You Belong To Me - ( Everytime )
Dua hari
sudah Maya tertidur selamanya. Pemberitaan tentangnya tak lelah mengudara di
semua media massa. Seluruh mulut manusia membicarakannya, menangisi kisah
tragis drama percintaan yang terangkat ke dunia nyata, sungguh ironi. Masumi
Hayami, sang kaisar Daito makin jarang terlihat. Desas desus keretakan rumah
tangganya pun naik menjadi headline surat kabar. Uniknya, sekarang tak ada lagi
pemblokiran berita. Seakan-akan membenarkan isu, aksi tutup mulut kerap terjadi
ketika para wartawan berusaha mengorek informasi.
Daito
juga tak terlalu ambil pusing tentang bagaimana kelanjutan Bidadari Merah. Yang
sebenarnya, Masumi lah yang sudah kehilangan ambisi dan tujuan. Pemasaran tidak
seheboh lalu, mungkin dengan tujuan menghormati Bidadari terdahulu. Entahlah…
Namun
tak selamanya mayat hidup itu bisa benar-benar datar. Ia pernah membombardir
karyawannya tanpa ampun. Ia berteriak seperti orang kehilangan akal dan
menghancurkan layar monitor flat yang tak berdosa dengan tangan kosong. Ya!
Didepan semua karyawannya! Ia sebaiknya berganti profesi menjadi petinju dan
bukannya seorang direktur papan atas. Ketakutan akan tirani Masumi yang kejam
semakin mengerikan dan membuat para pekerjanya merasa di neraka. Yang bertahan
hanyalah orang-orang bermental baja, atau tepatnya lagi adalah orang-orang yang
merasa tak memiliki nyali mencari sumber penghasilan lain yang bisa sepadan
dengan Daito.
Derap
langkah kaki wanita terdengar menggema di lorong kantor Daito. Ia menggunakan
sepatu hak rendah, berwarna merah dalam dan senada dengan gaunnya yang cantik.
Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Cukup malam hingga membuat Richard memaksa
untuk menemani. Ia takkan bisa membiarkan Shiori mendatangi Masumi sendirian,
dengan wajah cenderung gusar serta khawatir dan di jam yang sudah seharusnya ia
beristirahat.
“
Richard, kau tak perlu repot menemaniku. Aku bisa menghadapinya sendiri. Kau
tak usah khawatirkan aku. “ Ucap Shiori lembut tanpa memperlambat langkahnya.
Richard
tak kesusahan menjajarinya, karena beruntung ia memiliki sepasang kaki yang
cukup panjang. “ Aku hanya menjaga milikku, Shiori. “
“ Tak
apa, Richard. Aku akan meminta supir menjemputku nanti. Kau tangani dahulu
pasienmu. “
Wajah
Richard memelas. Kecewa. “ Baiklah, maaf aku hanya bisa menemanimu sampai
disini, sayang. Aku akan segera menjemputmu kalau aku memiliki waktu yang
cukup. “
Shiori
tersenyum dan segera memasuki lift yang hendak membawanya ke lantai teratas, di
mana suaminya berada. “ Tak usah terburu-buru, Richard. Pergilah. Aku akan
baik-baik saja. “
Dan
pintu lift menutup, membawa Shiori ke tempat tujuannya. Sambil melihat tombol
angka berubah, Richard mengambil handphonenya dan segera menuju basement.
“
Masumi… “
Shiori
mendapati dirinya sendirian di kantor Masumi yang luas. Sekretaris muda
menggantikan Mizuki sedang cuti hari ini. Namun setelahnya ia segera pulang
karena jam kerja yang sudah lewat.
Ternyata urusan transisi pemain Bidadari Merah juga berpengaruh pada jam
kerja karyawan Daito hampir secara keseluruhan. Ia menutup pintu dan kembali
memanggil Masumi, namun tetap tak ada jawaban. Kediaman Hayami memastikan kalau
Masumi belum pulang sejak pemakaman Maya dan selama itu ia tidur di kantor.
Ia
menelpon Masumi.
Tak
diangkat.
Shiori
menjadi semakin khawatir. Ia kembali memencel tombol handphonenya dan terdengar
suara ringtone sebuah handphone yang sudah sangat dihapalnya.
Masumi? Ia disini!
Matanya
berusaha menangkap arah suara, dan letaknya…. Dibalik lukisan?
Pintu?
Ia
mengikuti arah cahaya yang cenderung orange senja. Dan ia pun takjub.
Tak
pernah terpikir dalam benaknya ia mendapati ruangan rahasia milik Masumi
disini. Di kantor Daito. Berbagai lukisan Bidadari Merah terpajang memenuhi
dinding. Ada pohon plum tiruan yang menghiasi sudut ruangan. Lampion-lampion
cantik menghiasi langit-langit, dan tirai tembus pandang berwarna merah pekat
melilit dan menjuntai disana sini. Yang paling membuat Shiori terpana adalah
berdirinya sebuah patung realistis berukuran tubuh asli manusia didalam dinding
kaca. Itu Maya! Maya yang sedang menggunakan pakaian Bidadari Merah. Ia
menggenggam sebuah ranting pohon plum lengkap dengan selendangnya yang lembut.
Matanya sempat berkedip cepat, ia tak percaya kalau Masumi memiliki duplikat
cincin yang ia lihat sewaktu Masumi mengenakan cincin kepada jasad Maya dan
akhirnya ikut dikuburkan. Masumi pasti sudah membayar mahal sang desainer
karena ruangan ini seperti ruangan pemujaan Bidadari Merah yang sakral. Dan
entah kenapa ia merasa agak berdosa karena memasukinya tanpa ijin empunya.
“
Masumi, bangunlah sebentar. Ada yang ingin kutanyakan… “
Namun
mata Masumi tetap tertutup dan yang terdengan hanya dengkuran halus.
“
Masumi.. “ Ia mengguncangkan tubuh berat Masumi. “ Masumi… “
Akhirnya
mata Masumi terbuka perlahan. Matanya merah dan berair. Sedikit bengkak,
mungkin disinilah ia bisa puas menangisi kepergian Maya.
“
Masumi, besok siang aku akan mendampingimu memimpin rapat pemegang saham. Aku
harus ada disana, kau tak tahu kekacauan apa yang kau buat dalam dua hari ini.
Maaf aku harus bicara seperti ini, tapi keluhan dan surat pengunduran diri tak
bisa kau acuhkan begitu saja. kau harus bangkit, Masumi… Kau tak bisa begini
terus. “
Shiori
terus berusaha membangunkan Masumi dengan membicarakan maksud kedatangannya. Ia
pun mendengar tentang buruknya situasi Daito dan terutama, sang direktur muda.
Amukan Masumi yang diluar batas kepada bawahannya dan pemecatan terang-terangan
kepada wanita hamil bukanlah hal yang baik.
Pemegang saham ikut mengalami
dampaknya. Para calon investor mengurungkan niatannya untuk menanamkan modal.
Dan keinginan Masumi yang terus-terusan menenggak minuman keras sudah
dipastikan ia ingin bunuh diri. Maka itu tanpa pikir panjang, Shiori langsung
berusaha menyadarkan Masumi, sebelum terlambat atau ia akan menyesal selamanya.
“
Masumi, apa kau mendengarku? “
Shiori
masih ditempatnya, berlutut diatas karpet merah yang tebal. Ia mendapati mata
Masumi yang menyedihkan. Namun ada yang berbeda dari tatapan matanya dan cukup
membuat Shiori menjadi sedikit takut.
“ Maya…
Kau datang padaku? Maya…. Mayaa….. “
Shiori
membelalak. Berada dekat dengan pria yang bergelung dengan berbagai botol
minuman keras ternyata bukanlah ide yang cukup bagus. Ia menyesal meminta
Richard tak menemaninya tadi. Ketika ia hendak beranjak pergi, tangan kokoh
Masumi menariknya hingga ia terjatuh diatas tubuh Masumi yang kekar dan
beraroma tajam dari alkohol.
‘
Masumi! Lepaskan!!! MA… “ Dan meneganglah seluruh tubuh Shiori setelah bibir
Masumi melumatnya dengan rakus.
Sekuat
tenaga ia berusaha menolak pelukan Masumi, namun itu hanyalah kesia-siaan.
Tenaganya sama sekali tak sepadan dengan ukuran tubuh Masumi yang besar. Meski
memang, Richard lebih besar dari Masumi, namun ia selalu diperlakukan lembut.
Ia tak pernah mendapati sentuhan kasar seperti ini sebelumnya. Ia merasakan
tangan Masumi memeluknya kuat-kuat, seperti hendak meremukkan seluruh tulang
rusuknya. Ia kembali berusaha mendapatkan momentum melarikan diri, pikirnya ia
sedikit berhasil, namun ia malah jatuh keatas karpet tebal dan posisinya sama
sekali tak menguntungkan. Tubuh Masumi menindihnya lekat dan masih berusaha
mendapatkan bibir Shiori yang panik.
“ Maya…
Aku merindukanmu! Aku.. aku takkan melepaskanmu lagi! Tidak Maya, aku tak bisa
melihatmu pergi lagi, kumohon…. “
Hati
Shiori tersayat mendengarnya. Ia merasakan titik air mata Masumi membasahi
pipinya. Namun sedetik kemudian, ia menyadari bahwa ia tetap harus pergi dari
sini, secepatnya!
Tiba-tiba
tubuh Masumi yang tadi menindihnya, terlempar begitu saja. Richard datang tepat
waktu. Ia menghadiahkan kepalan tangannya tepat mengenai pelipis Masumi.
Direktur muda Daito itupun terlempar dan menabrak meja hingga memecahkan guci antik
yang entah berapa digit angka harganya.
Richard
melangkah lebar dan mendaratkan tendangan keras ke perut Masumi dengan telak.
Tak ayal perut Masumi langsung mengejang dan memuntahkan semua minuman keras yang
tadi ia tenggak. Ketika tendangan berikutnya hendak dilancarkan,Shiori berhasil
menghentikan aksi brutal kekasihnya kepada suaminya.
“
Richard! Hentikan! Kumohon jangan begini!! “
Richard
membalikkan badan dan menarik lengan Shiori dengan cepat.“ Ayo Shiori, kita tak
perlu lagi menolong sampah busuk ini lagi! “
“ Ta…
Tapi Richard…. “
Richard
tak bergeming.Ia tetap menarik lengan Shiori agar menjauh dari sang suami yang
sedang tak jelas kondisinya. Namun Shiori kembali menarik lengannya ketika ia
sudah berada di ruang kerja Masumi yang besar.
“
Richard! Tunggu dulu…. Bagaimana kau bisa tahu kalau terjadi sesuatu padaku
barusan?Apakah ada yang memberitahukan padamu?“ mata Shiori mencari-cari
seseorang selain mereka, terutama sekretaris muda yang tadi mempersilahkannya
masuk ke dalam.
Richard
tetap diam dan ia kembali menarik tangan Shiori agar segera meninggalkan
gedung. Tapi Shiori kembali berusaha menarik tangannya kearah
berlawanan.Sehingga aksi tarik menarik terlihat konyol dan frustasi.
“ Aku
bertanya padamu, Richard Jefferson! “
Mata
Richard menajam.Ia mempererat cengkraman tangannya di lengan Shiori yang kecil
dan membuat wanita muda itu mengaduh.Richard tak menggubris bentakan Shiori dan
membuatnya terpaksa membopong tubuh Shiori di lengannya.
Wanita itu berusaha
melawan, tapi sekali lagi, ia tampak hanya seperti lembaran kertas tipis yang
dengan mudah terbawa angin. Hanya suara isakan tangis Shiori yang terdengar
makin menjauh dari telinga Masumi.
Masumi
mengerjabkan matanya berulang-ulang.Ia masih memegangi perutnya yang kelu dan
perih. Ia yakin, Richard mengeluarkan semua kekuatannya dan menghempaskannya
tepat ke tubuh Masumi yang terkapar.
Masumi
tertawa, sambil memegangi perutnya agar tawanya tak membuat sakitnya bertambah
parah. Dengan susah payah, ia membawa tubuhnya berdiri dan berjalan perlahan
keluar. Ia beruntung para karyawan telah pulang. Hanya security yang tetap berjaga di pos masing-masing. Meski pun mereka
melihat langkah sempoyongan Masumi yang tak beraturan, mereka akan tutup mulut
dan menganggap tak melihat apapun. Sekali lagi, tirani Masumi masih menghantui
status pekerjaan mereka di Daito.
Masumi akhirnya
berada di atap gedung Daito yang luas. Ia berdiri bersender gontai di dinding
pembatas yang menjaga tubuhnya agar tetap pada gedung yang tinggi menjulang. Ia
melihat sekitarnya. Hamparan cahaya lampu kota Tokyo yang sepertinya takkan
pernah padam, memamerkan segala warna dan mengerlip genit kearah Masumi. Meski sebenernya
mungkin itu hanya pikiran Masumi yang masih terpengaruh alcohol. Mungkin juga…
Ia melihat
keatas. Langitnya cerah. Ia dapat melihat hamparan cahaya bintang yang berusaha
bersaing dengan cahaya buatan di bumi. Namun takkan bisa lebih spektakuler
dibandingkan kampung halaman Bidadari Merah. Dan Masumi pun mengingat gadis
mungilnya.
Ia merindukannya.
Maya…
Masumi memejamkan
mata. Memori ketika ia pertama kali bertemu dengan Maya sangatlah manis. Ia masih
teramat kecil, tinggi tubuhnya hanyalah sebatas dada bidang Masumi. Dan gadis
mungil itu baru berusia 13 tahun. Ingatannya kembali mengalir, ketika Maya
memerankan Beth. Ya, saat itu, jantung Masumi berdegup lebih kencang dari
biasanya. Pada saat itu, penyangkalan diri besar-besaran terjadi. Ia takkan
mungkin bersikap jujur pada perasaannya sendiri. Bisa dibayangkan bagaimana
wajah orang-orang apabila pada saat itu juga ia menyatakan cintanya kepada
Maya. Mungkin rumah sakit jiwa akan menjadi tempatnya berkubang sekarang.
Hatinya semakin
kalut ketika tanpa sengaja, ia telah membunuh calon ibu mertuanya. Ia tak
bermaksut melakukan hal kotor itu. Yang ia pikirkan hanyalah segi bisnis, tepat
seperti jendral besar mengajarkan jalan hidupnya. Dan kata benci yang selalu
diucapkan Maya berulang-ulang padanya bagaikan langit yang runtuh menimpa tepat
ke kepalanya yang terasa kosong. Namun ia tak menyerah untuk mendukung Maya. Tetap
sebagai pengecut yang berlindung dari rangkaian bunga mawar ungu andalannya.
Ia tak
menyadari, entah sejak kapan sikap Maya padanya menjadi melunak. Ia bahkan bisa
memeluk Maya di tengah derasnya guyuran hujan yang membasahi tubuh mungil
gadisnya. Mereka bahkan bisa melewatkan malam berdua, meski Masumi tahu, itu
akan menjadi malam yang amat berat baginya. Dimana hasratnya untuk memiliki dan
mencintai Maya amatlah besar. Namun ia juga seorang pelindung. Ia takkan
berbuat hal yang tak pantas pada gadis yang tengah tertidur di pelukannya yang
makin menghangat.
Kejadian
Astoria semakin menguatkan kenyataan. Ia sangat yakin kalau mereka mampu
berjalan bersama. Namun sekali lagi, posisi Masumi yang sebagai tunangan Shiori
Takamiya takkan memudahkan jalannya. Di tambah lagi pemuda kurang ajar—Sakurakoji—itu
tetap berusaha mendapatkan cinta Maya. Pernyataan cinta yang diterima Maya
sekali lagi menampar keras kesadaran Masumi. Dan akhirnya ia kembali berjalan
kepada jalan yang menggaris datar.
Mata Masumi
makin terpejam kuat. Ia takkan bisa lupa insiden pernikahannya. Ia mengira ia
akan melihat acting Maya yang luar biasa cantiknya. Ia memang jatuh cinta
kembali melihat Maya yang berubah menjadi sosok Bidadari Merah. Namun ia….
Masumi terisak.
Ia takkan mampu menghilangkan ingatannya ketika ia melihat Maya meregang nyawa.
Ia panik dan kacau. Semua dunianya hancur seketika saat akhirnya ia harus
melihat gadis cantiknya tertidur di peti mati dengan menggunakan kimono merah. Sejak
Maya dikebumikan, air matanay telah habis. Ia tak perduli lagi akan sekitarnya.
Ia merasa sekeliling manusia adalah musuhnya. Dan mereka semua mengharapkan
kehancurannya.
Masumi kembali
tertawa.
Tawa Masumi
semakin sumbang.
Ia
merasa ia memerlukannya.
Dan tawa sumbangnya kembali menjadi isakan tangis
perlahan demi perlahan.
Pertama,
ia di tinggal mati oleh ibunya. Setelah itu, ia harus menjadi budak pekerja
dari Eisuke Hayami. Menjadi tunangan-lalu suami wanita yang tak ia cintai dan
mencintai wanita yang amat membencinya. Membunuh seorang ibu lemah yang buta. Memecat
karyawan seenaknya. Dan yang terakhir ini, pukulan serta tendangan dari
selingkuhan istrinya sendiri.
Masumi menghirup
nafasnya dalam-dalam. Ia mengangkat tubuhnya, melewati dinding pembatas keamanan
dan duduk santai diatasnya. Sama sekali tak merasakan takut ketika kaki
panjangnya menjulur dan yang dilihat dibawahnya adalah barisan mobil terparkir
rapi yang tampak seperti semut-semut yang sedang berjaga. Air matanya kembali
menetes dan kali ini mengalir cukup deras. Ia tergugu hingga bahu kekarnya
terguncang hebat. Ia menapakkan kakinya pada segaris beton yang pas dengan
ukuran satu tapak kaki manusia, dan itu masih di luar dinding pembatas keamanan. Matanya
masih terpejam. Dan dengan perlahan, ia melepaskan pegangan tangannya pada tepi
dinding serta mendorong tubuhnya kedepan. Ia menerima daya gravitasi bumi yang
terasa semakin menghisapnya kebawah.
Kedua insan itu masih dalam pergulatan. Shiori masih mempertanyakan penculikan Richard yang cukup barbar. Ia sangat malu pada para security yang berusaha menolongnya, namun di cegah dengan baik-baik oleh wanita muda itu meski masih di panggul Richard.
“ Masuklah! “
Laki-laki kokoh itu menunjukkan belangnya. Ternyata ia agak kasar apabila sedang marah. Shiori tidak menyalahkan, namun ia berhak tahu akan alasan Richard datang kembali padanya.
“ Richard, aku akan masuk ke mobilmu. Tapi tidak dengan cara kasar seperti ini! “ dan ia pun melangkahkan kaki jenjangnya kedalam sedan sporty mewah milik dokter pribadinya itu.
Richard mendengus dan segera memposisikan dirinya di belakang kemudi. Mereka pun mulai melaju keluar dari gedung Daito yang sepertinya sudah sangat dikutuk Richard beberapa waktu lalu.
Kecepatan mobil melaju stabil. Richard bukanlah type pria yang melampiaskan emosinya ke hal peletup adrenalin yang lebih berbahaya. Ia lebih suka hatinya yang panas meledak ledak, namun ia tetap dalam area berkepala dingin.
Mereka tetap dalam kesunyian. Shiori sama sekali tak lagi menanyakan alasan Richard kembali ke Daito. Ia memilih untuk menatap keluar jendela, mengamati cahaya lampu yang berkerlap kerlip dan para pejalan kaki yang memenuhi trotoar toko.
“ aku mendapat kabar yang cukup penting. Kupikir aku harus menangani pasien, namun begitu aku sampai di basement, kabar yang kudapatkan lebih mengejutkan lagi. “
Ucapan Richard berhasil memancing rasa ingin tahu Shiori yang sedari tadi di timbunnya. Namun belum cukup kuat untuk menarik wajah Shiori dari kaca pintu mobil.
“ Kabar tentang apa? “
Richard melirik wanita disampingnya. Ia masih membuang mukanya meski ia bertanya.
“ Dokter Akagi tertangkap tangan sedang melakukan pelanggaran kode etik. Perawat yang biasa menangani Maya dan dirimu mengetahuinya sebelum terlambat. Ehm, kau masih ingat dokter Akagi? Dia pria tua yang sudah menjadi penggemar berat Maya bertahun-tahun. “
Usaha Richard berhasil. Shiori langsung membalikkan badannya dengan mata yang membelalak penuh keingin tahuan.
“ Pelanggaran apa? Ini berhubungan dengan Maya? Katakana padaku, Richard! “
Richard tersenyum. Ia merendahkan kecepatan dan meposisikan mobilnya dijalur lambat sehingga tidak menghambat laju pengemudi lain dibelakangnya.
“ Ia dengan lancang mengambil sel telur Maya yang matang. Gerak geriknya terdeteksi ketika ia hendak melakukan prosesi pembuahan luar—bayi tabung, untuk lebih jelasnya. Para security telah mengamankannya setelah keributan hebat antara dokter tua itu dan perawatmu terjadi. Ia terobsesi pada Maya, sampai pengambilan sel telur Maya pun ditempuhnya. Memang terdengar sangat ganjil, mengingat beliau adalah dokter yang sangat terhormat dikalangan kami. Sampai sekarang kami tak tahu bagaimana caranya ia mendapatkan sel telur dari Maya. Para penyidik akan segera mengungkapkannya. Aku langsung berlari ketempatmu, dan mendapatkanmu dilecehkan oleh sampah pemabuk itu! “
“ STOP! “
Shiori berteriak kencang. Wajahnya yang tadi jual mahal sekarang terlihat semakin kacau. Richard sempat terkaget dan ia segera memarkirkan mobilnya di pinggir jalan yang sudah tersedia.
“ Jadi… apakah… karena hal ini Maya meninggal? Dokter itu… “
Richard mengelus rambut Shiori. Kepalanya sedikit menggigil, sepertinya Shiori pun menahan emosi yang cukup besar.
“ Maya murni bunuh diri. Ia menyimpan kapsul sianida dan meminumnya ketika ia mengambil air sungai sewaktu pertunjukan Bidadari Merah. Sel telur itu didapatkan dokter Akagi beberapa waktu sebelum Maya pentas. “
“ Tapi.. apakah dokter itu ikut ambil bagian? Darimana Maya mendapatkan barang seperti itu!? “ Tanya Shiori dengan cepat.
Richard menggeleng. “ sepertinya Maya mendapatkannya dari black market, entahlah. Penyidik masih berjuang keras disini mengingat sindikat yang dihubungi Maya sepertinya sudah sangat professional dibidangnya. Dokter Akagi pun sama seperti kita. Ia kaget luar biasa. Ia sampai ambil cuti untuk berkabung bagi Maya, dan barusan ia hendak membuahi sel telur Maya dengan harapan bisa mendapatkan Maya kembali. Jujur saja, aku tak mengira ia akan bersikap seperti phsyko… “
“ Lalu, bagaimana dengan sel telur Maya? “
“… Shiori? “
“ Bagaimana…? Bagaimana dengan Maya?!? “ nada suara Shiori agak meninggi.
“ Sel telur Maya masih pada tempatnya karena memang belum sempat terjadi proses apapun. Mungin akan segera dibawa penyidik sebagai barang bukti. Kita lihat saja nanti… “
“ PERINTAHKAN UNTUK TETAP DITEMPATNYA!!! AKU TAKKAN MEMAAFKAN SIAPAPUN MENYENTUH MAYA!!! “ Shiori berteriak, membuat Richard semakin kaget. Wah, sepertinya Richard belum mengetahui sisi Shiori yang seperti ini.
Dengan enggan, Richard menelpon pihak rumah sakit. Ternyata memang benar, para penyidik sudah akan segera membawanya. Beruntung Richard bisa menahannya dengan alasan medis yang dibuatnya dengan spontan.
“ Kau puas? Memang kau mau apa dengan sel telur Maya? Oh, kita bisa mengawetkannya sebagai kenangan! “ spekulasi Richard meluncur begitu saja.
Shiori menggeleng. “ Atau kita bisa membuat Maya yang baru! Kita harus segera kembali ke Daito sekarang, Richard! “
Dahi Richard berkerut. Apa maksutnya membuat Maya yang baru??? Dan otak Richard langsung menyadarinya saat itu juga.
“ Oh tidak, Shiori… Kau tahu itu melanggar kode etik kedokteran manapun. Aku tak suka kemana arah pembicaraan ini. Sebaiknya kita segera pulang, kau harus beristirahat, sayang… “
Shiori tak mengalah begitu saja. Ia segera membuka pintu dan hendak keluar sementara tangan Richard dengan cepat menyambarnya.
“ Kau mau kemana, Shiori? Ini sudah tengah malam! Sangat berbahaya bagimu berkeliaran sendirian di kota ini!! “
“ Antarkan aku ke Daito atau aku akan berjalan sendiri kesana! “
Genggaman tangan Richard menguat dan membuat Shiori sedikit menyerngit.
“ Aku takkan membiarkan kau mendekati pecundang itu, Shiori. Masuklah, kuantarkan kau pulang…” Richard memelankan suaranya dan benar-benar menekankan setiap kata pada kalimatnya, hendak mengintimidasi Shiori agar menuruti kata-katanya.
Namun yang dihadapi Richard adalah cucu Takamiya. Ia adalah seorang ratu yang memiliki kekuasaan. Ia dapat melemparkan karier Richard dengan hanya menjentikkan kelingkingnya.
“ Baiklah, aku akan berjalan. Selamat tinggal, Mr. Jefferson. “
Shiori menghempaskan tangan Richard dan segera keluar. Richard terkaget dan segera keluar dari mobil, menyusul Shiori yang baru berjalan sekitar 3 langkah. Ia kembali mendapatkan pergelangan Shiori di tangannya dan menahannya selama mungkin ia dapat.
“ Aku takkan membiarkan kau bersama sampah itu, Shiori! Apa kata-kataku kurang jelas!? Dan kenapa aku memanggilku begitu? Apa kau sekarang meninggalkanku dan kembali pada suamimu yang tak berguna itu?! “
Tamparan keras melayang di pipi Richard. Pipinya perih dan panas. Ia belum pernah ditampar oleh wanita manapun selama ini. Baru Shiori yang baru saja memberikannya pengalaman pertama yang pasti akan terus diingatnya. Mengingat ia melakukannya di khalayak ramai, sehingga membuat tontonan gratis pertengkaran abad ini.
“ Jaga ucapanmu , Mr. Jefferson! Meski dia suamiku yang tak berguna, akulah yang menyebabkan ia menjadi seperti itu! Aku masih memiliki hati dan aku merasa bertanggung jawab akan kesalahanku! Aku mencintaimu! Ya, aku mencintaimu!! Tapi kau tak mau membantuku!! Sebaiknya aku segera pergi dari sini.. “
Baru saja Shiori membalikkan badannya, ia merasa dipeluk dengan hangat oleh badan tegap yang tingginya jauh diatasnya.
“ Maafkan aku…. Kumohon maafkan aku, Shiori…. Baiklah, kita akan ke Daito. Dengan syarat, kau tak boleh sendirian menghadapi Masumi, oke? “
Penawaran Richard bersambut baik. Shiori tersenyum dan berbalik. Mereka berciuman dan membuat riuh pejalan kaki yang sedari tadi menontonnya. Mereka tak perduli jikalau ada yang memfoto mereka, atau mengunggah momen mereka ke dunia maya. Yang mereka rasakan sekarang adalah rekonsiliasi yang hangat.
Mereka memasuki mobil dan segera kembali menuju Daito. Semoga mereka belum terlambat akan semua kejadian beruntun ini dan bisa menyelesaikannya dengan baik.
Semoga….




