Monday, 2 April 2012

Paragraph 05


Eyes On Me




Pagi ini adalah pagi yang sangat penting bagi Daito. Tiap harinya memang penting. Tapi tidak untuk hari ini. Hari ini sangat sangat sangat penting bahkan sampai membuat Masumi Hayami datang 1 jam lebih awal di kantornya. Sebenarnya Masumi tidak bisa dibilang datang lebih awal dikantornya juga, mengingat dia semalam menenggelamkan otaknya ketumpukan dokumen dan sukses membiusnya dikamar pribadi—sebelah kantor pribadinya, sebenarnya, dan ia bersyukur untuk proposal sang interior designer yang bawel akan jam tidurnya, dan mengatakan kalau ia tak ingin melihat peti mati Masumi menghiasi sebuah pemakaman sebelum ia tidur abadi dalam tanah berlapis rumput Jepang. Dan disinilah ia sekarang! Sambil menunggu tamu spesialnya, ia mulai membuka laptop dan melihat semua data-data memuakkan yang sanggup membunuh orang hanya dengan meng-klik open option.

“ Pak Masumi,Tuan Amamiya dan Nyonya Nadeshiko sudah datang. Anda sudah siap menyambut mereka, Pak? “ suara anggun Mizuki memecahkan konsentrasi Masumi lewat interkom.
Masumi tersenyum lebar dan membereskan jasnya yang sama sekali tak bermasalah. “ Persilahkan mereka masuk, Mizuki. Kau tak tahu betapa aku sangat menunggu mereka sejak proposal itu diajukan! “ jawab Masumi tenang dan memastikan posisi dasinya tidak bergeser 1 senti dari posnya.
“ Baik, mohon tunggu sebentar. “
Pintu besar berukir mewah dan tradisional pun terbuka, menembus ruang Mizuki dan Masumi, serta memberikan jalan lurus dan terarah langsung kepada pangeran muda Daito.

“ Selamat datang di gubuk saya, Tuan Amamiya, Nyonya Nadeshiko... “ Masumi menjabat hangat tangan orang penting tersebut. “ Silahkan duduk di ruang sofa ini. Semoga anda merasa nyaman diruanganku yang sederhana ini. “ sambung Masumi merendah. “ Mau minum apa? “

Mizuki menyiapkan memory terbaiknya segera.

“ Ah, kau bilang apa sih, Masumi? Kalau gedung Daito kau sebut gubuk dan ruanganmu ini kau sebut sederhana, bagaimana aku harus mengatakan akan apartementku? “ canda Nyonya Nadeshiko dengan hangat. “ Ah, Mizuki sayang, kau tahu minuman favoritku bukan? Tolong berikan aku secangkir teh, namun dengan banyak teh didasarnya. “

“ Baik, Nyonya, anda Tuan? “

“ Dan aku segelas kopi, terima kasih Mizuki. “ sambung Tuan Amamiya dan membiarkan Mizuki menyelesaikan pekerjaannya. “ Masumi, tolong hentikan berbicara formal seperti ini. Kita sudah sangat lama berkawan dan aku mengenalmu jauh sebelum kau mengenal dirimu sendiri. Jangan sampai aku menempelkan semua fotomu yang memalukan diseluruh dinding ruanganmu ini. “
Masumi menyerah. “ Kurasa sangat tidak profesional kalau diawal bisnis ini aku tidak memiliki sopan santun yang pantas meski sekedar untuk berbasa basi, bukan begitu... Tante Nadeshiko? Ryuzaki? “ dan suasana ruanganpun segera mencair bak kutub utar yang terkena pemanasan global dalam sekejap. Masumi mendapati dirinya sudah dipeluk erat secara bergantian oleh tantenya serta sahabat sejak jaman ia masih menggunakan seragam SMP yang membosankan.

“ Jadi.... benarkah proposal yang kalian kirimkan itu? Kita akan menjalankan rencana hebat ini bukan? “ Masumi sangat antusias. “ Kuharap ini bukan April Fool karena sekarang sudah bulan Oktober! “

“ Kau bercanda??? Ini Kaisar Jepang, Masumi! Demi Tuhan, bagaimana mungkin kau tega berpikir kalau kami menggunakan trik kuno seperti itu untuk mengerjaimu? “ sembur Tante Nadeshiko. “ Kau tahu kalau Tante sudah bekerja sangat lama di Kekaisaran negara kita sejak Tante lulus Magister. Dan departemen tempat Tante bekerja sekarang sedang hangat akan gosip bidadari merah dimana-mana. Bagaimana mungkin pertunjukan spektakuler dan membanggakan Jepang seperti itu tidak ditonton Kaisar dan keluarganya? Drama yang kau naungi itu sangat Jepang! Dan kita hidup dinegara Jepang, dan lagi, aku digaji oleh Kaisar Jepang! Kau pasti bisa menemukan benang merah dari hal barusan, Masumi! “
Merekapun tertawa terbahak mendengar semburan Nadeshiko yang sepertinya takkan habis melaju bagai kereta listrik tercepat didunia. Dan kereta listrik itupun baru berhenti ketika Mizuki membawakan minuman pesanan mereka masing-masing.

“ Jadi, bagaimana, sobat lamaku? Aku selalu tak sabar bekerja sama denganmu dan menambah sedikit pundi-pundi brangkas besiku dengan sedikit mencuri beberapa lembar uang Daito. Aku pun dalam posisi yang tak kalah berisiknyadengan Tante Nadeshiko. Mengingat kami bekerja di Departement yang sama—Kebudayaan dan Pariwisata—hampir seluruh ruangan memekikkan Bidadai Merah. Bahkan ada beberapa pegawai yang datang dengan kaca mata hitam untuk menyembunyikan betapa bengkaknya mata mereka karena menangisi Akoya dan Isshin semalaman! “ jawab Ruzaki sambil mengacak-acak kulit kepalanya yang tidak gatal.

“ Aku akan sangat senang sekali dapat berbisnis dengan Kaisar Jepang! Mohon santai sebentar, aku akan memanggil pengacaraku untuk pembahasan kontraknya dan kuharap hal ini bisa kita kerjakan bersama. “ Masumi bertutur selembut pemimpin perang yang yakin akan kemenangannya dimedan tempur.

“ Baiklah Masumi, berikan tembakan terbaikmu untuk kami! “ ucap Nadeshiko profesional.

                                                *

“ Ka... Kaa... Kaisar????? “ teriak Maya, Sakurakoji dan Kuronuma bersamaan.

Mizuki pun bertutur anggun. “ Betul. Kaisar Jepang, pemimpin negara ini, ingin melihat pertunjukkan spektakuler kalian, kami harap kami bisa menyupport seluruh kebutuhan kalian dan menggaungkan Bidadari Merah tak hanya di Jepang, namun ke mancanegara. Itu sudah menjadi tujuan utama Daito. Kami takkan menghilangkan kesempatan sekecil apapun untuk perkembangan kami. “

“ Kami akan berikan yang terbaik! Bukan begitu, Maya? Koji? “ jawab Kuronuma mantap.

“ Tentu saja, Pak! “ Koji sangat bersemangat menjawabnya.

“........”

“.... Maya.....?”

“ Maya? “

“ MAYAA???? “ akhirnya Kuronuma berteriak, menghantam kesadaran Maya yang hilang beberapa detik yang lalu.

“ Eeeh.... ya? Ya? Oh.. YA!!!!!!! TENTU SAJA SAYA SANGAT BERSEDIA DAN SANGAT TERSANJUNG, PAK KURONUMA! “ teriak Maya ketika ia kembali mendapatkan setengah nyawanya yang melayang entah kemana.

Mizuki tersenyum melihat kelakuan Maya yang polos dan 2 pria disebelahnya yang spontan menutup telinganya rapat-rapat mendengar jawaban Maya.

“ Baiklah kalau begitu. Aku akan segera mengabari kalian secepatnya begitu surat kontrak sudah siap. Kita akan membangun sandiwara yang hebat kali ini. Kumohon sangat kerjasama dan semangat kalian dalam kesempatan emas ini “ ucap Mizuki dan menyodorkan jabatan tangannya kepada 3 orang didepannya.

“ Kami takkan mengecewakanmu, atau Daito. Kami murni melakukan ini untuk kepuasan jiwa kami menghidupkan mimpi di dunia nyata. Dan kemurnian kami takkan punah meski kami mati sekalipun! “ Kuronuma meyakinkan.

“ Kupegang kata-katamu, Pak Kuronuma. Senang dapat bekerja sama denganmu. “ pamit Mizuki sopan dan sedikit membungkukkan tubuh semampainya.

Mizuki melirik sebentar kearah Maya yang terlihat lucu dan merah, entah karena terkejut atau terlalu senang. “ Jaga kesehatan kalian “
Ruangan latihan tempat Bidadari Merah tetap berjalan seperti biasanya. Maya dan Koji berjalan bersisian diikuti sang sutradara dibelakangnya, meninggalkan ruangan kecil tempat negosiasi berlangsung.

“ Apa kau bahagia, Maya? Kita akan ditonton pemimpin negeri ini! Aku benar-benar tidak menyangka akan setinggi ini hasilnya!!!” ucap Koji senang.

“ Koji!!!! Ini adalah salah satu impianku!!!! Aku sendiri tak pernah bermimpi akan begini hasilnya. Bagiku kemarin, aku hanya berakting dan berakting setiap harinya untuk memupuk semangat hidupku. Dan sekarang aku seperti mendapatkan 1 kontainer pupuk dalam waktu sehari! “ canda Maya yang tak kalah bersemangat dari Koji.

Kuronuma mengambil kursinya, dan duduk. “ Ayo cepat latihan! Sampai berapa lama lagi kalian akan terkejut begitu? “

“ ah.. BAIK!!!! “ ucap Koji dan Maya bersamaan.

Koji menahan tubuh Maya dengan tubuhnya sendiri seperti tembok empuk dan meremas bahu Maya. “ Maya, selain pertunjukan ini, hal lain yang sangat menyemangatimu adalah aku mampu menunjukkan pada dunia betapa aku bangga menjadi Isshinmu, betapa aku bahagia menjadi kekasihmu, dan betapa aku sangat bermimpi indah menjadi belahan jiwamu. Aku mencintaimu.” Ucap Koji lembut dan mencium kening Maya dengan cepat. “ Ayo, Akoya. Aku sangat tidak sabar melihat topeng lainmu itu”   Dan Maya pun mendapati tangannya sudah digandeng mesra oleh Koji menuju pusat ruangan dan membuka pertunjukkan. Riuh tepuk tangan para pemain lain meramaikan suasana latihan karena kabar gembira soal Kaisar dan semakin hangatnya hubungan mereka.

Maya mengatur nafasnya. Menghirup dalam-dalam oksigen dari pendingin ruangan dan membuangnya perlahan-lahan. Ia menutup matanya rapat. Berusaha menghipnotis dirinya dan memindahkan sosok Akoya kedalam tubuhnya. Ia pun perlahan membuka matanya. Merasakan ada sosok lain yang hidup menggeliat memenuhi seluruh atom dan menggetarkan listrik-listrik mistis dari ujung rambut ke ujung kaki. Ia mulai melangkah lembut dan hati-hati, berjinjit, takut melukai makhluk kecil kasat mata diantara jemari kakinya. Maya menengadahkan kepalanya, mencari sosok Isshin, sang belahan jiwanya. Mata Maya terbelalak seketika. Karena Isshin yang ia lihat bukanlah Sakurakoji yang menggunakan yukata putih tulang berjarak sekitar 5 meter dari dirinya, melainkan Masumi Hayami yang berdiri tegak bersisian dengan Mizuki yang ternyata, sedari tadi belum meninggalkan ruangan latihan dan berjarak 15 meter dari tempat Akoya—atau Maya—mematung.



“ Akoya…. “

Maya tersadar dari lamunannya setelah Isshin memanggilnya lembut.

Ah, tidak… Kenapa pada saat ini Pak Masumi malah hadir di sesi latihanku? Sejak kapan ia ada disini? Sejak kedatangan Nona Mizuki kah? Kalau begitu… apakah ia melihatku ketika Koji… mencium….  Keningku ?

Sejenak dada Maya sesak mengingatnya . Ah, tapi kemarin di Gedung Amaterasu ia juga pernah melihat pipiku dicium Koji, dan saat itu……
Mata Maya terbelalak, ia tersadar akan sesuatu hal yang sangat perih. Pada saat itu… Tatapan Pak Masumi sangat hampa, kosong dan kesepian.. Matanya tidak berjiwa…..

Maya spontan menutup wajah dengan kedua telapak tangan mungilnya, ia khawatir kalau ada orang lain yang melihat topeng Akoyanya retak sedikit saat ini. Hal ini tak luput dari perhatian Koji yang memang, sudah sangat memahami karakteristik seorang Maya Kitajima. Namun ia masih belum paham keadaan sekitarnya. Masumi pun begitu, sense of art-nya terusik. Ia merasa ada sesuatu yang menahan Maya berakting, setelah arah pandangan matanya saling bertemu dan bertaut, serta mengirimkan sinyal-sinyal aneh yang sulit dirumuskan. Sedikit banyak ia memahami, kehadirannya lah penyebabnya. Tapi untuk saat ini, ia sedang dikalahkan telak  oleh ego dan rindunya pada gadis yang sudah memasung hatinya, dengan alih-alih.... ini berhubungan dengan Kaisar.

“ Apa yang kau pandang? “ Tanya  Maya—Akoya—lembut kepada lawan mainnya. Mata Akoya yang teduh kembali bersinar hangat dan berjalan perlahan sembari menyeret kimono putihnya.
Koji pun langsung bereaksi mengimbanginya. “ Aku memandangmu, Akoya… “

“ Kau selalu memandangiku, ya?

“ Ya, aku memang selalu memandangimu, Akoya… Aku hanya memiliki dirimu. Aku tak punya nama dan masa lalu,yang ada hanyalah tubuh ini dan kedua mataku yang bisa memandangmu… “

“ Bukankah itu tidak masalah? Bagi Akoya, itu saja sudah cukup…. Kekasihku…. “

Hati Koji sesaat berdetak hebat. Ia benar-benar merasakan cinta tulus dari Akoya untuk Isshinnya. Belum pernah ia merasakan eurofia ini. Mereka telah berulang kali pentas dipenjuru Jepang dan adegan ini sudah pasti ada diantaranya. Tapi kenapa….. Ia merasa sangat sangat dan sangat bahagia mendengarnya, padahal Maya hanya mengubah inotasi nada dan jeda 2 detik untuk sampai ke kata Kekasihku.

Apa ini? Apakah ini adalah rasa cinta Maya yang selama ini kucari? Apakah Maya….?

“ Untuk apa sebuah nama dan sepenggal masa lalu? Kau masih hidup disisiku saat ini… Dengan itu saja pun … Aku sudah merasa sangat bahagia. “

Maya menguatkan hatinya. Ia tak ingin Mawar Ungunya---Orang yang dicintainya---Pak Masumi—kecewa akan penampilan buruknya, meskipun ini hanya sesi latihan untuk pementasan kelak. Maya kembali meyakinkan hati nuraninya kalau Akoya harus hidup dan muncul kepermukaan lautan cintanya untuk Isshin. Mati-matian ia melakukannya, dan hasilnya cukup sepadan, mengingat ia mencurahkan seluruh jeritan cintanya lewat aktingnya yang ia tuju langsung kepada lelaki gagah setinggi 180cm itu. Dan ia pun tetap melangkahkan tapak aktingnya dengan perasaan yang membuncah hebat.

“ Pada saat aku mencabuti rumput, hanya dengan mengingatmu,…. Dadaku bergemuruh kuat…. Dan hatiku melambung ke angkasa hanya dengan mendengar suaramu.. Dan aku meras sangat bahagia… Bila kau.. Menyentuhku….. “

Suara decak kagum dan tahan nafas dari penonton dan pemain lain terdengar tipis. Mereka pun merasakan ada yang berbeda dari Akoya sekarang. Ia hebat! Sangat hebat! Mereka heran kenapa aura ini belum mereka tangkap dipertunjukan yang lalu-lalu. Tak ada yang bicara, tak ada yang bergerak, mereka semua tersedot sempurna oleh kekuatan akting Maya.

Tak jauh dari penonton, Koji, sebagai lawan mainnya merasa ia dalam bahaya. Ia sudah terbawa arus ombak hebat dari permainan Maya. Gadis diseberangnya memang mungil namun ia luar biasa! Ia kuat! Belum pernah juga Koji terhanyut separah ini. Dia tenggelam, namun ia bahagia. Ia merasakan sekali suara cinta Maya disetiap dialognya, dan ia merasakan kelembutan kasih dimata Akoya…. 

Dimata… Akoya???? Koji merasa ada yang tidak beres dengan jiwa dimata Akoya, atau itu adalah mata… Maya?

Maya semakin mendekat kearah Koji yang mematung. “ Aku menyukai kehangatanmu, Isshin… Dan aku berharap waktu tak akan berubah selamanya…. Pria yang sangat… kucintai…… “  Pandangan mata Maya semakin menghangat dan semburat merah malu-malu menghiasi pipinya. “Apakah kau sendiri memerlukan nama dan masa lalu? Atau apa yang dikatakan Akoya saat ini tidak seperti yang kau rasakan kepadaku? Buanglah nama dan masa lalumu itu… Dan jadikanlah Akoya… Milikmu….”

Mata Maya yang penuh cinta mengarah lurus dan menembus benteng pertahanan Masumi yang duduk terdiam disisi ruangan.

“ Kalau tidak… Suatu hari nanti, kau pasti akan meninggalkan aku sendiri.. Dan melupakan semua tentang si Akoya ini… Semua tentangku….. “

Koji yang tadi serasa dihamparan padang bunga lavender dalam sekejap menjadi resah. Ia menyadari kalau ini bukanlah mata milik Akoya kepada Isshin, tapi kepada Maya Kitajima kepada pria yang dicintainya! Koji menyadari kalau mata Maya tidaklah menuju kearahnya. Ia menangkap basah binar mata Maya yang mencuri-curi kesempatan untuk memandangi seseorang dibalik tubuhnya. Dan siapa pria yang dibelakangku ini?

“ Itu tidak mungkin, Akoya…. Aku takkan melupakanmu, apalagi meninggalkanmu…. Hati dan juwaku takkan mengijinkanku bertindak serendah itu padamu…” Koji berimprovisasi dalam bahasa tubuhnya. Yang seharusnya menghadap Maya mesra, ia bergeser sekitar 60 derajat kearah belakang, tanpa meninggalkan kesan romantic, alih-alih mencari siapa yang dituju Maya ini.

Sialan….. Tentu saja itu dia! Umpat batin Koji dalam hati ketika ia berhasil menangkap pelaku perusak suasana latihan ini. Masumi Hayami!!!!

“ Hari itu, saat pertama kali Akoya melihatmu di lembah plum, Akoya ini dapat langsung mengerti bahwa kau adalah belahan jiwa yang hilang, seperti yang dikatakan nenek… “

“ Belahan… Jiwa? “ Koji kembali keposisinya semula, menghadap Maya dan juga berjalan mendekatinya. Kali ini Koji harus ekstra kerja keras menahan emosi cemburunya agar tidak memporak porandakan topeng Isshinnya saat ini. Dan ia sangat membencinya!

“ Ketika dunia ini masih kacau, Sang Dewa melahirkan anak yang diturunkannya kedunia. Pada saat itu jiwanya terbagi menjadi dua, selap dan terang, keduanya bersemayam dalam tubuh yang berbeda. Bila gelap dan terang itu bertemu kembali, pada saat itulah manusia dapat berubah menjadi Dewa… Dan untuk melahirkan kembali jiwa yang baru… Pada saat itulah… Akan muncul kekuatan yang ajaib. “ Akoya menjelaskan kepada Isshin dengan wajah yang sangat manis.

Koji terpesona olehnya, namun sakit juga melandanya. “Kekuatan ajaib? “

“ Kekuatan yang mempersatukan jiwa yang satunya lagi “
Jawaban Maya, atau Akoya terdengar sangat penuh kuasa. Masumi yang sedari tadi duduk memperhatikan akting keduanya merasa sangat terhanyut dan luar biasa cemburu. Tapi bukan Masumi Hayami kalau ia tak mampu memasang Topeng Tiraninya. Ia tetap duduk dengan santai dan berperan sebagai seorang penonton sekaligus sang penyelenggara. Mizuki yang sedari tadi diam, bereaksi kecil melihat kegelisahan bosnya yang berusaha tampak tenang dengan menawarkan segelas kopi. Namun Masumi menolaknya. Mizuki mau mengerti dan kembali ia mendampingi Masumi menonton pertunjukan milyaran yen ini.

“Umur, postur dan kedudukan sama sekali tak ada hubungannya, bila mereka bertemu, keduanya akan saling tertarik. Satu jiwa takkan berhenti merindukan jiwa pasangannya. Mereka ingin segera menjadi satu, jiwa keduanya seperti gila untuk saling mengikat pasangannya… Itulah cinta.”  Maya kembali melanjutkan dialognya dan kembali menambah pengaruh cinta kasihnya “  Cinta artinya merindukan jiwa sang kekasih untuk menjadikan manusia sebagai seorang Dewa.”

Koji tak mau mengakui kekalahannya saat ini. Ia tak mau dikalahkan dengat telak di kandangnya sendiri, meski Masumi lah pemilik dari gedung ini, tapi ruangan ini, sesi latihan ini dan lawan mainnya ini, adalah daerah kekuasaannya! Dan Koji tak ingin sepadan dengan badut pecundang yang tak mampu mempertahankan pertunjukannya. Ia menegakkan tubuhnya, menunjukkan performanya dengan nyali bermental baja dan jantan.

“ Kau tidak apa-apa.. Dengan lelaki sepertiku, Akoya? “ Tanya Isshin meragu.

“ Kau adalah bagian dari diriku… Dan aku adalah bagian dari dirimu…. “ ucap Akoya tulus.

Koji lebih mendekatkan diri ke Maya, memendekkan jarak keduanya jadi hanya sekitar 10 sentimeter. Ia meletakkan tangan kanannya dipipi Maya dan merengkuh pinggang ramping Maya dengan tangan kirinya.

“ Akoya-ku tercinta… Seperti yang tadi kau katakan, kita adalah gelap dan terang yang selama ini terpisah! Kita mampu menjadi satu nyawa dan satu jiwa! Kita sudah bertemu, entah bagaimana jika kita hidup terpisah. Nama dan masa laluku tidak sepenting dirimu, dan untukmu… aku akan melupakan semuanya…”
Maya terjegil. Bulu kuduknya berdiri. Ia merasa ada yang berbeda dari akting Koji yang ini. Isshinnya terasa sangat berbeda dan terlalu kokoh. Mau tak mau, Maya merasakan Isshin yang ini menjadi terlalu dewasa untuknya. Ia tak mampu melepaskan tubuh mungilnya dari dekapan Koji yang semakin mengetatkan tubuh dan nafasnya yang terasa semakin tipis.

Koji lebih mengetatkan lagi pelukannya, sampai rasanya ia akan meremukkan seluruh tulang rusuk Maya. Ia sedikit menatap Masumi yang sudah tidak santai lagi posisi duduknya. Tubuh Masumi menegak dikursinya dan kedua tangannya saling meremas. Dan Koji merasa puas karena ia dapat membalaskan dendam serta membuktikan hak kepemilikannya atas Maya. “ Dengan mata yang memandangmu… Tangan yang memelukmu… Bibir yang menciummu…”

Eh? Bibir?

Maya serasa tersengat listrik dan berusaha menggapai kesadaran dirinya namun terlambat. Koji sudah lebih dulu melumat rakus bibir ranum Maya.

“ Seluruh tubuhku sangat mencintaimu, Maya Kitajima… “ bisik Koji lembut diantara dua bibir yang beradu.

Serentak kedua tangan Maya mendorong tubuh Koji menjauhi dirinya yang gemetaran hebat. “ KOJI!!!!!! “

Koji pun terhenyak, dia tak mengira kalau Maya akan bersikap tidak sesuai dengan jalan otaknya tadi. Maya… menolaknya??? Suara decak kaget dan hening dua-tiga detik kemudian mengisi ruang latihan berukuran 20mx30m. Getaran penolakan Maya terpampang jelas. Ia tak lagi berakting sebagai Akoya, karena wajah murka dan malu seorang Maya tercetak jelas. Pak Kuronuma yang kaget tadi pun akhirnya berhasil menguasai keadaan.

“ Maya, Koji, apa yang kalian lakukan?! Kalian harus bersikap professional! Maya! Kenapa kau malah menolak kekasihmu sendiri? Memang apa yang salah dengan pengungkapan Isshin padamu? Apalagi sekarang kalian dinilai langsung oleh Pak Masumi yang menyempatkan hadir disini. Kalau kalian seperti ini, mau ditaruh dimana muka kalian nanti didepan Kaisar?!?!? HAH???? “ teriak Kuronuma menggema.

Maya kembali mengecilkan pupil matanya. Kaget sekaget-kagetnya. Pak Masumi melihatku….. maka ia pun membalikkan tubuhnya, menangkap sosok Masumi yang terduduk kaku dan berwajah dingin. Ia melihat bibirku dicium.. Koji?? Bibir yang sebelumnya dikecup lembut oleh Pak Masumi??? Bibirku ini…… air mata mulai bergulir ditiap sisi pipi Maya.

“ Maafkan saya Pak Kuronuma, saya harus menenangkan diri saya dulu, permisi…. “ pamit Maya sopan dan melangkah hendak meninggalkan ruangan latihan menuju lorong penghubung kearah ruang ganti pemain serta toilet dan ruang istirahat.

“ Ma.. Maya…. “ tangan mungil Maya langsung menghempaskan niatan tangan Koji yang hendak menahannya. “ Maya…? "

“ Jangan ganggu aku, Koji! “ ucap Maya berlalu tanpa menoleh sedikitpun.

Sial! Koji mengumpat dan mengekor Maya berjarak 6 kaki dibelakangnya . Sial!!!!

“ Waah… bagaimana ini? Kenapa malah pas ada Pak Masumi ada insiden ini? Aku sendiri jadi malu… “ bisik para pemain di sisi penonton, yang juga terdengar jelas di gendang telinga Masumi. “ Tapi mereka mau kemana ya? Apa mau keruang ganti dan Maya langsung pulang? Lalu bagaimana latihan kita selanjutnya? “
Masumi bangkit berdiri dan kembali merapikan jasnya yg seakan ikutan tegang dan pucat seperti wajahnya dan beringsut menghadap Pak Kuronuma. “ Biar aku yang menyusul mereka. Aku perlu penjelasan lebih soal ini. Karena ini menyangkut pertunjukan didepan Kaisar, aku tidak bisa toleran… “

Pak Kuronuma hening sejenak. “ Baiklah… Baiklah Pak Masumi. Mereka kuserahkan padamu.. “

Masumi mengangguk ringan dan melangkah menuju lorong. Mizuki tetap ditempatnya melihat isyarat Masumi untuk tidak mengikutinya. Ia menghela nafas berat menatap punggung Masumi. Sedih…

Semoga Pak Masumi tidak terluka lebih dalam lagi.

                         *

“ Kenapa , Maya? Kenapa kau menolakku? Bukankah aku ini kekasihmu? “ ucap Koji bernada sedikit emosi di beberapa katanya. Emosinya menyeruak mengisi ruang ganti para pemain.

“ Kau tidak seharusnya bersikap vulgar seperti itu, Koji! Apalagi didepan..”

“ Pak Masumi??? “ tantang Koji menaikkan nada bicaranya.
Maya terhenyak dan rahangnya serasa akan jatuh.

“ Jadi Pak Masumi itu yang sedari tadi kau berikan kata-kata cintamu, wahai Akoya? “

“ Hentikan Koji! Aku tidak ingin meributkan hal ini! Aku hanya tidak suka dengan ciumanmu tadi! Itu tidak sopan!! Kau tahu betapa malunya aku mengingat banyak yang melihat kita!!! “

“ Dan apakan karena salah satu dari banyak orang yang melihat itu bernama Masumi Hayami, Maya? Benar??? “

Maya semakin marah dan sedih. “ Kenapa kau bertindak kekanak-kanakan begitu, Koji?!?! Tak bisakah kau bersikap lebih hormat padaku? Kau pikir aku suka terlihat begitu didepan banyak orang?!??! “ pekik Maya.

Koji seperti kena aliran listrik dalam sekejap. Ia menyadari kebodohannya.ia tak memikirkan perasaan Maya, karena ia terlalu buta akan kecemburuannya.

“ Maya.. Maaf.. Maafkan aku….. Aku tidak bermaksud melecehkanmu atau bertindak vulgar didepan umum, aku hanya mengungkapkan rasa cintaku padamu, itu saja…. “

“ Yuu Sakurakoji! “ Maya menahan keningnya yang frustasi “ Koji!!!!! Kojiiii!!!! Tidak adakah cara lain yang lebih terhormat untuk menunjukkan perasaanmu?? “

“ Tentu saja aku punya, Maya. Tapi aku tidak bodoh! Aku tahu kau selalu menghindar apabila aku ingin membawamu ke zona amanku. Dan rasa lelahmu selalu kau jadikan senjata ampuh. Selama ini aku mau mengerti, tapi tidak kali ini! Kau tadi berakting bukan untukku, bukan untuk Isshin, tapi untuk Pak Masumi! “

Debar jantung Maya semakin terpacu begitu kebohongannya terlucuti. Ia memang tidak mengijinkan Koji membawanya atau menyeretnya ke sisinya. Maya selalu punya alasan untuk menghindari acara romantis seperti genggaman tangan bahkan Kojipun tak berhasil mendaratkan bibirnya ke bagian wajah Maya sejak mereka mengikrarkan hubungan mereka. Dan Koji ternyata tidak bodoh. Hanya latihan tadilah pencetus tindakan nekat Koji terjadi.

“ Aku… Aku… “ Maya kembali terisak pelan.

Koji meraih bahu Maya dengan telapak tangan besarnya. “ Aku mencintaimu sangat, Maya… Maafkan aku… “

“ Koji.. Aku….. “ Maya meluruskan tangannya horizontal kearah Koji dan membuat jarak diantara mereka. “ Maafkan aku, Koji, Aku… aku tak mampu begini lagi… Aku tidak kuat lagi….. Aku mencintai… “

Ucapan Maya terputus ketika ia melihat siluet sosok yang dikenalinya semakin jelas tercetak disisi kaca buram berpola fractal dan berjalan mendekat kearah mereka berseteru.
Pak Masumi…?

“ Maaf aku mengganggu sebentar. Aku hanya ingin memastikan kalau kalian tidak apa-apa. “ ucap Masumi sopan. Pemandangan didepan matanya sungguh sama sekali tidak indah. Kedua tangan mereka saling meraih tubuh yang satu dengan yang lain. Dan perut Masumi menjadi mual karenanya.

“ Pertunjukkan kali ini sangat special bagi kita. Kaisar akan menonton langsung kehebatan kalian dan semoga insiden tadi tidak menyurutkan akting kalian untuk menjadi lebih baik lagi. Ingat.. AKTING KALIAN! “

Koji membalikkan tubuhnya  dan memposisikan dirinya ada dibelakang Maya agar bisa berhadapan langsung ke atasannya tersebut. Dia tetap menaruh kedua telapak tangannya dibahu Maya untuk menegaskan “ Ini milikku. Dan pergilah dari sini! “

“ Tidak akan, Pak Masumi. Hal tadi karena saya yang tidak terlalu pintar mengendalikan perasaan cinta saya kepada Maya, dan yang terlihat tadi adalah ternyata saya terlalu terbawa perasaan cinta yang sesungguhnya kepada Maya. Kau bisa memegang kata-kataku barusan, Pak Masumi. Kau tak usah kuatir kami akan mengacaukan Kekaisaran Jepang hanya karena akting kami yang tak layak tampil. Maya tadi hanya kaget karena aku tadi tiba-tiba menciumnya. Tapi sekarang dia mengerti, kalau itu adalah ungkapan cintaku padanya. “ ucap Koji tajam.

Mata Masumi menyipit waspada.

Koji…..

“ Wah… Hebat sekali kata-katamu barusan, Koji. “ Puji Masumi kepada Koji langsung. “ Dan kau sungguh beruntung memiliki pria yang.. sangat… mencintaimu… Maya. “

Hati Maya tersayat mendengarnya. Ia ingat kemarin ia diyakinkan Masumi untuk harapannya kepada Maya di sebuah pintu lift yang hampir terbuka. Tapi….

Maya meraih kedua telapak tangan Koji yang dibahunya dan merapatkan tubuhnya bersender didada bidang Koji, seraya mengetatkan tangan Koji untuk memeluknya dan membentuk huruf  X didepan leher Maya. Bisa ditebak, kedua pasang mata, yakni Masumi maupun Koji, membelalak.

“ Terima kasih.. Pak Masumi….. Aku memang wanita yang sangat beruntung memiliki Koji sebagai pasanganku, sebagai… belahan jiwaku… “ Ucapan Maya terbata-bata diakhirannya. “ Dan apa kau tahu, Pak Masumi… Aku… tidak perlu menunggu… atau ditunggu siapapun lagi. Aku sudah memilih Koji sebagai kekasihku “ Dan kali ini, Maya berusaha menegarkan hatinya, mati-matian menahan air mata cengengnya yang hanya menambah jelek wajahnya yang kelelahan.

Masumi sadar apa yang dimaksudkan Maya barusan. Namun ia sudah tak mampu lagi menahan luapan emosinya. Ia takkan sanggup melihat Maya dicium lagi oleh pria lain, oleh Koji, apalagi didepan altar. Memikirkan itu saja sudah membuat Masumi ingin melayangkan palu besar kekepalanya sendiri.

“ Aku mencintaimu, Maya Kitajima… Tak perduli kau milik siapa sekarang. Aku mencintaimu. “ aku Masumi.

Wajah Maya memucat karenanya. Dia senang! Sangat senang!!! Tapi… Ia takkan sanggup membalas cinta Masumi kepadanya. Bagaimana dengan Nona Shiori? Bagaimana dengan Koji? Dan terutama, bagaimana dengan masa depan Masumi apabila ia memilih untuk bersama Maya? Kedua tangan Maya mencengkram pergelangan tangan Koji semakin kuat, dan kuat. Koji yang sedari tadi menerka-nerka bagaimana kronologis kejadiannya, kini mengerti sudah. Mereka saling mencintai!

“ Pak Masumi, mohon maaf…. Aku tidak akan pernah bisa mencintai orang yang membunuh ibuku. Tidak akan! “ ucap Maya tajam dan kembali mengeraskan genggaman tangannya kepada pergelangan tangan Koji yang mulai memutih. Pertunjukkan akting Maya yang angkuh pun dimulai.

Maya?!!!!!!

Koji terhenyak hebat. Dia tak mengira kalau Maya akan senekat ini! Sekonyol ini!!! Dia bisa merasakan tangannya mulai kesemutan, namun ia juga tak ingin melepaskan Maya kepada pria yang berdiri didepan mereka, namun kali ini dengan wajah pucat seperti mayat.

Masumi merasakan sakit yang amat sangat menohok ulu hatinya. Bukan karena pukulan. Namun karena kenyataan akan dosa lamanya.

Ah, ternyata begitu….. Ternyata memang aku tidak pantas kau maafkan, Maya….

Ia menegakkan kepalanya. Berusaha mengatur sisa-sisa nafas beratnya dan menghimpun oksigen untuk mengisi paru-paru serta nyali. Dan ia pun melangkah mendekati keduanya dengan gagah.

“ Baiklah kalau begitu, Maya. Aku minta maaf  karena ternyata akupun masih mencintaimu meskipun aku memang tidak akan pernah pantas untuk mencintaimu, apalagi dicintai olehmu. Maafkan kebodohanku yang satu ini. Aku akan segera memperbaikinya dan kuharap hal ini tidak akan merusak hubungan kerja sama kita sebagai pihak penyelenggara serta artisnya. “ Masumi mencondongkan tubuhnya kearah Maya, lalu mencium lembut bibir Maya.

“ Sayonara, Maya….. “ bisik Masumi melepaskan bibir tegasnya dari bibir Maya.

Ia tak peduli betapa kagetnya Maya dan Koji, yang sedari tadi melihat langsung kejadian langka tersebut. Ia pun tak perduli apabila Koji meninju wajahnya berulang-ulang. Yang ia inginkan, hanya menghapus ingatan bibir Maya dari bibir koji, dan meninggalkan jejak khusus untuk Maya hanya untuk bibirnya. Ia pun berbalik dan meninggalkan mereka berdua yang masih berdiri kaku dan berpelukan.

Koji melihat itu semua dengan perasaat sakit yang hebat. Ingin sekali ia melemparkan sebuah sekop pemakaman ke kepala direktur gila kerja tersebut. Tapi apa daya? Ia melihat luapan cinta diantara mereka sangatlah kuat. Dan yang ia hadapi sekarang adalah Maya—kekasihnya—yang terduduk lemas, menutup erat bibir sendunya dan menangis sesenggukan seakan kehabisan nafas .Pertunjukkan singkatnya sudah selesai dan Maya menghempaskan topeng kaca angkuhnya hingga berjuta-juta keping.

Siapapun…. Kumohon… bangunkanlah aku dari mimpi buruk ini….  Pekik hati Koji dalam hati.

27 comments:

  1. ku usahakan akan update tiap hari senin.
    senin adlh hari yg spesial buatku.
    senin adalah awal dr sebuah minggu.
    dan senin juga adalah awal dari sebuah perjalananku menjadi seorang ibu ^^

    that's why i luv monday <3

    ReplyDelete
  2. huaaa! dikit amat mom. masih sakit hati nih gara2 maya terima koji. sebel ma koji and shiori yg gak tau diri. Pengen segera baca kisah MM yg menyenangkan. ^^
    Thanks for the update yaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hohohoo... sami2 darliink, ditunggu aja tiap senen yhaa <3

      Delete
  3. senin adalah hari paling malas dalam duniaku mom GINA .wakakakakakakakak


    hmmmm apa Maya akan goyang lagi karena melihat Masumi ? klo iya , bagus tuh kan si Koji jadi bisa liat kalo Maya sebenernya masih ada rasa ama Masumi .wekekekekek * nyengir setan *

    ReplyDelete
    Replies
    1. halaah.. 4 hurup itu bertengger disini juga XDDD

      Delete
  4. KA...KAI...KAISAR
    aq jg kaget nie sist
    seneng skali akhirny maya terbang tinggi dlm aktingny tp tdk dlm cintany

    sist, jgn ampe maya tetep ama koji, mg ntr tante dan tmn masumi bisa mbantu masumi dptin maya lg, klo bisa sih skalian sang kaisar yg jodohin MM, g bakaln ada yg nolak

    sist, jgn lama2 ya

    *xiaolong li

    ReplyDelete
    Replies
    1. yah, itulah hidup sis, kadang sukses di karir tapi di cinta mah seret XDD *nyindir masumi jg ceritanya XDD*

      tunggu senin depan yha sayyy <3

      Delete
  5. kyaaaaaaaa, jadi tidak sabar menunggu senin depan, aduh, aduh, jadi salah tingkah

    ReplyDelete
    Replies
    1. haghaghaghag.. makasi uda mau nunggu ^0^ <3

      Delete
  6. asyikkkkkkkkkkkk....di tunggu updatenya..

    ReplyDelete
  7. aduhhhh itu kenapa koji n maya pegangan tangan sih......hiks

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihii... mencari kesempatan atuh neng XDD

      Delete
  8. masumi
    kamu seksehh sekali *loh..?*
    maksutnya hebattt sekali
    berani2nya yah dirimu mencium maya di pelukan kekasihnya
    kerennnn ^^

    lanjuttt masumi
    tinggalin ajja maya
    biar nyeselll dia udah milih koji di banding dirimu
    sinnih maen sm saiah sajjah
    *gandeng masumi ke kondo* lohh..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. hohohoo... disini ceritanya masumi uda ngabisin semua kesabaran ma keberaniannya sis, dia pikir ini udah yg terakhir sih... *sob* T^T

      hahhaa.... gandeng ke kondo saya yhaa *kondo apaan coba? xD*

      Delete
  9. sesak dadaku Mom Mary...
    selalu ditunggu apdetannya tiap senin...

    ReplyDelete
    Replies
    1. awww..... maaappph, hihihiii.. makasi uda mau nunggu <3

      Delete
  10. nah gitu dong Masumi .kejar terussss
    cipok2 dah si maya depan koji
    bwakakakakakak

    ReplyDelete
  11. penasaran..
    Aduh konflik cinta...menyakitkn smua pihak
    maya...maya...
    Emang baik memikir orang lain tp cari cara yg lain dong, masa ampe ngingetin masumi ma duka lama

    eh masumi jd brani ya...go...go masumi
    aduh sapa nie yg bs menyatukn MM

    ReplyDelete
    Replies
    1. hohohoo... tunggu senin berikutnya yha sis, tengkiuu bgt uda ngikutin ^^

      Delete
  12. haduuuuhhh koji, relakan saja maya

    ReplyDelete
  13. maap baru sempet kasih komen...

    bacanya kmrn pas senin pagi, di atas ojek (gara2 ketinggalan bus jemputan kantor, AGAIn), trus hampir mewek!!

    Great Job Mommyy, telah berhasil merachooni-ku! ditunggu rachoon-rachoon berikutnya!!

    ReplyDelete
  14. wakkakaa... rachooon!!!!! XD dirimu jg bikin rachonnya mangsthaab, akupun menunggu rachon2muh XDDDDDDD

    ReplyDelete
  15. *cubit pipi maya*
    maya nakal~,,kenafah masumi digituinnn~~

    momy regina~~ gag rela bgt di chapter inih,,huhuhu

    ReplyDelete
  16. hahahahahhaha..... jantan bgd masumi kissu maya teranga2n dpn wajah sakura,,,, ahahhahah..... yihaaaa..... love u pull masumi,gaya mu bikin kyu makain cintaaaaaaaaa selalu.. thx momiiii.. kyaaa >_<

    ReplyDelete

 
blogger template by arcane palette