang 1 jam lebih awal di kantornya. Sebenarnya Masumi tidak bisa dibilang datang lebih awal dikantornya juga, mengingat dia semalam menenggelamkan otaknya ketumpukan dokumen dan sukses membiusnya dikamar pribadi—sebelah kantor pribadinya, sebenarnya, dan ia bersyukur untuk proposal sang interior designer yang bawel akan jam tidurnya, dan mengatakan kalau ia tak ingin melihat peti mati Masumi menghiasi sebuah pemakaman sebelum ia tidur abadi dalam tanah berlapis rumput Jepang. Dan disinilah ia sekarang! Sambil menunggu tamu spesialnya, ia mulai membuka laptop dan melihat semua data-data memuakkan yang sanggup membunuh orang hanya dengan meng-klik open option.
“ Pak
Masumi,Tuan Amamiya dan Nyonya Nadeshiko sudah datang. Anda sudah siap
menyambut mereka, Pak? “ suara anggun Mizuki memecahkan konsentrasi Masumi
lewat interkom.
Masumi
tersenyum lebar dan membereskan jasnya yang sama sekali tak bermasalah. “
Persilahkan mereka masuk, Mizuki. Kau tak tahu betapa aku sangat menunggu
mereka sejak proposal itu diajukan! “ jawab Masumi tenang dan memastikan posisi
dasinya tidak bergeser 1 senti dari posnya.
“ Baik,
mohon tunggu sebentar. “
Pintu
besar berukir mewah dan tradisional pun terbuka, menembus ruang Mizuki dan
Masumi, serta memberikan jalan lurus dan terarah langsung kepada pangeran muda
Daito.
“
Selamat datang di gubuk saya, Tuan Amamiya, Nyonya Nadeshiko... “ Masumi
menjabat hangat tangan orang penting tersebut. “ Silahkan duduk di ruang sofa
ini. Semoga anda merasa nyaman diruanganku yang sederhana ini. “ sambung Masumi
merendah. “ Mau minum apa? “
Mizuki
menyiapkan memory terbaiknya segera.
“ Ah,
kau bilang apa sih, Masumi? Kalau gedung Daito kau sebut gubuk dan ruanganmu
ini kau sebut sederhana, bagaimana aku harus mengatakan akan apartementku? “
canda Nyonya Nadeshiko dengan hangat. “ Ah, Mizuki sayang, kau tahu minuman
favoritku bukan? Tolong berikan aku secangkir teh, namun dengan banyak teh
didasarnya. “
“ Baik,
Nyonya, anda Tuan? “
“ Dan
aku segelas kopi, terima kasih Mizuki. “ sambung Tuan Amamiya dan membiarkan
Mizuki menyelesaikan pekerjaannya. “ Masumi, tolong hentikan berbicara formal
seperti ini. Kita sudah sangat lama berkawan dan aku mengenalmu jauh sebelum
kau mengenal dirimu sendiri. Jangan sampai aku menempelkan semua fotomu yang
memalukan diseluruh dinding ruanganmu ini. “
Masumi
menyerah. “ Kurasa sangat tidak profesional kalau diawal bisnis ini aku tidak
memiliki sopan santun yang pantas meski sekedar untuk berbasa basi, bukan
begitu... Tante Nadeshiko? Ryuzaki? “ dan suasana ruanganpun segera mencair bak
kutub utar yang terkena pemanasan global dalam sekejap. Masumi mendapati
dirinya sudah dipeluk erat secara bergantian oleh tantenya serta sahabat sejak
jaman ia masih menggunakan seragam SMP yang membosankan.
“ Jadi....
benarkah proposal yang kalian kirimkan itu? Kita akan menjalankan rencana hebat
ini bukan? “ Masumi sangat antusias. “ Kuharap ini bukan April Fool karena sekarang sudah bulan Oktober! “
“ Kau
bercanda??? Ini Kaisar Jepang, Masumi! Demi Tuhan, bagaimana mungkin kau tega
berpikir kalau kami menggunakan trik kuno seperti itu untuk mengerjaimu? “
sembur Tante Nadeshiko. “ Kau tahu kalau Tante sudah bekerja sangat lama di
Kekaisaran negara kita sejak Tante lulus Magister.
Dan departemen tempat Tante bekerja sekarang sedang hangat akan gosip
bidadari merah dimana-mana. Bagaimana mungkin pertunjukan spektakuler dan
membanggakan Jepang seperti itu tidak ditonton Kaisar dan keluarganya? Drama
yang kau naungi itu sangat Jepang! Dan kita hidup dinegara Jepang, dan lagi,
aku digaji oleh Kaisar Jepang! Kau pasti bisa menemukan benang merah dari hal
barusan, Masumi! “
Merekapun
tertawa terbahak mendengar semburan Nadeshiko yang sepertinya takkan habis
melaju bagai kereta listrik tercepat didunia. Dan kereta listrik itupun baru
berhenti ketika Mizuki membawakan minuman pesanan mereka masing-masing.
“ Jadi,
bagaimana, sobat lamaku? Aku selalu tak sabar bekerja sama denganmu dan
menambah sedikit pundi-pundi brangkas besiku dengan sedikit mencuri beberapa
lembar uang Daito. Aku pun dalam posisi yang tak kalah berisiknyadengan Tante
Nadeshiko. Mengingat kami bekerja di Departement yang sama—Kebudayaan dan Pariwisata—hampir
seluruh ruangan memekikkan Bidadai Merah. Bahkan ada beberapa pegawai yang
datang dengan kaca mata hitam untuk menyembunyikan betapa bengkaknya mata
mereka karena menangisi Akoya dan Isshin semalaman! “ jawab Ruzaki sambil
mengacak-acak kulit kepalanya yang tidak gatal.
“ Aku
akan sangat senang sekali dapat berbisnis dengan Kaisar Jepang! Mohon santai
sebentar, aku akan memanggil pengacaraku untuk pembahasan kontraknya dan
kuharap hal ini bisa kita kerjakan bersama. “ Masumi bertutur selembut pemimpin
perang yang yakin akan kemenangannya dimedan tempur.
“
Baiklah Masumi, berikan tembakan terbaikmu untuk kami! “ ucap Nadeshiko
profesional.
*
“ Ka...
Kaa... Kaisar????? “ teriak Maya, Sakurakoji dan Kuronuma bersamaan.
Mizuki pun
bertutur anggun. “ Betul. Kaisar Jepang, pemimpin negara ini, ingin melihat
pertunjukkan spektakuler kalian, kami harap kami bisa menyupport seluruh
kebutuhan kalian dan menggaungkan Bidadari Merah tak hanya di Jepang, namun ke
mancanegara. Itu sudah menjadi tujuan utama Daito. Kami takkan menghilangkan
kesempatan sekecil apapun untuk perkembangan kami. “
“ Kami
akan berikan yang terbaik! Bukan begitu, Maya? Koji? “ jawab Kuronuma mantap.
“ Tentu
saja, Pak! “ Koji sangat bersemangat menjawabnya.
“........”
“....
Maya.....?”
“ Maya? “
“
MAYAA???? “ akhirnya Kuronuma berteriak, menghantam kesadaran Maya yang hilang
beberapa detik yang lalu.
“ Eeeh....
ya? Ya? Oh.. YA!!!!!!! TENTU SAJA SAYA SANGAT BERSEDIA DAN SANGAT TERSANJUNG,
PAK KURONUMA! “ teriak Maya ketika ia kembali mendapatkan setengah nyawanya
yang melayang entah kemana.
Mizuki
tersenyum melihat kelakuan Maya yang polos dan 2 pria disebelahnya yang spontan
menutup telinganya rapat-rapat mendengar jawaban Maya.
“
Baiklah kalau begitu. Aku akan segera mengabari kalian secepatnya begitu surat
kontrak sudah siap. Kita akan membangun sandiwara yang hebat kali ini. Kumohon sangat
kerjasama dan semangat kalian dalam kesempatan emas ini “ ucap Mizuki dan
menyodorkan jabatan tangannya kepada 3 orang didepannya.
“ Kami
takkan mengecewakanmu, atau Daito. Kami murni melakukan ini untuk kepuasan jiwa
kami menghidupkan mimpi di dunia nyata. Dan kemurnian kami takkan punah meski
kami mati sekalipun! “ Kuronuma meyakinkan.
“
Kupegang kata-katamu, Pak Kuronuma. Senang dapat bekerja sama denganmu. “ pamit
Mizuki sopan dan sedikit membungkukkan tubuh semampainya.
Mizuki melirik
sebentar kearah Maya yang terlihat lucu dan merah, entah karena terkejut atau
terlalu senang. “ Jaga kesehatan kalian “
Ruangan latihan
tempat Bidadari Merah tetap berjalan seperti biasanya. Maya dan Koji berjalan
bersisian diikuti sang sutradara dibelakangnya, meninggalkan ruangan kecil
tempat negosiasi berlangsung.
“ Apa
kau bahagia, Maya? Kita akan ditonton pemimpin negeri ini! Aku benar-benar
tidak menyangka akan setinggi ini hasilnya!!!” ucap Koji senang.
“
Koji!!!! Ini adalah salah satu impianku!!!! Aku sendiri tak pernah bermimpi
akan begini hasilnya. Bagiku kemarin, aku hanya berakting dan berakting setiap
harinya untuk memupuk semangat hidupku. Dan sekarang aku seperti mendapatkan 1
kontainer pupuk dalam waktu sehari! “ canda Maya yang tak kalah bersemangat
dari Koji.
Kuronuma
mengambil kursinya, dan duduk. “ Ayo cepat latihan! Sampai berapa lama lagi
kalian akan terkejut begitu? “
“ ah..
BAIK!!!! “ ucap Koji dan Maya bersamaan.
Koji menahan
tubuh Maya dengan tubuhnya sendiri seperti tembok empuk dan meremas bahu Maya. “
Maya, selain pertunjukan ini, hal lain yang sangat menyemangatimu adalah aku
mampu menunjukkan pada dunia betapa aku bangga menjadi Isshinmu, betapa aku
bahagia menjadi kekasihmu, dan betapa aku sangat bermimpi indah menjadi belahan
jiwamu. Aku mencintaimu.” Ucap Koji lembut dan mencium kening Maya dengan
cepat. “ Ayo, Akoya. Aku sangat tidak sabar melihat topeng lainmu itu” Dan
Maya pun mendapati tangannya sudah digandeng mesra oleh Koji menuju pusat
ruangan dan membuka pertunjukkan. Riuh tepuk tangan para pemain lain meramaikan
suasana latihan karena kabar gembira soal Kaisar dan semakin hangatnya hubungan
mereka.
Maya mengatur
nafasnya. Menghirup dalam-dalam oksigen dari pendingin ruangan dan membuangnya
perlahan-lahan. Ia menutup matanya rapat. Berusaha menghipnotis dirinya dan
memindahkan sosok Akoya kedalam tubuhnya. Ia pun perlahan membuka matanya. Merasakan
ada sosok lain yang hidup menggeliat memenuhi seluruh atom dan menggetarkan
listrik-listrik mistis dari ujung rambut ke ujung kaki. Ia mulai melangkah
lembut dan hati-hati, berjinjit, takut melukai makhluk kecil kasat mata
diantara jemari kakinya. Maya menengadahkan kepalanya, mencari sosok Isshin,
sang belahan jiwanya. Mata Maya terbelalak seketika. Karena Isshin yang ia
lihat bukanlah Sakurakoji yang menggunakan yukata putih tulang berjarak sekitar
5 meter dari dirinya, melainkan Masumi Hayami yang berdiri tegak bersisian
dengan Mizuki yang ternyata, sedari tadi belum meninggalkan ruangan latihan dan
berjarak 15 meter dari tempat Akoya—atau Maya—mematung.
*
“ Akoya…. “
Maya tersadar dari lamunannya setelah Isshin
memanggilnya lembut.
Ah,
tidak… Kenapa pada saat ini Pak Masumi malah hadir di sesi latihanku? Sejak
kapan ia ada disini? Sejak kedatangan Nona Mizuki kah? Kalau begitu… apakah ia melihatku
ketika Koji… mencium…. Keningku ?
Sejenak dada Maya sesak mengingatnya . Ah, tapi
kemarin di Gedung Amaterasu ia juga pernah melihat pipiku dicium Koji, dan saat
itu……
Mata Maya terbelalak, ia tersadar akan sesuatu hal yang sangat perih. Pada saat
itu… Tatapan Pak Masumi sangat hampa, kosong dan kesepian.. Matanya tidak
berjiwa…..
Maya spontan menutup wajah dengan kedua telapak tangan
mungilnya, ia khawatir kalau ada orang lain yang melihat topeng Akoyanya retak
sedikit saat ini. Hal ini tak luput dari perhatian Koji yang memang, sudah
sangat memahami karakteristik seorang Maya Kitajima. Namun ia masih belum paham
keadaan sekitarnya. Masumi pun begitu, sense
of art-nya terusik. Ia merasa ada sesuatu yang menahan Maya berakting,
setelah arah pandangan matanya saling bertemu dan bertaut, serta mengirimkan
sinyal-sinyal aneh yang sulit dirumuskan. Sedikit banyak ia memahami,
kehadirannya lah penyebabnya. Tapi untuk saat ini, ia sedang dikalahkan telak oleh ego dan rindunya pada gadis yang sudah
memasung hatinya,
dengan alih-alih....
ini berhubungan dengan Kaisar.
“ Apa yang kau pandang? “ Tanya Maya—Akoya—lembut kepada lawan mainnya. Mata
Akoya yang teduh kembali bersinar hangat dan berjalan perlahan sembari menyeret
kimono putihnya.
Koji pun langsung bereaksi mengimbanginya. “ Aku
memandangmu, Akoya… “
“ Kau selalu memandangiku, ya?
“ Ya, aku memang selalu memandangimu, Akoya… Aku hanya
memiliki dirimu. Aku tak punya nama dan masa lalu,yang ada hanyalah tubuh ini
dan kedua mataku yang bisa memandangmu… “
“ Bukankah itu tidak masalah? Bagi Akoya, itu saja
sudah cukup…. Kekasihku…. “
Hati Koji sesaat berdetak hebat. Ia benar-benar
merasakan cinta tulus dari Akoya untuk Isshinnya. Belum pernah ia merasakan
eurofia ini. Mereka telah berulang kali pentas dipenjuru Jepang dan adegan ini
sudah pasti ada diantaranya. Tapi kenapa….. Ia merasa sangat sangat dan sangat
bahagia mendengarnya, padahal Maya hanya mengubah inotasi nada dan jeda 2 detik
untuk sampai ke kata Kekasihku.
Apa ini?
Apakah ini adalah rasa cinta Maya yang selama ini kucari? Apakah Maya….?
“ Untuk apa sebuah nama dan sepenggal masa lalu? Kau
masih hidup disisiku saat ini… Dengan itu saja pun … Aku sudah merasa sangat
bahagia. “
Maya menguatkan hatinya. Ia tak ingin Mawar Ungunya---Orang
yang dicintainya---Pak Masumi—kecewa akan penampilan buruknya, meskipun ini
hanya sesi latihan untuk pementasan kelak. Maya kembali meyakinkan hati
nuraninya kalau Akoya harus hidup dan muncul kepermukaan lautan cintanya untuk
Isshin. Mati-matian ia melakukannya, dan hasilnya cukup sepadan, mengingat ia
mencurahkan seluruh jeritan cintanya lewat aktingnya yang ia tuju langsung
kepada lelaki gagah setinggi 180cm itu. Dan ia pun tetap melangkahkan tapak
aktingnya dengan perasaan yang membuncah hebat.
“ Pada saat aku mencabuti rumput, hanya dengan
mengingatmu,…. Dadaku bergemuruh kuat…. Dan hatiku melambung ke angkasa hanya
dengan mendengar suaramu.. Dan aku meras sangat bahagia… Bila kau..
Menyentuhku….. “
Suara decak kagum dan tahan nafas dari penonton dan
pemain lain terdengar tipis. Mereka pun merasakan ada yang berbeda dari Akoya
sekarang. Ia hebat! Sangat hebat! Mereka heran kenapa aura ini belum mereka
tangkap dipertunjukan yang lalu-lalu. Tak ada yang bicara, tak ada yang
bergerak, mereka semua tersedot sempurna oleh kekuatan akting Maya.
Tak jauh dari penonton, Koji, sebagai lawan mainnya
merasa ia dalam bahaya. Ia sudah terbawa arus ombak hebat dari permainan Maya.
Gadis diseberangnya memang mungil namun ia luar biasa! Ia kuat! Belum pernah
juga Koji terhanyut separah ini. Dia tenggelam, namun ia bahagia. Ia merasakan
sekali suara cinta Maya disetiap dialognya, dan ia merasakan kelembutan kasih
dimata Akoya….
Dimata… Akoya???? Koji merasa ada yang tidak beres dengan jiwa
dimata Akoya, atau itu adalah mata… Maya?
Maya semakin mendekat kearah Koji yang mematung. “ Aku
menyukai kehangatanmu, Isshin… Dan aku berharap waktu tak akan berubah
selamanya…. Pria yang sangat… kucintai…… “
Pandangan mata Maya semakin menghangat dan semburat merah malu-malu
menghiasi pipinya. “Apakah kau sendiri memerlukan nama dan masa lalu? Atau apa
yang dikatakan Akoya saat ini tidak seperti yang kau rasakan kepadaku? Buanglah
nama dan masa lalumu itu… Dan jadikanlah Akoya… Milikmu….”
Mata Maya yang penuh cinta mengarah lurus dan menembus
benteng pertahanan Masumi yang duduk terdiam disisi ruangan.
“ Kalau tidak… Suatu hari nanti, kau pasti akan
meninggalkan aku sendiri.. Dan melupakan semua tentang si Akoya ini… Semua
tentangku….. “
Koji yang tadi serasa dihamparan padang bunga lavender
dalam sekejap menjadi resah. Ia menyadari kalau ini bukanlah mata milik Akoya
kepada Isshin, tapi kepada Maya Kitajima kepada pria yang dicintainya! Koji
menyadari kalau mata Maya tidaklah menuju kearahnya. Ia menangkap basah binar
mata Maya yang mencuri-curi kesempatan untuk memandangi seseorang dibalik
tubuhnya. Dan siapa pria yang
dibelakangku ini?
“ Itu tidak mungkin, Akoya…. Aku takkan melupakanmu,
apalagi meninggalkanmu…. Hati dan juwaku takkan mengijinkanku bertindak
serendah itu padamu…” Koji berimprovisasi dalam bahasa tubuhnya. Yang
seharusnya menghadap Maya mesra, ia bergeser sekitar 60 derajat kearah
belakang, tanpa meninggalkan kesan romantic, alih-alih mencari siapa yang
dituju Maya ini.
Sialan…..
Tentu saja itu dia! Umpat batin Koji dalam hati ketika ia berhasil
menangkap pelaku perusak suasana latihan ini. Masumi Hayami!!!!
“ Hari itu, saat pertama kali Akoya melihatmu di
lembah plum, Akoya ini dapat langsung mengerti bahwa kau adalah belahan jiwa
yang hilang, seperti yang dikatakan nenek… “
“ Belahan… Jiwa? “ Koji kembali keposisinya semula,
menghadap Maya dan juga berjalan mendekatinya. Kali ini Koji harus ekstra kerja
keras menahan emosi cemburunya agar tidak memporak porandakan
topeng Isshinnya saat ini. Dan ia sangat membencinya!
“ Ketika dunia ini masih kacau, Sang Dewa melahirkan
anak yang diturunkannya kedunia. Pada saat itu jiwanya terbagi menjadi dua,
selap dan terang, keduanya bersemayam dalam tubuh yang berbeda. Bila gelap dan
terang itu bertemu kembali, pada saat itulah manusia dapat berubah menjadi
Dewa… Dan untuk melahirkan kembali jiwa yang baru… Pada saat
itulah… Akan muncul kekuatan yang ajaib. “ Akoya menjelaskan kepada Isshin
dengan wajah yang sangat manis.
Koji terpesona olehnya, namun sakit juga melandanya.
“Kekuatan ajaib? “
“ Kekuatan yang mempersatukan jiwa yang satunya lagi “
Jawaban Maya, atau Akoya terdengar sangat penuh kuasa.
Masumi yang sedari tadi duduk memperhatikan akting keduanya merasa sangat
terhanyut dan luar biasa cemburu. Tapi bukan Masumi Hayami kalau ia tak mampu
memasang Topeng Tiraninya. Ia tetap duduk dengan santai dan berperan sebagai
seorang penonton sekaligus sang penyelenggara. Mizuki yang sedari tadi diam,
bereaksi kecil melihat kegelisahan bosnya yang berusaha tampak tenang dengan
menawarkan segelas kopi. Namun Masumi menolaknya. Mizuki mau mengerti dan
kembali ia mendampingi Masumi menonton pertunjukan milyaran yen ini.
“Umur, postur dan kedudukan sama sekali tak ada
hubungannya, bila mereka bertemu, keduanya akan saling tertarik. Satu jiwa
takkan berhenti merindukan jiwa pasangannya. Mereka ingin segera menjadi satu,
jiwa keduanya seperti gila untuk saling mengikat pasangannya… Itulah cinta.” Maya kembali melanjutkan dialognya dan kembali
menambah pengaruh cinta kasihnya “ Cinta
artinya merindukan jiwa sang kekasih untuk menjadikan manusia sebagai seorang
Dewa.”
Koji tak mau mengakui kekalahannya saat ini. Ia tak
mau dikalahkan dengat telak di kandangnya sendiri, meski Masumi lah pemilik
dari gedung ini, tapi ruangan ini, sesi latihan ini dan lawan mainnya ini,
adalah daerah kekuasaannya! Dan Koji tak ingin sepadan dengan badut pecundang
yang tak mampu mempertahankan pertunjukannya. Ia menegakkan tubuhnya,
menunjukkan performanya dengan nyali bermental baja dan jantan.
“ Kau tidak apa-apa.. Dengan lelaki sepertiku, Akoya?
“ Tanya Isshin meragu.
“ Kau adalah bagian dari diriku… Dan aku adalah bagian
dari dirimu…. “ ucap Akoya tulus.
Koji lebih mendekatkan diri ke Maya, memendekkan jarak
keduanya jadi hanya sekitar 10 sentimeter. Ia meletakkan tangan kanannya dipipi
Maya dan merengkuh pinggang ramping Maya dengan tangan kirinya.
“ Akoya-ku tercinta… Seperti yang tadi kau katakan,
kita adalah gelap dan terang yang selama ini terpisah! Kita mampu menjadi satu
nyawa dan satu jiwa! Kita sudah bertemu, entah bagaimana jika kita hidup
terpisah. Nama dan masa laluku tidak sepenting dirimu, dan untukmu… aku akan
melupakan semuanya…”
Maya terjegil. Bulu kuduknya berdiri. Ia merasa ada
yang berbeda dari akting Koji yang ini. Isshinnya terasa sangat berbeda dan terlalu
kokoh. Mau tak mau, Maya merasakan Isshin yang ini menjadi terlalu dewasa
untuknya. Ia tak mampu melepaskan tubuh mungilnya dari dekapan Koji yang
semakin mengetatkan tubuh dan nafasnya yang terasa semakin tipis.
Koji lebih mengetatkan lagi pelukannya, sampai rasanya
ia akan meremukkan seluruh tulang rusuk Maya. Ia sedikit menatap Masumi yang
sudah tidak santai lagi posisi duduknya. Tubuh Masumi menegak dikursinya dan
kedua tangannya saling meremas. Dan Koji merasa puas karena ia dapat
membalaskan dendam serta membuktikan hak kepemilikannya atas Maya. “ Dengan
mata yang memandangmu… Tangan yang memelukmu… Bibir yang menciummu…”
Eh?
Bibir?
Maya serasa tersengat listrik dan berusaha menggapai
kesadaran dirinya namun terlambat. Koji sudah lebih dulu melumat rakus bibir
ranum Maya.
“ Seluruh tubuhku sangat mencintaimu, Maya Kitajima… “
bisik Koji lembut diantara dua bibir yang beradu.
Serentak kedua tangan Maya mendorong tubuh Koji
menjauhi dirinya yang gemetaran
hebat. “ KOJI!!!!!! “
Koji pun terhenyak, dia tak mengira kalau Maya akan
bersikap tidak sesuai dengan jalan otaknya tadi. Maya… menolaknya??? Suara
decak kaget dan hening dua-tiga detik kemudian mengisi ruang latihan berukuran
20mx30m. Getaran penolakan Maya terpampang jelas. Ia tak lagi berakting sebagai
Akoya, karena wajah murka dan malu seorang Maya tercetak jelas. Pak Kuronuma
yang kaget tadi pun akhirnya berhasil menguasai keadaan.
“ Maya, Koji, apa yang kalian lakukan?! Kalian harus
bersikap professional! Maya! Kenapa kau malah menolak kekasihmu sendiri? Memang
apa yang salah dengan pengungkapan Isshin padamu? Apalagi sekarang kalian
dinilai langsung oleh Pak Masumi yang menyempatkan hadir disini. Kalau kalian
seperti ini, mau ditaruh dimana muka kalian nanti didepan Kaisar?!?!? HAH???? “
teriak Kuronuma menggema.
Maya kembali mengecilkan pupil matanya. Kaget
sekaget-kagetnya. Pak Masumi melihatku…..
maka ia pun membalikkan tubuhnya, menangkap sosok Masumi yang terduduk kaku dan
berwajah dingin. Ia melihat bibirku
dicium.. Koji?? Bibir yang sebelumnya dikecup lembut oleh Pak Masumi??? Bibirku
ini…… air mata mulai bergulir ditiap sisi pipi Maya.
“ Maafkan saya Pak Kuronuma, saya harus menenangkan
diri saya dulu, permisi…. “ pamit Maya sopan dan melangkah hendak meninggalkan
ruangan latihan menuju lorong penghubung kearah ruang ganti pemain serta toilet
dan ruang istirahat.
“ Ma.. Maya…. “ tangan mungil Maya langsung
menghempaskan niatan tangan Koji yang hendak menahannya. “ Maya…? "
“ Jangan ganggu aku, Koji! “ ucap Maya berlalu tanpa
menoleh sedikitpun.
Sial!
Koji mengumpat dan mengekor Maya berjarak
6 kaki
dibelakangnya . Sial!!!!
“ Waah… bagaimana ini? Kenapa malah pas ada Pak Masumi
ada insiden ini? Aku sendiri jadi malu… “ bisik para pemain di sisi penonton,
yang juga terdengar jelas di gendang telinga Masumi. “ Tapi mereka mau kemana
ya? Apa mau keruang ganti dan Maya langsung pulang? Lalu bagaimana latihan kita
selanjutnya? “
Masumi bangkit berdiri dan kembali merapikan jasnya yg
seakan ikutan tegang dan pucat seperti wajahnya dan beringsut menghadap Pak
Kuronuma. “ Biar aku yang menyusul mereka. Aku perlu penjelasan lebih soal ini.
Karena ini menyangkut pertunjukan didepan Kaisar, aku tidak bisa toleran… “
Pak Kuronuma hening sejenak. “ Baiklah… Baiklah Pak
Masumi. Mereka kuserahkan padamu.. “
Masumi mengangguk ringan dan melangkah menuju lorong.
Mizuki tetap ditempatnya melihat isyarat Masumi untuk tidak mengikutinya. Ia
menghela nafas berat menatap punggung Masumi. Sedih…
Semoga
Pak Masumi tidak terluka lebih dalam lagi.
“ Kenapa , Maya? Kenapa kau menolakku? Bukankah aku
ini kekasihmu? “ ucap Koji bernada sedikit emosi di beberapa katanya. Emosinya menyeruak mengisi
ruang ganti para pemain.
“ Kau tidak seharusnya bersikap vulgar seperti itu,
Koji! Apalagi didepan..”
“ Pak Masumi??? “ tantang Koji menaikkan nada
bicaranya.
Maya terhenyak dan rahangnya serasa akan jatuh.
“ Jadi Pak Masumi itu yang sedari tadi kau berikan
kata-kata cintamu, wahai Akoya? “
“ Hentikan Koji! Aku tidak ingin meributkan hal ini!
Aku hanya tidak suka dengan ciumanmu tadi! Itu tidak sopan!! Kau tahu betapa
malunya aku mengingat banyak yang melihat kita!!! “
“ Dan apakan karena
salah satu dari banyak orang yang melihat itu bernama
Masumi Hayami, Maya? Benar??? “
Maya semakin marah dan sedih. “ Kenapa kau bertindak
kekanak-kanakan begitu, Koji?!?! Tak bisakah kau bersikap lebih hormat padaku?
Kau pikir
aku suka terlihat begitu didepan banyak orang?!??! “ pekik Maya.
Koji seperti kena aliran listrik dalam sekejap. Ia
menyadari kebodohannya.ia tak memikirkan perasaan Maya, karena ia terlalu buta
akan kecemburuannya.
“ Maya.. Maaf.. Maafkan aku….. Aku tidak bermaksud
melecehkanmu atau bertindak vulgar didepan umum, aku hanya mengungkapkan rasa cintaku padamu, itu
saja…. “
“ Yuu Sakurakoji! “ Maya menahan keningnya yang frustasi
“ Koji!!!!! Kojiiii!!!! Tidak adakah cara lain yang lebih terhormat untuk
menunjukkan perasaanmu?? “
“ Tentu saja aku punya, Maya. Tapi aku tidak bodoh!
Aku tahu kau selalu menghindar apabila aku ingin membawamu ke zona amanku. Dan
rasa lelahmu selalu kau jadikan senjata ampuh. Selama ini aku mau mengerti,
tapi tidak kali ini! Kau tadi berakting bukan untukku, bukan untuk Isshin, tapi
untuk Pak Masumi! “
Debar jantung Maya semakin terpacu begitu
kebohongannya terlucuti. Ia memang tidak mengijinkan Koji membawanya atau
menyeretnya ke sisinya. Maya selalu punya alasan untuk menghindari acara romantis seperti genggaman
tangan bahkan Kojipun tak berhasil mendaratkan bibirnya ke bagian wajah Maya
sejak mereka mengikrarkan hubungan mereka. Dan Koji ternyata tidak bodoh. Hanya
latihan tadilah pencetus tindakan nekat Koji terjadi.
“ Aku… Aku… “ Maya kembali terisak pelan.
Koji meraih bahu Maya dengan telapak tangan besarnya.
“ Aku mencintaimu sangat, Maya… Maafkan aku… “
“ Koji.. Aku….. “ Maya meluruskan tangannya horizontal
kearah Koji dan membuat jarak diantara mereka. “ Maafkan aku, Koji, Aku… aku
tak mampu begini lagi… Aku tidak kuat lagi….. Aku mencintai… “
Ucapan Maya terputus ketika ia melihat siluet sosok
yang dikenalinya semakin jelas tercetak disisi kaca buram berpola fractal dan berjalan mendekat kearah
mereka berseteru.
Pak
Masumi…?
“ Maaf aku mengganggu sebentar. Aku hanya ingin
memastikan kalau kalian tidak apa-apa. “ ucap Masumi sopan. Pemandangan didepan
matanya sungguh sama sekali tidak indah. Kedua tangan mereka saling meraih
tubuh yang satu dengan yang lain. Dan perut Masumi menjadi mual karenanya.
“ Pertunjukkan kali ini sangat special bagi kita.
Kaisar akan menonton langsung kehebatan kalian dan semoga insiden tadi tidak
menyurutkan akting kalian untuk menjadi lebih baik lagi. Ingat.. AKTING KALIAN!
“
Koji membalikkan tubuhnya dan memposisikan dirinya ada dibelakang Maya
agar bisa berhadapan langsung ke atasannya tersebut. Dia tetap menaruh kedua
telapak tangannya dibahu Maya untuk menegaskan “ Ini milikku. Dan pergilah dari sini! “
“ Tidak akan, Pak Masumi. Hal tadi karena saya yang
tidak terlalu pintar mengendalikan perasaan cinta saya kepada Maya, dan yang terlihat tadi adalah
ternyata saya terlalu terbawa perasaan cinta yang sesungguhnya kepada Maya. Kau
bisa memegang kata-kataku barusan, Pak Masumi. Kau tak usah kuatir kami akan
mengacaukan Kekaisaran Jepang hanya karena akting kami yang tak layak tampil.
Maya tadi hanya kaget karena aku tadi tiba-tiba menciumnya. Tapi sekarang dia
mengerti, kalau itu adalah ungkapan cintaku padanya. “ ucap Koji tajam.
Mata Masumi menyipit waspada.
Koji…..
“ Wah… Hebat sekali kata-katamu barusan, Koji. “ Puji
Masumi kepada Koji langsung. “ Dan kau sungguh beruntung memiliki pria yang..
sangat… mencintaimu… Maya. “
Hati Maya tersayat mendengarnya. Ia ingat kemarin ia
diyakinkan Masumi untuk harapannya kepada Maya di sebuah pintu lift yang hampir terbuka.
Tapi….
Maya meraih kedua telapak tangan Koji yang dibahunya
dan merapatkan tubuhnya bersender didada bidang Koji, seraya mengetatkan tangan
Koji untuk memeluknya
dan membentuk huruf X didepan leher Maya.
Bisa ditebak,
kedua pasang mata, yakni
Masumi maupun Koji, membelalak.
“ Terima kasih.. Pak Masumi….. Aku memang wanita yang
sangat beruntung memiliki Koji sebagai pasanganku, sebagai… belahan jiwaku… “
Ucapan Maya terbata-bata diakhirannya. “ Dan apa kau tahu, Pak Masumi… Aku…
tidak perlu menunggu… atau ditunggu siapapun lagi. Aku sudah memilih Koji
sebagai kekasihku “ Dan kali ini, Maya berusaha menegarkan hatinya, mati-matian
menahan air mata cengengnya yang hanya menambah jelek wajahnya yang kelelahan.
Masumi sadar apa yang dimaksudkan Maya barusan. Namun
ia sudah tak mampu lagi menahan luapan emosinya. Ia takkan sanggup melihat Maya
dicium lagi oleh pria lain, oleh Koji, apalagi didepan altar. Memikirkan itu
saja sudah membuat Masumi ingin melayangkan palu besar kekepalanya sendiri.
“ Aku mencintaimu, Maya Kitajima… Tak perduli kau
milik siapa sekarang. Aku mencintaimu. “ aku Masumi.
Wajah Maya memucat karenanya. Dia senang! Sangat
senang!!! Tapi… Ia takkan sanggup membalas cinta Masumi kepadanya. Bagaimana
dengan Nona Shiori? Bagaimana dengan Koji? Dan terutama, bagaimana dengan masa
depan Masumi apabila ia memilih untuk bersama Maya? Kedua tangan Maya mencengkram
pergelangan tangan Koji semakin kuat, dan kuat. Koji yang sedari tadi
menerka-nerka bagaimana kronologis kejadiannya, kini mengerti sudah. Mereka
saling mencintai!
“ Pak Masumi, mohon maaf…. Aku tidak akan pernah bisa
mencintai orang yang membunuh ibuku. Tidak akan! “ ucap Maya tajam dan kembali
mengeraskan genggaman tangannya kepada pergelangan tangan Koji yang mulai
memutih.
Pertunjukkan akting Maya yang angkuh pun dimulai.
Maya?!!!!!!
Koji terhenyak hebat. Dia tak mengira kalau Maya akan
senekat ini! Sekonyol ini!!! Dia bisa merasakan tangannya mulai kesemutan,
namun ia juga tak ingin melepaskan Maya kepada pria yang berdiri didepan
mereka, namun kali ini dengan wajah pucat seperti mayat.
Masumi merasakan sakit yang amat sangat menohok ulu
hatinya. Bukan karena pukulan. Namun karena kenyataan akan dosa lamanya.
Ah,
ternyata begitu….. Ternyata memang aku tidak pantas kau maafkan, Maya….
Ia menegakkan kepalanya. Berusaha mengatur sisa-sisa
nafas beratnya dan menghimpun oksigen untuk mengisi paru-paru serta nyali. Dan
ia pun melangkah mendekati keduanya dengan gagah.
“ Baiklah kalau begitu, Maya. Aku minta maaf karena ternyata akupun masih mencintaimu
meskipun aku memang tidak akan pernah pantas untuk mencintaimu, apalagi
dicintai olehmu. Maafkan kebodohanku yang satu ini. Aku akan segera
memperbaikinya dan kuharap hal ini tidak akan merusak hubungan kerja sama kita
sebagai pihak penyelenggara serta artisnya. “ Masumi mencondongkan tubuhnya
kearah Maya, lalu mencium lembut bibir Maya.
“ Sayonara, Maya….. “ bisik Masumi melepaskan bibir
tegasnya dari bibir Maya.
Ia tak peduli betapa kagetnya Maya dan Koji, yang
sedari tadi melihat langsung kejadian langka tersebut. Ia pun tak perduli
apabila Koji meninju wajahnya berulang-ulang. Yang ia inginkan, hanya menghapus
ingatan bibir Maya dari bibir koji, dan meninggalkan jejak khusus untuk Maya
hanya untuk bibirnya. Ia pun berbalik dan meninggalkan mereka berdua yang masih
berdiri kaku dan berpelukan.
Koji melihat itu semua dengan perasaat sakit yang
hebat. Ingin sekali ia melemparkan sebuah sekop pemakaman ke kepala direktur
gila kerja tersebut. Tapi apa daya? Ia melihat luapan cinta diantara mereka
sangatlah kuat. Dan yang ia hadapi sekarang adalah Maya—kekasihnya—yang
terduduk lemas, menutup erat bibir sendunya dan menangis sesenggukan seakan
kehabisan nafas
.Pertunjukkan
singkatnya sudah selesai dan Maya menghempaskan topeng kaca angkuhnya hingga
berjuta-juta keping.
Siapapun….
Kumohon… bangunkanlah aku dari mimpi buruk ini…. Pekik
hati Koji dalam hati.
ku usahakan akan update tiap hari senin.
ReplyDeletesenin adlh hari yg spesial buatku.
senin adalah awal dr sebuah minggu.
dan senin juga adalah awal dari sebuah perjalananku menjadi seorang ibu ^^
that's why i luv monday <3
huaaa! dikit amat mom. masih sakit hati nih gara2 maya terima koji. sebel ma koji and shiori yg gak tau diri. Pengen segera baca kisah MM yg menyenangkan. ^^
ReplyDeleteThanks for the update yaaa
hohohoo... sami2 darliink, ditunggu aja tiap senen yhaa <3
Deletesenin adalah hari paling malas dalam duniaku mom GINA .wakakakakakakakak
ReplyDeletehmmmm apa Maya akan goyang lagi karena melihat Masumi ? klo iya , bagus tuh kan si Koji jadi bisa liat kalo Maya sebenernya masih ada rasa ama Masumi .wekekekekek * nyengir setan *
halaah.. 4 hurup itu bertengger disini juga XDDD
DeleteKA...KAI...KAISAR
ReplyDeleteaq jg kaget nie sist
seneng skali akhirny maya terbang tinggi dlm aktingny tp tdk dlm cintany
sist, jgn ampe maya tetep ama koji, mg ntr tante dan tmn masumi bisa mbantu masumi dptin maya lg, klo bisa sih skalian sang kaisar yg jodohin MM, g bakaln ada yg nolak
sist, jgn lama2 ya
*xiaolong li
yah, itulah hidup sis, kadang sukses di karir tapi di cinta mah seret XDD *nyindir masumi jg ceritanya XDD*
Deletetunggu senin depan yha sayyy <3
kyaaaaaaaa, jadi tidak sabar menunggu senin depan, aduh, aduh, jadi salah tingkah
ReplyDeletehaghaghaghag.. makasi uda mau nunggu ^0^ <3
Deleteasyikkkkkkkkkkkk....di tunggu updatenya..
ReplyDeletehohohoo.. tengkiu darlink <3
Deleteaduhhhh itu kenapa koji n maya pegangan tangan sih......hiks
ReplyDeletehihihii... mencari kesempatan atuh neng XDD
Deletemasumi
ReplyDeletekamu seksehh sekali *loh..?*
maksutnya hebattt sekali
berani2nya yah dirimu mencium maya di pelukan kekasihnya
kerennnn ^^
lanjuttt masumi
tinggalin ajja maya
biar nyeselll dia udah milih koji di banding dirimu
sinnih maen sm saiah sajjah
*gandeng masumi ke kondo* lohh..?
hohohoo... disini ceritanya masumi uda ngabisin semua kesabaran ma keberaniannya sis, dia pikir ini udah yg terakhir sih... *sob* T^T
Deletehahhaa.... gandeng ke kondo saya yhaa *kondo apaan coba? xD*
sesak dadaku Mom Mary...
ReplyDeleteselalu ditunggu apdetannya tiap senin...
awww..... maaappph, hihihiii.. makasi uda mau nunggu <3
Deletenah gitu dong Masumi .kejar terussss
ReplyDeletecipok2 dah si maya depan koji
bwakakakakakak
wakakakkaa... cipok! XDDD
Deletepenasaran..
ReplyDeleteAduh konflik cinta...menyakitkn smua pihak
maya...maya...
Emang baik memikir orang lain tp cari cara yg lain dong, masa ampe ngingetin masumi ma duka lama
eh masumi jd brani ya...go...go masumi
aduh sapa nie yg bs menyatukn MM
hohohoo... tunggu senin berikutnya yha sis, tengkiuu bgt uda ngikutin ^^
Deletehaduuuuhhh koji, relakan saja maya
ReplyDeletehihihihihiiii... bisa aja sis Miaa <3
Deletemaap baru sempet kasih komen...
ReplyDeletebacanya kmrn pas senin pagi, di atas ojek (gara2 ketinggalan bus jemputan kantor, AGAIn), trus hampir mewek!!
Great Job Mommyy, telah berhasil merachooni-ku! ditunggu rachoon-rachoon berikutnya!!
wakkakaa... rachooon!!!!! XD dirimu jg bikin rachonnya mangsthaab, akupun menunggu rachon2muh XDDDDDDD
ReplyDelete*cubit pipi maya*
ReplyDeletemaya nakal~,,kenafah masumi digituinnn~~
momy regina~~ gag rela bgt di chapter inih,,huhuhu
hahahahahhaha..... jantan bgd masumi kissu maya teranga2n dpn wajah sakura,,,, ahahhahah..... yihaaaa..... love u pull masumi,gaya mu bikin kyu makain cintaaaaaaaaa selalu.. thx momiiii.. kyaaa >_<
ReplyDelete