Monday, 16 April 2012

Paragraph 06



I'll Stand By You


Malam ini tampak seperti malam-malam sebelumnya. Apartement yang sepi, security yang selalu berusaha mendapatkan poto bersama, lorong yang panjang dengan lampu temaram dan berakhir di kamar yang luas dan tidak ada yang menyambut. Maya melangkahkan kaki lelahnya menuruni 2 anak tangga kecil menuju ruang sofanya. Ia pun mengelus lembut sofa yang dulu pernah diduduki orang selain dirinya.

Pak Masumi…

Tak urung iapun membenamkan wajah sedalam-dalamnya kesana. Meledakkan semua tangis dan jerit hatinya. Ingin rasanya menghabiskan seluruh air matanya sampai kering tak berbekas dan menguap. Tapi semakin ia menangis, semakin ia mengutuk perbuatan konyolnya tadi. Ia terlalu mencintai pelindungnya. Terlalu merindukannya. Kalau saja ia memiliki sebuah kemampuan yang ajaib, ia ingin amnesia.

Pak Masumi…. Pak Masumi!!!

Kembali ia meneriakkan nama yang dicintainya. Berharap juga ia memiliki kemampuan telepati yang tak membutuhkan kekuatan tehknologi, agar sang pria mendengar dan memaafkannya . detik demi detik yang berubah jadi menit ke menit, sejalan dengan tangis Maya yang semakin habis, berubah menjadi dari jam ke jam. Rasa pedih teramat mulai merayapi sudut matanya dan bengkaknya mulai merusak wajah manisnya yang kuyu.

Ia mengingat kembali kejadian di studio Daito beberapa jam yang lalu. Masumi meninggalkan Maya dan Koji yang terpaku dengan “kenang-kenangan” dari Masumi yang mendadak dibibir Maya. Maya sangat menyukainya, ia sangat merindukan bibir maskulin itu menyapu kembali bibirnya. Namun ia tahu, itu hanya untuk yang terakhir kali. Dan takkan lagi terjadi. Setelah puas ia merobek sendiri hatinya, ia menuju toilet. Meneteskan 1-2 tetes obat ringan dimatanya agar tak nampak merah dan kembali ke studio. Koji telah terlebih dahulu disana dan ia tak mendapati Masumi. Hanya Mizuki yang diminta Masumi tinggal untuk memberikan laporan akan perkembangan pertunjukkan. Tanpa basa-basi, Mizuki pun mengatakan kalau kehadirannya sekedar untuk kepentingan bisnis dan tak lebih. Senyum kecut Maya timbul. Biar bagaimanapun juga, ia berharap Masumi tetap ada di sini, mendampingi dan menonton latihannya. Tapi sekali lagi, kini harapan itu cuma bisa jadi mimpi kosong belaka.

Latihanpun kembali dimulai. Segenap pemain mengerahkan kemampuan terbaiknya, mengingat ada sekretaris ulung dan efisien yang terus menonton. Dan hal-hal kecil yang dianggap agak kurang “menjual”, selalu ia bahas bersama Pak Kuronuma. Latihan kali ini lebih berat, mengingat Kaisar Jepang penonton utamanya. Tapi hal ini tak berlaku bagi Maya. Kaisar takkan bisa sebanding dengan Masumi Hayami yang sudah ia lukai barusan dengan sengaja. Dan hal itu masih juga melukainya. Entah sudah berapa kali Pak Kuronuma menegur Maya dengan cara halus hingga super ekstreme karena akting Maya kali ini sangat hambar dan kurang menjiwai perannya. Mereka sama-sama frustasi dan banjir keringat. Mizuki bisa memakluminya dengan beralasan “ mungkin Maya menjadi sangat gugup mengingat Kaisarlah yang memesan pertunjukkannya, Pak Kuronuma. Berikanlah ia kesempatan untuk beristirahat dan memperbaiki aktingnya besok “

Dan Kuronuma pun mengangguk ringan sambil menggaruk belakang kepalanya yang sudah seminggu tidak ia bersihkan. Ia lupa arti dari kata “keramas” apabila pekerjaannya sedang sangat menumpuk. Tak heran beberapa pemain berusaha mati-matian mematikan indra penciuman mereka bila sedang diarahkan Kuronuma walau hanya berjarak 1 meter.

Koji diminta untuk memastikan keselamatan Maya sampai di apartementnya sendiri karena Maya terlihat terlalu pucat dan kurang sehat, sehingga tidak bisa dijamin ia takkan menjatuhkan dirinya di trotar sudut jalan. Di mobil Koji pun, Maya sama sekali tidak membuka suaranya. Ia hanya melamun keluar jendela. Banyak sekali pertanyaan yang mengganjal dihati masing-masing, namun mereka sendiri kebingungan untuk menyampaikannya tanpa perlu saling melukai. Lidah terasa sangat kelu dan kehilangan kemampuan melafalkan 1 huruf saja. A misalnya.

Sesampainya di depan gedung apartement, Maya mengucapkan terima kasihnya dan langsung berlalu menuju pintu utama. Tanpa senyum lebar, hanya sebuah senyum formal yang tipis dan ringan. Koji menatap punggung sedih Maya tanpa henti hingga tubuh mungil itu menghilang disana.

Maya.... Aku tak tahu... ternyata sedalam itu ya rasa cintamu pada Pak Masumi? Kalau memang kau mencintainya, lalu kenapa hingga kini kau tetap memakai kalung dolphin dariku itu? Kau anggap apa aku ini?

Akhirnya kata-kata yang ingin diucapkan Koji meluncur juga, namun tanpa Maya di kursi penumpang. Dan ia sendirian. Senyum kecut Koji pun nampak, dan ia mulai menginjak pedal gas serta memacu mobilnya perlahan meninggalkan apartement kekasihnya.

                                        *

Bath-up hangat dengan aroma lavender bercampur jasmine  menyeruak di kamar mandi Maya. Buihnya meluap-luap, dan Maya sangat menyukainya. Ia mulai mencelupkan ujung jari kakinya, lalu betisnya, diikuti tubuhnya hingga sebatas leher. Ia pun mulai mengatur nafasnya dan berusaha menikmati suasana aromatherapy aroma bunga yang diharapkannya mampu menenangkan perasaan galau serta menetralisir perasaan hatinya yang pahit.

Aaah.... nikmat sekali.... dalam hati kecil Maya menyetujuinya.
Ia mulai mengusap lembut buih-buih putih dikulit putih telanjangnya, sambil memijit ringan untuk menghilangkan keletihannya. Ujung jari kakinya terasa agak linu. Ia ingat sewaktu berakting tadi, ia lebih sering berjinjit daripada biasanya. Karena Pak Kuronuma yang membuat ia terus mengulang adegan tersebut entah berapa kali. Ia tidak ingat. Yang ia tahu, kuku kaki kelingking kanannya terluka dan membuat kuku kakinya hanya separuhnya saja. Awww......

Rambut panjangnya pun tak lepas dari perlakuan manja Maya. Ia mulai melumuri rambutnya dengan shampo madu dan jeruk, yang berguna menutrisi dan merevitalisasi akar-akarnya. Ia pun mencuci tangannya dan mulai menjelajahi wajahnya secara perlahan. Dan jemari itu berhenti dibibir.

Bibir ini..... tadi Pak Masumi menciumku lagi... dan ia menciumku... didepan Koji... DI DEPAN KOJI!!!! Wajah Maya pun memerah, dan bukan air hangatlah penyebabnya. Tapi... Koji sama sekali tidak bicara apa-apa mengenai kejadian tadi. Ia hanya memandangiku dan berkata akan kembali keruang latihan begitu kondisiku stabil, dan ia berjanji akan mengantarkanku pulang ke apartement. Itu saja.... dan dimobil tadipun, kami sama sekali tak bicara apa-apa..... Hati Maya mulai terusik lagi. Apakah... Koji mulai semakin menyadari rasa cintaku kepada Pak Masumi? Bagaimana kalau ia merasa kupermainkan? Bagaimana kalau ia merasa hanya kumanfaatkan dan kuanggap sebagai barang cadangan? Oh, tidak... Tidak.... Apa yang sudah kulakukan???

Buru-buru Maya membilas dirinya. Mengeringkan tubuh dan mengenakan jubah mandinya. Ruang kamar menjadi tujuannya, bukan piyama untuk dikenakan namun handphone-nya. Ia memencet sebuah tombol dan berharap Koji segera mengangkatnya.

Mati. 

Rupanya Koji mematikan HP-nya. Oh, mungkin ia kehabisan baterai, Ia selalu lupa untuk me-recharge HPnya. Maya berusaha menghibur dirinya dengan bersikap optimis. Mungkin ia mengirimkan email padaku, biasanya tiap malam, selepas latihan, ia selalu mengirimkan emailnya dan beberapa foto curiannya dan dengan tega mengupload foto-fotoku yang buruk. Ia mulai membuka email. 

Kosong.

Maya kembali gelisah dan melupakan berbagai releksasi yang tadi ia jalani dengan susah payah. Ia kembali berusaha menghubungi Koji namun gagal. Akhirnya ia menyerah. Ia mulai membuka sebuah website yang memuat dirinya. Ia terkadang mengunjungi website yang dikelola dengan baik oleh pihak penyelenggara untuk mendongkrak penjualan Crimson Goddes, mulai dari pertunjukan itu sendiri, berbagai souvenir bahkan kostum yang sangat mirip dengan yang digunakan Maya diatas panggung. Ia melihat performanya sendiri dalam sebuah cuplikan rekaman pendek dan kembali menyelami perannya. Tulisan berwarna merah menghiasi sisi dari website yang berfungsi menarik perhatian para pengunjungnya.

Akoya... Bidadari Merah.... Ia jatuh cinta kepada seorang manusia dan tak mampu menggapainya. Dan pada akhirnya, ia harus berkorban untuk kebaikan seluruh umat manusia...
.
Mata Maya membulat lebar. 

Dan pada akhirnya, ia harus berkorban untuk kebaikan seluruh umat manusia....

Maya menegakkan tubuhnya yang masih berbalut jubah mandi dan menutup mulutnya yang menganga lebar.

Ya Tuhan... apakah semua pemeran Bidadari Merah pasti mengalami ini? Bu Mayuko yang kehilangan Pak Ichiren, dan sekarang..... sekarang.... Aku yang kehilangan Pak Masumi.... Air mata Maya mulai menggenang. Apakah kami pantas mendapatkan nasib seperti ini?? Salahkah aku mencintainya, Tuhan???? Dan Maya mulai mencoba menyampaikan perasaannya kepada Sang Pencipta.

Sekarang air matanya sudah membasahi kedua pipinya dan kembali menganak sungai. Ia sudah melupakan keinginannya untuk menghubungi Koji, karena Masumi Hayami lah yang sangat ingin ia temui sekarang.

Ia menutup wajahnya. Berusaha keras untuk tidak membengkakkan kembali matanya yang tadi sudah sedikit kempis dan ia berpikir, mungkin besok kacamata hitam akan ia gunakan seharian, atau ia takkan berangkat latihan sama sekali.


                              *

“ KAU KUPECAT! “

“ Ta... Tapi Pak Masumi... Saya.....”

“ Mizuki, segera urus semua hal yang ia butuhkan untuk segera meninggalkan kantor ini! “

Mizuki bingung, ia menghampiri wanita muda yang sedang panik dan hendak menangis.

“ Tapi Pak Masumi.... Nona Takeda sedang mengandung. Ini sudah berumur sekitar 7 bulan dan sebaiknya kita maklumi apabila ia memang belum sempat menyelesaikan laporan yang anda butuhkan, Pak Masumi... “ rajuk Mizuki sembari mengelus bayi kecil yang sedang tumbuh dan berdoa semoga kelak bayi ini tidak tumbuh menjadi pria dingin yang sedari pagi tadi hanya membentak dan membentak seluruh karyawan Daito.

“ Aku membutuhkan laporan itu segera! SEKARANG! Apa kau sudah menyelesaikan laporan itu SEKARANG nona Takeda? “ teriak Masumi tanpa memperdulikan karyawan lain yang menontonnya menciptakan neraka dunia.

“ Pak Masumi, kumohon beri saya waktu 10 menit lagi, ini sudah mau selesai... Saya.. pasti menyelesaikannya dan akan segera menyerahkan langsung kepada anda. Kumohon... Jangan pecat saya... 2 bulan lagi saya akan melahirkan.. Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini, Pak Masumi... kumohon..... “ ucap Nona Takeda terbata-bata sambil menangis sesenggukan.

“ Mizuki, ambil alih pekerjaannya untuk sementara. Aku sudah punya pengganti posisinya besok. Bantulah ia menyelesaikan segala hal yang ia butuhkan dan segera berikan laporan itu dimejaku, 10 menit dari sekarang! “

“ Pak Masumi...!? “

“ Segera, Mizuki! “ ucap Masumi tanpa menghiraukan teguran Mizuki dan tak menoleh sedikitpun menuju ruang kantornya.

“ Nona Mizukiiiiii!!! “ pecah sudah tangis Nona Takeda. Beberapa karyawan wanita menghampiri dan memeluknya bergantian. Kantor Daito kini tak ubahnya seperti parade tangisan menyayat. Ada yang diskors bahkan ada yang sampai dipecat. Masumi menuai banyak umpatan dan celaan dibelakang punggungnya sejak pukul 9 pagi tadi. Dan ini awal hari yang sangat Mizuki benci.

Mizuki sudah menyelesaikan urusan Nona Takeda dan memesan taxi untuk mengantarkannya pulang. Ia memberikan pesangon lebih kepadanya dengan menggunakan sedikit uang pribadinya. Mizuki kembali mengelus ringan perut bundar Nona Takeda dan menangisi kepergiannya. Laporan sialan yang dibutuhkan Mizuki sudah diselesaikan dan sekarang sedang diperiksa oleh Masumi yang seakan-akan mencari cela untuk dijadikannya sebagai alasan bagus untuk berteriak dan kembali membentak.

“ Baiklah Mizuki, terima kasih. Aku sudah bisa memikirkan konsep matang yang akan kubutuhkan. Kau boleh pergi. “

“ Latihan Maya kemarin cukup kacau, Pak Masumi.. Apa yang anda lakukan padanya? “ ucap Mizuki tanpa basa-basi.
Pupil Masumi melebar, namun tetap menghadap laporan-laporan dan membatasi daya edar penglihatan Mizuki yang berusaha menangkap basah kegelisahan bos neraka ini. 

“ Apa maksudmu, Mizuki? Bagaimana mungkin latihannya menjadi kacau? “

“ Ia menjadi kacau setelah anda ikut masuk keruangan yang berisikan Koji dan Maya saja , Pak Masumi. Pemain lain mampu memerankan perannya sebaik mungkin, namun Maya sudah berhasil meledakkan bom atom diotak Pak Kuronuma berkali-kali. Ia menjadi pucat dan saya dengar hari ini dia tidak masuk untuk latihan. Teman dekatnya, Rei, mengatakan ia akan mengantarkan Maya kedokter hari ini. “

“ Dia... Sakit? “ Masumi mulai gelisah namun ia tetap memasang wajah kakunya.

“ Sakit Maya sama sekali tak sebanding dengan Nona Takeda yang barusan anda pecat, Pak Masumi... Saya sudah sangat mengenal baik Nona Takeda, ia pekerja keras! Ia bekerja sangat profesional selama ini, dan Daito sungguh sangat merugi melepaskan Nona Takeda begitu saja. Saya yakin, perusahaan pesaing kita sudah mengincarnya apabila ia mulai terendus kalau sekarang ia berstatus pengangguran! Sakit Maya tidaklah parah, ia hanya kelelahan, dan hanya gangguan emosional. Ia tidak mengandung sebesar 7 bulan dan hendak melahirkan 2 bulan lagi, saya harap anda tidak salah mengambil langkah, Pak Masumi“

“ Nona Mizuki...”

“ Ya? “

“ Keluar dari ruanganku sekarang juga “

Mizuki menghela nafas berat. “ Baiklah... Pak Masumi....”

Mizuki keluar ruangan dan kembali ke meja kerjanya. Ia mendapat laporan dari sekretaris lain akan kedatangan Nona Shiori sekitar 15 menit yang lalu dan sedang duduk diruang tunggu. Mizuki pun bangkit kembali dari kursinya dan hendak menemui cucu Takamiya tersebut.

“ Selamat siang, Nona Shiori.. Apa anda hendak menemui Pak Masumi? “ sapa Mizuki sopan.

“ Ah, selamat siang, Mizuki.... Apa Masumi sekarang bisa kutemui? Aku hendak mengajaknya makan siang di restoran dekat sini. “

“ Maaf Nona... Sepertinya Pak Masumi sedang sangat sibuk. Pekerjaannya akhir-akhir ini semakin menumpuk, dikarenakan Kaisar sudah meminta Daito secara resmi untuk menyelenggarakan Bidadari Merah secara eksklusif untuk keluarga kerajaan. Mohon Nona menunggu sebentar lagi, saya akan membantu Pak Masumi untuk segera menyelesaikan pekerjaannya dan menemani Nona untuk makan siang. “

“ Ah... Begitu rupanya... “ Shiori mengerutkan keningnya. “ Mizuki, apakah ada yang berubah dengan kantor ini, terutama dilantai ini? Aku mendapati beberapa sekretaris menangis dan gumpalan tissue serta sapu tangan ada dimeja mereka. Mereka tampak sangat murung, apakah ada hal yang menyedihkan? “

Mizuki menahan nafasnya 2 detik untuk menjelaskan keadaannya kepada Shiori. Ingin sekali ia menghina habis-habisan tunangan wanita ini tanpa ampun, namun ia tak mau merendahkan gengsinya begitu saja.

“ Nona Takeda tadi pagi dipecat oleh Pak Masumi, Nona... “ ucap Mizuki perlahan.

Shori sampai bangkit berdiri mendengarnya. “ Di... Dipecat?? Dipecat katamu??? Bukankah Nona Takeda sedang mengandung? Seminggu kemarin ia membiarkanku mengelus perutnya dan aku merasakan bayi mungilnya sehat dan menendang hebat, bagaimana bisa ia dipecat? Katakan padaku alasan Masumi memecatnya, Mizuki! “ Shiori mulai tak sabar menuntut jawaban.

“ Nona Takeda terlambat 10 menit menyerahkan laporan yang dibutuhkan Pak Masumi, mengingat clientnya yang dari Kanada sedang on-line dan mereka sedang membicarakan bisnis sekarang ini. “

“ Apa??? 10 menit katamu????? Dan Masumi memecatnya karena 10 menit itu????? “

“ Client sangat membutuhkan kerjasama yang cepat, padat dan singkat, namun tak mengurangi sisi akurat guna kemajuan kedua belah pihak, Nona.... “ Mizuki menegakkan kepalanya dan berkata seolah-olah apa yang dilakukan Masumi itu dapat dimaklumi, padahal sangat bertentangan dengan hati nuraninya sendiri.

“ Aku akan bicara dengan Masumi ! Kita tak bisa melakukan ini kepada Nona Takeda! Ini kelewat batas namanya! “ Shiori mengambil tas tangannya dan hendak keluar ruang tunggu menuju kantor Masumi.

“ Nona.. Sebaiknya... Pak Masumi jangan diganggu dulu.... Saat ini Pak Masumi sangat membutuhkan waktunya. Nanti kalau Pak Masumi sudah melalui waktu sibuknya, saya janji akan segera menghubungkan Nona dengan Pak Masumi secepatnya.”

“ Dan kapankah waktu itu akan datang, Mizuki? “

“ Saya tidak bisa memprediksinya, nona... Maafkan saya.... “

Kesabaran Shiori makin diuji dan menipis. Namun ia berusaha tetap sabar demi kelangsungan hubungan mereka yang semakin rapuh tersebut.

“ Baiklah.... Baiklah... Mizuki..... “ Ucap Shiori sembari menghela nafasnya perlahan dan mengatur emosinya “ Aku sebaiknya menemui dokter pribadiku untuk check-up. Sudah lama aku tidak mengunjunginya. Maaf Mizuki, bisakah aku meminjam Oshima? Aku tadi sudah menyuruh supir pribadiku untuk kembali kerumah, kupikir aku bisa pulang bersama Masumi hari ini...” lanjut Shiori kecewa.

“ Maaf Nona, sepertinya Oshima juga tidak bisa mengantarkan Nona ke dokter pribadi Nona.... akan saya panggilkan  Ryoma sebagai gantinya. Anda tak perlu kuatir, Ryoma telah menjadi supir bagi Daito selama 10 tahun, dan ia mampu membawa diri dan mobilnya dengan baik dijalan raya tanpa perlu membuat mabuk penumpangnya, meski itu adalah pengalaman pertama seseorang menaiki mobil. Saya jamin akan kemampuannya, Nona... “ mizuki menjawab sopan dan tak menutupi rasa menyesalnya.

Alis Shiori naik 1 centi sedikit. “ Ada apa dengan Oshima? Apa hari ini dia sakit? “

Mizuki menghela nafas beratnya, namun ia tetap melanjutkan jawabannya. “ Oshima... Dipecat kemarin sore oleh Pak Masumi... Nona Shiori... “



                                                   *


Mobil sedan yang mewah berlabel merk mahal produksi Negeri Sakura itupun ikut meramaikan kemacetan dipusat kota Tokyo. Beruntung kursi joknya sangat empuk dan nyaman, sehingga mau duduk entah seharianpun didalamnya, kau takkan merasa teramat lelah. Pendingin udaranya pun sempurna. Tiap sudut ruang mobilnya dijelajahi dan didinginkan dengan baik. Namun hati Shiori yang penuh tanda tanya dan kemarahan yang mendidih membutakan indra perasa kenyamanannya. Ia merasa gelisah, tidak tenang dan kalau tidak ada orang, mungkin ia mampu meracau tidak karuan serta berteriak lantang.


Karyawan Daito merasa sekarang ini mereka bukan lagi bekerja untuk Masumi Hayami---sebagai direktur mudanya—namun sudah seperti kepada komunis sesat yang menganut paham Lucifer. Mata Masumi yang kemarin sempat menghangat kembali dingin sekaligus gersang. Sikapnya yang dulu pernah menjadi lebih banyak toleransi sekarang hanyalah mimpi dan hujan kartu merah. Ia tetap tampan, namun ia menjadi lebih tidak menyenangkan sebagai manusia dan lebih parah dibandingkan dulu ia pertama kali menjabat sebagai direktur muda.

Kasak-kusuk berkembang dengan berbagai versi. Sumber pertama menghembuskan kabar kalau Pak Masumi diserang oleh beragam orang dan juga dengan beragam profesinya hendak mematahkan tahta Daito. Nah, kalau yang itu, sudah alasan klasik. Tidak ada yang terlalu kaget akan prediksi sumber pertama.

Sumber kedua, memberi kesaksian kalau Pak Masumi merasa sakit hati dan tersinggung dengan tindakan Maya Kitajima yang seenaknya menghentikan latihan Bidadari Merah untuk Kaisar. Kalau alasan ini, mungkin ada benarnya juga. Siapa tahu Pak Masumi menjadi lebih merasakan tekanannya, karena karya ini khusus dipesan oleh Kaisar sendiri. Dan Maya menjadi terlihat banyak bodohnya dengan bersikap tidak professional disana.

Sumber ketiga, mengira-ngira dengan hitungan Kartu Tarot yang didalaminya bertahun-tahun yang mengatakan kalau sekarang Pak Masumi berubah menjadi titisan malaikat yang jatuh oleh karena tunangannya, Shiori Takamiya. Well, yang ini entah bisa dikatakan 100% juga tidak mampu, namun kalau diperhatikan, mereka selalu sempurna dan mesra dihadapan publik. Koran dan majalah gossip tak pernah sekalipun mendapatkan foto-foto mereka yang sedang salah paham sedikit apalagi bertengkar hebat. Tapi sikap dingin Masumi tidak berubah banyak juga, baru-baru ini malah menambah daftar sifat buruk yang baru dihidupnya.

Sumber keempat, Pak Masumi sudah gila! Kalau alasan yang keempat ini, sudah pasti hanya beredar di toilet wanita. Mereka takkan bernyali membawa alibi nomer empat ini kemeja kerja tetangganya. Karena kalau hal itu sampai bocor, mungkin tak heran apabila direktur muda itu menyiapkan seutas tali untuk bertengger erat dilehermu sementara tubuhmu mengayun kuat ditambah kejang-kejang hebat diatap gedung Daito.

Shiori terganjal oleh sumber kedua dan ketiga. Kemungkinan besar hanya Maya-lah yang membuatnya menjadi porak poranda seperti ini. Pikiran Shiori terlempar jauh mengingat peristiwa di restoran bersama Maya. Saat itu, Maya berjanji akan menjauh dari kehidupan mereka. Lalu ingatan itu membawa Shiori ke  peristiwa gedung Amaterasu. Sejak saat itu, ya… sejak saat itu… mata Masumi kembali hampa dan dingin. Inikah mata rantai hilang yang ingin ditemukan Shiori di beragam alasan mulut para karyawan? Ditambah lagi, Shiori membenarkan dalam hati kalau Masumi tidak bisa menjadi dewa musim semi diladang Daito. Ia terus-terusan meniupkan angin musim gugur yang mengundang sang salju turun dari peraduannya. Para karyawan kedinginan sekaligus berusaha bertahan hidup dengan menebalkan kesabaran serta kewaspadaan sebagai tameng nyawa mereka. Shiori merasa sangat gagal sebagai tunangan dan bagaimana kelak ia akan menghangatkan jiwa Masumi yang terlanjur beku sebagai pendamping hidupnya. Jangankan bertindak, mengkhayalpun ia menjadi lebih waspada dan awas akan perkembangan sekitarnya.

“ Sudah sampai, Nona… “ suara supir pribadinya mengembalikan kesadarannya kembali ke dunia nyata.

“ Ah, ya.. ya… Terima kasih “ ujar Shiori anggun dan mengeluarkan tubuhnya dari kesejukan pendingin udara mobil dan menghadap hangatnya matahari Tokyo, yang kebetulan belum terlalu terik, jadi kau masih bisa berjemur sekitar 1 jam dibawahnya tanpa perlu merasa terbakar.

Langkah kakinya membawa Shiori memasuki gedung rumah sakit elite yang cukup popular dikalangan para selebritis, politikus dan sosialita yang bingung hendak mengurai uangnya kemana. Tatapan kagum akan pesona kecantikan dan keanggunan Shiori selalu terbit manakala ia melewati para perawat sampai pasien yang sedang membunuh kejenuhan mereka. Shiori sudah terbiasa akan keadaan itu, semenjak ia masih sangat kecil. Dulu ia selalu senang akan puji-pujian dari para kerabat dan kolega bisnis orang tuanya, namun kadar kesenangan itu berubah semenjak ia belajar dari Masumi, bahwa penjilat itu ada dimana-mana. Dan dulu ia masih terlalu hijau sehingga radar pendeteksi manusia-manusia macam ini belum berhasil ditangkapnya.

Akhirnya ia sampai pada tujuannya.

Dr. Richard Jefferson.

Shiori menghembuskan nafas beratnya. Ia sebenarnya tidak terlalu suka menghadap dokter yang satu ini. Ia memang tampan luar biasa meski 3 tahun lebih tua dari Masumi. Darah Amerika dan Inggris mengalir diseluruh pembuluh nadi pria tegap berambut emas dan bermata perak serta tinggi badan 191cm. Dan entah kenapa ia tidak berminat menjadi model atau peragawan di catwalk terkenal, karena tidaklah sulit bagi sang dokter untuk menaklukkan dunia itu, mengingat para dokter wanita dan perawat yang bekerja disitu selalu mencari-cari alasan untuk dapat berada minimal 0 centimeter darinya. Shori memang kagum akan kesan pertamanya, namun kekaguman itu langsung hilang manakala ia memarahi Shiori habis-habisan karena Shiori tidak taat dalam menjalani metode perawatannya.

Kelemahan tubuhnya selalu ia jadikan alasan untuk menutupi kemalasan dan kegalauannya. Ia tidak ingin bangkit dari kenyataan dimana Masumi menolaknya dulu. Ia tidak pernah ditolak siapapun. Dan sekalinya ditolak, orang itu adalah orang yang paling ia cintai diseluruh dunia. Namun sang dokter yang satu ini tidak sebodoh dokter-dokter sebelumnya. Dokter-dokter Shiori terdahulu mampu ia bungkam dengan cek dan transfer uang hidup setahun. Tapi dokter tampan ini malah langsung menyobek cek tersebut dimukanya. Ia tak bisa mengganti Dr.Richard dengan dokter lain karena kecerdikan dokter ini menangani pasien sudah melegenda. Dan kakek serta orang tua Shiori sudah berhasil dicuci otak olehnya, dengan garansi 100% apabila Shiori tidak mampu pulih kembali. Siapa yang mau menolak angka 100% tersebut?

Shiori baru saja akan check in dengan perawat yang akan mengantarkannya dengan dokter Richard, tapi diurungkannya ketika ia melihat Maya dan sahabatnya, Rei, keluar dari salah satu dokter  diseberang koridor. Ia hanya berjarak sekitar 200 meter dari Maya, tapi sepertinya Maya tidak menyadari keberadaannya. Shiori melihat dokter yang menangani Maya sudah sangat berusia. Rambutnya sudah banyak yang putih dan huruf M besar tercetak jelas didahinya. Tubuhnya pun tidak tinggi untuk ukuran pria Jepang sekarang, mungkin hanya sekitar 160cm? Tapi kesemua ciri-ciri tersebut tak menghentikan alis Shiori naik sebelah. Dokter tua itu meminta kepada Rei untuk mengabadikan dirinya dan Maya dirumah sakit, tepat didepan pintu ruang prakteknya. Bahkan ia meminta Maya untuk menorehkan tanda tangannya di baju dinasnya dan tentu saja Maya menolak. Tapi sepertinya Maya sangat lemah akan permintaan orang tua dan pada akhirnya sang dokter tua tersenyum lebar manakala coretan tangan Maya ada tepat di samping ID Card-nya.

Maya pun berlalu tergesa-gesa dan membungkuk hormat untuk menyudahi pertemuan mereka. Shiori hendak menyusulnya namun sebuah panggilan menahannya untuk menyusul Maya.

“ Nona Shiori, silahkan masuk “ ucap suara bariton yang cukup tegas dan mengundangnya masuk ruang praktek.

Shiori pun membalikkan badan. “ Ah, Dokter Richard, selamat pagi. Maaf, saya harus menyusul teman saya yang barusan saya lihat. Saya ada urusan mendesak dengannya, nanti saya segera kembali.”

“ Kesehatanmu lebih mendesak, Nona Shiori. Untuk teman anda, bisa dilanjutkan nanti setelah check-up anda selesai. Mari… Silahkan masuk. “

“ Tapi…”

“ Silahkan masuk.”

Inilah yang Shiori benci. Dokter ini pasti berpikir kalau ia menipunya lagi. Padahal untuk kali ini, Shiori sungguh-sungguh ingin menemui temannya, Maya Kitajima. Ahkirnya ia menyerah dan melangkahkan kaki jenjangnya memasuki ruang pemeriksaan dan diikuti oleh sang dokter.

“ Baiklah…. Kita mulai pemeriksaannya. Kuharap kau tidak bosan dengan semua pertanyaan dan prosedur pemeriksaan metodeku lagi, Nona Shiori “ ucap ramah sang dokter dengan sedikit senyum namun tegas tersebut.

“ Terima kasih, dan saya akan sangat senang apabila saya tak perlu lagi menjalani hal seperti ini … Dokter. “ balas Shiori tanpa menutupi kekesalannya dan disambut kekehan kecil dari sang dokter.
                                                *

“ Oh, Nona Maya…. Kuharap kau sering-sering sakit dan sering mendatangiku. Bagi orang tua macam diriku ini, kedatangan Bidadari Merah sangat mempengaruhi daya kerja dan staminaku untuk bertugas. Aku sangat senang bisa mendapatkan pasien seperti dirimu, Nona Maya Kitajimaaa……” gelak tawa Rei meledak tanpa memperdulikan pandangan aneh dari orang-orang sekitarnya.

“ Rei, hentikan! Ini direstoran! Aku maluuuu!!! “ sembur Maya dengan rona merah padam menghiasi wajahnya. Tak terasa hamburger keju ditangannya hampir terbelah dua tanpa dosa.

“ Aku baru tahu kalau ada dokter yang mengharapkan Bidadari untuk sering jatuh sakit, Maya. Tolong jangan salahkan ledakan tawaku, ini murni reflek dari pemandangan didepanku, bagaimana cara pandang dokter itu padamu, bukan sebagai pasien, bukan juga sebagai anak perempuannya, tapi sebagai pengagumnya. Jangan bilang kalau dia adalah Mawar Ungu-mu, Maya! Kalau dokter itu benar-benar dia, kurasa aku sanggup hidup diKutub Utara sampai mati. “ ucap Rei terkekeh-kekeh sambil memegangi perutnya yang kembang kempis.

Mulut Maya semakin mengerucut lancip. “ Tentu saja bukan! Mawar Ungu-ku tidak seperti itu! Dia gentleman, pekerja keras dan sangat menutupi identitasnya. Dia tak mungkin terang-terangan memintaku foto bersama apalagi meminta tanda-tanganku untuk menghiasi pakaian dinasnya! Dia hanya dokter tua yang professional dan… Dan…. Ia… salah satu fans-ku… Itu saja.. “ ucap Maya menjelaskan dan memberi penekanan nada pada kata fans.

“ Tentu saja… Kalau kau belum menjalin kasih dengan Koji, aku takkan kaget kalau suatu saat nanti ia akan melamarmu menjadi istrinya, Maya, hahahahhaaa…. “ kembali ledakan tawa Rei membahana.

“ Reeiii!!!! Aku serius soal seleraku kepada pria! Aku tak mungkin mau menikah dengan pria yang usianya sangat jauh diatasku, apalagi pria itu hampir 45 tahun diatasku! “ Maya melotot sambil mengunyah kasar hamburger yang menjejali mulutnya yang kecil.

“ Hahahhaa…. Maaf.. Maaf…..! Habis, aku benar-benar tidak menyangka ada dokter jenis itu di Tokyo ini. Apa dia tidak takut pada istrinya kalau ia bersikap sangat mesra padamu, Maya? Hahahahhaaaa….! “ Tawa Rei kembali meledak untuk kesekian kalinya dan tak perduli pada Maya yang semakin kusut menghadapi candaannya.

“ Rei!!! Dokter itu memang dulu pernah menikah, namun mereka bercerai setelah menikah 15 tahun, gosipnya sih karena mereka belum dikaruniai anak.  Dan menurut kabar, Dokter Akagi sewaktu muda adalah dokter yang sangat pekerja keras tanpa memperdulikan kesehatannya sendiri. Mungkin itu adalah pelariannya karena belum pernah menimang anak sendiri. “ jawab Maya prihatin.

Rei menaikkan sebelah alisnya. “ Wah, ternyata sedih juga yah kisah doktermu. Ngomong-ngomong nih…. Aku tak tahu ternyata kaupun mendalami latar belakangnya. Jangan-jangan kau….. Hahahhahahaa!!!! “ kali ini Rei tak cuma tertawa terbahak-bahak, namun disertai memukul-mukul meja dan menundukkan wajahnya serta menahan air matanya yang geli.

“ Reeiiiiiii!!!!!! “ Maya emosi dan menarik kedua pipi Rei bersamaan dan melebarkannya seperti ikan pari.

“ Awwww!!! Mayaaaa!!! Hentikaaannn!!!!! “ Rei mengaduh kesakitan sementara Maya tertawa puas.

Suasana restoran yang biasanya datar-datar saja kini seperti mendapatkan angin segar dari artist-artist ternama tanpa malu menunjukkan identitas asli mereka. Banyak yang mengambil gambar dan pose-pose anehnya, namun mereka sama sekali tidak keberatan. Mereka menjadi terbiasa karenanya. Dan seperti pada umumnya, penampilan mereka, entah mau spektakuler ataupun mau terlihat bodoh setengah matipun, pasti akan ada pihak majalah ataupun koran gosip yang bersedia membayar mahal untuk selembar foto, tak perduli kau seorang pekerja yang kebetulan makan bersama atau kau adalah seorang anak kecil yang mampu memiliki HP.

“ Eh, Maya... Ngomong-ngomong, apa kau tahu siapa Mawar  Ungumu-mu? Kok kau bisa memberikanku ciri-ciri seperti itu? “ tanya Rei tiba-tiba yang membuat Maya mengendurkan siksaannya.

“ Aku.. Aku juga tidak tahu, Rei... Sampai sekarang ia belum membuka identitasnya kepadaku “ Akhirnya Maya melepaskan jemarinya dipipi Rei yang memerah panas bekas cubitan dan kembali ke kursinya. “ Tapi aku selalu percaya, dialah yang terbaik untukku. Aku sangat bersyukur memilikinya dan kuharap aku bisa selalu ada disisinya. Semoga ia takkan pernah berpaling dariku... “ Ucap Maya sendu yang cukup jelas hingga dada Rei pun ikut merasakan sesak karenanya.
                                             *

“ Ya! Sudah selesai Nona, silahkan duduk kembali “ Ucap dokter muda itu sambil merapikan kembali stetoskop didada bidangnya.

“ Jadi bagaimana? Obat apa lagi yang harus kuhabiskan kali ini? “ Jawab Shiori lesu.

“ Hanya multivitamin saja, selebihnya sudah sangat baik. Dan tolong kau jaga kestabilan emosimu. Kau tak perlu memikirkan sesuatu dengan keras dan kau butuh teman terpercaya yang bisa kau tumpahkan sedikit problema hidupmu. Tunanganmu misalnya, ia pasti akan sangat senang kau mau membaginya. “

“ Dia takkan senang, dokter...”

“ Maaf? “

“ Sampai saat ini, aku tidak memiliki orang terpercaya yang mampu kujadikan sandaran, meski dia tunanganku sendiri. Kau tahu pasti siapa penyebab utama pencetus akan penyakitku ini. Dan ternyata hanya dialah obatnya. Namun tidak semudah itu, dokter... Ia terlalu tenggelam dalam pekerjaannya dan selalu melewatkan waktu untuk bersamaku akhir-akhir ini. Entah pernikahan macam apa yang kelak akan kujalani bersamanya... “

“ Bagaimana dengan kakemu yang sangat ekstrim menyayangimu? Atau pengasuhmu? Atau...”

“ Mereka hanya menaruhku digaris yang seharusnya kupijak, dokter... mereka selalu meyakinkan posisiku dimana. Mereka selalu dan selalu mengatakan yang baik-baik padaku, selalu menopangku, namun aku merasa... Aku menjadi terlalu lemah bahkan untuk berdiri sekalipun. Hingga pada akhirnya aku tetap harus menjalani pengobatan ini dan aku sangat senang bisa kembali mendapatkan posisiku sebagai tunangan Masumi Hayami. Tapi... bukan Masumi Hayami yang ini... dia menjadi orang lain sekarang... Aku seperti sama sekali tak mengenalnya....” Shiori menceritakan semua permasalahannya dengan spontan dan menunjukkan kegalauan hatinya.

Mata teduh yang perak itupun menangkapnya. “ Kau bisa menganggapku sebagai kakimu, Shiori...”

Wajah Shiori menengadah. “ Maaf? “

“ Kalau kau bilang kau tak mampu menemukan orang yang bisa menguatkanmu, jadikanlah aku kandidatmu. Aku takkan mengecewakanmu. Aku tak tertarik pada kekayaan keluarga dan martabatmu, akupun tidak suka kau terlihat lesu seperti mayat yang berjalan tanpa jiwa, aku lebih suka kau yang ceria dan tersenyum, seperti pesta pertunanganmu dahulu. “

Shiori menjaga jaraknya. “ Maaf, dokter... Saya memiliki tunangan! Jangan kau coba-coba untuk berbuat yang... “

“ Dan aku punya seluruh waktu serta telinga dan mulut untuk kau miliki. Aku sadar aku kini berbicara lancang. Bahkan aku percaya, keluargamu akan memecatku sebagai doktermu bila hal ini sampai ketelinga mereka. Namun aku tak khawatir. Aku memiliki bakat istimewa yang cukup bisa kubanggakan dan sangat dipercaya oleh kebanyakan manusia. Kalau kau percaya pada pribadiku yang mampu membangkitkanmu dan menjadikanmu Shiori yang baru, kau tahu dimana tempat praktekku. Aku selalu disini. Dan semua nomer kantor serta ponselku sudah kau miliki, bukan? Mungkin aku tidak sesukses dan setampan Masumi Hayami, namun aku cukup percaya diri aku mampu membuatmu lebih bahagia lagi, Nona Shiori” jawab Dokter Richard dengan tegas dan mantap. Wajahnya yang datar menunjukkan keseriusan dan keprofesionalisme kerjanya. “ Baik Nona, terima kasih untuk kunjungannya, saya mengharapkan jawaban lebih dari anda untuk kedatangan selanjutnya”. Dokter muda itupun berdiri dan mengulurkan tangannya tanpa perduli akan jatuhnya rahang Shiori yang hampir menyentuh lutut.

                                
                                              *


Hari itu akhirnya tiba juga. Hari dimana pertunjukan Bidadari Merah menjadi sorotan utama jutaan pasang mata penduduk Jepang, beserta pemimpinnya, Sang Kaisar. Panggung spektakuler didesain sedemikian rupa oleh otak 5 arsitek  yang sudah terkenal gaungnya di dalam maupun luar negri sakura. Layar lebar , karpet merah, lampu sorot, sound system, tirai sutra, kursi eksklusif para pejabat dan pengusaha, balkon utama tempat khusus Kaisar, hidangan kelas tinggi, sake dan hiasan bunga plum menyemarakkan malam bertabur bintang. Langitnya cukup nyata memamerkan bulan purnama yang penuh. Para undangan yang hadir sudah mulai memadati kursi masing-masing, sebelum mereka menunjukkan surat undangan ber-cap khusus Kaisar kepada para wanita yang siap men-scanning sidik jari sebagai penangkal masuknya penyusup.

Kursi Kaisar pun akhirnya terisi. Dengan Permaisuri dan keluarganya, serta beberapa dayang dan pengawal dibelakang mereka. Mereka tampak sangat agung dan berkharisma. Para undangan pun sempat menahan nafasnya melihat kehadirannya melengkapi acara malam akbar itu. Kaisar mengangkat tangan kanannya, melambai kepada semua undangan, member salam hangat. Tepukan riuh menggema. Dan Bidadari siap menghadirkan dunia khayangan yang belum pernah mereka saksikan sebelumnya.
                            
                                     *

“ Kau siap, Maya? ‘ Tanya Koji penuh dukungan, meremas lembut jemari mungilnya yang mendadak dingin.

“ Ya, Koji. Aku siap. Aku takkan bohong, aku gugup…  Tapi aku sangat percaya pada diriku aku pasti mampu. “ Ucap Maya dan membalas genggaman tangan Koji.

Mereka saling menyemangati satu sama lain. Maya dan Kojipun menoleh kebelakang, memberikan senyuman penuh arti kepada Pak Kuronuma dan seluruh pendukung pertunjukkan ini. Kuronuma memang agak berlebihan untuk pergelaran kali ini. Mereka memang dicambuk kuat olehnya beberapa minggu ini. Kuronuma ingin kali ini lebih istimewa dari biasanya. Ia mengincar angka 200% ! tak heran ada beberapa pemain yang jatuh sakit. Namun beruntung mereka tidak sakit berat, karena Kuronuma pasti akan pusing luar biasa untuk mencari penggantinya.

Tiba-tiba suara tepuk tangan riuh memecah suasana.

“ Itu tandanya. Semoga kalian sukses semua. Aku berdoa dibalik layar ini, untuk berkat Tuhan malam ini. Dan untuk keegoisanku sendiri akan hasil kerja kerasku… “ Canda Kuronuma sebelum melepas mereka melangkahkan kaki keluar.

“ Jangan kuatir Pak, kami tidak akan takut dengan nama Kaisar. Kali ini, kami akan menundukkan mereka semua… “ Balas Koji. 

Gelak tawa ringan seluruh pemain terdengar sedikit nyaring.
Maya hanya tersenyum simpul dan mengisi tubuhnya dengan jiwa Akoya. Ia pun menutupkan mata, menghirup oksigen malam, mengisi paru-parunya dan berjalan ringan kepanggung. Seperti sedikit terbang kelihatannya. Es kering disekitar kakinya member efek luar biasa untuk kedatangannya. Malam ini perias make-up Maya sepertinya akan menjadi tolak ukur dan tidak akan mengherankan kalau akhir nanti ia akan mendapatkan ribuan client agar mendapatkan jasa bakatnya. Karena malam ini Maya sempurna! Sangat sempurna lebih tepatnya. Alis matanya tipis dan tegas, berwarna hitam lembut. Eyeliner dan bulu mata palsu serta maskara hitam kebiruan membingkai kedua pasang matanya. Eyeshadow peach matte dan blush-on light pinky meronakan kesegaran serta kulit Maya terlihat licin seperti porselein mahal yang rapuh namun berharga jutaan yen. Bibirnya dipulas warna ruby pink oleh lipstick bermoisturizer tinggi dan menciptakan kesan glossy dalam waktu yang cukup lama. Dan tak butuh waktu hitungan menit bagi Maya untuk membuat para penonton menahan nafasnya jauh lebih lama dari mereka tadi melihat rombongan Kaisar. Ia sangat memukau dan luar biasa. Mungkin kata-kata itulah yang ingin diluncurkan para pria dari bibirnya kalau saja mereka tidak menahan diri dan menyadari kehadiran pacar, tunangan atau istri mereka masing-masing. Koji pun tak luput dari “serangan” tak langsung Maya ini. Ia sempat membatu dan mengira waktu berhenti ketika ia melihat Maya selesai melewati puluhan ritual make-up.

Suasana hening tercipta nyata ketika Bidadari membungkukkan tubuhnya, menghadap Kaisar yang berjarak sekitar 20 meter didepannya.

“ Selamat malam, Tuanku Kaisar yang kuhormati… Terima kasih untuk kesempatan yang anda berikan pada saya kami malam ini. Saya, Maya Kitajima, merendahkan hati untuk sedikit memberikan pertunjukkan spektakuler untuk anda beserta keluarga, serta seluruh penonton disini. Semoga pertunjukkan kami ini mampu menghadirkan dunia lain kami untuk anda semua dan memberikan kesan tersendiri bagi jiwa anda… “ Maya pun lebih membungkukkan tubuh dan kepalanya, dan kemudian bangkit tegak serta mundur secara perlahan dari panggung, memberikan kesempatan bagi pemain pembuka dunia khayangan.
Seluruh penonton masih terkesima hebat mereka sampai lupa mengedip melihat salam lembut dari Bidadari Merah. Tak terkecuali mantan rival Koji, Masumi Hayami. Ia tak menyangka gadis mungilnya bisa ber-transformasi sejauh ini. Ia tak mendapatinya pada pertunjukkan-pertunjukkan Daito sebelumnya. Sempat lupa kalau ia bisa bernafas. Dan matanya melebar, berusaha menangkap sosok Maya dengan utuh dengan retinanya. Ia terlalu terpesona . Dan kesemua rasa kagumnya ini tak luput oleh mata cemburu Shiori yang merebak tertahan.

Gerakan dewi khayangan versi Maya mewakili semua elemen. Lemah gemulai yang bagaikan air, tegasnya api membara yang membakar, ringannya sang angin serta kokohnya sang tanah. Perubahan dari bidadari ke sosok gadis desa terlihat sungguh wajar. Dan kesemuanya menghipnotis para penonton, serta menghanyutkan birahi romansa ketika sampai diadegan percintaan Akoya dan Isshin.

Mata sayu penonton yang terenyuh dan senyum dikulum mewakilinya. Mereka berdua, Akoya dan Isshin sampai sekarang tak pernah gagal menciptakan suasana kabut penuh cinta itu. Ketika mereka berjalan bersama, duduk bersisian atau saling menggenggam tangan. Ketika Isshin beristirahat dipangkuan Akoya dan ia menciumnya penuh kasih. Ketika puji-pujian serta rayuan mereka yang saling terlempar hingga sampai pada puncaknya, air mata dan tetesan darah yang menggenang dari kapak Isshin. Dan untuk adegan ini, penonton wanita pada umumnya, sibuk mengeluarkan sapu tangannya masing-masing dari tas tangan kecil yang gemerlapan.

Tepuk tangan riuh penonton menggema hebat manakala tirai sutra tersulamkan benang emas itu pelan-pelan menutup dunia khayalan penuh fantasi. Mereka sesaat masih lupa kalau mereka ini penonton, karena mereka masih merasakan dunia itu. Dunia dimana mereka seakan-akan menjadi pelaku utama kehidupan sang dongeng. Mereka merasa sangat puas. Karena pada pertunjukkan sebelumnya—bagi yang sudah pernah menonton—mereka belum merasakan sampai sehanyut ini. Ternyata arus yang diciptakan Kuronuma kali ini tidak main-main.

Sampai pada akhirnya para pemain kembali bermunculan. Maya Kitajima, sang Bidadari Merah yang masih berkimono putih berbahan ringan tersebut maju kedepan panggung. Ia membungkukkan badannya penuh hormat kepada penonton utamanya, Sang Kaisar, dan disambut tepuk tangan olehnya. Maya pun membungkukkan rasa hormatnya kepada penonton lain yang bersedia mengikuti permainan aktingnya, dan lambaian tangan serta lemparan senyuman lebar dipanennya tuntas. Diikuti Sakurakoji, dan para pemain pendukung lainnya. Mereka tak kalah bersinar dari pemain utamanya malam itu, karena mereka juga tampil mati-matian. Mereka juga tak mau mengecewakan Kaisar dan berharap, karir mereka akan lebih mulus dari sebelumnya.

Akhirnya tiba juga saat istirahat. Para pemain merayakan kesuksesan mereka dengan saling berpelukan dan menangis haru. Bu Mayuko sudah berada diarea ruang santai, tidak jauh dari kursi dimana ia nanti akan mengalirkan komentar-komentarnya dihadapan para kuli tinta.  Pak Kuronuma apalagi, ialah bintang tersembunyi dibalik terangnya para aktris dan aktor karena para wartawan sudah menunggunya diruang konferensi pers disebuah sudut pesta entah sejak kapan. Mereka semua melepaskan sedikit atribut panggung yang cukup rumit dibagian kepala, pinggang dan perhiasan-perhiasan lainnya dengan tujuan mereka takkan tersangkut sesuatu ketika gelas sake kelas tinggi itu akan melalui hidung.

Maya ada diruangannya, sendirian. Ia menolak siapapun menungguinya ketika ia terbebas dari atribut Bidadai Merah yang cukup membuat lehernya lelah. Ia melamun dalam, menarik kembali sosok aslinya yang mungil dan ceroboh kedalam otaknya. Perlahan wajah Akoya menguap dan terisikan kembali oleh Maya Kitajima. Ia melihat cermin rias yang berbingkai lampu neon, dan menangis.

Wajah Masumi Hayami tercetak kuat dibenaknya ketika ia mendapati pria hebat itu sedang mengaguminya. Tak jarang Maya menangkap mata Masumi dan mereka saling terhubung satu-dua detik. Ia sangat menyukai detrik-detik curiannya tapi juga sekaligus menyakitinya. Sosok Shiori Takamiya berada tepat disisinya, ia menghadirkan mata penuh harap dan penuh kata “ kumohon Maya, biarkan aku memilikinya seumur hidupku.. “.

Meja riasnya sangat penuh oleh kiriman bunga, boneka dan coklat berbentuk hati. Namun bunga Mawar Ungu yang diharapkannya tidak ada. Maya sedikit bersikap kasar oleh bunga-bunga lain untuk mendapatkan keinginannya. Ia tak membaca kartu-kartu kecil yang terselip dan terikat kuat ditangkai masing-masing karangan yang dihias susah payah. Ia tak perduli, karena ia ingin mendapatkan warna ungu itu lagi. Tapi hasilnya nihil. Nol besar.

Jadi..... Kemarin itu benar-benar sayonara ya, Pak Masumi.....

Maya terduduk ditatami tebal berwarna coklat ringan. Ia menahan tangisnya mati-matian, karena ia juga tak ingin mengecewakan sang perias. Eyelinernya hampir saja rusak dan bulu mata palsunya sudah hampir meninggalkan posisinya. Ia terkaget manakala seseorang mengetuk ringan pintu ruangan gantinya.

“ Maya, apakah kau masih didalam? Jangan terlalu lama, Maya, karena setelah ini kita akan sedikit menghadiri konferensi pers.”
Koji....

“ Sebentar Koji, aku sedang merapikan rambutku.. “ jawab Maya dengan gugup “ Ah... Silahkan masuk Koji, aku tidak menguncinya. “

Pintu kayu itupun bergeser kekiri dan kekanan, terbelah menjadi dua dan memamerkan ruangan ber-aura tradisional Jepang yang sangat kental. Bahkan samurai asli pun tersusun rapi di raknya. Lampu lampion kecil berisikan lilin yang temaram menghiasinya ,namun pencahayaan sangat terang dibagian meja rias Maya yang memang digunakan sebagai pendukung tim make-upnya. Dan tak kalah limpahan karangan bunga bagi sang Bidadari memenuhi tatami.

“ Ruanganmu hebat sekali, Maya. Kudengar, kau diperbolehkan menginap diruang sebelah yang terhubung ruangan ini? “ Sapa Koji sumringah.

Maya menoleh dan mengangguk ringan. Tanpa jawaban.

“ Kami juga diminta dengan sangat oleh Kaisar untuk menginap semalam disini. Ini benar-benar hebat Maya, Kaisar cukup memanjakan kita dengan memperbolehkan kita menikmati suasana kerajaan meski kita tidak berada dilingkungan utama Istana, tapi... Ini benar-benar sangat hebat! “ Koji tampak sangat antusias.

“ Akupun juga senang... Koji...... “ Jawab Maya ringan dan tersenyum. Namun menggantung. Dan Koji sudah cukup mengenal pribadi dan bahasa tubuh Maya.

“ Apakah ada hal yang mengganggumu, Maya? Kau terlihat kurang bersemangat... Apakah...”

“ Aku baik-baik saja, Koji... Terima kasih... “ Maya buru-buru meletakkan sisir kecil berukir bunga Kamboja itu dimejanya. “ Ayo kita kesana, mereka pasti sudah menunggu kita. “ Senyum Maya melebar.

Tangan kokoh Koji menahan tubuh Maya disisi tubuhnya, memeluknya disamping secara sejajar.

“ Katakan ada apa, Maya... Kau tak bisa keluar kesana dengan aktingmu yang kacau barusan. Kau hanya akan merusak malam ini dengan kepura-puraanmu yang terlihat jelas ini. “

Mata Maya melebar. “ Apa maksudmu, Koji. Sudah kukatakan aku baik-baik saja!”

“ Kau sedih dan marah. Kau frustasi sekarang! Apa aku salah? “ pelukan Koji mengerat.

“ ...... Koji.... “

“ Masumi Hayamikah pembuat onar perasaanmu sekarang, Maya? “

Maya menoleh kewajah Koji dan menggeleng pelan.

“ Maafkan aku, Koji, tidak seharusnya aku begini.... Aku akan berusaha tidak berbuat konyol dihadapan Kaisar dan para tamu undangan.... dan aku... Akan berakting sempurna dihadapan Masumi Hayami. Kau bisa lihat nanti! “ jawab Maya berbohong dan menutupinya dengan kepercayaan diri.

Koji menundukkan kepalanya dan menaruhnya lembut dibahu Maya.
“ Kembalilah padanya, Maya.... “
Maya tercenung. “ Maaf ? Kembali? Kepada siapa, Koji? “
“ Maya.... Aku tak mampu membahagiakanmu. Sekeras apapun usahaku... Aku... Sama sekali bukan tandingan Masumi Hayami.... “
“ Koji! Apa maksudmu?! “

“ Aku memperhatikanmu, Maya. Sejak kejadian di ruang ganti pemain dulu, kau selalu berakting. Aku tak mampu menemukan sosok aslimu. Dulu memang aku tertipu, kau sangat hebat mengasah bakatmu, ya? Tapi semakin cerdik kau menutupinya, semakin terlihat celanya dimataku. Kuahrap hanya akulah yang menyadarinya, Maya.. “

“ Koji, kau bicara apa pada saat hubungan kita mulai dibangun ini? “ Telinga Maya memanas. Bibir Koji hanya beberapa sentimeter dari dengang telinganya dan sedikit menghembuskan nafas ringan berbau mint.

Koji memeluk Maya lebih erat. “ Aku tak mampu membuatmu tersenyum sempurna, Maya... Bukannya aku menyerah akan usahaku, namun kau selalu menolakku. Kau tak mau menerimaku utuh dihatimu karena aku selalu melihat Masumi Hayami sedang tertidur pulas dan damai disana. Kau menjadi sering mengunjungi dokter dan mengkonsumsi pil-pil bodoh. Tubuhmu mengurus! Aku tak tahan dengan omelan Pak Kuronuma yang selalu mengkritik dirimu ketika kau menginjakkan kaki di timbangan badan. Karena angkanya sangat konyol! “

“ Koji...”

“ Stop Maya, biarkan aku berbicara lebih banyak lagi! aku ingin berbagi denganmu, yang terakhir kali.. Sebagai kekasih... “
Maya mematung dan dadanya terasa sesak.

“ Maya... Terima kasih untuk berbagai usahamu untuk menerimaku, namun maafkan keegoisanku yang menuntutmu lebih. Aku sudah sadar sepenuhnya sekarang, siapa aku dimatamu dan siapa kamu dihatiku. Aku tetap mencintaimu, Maya. Namun dengan cara yang lebih berbeda. Dan kuharap aku bisa berhasil membahagiakanmu sebagai sahabatmu. “ Koji menitikkan air matanya. “ Cukup sampai disini kau berakting, Maya. Terima kasih... “.

Maya membalas pelukan Koji dan mulai berkaca-kaca.
“ Koji.... Apakah harus dengan cara ini? Apakah kau tidak bisa lebih bersabar lagi kepadaku? “ Jawab Maya memelas.

“ Aku akan bersabar meski itu ribuan tahun, Maya... Tapi kau sendirilah yang tak membukakan gerbang pintu hatimu kepadaku. Kau sudah mengunci Pak Masumi didalam sana dan kau sengaja menghilangkan kuncinya untuk kutemukan. Apa kau sudah mengerti, Maya... ? “ balas Koji tak mau kalah dan mulai melonggarkan pelukannya. Maya menaruh tangannya didada bidang Koji dan mengakuinya.

“ Aku tidak mampu melupakannya, Koji... Maafkan keegoisanku ini... “

Mereka saling menatap di keremangan cahaya lilin lampion. Senyuman Koji mengembang. Garis jejak air mata Maya dihapus ringan oleh jemari Koji yang hangat dan menangkup wajah mungil yang penuh perasaan bersalah.

“ Tidak apa-apa, Maya.... Suatu saat, aku pasti menemukan penggantimu. Kau tak perlu mengkhawatirkan diriku, karena aku cukup populer dan terkenal sekarang. “ Canda Koji.

Mereka berdua tertawa kecil dan menghapus wajah duka masing-masing.

“ Kau lihat, Maya? Ternyata sekarang kita menjadi lebih ringan dan bahagia? “

Maya mengangguk setuju. “ I.... Iya..... Jadi... Begini rupanya, ya? “ Jawab Maya gugup dan terlihat bodoh.

“ Sahabat? “

“ Saudara! Aku mengharapkan lebih dari sekedar sahabat, Koji.... “ Balas Maya sembari tersenyum.

Mereka kembali tertawa bersamaan.

“ Baiklah.... Adikku? “ goda Koji.

“ Hahahaha... Koji!!! Aku tak menyangka kau bisa lebih lucu dari Charlie Chaplin! “ sembur tawa Maya.

“  Aku bisa berakting menjadi dirinya kalau kau tak keberatan. Tapi kumohon jangan malam ini. Aku bisa terlihat terlalu mirip dengan setelan tuksedo ini! “ jawab Koji sambil mencari tongkat untuk mematenkan aktingnya.

Maya kembali tergelak.

“ Ah, iya Maya..... Maaf... Bolehkah aku... Meminta kalung dolphinnya? “ Tanya Koji berhati-hati.

Maya meraba lehernya yang tidak kosong dan menunjukkannya. “ Aku harus... Mengembalikannya? “

“ Menukarnya lebih tepat. Aku janji akan mencari penggantinya, yang melambangkan persaudaraan kita ini. Bagaimana? “ Tawar Koji.

“ Baiklah, Koji... “ Maya meraih kait kalungnya dan melepaskannya perlahan ke telapak tangan Koji yang terbuka. “ Janji kau akan menggantinya dengan hal yang lebih baik lagi! “ Tuntut Maya dengan senyum kemenangan.

Koji menyilang dadanya dan mengangkat telapak tangannya. “ Aku bersumpah! “

Tawa mereka kembali meledak. Mereka sangat bahagia dengan kejujuran yang penuh kedewasaan ini berlangsung. Mereka juga merasa sangat puas akan keputusan ini. Bohong kalau rasa kecewa itu masih ada, namun suka cita mereka melampauinya. Koji menggandeng tangan Maya keluar dari ruangannya menuju ruang konferensi pers dan rencananya dilanjutkan dengan pesta syukuran dari keluarga Kaisar.

Senyum mereka berdua sangat sumringah dan polos. Mereka bahagia malam ini. Bukan hanya berhasil membuat pertunjukkan spektakuler, namun juga sukses melepaskan kebohongan mereka masing-masing. Para pemburu berita sibuk mengabadikan pemandangan ini. Dimata mereka, pasangan ini sangat luar biasa cocok adanya. Mereka cantik dan tampan, sukses dikarir dan memiliki bakat yang luar biasa. Kurang apalagi? Tepuk tangan meriah menyambut  kedatangan bintang utama malam ini. Berbagai macam pujian dan godaan menyirami mereka. Bahkan ada yang menanyakan tanggal pernikahan mereka, dan hanya dijawab penuh senyum oleh Koji dan Maya, tanpa jawaban.

Maya merasakan dingin dan tidak nyaman mendadak.

Apa ini? Aku pernah merasakan ini.....

Ia mengedarkan pandangan matanya dan mendapatkan jawabannya.

Masumi Hayami!


Pria berahang keras berbalut tuxedo hitam elegan terlihat cukup menonjol dikalangan para undangan yang tak lain karena ketampanan dan tinggi tubuhnya diatas rata-rata. Ia terlihat tenang dan mapan. Gelas Champagne yang ramping itu makin terlihat tipis mengayun lembut ditelapak tangannya dan terlihat makin sempurna ketika gadis cantik berambut panjang dan hitam legam itu berada disisinya sejak ia turun dari Limo. Ia tak lelah tersenyum palsu dan menjabat tangan para undangan yang memberikan pujian dan dukungan untuk kesuksesan Daito karena berhasil menggaet drama legendaris ini sampai di Istana Kaisar. Malam ini adalah malam yang istimewa.

Pesta syukuran yang diadakan Kaisar ini ternyata adalah hadiah untuk kado ulang tahun anak pertamanya yang akan menikah tahun depan—yang tentu saja dengan mudah diendus wartawan. Temanya tetap pada kata “ Tradisional Jepang”. Ruangan luas yang konon mampu menampung 5000 orang itu disusun dan dirancang oleh para ahli. Rangkaian bunga menyusuri jalan utama, membentuk lorong ranting bertabur bunga plum palsu namun kualitasnya terlihat seperti aslinya. Kaisar sangat menyukai lampion, tak heran ribuan lampion mulai dari ukuran setelapak tangan hingga yang berdiameter 30 sentimeter pun ada. Namun lampu-lampu kristal gantung tetap pada tempatnya.meja jamuan dan deretan pelayan berpakaian yukata siap bertempur hebat memanjakan perut para undangan. Lantainya tertutup sempurna oleh karpet coklat hangat yang tebal namun tidak menghilangkan nilai tradisionalnya sedikitpun. Sempurna!

“ Apa kau lelah, Shiori? “ Tanya Masumi tenang.

“ Tidak… Tentu saja tidak, Masumi. Aku akan lupa kalau aku memiliki kondisi tubuh yang buruk karena acara ini, dan…. Hanya dengan ada disisimu, aku merasa jauh lebih baik. Terima kasih…”

Masumi tersenyum. Palsu. 

“ Sebentar lagi aku akan ke sudut pesta ini. Akan ada sedikit konferensi pers disana. Kalau kau lelah berdiri, aku akan mengantarkanmu ke kursi yang sudah kupesan khusus untukmu, sangat strategis dan kau bisa melihatku jelas. Kursimu ada di depan Ayumi Himekawa , jadi kau tak perlu ingung mencari teman.  “

Shiori tersipu. Tapi ia tetap berhati-hati. Akhir-akhir ini sikap Masumi sangat ganjil. Dikantor ia menjadi Raja Neraka yang menyebalkan, tapi disini, disisi Shiori Takamiya yang dulu pernah ia tolak, ia berubah menjadi Dewa Surgawi. Shiori sudah mulai lebih menggunakan otak dan logikanya ketimbang terbutakan lagi oleh rasa cinta. 

“ Baiklah Masumi, tolong antarkan aku sekarang… “

Masumi menggandeng lembut jemari Shiori dan menaruhnya dilengannya yang kokoh. Mereka berdua benar-benar membuat tiap pasangan disana menjadi cemburu dan iri. Bagai lukisan hidup, pikir mereka seketika. Maya memperhatikannya dari kejauhan dan tersenyum kecut. Ia memang sudah di”bebaskan” oleh Koji barusan, namun bukan berarti hatinya ikut-ikutan bebas. Dan kalau ia cerdik, ia akan berusaha sekuat tenaga mengembalikan seperti semula kondisi batinnya yang berserakan. Malam ini.
Akhirnya kursi-kursi para bintang terisi semua. Yang pasti ada si Bidadari Merah dan kekasihnya—Maya&Koji, Sang Sutradara__Kuronuma, Sang Promotor—Masumi , Ketua Persatuan Drama dan wakilnya, serta Legendaris Hidup sang Mayuko Chiguza.

Blitz lampu dan ributnya para wartawan yang berebut jawaban dimulai. Ada yang basa-basi menanyakan kesehatan mereka semua—dan tentu saja ditertawakan wartawan senior—sampai ke masalah pribadi yang nyata-nyata tak ada hubungannya dengan pertunjukkan. Kaisar sudah mengizinkan akan konferensi ini, asal tidak menorehkan skandal dan hal-hal buruk lainnya yang dapat mengotori dinding istana. Semua dijawab dengan lugas dan jelas, tak jarang banyak candaan meluncur dari Pak Kuronuma dan kepolosan Maya dalam menjawab semuanya. Mereka pasti sahabat yang baik dan kompak dalam reinkarnasi sebelumnya karena surtrada dan aktris ini saling melengkapi. Bu Mayuko dan Ketua Persatuan Drama hanya menajwab dengan jawaban yang dasar-dasar saja bahkan cenderung seperti dejavu karena mereka mendapatkan jawaban yang seperti ini ketika konferensi semacam ini diadakan di Gedung Amaterasu—mungkin karena faktor usia? Entahlah… Koji hanya tersenyum simpul ketika ditanyakan kapan ia akan membawa Maya ke altar Gereja. Namun semua hening serentak manakala Masumi Hayami berdiri dan mengangkat tangannya, meminta perhatian penuh dari semua pasang mata yang menatapnya.

“ Mohon maaf, Tuanku Kaisar, Tuan dan Nyonya serta para rekan-rekan wartawan, saya ingin sedikit mencuri moment berharga mala mini, hanya beberapa menit saja, semoga kalian mengijinkan saya. “

Mereka semua tegang dan penuh tanda Tanya melihat sikap Masumi yang misterius. Tak jauh dari kerumunan wartawan—dibelakang timbunan kuli tinta—Tante Nadeshiko dan sahabatnya, Ryuzaki bersorak tanpa suara dan mengacungkan jempol terbaik mereka keudara tinggi-tinggi. Masumi melihatnya dan menghembuskan nafas berat dengan tidak kentara, kemudian ia melangkah turun dari podium setinggi 20 sentimeter dan mendatangi seorang wanita cantik yang kebingungan.

“ Masumi? “ Tanya wanita itu mengambang. Ia tak pasti dengan situasi tak terbaca ini.

Masumi menekukkan lutut kirinya ke karpet dan memasukkan tangan kanannya kekantong jas hitamnya perlahan. Ia menemukan kotak perhiasan berukir dan membukanya. Sebuah cincin!

“ Shiori Takamiya, maukah kau menjadi menikahiku, menjadi istriku dan pendamping hidupku seumur hidupmu. Untuk selalu bersamaku? “

Mata para hadirin membulat dan mungkin sudah banyak yang copot karena teramat kaget. Rahang mereka membuka dan kepalan tangan yang antusias, bahkan ada yang spontan meloncat kegirangan.

“ Masumi???? “ Shiori mendesis tak percaya akan lamaran pria yang sangat ia mimpikan akhir-akhir ini ditiap malamnya.

“ Bagaimana Shiori? Maukah kau mengenakan cincin ini… Dan…. Menikah denganku? “

Mata Shiori memburam berkaca-kaca. Ia bahagia. “ Tentu saja, Masumi! Aku sangat memimpikan tuk menikah denganmu! “

Sorak sorai para undangan langsung membahana kuat mengisi ruang pesta. Mereka ikut senang akan peistiwa langka yang luar biasa hebat. Pertunjukkan drama legendaris di Istana Kaisar dan lamaran Sang Pangeran Daito, Masumi Hayami. Kumpulan wartawan menjadi liar akibat terlalu bersemangat yang tak lain karena berita ini dapat menambah kepulan asap didapur istri mereka masing-masing , namun aksi mereka berhasil diredam dengan cepat oleh petugas keamanan yang memang sudah dipersiapkan untuk mengantisipasi kondisi ini. Masumi menarik Shiori berdiri mengikutinya dan memeluknya hangat. Memamerkan miliknya yang akan menjadi selamanya. Koji melihat itu dengan tatapan tak percaya. Ia mengerang dan mengertakkan gigi-giginya dan lupa kalau kepalan tangannya mampu terlihat konyol. Ia pun melupakan kondisinya yang sudah berdiri untuk lebih menyakinkan indra penglihatannya akan drama kisah nyata barusan.

Maya….

Kojipun dengan cepat menoleh ke kursi disisi kanannya dengan mata nanar. Pemandangan akan wanita yang tadi ia lepaskan menjadi terlalu menyakitkan. Ia melihat Maya tengah tersenyum bahagia, memperlihatkan rentetan giginya yang putih dan terbingkai bibir merah muda yang glossy segar.

Maya… Kumohon jangan perlihatkan akting semacam ini lagi didepanku… Sadarkah bahwa kau tidak sejenius yang dipikir oleh otak tiap orang?



39 comments:

  1. Ancur dunia dah klo Masumi patah hati...kekekekekekek
    Kasian amat itu si akang. Moga2 aja Shiori tau diri. Maya jg jgn sok jual mahal gtulah.

    Gak sabar nunggu apdetnya berikutnya. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwkwkk... ancur hatiku XDDD
      makasih buat komengnya sistah, ditunggu jg kritik dan sarannya ^^

      Delete
  2. Ukh...Masumi jadi mengerikan...

    ReplyDelete
  3. mengerikn...
    Masumi brubh, daito jd neraka dunia
    mg maya menyadari apa yg dlakukn ny adl menyakiti 2 orang
    mg akoya sang BM tdk akn khilangn ishien ny di dunia nyata

    #xiaolong li

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku pun berharap cepet2 deh mereka ga membohongi diri mereka masing2 *ngelap airmata... halah* XD

      Delete
  4. ya ampunnn...punya boss kayak gitu makan ati...tapi kok ya ganteng..hehehe...
    tq mom, senin lagi yah....^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhaa.... okee.. senin yha sistah.. ni aja aku lg nyicil bikin ketikannya ^^

      Delete
  5. alamak,hbs ini giliran siapa lagi yg mau di pecat sama masumi... jgn2 mizuki ama hijiri lagi ckckckckckk

    ReplyDelete
  6. Huuuhhh...masumi koq jd menyebalkan

    ReplyDelete
  7. aduh si akang masumi tea..
    kl begini terus
    bisa abiz tuwh smua karyawan daito

    maya, hurry up get back to masumi dwehhh
    kenapa sih suka banget menyakiti hati sendiri >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. itulah dia... makanya saya nih lg menekankan akan pentingnya sebuah " KOMUNIKASI"... ga cuman diem trus ngeloyor pergi atau pura2 ga kejadian apa2, fufufuuf *ngelirik maya-masumi-koji-shiori XD

      Delete
  8. waduh si akang masumi kenapa tuh ? patah hati atw PMS noh ?
    moga2 pas lagi marah2 gitu si maya datang , jd bs cooling down sambil cipika cipiki cibiba

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahhaa... jadi neraka dunia nih ceritanya XD

      Delete
  9. iiihh director patah hati, ngamuk...ga usah pecat2 org kalee...
    mending lagu olga aja noh...

    Hancur hancur hancur hatiku
    Hancur hancur hancur hatiku
    Hancur hancur hancur hatiku
    Hatiku hancur
    XDDDD

    ReplyDelete
    Replies
    1. ampooon dah klo jadi olga ,wakakakka *bayangin masumi goyang ngebor* =)))

      Delete
  10. pak masumi...ituh ada satu orang lagi yg harus dipecat....nona shiori wkwkwkwk... :p

    ReplyDelete
  11. hoo mana apdetan minggu ini sis mary? ^^
    Aq setuju ma cupid,shiori dipecat aja. dengan sangat tdk hormat! Tp sebelumnya ksh tw dulu bahwa yg bkn orang2 itu dipecat adalah shiori. Biar dia tau segimana gak suka-nya masumi harus bersanding sm dia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wakakkakakaka... sadissss XDDD maap yha, kemarin ada urusan mendadak, kaga jadi apdet dah XDD nih udah kuapdet dikit yha^^

      Delete
  12. aaarghhhhhh biarkan shiori dengan dokter itu
    biar ga ganggu Masumi lagi
    aku mendukung mu Mom GINA ^^

    ReplyDelete
  13. duh moga" Dr. Richard Jefferson bisa ngebuat shiori ngelepasin masumi

    ReplyDelete
  14. smoga shiori cepet melepaskan masumi

    ReplyDelete
  15. wah ternyata ada jg yg suka ma shiori padahal dia cewe egois, tp gpp yg penting shiori jauh dr masumi

    akang masumi cepet ya rebut maya dr koji biar daito tenang kembali, jgn sampe mizuki apalagi hijiri jg dpecat

    #xiaolong li

    ReplyDelete
  16. ahhhhh pak dokterrrr
    sayah juga maw sama situ
    wekekeke...

    mommmiieee...!!!
    napa dikit banget innih...?
    scene MM nya mannaa...?

    T.T

    ReplyDelete
  17. Tidaaak! Pas seru-serunya..koq to be continued. :( Waah semoga masumi gak salah paham, Maya Masumi segera menemukan jalan mereka untuk bersatu. Bravo koji ! Eh,neng jambul,ikutin tuh jejak koji!

    ReplyDelete
  18. Tatap matamu bagai busur panah.
    Yang kau lepaskan kejantung hatiku.
    Meski kau simpan cintamu masih
    Dekap nafasmu wangi hiasi suasana
    Saat ku kecup manis bibirmu.

    *roman picisan by Dewa 19 ^^
    Pas bener neh lagunya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama lagu separuh nafas juga sis. Kayaknya cucok tuh walopun gak semua syairnya.

      Delete
  19. asyik maya udh putus ma koji
    mg maya dan masumi cepet baikn

    ReplyDelete
  20. Huaaa! Tidak! Tidak! tidak 1000x! Masumi bodoh! Udah sekalian aja Koji bikin pengumuman kalo dia sm Maya udah putus. Bias nyesel mampus tuh Masumi. Ayo dokter,rebut Shiory!

    ReplyDelete
  21. ajeeee gileeeeeee alamat nyesel dah tuh si Masumi ama Maya ...rasain dah tuh

    ReplyDelete
  22. mom Maryyyy.....kok gini sih....*ga relaaaa...

    ReplyDelete
  23. ah.. kok malah masumi ngelamar shiori?? g rela
    masumi bodoh, masumi bodoh, masumi bodoh
    mga2 bsk.a ada berita klo maya ma koji putus biar nyesel tuh masumi

    ReplyDelete
  24. mom mary, kok gini sih
    masumi ntr nyesel loh

    biasa nie klo mslh prasaan perlu dgetok kepalany

    ReplyDelete
  25. huaaaa masumi dah streesss tuh XDDD

    ReplyDelete
  26. dokter richard~~
    cepetaann kawinin shiorii~~ *nodong p dokter pk samurai*

    ReplyDelete

 
blogger template by arcane palette