I'll Stand By You
Malam ini tampak seperti malam-malam sebelumnya.
Apartement yang sepi, security yang
selalu berusaha mendapatkan poto bersama, lorong yang panjang dengan lampu
temaram dan berakhir di kamar yang luas dan tidak ada yang menyambut. Maya
melangkahkan kaki lelahnya menuruni 2 anak tangga kecil menuju ruang sofanya.
Ia pun mengelus lembut sofa yang dulu pernah diduduki orang selain dirinya.
Pak
Masumi…
Tak urung iapun membenamkan wajah sedalam-dalamnya
kesana. Meledakkan semua tangis dan jerit hatinya. Ingin rasanya menghabiskan
seluruh air matanya sampai kering tak berbekas dan menguap. Tapi semakin ia
menangis, semakin ia mengutuk perbuatan konyolnya tadi. Ia terlalu mencintai
pelindungnya. Terlalu merindukannya. Kalau saja ia memiliki sebuah kemampuan
yang ajaib, ia ingin amnesia.
Pak
Masumi…. Pak Masumi!!!
Kembali ia meneriakkan nama yang dicintainya. Berharap
juga ia memiliki kemampuan telepati yang tak membutuhkan kekuatan tehknologi,
agar sang pria mendengar dan memaafkannya . detik demi detik yang berubah jadi
menit ke menit, sejalan dengan tangis Maya yang semakin habis, berubah menjadi
dari jam ke jam. Rasa pedih teramat mulai merayapi sudut matanya dan bengkaknya
mulai merusak wajah manisnya yang kuyu.
Ia mengingat kembali kejadian di studio Daito beberapa
jam yang lalu. Masumi meninggalkan Maya dan Koji yang terpaku dengan
“kenang-kenangan” dari Masumi yang mendadak dibibir Maya. Maya sangat
menyukainya, ia sangat merindukan bibir maskulin itu menyapu kembali bibirnya.
Namun ia tahu, itu hanya untuk yang terakhir kali. Dan takkan lagi terjadi.
Setelah puas ia merobek sendiri hatinya, ia menuju toilet. Meneteskan 1-2 tetes
obat ringan dimatanya agar tak nampak merah dan kembali ke studio. Koji telah
terlebih dahulu disana dan ia tak mendapati Masumi. Hanya Mizuki yang diminta
Masumi tinggal untuk memberikan laporan akan perkembangan pertunjukkan. Tanpa
basa-basi, Mizuki pun mengatakan kalau kehadirannya sekedar untuk kepentingan
bisnis dan tak lebih.
Senyum kecut Maya timbul. Biar bagaimanapun juga, ia berharap Masumi tetap ada
di sini, mendampingi dan menonton latihannya. Tapi sekali lagi, kini harapan
itu cuma bisa jadi mimpi kosong belaka.
Latihanpun
kembali dimulai. Segenap pemain mengerahkan kemampuan terbaiknya, mengingat ada
sekretaris ulung dan efisien yang terus menonton. Dan hal-hal kecil yang
dianggap agak kurang “menjual”, selalu ia bahas bersama Pak Kuronuma. Latihan kali
ini lebih berat, mengingat Kaisar Jepang penonton utamanya. Tapi hal ini tak
berlaku bagi Maya. Kaisar takkan bisa sebanding dengan Masumi Hayami yang sudah
ia lukai barusan dengan sengaja. Dan hal itu masih juga melukainya. Entah sudah
berapa kali Pak Kuronuma menegur Maya dengan cara halus hingga super ekstreme
karena akting Maya kali ini sangat hambar dan kurang menjiwai perannya. Mereka sama-sama
frustasi dan banjir keringat. Mizuki bisa memakluminya dengan beralasan “
mungkin Maya menjadi sangat gugup mengingat Kaisarlah yang memesan pertunjukkannya,
Pak Kuronuma. Berikanlah ia kesempatan untuk beristirahat dan memperbaiki
aktingnya besok “
Dan Kuronuma
pun mengangguk ringan sambil menggaruk belakang kepalanya yang sudah seminggu
tidak ia bersihkan. Ia lupa arti dari kata “keramas” apabila pekerjaannya
sedang sangat menumpuk. Tak heran beberapa pemain berusaha mati-matian
mematikan indra penciuman mereka bila sedang diarahkan Kuronuma walau hanya
berjarak 1 meter.
Koji diminta
untuk memastikan keselamatan Maya sampai di apartementnya sendiri karena Maya terlihat
terlalu pucat dan kurang sehat, sehingga tidak bisa dijamin ia takkan
menjatuhkan dirinya di trotar sudut jalan. Di mobil Koji pun, Maya sama sekali
tidak membuka suaranya. Ia hanya melamun keluar jendela. Banyak sekali
pertanyaan yang mengganjal dihati masing-masing, namun mereka sendiri kebingungan
untuk menyampaikannya tanpa perlu saling melukai. Lidah terasa sangat kelu dan
kehilangan kemampuan melafalkan 1 huruf saja. A misalnya.
Sesampainya
di depan gedung apartement, Maya mengucapkan terima kasihnya dan langsung
berlalu menuju pintu utama. Tanpa senyum lebar, hanya sebuah senyum formal yang
tipis dan ringan. Koji menatap punggung sedih Maya tanpa henti hingga tubuh
mungil itu menghilang disana.
Maya.... Aku tak tahu... ternyata
sedalam itu ya rasa cintamu pada Pak Masumi? Kalau memang kau mencintainya,
lalu kenapa hingga kini kau tetap memakai kalung dolphin dariku itu? Kau anggap
apa aku ini?
Akhirnya
kata-kata yang ingin diucapkan Koji meluncur juga, namun tanpa Maya di kursi
penumpang. Dan ia sendirian. Senyum kecut Koji pun nampak, dan ia mulai
menginjak pedal gas serta memacu mobilnya perlahan meninggalkan apartement
kekasihnya.
*
Bath-up
hangat dengan aroma lavender bercampur jasmine
menyeruak di kamar mandi Maya. Buihnya meluap-luap, dan Maya sangat
menyukainya. Ia mulai mencelupkan ujung jari kakinya, lalu betisnya, diikuti
tubuhnya hingga sebatas leher. Ia pun mulai mengatur nafasnya dan berusaha
menikmati suasana aromatherapy aroma bunga yang diharapkannya mampu menenangkan
perasaan galau serta menetralisir perasaan hatinya yang pahit.
Aaah.... nikmat sekali.... dalam hati kecil Maya
menyetujuinya.
Ia mulai
mengusap lembut buih-buih putih dikulit putih telanjangnya, sambil memijit
ringan untuk menghilangkan keletihannya. Ujung jari kakinya terasa agak linu. Ia
ingat sewaktu berakting tadi, ia lebih sering berjinjit daripada biasanya. Karena
Pak Kuronuma yang membuat ia terus mengulang adegan tersebut entah berapa kali.
Ia tidak ingat. Yang ia tahu, kuku kaki kelingking kanannya terluka dan membuat
kuku kakinya hanya separuhnya saja. Awww......
Rambut panjangnya
pun tak lepas dari perlakuan manja Maya. Ia mulai melumuri rambutnya dengan
shampo madu dan jeruk, yang berguna menutrisi dan merevitalisasi akar-akarnya. Ia
pun mencuci tangannya dan mulai menjelajahi wajahnya secara perlahan. Dan jemari
itu berhenti dibibir.
Bibir ini..... tadi Pak Masumi
menciumku lagi... dan ia menciumku... didepan Koji... DI DEPAN KOJI!!!! Wajah Maya pun memerah, dan bukan
air hangatlah penyebabnya. Tapi... Koji sama sekali tidak bicara apa-apa
mengenai kejadian tadi. Ia hanya
memandangiku dan berkata akan kembali keruang latihan begitu kondisiku stabil,
dan ia berjanji akan mengantarkanku pulang ke apartement. Itu saja.... dan
dimobil tadipun, kami sama sekali tak bicara apa-apa..... Hati Maya mulai
terusik lagi. Apakah... Koji mulai
semakin menyadari rasa cintaku kepada Pak Masumi? Bagaimana kalau ia merasa
kupermainkan? Bagaimana kalau ia merasa hanya kumanfaatkan dan kuanggap sebagai
barang cadangan? Oh, tidak... Tidak.... Apa yang sudah kulakukan???
Buru-buru
Maya membilas dirinya. Mengeringkan tubuh dan mengenakan jubah mandinya. Ruang kamar
menjadi tujuannya, bukan piyama untuk dikenakan namun handphone-nya. Ia memencet sebuah tombol dan berharap Koji segera
mengangkatnya.
Mati.
Rupanya Koji mematikan
HP-nya. Oh, mungkin ia kehabisan baterai, Ia selalu lupa untuk me-recharge
HPnya. Maya
berusaha menghibur dirinya dengan bersikap optimis. Mungkin ia mengirimkan email padaku, biasanya tiap malam, selepas
latihan, ia selalu mengirimkan emailnya dan beberapa foto curiannya dan dengan
tega mengupload foto-fotoku yang buruk. Ia mulai membuka email.
Kosong.
Maya kembali
gelisah dan melupakan berbagai releksasi yang tadi ia jalani dengan susah
payah. Ia kembali berusaha menghubungi Koji namun gagal. Akhirnya ia menyerah. Ia
mulai membuka sebuah website yang memuat dirinya. Ia terkadang mengunjungi website yang dikelola dengan baik oleh
pihak penyelenggara untuk mendongkrak penjualan Crimson Goddes, mulai dari pertunjukan itu sendiri, berbagai
souvenir bahkan kostum yang sangat mirip dengan yang digunakan Maya diatas
panggung. Ia melihat performanya sendiri dalam sebuah cuplikan rekaman pendek
dan kembali menyelami perannya. Tulisan berwarna merah menghiasi sisi dari
website yang berfungsi menarik perhatian para pengunjungnya.
Akoya... Bidadari Merah.... Ia
jatuh cinta kepada seorang manusia dan tak mampu menggapainya. Dan pada
akhirnya, ia harus berkorban untuk kebaikan seluruh umat manusia...
.
Mata Maya
membulat lebar.
Dan pada akhirnya, ia
harus berkorban untuk kebaikan seluruh umat manusia....
Maya
menegakkan tubuhnya yang masih berbalut jubah mandi dan menutup mulutnya yang
menganga lebar.
Ya Tuhan... apakah semua pemeran
Bidadari Merah pasti mengalami ini? Bu Mayuko yang kehilangan Pak Ichiren, dan
sekarang..... sekarang.... Aku yang kehilangan Pak Masumi.... Air mata Maya mulai menggenang. Apakah kami pantas mendapatkan nasib seperti
ini?? Salahkah aku mencintainya, Tuhan???? Dan Maya mulai mencoba
menyampaikan perasaannya kepada Sang Pencipta.
Sekarang
air matanya sudah membasahi kedua pipinya dan kembali menganak sungai. Ia sudah
melupakan keinginannya untuk menghubungi Koji, karena Masumi Hayami lah yang
sangat ingin ia temui sekarang.
Ia menutup
wajahnya. Berusaha keras untuk tidak membengkakkan kembali matanya yang tadi
sudah sedikit kempis dan ia berpikir, mungkin besok kacamata hitam akan ia
gunakan seharian, atau ia takkan berangkat latihan sama sekali.
*
“ KAU
KUPECAT! “
“ Ta...
Tapi Pak Masumi... Saya.....”
“
Mizuki, segera urus semua hal yang ia butuhkan untuk segera meninggalkan kantor
ini! “
Mizuki
bingung, ia menghampiri wanita muda yang sedang panik dan hendak menangis.
“ Tapi
Pak Masumi.... Nona Takeda sedang mengandung. Ini sudah berumur sekitar 7 bulan
dan sebaiknya kita maklumi apabila ia memang belum sempat menyelesaikan laporan
yang anda butuhkan, Pak Masumi... “ rajuk Mizuki sembari mengelus bayi kecil
yang sedang tumbuh dan berdoa semoga kelak bayi ini tidak tumbuh menjadi pria
dingin yang sedari pagi tadi hanya membentak dan membentak seluruh karyawan
Daito.
“ Aku
membutuhkan laporan itu segera! SEKARANG! Apa kau sudah menyelesaikan laporan
itu SEKARANG nona Takeda? “ teriak Masumi tanpa memperdulikan karyawan lain
yang menontonnya menciptakan neraka dunia.
“ Pak Masumi,
kumohon beri saya waktu 10 menit lagi, ini sudah mau selesai... Saya.. pasti
menyelesaikannya dan akan segera menyerahkan langsung kepada anda. Kumohon...
Jangan pecat saya... 2 bulan lagi saya akan melahirkan.. Saya sangat
membutuhkan pekerjaan ini, Pak Masumi... kumohon..... “ ucap Nona Takeda
terbata-bata sambil menangis sesenggukan.
“
Mizuki, ambil alih pekerjaannya untuk sementara. Aku sudah punya pengganti
posisinya besok. Bantulah ia menyelesaikan segala hal yang ia butuhkan dan
segera berikan laporan itu dimejaku, 10 menit dari sekarang! “
“ Pak
Masumi...!? “
“
Segera, Mizuki! “ ucap Masumi tanpa menghiraukan teguran Mizuki dan tak menoleh
sedikitpun menuju ruang kantornya.
“ Nona
Mizukiiiiii!!! “ pecah sudah tangis Nona Takeda. Beberapa karyawan wanita
menghampiri dan memeluknya bergantian. Kantor Daito kini tak ubahnya seperti
parade tangisan menyayat. Ada yang diskors bahkan ada yang sampai dipecat. Masumi
menuai banyak umpatan dan celaan dibelakang punggungnya sejak pukul 9 pagi
tadi. Dan ini awal hari yang sangat Mizuki benci.
Mizuki sudah
menyelesaikan urusan Nona Takeda dan memesan taxi untuk mengantarkannya pulang.
Ia memberikan pesangon lebih kepadanya dengan menggunakan sedikit uang
pribadinya. Mizuki kembali mengelus ringan perut bundar Nona Takeda dan menangisi
kepergiannya. Laporan sialan yang dibutuhkan Mizuki sudah diselesaikan dan
sekarang sedang diperiksa oleh Masumi yang seakan-akan mencari cela untuk
dijadikannya sebagai alasan bagus untuk berteriak dan kembali membentak.
“
Baiklah Mizuki, terima kasih. Aku sudah bisa memikirkan konsep matang yang akan
kubutuhkan. Kau boleh pergi. “
“
Latihan Maya kemarin cukup kacau, Pak Masumi.. Apa yang anda lakukan padanya? “
ucap Mizuki tanpa basa-basi.
Pupil Masumi
melebar, namun tetap menghadap laporan-laporan dan membatasi daya edar
penglihatan Mizuki yang berusaha menangkap basah kegelisahan bos neraka ini.
“
Apa maksudmu, Mizuki? Bagaimana mungkin latihannya menjadi kacau? “
“ Ia
menjadi kacau setelah anda ikut masuk keruangan yang berisikan Koji dan Maya
saja , Pak Masumi. Pemain lain mampu memerankan perannya sebaik mungkin, namun
Maya sudah berhasil meledakkan bom atom diotak Pak Kuronuma berkali-kali. Ia menjadi
pucat dan saya dengar hari ini dia tidak masuk untuk latihan. Teman dekatnya,
Rei, mengatakan ia akan mengantarkan Maya kedokter hari ini. “
“ Dia...
Sakit? “ Masumi mulai gelisah namun ia tetap memasang wajah kakunya.
“ Sakit
Maya sama sekali tak sebanding dengan Nona Takeda yang barusan anda pecat, Pak
Masumi... Saya sudah sangat mengenal baik Nona Takeda, ia pekerja keras! Ia bekerja
sangat profesional selama ini, dan Daito sungguh sangat merugi melepaskan Nona
Takeda begitu saja. Saya yakin, perusahaan pesaing kita sudah mengincarnya
apabila ia mulai terendus kalau sekarang ia berstatus pengangguran! Sakit Maya
tidaklah parah, ia hanya kelelahan, dan hanya gangguan emosional. Ia tidak
mengandung sebesar 7 bulan dan hendak melahirkan 2 bulan lagi, saya harap anda
tidak salah mengambil langkah, Pak Masumi“
“ Nona
Mizuki...”
“ Ya? “
“ Keluar
dari ruanganku sekarang juga “
Mizuki
menghela nafas berat. “ Baiklah... Pak Masumi....”
Mizuki keluar
ruangan dan kembali ke meja kerjanya. Ia mendapat laporan dari sekretaris lain
akan kedatangan Nona Shiori sekitar 15 menit yang lalu dan sedang duduk diruang
tunggu. Mizuki pun bangkit kembali dari kursinya dan hendak menemui cucu
Takamiya tersebut.
“
Selamat siang, Nona Shiori.. Apa anda hendak menemui Pak Masumi? “ sapa Mizuki
sopan.
“ Ah,
selamat siang, Mizuki.... Apa Masumi sekarang bisa kutemui? Aku hendak
mengajaknya makan siang di restoran dekat sini. “
“ Maaf
Nona... Sepertinya Pak Masumi sedang sangat sibuk. Pekerjaannya akhir-akhir ini
semakin menumpuk, dikarenakan Kaisar sudah meminta Daito secara resmi untuk
menyelenggarakan Bidadari Merah secara eksklusif untuk keluarga kerajaan. Mohon
Nona menunggu sebentar lagi, saya akan membantu Pak Masumi untuk segera
menyelesaikan pekerjaannya dan menemani Nona untuk makan siang. “
“ Ah...
Begitu rupanya... “ Shiori mengerutkan keningnya. “ Mizuki, apakah ada yang
berubah dengan kantor ini, terutama dilantai ini? Aku mendapati beberapa sekretaris
menangis dan gumpalan tissue serta sapu tangan ada dimeja mereka. Mereka tampak
sangat murung, apakah ada hal yang menyedihkan? “
Mizuki menahan
nafasnya 2 detik untuk menjelaskan keadaannya kepada Shiori. Ingin sekali ia
menghina habis-habisan tunangan wanita ini tanpa ampun, namun ia tak mau
merendahkan gengsinya begitu saja.
“ Nona
Takeda tadi pagi dipecat oleh Pak Masumi, Nona... “ ucap Mizuki perlahan.
Shori
sampai bangkit berdiri mendengarnya. “ Di... Dipecat?? Dipecat katamu???
Bukankah Nona Takeda sedang mengandung? Seminggu kemarin ia membiarkanku
mengelus perutnya dan aku merasakan bayi mungilnya sehat dan menendang hebat,
bagaimana bisa ia dipecat? Katakan padaku alasan Masumi memecatnya, Mizuki! “
Shiori mulai tak sabar menuntut jawaban.
“ Nona
Takeda terlambat 10 menit menyerahkan laporan yang dibutuhkan Pak Masumi,
mengingat clientnya yang dari Kanada sedang on-line
dan mereka sedang membicarakan bisnis sekarang ini. “
“ Apa???
10 menit katamu????? Dan Masumi memecatnya karena 10 menit itu????? “
“ Client
sangat membutuhkan kerjasama yang cepat, padat dan singkat, namun tak
mengurangi sisi akurat guna kemajuan kedua belah pihak, Nona.... “ Mizuki
menegakkan kepalanya dan berkata seolah-olah apa yang dilakukan Masumi itu
dapat dimaklumi, padahal sangat bertentangan dengan hati nuraninya sendiri.
“ Aku
akan bicara dengan Masumi ! Kita tak bisa melakukan ini kepada Nona Takeda! Ini
kelewat batas namanya! “ Shiori mengambil tas tangannya dan hendak keluar ruang
tunggu menuju kantor Masumi.
“ Nona..
Sebaiknya... Pak Masumi jangan diganggu dulu.... Saat ini Pak Masumi sangat
membutuhkan waktunya. Nanti kalau Pak Masumi sudah melalui waktu sibuknya, saya
janji akan segera menghubungkan Nona dengan Pak Masumi secepatnya.”
“ Dan
kapankah waktu itu akan datang, Mizuki? “
“ Saya
tidak bisa memprediksinya, nona... Maafkan saya.... “
Kesabaran
Shiori makin diuji dan menipis. Namun ia berusaha tetap sabar demi kelangsungan
hubungan mereka yang semakin rapuh tersebut.
“
Baiklah.... Baiklah... Mizuki..... “ Ucap Shiori sembari menghela nafasnya
perlahan dan mengatur emosinya “ Aku sebaiknya menemui dokter pribadiku untuk
check-up. Sudah lama aku tidak mengunjunginya. Maaf Mizuki, bisakah aku
meminjam Oshima? Aku tadi sudah menyuruh supir pribadiku untuk kembali kerumah,
kupikir aku bisa pulang bersama Masumi hari ini...” lanjut Shiori kecewa.
“ Maaf
Nona, sepertinya Oshima juga tidak bisa mengantarkan Nona ke dokter pribadi
Nona.... akan saya panggilkan Ryoma
sebagai gantinya. Anda tak perlu kuatir, Ryoma telah menjadi supir bagi Daito
selama 10 tahun, dan ia mampu membawa diri dan mobilnya dengan baik dijalan
raya tanpa perlu membuat mabuk penumpangnya, meski itu adalah pengalaman
pertama seseorang menaiki mobil. Saya jamin akan kemampuannya, Nona... “ mizuki
menjawab sopan dan tak menutupi rasa menyesalnya.
Alis Shiori
naik 1 centi sedikit. “ Ada apa dengan Oshima? Apa hari ini dia sakit? “
Mizuki
menghela nafas beratnya, namun ia tetap melanjutkan jawabannya. “ Oshima...
Dipecat kemarin sore oleh Pak Masumi... Nona Shiori... “
*
Mobil sedan yang mewah berlabel merk mahal produksi
Negeri Sakura itupun ikut meramaikan kemacetan dipusat kota Tokyo. Beruntung
kursi joknya sangat empuk dan nyaman, sehingga mau duduk entah seharianpun
didalamnya, kau takkan merasa teramat lelah. Pendingin udaranya pun sempurna.
Tiap sudut ruang mobilnya dijelajahi dan didinginkan dengan baik. Namun hati
Shiori yang penuh tanda tanya dan kemarahan yang mendidih membutakan indra
perasa kenyamanannya. Ia merasa gelisah, tidak tenang dan kalau tidak ada
orang, mungkin ia mampu meracau tidak karuan serta berteriak lantang.
Karyawan Daito merasa sekarang ini mereka bukan lagi
bekerja untuk Masumi Hayami---sebagai direktur mudanya—namun sudah seperti
kepada komunis sesat yang menganut paham Lucifer. Mata Masumi yang kemarin sempat
menghangat kembali dingin sekaligus gersang. Sikapnya yang dulu pernah menjadi
lebih banyak toleransi sekarang hanyalah mimpi dan hujan kartu merah. Ia tetap
tampan, namun ia menjadi lebih tidak menyenangkan sebagai manusia dan lebih
parah dibandingkan dulu ia pertama kali menjabat sebagai direktur muda.
Kasak-kusuk berkembang dengan berbagai versi. Sumber
pertama menghembuskan kabar kalau Pak Masumi diserang oleh beragam orang dan
juga dengan beragam profesinya hendak mematahkan tahta Daito. Nah, kalau yang
itu, sudah alasan klasik. Tidak ada yang terlalu kaget akan prediksi sumber
pertama.
Sumber kedua, memberi kesaksian kalau Pak Masumi
merasa sakit hati dan tersinggung dengan tindakan Maya Kitajima yang seenaknya
menghentikan latihan Bidadari Merah untuk Kaisar. Kalau alasan ini, mungkin ada
benarnya juga. Siapa tahu Pak Masumi menjadi lebih merasakan tekanannya, karena
karya ini khusus dipesan oleh Kaisar sendiri. Dan Maya menjadi terlihat banyak
bodohnya dengan bersikap tidak professional disana.
Sumber ketiga, mengira-ngira dengan hitungan Kartu
Tarot yang didalaminya bertahun-tahun yang mengatakan kalau sekarang Pak Masumi
berubah menjadi titisan malaikat yang jatuh oleh karena tunangannya, Shiori
Takamiya. Well, yang ini entah bisa
dikatakan 100% juga tidak mampu, namun kalau diperhatikan, mereka selalu sempurna
dan mesra dihadapan publik. Koran dan majalah gossip tak pernah sekalipun
mendapatkan foto-foto mereka yang sedang salah paham sedikit apalagi bertengkar
hebat. Tapi sikap dingin Masumi tidak berubah banyak juga, baru-baru ini malah
menambah daftar sifat buruk yang baru dihidupnya.
Sumber keempat, Pak Masumi sudah gila! Kalau alasan
yang keempat ini, sudah pasti hanya beredar di toilet wanita. Mereka takkan
bernyali membawa alibi nomer empat ini kemeja kerja tetangganya. Karena kalau
hal itu sampai bocor, mungkin tak heran apabila direktur muda itu menyiapkan
seutas tali untuk bertengger erat dilehermu sementara tubuhmu mengayun kuat
ditambah kejang-kejang hebat diatap gedung Daito.
Shiori terganjal oleh sumber kedua dan ketiga.
Kemungkinan besar hanya Maya-lah yang membuatnya menjadi porak poranda seperti
ini. Pikiran Shiori terlempar jauh mengingat peristiwa di restoran bersama
Maya. Saat itu, Maya berjanji akan menjauh dari kehidupan mereka. Lalu ingatan
itu membawa Shiori ke peristiwa gedung
Amaterasu. Sejak saat itu, ya… sejak saat itu… mata Masumi kembali hampa dan
dingin. Inikah mata rantai hilang yang ingin ditemukan Shiori di beragam alasan
mulut para karyawan? Ditambah lagi, Shiori membenarkan dalam hati kalau Masumi
tidak bisa menjadi dewa musim semi diladang Daito. Ia terus-terusan meniupkan
angin musim gugur yang mengundang sang salju turun dari peraduannya. Para
karyawan kedinginan sekaligus berusaha bertahan hidup dengan menebalkan
kesabaran serta kewaspadaan sebagai tameng nyawa mereka. Shiori merasa sangat
gagal sebagai tunangan dan bagaimana kelak ia akan menghangatkan jiwa Masumi
yang terlanjur beku sebagai pendamping hidupnya. Jangankan bertindak,
mengkhayalpun ia menjadi lebih waspada dan awas akan perkembangan sekitarnya.
“ Sudah sampai, Nona… “ suara supir pribadinya
mengembalikan kesadarannya kembali ke dunia nyata.
“ Ah, ya.. ya… Terima kasih “ ujar Shiori anggun dan
mengeluarkan tubuhnya dari kesejukan pendingin udara mobil dan menghadap
hangatnya matahari Tokyo, yang kebetulan belum terlalu terik, jadi kau masih
bisa berjemur sekitar 1 jam dibawahnya tanpa perlu merasa terbakar.
Langkah kakinya membawa Shiori memasuki gedung rumah
sakit elite yang cukup popular dikalangan para selebritis, politikus dan
sosialita yang bingung hendak mengurai uangnya kemana. Tatapan kagum akan
pesona kecantikan dan keanggunan Shiori selalu terbit manakala ia melewati para
perawat sampai pasien yang sedang membunuh kejenuhan mereka. Shiori sudah
terbiasa akan keadaan itu, semenjak ia masih sangat kecil. Dulu ia selalu
senang akan puji-pujian dari para kerabat dan kolega bisnis orang tuanya, namun
kadar kesenangan itu berubah semenjak ia belajar dari Masumi, bahwa penjilat
itu ada dimana-mana. Dan dulu ia masih terlalu hijau sehingga radar pendeteksi
manusia-manusia macam ini belum berhasil ditangkapnya.
Akhirnya ia sampai pada tujuannya.
Dr. Richard Jefferson.
Shiori menghembuskan nafas beratnya. Ia sebenarnya
tidak terlalu suka menghadap dokter yang satu ini. Ia memang tampan luar biasa
meski 3 tahun lebih tua dari Masumi. Darah Amerika dan Inggris mengalir
diseluruh pembuluh nadi pria tegap berambut emas dan bermata perak serta tinggi
badan 191cm. Dan entah kenapa ia tidak berminat menjadi model atau peragawan di
catwalk terkenal, karena tidaklah
sulit bagi sang dokter untuk menaklukkan dunia itu, mengingat para dokter
wanita dan perawat yang bekerja disitu selalu mencari-cari alasan untuk dapat
berada minimal 0 centimeter darinya. Shori memang kagum akan kesan pertamanya,
namun kekaguman itu langsung hilang manakala ia memarahi Shiori habis-habisan
karena Shiori tidak taat dalam menjalani metode perawatannya.
Kelemahan tubuhnya selalu ia jadikan alasan untuk
menutupi kemalasan dan kegalauannya. Ia tidak ingin bangkit dari kenyataan
dimana Masumi menolaknya dulu. Ia tidak pernah ditolak siapapun. Dan sekalinya
ditolak, orang itu adalah orang yang paling ia cintai diseluruh dunia. Namun
sang dokter yang satu ini tidak sebodoh dokter-dokter sebelumnya. Dokter-dokter
Shiori terdahulu mampu ia bungkam dengan cek dan transfer uang hidup setahun.
Tapi dokter tampan ini malah langsung menyobek cek tersebut dimukanya. Ia tak
bisa mengganti Dr.Richard dengan dokter lain karena kecerdikan dokter ini
menangani pasien sudah melegenda. Dan kakek serta orang tua Shiori sudah
berhasil dicuci otak olehnya, dengan garansi 100% apabila Shiori tidak mampu
pulih kembali. Siapa yang mau menolak angka 100% tersebut?
Shiori baru saja akan check in dengan perawat yang
akan mengantarkannya dengan dokter Richard, tapi diurungkannya ketika ia
melihat Maya dan sahabatnya, Rei, keluar dari salah satu dokter diseberang koridor. Ia hanya berjarak sekitar
200 meter dari Maya, tapi sepertinya Maya tidak menyadari keberadaannya. Shiori
melihat dokter yang menangani Maya sudah sangat berusia. Rambutnya sudah banyak
yang putih dan huruf M besar tercetak jelas didahinya. Tubuhnya pun tidak
tinggi untuk ukuran pria Jepang sekarang, mungkin hanya sekitar 160cm? Tapi
kesemua ciri-ciri tersebut tak menghentikan alis Shiori naik sebelah. Dokter
tua itu meminta kepada Rei untuk mengabadikan dirinya dan Maya dirumah sakit,
tepat didepan pintu ruang prakteknya. Bahkan ia meminta Maya untuk menorehkan
tanda tangannya di baju dinasnya dan tentu saja Maya menolak. Tapi sepertinya
Maya sangat lemah akan permintaan orang tua dan pada akhirnya sang dokter tua
tersenyum lebar manakala coretan tangan Maya ada tepat di samping ID Card-nya.
Maya pun berlalu tergesa-gesa dan membungkuk hormat
untuk menyudahi pertemuan mereka. Shiori hendak menyusulnya namun sebuah
panggilan menahannya untuk menyusul Maya.
“ Nona Shiori, silahkan masuk “ ucap suara bariton
yang cukup tegas dan mengundangnya masuk ruang praktek.
Shiori pun membalikkan badan. “ Ah, Dokter Richard,
selamat pagi. Maaf, saya harus menyusul teman saya yang barusan saya lihat.
Saya ada urusan mendesak dengannya, nanti saya segera kembali.”
“ Kesehatanmu lebih mendesak, Nona Shiori. Untuk teman
anda, bisa dilanjutkan nanti setelah check-up
anda selesai. Mari… Silahkan masuk. “
“ Tapi…”
“ Silahkan masuk.”
Inilah yang Shiori benci. Dokter ini pasti berpikir
kalau ia menipunya lagi. Padahal untuk kali ini, Shiori sungguh-sungguh ingin
menemui temannya, Maya Kitajima. Ahkirnya ia menyerah dan melangkahkan kaki
jenjangnya memasuki ruang pemeriksaan dan diikuti oleh sang dokter.
“ Baiklah…. Kita mulai pemeriksaannya. Kuharap kau
tidak bosan dengan semua pertanyaan dan prosedur pemeriksaan metodeku lagi,
Nona Shiori “ ucap ramah sang dokter dengan sedikit senyum namun tegas
tersebut.
“ Terima kasih, dan saya akan sangat senang apabila
saya tak perlu lagi menjalani hal seperti ini … Dokter. “ balas Shiori tanpa
menutupi kekesalannya dan disambut kekehan kecil dari sang dokter.
*
“ Oh, Nona Maya…. Kuharap kau sering-sering sakit dan
sering mendatangiku. Bagi orang tua macam diriku ini, kedatangan Bidadari Merah
sangat mempengaruhi daya kerja dan staminaku untuk bertugas. Aku sangat senang
bisa mendapatkan pasien seperti dirimu, Nona Maya Kitajimaaa……” gelak tawa Rei
meledak tanpa memperdulikan pandangan aneh dari orang-orang sekitarnya.
“ Rei, hentikan! Ini direstoran! Aku maluuuu!!! “
sembur Maya dengan rona merah padam menghiasi wajahnya. Tak terasa hamburger
keju ditangannya hampir terbelah dua tanpa dosa.
“ Aku baru tahu kalau ada dokter yang mengharapkan
Bidadari untuk sering jatuh sakit, Maya. Tolong jangan salahkan ledakan tawaku,
ini murni reflek dari pemandangan didepanku, bagaimana cara pandang dokter itu
padamu, bukan sebagai pasien, bukan juga sebagai anak perempuannya, tapi
sebagai pengagumnya. Jangan bilang kalau dia adalah Mawar Ungu-mu, Maya! Kalau
dokter itu benar-benar dia, kurasa aku sanggup hidup diKutub Utara sampai mati.
“ ucap Rei terkekeh-kekeh sambil memegangi perutnya yang kembang kempis.
Mulut Maya semakin mengerucut lancip. “ Tentu saja
bukan! Mawar Ungu-ku tidak seperti itu! Dia gentleman, pekerja keras dan sangat
menutupi identitasnya. Dia tak mungkin terang-terangan memintaku foto bersama
apalagi meminta tanda-tanganku untuk menghiasi pakaian dinasnya! Dia hanya
dokter tua yang professional dan… Dan…. Ia… salah satu fans-ku… Itu saja.. “
ucap Maya menjelaskan dan memberi penekanan nada pada kata fans.
“ Tentu saja… Kalau kau belum menjalin kasih dengan
Koji, aku takkan kaget kalau suatu saat nanti ia akan melamarmu menjadi
istrinya, Maya, hahahahhaaa…. “ kembali ledakan tawa Rei membahana.
“ Reeiii!!!! Aku serius soal seleraku kepada pria! Aku
tak mungkin mau menikah dengan pria yang usianya sangat jauh diatasku, apalagi
pria itu hampir 45 tahun diatasku! “ Maya melotot sambil mengunyah kasar
hamburger yang menjejali mulutnya yang kecil.
“ Hahahhaa…. Maaf.. Maaf…..! Habis, aku benar-benar
tidak menyangka ada dokter jenis itu di Tokyo ini. Apa dia tidak takut pada
istrinya kalau ia bersikap sangat mesra padamu, Maya? Hahahahhaaaa….! “ Tawa
Rei kembali meledak untuk kesekian kalinya dan tak perduli pada Maya yang
semakin kusut menghadapi candaannya.
“ Rei!!! Dokter itu memang dulu pernah menikah, namun
mereka bercerai setelah menikah 15 tahun, gosipnya sih karena mereka belum
dikaruniai anak. Dan menurut kabar,
Dokter Akagi sewaktu muda adalah dokter yang sangat pekerja keras tanpa
memperdulikan kesehatannya sendiri. Mungkin itu adalah pelariannya karena belum
pernah menimang anak sendiri. “ jawab Maya prihatin.
Rei menaikkan sebelah alisnya. “ Wah, ternyata sedih
juga yah kisah doktermu. Ngomong-ngomong nih…. Aku tak tahu ternyata kaupun
mendalami latar belakangnya. Jangan-jangan kau….. Hahahhahahaa!!!! “ kali ini
Rei tak cuma tertawa terbahak-bahak, namun disertai memukul-mukul meja dan
menundukkan wajahnya serta menahan air matanya yang geli.
“ Reeiiiiiii!!!!!! “ Maya emosi dan menarik kedua pipi
Rei bersamaan dan melebarkannya seperti ikan pari.
“ Awwww!!! Mayaaaa!!! Hentikaaannn!!!!! “ Rei mengaduh
kesakitan sementara Maya tertawa puas.
Suasana restoran yang biasanya datar-datar saja kini
seperti mendapatkan angin segar dari artist-artist ternama tanpa malu
menunjukkan identitas asli mereka. Banyak yang mengambil gambar dan pose-pose
anehnya, namun mereka sama sekali tidak keberatan. Mereka menjadi terbiasa
karenanya. Dan seperti pada umumnya, penampilan mereka, entah mau spektakuler
ataupun mau terlihat bodoh setengah matipun, pasti akan ada pihak majalah
ataupun koran gosip yang bersedia membayar mahal untuk selembar foto, tak
perduli kau seorang pekerja yang kebetulan makan bersama atau kau adalah
seorang anak kecil yang mampu memiliki HP.
“ Eh,
Maya... Ngomong-ngomong, apa kau tahu siapa Mawar Ungumu-mu? Kok kau bisa memberikanku ciri-ciri
seperti itu? “ tanya Rei tiba-tiba yang membuat Maya mengendurkan siksaannya.
“ Aku..
Aku juga tidak tahu, Rei... Sampai sekarang ia belum membuka identitasnya
kepadaku “ Akhirnya Maya melepaskan jemarinya dipipi Rei yang memerah panas
bekas cubitan dan kembali ke kursinya. “ Tapi aku selalu percaya, dialah yang
terbaik untukku. Aku sangat bersyukur memilikinya dan kuharap aku bisa selalu
ada disisinya. Semoga ia takkan pernah berpaling dariku... “ Ucap Maya sendu
yang cukup jelas hingga dada Rei pun ikut merasakan sesak karenanya.
*
“ Ya!
Sudah selesai Nona, silahkan duduk kembali “ Ucap dokter muda itu sambil
merapikan kembali stetoskop didada bidangnya.
“ Jadi
bagaimana? Obat apa lagi yang harus kuhabiskan kali ini? “ Jawab Shiori lesu.
“ Hanya
multivitamin saja, selebihnya sudah sangat baik. Dan tolong kau jaga kestabilan
emosimu. Kau tak perlu memikirkan sesuatu dengan keras dan kau butuh teman
terpercaya yang bisa kau tumpahkan sedikit problema hidupmu. Tunanganmu misalnya,
ia pasti akan sangat senang kau mau membaginya. “
“ Dia
takkan senang, dokter...”
“ Maaf? “
“ Sampai
saat ini, aku tidak memiliki orang terpercaya yang mampu kujadikan sandaran,
meski dia tunanganku sendiri. Kau tahu pasti siapa penyebab utama pencetus akan
penyakitku ini. Dan ternyata hanya dialah obatnya. Namun tidak semudah itu,
dokter... Ia terlalu tenggelam dalam pekerjaannya dan selalu melewatkan waktu
untuk bersamaku akhir-akhir ini. Entah pernikahan macam apa yang kelak akan
kujalani bersamanya... “
“
Bagaimana dengan kakemu yang sangat ekstrim menyayangimu? Atau pengasuhmu? Atau...”
“ Mereka
hanya menaruhku digaris yang seharusnya kupijak, dokter... mereka selalu
meyakinkan posisiku dimana. Mereka selalu dan selalu mengatakan yang baik-baik
padaku, selalu menopangku, namun aku merasa... Aku menjadi terlalu lemah bahkan
untuk berdiri sekalipun. Hingga pada akhirnya aku tetap harus menjalani
pengobatan ini dan aku sangat senang bisa kembali mendapatkan posisiku sebagai
tunangan Masumi Hayami. Tapi... bukan Masumi Hayami yang ini... dia menjadi
orang lain sekarang... Aku seperti sama sekali tak mengenalnya....” Shiori
menceritakan semua permasalahannya dengan spontan dan menunjukkan kegalauan
hatinya.
Mata teduh
yang perak itupun menangkapnya. “ Kau bisa menganggapku sebagai kakimu,
Shiori...”
Wajah Shiori
menengadah. “ Maaf? “
“ Kalau
kau bilang kau tak mampu menemukan orang yang bisa menguatkanmu, jadikanlah aku
kandidatmu. Aku takkan mengecewakanmu. Aku tak tertarik pada kekayaan keluarga
dan martabatmu, akupun tidak suka kau terlihat lesu seperti mayat yang berjalan
tanpa jiwa, aku lebih suka kau yang ceria dan tersenyum, seperti pesta
pertunanganmu dahulu. “
Shiori
menjaga jaraknya. “ Maaf, dokter... Saya memiliki tunangan! Jangan kau
coba-coba untuk berbuat yang... “
“ Dan
aku punya seluruh waktu serta telinga dan mulut untuk kau miliki. Aku sadar aku
kini berbicara lancang. Bahkan aku percaya, keluargamu akan memecatku sebagai
doktermu bila hal ini sampai ketelinga mereka. Namun aku tak khawatir. Aku memiliki
bakat istimewa yang cukup bisa kubanggakan dan sangat dipercaya oleh kebanyakan
manusia. Kalau kau percaya pada pribadiku yang mampu membangkitkanmu dan
menjadikanmu Shiori yang baru, kau tahu dimana tempat praktekku. Aku selalu
disini. Dan semua nomer kantor serta ponselku sudah kau miliki, bukan? Mungkin aku
tidak sesukses dan setampan Masumi Hayami, namun aku cukup percaya diri aku
mampu membuatmu lebih bahagia lagi, Nona Shiori” jawab Dokter Richard dengan
tegas dan mantap. Wajahnya yang datar menunjukkan keseriusan dan
keprofesionalisme kerjanya. “ Baik Nona, terima kasih untuk kunjungannya, saya
mengharapkan jawaban lebih dari anda untuk kedatangan selanjutnya”. Dokter muda
itupun berdiri dan mengulurkan tangannya tanpa perduli akan jatuhnya rahang
Shiori yang hampir menyentuh lutut.
*
Hari itu akhirnya tiba juga. Hari dimana pertunjukan
Bidadari Merah menjadi sorotan utama jutaan pasang mata penduduk Jepang,
beserta pemimpinnya, Sang Kaisar. Panggung spektakuler didesain sedemikian rupa
oleh otak 5 arsitek yang sudah terkenal
gaungnya di dalam maupun luar negri sakura. Layar lebar , karpet merah, lampu
sorot, sound system, tirai sutra,
kursi eksklusif para pejabat dan pengusaha, balkon utama tempat khusus Kaisar,
hidangan kelas tinggi, sake dan hiasan bunga plum menyemarakkan malam bertabur
bintang. Langitnya cukup nyata memamerkan bulan purnama yang penuh. Para
undangan yang hadir sudah mulai memadati kursi masing-masing, sebelum mereka menunjukkan
surat undangan ber-cap khusus Kaisar kepada para wanita yang siap men-scanning sidik jari sebagai penangkal
masuknya penyusup.
Kursi Kaisar pun akhirnya terisi. Dengan Permaisuri
dan keluarganya, serta beberapa dayang dan pengawal dibelakang mereka. Mereka
tampak sangat agung dan berkharisma. Para undangan pun sempat menahan nafasnya
melihat kehadirannya melengkapi acara malam akbar itu. Kaisar mengangkat tangan
kanannya, melambai kepada semua undangan, member salam hangat. Tepukan riuh
menggema. Dan Bidadari siap menghadirkan dunia khayangan yang belum pernah
mereka saksikan sebelumnya.
*
“ Kau siap, Maya? ‘ Tanya Koji penuh dukungan, meremas
lembut jemari mungilnya yang mendadak dingin.
“ Ya, Koji. Aku siap. Aku takkan bohong, aku
gugup… Tapi aku sangat percaya pada
diriku aku pasti mampu. “ Ucap Maya dan membalas genggaman tangan Koji.
Mereka saling menyemangati satu sama lain. Maya dan
Kojipun menoleh kebelakang, memberikan senyuman penuh arti kepada Pak Kuronuma dan
seluruh pendukung pertunjukkan ini. Kuronuma memang agak berlebihan untuk
pergelaran kali ini. Mereka memang dicambuk kuat olehnya beberapa minggu ini.
Kuronuma ingin kali ini lebih istimewa dari biasanya. Ia mengincar angka 200% !
tak heran ada beberapa pemain yang jatuh sakit. Namun beruntung mereka tidak
sakit berat, karena Kuronuma pasti akan pusing luar biasa untuk mencari
penggantinya.
Tiba-tiba suara tepuk tangan riuh memecah suasana.
“ Itu tandanya. Semoga kalian sukses semua. Aku berdoa
dibalik layar ini, untuk berkat Tuhan malam ini. Dan untuk keegoisanku sendiri
akan hasil kerja kerasku… “ Canda Kuronuma sebelum melepas mereka melangkahkan
kaki keluar.
“ Jangan kuatir Pak, kami tidak akan takut dengan nama
Kaisar. Kali ini, kami akan menundukkan mereka semua… “ Balas Koji.
Gelak tawa
ringan seluruh pemain terdengar sedikit nyaring.
Maya hanya tersenyum simpul dan mengisi tubuhnya
dengan jiwa Akoya. Ia pun menutupkan mata, menghirup oksigen malam, mengisi
paru-parunya dan berjalan ringan kepanggung. Seperti sedikit terbang
kelihatannya. Es kering disekitar kakinya member efek luar biasa untuk
kedatangannya. Malam ini perias make-up Maya sepertinya akan menjadi tolak ukur
dan tidak akan mengherankan kalau akhir nanti ia akan mendapatkan ribuan client agar mendapatkan jasa bakatnya.
Karena malam ini Maya sempurna! Sangat sempurna lebih tepatnya. Alis matanya tipis
dan tegas, berwarna hitam lembut. Eyeliner dan bulu mata palsu serta maskara
hitam kebiruan membingkai kedua pasang matanya. Eyeshadow peach matte dan blush-on
light pinky meronakan kesegaran serta kulit Maya terlihat licin seperti
porselein mahal yang rapuh namun berharga jutaan yen. Bibirnya dipulas warna ruby pink oleh lipstick bermoisturizer tinggi dan menciptakan kesan glossy dalam waktu yang cukup lama. Dan
tak butuh waktu hitungan menit bagi Maya untuk membuat para penonton menahan
nafasnya jauh lebih lama dari mereka tadi melihat rombongan Kaisar. Ia sangat
memukau dan luar biasa. Mungkin kata-kata itulah yang ingin diluncurkan para
pria dari bibirnya kalau saja mereka tidak menahan diri dan menyadari kehadiran
pacar, tunangan atau istri mereka masing-masing. Koji pun tak luput dari
“serangan” tak langsung Maya ini. Ia sempat membatu dan mengira waktu berhenti
ketika ia melihat Maya selesai melewati puluhan ritual make-up.
Suasana hening tercipta nyata ketika Bidadari
membungkukkan tubuhnya, menghadap Kaisar yang berjarak sekitar 20 meter
didepannya.
“ Selamat malam, Tuanku Kaisar yang kuhormati… Terima
kasih untuk kesempatan yang anda berikan pada saya kami malam ini. Saya, Maya
Kitajima, merendahkan hati untuk sedikit memberikan pertunjukkan spektakuler
untuk anda beserta keluarga, serta seluruh penonton disini. Semoga pertunjukkan
kami ini mampu menghadirkan dunia lain kami untuk anda semua dan memberikan
kesan tersendiri bagi jiwa anda… “ Maya pun lebih membungkukkan tubuh dan
kepalanya, dan kemudian bangkit tegak serta mundur secara perlahan dari
panggung, memberikan kesempatan bagi pemain pembuka dunia khayangan.
Seluruh penonton masih terkesima hebat mereka sampai
lupa mengedip melihat salam lembut dari Bidadari Merah. Tak terkecuali mantan
rival Koji, Masumi Hayami. Ia tak menyangka gadis mungilnya bisa
ber-transformasi sejauh ini. Ia tak mendapatinya pada pertunjukkan-pertunjukkan
Daito sebelumnya. Sempat lupa kalau ia bisa bernafas. Dan matanya melebar,
berusaha menangkap sosok Maya dengan utuh dengan retinanya. Ia terlalu
terpesona . Dan
kesemua rasa kagumnya ini tak luput oleh mata cemburu Shiori yang merebak tertahan.
Gerakan
dewi khayangan versi Maya mewakili semua elemen. Lemah gemulai yang bagaikan
air, tegasnya api membara yang membakar, ringannya sang angin serta kokohnya
sang tanah. Perubahan dari bidadari ke sosok gadis desa terlihat sungguh wajar.
Dan kesemuanya menghipnotis para penonton, serta menghanyutkan birahi romansa
ketika sampai diadegan percintaan Akoya dan Isshin.
Mata
sayu penonton yang terenyuh dan senyum dikulum mewakilinya. Mereka berdua,
Akoya dan Isshin sampai sekarang tak pernah gagal menciptakan suasana kabut
penuh cinta itu. Ketika mereka berjalan bersama, duduk bersisian atau saling
menggenggam tangan. Ketika Isshin beristirahat dipangkuan Akoya dan ia
menciumnya penuh kasih. Ketika puji-pujian serta rayuan mereka yang saling
terlempar hingga sampai pada puncaknya, air mata dan tetesan darah yang
menggenang dari kapak Isshin. Dan untuk adegan ini, penonton wanita pada
umumnya, sibuk mengeluarkan sapu tangannya masing-masing dari tas tangan kecil
yang gemerlapan.
Tepuk tangan
riuh penonton menggema hebat manakala tirai sutra tersulamkan benang emas itu
pelan-pelan menutup dunia khayalan penuh fantasi. Mereka sesaat masih lupa
kalau mereka ini penonton, karena mereka masih merasakan dunia itu. Dunia dimana
mereka seakan-akan menjadi pelaku utama kehidupan sang dongeng. Mereka merasa
sangat puas. Karena pada pertunjukkan sebelumnya—bagi yang sudah pernah
menonton—mereka belum merasakan sampai sehanyut ini. Ternyata arus yang
diciptakan Kuronuma kali ini tidak main-main.
Sampai pada
akhirnya para pemain kembali bermunculan. Maya Kitajima, sang Bidadari Merah
yang masih berkimono putih berbahan ringan tersebut maju kedepan panggung. Ia membungkukkan
badannya penuh hormat kepada penonton utamanya, Sang Kaisar, dan disambut tepuk
tangan olehnya. Maya pun membungkukkan rasa hormatnya kepada penonton lain yang
bersedia mengikuti permainan aktingnya, dan lambaian tangan serta lemparan
senyuman lebar dipanennya tuntas. Diikuti Sakurakoji, dan para pemain pendukung
lainnya. Mereka tak kalah bersinar dari pemain utamanya malam itu, karena
mereka juga tampil mati-matian. Mereka juga tak mau mengecewakan Kaisar dan
berharap, karir mereka akan lebih mulus dari sebelumnya.
Akhirnya
tiba juga saat istirahat. Para pemain merayakan kesuksesan mereka dengan saling
berpelukan dan menangis haru. Bu Mayuko sudah berada diarea ruang santai, tidak
jauh dari kursi dimana ia nanti akan mengalirkan komentar-komentarnya dihadapan
para kuli tinta. Pak Kuronuma apalagi,
ialah bintang tersembunyi dibalik terangnya para aktris dan aktor karena para wartawan
sudah menunggunya diruang konferensi pers disebuah sudut pesta entah sejak
kapan. Mereka semua melepaskan sedikit atribut panggung yang cukup rumit
dibagian kepala, pinggang dan perhiasan-perhiasan lainnya dengan tujuan mereka
takkan tersangkut sesuatu ketika gelas sake kelas tinggi itu akan melalui
hidung.
Maya ada
diruangannya, sendirian. Ia menolak siapapun menungguinya ketika ia terbebas
dari atribut Bidadai Merah yang cukup membuat lehernya lelah. Ia melamun dalam,
menarik kembali sosok aslinya yang mungil dan ceroboh kedalam otaknya. Perlahan
wajah Akoya menguap dan terisikan kembali oleh Maya Kitajima. Ia melihat cermin
rias yang berbingkai lampu neon, dan menangis.
Wajah Masumi
Hayami tercetak kuat dibenaknya ketika ia mendapati pria hebat itu sedang
mengaguminya. Tak jarang Maya menangkap mata Masumi dan mereka saling terhubung
satu-dua detik. Ia sangat menyukai detrik-detik curiannya tapi juga sekaligus
menyakitinya. Sosok Shiori Takamiya berada tepat disisinya, ia menghadirkan
mata penuh harap dan penuh kata “ kumohon
Maya, biarkan aku memilikinya seumur hidupku.. “.
Meja riasnya
sangat penuh oleh kiriman bunga, boneka dan coklat berbentuk hati. Namun bunga
Mawar Ungu yang diharapkannya tidak ada. Maya sedikit bersikap kasar oleh
bunga-bunga lain untuk mendapatkan keinginannya. Ia tak membaca kartu-kartu
kecil yang terselip dan terikat kuat ditangkai masing-masing karangan yang
dihias susah payah. Ia tak perduli, karena ia ingin mendapatkan warna ungu itu
lagi. Tapi hasilnya nihil. Nol besar.
Jadi..... Kemarin itu benar-benar
sayonara ya, Pak Masumi.....
Maya
terduduk ditatami tebal berwarna coklat ringan. Ia menahan tangisnya
mati-matian, karena ia juga tak ingin mengecewakan sang perias. Eyelinernya hampir
saja rusak dan bulu mata palsunya sudah hampir meninggalkan posisinya. Ia terkaget
manakala seseorang mengetuk ringan pintu ruangan gantinya.
“ Maya,
apakah kau masih didalam? Jangan terlalu lama, Maya, karena setelah ini kita
akan sedikit menghadiri konferensi pers.”
Koji....
“
Sebentar Koji, aku sedang merapikan rambutku.. “ jawab Maya dengan gugup “ Ah...
Silahkan masuk Koji, aku tidak menguncinya. “
Pintu kayu
itupun bergeser kekiri dan kekanan, terbelah menjadi dua dan memamerkan ruangan
ber-aura tradisional Jepang yang sangat kental. Bahkan samurai asli pun
tersusun rapi di raknya. Lampu lampion kecil berisikan lilin yang temaram menghiasinya
,namun pencahayaan sangat terang dibagian meja rias Maya yang memang digunakan
sebagai pendukung tim make-upnya. Dan tak kalah limpahan karangan bunga bagi
sang Bidadari memenuhi tatami.
“
Ruanganmu hebat sekali, Maya. Kudengar, kau diperbolehkan menginap diruang
sebelah yang terhubung ruangan ini? “ Sapa Koji sumringah.
Maya
menoleh dan mengangguk ringan. Tanpa jawaban.
“ Kami
juga diminta dengan sangat oleh Kaisar untuk menginap semalam disini. Ini benar-benar
hebat Maya, Kaisar cukup memanjakan kita dengan memperbolehkan kita menikmati
suasana kerajaan meski kita tidak berada dilingkungan utama Istana, tapi... Ini
benar-benar sangat hebat! “ Koji tampak sangat antusias.
“ Akupun
juga senang... Koji...... “ Jawab Maya ringan dan tersenyum. Namun menggantung.
Dan Koji sudah cukup mengenal pribadi dan bahasa tubuh Maya.
“ Apakah
ada hal yang mengganggumu, Maya? Kau terlihat kurang bersemangat... Apakah...”
“ Aku
baik-baik saja, Koji... Terima kasih... “ Maya buru-buru meletakkan sisir kecil
berukir bunga Kamboja itu dimejanya. “ Ayo kita kesana, mereka pasti sudah
menunggu kita. “ Senyum Maya melebar.
Tangan kokoh
Koji menahan tubuh Maya disisi tubuhnya, memeluknya disamping secara sejajar.
“
Katakan ada apa, Maya... Kau tak bisa keluar kesana dengan aktingmu yang kacau
barusan. Kau hanya akan merusak malam ini dengan kepura-puraanmu yang terlihat
jelas ini. “
Mata
Maya melebar. “ Apa maksudmu, Koji. Sudah kukatakan aku baik-baik saja!”
“ Kau
sedih dan marah. Kau frustasi sekarang! Apa aku salah? “ pelukan Koji mengerat.
“ ......
Koji.... “
“ Masumi
Hayamikah pembuat onar perasaanmu sekarang, Maya? “
Maya menoleh
kewajah Koji dan menggeleng pelan.
“
Maafkan aku, Koji, tidak seharusnya aku begini.... Aku akan berusaha tidak
berbuat konyol dihadapan Kaisar dan para tamu undangan.... dan aku... Akan
berakting sempurna dihadapan Masumi Hayami. Kau bisa lihat nanti! “ jawab Maya berbohong
dan menutupinya dengan kepercayaan diri.
Koji menundukkan
kepalanya dan menaruhnya lembut dibahu Maya.
“
Kembalilah padanya, Maya.... “
Maya
tercenung. “ Maaf ? Kembali? Kepada siapa, Koji? “
“ Maya....
Aku tak mampu membahagiakanmu. Sekeras apapun usahaku... Aku... Sama sekali
bukan tandingan Masumi Hayami.... “
“ Koji!
Apa maksudmu?! “
“ Aku
memperhatikanmu, Maya. Sejak kejadian di ruang ganti pemain dulu, kau selalu
berakting. Aku tak mampu menemukan sosok aslimu. Dulu memang aku tertipu, kau
sangat hebat mengasah bakatmu, ya? Tapi semakin cerdik kau menutupinya, semakin
terlihat celanya dimataku. Kuahrap hanya akulah yang menyadarinya, Maya.. “
“ Koji,
kau bicara apa pada saat hubungan kita mulai dibangun ini? “ Telinga Maya
memanas. Bibir Koji hanya beberapa sentimeter dari dengang telinganya dan
sedikit menghembuskan nafas ringan berbau mint.
Koji
memeluk Maya lebih erat. “ Aku tak mampu membuatmu tersenyum sempurna, Maya...
Bukannya aku menyerah akan usahaku, namun kau selalu menolakku. Kau tak mau
menerimaku utuh dihatimu karena aku selalu melihat Masumi Hayami sedang
tertidur pulas dan damai disana. Kau menjadi sering mengunjungi dokter dan
mengkonsumsi pil-pil bodoh. Tubuhmu mengurus! Aku tak tahan dengan omelan Pak
Kuronuma yang selalu mengkritik dirimu ketika kau menginjakkan kaki di timbangan
badan. Karena angkanya sangat konyol! “
“
Koji...”
“ Stop
Maya, biarkan aku berbicara lebih banyak lagi! aku ingin berbagi denganmu, yang
terakhir kali.. Sebagai kekasih... “
Maya
mematung dan dadanya terasa sesak.
“ Maya...
Terima kasih untuk berbagai usahamu untuk menerimaku, namun maafkan keegoisanku
yang menuntutmu lebih. Aku sudah sadar sepenuhnya sekarang, siapa aku dimatamu
dan siapa kamu dihatiku. Aku tetap mencintaimu, Maya. Namun dengan cara yang
lebih berbeda. Dan kuharap aku bisa berhasil membahagiakanmu sebagai sahabatmu.
“ Koji menitikkan air matanya. “ Cukup sampai disini kau berakting, Maya. Terima
kasih... “.
Maya
membalas pelukan Koji dan mulai berkaca-kaca.
“
Koji.... Apakah harus dengan cara ini? Apakah kau tidak bisa lebih bersabar
lagi kepadaku? “ Jawab Maya memelas.
“ Aku
akan bersabar meski itu ribuan tahun, Maya... Tapi kau sendirilah yang tak
membukakan gerbang pintu hatimu kepadaku. Kau sudah mengunci Pak Masumi didalam
sana dan kau sengaja menghilangkan kuncinya untuk kutemukan. Apa kau sudah
mengerti, Maya... ? “ balas Koji tak mau kalah dan mulai melonggarkan
pelukannya. Maya menaruh tangannya didada bidang Koji dan mengakuinya.
“ Aku
tidak mampu melupakannya, Koji... Maafkan keegoisanku ini... “
Mereka saling
menatap di keremangan cahaya lilin lampion. Senyuman Koji mengembang. Garis jejak
air mata Maya dihapus ringan oleh jemari Koji yang hangat dan menangkup wajah
mungil yang penuh perasaan bersalah.
“ Tidak
apa-apa, Maya.... Suatu saat, aku pasti menemukan penggantimu. Kau tak perlu
mengkhawatirkan diriku, karena aku cukup populer dan terkenal sekarang. “ Canda
Koji.
Mereka berdua
tertawa kecil dan menghapus wajah duka masing-masing.
“ Kau
lihat, Maya? Ternyata sekarang kita menjadi lebih ringan dan bahagia? “
Maya
mengangguk setuju. “ I.... Iya..... Jadi... Begini rupanya, ya? “ Jawab Maya
gugup dan terlihat bodoh.
“
Sahabat? “
“
Saudara! Aku mengharapkan lebih dari sekedar sahabat, Koji.... “ Balas Maya
sembari tersenyum.
Mereka kembali
tertawa bersamaan.
“
Baiklah.... Adikku? “ goda Koji.
“
Hahahaha... Koji!!! Aku tak menyangka kau bisa lebih lucu dari Charlie Chaplin! “ sembur tawa Maya.
“ Aku bisa berakting menjadi dirinya kalau kau
tak keberatan. Tapi kumohon jangan malam ini. Aku bisa terlihat terlalu mirip
dengan setelan tuksedo ini! “ jawab Koji sambil mencari tongkat untuk
mematenkan aktingnya.
Maya
kembali tergelak.
“ Ah,
iya Maya..... Maaf... Bolehkah aku... Meminta kalung dolphinnya? “ Tanya Koji
berhati-hati.
Maya
meraba lehernya yang tidak kosong dan menunjukkannya. “ Aku harus...
Mengembalikannya? “
“
Menukarnya lebih tepat. Aku janji akan mencari penggantinya, yang melambangkan
persaudaraan kita ini. Bagaimana? “ Tawar Koji.
“
Baiklah, Koji... “ Maya meraih kait kalungnya dan melepaskannya perlahan ke
telapak tangan Koji yang terbuka. “ Janji kau akan menggantinya dengan hal yang
lebih baik lagi! “ Tuntut Maya dengan senyum kemenangan.
Koji
menyilang dadanya dan mengangkat telapak tangannya. “ Aku bersumpah! “
Tawa mereka
kembali meledak. Mereka sangat bahagia dengan kejujuran yang penuh kedewasaan
ini berlangsung. Mereka juga merasa sangat puas akan keputusan ini. Bohong kalau
rasa kecewa itu masih ada, namun suka cita mereka melampauinya. Koji menggandeng
tangan Maya keluar dari ruangannya menuju ruang konferensi pers dan rencananya dilanjutkan
dengan pesta syukuran dari keluarga Kaisar.
Senyum mereka
berdua sangat sumringah dan polos. Mereka bahagia malam ini. Bukan hanya
berhasil membuat pertunjukkan spektakuler, namun juga sukses melepaskan
kebohongan mereka masing-masing. Para pemburu berita sibuk mengabadikan
pemandangan ini. Dimata mereka, pasangan ini sangat luar biasa cocok adanya. Mereka
cantik dan tampan, sukses dikarir dan memiliki bakat yang luar biasa. Kurang
apalagi? Tepuk tangan meriah menyambut
kedatangan bintang utama malam ini. Berbagai macam pujian dan godaan
menyirami mereka. Bahkan ada yang menanyakan tanggal pernikahan mereka, dan
hanya dijawab penuh senyum oleh Koji dan Maya, tanpa jawaban.
Maya merasakan
dingin dan tidak nyaman mendadak.
Apa ini? Aku pernah merasakan
ini.....
Ia mengedarkan
pandangan matanya dan mendapatkan jawabannya.
Masumi Hayami!
Pria berahang keras berbalut tuxedo hitam elegan terlihat cukup menonjol dikalangan para
undangan yang tak lain karena ketampanan dan tinggi tubuhnya diatas rata-rata.
Ia terlihat tenang dan mapan. Gelas Champagne
yang ramping itu makin terlihat tipis mengayun lembut ditelapak tangannya dan
terlihat makin sempurna ketika gadis cantik berambut panjang dan hitam legam
itu berada disisinya sejak ia turun dari Limo. Ia tak lelah tersenyum palsu dan
menjabat tangan para undangan yang memberikan pujian dan dukungan untuk
kesuksesan Daito karena berhasil menggaet drama legendaris ini sampai di Istana
Kaisar. Malam ini adalah malam yang istimewa.
Pesta syukuran yang diadakan Kaisar ini ternyata
adalah hadiah untuk kado ulang tahun anak pertamanya yang akan menikah tahun
depan—yang tentu saja dengan mudah diendus wartawan. Temanya tetap pada kata “ Tradisional Jepang”. Ruangan luas yang
konon mampu menampung 5000 orang itu disusun dan dirancang oleh para ahli. Rangkaian
bunga menyusuri jalan utama, membentuk lorong ranting bertabur bunga plum palsu
namun kualitasnya terlihat seperti aslinya. Kaisar sangat menyukai lampion, tak
heran ribuan lampion mulai dari ukuran setelapak tangan hingga yang berdiameter
30 sentimeter pun ada. Namun lampu-lampu kristal gantung tetap pada
tempatnya.meja jamuan dan deretan pelayan berpakaian yukata siap bertempur hebat
memanjakan perut para undangan. Lantainya tertutup sempurna oleh karpet coklat
hangat yang tebal namun tidak menghilangkan nilai tradisionalnya sedikitpun. Sempurna!
“ Apa kau lelah, Shiori? “ Tanya Masumi tenang.
“ Tidak… Tentu saja tidak, Masumi. Aku akan lupa kalau
aku memiliki kondisi tubuh yang buruk karena acara ini, dan…. Hanya dengan ada
disisimu, aku merasa jauh lebih baik. Terima kasih…”
Masumi tersenyum. Palsu.
“ Sebentar lagi aku akan ke
sudut pesta ini. Akan ada sedikit konferensi pers disana. Kalau kau lelah
berdiri, aku akan mengantarkanmu ke kursi yang sudah kupesan khusus untukmu,
sangat strategis dan kau bisa melihatku jelas. Kursimu ada di depan Ayumi
Himekawa , jadi kau tak perlu ingung mencari teman. “
Shiori tersipu. Tapi ia tetap berhati-hati. Akhir-akhir
ini sikap Masumi sangat ganjil. Dikantor ia menjadi Raja Neraka yang
menyebalkan, tapi disini, disisi Shiori Takamiya yang dulu pernah ia tolak, ia
berubah menjadi Dewa Surgawi. Shiori sudah mulai lebih menggunakan otak dan
logikanya ketimbang terbutakan lagi oleh rasa cinta.
“ Baiklah Masumi, tolong antarkan aku sekarang… “
Masumi menggandeng lembut jemari Shiori dan menaruhnya
dilengannya yang kokoh. Mereka berdua benar-benar membuat tiap pasangan disana
menjadi cemburu dan iri. Bagai lukisan hidup, pikir mereka seketika. Maya memperhatikannya
dari kejauhan dan tersenyum kecut. Ia memang sudah di”bebaskan” oleh Koji
barusan, namun bukan berarti hatinya ikut-ikutan bebas. Dan kalau ia cerdik, ia
akan berusaha sekuat tenaga mengembalikan seperti semula kondisi batinnya yang
berserakan. Malam ini.
Akhirnya kursi-kursi para bintang terisi semua. Yang pasti
ada si Bidadari Merah dan kekasihnya—Maya&Koji, Sang Sutradara__Kuronuma,
Sang Promotor—Masumi , Ketua Persatuan Drama dan wakilnya, serta Legendaris
Hidup sang Mayuko Chiguza.
Blitz lampu dan ributnya para wartawan yang berebut
jawaban dimulai. Ada yang basa-basi menanyakan kesehatan mereka semua—dan tentu
saja ditertawakan wartawan senior—sampai ke masalah pribadi yang nyata-nyata
tak ada hubungannya dengan pertunjukkan. Kaisar sudah mengizinkan akan
konferensi ini, asal tidak menorehkan skandal dan hal-hal buruk lainnya yang
dapat mengotori dinding istana. Semua dijawab dengan lugas dan jelas, tak
jarang banyak candaan meluncur dari Pak Kuronuma dan kepolosan Maya dalam
menjawab semuanya. Mereka pasti sahabat yang baik dan kompak dalam reinkarnasi
sebelumnya karena surtrada dan aktris ini saling melengkapi. Bu Mayuko dan
Ketua Persatuan Drama hanya menajwab dengan jawaban yang dasar-dasar saja
bahkan cenderung seperti dejavu karena mereka mendapatkan jawaban yang seperti
ini ketika konferensi semacam ini diadakan di Gedung Amaterasu—mungkin karena faktor
usia? Entahlah… Koji hanya tersenyum simpul ketika ditanyakan kapan ia akan
membawa Maya ke altar Gereja. Namun semua hening serentak manakala Masumi
Hayami berdiri dan mengangkat tangannya, meminta perhatian penuh dari semua
pasang mata yang menatapnya.
“ Mohon maaf, Tuanku Kaisar, Tuan dan Nyonya serta
para rekan-rekan wartawan, saya ingin sedikit mencuri moment berharga mala mini,
hanya beberapa menit saja, semoga kalian mengijinkan saya. “
Mereka semua tegang dan penuh tanda Tanya melihat sikap
Masumi yang misterius. Tak jauh dari kerumunan wartawan—dibelakang timbunan
kuli tinta—Tante Nadeshiko dan sahabatnya, Ryuzaki bersorak tanpa suara dan
mengacungkan jempol terbaik mereka keudara tinggi-tinggi. Masumi melihatnya dan
menghembuskan nafas berat dengan tidak kentara, kemudian ia melangkah turun
dari podium setinggi 20 sentimeter dan mendatangi seorang wanita cantik yang kebingungan.
“ Masumi? “ Tanya wanita itu mengambang. Ia tak pasti
dengan situasi tak terbaca ini.
Masumi menekukkan lutut kirinya ke karpet dan
memasukkan tangan kanannya kekantong jas hitamnya perlahan. Ia menemukan kotak
perhiasan berukir dan membukanya. Sebuah cincin!
“ Shiori Takamiya, maukah kau menjadi menikahiku,
menjadi istriku dan pendamping hidupku seumur hidupmu. Untuk selalu bersamaku? “
Mata para hadirin membulat dan mungkin sudah banyak
yang copot karena teramat kaget. Rahang mereka membuka dan kepalan tangan yang
antusias, bahkan ada yang spontan meloncat kegirangan.
“ Masumi???? “ Shiori mendesis tak percaya akan
lamaran pria yang sangat ia mimpikan akhir-akhir ini ditiap malamnya.
“ Bagaimana Shiori? Maukah kau mengenakan cincin ini…
Dan…. Menikah denganku? “
Mata Shiori memburam berkaca-kaca. Ia bahagia. “ Tentu
saja, Masumi! Aku sangat memimpikan tuk menikah denganmu! “
Sorak sorai para undangan langsung membahana kuat
mengisi ruang pesta. Mereka ikut senang akan peistiwa langka yang luar biasa
hebat. Pertunjukkan drama legendaris di Istana Kaisar dan lamaran Sang Pangeran
Daito, Masumi Hayami. Kumpulan wartawan menjadi liar akibat terlalu bersemangat
yang tak lain karena berita ini dapat menambah kepulan asap didapur istri
mereka masing-masing , namun aksi mereka berhasil diredam dengan cepat oleh
petugas keamanan yang memang sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi kondisi
ini. Masumi menarik Shiori berdiri mengikutinya dan memeluknya hangat. Memamerkan
miliknya yang akan menjadi selamanya. Koji melihat itu dengan tatapan tak
percaya. Ia mengerang dan mengertakkan gigi-giginya dan lupa kalau kepalan
tangannya mampu terlihat konyol. Ia pun melupakan kondisinya yang sudah berdiri
untuk lebih menyakinkan indra penglihatannya akan drama kisah nyata barusan.
Maya….
Kojipun dengan cepat menoleh ke kursi disisi kanannya
dengan mata nanar. Pemandangan akan wanita yang tadi ia lepaskan menjadi
terlalu menyakitkan. Ia melihat Maya tengah tersenyum bahagia, memperlihatkan
rentetan giginya yang putih dan terbingkai bibir merah muda yang glossy segar.
Maya… Kumohon
jangan perlihatkan akting semacam ini lagi didepanku… Sadarkah bahwa kau tidak
sejenius yang dipikir oleh otak tiap orang?
Ancur dunia dah klo Masumi patah hati...kekekekekekek
ReplyDeleteKasian amat itu si akang. Moga2 aja Shiori tau diri. Maya jg jgn sok jual mahal gtulah.
Gak sabar nunggu apdetnya berikutnya. ^^
wkwkwkwkwkk... ancur hatiku XDDD
Deletemakasih buat komengnya sistah, ditunggu jg kritik dan sarannya ^^
Ukh...Masumi jadi mengerikan...
ReplyDeletesetujuuu!!!! *loh*
Deletemengerikn...
ReplyDeleteMasumi brubh, daito jd neraka dunia
mg maya menyadari apa yg dlakukn ny adl menyakiti 2 orang
mg akoya sang BM tdk akn khilangn ishien ny di dunia nyata
#xiaolong li
aku pun berharap cepet2 deh mereka ga membohongi diri mereka masing2 *ngelap airmata... halah* XD
Deleteya ampunnn...punya boss kayak gitu makan ati...tapi kok ya ganteng..hehehe...
ReplyDeletetq mom, senin lagi yah....^^
hahhaa.... okee.. senin yha sistah.. ni aja aku lg nyicil bikin ketikannya ^^
Deletealamak,hbs ini giliran siapa lagi yg mau di pecat sama masumi... jgn2 mizuki ama hijiri lagi ckckckckckk
ReplyDeleteyang pasti bukan saya XDD
DeleteHuuuhhh...masumi koq jd menyebalkan
ReplyDeleteiya tuuuhhh T^T
Deleteaduh si akang masumi tea..
ReplyDeletekl begini terus
bisa abiz tuwh smua karyawan daito
maya, hurry up get back to masumi dwehhh
kenapa sih suka banget menyakiti hati sendiri >.<
itulah dia... makanya saya nih lg menekankan akan pentingnya sebuah " KOMUNIKASI"... ga cuman diem trus ngeloyor pergi atau pura2 ga kejadian apa2, fufufuuf *ngelirik maya-masumi-koji-shiori XD
Deletewaduh si akang masumi kenapa tuh ? patah hati atw PMS noh ?
ReplyDeletemoga2 pas lagi marah2 gitu si maya datang , jd bs cooling down sambil cipika cipiki cibiba
hahhaa... jadi neraka dunia nih ceritanya XD
Deleteiiihh director patah hati, ngamuk...ga usah pecat2 org kalee...
ReplyDeletemending lagu olga aja noh...
Hancur hancur hancur hatiku
Hancur hancur hancur hatiku
Hancur hancur hancur hatiku
Hatiku hancur
XDDDD
ampooon dah klo jadi olga ,wakakakka *bayangin masumi goyang ngebor* =)))
Deletepak masumi...ituh ada satu orang lagi yg harus dipecat....nona shiori wkwkwkwk... :p
ReplyDeletewakakkaka... betul juga! XD
Deletehoo mana apdetan minggu ini sis mary? ^^
ReplyDeleteAq setuju ma cupid,shiori dipecat aja. dengan sangat tdk hormat! Tp sebelumnya ksh tw dulu bahwa yg bkn orang2 itu dipecat adalah shiori. Biar dia tau segimana gak suka-nya masumi harus bersanding sm dia.
wakakkakakaka... sadissss XDDD maap yha, kemarin ada urusan mendadak, kaga jadi apdet dah XDD nih udah kuapdet dikit yha^^
Deleteaaarghhhhhh biarkan shiori dengan dokter itu
ReplyDeletebiar ga ganggu Masumi lagi
aku mendukung mu Mom GINA ^^
duh moga" Dr. Richard Jefferson bisa ngebuat shiori ngelepasin masumi
ReplyDeletesmoga shiori cepet melepaskan masumi
ReplyDeletewah ternyata ada jg yg suka ma shiori padahal dia cewe egois, tp gpp yg penting shiori jauh dr masumi
ReplyDeleteakang masumi cepet ya rebut maya dr koji biar daito tenang kembali, jgn sampe mizuki apalagi hijiri jg dpecat
#xiaolong li
ahhhhh pak dokterrrr
ReplyDeletesayah juga maw sama situ
wekekeke...
mommmiieee...!!!
napa dikit banget innih...?
scene MM nya mannaa...?
T.T
Tidaaak! Pas seru-serunya..koq to be continued. :( Waah semoga masumi gak salah paham, Maya Masumi segera menemukan jalan mereka untuk bersatu. Bravo koji ! Eh,neng jambul,ikutin tuh jejak koji!
ReplyDeletegood job Koji...
ReplyDeleteTatap matamu bagai busur panah.
ReplyDeleteYang kau lepaskan kejantung hatiku.
Meski kau simpan cintamu masih
Dekap nafasmu wangi hiasi suasana
Saat ku kecup manis bibirmu.
*roman picisan by Dewa 19 ^^
Pas bener neh lagunya
Sama lagu separuh nafas juga sis. Kayaknya cucok tuh walopun gak semua syairnya.
Deleteasyik maya udh putus ma koji
ReplyDeletemg maya dan masumi cepet baikn
Huaaa! Tidak! Tidak! tidak 1000x! Masumi bodoh! Udah sekalian aja Koji bikin pengumuman kalo dia sm Maya udah putus. Bias nyesel mampus tuh Masumi. Ayo dokter,rebut Shiory!
ReplyDeleteajeeee gileeeeeee alamat nyesel dah tuh si Masumi ama Maya ...rasain dah tuh
ReplyDeletemom Maryyyy.....kok gini sih....*ga relaaaa...
ReplyDeleteah.. kok malah masumi ngelamar shiori?? g rela
ReplyDeletemasumi bodoh, masumi bodoh, masumi bodoh
mga2 bsk.a ada berita klo maya ma koji putus biar nyesel tuh masumi
mom mary, kok gini sih
ReplyDeletemasumi ntr nyesel loh
biasa nie klo mslh prasaan perlu dgetok kepalany
huaaaa masumi dah streesss tuh XDDD
ReplyDeletedokter richard~~
ReplyDeletecepetaann kawinin shiorii~~ *nodong p dokter pk samurai*